31665 research outputs found
Sort by
Perbandingan Karakteristik Morfologi dan Perilaku Harian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912), Jalak Putih (Acridotheres melanopterus Daudin, 1800), dan Hasil Persilangannya di Penangkaran.
Jalak bali dan jalak putih merupakan burung pengicau endemik Indonesia
yang termasuk dalam famili Sturnidae. Tahun 2016, Kere Ayem Bird Farm
berhasil menyilangkan jalak bali dan jalak putih. Penelitian bertujuan
menganalisis perbandingan karakteristik morfologi dan perilaku harian jalak bali,
jalak putih, dan hasil persilangannya. Penelitian menggunakan uji t dan metode
focal animal sampling. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik kualitatif jalak
jalak hasil persilangan 62.5% cenderung mengikuti jalak bali, 25% mengikuti
jalak putih, dan 12.5% merupakan kombinasi jalak bali dan jalak putih. Secara
kuantitatif, pada jenis kelamin jantan didapatkan 5 parameter morfometri yang
berbeda nyata (P<0.05), antara lain panjang tubuh total, panjang dan tinggi paruh,
lebar kepala, dan panjang tarsometatarsus. Ada satu parameter morfometri yang
berbeda nyata (P<0.05) pada jenis kelamin betina, yaitu panjang tubuh total.
Secara umum, panjang tubuh total jalak hasil persilangan jantan 266.76 ± 4.95mm
dan betina 256.77 ± 5.27mm lebih panjang dibandingkan dengan jalak bali dan
jalak putih. Parameter panjang dan tinggi paruh, panjang dan lebar kepala, dan
panjang sayap jalak hasil persilangan jantan menunjukkan ukuran tubuh lebih
tinggi dibandingkan jalak putih. Rata-rata frekuensi dan durasi perilaku harian
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0.05) pada ketiga burung
Analisis Interaksi Molekuler Senyawa Aktif Sambiloto (Andrographis paniculata) pada Enzim MGA sebagai Agen Anti Diabetes.
Andrographis paniculata yang dikenal dengan nama sambiloto adalah
tanaman obat yang banyak digunakan dalam mengobati berbagai penyakit,
termasuk diabetes. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan potensi senyawa
aktif tanaman sambiloto sebagai anti diabetes dan mempelajari interaksi
molekuler yang terjadi antara ligan (senyawa aktif dari sambiloto) dan reseptor
(enzim Maltase-Glucoamylase) dengan teknik penambatan molekul. Parameter
yang dianalisis adalah energi ikat (ΔG), konstanta inhibisi (Ki), dan binding site
similarity (BSS) dengan miglitol sebagai ligan pembanding. Senyawa yang diuji
yaitu andrographolide, 14- deoxy-11, 12-didehydroandrographolide,
deoxyandrographolide, 14-deoxyandrographolide, andrographin, andrograpanin,
andrographidin A, andrographidine C, neoandrographolide, dan onysilin. Hasil
simulasi menunjukan senyawa aktif sambiloto yang memiliki energi ikat lebih
kuat dibandingkan dengan energi ikat miglitol adalah neoandrographolide sebesar
-8.7 dan presentase BSS sebesar 100%
Analisis Mengatasi Ketidakpuasan Penggunaan BNI Mobile Banking Pada Nasabah Milenial (Studi Kasus: Nasabah Bank BNI Bogor).
Mobile banking merupakan bisnis yang potensial pada persaingan perbankan
di era digital, tetapi Bank BNI memiliki jumlah penggunaan mobile banking yang
rendah dibanding bank-bank pesaing. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)
mengidentifikasi kinerja kualitas layanan BNI mobile banking dan faktor penyebab
ketidakpuasan pada nasabah milenial; (2) menganalisis akar masalah dan
mengimplementasi solusi yang tepat untuk mengatasi ketidakpuasan dan
meningkatkan penggunaan BNI mobile banking. Alat analisis yang digunakan
adalah Importance Performance Analysis, Customer Satisfaction Index, Fishbone
Diagram, Why why analysis, dan Tabulasi Silang. Rekomendasi solusi
dikelompokkan ke dalam tiga fokus yaitu pengoperasian aplikasi, proses pelayanan,
dan pengembangan promosi. Pengoperasian aplikasi berupa penyediaan media
komunikasi seperti fitur pelaporan pada aplikasi. Proses pelayanan berupa
peningkatan kegiatan pembekalan mobile banking kepada SDM, pengembangan
teknologi pada media layanan konsumen, dan survei ketidakpuasan kepada nasabah
dengan pengeluaran perbulan yang tinggi. Pengembangan promosi berupa
sosialisasi program reward kepada nasabah yang memiliki latar belakang
pendidikan lebih tinggi dengan melibatkan pihak yang berpengaruh di lingkungan
nasabah
Analisis Efisiensi Dana Pensiun Privat (DPPK dan DPLK) serta Faktor-Faktor yang Memengaruhinya
Adanya dana pensiun adalah diperuntukkan untuk menjamin kesejahteraan tenaga kerja saat masa pensiun serta membantu perkembangan sektor riil melalui investasi. Untuk itu, dana pensiun perlu dikelola secara efisien agar dapat melaksanakan perannya secara optimal. Penelitian ini menyelidiki efisiensi 21 dana pensiun privat yang beroperasi di Indonesia pada periode 2015-2018 dengan Data Envelopment Analysis (DEA). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dana pensiun privat (DPPK dan DPLK) di Indonesia telah dikelola dengan cukup baik sejauh menyangkut efisiensi teknis murni. Pada efisiensi skala terjadi inefisiensi, ditunjukkan dengan kondisi yang didominasi pada decreasing return to scale. Variabel yang menyebabkan inefisiensi terbesar yaitu pendapatan investasi. Untuk mengetahui faktor independen yang memengaruhi tingkat efisiensi, dilakukan pengujian menggunakan regresi tobit. Expense ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai efisiensi, begitu juga dengan size karena adanya diseconomies of scale. Sementara program pensiun iuran pasti berpengaruh positif signifikan terhadap nilai efisiensi dana pensiun privat
Karakteristik Kimia dan Fisik Filet Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Lokal.
Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik kimia filet ikan patin yang meliputi proksimat, warna, asam lemak, profil protein, H2O2, fosfor, Cd dan Pb, dan WHC, serta fisik yaitu uji sensori dan driploss filet patin lokal dengan merek berbeda. Perbedaan merek filet ini berpengaruh nyata terhadap kadar air, abu, fosfor, WHC, dan driploss (P0.05). Asam lemak terdiri dari SFA, MUFA, dan PUFA. dan tidak berbeda nyata (P>0.05). Profil protein dengan SDS PAGE terdiri dari bobot molekul 95, 85.6, 75, 67.8, 57.2, 52.5, 50, 47.7, 45.6, 42.2, 37, 25, 14, dan 10 kDa. Perbedaan merek dan posisi filet bagian depan, tengah, dan belakang mempengaruhi nilai L (lightness) (P<0.05). Uji sensori parameter warna terhadap filet mentah dan kukus, serta parameter rasa terhadap filet kukus berpengaruh nyata (P<0.05)
Pengaruh Citra Merek dan Kepuasan Konsumen terhadap Loyalitas Konsumen Laptop Lenovo di Kalangan Mahasiswa IPB
Perkembangan teknologi yang sangat pesat mendorong perusahaan untuk menaikkan citra merek produk mereka untuk memenuhi kepuasan dan loyalitas konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh citra merek dan kepuasan konsumen terhadap loyalitas konsumen laptop Lenovo pada mahasiswa IPB. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study dan metode survey menggunakan kuesioner online. Responden dalam penelitian ini adalah 161 mahasiswa yang diperoleh melalui voluntary sampling. Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, uji korelasi Spearman menggunakan SPSS 25, dan uji pengaruh dengan metode SEM melalui program Analysis of Moment Structures (AMOS) 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan karakteristik responden dengan variabel citra merek, kepuasan konsumen, dan loyalitas konsumen. Variabel citra merek pada penelitian ini tidak pengaruh secara langsung terhadap variabel loyalitas konsumen melainkan memiliki pengaruh yang tidak langsung melalui kepuasan. Variabel citra merek pada penelitian ini berpengaruh positif terhadap variabel kepuasan konsumen. Variabel kepuasan konsumen pada penelitian ini berpengaruh positif terhadap variabel loyalitas konsumen
Uji Preferensi Pakan, Daya Adaptasi, dan Peranan Burung Gereja (Passer montanus L.) di Lingkungan Perkotaan dan Perdesaan
Burung gereja (Passer montanus L.) berpotensi sebagai hama dan predator. Burung gereja yang berada di perkotaan menimbulkan masalah karena kotoran, sarang, dan bulu yang masuk ke rumah, sedangkan di lingkungan perdesaan burung ini memakan serangga kecil dan biji-bijian seperti biji rumput-rumputan terutama pada area yang ditanamani tanaman padi. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat konsumsi individu burung gereja terhadap gabah, pakan yang disukai oleh burung gereja, sera mengidentifikasi daya adaptasi, dan peranan burung gereja yang berpotensi sebagai hama dan predator di lingkungan perkotaan dan perdesaan. Penelitian mengenai uji kemampuan makan dan preferensi pakan dilakukan melalui persiapan kandang, persiapan pakan hewan uji, persiapan hewan uji, pengujian kemampuan makan, pengujian preferensi pakan, perhitungan tingkat konsumsi, konversi pakan, dan analisis data. Penelitian mengenai daya adaptasi dan peranan burung gereja dilakukan melalui penentuan lokasi, pengamatan langsung di lapangan, wawancara, studi pustaka, dan analisis data. Persentase konsumsi pada pengujian individu burung gereja terhadap gabah yaitu 10.12% atau 1/10 dari bobot tubuhnya. Jenis pakan yang paling disukai oleh burung gereja secara berturut-turut yaitu ulat hongkong, milet, jangkrik, jewawut, gabah, dan jagung. Burung gereja bukan hama pada tanaman padi. Burung gereja mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan perkotaan maupun perdesaan karena lingkungan atau area terbuka (pohon, rumput dan sawah) dan terdapat rumah. Peranan burung gereja di perkotaan yaitu sebagai hama permukiman. Di perdesaan berpotensi sebagai hama pada tanaman milet dan jewawut. Burung gereja sebagai predator karena mengonsumsi serangga kecil (semut, belalang, jangkrik, ulat, dan kepik). Burung gereja dapat berperan sebagai hama dan predator
Aplikasi Prebiotik Mannanoligosakarida dengan Dosis Berbeda terhadap Kinerja Pertumbuhan dan Status Kesehatan Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy).
Prebiotik mannanoligosakarida (MOS) merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis terbaik aplikasi prebiotik MOS untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan benih ikan gurami (Osphronemus gouramy). Benih ikan gurami dengan panjang dan bobot masing-masing 8.42±0.20 cm dan 9.54±0.65 g dipelihara selama 45 hari di dalam akuarium berukuran (60 × 30 × 40) cm dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Ikan uji diberi pakan komersial yang ditambah prebiotik MOS dengan dosis 0.0% (kontrol), 0.2%, 0.4%, dan 0.6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang mutlak, jumlah konsumsi pakan, dan rasio konversi pakan pada perlakuan prebiotik MOS lebih baik dibanding kontrol, dengan hasil terbaik pada dosis 0.2%. Aplikasi prebiotik MOS juga dapat meningkatkan status kesehatan benih ikan gurami dengan nilai parameter gambaran darah yang lebih baik dibanding kontrol. Kesimpulan, pemberian prebiotik MOS melalui pakan dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan benih ikan gurami ukuran 8 cm dengan dosis terbaik 0.2%
Pemanfaatan Indeks Spektral untuk Monitoring Pertumbuhan Vegetasi Berdasarkan Karakteristik Kebakaran Periode 1997-2019.
Hutan gambut sekunder merupakan tipe ekosistem yang sangat rentan terhadap gangguan, dan kini keberadaannya telah terdegradasi akibat kebakaran berulang. Hutan yang rusak akibat kebakaran dapat pulih kembali melalui proses suksesi. Kemampuan pemulihan pada ekosistem rawa gambut tergolong rendah, khususnya pada wilayah yang telah mengalami kebakaran berulang. Informasi mengenai dampak kebakaran berulang terhadap kemampuan pemulihan vegetasi sangat diperlukan untuk perencanaan kegiatan rehabilitasi serta perencanaan prioritas pengelolaan kebakaran. Saat ini, pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dapat membantu memonitor pertumbuhan vegetasi di lahan bekas kebakaran. Monitoring pertumbuhan vegetasi pada penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan beberapa indeks spektral berdasarkan citra multi-temporal. Tiga indeks spektral yang digunakan antara lain Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI), dan Normalized Burn Ratio (NBR) untuk mengidentifikasi perubahan dalam pertumbuhan vegetasi pada sebelum dan sesudah kebakaran periode 1997-2019. Analisis data dilakukan dengan menggunakan platform Google Earth Engine, ArcMap dan bahasa pemrograman R. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks tersebut sangat efektif sebagai alat untuk memonitor pertumbuhan vegetasi pada hutan gambut. NDVI efektif untuk mendeteksi pemulihan dan pertumbuhan vegetasi sedangkan NBR sangat efektif untuk mengidentifikasi riwayat peristiwa kebakaran. Analisis data menunjukkan bahwa frekuensi kebakaran dan tingkat keparahan kebakaran hutan dapat mempengaruhi respon vegetasi untuk tumbuh kembali. Kedepannya diharapkan penelitian ini dapat memberi informasi megenai respon vegetasi terhadap kebakaran berulang dapat bermanfaat bagi pembuat kebijakan untuk kegiatan restorasi dan rehabilitasi lahan gambut mendatang
Kinerja Pertumbuhan dan Pencernaan Udang Vaname yang diberi Probioti kK Bearacgilalmusa nsp .M NikPr5o bdiaont aP rSeabliuortaink Madu.
di Indonesia. Peningkatan produksi udang khususnya udang vaname dapat
dilakukan dengan menerapkan sistem budidaya intensif. Penerapan sistem
budidaya intensif dengan menggunakan padat tebar tinggi untuk memenuhi
kebutuhan produksi udang memiliki dampak negatif seperti menurunnya kinerja
pertumbuhan dan meningkatnya resiko serangan penyakit. Salah satu upaya
alternatif dalam meningkatkan kinerja pertumbuhan dan penanggulangan penyakit
pada budidaya udang vaname dapat dilakukan dengan aplikasi probiotik,
prebiotik, dan sinbiotik. Beberapa penelitian melaporkan bahwa aplikasi
probiotik, prebiotik, dan sinbiotik mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan
respons imun udang vaname dari infeksi bakteri dan virus. Bacillus sp. NP5
sebagai probiotik, diketahui mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan dan
udang, sedangkan madu sebagai prebiotik juga telah diketahui mampu
meningkatkan kinerja pertumbuhan udang vaname. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan keragaman mikrobiota saluran pencernaan
udang vaname yang diberi probiotik Bacillus sp. NP5, prebiotik madu, dan
sinbiotik.
Penelitian ini dilakukan selama 45 hari dengan desain penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga
ulangan. Probiotik yang digunakan adalah Bacillus sp. NP5 koleksi dari
Laboratorium Kesehatan Organisme Akuatik, Departemen Budidaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Prebiotik yang digunakan adalah
madu multiflora yang diperoleh dari pembudidaya lebah madu CV. Madu Apiari
Mutiara, Depok. Hewan uji yang digunakan adalah benur udang vaname stadia
pasca larva (PL) 13 yang berasal dari hatchery CV. Star Sea Rajabasa, Lampung
Selatan. Udang vaname yang digunakan sebelumnya diadaptasikan terlebih
dahulu selama 30 hari hingga mencapai ukuran 2.11±0.02 g. Udang vaname
dengan bobot awal 2.11±0.02 g, kemudian dipindahkan pada akuarium uji dengan
kepadatan 80 ekor m-2. Selama pemeliharaan, udang diberi pakan sesuai perlakuan
yaitu probiotik (1% (v/w) Bacillus sp. NP5 RfR), prebiotik (0.5% (v/w) madu),
sinbiotik (1% (v/w) Bacillus sp. NP5 RfR dan 0.5% (v/w) madu), dan kontrol
(tanpa penambahan probiotik dan prebiotik) secara at satiation dengan frekuensi
pemberian pakan lima kali sehari (06.00, 10.00, 14.00, 18.00, dan 22.00 WIB).
Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan penyifonan dan pergantian air sebanyak
30 sampai 50% setiap hari sebelum pemberian pakan. Variabel pengamatan
meliputi kinerja pertumbuhan (laju pertumbuhan spesifik (LPS), rasio konversi
pakan (RKP), dan tingkat kelangsungan hidup (TKH), jumlah konsumsi pakan
(JKP), aktivitas enzim saluran pencernaan (amilase, protease, dan lipase), total
bakteri pada saluran pencernaan, serta keragaman mikrobiota saluran pencernaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa LPS pada udang vaname yang diberi
probiotik Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu, dan sinbiotik memiliki nilai lebih
tinggi (p<0.05) dibandingkan kontrol. Hasil yang sejalan diperoleh pada RKP
udang vaname yang diberi probiotik Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu, dan
sinbiotik memiliki nilai lebih rendah (p<0.05) dibandingkan kontrol. Hasil terbaik
LPS, RKP ditemukan pada perlakuan prebiotik madu, dengan nilai masingmasing
sebesar 3.09±0.02 % hari-1 dan 1.45±0.00. JKP udang vaname yang diberi
probiotik Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu, dan sinbiotik memiliki nilai lebih
rendah (p<0.05) dibandingkan kontrol. Nilai JKP terendah adalah pada perlakuan
prebiotik madu dan sinbiotik, dengan masing-masing sebesar 136.83±0.26 g dan
136.61±0.10 g. Aktivitas enzim pencernaan pada perlakuan probiotik Bacillus sp.
NP5 RfR, prebiotik madu, dan sinbiotik memiliki nilai yang lebih tinggi
dibandingkan kontrol. Perlakuan prebiotik madu memiliki nilai aktivitas enzim
pencernaan seperti aktivitas enzim amilase, protease, dan lipase tertinggi
dibandingkan kontrol. Peningkatan aktivitas enzim pencernaan selanjutnya terjadi
pada perlakuan sinbiotik yang diikuti dengan perlakuan probiotik Bacillus sp.
NP5 RfR.
Total bakteri pada saluran pencernaan udang vaname yang diberi probiotik
Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu, dan sinbiotik lebih tinggi (p<0.05)
dibandingkan kontrol, dengan nilai tertinggi pada perlakuan prebiotik madu
(5.65±0.06 Log CFU g-1) yang tidak berbeda nyata (p>0.05) dengan sinbiotik
(5.50±0.04 Log CFU g-1). Total bakteri Bacillus sp. NP5 RfR pada saluran
pencernaan udang vaname yang diberi probiotik Bacillus sp. NP5 RfR dan
sinbiotik memiliki nilai masing-masing sebesar 4.06±0.15 Log CFU g-1 dan
4.26±0.35 Log CFU g-1, sedangkan perlakuan lainnya tidak ditemukan Bacillus
sp. NP5 RfR. Keragaman mikrobiota saluran pencernaan udang vaname
menggunakan teknik next generation sequencing (NGS) menunjukkan bahwa
pemberian prebiotik madu didominasi oleh filum Bacteroidetes, sedangkan
pemberian probiotik Bacillus sp. NP5 RfR, sinbiotik, dan kontrol didominasi oleh
filum Proteobacteria. Perlakuan probiotik Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu,
dan sinbiotik memiliki jumlah Operational Taxonomic Units (OTUs) dan nilai
index Shannon lebih tinggi dibandingkan kontrol. Jumlah OTUs pada perlakuan
probiotik Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu, sinbiotik, dan kontrol memiliki
nilai masing-masing sebesar 470, 480, 451 dan 334 OTUs. Perlakuan probiotik
Bacillus sp. NP5 RfR, prebiotik madu, dan sinbiotik memiliki kelimpahan
mikrobiota level genus lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan
probiotik Bacillus sp. NP5 RfR pada penelitian ini, mampu meningkatkan
keragaman mikrobiota dari genus Neptunomonas dan Sphingomonas. Perlakuan
prebiotik madu juga mampu meningkatkan kelimpahan genus Microbacterium,
Lactobacillus, dan Neptunomonas, sedangkan pada sinbiotik mampu
menstimulasi pertumbuhan genus Pseudoalteromonas dan Ruegeria. Mikrobiota
saluran pencernaan udang vaname yang diberi probiotik Bacillus sp. NP5 RfR,
prebiotik madu, dan sinbiotik merupakan mikrobiota yang telah dikenal sebagai
kandidat probiotik dalam akuakultur. Pemberian probiotik Bacillus sp. NP5 RfR,
prebiotik madu, dan sinbiotik pada penelitian ini mampu menstimulasi
pertumbuhan mikrobiota saluran pencernaan udang vaname sehingga mampu
meningkatkan kinerja pertumbuhan dan aktivitas enzim pencernaan (amilase,
protease, dan lipase) dengan hasil terbaik pada perlakuan prebiotik madu 0.5%