31665 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula pada Rizosfer Rotan Jernang (Daemonorops draco Blume.) dan Potensi Pemanfaatannya
Rotan jernang (Daemonorops draco Blume.) termasuk family Arecaceae.
Rotan jernang merupakan salah satu tanaman asli Jambi dan memiliki nilai ekonomi
tinggi, harga resin yang tinggi (Rp 4 000 000 – Rp 6 000 000 per kilogram).
Kandungan resin yang berada pada kulit buah memiliki banyak manfaat yaitu untuk
pewarna dan campuran pembuatan obat-obatan. Hal ini menyebabkan rotan
jernang alam diambil semakin intensif oleh masyarakat, sehingga mengakibatkan
ketersediaan di alam terus menurun dan terancam punah. Permasalahan dalam
pembibitan rotan jernang ialah ketersediaan benih terbatas, produksi benih yang
rendah, sifat benih rekalsitran dan pertumbuhan bibit lambat. Pupuk hayati
mikoriza dan bio-organik diharapkan dapat digunakan pada kegiatan penyiapan
bibit yang berkualitas di persemaian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : (1)
Mengkaji keanekaragaman jenis Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) di rizosfer rotan
jernang di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, (2) Menganalisis pemberian
Fungi Mikoriza Arbuskula dan bio-organik terhadap pertumbuhan bibit rotan
jernang, (3) Menganalisis interaksi Fungi Mikoriza Arbuskula dan bio-organik
terhadap pertumbuhan bibit rotan jernang dan penyerapan hara
Penelitian ini disusun dengan menggunakan percobaan faktorial rancangan
acak lengkap dengan faktor pertama inokulasi FMA sebanyak 3 taraf : M0= Tanpa
inokulasi FMA, M1= Inokulasi FMA koleksi laboratorium mikoriza, M2=
Inokulasi FMA indigenous hasil kultur; faktor kedua adalah pemberian bio-organik:
B0 = Tanpa Bio-organik, B1= Bio-organik pengenceran 5%, B2= Bio-organik
pengenceran 10%, B3= Bio-organik pengenceran 15%, B4= Bio-organik
pengenceran 20%. Untuk menentukan perbedaan dilakukan analisis lanjut dengan
uji Duncan pada taraf 95%, data dianalisis menggunkan software SAS 9.1.3.
Hasil pengamatan (tahap pertama) karakteristik FMA asal rizosfer rotan
jernang menunjukkan 48 tipe spora FMA yang terdiri dari 31 tipe Glomus, 9 tipe
Acaulospora, 7 tipe Scutellospora, dan 1 tipe Gigaspora. Glomus memiliki tingkat
penyebaran tertinggi di kedua kedalaman yaitu kedalaman 0-20 cm dan kedalaman
20-40 cm. Kelimpahan relatif Glomus dikedua kedalaman sebesar 100 %. Hasil
pengamatan (tahap kedua) pertumbuhan bibit rotan jernang (Daemonorops draco
Blume.) dengan pemberian Fungi Mikoriza Arbuskula dan bio-organik
menunjukkan bahwa media tanam yang tidak diberi perlakuan apapun tidak mampu
mendukung pertumbuhan bibit rotan jernang. Interaksi antara FMA Indegenous dan
bio-organik 10% (M2B2) memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan tinggi,
jumlah daun, diameter, biomassa total, Nisbah Pucuk Akar, Indeks Mutu Bibit,
kandungan klorofil dan serapan hara (N, P dan K) kemudian disusul oleh kombinasi
perlakuan FMA Inokulasi FMA koleksi Laboratorium Mikoriza dan Peningkatan
Mutu Bibit dan bio-organik 15% (M1B3)
Analisis Ketahanan Struktur Atas Rumah Instan Sederhana Sehat dengan Perhitungan Beban Gempa Berdasarkan SNI 03-1726-2012
Proyek pembangunan rumah instan sederhana sehat (RISHA) dua lantai mengacu kepada pedoman modul RISHA yang memuat standarisasi ketahanan struktur terhadap beban gempa berdasarkan SNI 03-1726-2002. Tujuan penelitian adalah menganalisis ketahanan struktur bangunan terhadap beban gempa berdasarkan standar yang berlaku. Nilai gaya geser dasar sebesar 8.392 kN dalam arah sumbu X dan arah sumbu Y. Dari hasil analisis diperoleh nilai tersebut telah melebihi dari persyaratan berupa 85% dari gaya geser dasar yang dihitung sehingga memenuhi SNI 03-1726-2012. Simpangan antar lantai yang terjadi akibat beban gempa telah memenuhi persyaratan karena nilainya lebih kecil dibandingkan simpangan antar lantai ijin. Ketahanan sambungan struktur antar panel RISHA memiliki kuat tekan ultimit sebesar 2105.8 kN dan gaya geser ultimit sebesar 13926.9 kN. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan kuat tekan perlu dan kuat geser nominal dari panel RISHA. Dengan demikian sambungan memenuhi syarat SNI 1729-2015
Hubungan Antara Kompetensi Petani dengan Ketahanan Pangan Keluarga pada Pemanfaatan Lahan Pekarangan di Kota Bandung
Kompetensi petani merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan ini. Ketika kompetensi petani ini dilakukan dengan baik maka tidak menutup kemungkinan ketahanan pangan juga akan tercapai. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik petani baik dari karakteristik eksternal maupun karakteristik internal dan kompetensi petani, menganalisis tingkat ketahanan pangan keluarga anggota kelompok wanita tani, dan menganalisis hubungan karakteristik petani, kompetensi petani dan ketahanan pangan keluarga pada pemanfaatan lahan pekarangan. Lokasi penelitian berada di tiga kecamatan di Kota Bandung yang memiliki kelompok wanita tani yang dipilih secara sengaja. Data dikumpulkan dengan instrument kuesioner dan dianalisis melalui uji Rank Spearman. Hasil penelitian secara sensus dengan melibatkan 35 responden ini menunjukkan bahwa kompetensi petani berada pada tingkat tinggi dengan ketahanan pangan keluarganya berada di tingkat sedang. Karakteristik petani yang berhubungan nyata dengan kompetensi petani yaitu sumber informasi. Seluruh aspek kompetensi petani berhubungan dengan ketahanan pangan
Analisis Postur Kerja dan Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Kegiatan Penyadapan Pinus di Perum Perhutani KPH Sukabumi.
Penggunaan alat mujitech dalam kegiatan penyadapan merupakan salah satu
inovasi dalam kegiatan penyadapan. Hingga saat ini tidak banyak penelitian yang
mengkaji aspek ergonomi dalam kegiatan penyadapan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi tingkat risiko gangguan otot (musculoskeletal
disorders/MSDs) pada kegiatan penyadapan pinus menggunakan alat mujitech
dan memberikan rekomendasi perbaikan postur kerja dengan tingkat risiko yang
lebih rendah. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan metode analisis REBA,
RULA, dan OWAS. Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan penyadapan
pinus menggunakan alat mujitech memiliki elemen kerja yang didominasi oleh
tingkat risiko sedang dan tinggi. Tingkat risiko tinggi dan berbahaya terdapat pada
elemen membuat koakan dengan postur kerja berdiri sangat tengadah dan elemen
menghidupkan mujitech dengan postur kerja berdiri setengah membungkuk.
Sehingga perlu dilakukan aksi ergonomi agar dapat mengurangi tingkat risiko
MSDs pada pekerja. Aksi ergonomi dapat dilakukan dengan mengurangi besar
sudut yang dibentuk setiap bagian tubuh (merubah postur kerja), menggunaan alat
mujitech yang lebih ringan, melakukan pemeliharaan alat secara berkala, dan
menyesuaikan frekuensi istirahat dengan periode kerja
Inventarisasi Hama dan Penyakit Tanaman Pisang di PT. Nusantara Segar Abadi.
Tanaman pisang merupakan salah satu tanaman hortikultura yang buahnya
banyak digemari dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Pada tahun 2015,
PT. Nusantara Segar Abadi yang bernaung di bawah Gunung Sewu Group (GSG)
dengan Corporate Brand Great Giant Foods (GGF) mulai melakukan
pengembangan komoditas buah-buahan terutama pisang. Penanaman pisang
dalam jumlah banyak dengan pola monokultur seperti di kebun PT. Nusantara
Segar Abadi menyebabkan timbulnya hama dan penyakit pada tanaman pisang.
Penelitian ini bertujuan mengamati dan mengidentifikasi hama dan penyakit
tanaman pisang di perkebunan pisang PT. Nusantara Segar Abadi, serta
melakukan penghitungan keparahan, kejadian penyakit, dan intensitas serangan
hama. Penelitian dilaksankan dari bulan Juli sampai Agustus 2019 pada 18 blok di
PT. Nusantara Segar Abadi Blitar, Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan
menggunakan metode survei, yaitu pengamatan langsung di lapangan dan
identifikasi Organisme Penggangu Tanaman (OPT). Pengamatan langsung
dilakukan dengan cara mengambil sampel tanaman yang terserang OPT secara
acak pada setiap tanaman pisang. Tahap identifikasi dilakukan di Laboratorium
Klinik tanaman dan Laboratorium Nematologi Tumbuhan, Departemen Proteksi
Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hama yang ditemukan
menyerang tanaman pisang selama pengamatan, yaitu: Erionota thrax (L.)
(Lepidoptera: Hesperiidae), Aulachopora indica (Coleoptera: Chrysomelidae) dan
Cosmopolites sordidus (Germ.) (Coleoptera: Curculionidae). Penyakit yang
ditemukan di kebun PT. Nusantara Segar Abadi adalah bercak cordana yang
disebabkan Cordana musae, bercak sigatoka yang disebabkan oleh
Mycosphaerella musicola, kerdil yang disebabkan oleh Banana bunchy top virus
(BBTV), layu bakteri yang disebabkan oleh Blood disease bacterium, dan layu
Fusarium yang disebabkan oleh patogen Fusarium oxysporum f.sp. cubense.
Fitonematoda yang ditemukan pada pertanaman berasal dari genus Meloidogyne
spp. Kejadian dan keparahan penyakit bercak cordana tertinggi pada blok 12,
yaitu sebesar 45% dan 81%. Kejadian dan keparahan bercak Sigatoka tertinggi
pada blok 1, yaitu sebesar 40% dan 64%. Kejadian penyakit Fusarium tertinggi
terjadi pada blok 7 (25%). Kejadian dan keparahan penyakit layu bakteri tertinggi
pada blok 9, yaitu sebesar 25% dan 14%. Kejadian dan keparahan penyakit BBTV
tertinggi pada blok 1, yaitu sebesar 30% dan 10%
Respon Morfo-Anatomi Jarak Pagar dengan Cendawan Dark Septate Endophytes pada Media Tailing Tambang Emas.
Tanaman jarak pagar merupakan tanaman hiperakumulator yang dapat mengakumulasikan logam berat pada tajuknya sehingga dapat menjadi salah satu agen fitoremediasi. Fitoremediasi modern telah banyak dikembangkan dengan bantuan mikroorganisme salah satunya ialah cendawan Dark Septate Endophyte (DSE). Penelitian ini bertujuan mengetahui respon morfo-anatomi dan akumulasi logam berat Pb pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) yang ditumbuhkan pada media tailing tambang emas dengan perlakuan dan tanpa perlakuan cendawan Dark Septate Endophytes (DSE). Anakan (seedling) tanaman jarak pagar yang berumur 1 bulan diinokulasi dengan cendawan DSE sebanyak 0.5% dari berat media tanam kemudian ditanam dalam pot dengan kapasitas 6 kg yang berisi media tanam berupa campuran tanah organik yang diberi perlakuan tailing dengan konsentrasi (0%, 50% dan 100%) selama 49 hari. Analisis yang dilakukan di antaranya tinggi tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar, luas daun spesifik, anatomi akar, anatomi daun, dan akumulasi logam Pb pada jaringan akar dan daun. Hasil analisis menunjukkan peningkatan konsentrasi tailing menurunkan tinggi tanaman, bobot kering tajuk, bobot kering akar, luas daun spesifik, parameter anatomi akar dan daun secara signifikan. Perlakuan inokulasi cendawan DSE selama 49 hari berpengaruh signifikan meningkatkan tinggi tanaman dan tidak berpengaruh signifikan meningkatkan bobot kering tajuk, luas daun spesifik, dan parameter anatomi akar dan daun. Akumulasi logam Pb pada tanaman jarak pagar perlakuan tailing tambang emas dan inokulasi cendawan DSE selama 90 hari terdapat pada akar dan daun. Logam Pb pada jaringan akar terdapat pada jaringan epidermis, korteks, endodermis dan xylem. Logam Pb pada jaringan daun terakumulasi pada jaringan epidermis, palisade, bunga karang, kolenkim dan xilem
Surveillance, Identification, and Characterization of Burkholderia pseudomallei Infection in Macaques and Orangutans.
Burkholderia pseudomallei is a Gram-negative bacterium responsible for
causing melioidosis in a wide range of species. It may infect susceptible hosts
through cutaneous, ingestion, or inhalation routes. The disease has a moderate to
high case fatality rate, and the causative microorganism is categorized as Tier 1
Select Agent by the United States CDC. Concerns regarding melioidosis were
raised among nonhuman primate (NHP) researchers in Indonesia, following a fatal
melioidosis case in a cynomolgus macaque (Macaca fascicularis) in a primate
research center and fatal cases in orangutans. Those incidents were the driving force
to conduct surveillance in primate populations.
Serosurveillance was conducted on cynomolgus (Macaca fascicularis) and
pig-tailed macaques (Macaca nemestrina) in several facilities breeding facilities in
West Java and Banten, Indonesia: Jonggol, Darmaga, Lodaya, and Tinjil Island
facilities. The serosurveillance was conducted using a panel of enzyme-linked
immunosorbent assays targeting immunoglobulins G toward B. pseudomallei
proteins: purified lipopolysaccharide (LPS) and recombinant proteins of alkyl
hydroperoxide reductase subunit C (AhpC), hemolysin coregulated protein (Hcp1),
and putative outer membrane porin protein (OmpH). Demographic factor analysis
showed that species and breeding location were significant factors that were
associated with seropositivity. Cynomolgus macaques and Jonggol facility have
significantly association with seropositivity towards B. pseudomallei antigenic
proteins. Enclosures in Jonggol are designed with soil flooring that may act as the
reservoir of B. pseudomallei. Wet season and the observed grass-plucking behavior
in those macaques may have contributed to the exposure to B. pseudomallei in the
deeper layer of the soil. Pig-tailed macaques are predicted to be less-susceptible to
the bacteria, since they showed lower immune response even though being reared
in the same facility as some seropositive cynomolgus macaques. An evaluation of
the immunoassay panel showed that there were strong and positive correlations of
the recombinant protein assays (AhpC, Hcp1, and OmpH), whereas antibody level
in LPS assay was higher but showed no correlation to the results of other assays.
This may suggest that the development of antibody towards B. pseudomallei LPS
is quicker and stronger, since LPS is a strong T-cell independent antigen. It may
explain the reason that some animals had high level of antibody to LPS but not to
other antigens.
Even though the seropositivity ranges from 13-88% in several facilities, the
presence of immunoglobulin G against B. pseudomallei does not necessarily mean
that the macaques were currently having melioidosis, as the antibodies may reflect
asymptomatic infection or a resolved infection. Efforts to culture throat, oral,
wound, nasal, and rectal swabs of seropositive macaques resulted in no positive
culture for B. pseudomallei. Based on previous reports by other researchers,
macaques (including Macaca mulatta, Macaca fascicularis, and Macaca
nemestrina) have been considered as animal species with moderate to high
resistance towards melioidosis. Negative culture from seropositive animals in this
study may indicate that those animals have been exposed to B. pseudomallei, but
do not develop melioidosis, or the condition has been resolved. Environmental
sampling from soil in several breeding facilities also resulted in no culturable B.
pseudomallei, but the number of samples and area coverage was not adequate to
represent the very large area of the facilities.
In this study, B. pseudomallei was isolated from a fatal melioidosis case in a
Bornean orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii). Diagnosis was confirmed through
culture of pulmonary abscess which was then followed by TTSS-1 real-time PCR
assay of the bacterial colonies. In order to provide information regarding pathogen
characteristics, morphology observation, multilocus sequence typing (MLST) and
YLF/BYFC PCR was conducted on B. pseudomallei isolate obtained from
pulmonary abscess. On Ashdown agar, the isolates resembled Type I and Type II
morphotypes of B. pseudomallei. The isolate showed positivity to YLF gene cluster,
which is almost exclusively found in isolates form Asia region. Sequence typing of
seven loci of B. pseudomallei housekeeping genes (ace, gltB, gmhD, lepA, lipA,
nark, and ndh) showed a combination of allele sequence type, that was further
identified as B. pseudomallei sequence type (ST) 54. That sequence type was
analyzed by E-BURST, a method that picture relatedness between similarity in
allele types. E-BURST was performed on multiple datasets; all sequence types in
Borneo or Kalimantan, all sequence types in Indonesia, all sequence types in
Southeast Asia, all sequence types found in animals, all sequence types found in the
environment, all sequence types found in humans, and all reported sequence types
worldwide. E-BURST analysis of this ST and other STs of B. pseudomallei found
in SE Asian countries showed that ST54 is clustered together with STs from
Malaysia, Thailand, and Cambodia. It is predicted that ST54 shares a common
ancestor with STs found in those countries. Information obtained in this study is the
first milestone in discovering melioidosis in nonhuman primates in Indonesia and
may serve as a stepping stone to discover the burden of the disease in other animal
species, by providing the benefits of using panel immunoassays and providing
information on local B. pseudomallei characteristic
Potensi Empat Spesies Asteraceae sebagai Inhibitor Tirosinase
Beberapa tumbuhan Asteraceae dilaporkan mengandung senyawa fitokimia dan aktivitas inhibitor tirosinase yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menentukan spesies Asteraceae terbaik sebagai agen antitirosinase di antara 4 tumbuhan Asteraceae, yaitu Tithonia diversifolia, Synedrella nodiflora, Vernonia cinereal, dan Adenostemma lavenia serta mengeksplorasi senyawa aktif yang berperan di dalamnya melalui uji laboratorium dan studi pustaka. Sampel dari empat tumbuhan diekstraksi menggunakan air kemudian difraksinasi dengan kloroform. Dalam ekstrak dan fraksi ditentukan kandungan total fenolik, flavonoid, dan aktivitas inhibitor tirosinase. Tithonia diversifolia memiliki aktivitas inhibitor tirosinase yang tinggi. Senyawa yang diduga berperan sebagai inhibitor tirosinase adalah senyawa dari golongan polifenol, yaitu flavonoid khususnya senyawa golongan flavonol dan turunannya, serta senyawa golongan terpenoid, yaitu ent-11-hydroxy-15-oxo-kaur-16-en-19-oic acid (11OH-KA)
Pengembangan Stik Ulat Hongkong (Tenebrio molitor L) Berprotein Tinggi.
Stik adalah makanan ringan yang banyak digemari. Tepung ulat hongkong (Tenebrio molitor L) adalah salah satu tepung asal hewani yang mulai banyak dimanfaatkan karena kandungan proteinnya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan stik berprotein tinggi dan disukai secara organoleptik dengan menambahkan tepung ulat hongkong. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan stik berupa penambahan tepung ulat hongkong sebanyak 0%, 5%, 10%, dan 15% terhadap bobot tepung terigu. Hasil analisis kimia menunjukkan perbedaan nyata pada masing-masing parameter (P<0.05). Klaim stik ulat hongkong tinggi protein dapat dicapai dengan penambahan tepung ulat hongkong minimal 15%. Hasil uji hedonik dan mutu hedonik menunjukkan pengaruh nyata terhadap preferensi panelis (P<0.05). Tepung ulat hongkong dapat digunakan sebagai sumber protein untuk membuat stik dengan tinggi kandungan protein, namun stik dengan penambahan tepung ulat hongkong masih memiliki sedikit masalah yaitu kandungan lemaknya yang tinggi dan warna yang cenderung semakin gelap dengan meningkatnya penggunaan tepung ulat hongkong
Analisis Kelayakan Ekonomi Pengelolaan Sampah Organik Menggunakan Maggot (Hermetia illucens) di Kota Depok (Studi Kasus : Unit Pengelolaan Sampah Merdeka II, Kecamatan Sukmajaya).
Kota Depok memiliki 32 Unit Pengelolaan Sampah (UPS) aktif yang berperan sebagai solusi atas permasalahan sampah yang ada. Salah satunya yaitu UPS Merdeka II, yang sejak tahun 2015 memiliki inovasi baru dalam mengatasi sampah organik di Kota Depok, yaitu menggunakan metode pengelolaan sampah organik dengan bantuan maggot / larva Black Soldier Fly (BSF). Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengidentifikasi teknis operasional pengelolaan sampah menggunakan maggot di UPS Merdeka II, (2) menganalisis persepsi masyarakat terhadap keberadaan pengelolaan sampah menggunakan maggot di UPS Merdeka II, (3) menganalisis kelayakan ekonomi dari pengelolaan sampah menggunakan maggot di UPS Merdeka II. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis deskriptif dengan menggunakan skala likert, dan analisis biaya manfaat untuk menganalisis kelayakan ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) Mekanisme teknis operasional pengelolaan sampah dengan maggot di UPS Merdeka II sudah efisien dan efektif. (2) Persepsi masyarakat terhadap UPS Merdeka II menunjukan bahwa keberadaan UPS bermanfaat secara langsung bagi masyarakat sekitar, baik dari aspek ekonomi, lingkungan dan sosial. (3) Berdasarkan analisis kelayakan ekonomi dengan umur proyek selama 10 tahun, proyek pengelolaan sampah menggunakan maggot di UPS Merdeka II layak untuk dijalankan. Dengan masing-masing nilai NPV Rp 256.013.028; Net B/C 1,82; IRR 20%, dan PP 2,8 tahun