31665 research outputs found
Sort by
Keragaman Genetik, Pertumbuhan Tanaman dan Produksi Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea (L.) Verde.) pada Musim Tanam Berbeda
Bambara adalah tanaman legum yang biasa ditanam oleh petani subsisten di
wilayah kering sub-Sahara Afrika. Tanaman kacang bambara hingga saat ini
termasuk tanaman underultilized crop, yaitu tanaman yang kurang diperhatikan
oleh pemerintah, peneliti dan perusahaan. Tidak tersedianya varietas menjadi
kendala bagi peneliti untuk mengembangkan varietas unggul kacang bambara.
Pemurnian galur dan karakterisasi beberapa lanras Indonesia penting dalam
pengembangan kacang bambara di Indonesia.
Kacang bambara memiliki banyak keragaman, baik dari warna testa, bentuk
benih, bentuk polong, bentuk daun, tinggi tanaman, lebar kanopi dan lain-lain.
Karakterisasi beberapa genotipe kacang bambara lanras lokal maupun luar negeri
sangat penting dilakukan. Karakterisasi berdasarkan morfo-agronomi bertujuan
untuk menggali informasi tentang sifat-sifat penting yang menguntungkan dan
dapat dikembangkan. Analisis molekuler juga merupakan salah satu analisis
penting guna memastikan bahwa terdapat perbedaan secara genetik dari setiap
individu.
Kacang bambara dikenal dapat beradaptasi dengan baik pada kondisi gersang.
Beberapa wilayah di Indonesia memiliki curah hujan yang cukup rendah yaitu
Maluku, NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan. Sejumlah daerah di Indonesia
dilaporkan memiliki tingkat kekeringan atau curah hujan yang rendah sehingga
cocok untuk pengembangan kacang bambara. Kondisi kekeringan pada tanah dapat
diukur dengan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Pengukuran
NDVI digunakan untuk mengukur kadar N pada berbagai tanaman seperti jagung
dan tebu. Pengukuran NDVI diharapkan mampu memprediksi tanaman yang
toleran terhadap cekaman kekeringan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengevaluasi keragaman genetik kacang
bambara lanras Indonesia dan respon pertumbuhan tanaman pada dua metode
budidaya, (2) mendeskripsikan karakter pertumbuhan tanaman, karakter hasil dan
mutu benih kacang bambara lanras Indonesia dan galur murni koleksi CFF, (3)
mengevaluasi respon pertumbuhan tanaman dan produksi benih kacang bambara
lanras Indonesia pada dua musim tanam.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mekarmulya, Kecamatan Situraja,
Kabupaten Sumedang, pada 1 Agustus hingga 29 Desember 2017. Percobaan kedua
dilaksanakan di tempat yang sama pada 24 Maret hingga Juli 2018. Analisis
molekuler dilaksanakan di Molecular Laboratory, Crops For the Future (CFF),
Jalan Broga, Semenyih, Malaysia dari 7 Agustus hingga 22 Agustus 2019.
Percobaan pertama terdiri atas dua faktor yang disusun split plot dengan
faktor metode budidaya sebagai petak utama, dan faktor genotipe sebagai anak
petak. Faktor metode budidaya terdiri atas dua taraf, yaitu metode budidaya petani
lokal dan metode standar yang digunakan oleh CFF. Faktor genotipe terdiri atas
delapan lanras lokal Indonesia yaitu Sumedang krem, Sumedang cokelat,
Sumedang hitam, Gresik hitam, Gresik cokelat, Madura hitam, Tasikmalaya hitam,
Sukabumi hitam. Pengamatan karakter kuantitatif dan kualitatif mengikuti
deskriptor kacang bambara yang kemudian dianalisis dengan analisis cluster.
Analisis cluster dilakukan berdasarkan marka morfologi, kemudian dibandingkan
dengan analisis molekuler menggunakan 3 primer. Amplifikasi PCR menggunakan
label M13 pada tiga primer, produk PCR selanjutnya di-running menggunakan gel
agarose dan DNA fragment analysis Applied Biosystem atau dinamakan
elektroforesis kapiler.
Percobaan kedua terdiri atas dua faktor yang disusun split plot dengan faktor
metode budidaya sebagai petak utama, dan faktor genotipe sebagai anak petak.
Faktor metode budidaya terdiri atas dua taraf, yaitu metode budidaya petani lokal
dan metode standar yang digunakan oleh CFF. Faktor genotipe terdiri atas 16 taraf,
delapan lanras lokal (Sumedang krem, Sumedang cokelat, Sumedang hitam, Gresik
hitam, Gresik cokelat gelap, Madura hitam, Tasikmalaya hitam, Sukabumi hitam)
dan delapan genotipe core lines (M-14 Gresik, LUNT, Tiga Necuru, IITA 686,
DodR-R II, S 19-3, Uniswa Red, Uniswa R/G) dari lembaga riset CFF (Malaysia).
Kacang bambara lanras Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok berdasarkan marka morfologi. Kelompok 1 terdiri atas Sumedang krem
dan Sumedang cokelat, kelompok 2 terdiri atas Sumedang hitam dan Tasikmalaya
hitam, sedangkan kelompok 3 terdiri atas Sukabumi hitam, Gresik cokelat, Gresik
hitam dan Madura hitam. Kelompok 1 dan 3 menunjukkan perbedaan jarak yang
paling jauh. Tingkat kemiripan antar kelompok yang tinggi (81.87%) menunjukkan
rendahnya keragaman genetik kacang bambara lanras Indonesia. Pembagian lanras
berdasarkan warna testa menunjukkan perbedaan pada lanras Sumedang hitam yang
berbeda dengan Sumedang krem dan cokelat, sedangkan pada lanras Gresik,
perbedaan warna testa tidak terlihat. Terdapat kecenderungan persamaan antara
lanras Gresik hitam dan Madura hitam berdasarkan marka morfologi dan molekuler
(SSR). Penggunaan elektroforesis kapiler pada analisis molekuler dapat
menunjukkan polimorfisme antar lanras dan dalam lanras.
Faktor metode budidaya berpengaruh pada lebar kanopi, bobot polong basah
per plot, panjang benih dan lebar benih pada musim 2. Ukuran benih (panjang dan
lebar) pada musim 1 nyata lebih tinggi daripada musim 2. Ukuran benih pada
metode petani nyata lebih tinggi daripada metode CFF di musim 2. Penggunaan
pupuk kandang pada metode petani diduga mempengaruhi ketersediaan air pada
saat pengisian polong sehingga pengisian polong lebih optimal. Nilai NDVI tidak
sepenuhnya berkorelasi dengan bobot polong. Budidaya kacang bambara pada
musim 1 (total curah hujan 882 mm) menghasilkan polong yang lebih banyak
dibandingkan musim 2 (total curah hujan 454.7 mm). Waktu berkecambah, periode
muncul bunga, dan umur panen musim tanam 2 lebih cepat dibandingkan musim
tanam 1. Genotipe yang memiliki umur panen cepat yaitu Tiga Necuru (99.2 hari),
Gresik hitam (107.3 hari), Madura (105 hari), Sukabumi hitam (105 hari) dan
DodR-R II (106.2 hari) pada musim tanam 2.
Perbedaan musim tanam tidak berpengaruh nyata terhadap produksi benih,
perbedaan nyata hanya terdapat pada faktor genotipe. Produksi benih tertinggi yaitu
genotipe Sukabumi hitam (2.52 ton ha-1) yang berbeda nyata dengan tujuh genotipe
lain. Beberapa galur koleksi CFF menunjukkan produktivitas polong kering yang
cukup tinggi, diantaranya Uniswa R/G, S 19-3 dan DodR R-II
Pengembangan Modul Back-End Supply Chain Management pada Aplikasi Pencatatan Produksi dan Distribusi Cabai
Cabai merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting di Indonesia. Nilai produksi cabai bertambah secara fluktuatif setiap tahunnya tetapi masih sering terjadi kelangkaan stok cabai hingga membuat harganya naik secara signifikan. Hal tersebut terjadi karena alur distribusi cabai yang panjang dan belum adanya supply chain managament pada proses distribusinya sehingga informasi stok dan harga dari setiap pelaku rantai pasok bersifat tidak transparan dan sulit dicari informasinya oleh konsumen akhir. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat sistem informasi pencatatan produksi dan distribusi cabai dari sisi back-end untuk pencatatan informasi harga dan stok dari setiap pelaku rantai pasok sehingga informasi harga dan stok pada tiap daerah di kota dan kabupaten di Jawa Barat dapat dilihat oleh setiap orang yang membutuhkan. Pengembangan sistem dilakukan dengan metode extreme programming sebanyak dua iterasi dan menghasilkan 47 API. API yang dibuat digunakan untuk menjalankan beberapa fitur meliputi pencatatan informasi lahan, pencatatan pengeluaran produksi lahan, pencatatan hasil panen, inventaris, pembentukan kemitraan, pertukaran pesan, dan permintaan transaksi distribusi dengan pelanggan atau pemasok
Hubungan Karakteristik Peserta Program Demapan, Pembagian Kerja dalam Rumah Tangga dan Tingkat Kesetaraan Keadilan Gender
Manfaat dari program pemberdayaan masyarakat idealnya dapat dirasakan oleh seluruh peserta, baik laki-laki maupun perempuan. Peran dan posisi perempuan terkadang dikesampingkan dalam suatu program pemberdayaan masyarakat. Ini disebabkan adanya stereotipi bahwa perempuan tidak memiliki kemampuan yang setara seperti laki-laki. Untuk itu, penelitian ini menganalisis relasi gender dalam pelaksanaan DEMAPAN. Penelitian dilaksanakan dengan metode sensus di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Populasi penelitian adalah seluruh rumah tangga peserta Program DEMAPAN yang berjumlah 32 rumah tangga. Data dianalisis menggunakan analisis tiga peran gender dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran perempuan masih dominan di reproduktif. Pembagian kerja produktif dan kerja sosial sudah relatif setara. Terdapat hubungan yang signifikan, yaitu: (i) antara karakteristik rumah tangga dan tingkat KKG, kecuali pada variabel besar keluarga dengan tingkat kontrol, dan (ii) antara pembagian kerja rumah tangga dan tingkat KKG. Besar keluarga dan dengan tingkat kontrol atas sumber daya tidak berkorelasi dengan KK
Analisis Ekonomi Pengelolaan Sumberdaya Ikan Layur (Trichiurus spp.) di Perairan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah
Ikan layur merupakan komoditas perikanan unggulan Kabupaten Cilacap, namun mengalami gejala overfishing. Tujuan penelitian adalah (1) mengidentifikasi pemanfaatan aktual, lestari, dan optimal sumberdaya ikan layur, (2) mengkaji kelayakan usaha nelayan tangkap ikan layur, (3) mengidentifikasi alternatif kebijakan pengelolaan sumberdaya ikan layur yang berkelanjutan di Perairan Kabupaten Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dan analisis data menggunakan analisis bioekonomi, analisis kelayakan usaha, dan teknik AHP. Hasil penelitian menunjukkan nilai MSY ikan layur yaitu 769,61 ton/tahun dengan nilai ekonomi sebesar Rp19,013 milyar dan nilai MEY yaitu 769,55 ton/tahun dengan nilai ekonomi sebesar Rp19,015 milyar. Penangkapan aktual sumberdaya ikan layur telah mengalami overfishing secara ekonomi dan biologi. Analisis kelayakan finansial usaha menunjukkan usaha penangkapan ikan layur layak untuk dijalankan karena nilai NPV sebesar Rp316 juta; Net B/C sebesar 34%; dan IRR sebesar 82%. Alternatif kebijakan yang menjadi prioritas untuk pengelolaan sumberdaya ikan layur yang berkelanjutan adalah peningkatan kapasitas kelembagaan melalui koperasi
Development of Sustainable Risk Mitigation Strategy for Bajabang Eduagrotourism
Pengembangan agrowisata secara berkelanjutan dapat meningkatkan nilai tambah dari komoditas terkait dengan mempertimbangkan berbagai aspek yaitu sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Analisis risiko dan keberlanjutan dapat dikembangkan menjadi strategi mitigasi risiko untuk mencapai agrowisata berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan strategi mitigasi risiko yang berkelanjutan untuk Bajabang Eduagrowisata. Selain itu, penelitian juga bertujuan untuk menganalisis risiko potensial, aksi mitigasi risiko, status keberlanjutan dan atribut kunci keberlanjutan sebagai pertimbangan dalam menyusun strategi. Analisis risiko dilakukan menggunakan metode House of Risk (HOR), analisis keberlanjutan dilakukan menggunakan pendekatan Rap-Agrotourism dengan teknik Multi Dimensional Scaling (MDS), dan penyusunan strategi dilakukan menggunakan metode Analytical Network Process (ANP). Didapatkan 27 risiko potensial yang dikategorikan dalam risiko keamanan, infrastruktur dan fasilitas, manajemen, dan pengembangan. Prioritas aksi mitigasi
diperoleh. Teridentifikasi 36 atribut keberlanjutan yang terhimpun dalam empat dimensi yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, dan kelembagaan. Atribut pengungkit keberlanjutan dari keempat dimensi telah didapatkan. Status keberlanjutan agrowisata didapatkan sebesar 70.12% dengan nilai perbedaan dari nilai MDS dan nilai monte carlo kurang dari 5%. Strategi mitigasi risiko untuk mengembangkan agrowisata yang berkelanjutan didapatkan dari analisis ANP yang mengintegrasikan analisis risiko dan keberlanjutan. Strategi tersebut adalah peningkatan strategi pemasaran yang memperhatikan kolaborasi kelembagaan dan dilakukan bersamaan dengan peningkatan infrastruktur dan wahana wisata
Tangkapan Tidak Sengaja (Bycatch) Kura-kura Ambon (Cuora amboinensis) oleh Nelayan di Rawa Aopa, Sulawesi Tenggara
Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai memiliki ekosistem rawa permanen yaitu Rawa Aopa yang diduga sebagai salah satu habitat yang sesuai bagi kura-kura ambon (Cuora amboinensis). Rawa Aopa terletak di zona tradisional yang di dalamnya terdapat aktivitas masyarakat berupa penangkapan ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur karakteristik morfologi dan struktur umur kura-kura ambon hasil tangkapan tidak sengaja dan mengidentifikasi kegiatan nelayan yang memengaruhi bycatch kura-kura ambon di Rawa Aopa. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara terhadap nelayan dan pengamatan secara langsung dengan mengikuti kegiatan nelayan untuk mengidentifikasi keberadaan kura-kura ambon. Sebanyak 38 individu hasil tangkapan nelayan berhasil diukur. Ukuran rata-rata relatif lebih kecil dibanding dengan ukuran kura-kura ambon di dalam kolam-kolam savana taman nasional maupun di lokasi lain. Perbedaan ini diduga karena alat tangkap bubu selektif dalam menangkap kura-kura. Celah bukaan bubu hanya dapat memerangkap kura-kura berukuran kecil. Sebagian besar kegiatan nelayan dilakukan di dalam maupun di luar area taman nasional. Semua nelayan pernah menemukan kura-kura ambon sebagai tangkapan sampingan (bycatch). Perlakuan nelayan yang melepas kembali kura-kura ambon yang terperangkap di alat tangkap (terutama bubu) merupakan hal positif karena kura-kura ambon yang dibuang masih dalam kondisi hidup. Sikap ini perlu dipertahankan untuk menjaga populasi kura-kura ambon di Rawa Aopa
Kajian Model Deterministik dan Stokastik Waktu Kontinu pada Model Epidemik SEIV.
Untuk mengetahui suatu perilaku penyebaran penyakit menular diperlukan suatu model matematika yaitu model epidemik. Salah satu model epidemik yaitu model epidemik SEIV (Susceptible Exposed Infected Vaccinated). Pada penelitian model epidemik ini yang akan dibahas adalah model deterministik dan model stokastik. Model SEIV deterministik diperoleh dua titik tetap yaitu titik tetap bebas penyakit dan titik tetap endemik. Dalam menentukan bilangan reproduksi dasar menggunakan dua metode yakni metode tabel Routh-Hurwitz dan metode matriks next generation telah memperoleh hasil yang sama. Model SEIV stokastik membahas mengenai model rantai Markov pada waktu kontinu. Kestabilan bebas penyakit diperoleh pada saat R0 1. Dari simulasi numerik yang dilakukan, perilaku model epidemik SEIV deterministik serupa dengan perilaku model epidemik stokastik pada waktu kontinu. Namun demikian, dalam model epidemic SEIV stokastik selalu terjadi kemungkinan bebas penyakit meskipun nilai R0 > 1, dengan peluang bebas penyakit semakin kecil dengan semakin meningkatnya nilai R0
Instrumen Berbasis Optocoupler Inframerah dan Arduino Mega untuk Mendeteksi Perilaku Lebah Madu (Apis cerana) Keluar-Masuk Sarang.
Apis cerana merupakan lebah madu asal Asia yang memiliki banyak manfaat
seperti dalam penyerbukan tumbuhan dan penghasil madu. Pengamatan perilaku
terbang lebah keluar-masuk sarang diperlukan karena ketika terjadi fenomena
Colony Collapse Disorder (CCD) dapat langsung terdeteksi. Tujuan penelitian ini
adalah membuat instrumen menggunakan sensor optocoupler inframerah yang
dibangun dari infrared emitting diode sebagai transmitter dan modul sensor digital
inframerah sebagai receiver. Instrumen ini dapat memantau aktivitas lebah keluarmasuk
sarang dari jauh dengan koneksi internet menggunakan antarmuka website.
Transmitter dan receiver inframerah tersebut diatur menggunakan papan
mikrokontroler Arduino Mega. Data dikirim ke basis data antarmuka menggunakan
server lokal pada Raspberry Pi 3B. Desain entrance sarang dibentuk dari enam
terowongan yang berukuran 25 mm × 8 mm × 10 mm. Pengamatan perilaku
terbang lebah keluar-masuk sarang dilakukan dari pukul 13.00 hingga 17.59. Heatballing
behaviour timbul karena intensitas inframerah yang tinggi dari tegangan
masukan 4.57 V, sehingga dikurangi menjadi 2.28 V. Aktivitas rata-rata tertinggi
lebah masuk ke sarang per menit terjadi pada pukul 14.00 hingga 15.59. Aktivitas
rata-rata lebah keluar dari sarang per menit memperlihatkan pola kenaikan pada
pukul 15.00 hingga 17.59 setiap hari pada empat hari pengamatan
Strategi Pengembangan Lahan Budidaya Jagung dan Padi di Wilayah Daratan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur
Tantangan utama dalam mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia
adalah menyelesaikan masalah terkait ketersediaan lahan yang semakin langka baik
dari segi luas dan kualitas. Kebijakan yang mendukung pemenuhan pangan perlu
disusun agar tidak terjadi defisit pangan yang akan berdampak pada krisis pangan.
Kebijakan ini disusun dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia,
khususnya untuk komoditas padi dan jagung.
Penelitian ini dilakukan untuk (1) mengidentifikasi dan memetakan sebaran
lahan budidaya padi dan jagung eksisting; (2) menganalisis ketersediaan dan
kesesuaian lahan untuk komoditas padi dan jagung; (3) menghitung neraca pangan
(padi dan jagung) dan kebutuhan luas baku lahan budidaya padi dan jagung yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pangan; serta (4) menyusun arahan prioritas
strategi pengembangan lahan budidaya padi dan jagung dalam mendukung
kemandirian pangan di wilayah daratan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Identifikasi dan pemetaan sebaran lahan budidaya padi dan jagung dilakukan
dengan dengan cara interpretasi visual. Ketersediaan lahan untuk budidaya padi dan
jagung dianalisis dengan mengintegrasikan antara lahan eksisting, alokasi pola
ruang dan status kawasan hutan. Kesesuaian lahan dievaluasi dengan menggunakan
metode matching dengan faktor jenis tanah, tekstur tanah, tingkat kemasaman
tanah, kapasitas tukar kation tanah, tingkat kejenuhan basa tanah, kedalaman,
drainase dan curah hujan. Neraca pangan dan kebutuhan lahan dianalisis dengan
menghitung laju pertumbuhan penduduk, ketersediaan pangan dan kebutuhan
pangan. Arahan prioritas strategi pengembangan lahan budidaya padi dan jagung
disusun berdasarkan potensi dari segi ketersediaan lahan, kesesuaian lahan,
kebutuhan baku lahan dan pemanfaatan eksisting lahan.
Lahan sawah sebagai lahan untuk budidaya padi memiliki luas 20,67% yang
tersebar di seluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Bluto. Lahan untuk budidaya
jagung yaitu tegalan tersebar di seluruh kecamatan dengan luas 55,00%. Lahan
yang tersedia dan sesuai untuk komoditas padi seluas 14.808 ha dengan kelas
kesesuaian lahah sesuai marginal (S3). Lahan tersedia dan sesuai untuk jagung
memiliki luas 33.251 ha yang terbagi menjadi kelas cukup sesuai (S2) dan sesuai
marginal (S3). Neraca pangan (padi dan jagung) di wilayah daratan Kabupaten
Sumenep menunjukkan nilai surplus hingga tahun 2033 dengan kelebihan beras
1.483 ton dan jagung 254.339 ton. Kebutuhan luas baku lahan budidaya padi dan
jagung untuk memenuhi kebutuhan pangan di Kabupaten Sumenep Wilayah
Daratan hasil proyeksi hingga tahun 2033 yaitu 17.673 ha lahan sawah untuk
budidaya padi dan 10.734 ha lahan tegalan untuk budidaya jagung. Strategi
pengembangan lahan budidaya padi dan jagung di wilayah daratan Kabupaten
Sumenep disusun menjadi dua prioritas pengembangan, yaitu pengembangan di (1)
lahan tersedia dan karakteristik lahannya sesuai, dan (2) lahan tidak tersedia dan
karakteristik lahannya sesuai
Pemanfaatan Limbah Kaleng Minuman sebagai Sumber Aluminium untuk Sintesis Zeolit
Limbah kaleng minuman termasuk salah satu limbah yang paling banyak dihasilkan di Indonesia sehingga perlu diupayakan penanganannya. Kandungan logam aluminium pada limbah ini mencapai 95%, sehingga dapat digunakan sebagai sumber untuk sintesis zeolit. Penelitian ini bertujuan menyintesis zeolit dengan sumber aluminat dari limbah tersebut, mengkaji potensi zeolit sebagai pelunak air sadah dengan metode pertukaran ion, dan menguji kemampuan adsorpsinya terhadap zat warna biru metilena. Zeolit yang dihasilkan adalah tipe X dan NaP1. Pembentukan tipe zeolit dipengaruhi oleh nisbah Si/Al. Semakin tinggi kandungan aluminium, semakin banyak muatan negatif pada kerangka zeolit. Hal tersebut dibuktikan dengan terjadinya dispersi pada pencucian zeolit. Zeolit dengan nisbah Si/Al terbesar mampu menghilangkan 6.60% ion Ca2+ penyebab kesadahan air. Kapasitas adsorpsi maksimum untuk zat warna biru metilena oleh zeolit ini adalah 46.7 mg/g, yang mengikuti isoterm Langmuir