31665 research outputs found
Sort by
Keragaan Karakter Biometrik Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor bicolor McClelland, 1844) dari Kelompok Pertumbuhan Berbeda.
Karakter biometrik merupakan salah satu dasar dalam mengevaluasi
keragaan potensi biologis suatu jenis biota air. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi kondisi biologis ikan sidat yang memiliki pertumbuhan berbeda
(cepat, normal, dan lambat) dengan menggunakan parameter biometrik. Penelitian
ini dilakukan selama tiga bulan, yaitu dari bulan September hingga Desember
2019. Pengambilan contoh ikan sidat stadia elver dilakukan dengan metode
pengambilan contoh acak sederhana (PCAS) sebanyak 150 ekor. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai faktor kondisi berkisar 0,0769-0,188, diameter mata
relatif (DMr) berkisar 21,37-39,01%, lebar bukaan mulut relatif (LBMr) berkisar
49,87-103,15%, volume lambung relatif (VLr) berkisar 0,75-9%, panjang usus
relatif (PUr) berkisar 14,86-35,45%, bobot jantung relatif (BJr) berkisar 0,03-
0,95%, bobot limpa relatif (BLr) berkisar 0,004-0,27%, dan bobot hati relatif
(BHr) berkisar 0,94-3,015%. Hasil analisis biometrik tersebut menunjukkan
bahwa keragaan pertumbuhan elver hasil pemeliharaan dari glass eel tidak dapat
dibedakan berdasarkan karakter biometriknya
Sugarcane streak mosaic virus pada Tebu di Lampung dan Sulawesi Selatan: Insidensi Penyakit, Karakterisasi Gen Protein Selubung dan Pengembangan Metode Deteksinya.
Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman komersial yang penting dan kontribusinya besar untuk produksi gula di dunia, termasuk di Indonesia. Produksi gula dalam negeri yang masih rendah, menyebabkan pemerintah melakukan impor gula untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah berusaha mengurangi nilai impor gula dengan melakukan peningkatan luas lahan, produktivitas dan rendemen. Peningkatan luas lahan secara ekstensifikasi dilakukan dengan mengembangkan perkebunan tebu ke luar wilayah sentra produksi dan secara intensifikasi dengan penggunaan varietas unggul dan benih bermutu.
Produktivitas tanaman tebu terutama ditentukan oleh kondisi agroklimat dimana tanaman tumbuh dan gangguan hama dan penyakit, termasuk yang disebabkan oleh infeksi virus. Virus utama yang dilaporkan menginfeksi tanaman tebu adalah Sugarcane mosaic virus (SCMV), Sugarcane streak mosaic virus (SCSMV), dan Sugarcane yellow leaf virus (SCYLV). Informasi mengenai status sebaran ketiga virus utama tersebut di luar Pulau Jawa belum ada yang melaporkannya. Data mengenai status sebaran tersebut diperlukan, terkait dengan program pemerintah untuk mengembangkan daerah sentra produksi tebu baru di luar Pulau Jawa. Salah satu konsekuensi dari pembukaan lahan sebagai sentra produksi tebu baru adalah harus dijamin ketersediaan bibit tebu berkualitas dan sehat dalam jumlah besar. Kegiatan indeksing dan pemantauan kesehatan bibit tebu harus didukung oleh metode deteksi dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang baik, serta memungkinkan digunakan untuk mendeteksi sampel dalam jumlah besar.
Penelitian telah dilakukan dengan tujuan: (1) Mengetahui daerah sebar SCSMV dan virus penyebab penyakit mosaik tebu yang lain di Lampung dan Sulawesi Selatan; (2) Melakukan karakterisasi molekuler berbasis asam nukleat dan protein terhadap gen selubung protein (CP) isolat SCSMV asal Lampung dan Sulawesi Selatan, serta hubungan filogenetiknya dengan isolat dari negara lain; dan (3) Mendapatkan metode deteksi cepat SCSMV sebagai metode untuk melakukan indeksing dan pemantauan kesehatan bibit tebu. Kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi tiga topik penelitian, yaitu (1) Survei distribusi dan insidensi SCSMV, SCMV, dan SCYLV di perkebunan tebu di Lampung dan Sulawesi Selatan; (2) Karakterisasi molekuler asam nukleat dan protein gen CP beberapa isolat SCSMV; dan (3) Pengembangan metode serologi (dot immunobinding assay/DIBA dan enzyme-linked immunosorbent assay/ELISA) dan molekuler (reverse transcription polymerase chain reaction/RT-PCR, hibridisasi asam nukleat dan immunocapture (IC)-RT-PCR) sebagai metode deteksi SCSMV.
Hasil survei lapangan dan deteksi di laboratorium mengonfirmasi bahwa infeksi SCSMV, SCMV dan SCYLV pada tebu secara tunggal maupun ganda
telah ditemukan di Lampung Tengah, Bone, Gowa dan Takalar. SCSMV sudah menginfeksi beberapa klon tebu komersial yang ditanam di dalam maupun luar Pulau Jawa. Insidensi dan keparahan penyakit pada penyakit mosaik bergaris dipengaruhi oleh kondisi agroklimat, terutama curah hujan di daerah perkebunan tebu. Semakin tinggi curah hujan, nilai insidensi dan keparahan penyakit semakin tinggi. Berkaitan dengan kegiatan survei dan pemantauan penyakit di lapangan dapat direkomendasikan untuk mengambil daun tebu urutan -2 sebagai sampel lapangan, karena daun tersebut mengandung konsentrasi SCSMV yang tinggi (2.037 ng.μL-1) berdasarkan hasil uji PCR kuantitatif.
Deteksi dengan metode konvensional PCR menggunakan pasangan primer SCSMV 547F/AP3 berhasil mengamplifikasi bagian dari gen protein selubung (CP) SCSMV dari sampel tebu hasil survei. Satu klon gen CP SCSMV yang mewakili masing-masing SCSMV isolat Bone, Gowa, Takalar dan Lampung Tengah dipilih untuk digunakan dalam analisis runutan gen CP SCSMV. Homologi runutan nukleotida maupun asam amino 4 klon tersebut dengan SCSMV asal Pasuruan adalah 98.9%; sedangkan homologinya dengan isolat SCSMV asal negara lain yang tertinggi adalah dengan India, Pakistan, Iran, Thailand, Myanmar dan Cina. Hanya ditemukan satu variasi asam amino antara klon isolat SCSMV pada penelitian ini dengan isolat asal Pasuruan, Thailand, Myanmar dan Iran, yaitu berturut-turut pada asam amino ke-170, 108, 172, dan 167. Hal tersebut menunjukkan keragaman genetik yang rendah pada gen CP SCSMV. Lebih lanjut analisis filogenetik menunjukkan bahwa SCSMV isolat Bone, Gowa, Takalar, dan Lampung Tengah berada pada grup yang sama dengan SCSMV asal Cina, India, dan Pakistan.
Optimasi yang dilakukan terhadap metode DIBA, I-ELISA dan RT-PCR menunjukkan bahwa masing-masing metode deteksi memiliki batas sensitivitas yang berbeda. Batas sensitivitas untuk metode DIBA dan I-ELISA berturut-turut pada pengenceran antisera 1:5.106 dan 1:105; sedangkan batas sensitivitas metode RT-PCR pada pengenceran DNA 10-6. Metode hibridasi asam nukleat dan IC-RT-PCR diuji coba sebagai metode deteksi SCSMV, dan diketahui memiliki batas sensitivitas berturut-turut pada pengenceran DNA 10-10 dan 75.10-4. Uji konfirmasi kelayakan menunjukkan bahwa semua metode dapat mendeteksi sampel tebu dari lapangan. Metode DIBA dan I-ELISA berpotensi untuk dikembangkan sebagai metode indeksing karena memiliki tingkat sensitivitas dan kespesifikan yang tinggi, mudah diaplikasikan, dapat digunakan untuk mendeteksi sampel dalam jumlah besar, waktu pengujian singkat, serta biaya pengujian per sampel relatif murah.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa 3 virus utama tebu (SCSMV, SCMV, dan SCYLV) telah ditemukan menyebar di Sulawesi Selatan dan Lampung. Penggunaan bibit tebu asal Kebun Bibit Induk di Pulau Jawa diduga menjadi penyebab penyebaran SCSMV ke luar Pulau Jawa. Analisis molekuler beberapa isolat SCSMV memperkuat dugaan adanya kontribusi perpindahan bibit tebu terhadap penyebaran penyakit. Berdasarkan analisis runutan nukleotida, isolat SCSMV asal Bone, Gowa, Takalar, dan Lampung Tengah berada dalam kelompok yang sama, serta memiliki homologi yang tinggi dengan isolat asal Pasuruan, Jawa Timur. Oleh karena itu, penggunaan bibit tebu berkualitas dan bebas penyakit harus diprioritaskan sebagai strategi untuk mencegah penyebaran SCSMV yang lebih meluas. Metode deteksi
cepat dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang baik, waktu pengerjaan yang singkat, serta biaya pengujian murah untuk melakukan indeksing dan pemantauan kesehatan bibit tebu menjadi andalan untuk program penyediaan bibit tebu bebas penyakit. Metode deteksi serologi DIBA dan I-ELISA berpotensi untuk digunakan sebagai metode deteksi SCSMV tetapi perlu penyediaan antisera SCSMV secara komersial
Kadar Kreatinin, Urea, dan Total Protein Darah Tikus Sprague Dawley pada Toksisitas Subkronis Ekstrak Etanol 70% Temulawak
Temulawak merupakan tanaman obat yang mengandung senyawa kurkumin
dan xanthorrhizol yang dapat berperan sebagai antikanker. Pemanfaatan temulawak
sebagai antikanker yang sedang berkembang membutuhkan uji preklinis berupa
toksisitas subkronis untuk mengetahui tingkat dosis dan efek toksik yang dapat
terjadi pada tubuh selama 28 hari. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar
kreatinin, urea, dan total protein darah pada toksisitas subkronis ekstrak etanol 70%
temulawak. Ekstrak diberikan secara oral kepada 30 tikus betina dan 30 tikus jantan
yang terbagi dalam 6 kelompok dosis yaitu kelompok normal, kelompok satelit,
kelompok dosis 45, 225, 1125, dan 5625 mg/kgBB. Hasil menunjukkan bahwa
pemberian ekstrak hingga dosis 5625 mg/kgBB pada tikus betina dan tikus jantan
selama 28 hari tidak menyebabkan peningkatan kadar kreatinin dan total protein
darah melebihi nilai normal. Peningkatan di atas nilai normal dan memiliki
perbedaan nyata dengan kelompok normal terjadi pada kadar urea darah tikus jantan
hari ke-28 dengan rerata 27.38 mg/dL pada kelompok dosis 5625 mg/kgBB. Namun
pada kelompok satelit kadar tersebut dapat kembali ke nilai normal setelah 14 hari
pemberhentian paparan
Analisis In-Silico Pengaruh Konformasi Molekul terhadap Sinyal Resonans Magnetik Inti (NMR) Metileugenol Dibromida
Metileugenol merupakan senyawa yang digunakan untuk prekursor N6-
(metilisoeugenol-3'-il)-2'-deoksiadenosin (ME-dA) yang bermanfaat sebagai
biomarker. Pencirian senyawa menggunakan spektroskopi resonans magnetik inti
(NMR) telah banyak dilakukan. Brominasi metileugenol akan menghasilkan sinyal
yang terpisah pada hidrogen diastereotopiknya. Namun, terdapat hasil eksperimen
yang menyatakan bahwa sinyal dari hidrogen diastereotopik tidak terpisah, yang
diduga karena adanya pengaruh konformasi dari molekul metileugenol dibromida
sehingga perlu dikonfirmasi secara komputasi. Penelitian ini bertujuan mencari dan
menjelaskan pengaruh konformasi metileugenol dibromida pada sinyal NMR
secara teoretis dengan kimia komputasi. Berdasarkan penelitian didapatkan sinyal
terpisah pada hidrogen diastereotopiknya dan beberapa faktor yang berpengaruh
pada geseran kimia, yaitu faktor sterik dan anisotropi. Faktor sterik dan anisotropi
oleh gugus Br mengakibatkan geseran kimia lebih ke medan bawah, sedangkan
faktor anisotropi oleh benzena mengakibatkan geseran kimia lebih ke medan atas
Evaluasi Potensi Hasil 30 Hibrida Jagung (Zea mays L.) dan Pembentukan Grup Heterotik Galur-Galur Tetuanya
Jagung merupakan komoditas penting yang bermanfaat sebagai bahan pangan,
bahan pakan ternak, serta bahan baku industri sehingga perlu upaya meningkatkan
potensi hasil jagung. Peningkatan potensi hasil dapat dilakukan melalui program
pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi hasil 30
hibrida jagung dan mengelompokkan galur-galur tetuanya ke dalam grup heterotik.
Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo, Seed Center, dan
Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura,
Fakultas Pertanian, IPB University, Bogor mulai bulan September 2019 hingga
Februari 2020. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan kelompok lengkap
teracak dengan tiga ulangan. Terdapat 32 hibrida yang diuji yaitu 30 hibrida jagung
hasil persilangan antara galur-galur IPB (line) dengan dua galur penguji (tester)
dari Balai Penelitian Tanaman Serealia (Mr14 dan Nei9008), serta dua varietas
hibrida komersil sebagai varietas pembanding (BISI2 dan NK6172). Hasil
penelitian menunjukkan adanya keragaman antar genotipe pada karakter umur
berbunga betina, anthesis-silking interval (ASI), tinggi tanaman, tinggi tongkol,
diameter batang, jumlah tongkol, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris
biji, bobot tongkol per tanaman, bobot biji per tongkol, bobor seribu biji, rendemen
hasil, kadar air, dan hasil pipilan kering. Hibrida L15xMr14 memiliki potensi hasil
terbaik dari 30 hibrida yang diuji, nyata lebih tinggi terhadap varietas BISI2, dan
tidak berbeda nyata terhadap varietas NK6172. Nilai daya gabung umum tertinggi
untuk hasil pipilan kering dimiliki P13 dan Mr14, sedangkan L15xMr14 memiliki
nilai daya gabung khusus tertinggi. Hasil pipilan kering berkorelasi positif nyata
dengan tinggi tanaman, tinggi tongkol, diameter batang, panjang tongkol, dan
diameter tongkol. Terdapat dua kelompok heterotik yang membagi line
berdasarkan nilai DGK hasil pipilan kering, dimana rata-rata hasil dari
persilangan antar kelompok lebih besar dibandingkan dengan persilangan dalam
kelompok
Nilai Ekonomi Pemanfaatan Sampah Menjadi Refuse Derived Fuel melalui Pola Kemitraan Pemerintah dan Swasta (Studi Kasus: TPA Galuga).
Sampah padat yang dihasilkan oleh aktivitas masyarakat Kota Bogor diangkut dan dibuang ke Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Galuga. Praktek pengelolaan sampah ini berakibat pada meningkatnya timbunan sampah yang merupakan sumber pencemar bagi lingkungan disekitar TPA Galuga. Pengelolaan TPA yang direncanakan menggunakan metode controll landdfill tidak berjalan sesuai perencanaan bahkan menyerupai metode open dumping. Kondisi tersebut menambah beban TPA Galuga dalam memproses akhir sampah padat ke lingkungan dengan aman. Sehingga untuk mengatasi masalah tersebut perlu ada cara pengelolaan sampah yang dapat mengurangi sampah yang akan ditimbun di TPA. Memanfaatkan kembali sampah menjadi produk bahan bakar alternatif (BBA) yakni Refuse Derived Fuel (RDF). Salah satu industri yang telah memanfaatkan RDF adalah PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. (ITP).
ITP berada di Kecamatan Citeurep, Kabupaten Bogor berjarak 60 km dari TPA Galuga. Pemanfaatan sampah menjadi RDF sebagai BBA dipabrik semen menggunakan metode co-processing yakni memanfaatkan sampah untuk memenuhi kebutuhan kalori yang besar dalam memproduksi produk clinker pada unit Rotary Kiln. Dengan kandungan jenis sampah di TPA Galuga yang beragam menyebabkan ITP harus melakukan pre-tretment mulai dari pemilahan, pengeringan di fasilitas biodrying, pencacahan menjadi berukuran 5 cm di fasilitas shredder, pencampuran dengan material lain seperti biomass dan limbah dari sektor industri di fasilitas kolam pengadukan hingga diangkut menggunakan belf conveyor ke fasilitas feeding ke dalam rotary Kiln sebagai BBA.
Fasilitas dan metode pemanfaatan sampah menjadi RDF di ITP dapat diintegrasikan kedalam pengelolaan sampah di TPA Galuga. Untuk itu diperlukan kerja sama antara Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor sebagai pengelola TPA Galuga dan pihak swasta yakni perusahaan ITP. Sebagai bahan bertimbangan bagi kedua belah pihak diperlukan kajian kegiatan pemanfaatan sampah menjadi RDF. Kajian dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini pengelolaan sampah di TPA Galuga, mengetahui nilai ekonomi dari kegiatan pemanfaatan sampah di TPA Galuga menjadi RDF dan mengetahui persepsi kedua belah pihak untuk menjajaki peluang kerjasama keduanya.
Metode yang digunakan untuk mendalami kondisi pengelolaan sampah di TPA Galuga adalah menggunakan metode gap analysis. Hasil dari analisis menyatakan bahwa pengelolaan TPA Galuga baru memenuhi kewajiban yang ditetapkan dalam perjanjian kerjasama antara Pemkot Bogor dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor sebesar 80%. Penyebab tidak terpenuhinya kewajiban yang disepakati ini adalah keterbatasan anggaran Pemkot Bogor dalam pengadaan tanah penutup timbunan sampah, kapasitas pengolahan air lindi dan pemanfaatan gas metana. Untuk itu diperlukan cara lain yang sesuai
kondisi anggaran yang tersedia dalam mengelola sampah dan mampu mengurangi sampah yang ditimbun. Berdasarkan kajian pustaka pemanfaatan sampah menjadi RDF mampu mengurangi sampah yang akan ditimbun di TPA.
Metode yang digunakan untuk mengestimasi nilai ekonomi kegiatan pemanfaatan ini adalah dengan menggunakan pendekatan harga pasar dan metode Net Present Value (NPV). Agar dapat memberikan gambaran nilai ekonomi kegiatan ini adalah dengan mensimulasikan beberapa skenario yakni skenario optimis, moderat dan pesimis selama tahun 2020 hingga tahun 2030. Skenario optimis adalah dimana alokasi permintaan RDF sebesar 5% dari kebutuhan target BBA ITP, skenario moderat sebesar 3% dan skenario pesimis sebesar 1%. Hasil simulasi ketiga skenario menunjukan bahwa dengan menerapkan skenario optimis akan menghasilkan nilai ekonomi sebesar Rp. 14 milyar, skenario moderat menghasilkan Rp. 38 milyar dan pesimis menghasilkan minus sebesar Rp. 11 milyar. Dari hasil estimasi tersebut disimpulkan bahwa dengan menerapkan skenario optimis dan moderat dalam kerjasama antara Pemkot Bogor dan ITP adalah layak secara ekonomi karena meghasilkan NPV positif. Sedangkan skenario pesimis tidak direkomendasikan untuk diterapkan.
Metode Focused Group Discussion (FGD) digunakan untuk mendalami pendapat atau persepsi kedua belah pihak. Hasil FGD menyimpulkan bahwa kegiatan pemanfaatan sampah menjadi RDF merupakan cara yang tepat untuk mengurangi sampah yang akan ditimbun dan dapat menjadi solusi permasalahan sampah Kota Bogor. Namum usaha ini terkendala beberapa hal yakni birokrasi, anggaran, teknologi dan pengelaman Pemkot Bogor. Sedangkan dari pihak ITP menyatakan kendala pada kebijakan perusahaan untuk melakukan investasi di luar pabrik ITP dalam sektor usaha pengelolaan sampah karena ITP bukan perusahaan pengelolaan sampah. Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan pihak swasta ketiga sebagai investor dan operator yang bertindak sebagai pelaksana kegiatan. Dengan kondisi ini bentuk pola kerjasama yang direkomendasikan adalah dengan cara Build Operate and Transfer dalam perjanjian triparti antara Pemkot Bogor, ITP dan pihak pelaksana
Strategi Pengendalian Eceng Gondok (Eichhornia Crassipes) Di Perairan Waduk Jatiluhur
Waduk Jatiluhur sebagai salah satu waduk terbesar di Indonesia dan
multifungsi, membendung aliran Sungai Citarum di kecamatan Jatiluhur, kabupaten
Purwakarta provinsi JawaBarat.Waduk Jatiluhurmerupakan bendungan multiguna,
dengan fungsi utamanya untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan persawahan
sekitar 242.000 ha, pasokan air baku minum DKI Jakarta dan sekitarnya,
pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 187,5 MW, pengendali banjir di
Kabupaten Karawang, Bekasi dan Jakarta, pasokan air untuk industri dan untuk
budidaya perikanan darat seluas 20.000 ha, untuk pariwisata dan olahraga air. Laju
degradasi ekosistem Waduk Jatiluhur baik yang disebabkan oleh beban limbah
masukan eksternal maupun internal merupakan permasalahan utama. Degradasi
ekosistem waduk ini telah berdampak negatif baik terhadap perikanan itu sendiri
dan fungsi-fungsi lain dari waduk. Perkembangan budidaya ikan dalam keramba
jaring apung (KJA) yang melebihi daya dukung perairan waduk telah berakibat
terhadap penurunan produktivitas budidaya dan sering terjadi kematian ikan secara
massal. Permasalahan yang sering terjadi di semua ekosistem perairan di Indonesia
adalah eutrofikasi (pengkayaan nutrien), sedimentasi, dan pencemaran. Degradasi
akibat dari aktivitas KJA dan aktivitas masyarakat ini juga berdampak kepada tidak
terkendalinya pertumbuhan eceng gondok.
Eceng gondok (Eichornia crassipes) adalah jenis tumbuhan air yang
umumnya dianggap sebagai gulma. Eceng gondok mudah menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, cepat berkembang biak, dan mampu bersaing dengan kuat,
sehingga dalam waktu yang singkat akan melimpah dan memenuhi perairan.
Melimpahnya eceng gondok dapat menghambat suplai oksigen ke dasar,
menghalangi penetrasi cahaya matahari yang sangat diperlukan bagi kehidupan dan
dapat menyebabkan pendangkalan pada badan air. Usaha untuk membasmi maupun
menekan pertumbuhan eceng gondok telah dilakukan, tapi belum dapat
memberikan hasil yang memuaskan. Pengendalian sekaligus pemanfaatan gulma
air yang telah dilakukan antara lain untuk kompos, penjernih air, biogas, kertas,
media pertumbuhan jamur merang, sebagai pakan unggas dan yang terbaru sebagai
briket bahan bakar. Faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan eceng gondok
menjadi tidak terkendali adalah kandungan nutrient yang terdapat didalam suatu
perairan menjadi sumber utama eceng gondok tumbuh pesat satu batang eceng
gondok dalam waktu 52 hari mampu berkembang seluas 1 m2, atau dalam waktu 1
tahun mampu menutup area seluas 7 m2.
Pengendalian eceng gondok perlu dilakukan untuk menekan atau mengurangi
jumlah pertumbuhan eceng gondok agar perairan Waduk Jatiluhur serta eceng
gondok dapat dimanfaatkan agar bernilai ekonomis dan tidak hanya menjadi gulma
pada perairan khususnya perairan Waduk Jatiluhur. Sistem informasi geografis
(SIG) telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai bidang kajian. Analisis dengan
SIG ini selain dapat memberikan tampilan secara utuh dalam suatu kawasan, juga
pembaharuan analisis dapat dengan mudah dilakukan jika tersedianya data terkini.
ii
Hasil penelitian menunjukan luasan pertumbuhan eceng gondok periode
2013-2019 memiliki rata-rata luasan sekitar 247.47 ha, dengan luasan terendah
yaitu sekitar 157.92 ha ditahun 2014 dan luasan tertinggi yaitu sekitar 441.65
ditahun 2019. Nilai statistik tingkat kerapatan eceng gondok dengan nilai min: -
0.21, max: 0.66, mean: 0.15 dan standar deviasi: 0.18 Eceng gondok banyak
tumbuh didaerah sekitar inlet waduk, sekitar daerah KJA serta hampir diseluruh
tepian badan air waduk. Faktor aliran air masuk ke dalam waduk membawa nutrient
dan aktivitas KJA menyebabkan pertumbuhan eceng gondok sangat pesat didaerah
sekitar inlet dan KJA dariWaduk Jatiluhur.
Strategi yang didapat hasil perumusan menggunakan SWOT ialah pihak
petani KJA diharapkan mulai menerapkan sistem smart KJA yang diprakarsai oleh
pihak BP2KSDI. Perlu dilakukannya peningkatan dalam pengelolaan DAS Citarum
oleh pemerintah masing-masing daerah agar perairan Citarum yang masuk ke badan
air Waduk Jatiluhur menjadi lebih bersih. Perlu adanya lembaga yang menaungi
langsung secara keseluruhan dan memfasilitasi dalam pemanfaatan eceng gondok
agar tidak hanya menjadi gulma dalam perairan. Hal ini akan berjalan maksimal
jika seluruh stakeholder, pemerintah dan masyakarat saling bersinergi dalam
memanfaatkan dan mengelola waduk
Pengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Nilai Aktiva Bersih Reksa Dana Syariah di Indonesia (Periode 2015-2019).
Reksa dana Syariah merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat
pemodal. Pertumbuhan reksa dana syariah erat kaitannya dengan iklim investasi yaitu
makroekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan jangka pendek dan
jangka panjang, menganalisis respons terhadap guncangan, dan menganalisis komposisi
antara nilai aktiva bersih reksa dana syariah dengan variabel makroekonomi terpilih, yaitu
inflasi, jumlah uang beredar, produk domestik bruto (PDB), dan nilai tukar rupiah (kurs) di
Indonesia pada periode 2015-2019. Data bulanan selama periode 2015-2019 dianalisis
dengan menggunakan Vector Error Correction Model (VECM) yang terdiri dari uji unit
root, uji lag optimum, uji stabilitas VAR, uji kointegrasi, VECM, uji respons impuls dan
uji dekomposisi varians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inflasi, jumlah uang beredar,
dan produk domestik produk berpengaruh positif dan sinifikan terhadap nilai aktiva bersih
reksa dana syariah, sedangkan nilai tukar rupiah (kurs) berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap nilai aktiva bersih reksa dana syariah. Penelitian ini merekomendasikan
masyarakat dan pemerintah untuk saling berinteraksi secara mutualisme dalam menjaga
stabilitas nilai tukar rupiah dengan membeli produk domestik dan perlu menguatkan
koordinasi otoritas moneter dengan otoritas jasa keuangan dengan kebijakan-kebijakan
terkait
Kajian Stok Karbon Organik Mangrove di Tanjung Batu, Kecamatan Kepulauan Derawan, Berau-Kalimantan Timur
Peningkatan emisi CO2 di atmosfer akibat faktor antropogenik secara global telah terjadi sejak revolusi industri dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun hingga saat ini. Akibat peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer, maka efek gas-gas rumah kaca meningkat dan terjadi pemanasan global. Tanjung Batu-Kepulauan Derawan memiliki mangrove yang luas dan diperkirakan mampu berperan dalam upaya pengurangan CO2 di atmosfer. Mangrove berperan mengurangi emisi CO2 di atmosfer melalui proses fotosintesis dan penyimpanan karbon pada biomassa maupun sedimen. Secara umum, tujuan studi adalah mengkaji peran mangrove Tanjung Batu dalam menyimpan karbon di biomassa dan sedimen.
Penelitian dilakukan bulan Februari-November 2018. Pengambilan data di 5 titik stasiun yang mewakili komunitas mangrove tepian pantai (Stasiun 1, 2 dan 3) dan komunitas mangrove tepian sungai (Stasiun 4 dan 5). Pengukuran data mangrove meliputi perhitungan jumlah pohon, identifikasi jenis mangrove, pengukuran diameter at breast height (DBH), sedangkan pengambilan sedimen dengan menggunakan pipa stainless. Sampel sedimen yang diambil digunakan untuk pengukuran karbon organik (Metode Walcky black), stok karbon sedimen dan Pb-210 (umur dan akumulasi karbon). Pengukuran karbon organik menggunakan sampel sedimen dengan interval kedalaman 4, 6 dan 8 (pada kedalaman 0-50 cm dilakukan di Stasiun 1, 3 dan 5), sedangkan dengan interval kedalaman 5 cm (pada kedalaman 0-15 cm di Stasiun 2 dan 4). Pengukuran tekstur sedimen menggunakan sampel sedimen dengan interval 5 cm pada kedalaman 0-15 cm di semua titik stasiun. Pengukuran Pb-210 menggunakan sampel sedimen berdasarkan interval 5 cm (pada kedalaman sedimen 0-15 cm), dan interval 2 cm (pada kedalaman 48-50 cm) yang digunakan sebagai Pb-210 supported (Stasiun 1 dan 3). Stasiun 5 dipotong dengan interval 4, 6 dan 8 cm pada kedalaman 1-50 cm. Sampel mangrove digunakan untuk identifikasi struktur komunitas mangrove dan estimasi stok karbon di biomassa (above-ground biomass/AGB dan below-ground biomass/BGB) menggunakan persamaan allometrik, sedangkan sampel sedimen digunakan untuk pengukuran
Stok karbon organik di sedimen menunjukkan stok karbon terbesar dengan persentase 66.24 %, selanjutnya AGB sebesar 23.34 % dan BGB sebesar 10.41 %. Hasil stok karbon organik berkisar 173.49 – 672.65 Mg C ha-1, dengan rata-rata 378.98 Mg C ha-1. Penyimpanan stok karbon organik tersebut berasal dari pembentukan biomassa maupun pengendapan reruntuhan komponen biomassa di dalam sedimen serta berasal dari biomasa/karbon dari lokasi lain yang terperangkap. Tingginya stok karbon sedimen diduga oleh akumulasi dari keberadaan mangrove dan proses-prosesnya yang telah berlangsung pada masa lalu sampai saat ini. Rata-rata laju akumulasi karbon organik selama 20 tahun terakhir di stasiun 1, 3 dan 5 secara berurutan adalah 31.79, 28.28 dan 55.03 g C m-2 tahun-1 . Stasiun 5 yang terletak di area dekat daratan dan sungai memiliki rata-rata laju akumulasi tertinggi. Hasil studi menunjukan bahwa ekosistem mangrove sebagai karbon biru memberikan kontribusi nyata secara alami untuk penyerapan dan penyimpanan
karbon dalam bentuk material organik. Hal ini bermanfaat sebagai upaya mitigasi perubahan iklim secara global dan secara khusus di Tanjung Batu Kecamatan Kepulauan Derawan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur
Kesesuaian Lahan dan Fasilitas Galangan Kapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu.
Keberadaan galangan kapal di suatu pelabuhan perikanan sangat penting sebagai
tempat untuk melakukan perbaikan kapal. Ketersediaan lahan dan fasilitas
pendukung di galangan kapal Pelabuhan Perikanan Nnusnatara (PPN)
Palabuhanratu perlu diperhatikan untuk mendukung aktivitas sehingga dapat
berjalan secara efektif dan efisien. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi
kondisi eksisting lahan dan fasilitas serta indeks kepuasan pengguna di galangan
kapal PPN Palabuhanratu; (2) mengidentifikasi kesesuaian kebutuhan lahan dan
fasilitas galangan kapal di PPN Palabuhanratu; (3) merumuskan kebutuhan lahan
dan fasilitas galangan kapal di PPN Palabuhanratu. Metode pengumpulan data yang
digunakan adalah survey dengan menggunakan teknik wawancara (pengisian
kuesioner) dan pengukuran terhadap lahan galangan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kondisi eksisting di PPN Palabuhanratu memiliki dua galangan kapal yaitu
galangan kapal yang dikelola oleh pihak PT. Surya Agung Putra Jaya yangmemiliki
luas lahan sebesar 1833.96 m2 dan lahan kapal lainnya yang dikelola oleh pihak
pelabuhan memiliki luas lahan sebesar 1283.05 m2. Indeks kepuasan pengguna
lahan galangan kapal, fasilitas dan proses perbaikan berada pada kategori cukup
baik, baik dan sangat baik. Kesesuaian lahan dan fasilitas di galangan kapal masih
belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria galangan kapal. Hal ini menunjukkan
bahwa diperlukan kesesuaian lahan dan fasilitas yang tertuang dalam layout
galangan untuk meningkatkan proses perbaikan kapal yang lebih efektif dan efisien
serta memberikan acuan pembangunan galangan kapal di Pelabuhan Perikanan
Nusantara (PPN) Palabuhanratu untuk keamanan dan kenyamanan