31665 research outputs found
Sort by
Peran Financial Development dan Perdagangan Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi: Studi Komparatif Negara Maju dan Berkembang
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang digunakan untuk
menentukan tingkat kesejahteran suatu negara. Ada dua faktor yang memiliki
kontribusi kuat dengan pertumbuhan ekonomi, yaitu financial development dan
perdagangan internasional. Perkembangan kedua faktor ini dapat menghasilkan
pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan ekonomi karena adanya guncangan
eksternal seperti krisis. Hal ini disebabkan oleh perbedaan sistem pemerintahan dan
kebijakan setiap negara baik negara maju maupun berkembang sehingga respon
yang dihasilkan terhadap guncangan eksternal juga berbeda. Oleh karena itu
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran financial development dan
perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi di negara maju dan
berkembang dengan mempertimbangkan adanya krisis keuangan global tahun 2008.
Data yang digunakan adalah data tahunan dari tahun 2000-2016 dengan jumlah
cross section sebanyak 17 negara maju dan 46 negara berkembang. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sebelum dan sesudah terjadi krisis, financial development
memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, namun
pengaruh di negara maju lebih besar dibandingkan di negara berkembang.
Sedangkan perdagangan internasional tidak memiliki perbedaan pengaruh yang
signifikan selama periode sebelum dan sesudah krisis. Namun perdagangan
internasional memiliki pengaruh yang signifikan positif baik di negara maju
maupun negara berkemban
Pendugaan VaR dan TVaR Berdasarkan Model Drawable Vine Copula dengan Simulasi Monte Carlo
Dewasa ini, meningkatnya keterkaitan antarpasar keuangan menyebabkan
kebergantungan antardata keuangan, termasuk data imbal hasil saham. Hal itu dapat
menimbulkan risiko dalam investasi saham. Value at Risk (VaR) umum digunakan
sebagai ukuran risiko keuangan. Namun, VaR gagal memenuhi sifat subadditivity,
salah satu sifat koherensi ukuran risiko. Oleh karena itu, diajukan konsep Tail Value
at Risk (TVaR) yang telah ditunjukkan koheren. Pada tulisan ini, data yang
digunakan adalah data imbal hasil harian indeks saham JKSE, KLCI, PSEI, SETI,
STI dan VNI. Model ARMA-GARCH digunakan pada data untuk menghilangkan
efek autokorelasi dan heteroskedastisitas. Kemudian, diukur koefisien-koefisien
korelasi antardata untuk mengonstruksi struktur tree dari model Drawable Vine (DVine)
copula. Model tersebut merepresentasikan kebergantungan antarindeks
saham melalui fungsi copula dua peubah. Fungsi-fungsi copula yang digunakan
adalah copula-t, copula Gauss, copula Clayton, dan copula Gumbel. Kemudian,
dibentuk sebuah portofolio. Setelah itu, dilakukan pendugaan nilai VaR dan TVaR
portofolio dengan Simulasi Monte Carlo
Kajian Pustaka Sintesis dan Karakterisasi Hidroksiapatit Cangkang Kerang Kima dan Kerang Darah dengan Metode Presipitasi
Hidroksiapatit (HAp) merupakan biomaterial keramik yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan implan tulang. HAp yang memiliki nisbah Ca/P 1.67 dapat disintesis dari sumber alami seperti cangkang kerang yang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) lebih dari 90% sehingga dapat digunakan sebagai bahan utama sintesis. Pemanfaatan cangkang kerang kima (Tridacna gigas) dan kerang darah (Anadara granosa)masing-masing bertujuan meningkatkan nilai ekonomi dan pengurangan limbah. Metode sintesis yang digunakan adalah metode presipitasi, dengan sumber fosfatnya adalah diamonium hidrogen fosfat ((NH4)2HPO4) dan asam fosfat (H3PO4) berturut-turut untuk cangkang kerang kima dan kerang darah. Kalsinasi kedua jenis cangkang menghasilkan kadar kalsium berturut-turut 69% dan 61.23%. Spektrum inframerah hasil HAp menunjukkan bahwa sampel dari kedua sumber alam ini memiliki puncak serapan gugus fungsi PO43- dan OH- yang merupakan penciri keberadaan HAp dalam suatu material dan mengindikasikan manfaatnya sebagai sumber HAp
Analisis Morfofisiologi dan Anatomi Beberapa Spesies Gulma dengan Cekaman Merkuri dan Timbal untuk Tujuan Fitoremediasi Tambang Emas.
Luas lahan kritis di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Area pertambangan emas adalah salah satu area yang paling sering ditemukan sebagai lingkungan kritis. Aktivitas pertambangan emas menyebabkan kerusakan pada struktur dan lapisan tanah, menghilangkan vegetasi di sekitar lokasi tersebut dan menurunkan ketersediaan bahan organik, mineral serta populasi mikroba pada tanah. Disamping itu, aktivitas pertambangan emas juga menghasilkan limbah yang disebut tailing. Tailing adalah limbah utama yang dihasilkan dari proses ekstraksi emas dan banyak mengandung logam berat. Tailing pada pertambangan emas industri mengandung logam berat Pb, Ag, Cd, dan Hg, dimana kandungan logam berat Pb biasanya adalah yang tertinggi. Seperti halnya pertambangan emas industri, pertambangan emas rakyat juga menghasilkan tailing yang mengandung logam berat merkuri. Selanjutnya, kontaminasi logam berat merkuri dan timbal di lingkungan sekitar tambang emas tidak dapat dihindari.
Logam berat merkuri dan timbal yang terlepas ke lingkungan akan menyebabkan pencemaran. Selanjutnya logam berat tersebut masuk ke dalam rantai makanan dan menyebabkan keracunan pada makhluk hidup. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memperbaiki kualitas lahan dan menghilangkan logam berat dari lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan tumbuhan yang dikenal sebagai fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis respon morfologi, fisiologi dan anatomi lima spesies gulma dalam menanggapi aplikasi Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 dalam percobaan hidroponik.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 5 spesies gulma yaitu Brachiaria mutica (BM), Cyperus kyllingia (CK), Ipomoea aquatica (IA), Mikania micrantha (MM) dan Paspalum conjugatum (PC) berumur 1 bulan yang ditanam pada polybag. Kemudian tumbuhan tersebut dipindahkan ke dalam bak kultur air berukuran 6 L berisi media berupa larutan Hoagland konsentrasi penuh (full strength) serta Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 dengan berbagai konsentrasi yaitu 0 mM (kontrol), 0.25 mM Hg(NO3)2, 0.50 mM Hg(NO3)2, 0.25 mM Pb(NO3)2 dan 0.50 mM Pb(NO3)2. Setelah dilakukan perlakuan tailing selama 4 minggu, dilakukan analisis terhadap respon pertumbuhan, fisiologi dan anatomi untuk mengetahui respon 5 spesies gulma terhadap perlakuan Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2. Analisis pertumbuhan dilakukan dengan mengukur panjang tajuk, panjang akar, bobot kering total tumbuhan dan jumlah daun. Respon fisiologi dianalisis dengan mengukur kadar pigmen fotosintesis diantaranya klorofil a, b, total dan karotenoid serta mengukur tingkat peroksidasi lipid pada daun (MDA), kadar air relatif (KAR) daun dan kandungan prolin pada daun. Pengamatan anatomi dilakukan dengan membandingkan anatomi akar dan daun tumbuhan kontrol dan tumbuhan yang diberi perlakuan Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.50 mM, pengamatan yang dilakukan diantaranya pengamatan jaringan akar dan daun. Pengamatan histokimia logam Pb dilakukan pada jaringan akar dan daun yang
diberi perlakuan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.50 mM. Analisis kandungan logam berat (AAS) dilakukan dengan membandingkan akumulasi logam berat merkuri dan timbal akar dan tajuk pada tumbuhan kontrol dan tumbuhan yang diberi perlakuan Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.50 mM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.25 mM dan 0.50 mM menyebabkan penurunan pertumbuhan yang signifikan pada gulma. Kadar pigmen fotosintesis meliputi klorofil a, b, total dan karotenoid serta kadar air relatif mengalami penurunan seiring peningkatan konsentrasi Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2, sedangkan kadar MDA dan prolin daun meningkat seiring peningkatan konsentrasi Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2. Pengamatan anatomi menunjukkan bahwa akar yang diberi perlakuan Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.50 mM mengalami penurunan diameter jaringan pembuluh, sedangkan ketebalan eksodermis dan endodermis mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan kontrol. Perlakuan Hg(NO3)2 dan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.50 mM juga menyebabkan penurunan ketebalan jaringan epidermis daun dan jaringan mesofil sehingga mengakibatkan penurunan ketebalan helaian daun. Analisis histokimia pada akar tanaman yang diberi perlakuan Pb(NO3)2 pada konsentrasi 0.50 mM menunjukkan bahwa logam Pb terdeteksi di bagian epidermis, korteks, endodermis, silinder pusat dan berkas pembuluh. Selanjutnya, pada daun logam Pb terdeteksi pada jaringan epidermis atas dan bawah, mesofil serta berkas pembuluh. Hasil analisis kandungan logam berat (AAS) pada akar dan tajuk menunjukkan bahwa akumulasi merkuri dan timbal pada jaringan akar lebih besar dibandingkan tajuk. Semua spesies gulma dalam penelitian ini memiliki nilai BCF>1 dan TF<1 sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai tanaman fitoremediator dengan mekanisme fitostabilisasi.
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa Cyperus kyllingia memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mempertahankan pertumbuhan dibandingkan gulma lainnya di bawah perlakuan Pb(NO3)2 hingga konsentrasi 0.50 mM tanpa mengalami gejala keracunan. Hal ini mengindikasikan bahwa Cyperus kyllingia lebih toleran terhadap logam berat timbal dan memiliki potensi yang lebih baik untuk tumbuh dilahan bekas tambang emas untuk digunakan sebagai agen fitoremediasi. Akan tetapi, pada perlakuan Hg(NO3)2 dengan konsentrasi 0.25 mM dan 0.50 mM semua spesies gulma menunjukkan gejala keracunan yang cukup parah
Pengaruh Self-esteem dan Pencarian Informasi terhadap Perilaku Komplain dan Word of Mouth Konsumen Indonesia
Perilaku komplain dan Word of Mouth (WOM) adalah salah satu dimensi keberdayaan konsumen yang perlu ditingkatkan di Indonesia karena kondisi pasar global yang semakin kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh self-esteem dan pencarian informasi terhadap perilaku komplain konsumen dan word of mouth konsumen di Indonesia. Data berasal dari penelitian berjudul "Pemetaan Indeks Pemberdayaan Konsumen (IKK) di Indonesia pada 2016-2017" dengan 2100 responden. Penelitian ini menggunakan teknik multistage random sampling secara sistematic random sampling. Analisis data menggunakan Structural Equation Modeling menggunakan LISREL 8.8. Temuan menunjukkan bahwa variabel pencarian informasi, perilaku komplain dan WOM masih relatif rendah, sedangkan self-esteem memiliki kategori sedang. Tidak ada perbedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin dalam pencarian informasi dan perilaku komplain, namun terdapat perbedaan signifikan pada self-esteem dan WOM. Hasil juga mengonfirmasi bahwa self-esteem dan pencarian informasi memengaruhi perilaku komplain dan word of mouth
Identifikasi Tumbuhan Penghasil Polen dari Madu dan Sarang Lebah Tanpa Sengat di Belitung, Provinsi Bangka Belitung
Polen merupakan hasil perkembangan mikrosporosit yang menghasilkan mikrospora haploid berkembang menjadi mikrogametofit yang menghasilkan gamet jantan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tumbuhan penghasil polen dari madu dan sarang lebah tanpa sengat di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi polen dari madu, asetolisis dan identifikasi polen. Hasil identifikasi polen dari madu dan sarang lebah tanpa sengat Heterotrigona itama dan Tetragonula laeviceps di Belitung ditemukan 30 spesies tumbuhan yang termasuk 24 famili. Polen dari tumbuhan Macaranga tanarius (23.72%) dan Murdannia nudiflora (23.64%) mendominasi pada madu lebah H. itama. Polen dari tumbuhan Elaeis guineensis (24.01%) paling banyak ditemukan pada sarang lebah H. itama. Polen dari tumbuhan Ageratum conyzoides (16.36%) dan Sphagneticola trilobata (19.73%) paling banyak dijumpai pada madu lebah T. laeviceps. Polen dari tumbuhan Mischocarpus sundaicus (19.20%) dan Mimosa pudica (21.70%) paling banyak ditemui pada sarang lebah T. laeviceps. Polen dari tumbuhan anggota famili Arecaceae paling banyak ditemukan pada madu dan sarang lebah H. itama dan T. laeviceps dengan jumlah tiga spesies tumbuhan. Polen dari tumbuhan dengan habitus pohon dominan ditemukan pada madu dan sarang lebah H. itama dan T. laeviceps dengan jumlah 19 spesies tumbuhan
Potensi Antibakteri dan Karakteristik Film Edibel dari Pektin Kulit Durian
Durian adalah buah tropis berukuran besar yang memiliki banyak limbah dari
kulit buahnya. Dalam beberapa laporan menunjukkan bahwa kulit durian bagian
dalam dapat digunakan sebagai sumber alternatif pektin yang dapat menunjukkan
aktivitas antimikroba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengekstrak pektin kulit
durian dengan dua metode ektraksi yang berbeda, menentukan konsentrasi hambat
minimum pektin kulit durian terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli,
dan menganalisis karakteristik film edibel dengan bahan dasar pektin kulit durian.
Aktivitas penghambatan dari pektin kulit durian terhadap bakteri yang diuji
ditentukan dengan metode makrodilusi, dan amoksisilin digunakan sebagai kontrol
positif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pektin kulit durian (PKD) dari metode
ekstraksi A (pH: 2.00, suhu: 85 oC, dan waktu: 2 jam) memiliki rendemen 5.45 ±
0.14 %, yang lebih besar daripada metode ekstraksi B (pH: 4.5 dan suhu: 90-100 oC,
waktu: 20 menit) yang memiliki rendemen 3.46 ± 0.07 %. PKD dari kedua metode
ekstraksi tergolong pektin bermetoksil tinggi, karena memiliki derajat esterifikasi
lebih besar dari 50 %. Konsentrasi hambat minimum dari PKD pada mueller hinton
broth terhadap E. coli adalah 56 mg/mL dan pada S. aureus adalah 28 mg/mL.
Dimana pada konsentrasi tersebut tidak menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri
sebagaimana ditunjukkan pada kontrol positif. Film edibel berbasis PKD dapat
dibentuk dengan baik, memiliki ketebalan 0.06 ± 0.00 mm yang tidak berbeda nyata
dengan film edibel pektin komersial. Namun, transparansi dan laju transmisi uap
air film edibel PKD masih kurang jika dibandingkan dengan film edibel pektin
komersial. Transparansi film edibel PKD dan PKD dengan 0.1 mL gliserol secara
berurutan adalah 48.13 ± 2.31 dan 49.71 ± 4.62. Laju transmisi uap air film edibel
PKD dan PKD dengan 0.1 mL gliserol secara berurutan adalah 5.091 ± 0.360
g/m2jam dan 5.807 ± 0.080 g/m2jam. Secara kualitatif film edibel PKD memiliki
sifat mekanis sebagai berikut, yaitu: kekakuan tinggi, kerapuhan rendah, dan
elastisitas rendah
Aktivitas Antikanker dari Ekstrak Keong Matah merah (Cerithidea obtusa) dengan Metode Maserasi yang Berbeda.
Ekstrak aseton keong matah merah mampu menghambat 3 jenis sel kanker yaitu sel kanker serviks/HeLa, sel kanker paru/A549, dan sel kanker leukimia/K562. Maserasi merupakan metode ekstraksi sederhana yang dilakukan agar komponen aktif pada keong matah merah dapat diambil. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan pengaruh pengadukan dalam ekstraksi komponen aktif keong matah merah dengan metode maserasi terhadap rendemen ekstrak dan aktivitas antikanker. Tahapan dari penelitian ini yaitu preparasi keong matah merah, ekstraksi daging keong matah merah, pengujian toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test dan pengujian persen inhibisi terhadap sel kanker HeLa dan MCF-7 menggunakan metode uji Microtetrazolium. Ekstrak aseton keong matah merah yang menggunakan metode pengadukan mengandung senyawa bioaktif yaitu alkaloid, saponin, flavonoid, steroid dan triterpenoid. Rendemen ekstrak tertinggi yaitu pada metode pengadukan sebesar 3.93%. Aktivitas antikanker menunjukkan ekstrak yang menggunakan metode pengadukan memiliki aktivitas tertinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker HeLa dan MCF-7 dengan nilai penghambatan masing-masing sebesar 72.07% dan 47.53%
Pendekatan Strukturasi Adaptif dalam Komunikasi Inovasi Standar Nasional Indonesia di Kalangan Usaha Mikro Kecil Menengah
Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagai salah satu sektor bisnis yang memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB nasional memiliki rata-rata lebih dari 55% pada periode 2008 hingga 2012 (BSN 2013), di samping itu, peran berbasis pangan UMKM sangat penting dalam menyediakan ketersediaan pangan yang memadai bagi masyarakat. Standardisasi adalah salah satu strategi untuk meningkatkan daya saing, terutama di era perdagangan bebas. Kegiatan standardisasi dalam industri ini dibuktikan dengan memeroleh sertifikat SNI (Standar Nasional Indonesia). Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana strukturasi adaptif dan penilaian sifat inovasi dalam komunikasi inovasi SNI di kalangan UMKM sektor pangan.
Metode penelitian dengan konvergen yaitu menggunakan data secara kuantitatif dan kualitatif. Pada bagian kuantitatif, populasi penelitian adalah seluruh UMKM sektor pangan sukarela yang dibina oleh BSN dari tahun 2016 sampai dengan September 2019. Waktu penjajakan hingga pengumpulan data dari bulan Desember 2019 hingga Februari 2020. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada 34 UMKM dan wawancara digunakan untuk menggali informasi mengenai program pembinaan penerapan SNI kepada pembina dan pemilik UMKM. Teknik analisis data menggunakan SPSS 23.0 untuk melihat deskriptif dan SmartPLS 3.0 untuk melihat pengaruh antar variabel. Pada bagian kualitatif, subjek penelitian yaitu merupakan dua UMKM pilot project binaan BSN yang berlokasi di Jakarta dan Bandung.
Hasil penilaian sifat inovasi dapat dilihat dari keuntungan relatif, rata-rata jawaban responden setuju dengan apa yang mereka pikirkan tentang SNI atau produknya yang berlabel SNI. Kemudian pada tingkat kompleksitas atau kerumitan, responden mempertimbangkan perubahan infrastruktur dan penyesuaian produk terhadap standar. Pada faktor pemasaran, responden memasarkan produk mereka melalui media online sebesar 45,9% sementara pemasaran melalui media offline yaitu 54,0%, salah satu yang mendominasi pemasaran produk mereka adalah melalui pameran atau bazar (15,3%). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara penilaian sifat inovasi, yaitu tingkat keuntungan relatif, tingkat kompleksitas dan tingkat observabilitas dengan adopsi sertifikasi SNI. Faktor-faktor yang memengaruhi secara signifikan terhadap adopsi SNI variabel strukturasi adaptif, indikatornya yaitu jumlah sosialisasi dan pendekatan testimonial
Penambahan Feed Additive terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Lele Clarias gariepinus
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan benih ikan lele (Clarias gariepinus) yang diberi suplementasi berbagai dosis feed additive melalui pakan ikan. Terdapat empat perlakuan berbeda, yaitu K (pakan tanpa feed additive), A (pakan dengan feed additive 2,5 g kg-1), B (pakan dengan feed additive 5 g kg-1), dan C (pakan dengan feed additive 7,5 g kg-1). Ikan lele ukuran 0,77±0,01 g sebanyak 250 ekor dipelihara dalam akuarium berukuran 90 x 40 x 45 cm3 dengan tinggi air 30 cm selama 33 hari. Ikan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara penggantian air untuk memastikan nilai-nilai kualitas air optimum untuk pertumbuhan benih ikan lele. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kinerja produksi (rata-rata pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup, jumlah konsumsi pakan, rasio konversi pakan, laju pertumbuhan harian, dan rasio efisiensi protein) benih ikan lele yang diberi pakan dengan feed additive menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) terhadap benih ikan lele yang diberi pakan tanpa feed additive. Berdasarkan penelitian ini, dosis terbaik dalam penggunaan feed additive pada pakan benih ikan lele, yaitu 7,5 g kg -1