Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Adaptasi Gandum (Triticum aestivum L.) Generasi F2.4 terhadap Kondisi Kekeringan di Dataran Tinggi

    No full text
    Tepung terigu diolah menjadi makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat, seperti roti, mi, pasta, dan lainnya. Konsumsi terigu nasional dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga impor gandum atau tepung terigu semakin besar. Upaya untuk memenuhi kebutuhan gandum adalah dengan dirakitnya varietas gandum yang adaptif dan berdaya hasil tinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2019 hingga Oktober 2019 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Cipanas, Kabupaten Cianjur (1,100 m dpl). Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan augmented dengan 100 galur F2.4 populasi HP/Se dan lima pembanding, yaitu Selayar, Guri 2, Guri 3, HP1744, dan VEE. Pada saat penelitian curah hujan sangat rendah sehingga terjadi kekeringan, dan akibatnya dari 5 varietas pembanding hanya 3 yang tumbuh. Keadaan tersebut mengakibatkan derajat bebas galat tidak memenuhi persyaratan untuk dilakukan uji-F menggunakan rancangan augmented. Oleh karena itu dilakukan pengelompokan adaptabilitas galur-galur terhadap kekeringan di dataran tinggi berdasarkan karakter bobot biji per tanaman. Hasil uji-t menunjukkan bahwa galur-galur antar kelompok adaptabilitas memiliki karakter agronomi dan potensi hasil yang berbeda-beda. Hanya galur F2.4 118-10 tergolong adaptif terhadap kondisi kekeringan di dataran tinggi, sedangkan yang tergolong kurang adaptif adalah galur-galur F2.4 169-17, F2.4 84-9, dan F2.4 55-15. Galur yang memiliki daya adaptasi tinggi memiliki umur berbunga terlama, jumlah anakan dan jumlah spikelet terbanyak, tetapi memiliki jumlah floret hampa yang banyak juga. Selain itu galur yang adaptif memiliki luas daun bendera, tinggi tanaman, panjang malai, jumlah biji malai utama, jumlah biji per tanaman, dan bobot biji malai utama terbesar

    Kemandirian Usaha Ekonomi Produktif : Kasus Program Kotaku dan Dompet Dhuafa di Provinsi Jawa Barat

    No full text
    Keberlanjutan dan kemandirian usaha belum tumbuh pada penerima manfaat program pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi produktif. Banyak program pemberdayaan tidak memanfaatkan dengan baik dan benar konsep-konsep pemberdayaan, kompetensi, kapasitas dan konsep-konsep perilaku lainnya. Pentingnya partisipasi penerima manfaat program, mekanisme program dan efektivitas pemberdayaan ekonomi merupakan suatu keniscayaan dalam pengembangan masyarakat. Penelitian bertujuan: 1) Menganalisis tingkat pemanfaatan dana bergulir dalam pemberdayaan penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa; 2) Menganalisis tingkat partisipasi penerima manfaat program terhadap efektivitas pemberdayaan ekonomi produktif; 3) Menganalisis efektivitas pemberdayaan dalam meningkatkan kemandirian usaha penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa; 4) Menganalisis potensi faktor-faktor pemanfaatan dana bergulir untuk kemandirian penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa; 5) Menganalisis strategi pemanfaatan dana bergulir untuk kemandirian penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa. Metode penelitian dengan menggunakan survei pada jumlah populasi sebesar 1515 orang penerima manfaat program, melalui rumus Slovin didapatkan sampel sejumlah 330 responden. Lokasi penelitian di Kota Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Pengambilan data yang digunakan melalui kuesioner. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dengan SPSS versi 24 dan analisis statistik inferensial dengan PLS versi 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan dana bergulir dalam menumbuhkembangkan kemandirian penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) Faktor karakteristik penerima manfaat yang dicirikan oleh indikator motivasi dan dukungan keluarga; 2) Faktor kondisi eksternal yang dicirikan oleh indikator dukungan komunitas, peran nilai-nilai sosial, kepemimpinan formal, kepemimpinan nonformal dan potensi pasar; 3) Faktor mekanisme program yang dicirikan oleh indikator sosialisasi program, penyaluran dana, kesepakatan pengembalian serta pemberian sanksi dan penghargaan. Dua faktor berpengaruh secara signifikan yaitu faktor kondisi lingkungan eksternal dan faktor mekanisme program, sedangkan faktor karakteristik penerima manfaat program tidak berpengaruh secara signifikan. Tingkat partisipasi penerima manfaat program berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas pemberdayaan ekonomi produktif. Indikator yang mencirikan tingkat partisipasi adalah indikator kehadiran rapat rutin, kehadiran kegiatan rutin, meningkatkan usaha, melakukan investasi dan mengembangkan kerjasama. Efektivitas pemberdayaan berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan kemandirian usaha penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa. Indikator yang mencirikan efektivitas 4 pemberdayaan adalah indikator efektivitas pemberian bantuan teknis dan efektivitas penguatan kapasitas. Potensi faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan dana bergulir untuk kemandirian penerima manfaat Program Kotaku dan Dompet Dhuafa sebagai berikut: 1) potensi faktor karakteristik penerima manfaat, dari tujuh indikator terdapat lima indikator dalam kategori sedang dan dua indikator dalam kategori rendah; 2) potensi faktor kondisi lingkungan eksternal dari enam indikator terdapat satu indikator dalam kategori tinggi, empat indikator dalam kategori sedang dan satu indikator dalam kategori rendah; 3) potensi faktor mekanisme program dari lima indikator terdapat tinga indikator dalam kategori tinggi dan dua indikator dalam kategori sedang; 4) potensi faktor partisipasi penerima manfaat program dari lima indikator terdapat dua indikator dalam kategori tinggi dan tiga indikator dalam kategori sedang; 5) potensi faktor efektivitas pemberdayaan ekonomi produktif dari dua indikator kedua-duanya dalam kategori sedang; 6) potensi faktor kemandirian dan penerima manfaat program dari ketiga indikator semuanya dalam kategori sedang. Strategi pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian usaha ekonomi produktif yaitu pertama strategi peningkatan karakteristik penerima manfaat program, kedua strategi peningkatan dukungan masyarakat dalam pemberdayaan ekonomi produktif, ketiga strategi penguatan kelembagaan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang ekonomi, dan keempat strategi kemandirian usaha penerima manfaat program. Strategi pemberdayaan masyarakat menuju kemandirian usaha ekonomi produktif yaitu melihat dari prosesnya pertama, strategi peningkatan karakteristik penerima manfaat program. Kedua, strategi peningkatan dukungan masyarakat dalam pemberdayaan ekonomi produktif. Ketiga, strategi penguatan kelembagaan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang ekonomi. Keempat, strategi kemandirian usaha penerima manfaat program

    Karakteristik Spermatozoa Banteng Jawa (Bos javanicus) Asal Epididimis dan Ejakulat

    No full text
    Banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) adalah satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Banteng masuk dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List dengan status terancam punah (endangered). Pelestarian satwa liar yang dilindungi di Indonesia salah satunya adalah melalui upaya pelestarian di lembaga konservasi eksitu yakni Taman Safari. Kunci penting suatu lembaga konservasi adalah mengembangbiakkan atau melakukan usaha reproduksi satwa yang dipelihara. Banteng jantan di beberapa lokasi konservasi sangat sedikit dibandingkan dengan betina, sehingga menyebabkan tingginya kejadian inbreeding. Kualitas jantan, termasuk kualitas semen, merupakan salah satu satu faktor keberhasilan reproduksi. Morfologi dan morfometri spermatozoa merupakan salah satu parameter kualitas semen yang penting. Aspek tetrsebut telah dikaji dari berbagai spesies, dan menunjukkan keragaman antarspesies. Morfologi dan morfometri spermatozoa juga berdampak pada beberapa hal seperti kemampuan untuk dibekukan (freezability) dan ketahanan individu terhadap suhu tinggi. Analisis morfometri spermatozoa juga telah dikaitkan dengan fertilitas, inbreeding dan studi filogenetik. Berbagai teknik pewarnaan dan pemeriksaan telah digunakan untuk pemeriksaan morfologi dan morfometri spermatozoa. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik morfologi dan morfometri spermatozoa asal epididimis dan ejakulat, serta mengkaji penggunaan masase transrektal sebagai metode koleksi ejakulat banteng. Hewan sampel berasal dari Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor. Spermatozoa asal epididimis diperoleh dari banteng yang mati secara alami, sedangkan spermatozoa asal ejakulat berasal dari satu ekor banteng berumur ± 2.4 tahun. Koleksi spermatozoa asal ejakulat dilakukan dengan metode masase transrektal (M) dan kombinasi dengan vagina buatan (MVB) dengan interval satu minggu sekali. Sampel spermatozoa dibuat preparat ulas dan diberi pewarnaan Williams, kemudian dilakukan pengamatan morfologi dan morfometri spermatozoa. Spermatozoa banteng asal epididimis telah berhasil dikoleksi dalam penelitian ini. Spermatozoa asal ejakulat juga berhasil dikoleksi dengan metode masase transrektal (M) maupun metode kombinasi masase transrektal dengan vagina buatan (MVB) dengan lama habituasi sekitar 5 bulan. Metode MVB dapat dijadikan alternatif koleksi semen banteng apabila tidak tersedia betina maupun dummy. Total spermatozoa normal asal epididimis banteng mencapai 72.05±5.11%, sedangkan asal ejakulat dengan metode M dan MVB secara berturut-turut adalah 54.30±1.74% dan 57.45±3.87%. Berbagai jenis abnormalitas kepala, ekor spermatozoa serta teratoid form teramati pada spermatozoa asal epididimis maupun ejakulat. Rentang panjang, lebar, luas kepala, serta panjang ekor spermatozoa banteng berdasarkan penelitian ini secara berturut-turut adalah 9.88±0.01-9.88±0.02 μm, 4.91±0.00-4.94±0.01 μm, 38.12±0.05-38.35±0.11 μm2 dan 60.24±0.06-60.48±0.03 μm

    Pemulihan Merkuri dari Limbah Cair Hasil Analisis Kebutuhan Oksigen Kimiawi.

    No full text
    Analisis kebutuhan oksigen kimiawi (COD) menghasilkan limbah yang asam dan mengandung merkuri. Merkuri perlu dipulihkan karena pencemarannya di perairan, khususnya metil merkuri terakumulasi dalam makhluk hidup. Penelitian ini bertujuan memulihkan merkuri dari limbah cair hasil analisis COD dan membandingkan hasil pengolahan limbah tersebut dengan baku mutu sesuai peraturan pemerintah Republik Indonesia. Limbah hasil analisis COD diolah menggunakan teknik presipitasi. Na2CO3 dipilih karena perubahan pH yang terkendali dan perubahan suhu air limbah tidak sangat meningkat, sedangkan K2S tidak dipilih karena kadar sulfidanya terlalu rendah. Pengolahan limbah menghasilkan endapan yang berisi merkuri(II) oksida dan logam oksida lainnya. Setelah diolah, kadar merkuri dalam air limbah diukur. Kadar merkuri ulangan 1 adalah 4.86 dan 2.10 ppm sedangkan ulangan 2 adalah 1.70 dan 1.61 ppm. Persen penurunan merkuri hasil pengolahan limbah sangat besar tetapi tidak ada yang memenuhi standar peraturan pemerintah, karena kadarnya masih di atas baku mutu yang sudah ditentukan

    Analisis Kepuasan Anggota terhadap Pelayanan Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia Jakarta Selatan.

    No full text
    Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahun Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan menghadapi persaingan dalam penjualan kedelai impor, terutama pada tingkat harga. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan anggota dalam pembelian kedelai pada Primkopti Jakarta Selatan. Di samping itu, hasil pra survei menunjukkan adanya perbedaan kepuasan berdasarkan skala usaha perajin. Evaluasi kepada anggota sebaiknya dilakukan untuk mendeskripsikan karakteristik anggota, mengetahui tingkat kepentingan dan persepsi kinerja pelayanan serta kepuasan. Analisis dilakukan kepada 102 anggota yang diperoleh dengan metode convenience sampling. Responden dibagi menjadi dua kategori, perajin skala kecil dan besar. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan diproses menggunakan analisis servqual, importance performance analysis dan customer satisfaction index. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan tingkat kepentingan dan persepsi kinerja serta kepuasan pada skala usaha kecil dan besar. Secara keseluruhan, kepuasan anggota terhadap pelayanan Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahun Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan berada pada kategori puas

    Desain Model Pengelolaan Distribusi Pangan di Kabupaten Halmahera Selatan.

    No full text
    Kabupaten Halmahera Selatan adalah salah satu dari sembilan kabupaten kota dalam wilayah provinsi Maluku Utara dengan jumlah pulau terbanyak. Terdapat 371 pulau di mana 40 diantaranya berpenghuni, pulau-pulau tersebut menyebar dan membentuk gugus pulau, oleh Pemerintah Halmahera Selatan kemudian membagi kesatuan wilayahnya menjadi 4 wilayah pengembangan atau gugus pulau yaitu wilayah pengembangan Pulau Bacan, wilayah pengembangan Makean Kayoa, wilayah pengembangan Gane dan wilayah pengembangan Pulau Obi. Penentuan gugus-gugus tersebut didasarkan terutama pada jarak antar pulau, titik pusat ekonomi dan tingkat aksesibilitas (ukuran kemudahan lokasi untuk dijangkau). Konsep ini belum mampu menjamin ketersediaan pangan pokok dan mengendalikan margin harga bahkan dalam satu gugus pulau. Beragam kajian menyangkut distribusi pangan telah banyak dilakukan, beragam metode digunakan untuk mencari solusi pada masalah distribusi, setiap metode memiliki masing-masing ruang lingkupnya. Sementara itu, kajian permasalahan distribusi pada wilayah kepulauan dengan sumberdaya yang terbatas dan bersifat parsial. Kajian secara spesifik, konprehensif dan terintegrasi harus dilakukan berdasarkan pada karakter kewilayahan yang spesifik yaitu kepulauan. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk merancang suatu model pengelolaan distribusi pangan berbasis kepulauan di Kabupaten Halmahera Selatan. Adapun secara khusus tujuan penelitian ini adalah 1) Mengkaji situasi terkait distribusi pangan, 2) Mengkaji sistem distribusi pangan, dan 3) Mendesain Model pengelolaan distribusi pangan. Sedangkan output dari penelitian ini yaitu terciptanya sebuah model yang dapat digunakan untuk mengatur sistem distribusi dan menjamin ketersediaan pangan dalam wilayah Kabupaten Halmahera Selatan . Pengumpulan data dilakukan dengan metode studi pustaka dan metode survai. Studi pustaka digunakan untuk mendapatkan data sekunder meliputi profil wilayah, demografi, konsumsi pangan, ketersediaan pangan/produksi, status gizi serta kebijakan dan program, sedangkan survai lapang dilakukan untuk mendapatkan data primer dan untuk verifikasi model, survai lapang dilakukan dengan observasi, wawancara dan pengisian kuisioner terhadap para pakar dan pemangku kepentingan yang berperan dalam distibusi pangan. Analisis situasi terkait distribusi pangan dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan identifikasi kondisi atau gambaran umum Kabupaten Halmahera Selatan yang mencakup kondisi fisik, ekonomi, sosial, dan demografi secara deskriptif terhadap data yang terdapat dalam Kabupaten Halmahera Selatan dalam angka. Tahapan analisis sistem menggunakan metode pendekatan sistem yang terdiri dari analisis kebutuhan, identifikasi, diagram alir sebab akibat dan black box diagram. model dirancang terdiri dari tiga submodel, yaitu submodel produksi, submodel konsumsi dan submodel distribusi. Produksi padi sawah di Kabupaten Halmahera Selatan tahun 2015 sebesar 4,381 ton yang dipanen dari areal seluas 1,165 ha atau rata-rata 3,76 ton/ha. Sedangkan produksi padi ladang sebesar 1,528 ton dengan luas panen 648 ha atau rata-rata produksi 2.36 ton/ha. Tanaman ubi kayu merupakan komoditas tanaman palawija yang memiliki nilai produksi paling besar di Kabupaten Halmahera Selatan sebesar 45,832 ton dengan luas panen 1,881 ha atau rata-rata 24.37 ton/ha. Hasil optimasi kebutuhan pangan untuk kabupaten Halmahera Selatan pada kondisi existing menunjukkan nilai konsumsi beras pada 149.01 g/kap-hari. Jika pola konsumsi pangan berubah sebagai akibat dari kebijakan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis budaya dan potensi wilayah Kabupaten Halmahera Selatan yaitu dengan menurunkan batas maksimum proporsi jumlah kalori konsumsi beras sehingga interval proporsi konsumsi menjadi 20.31-30.31%, maka akan terjadi penurunan konsumsi beras secara derastis dari 54.39 kg/kap/tahun menjadi 43.61 kg/kap/tahun. Sebaliknya jika pola konsumsi mengikuti trend komsumsi beras yang semakin meningkat seiring dengan peningkatan taraf hidup masyarakat yaitu dengan menaikkan batas maksimum proporsi jumlah kalori konsumsi beras sehingga interval proporsi konsumsi menjadi 30.31-35.31% maka akan terjadi peningkatan komsumsi beras mencapai 62.68 kg/kap/tahun. Dari 30 kecamatan di Kabupaten Halmahera Selatan, hanya Kecamatan Gane Timur dan Bacan Timur Tengah yang mengalami surplus beras. Data tersebut menunjukkan bahwa neraca produksi dan konsumsi adalah defisit, di mana estimasi produksi tahun 2020 hanya sebesar 2,677 ton sedangkan konsumsi sebesar 12,686.10 ton sehingga defisit mencapai 10,009.30 ton. Lokasi pusat distribusi untuk gugus pulau Kayoa-Makean adalah Kecamatan Kayoa. Untuk gugus pulau Bacan-Kasiruta di Kecamatan Bacan. Pusat distribusi untuk gugus pulau Obi ditetapkan di Kecamatan Obi. Pusat distribusi untuk gugus Pulau Gane ditetapkan di Kecamatan Gane Barat. Total biaya distribusi untuk Kabupaten Halmahera Selatan hasil simulasi dengan menggunakan pusat distribusi pada setiap GP yaitu dengan skenario berupa strategi menurunkan tingkat konsumsi dan meningkatkan produksi beras pada angka Rp 7.59 milyar pada tahun 2020, , sedangkan jika mengikuti pola lama yaitu dengan menggunakan jalur distribusi terpusat di Kota Labuha, total biaya distribusi beras pada tahun 2020 yaitu sebesar Rp. 10.19 milyar. Model distribusi dengan menggunakan pola GP mampu menurunkan biaya distribusi hingga 23.85% Dengan menurunkan biaya distribusi, meningkatkan kemampuan beli masyarakat demikian pula akses yang lebih mudah karena pusat distribusi berada pada gugus pulau, maka model pengelolaan distribusi pangan menggunakan GP di Kabupaten Halmahera Selatan lebih efektif dan efisien dibanding model pengelolaan distribusi pangan saat ini

    Studi Profil Bahan Tambahan Pangan dan Kesesuaian Label Kemasan pada Bumbu Instan Bubuk di Kota Bogor

    No full text
    Tingkat kesibukan yang semakin meningkat setiap harinya, menuntut masyarakat untuk membutuhkan sesuatu yang instan. Hal tersebut mempengaruhi kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan bumbu yang berubah pada produk bumbu dan rempah dalam bentuk yang instan. Produk bumbu instan terbagi menjadi dua jenis yaitu berbentuk pasta dan berbentuk kering atau bubuk. Hingga saat ini produk tersebut sudah banyak tersebar di pasaran dengan tingkat konsumsi yang cukup tinggi. Konsumen pada umumnya mengetahui komposisi yang berada dalam produk dapat dengan melihat bagian label kemasan. Informasi yang diberikan pada label pangan diatur dan harus sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Validasi harus dilakukan guna mengetahui kebenaran mengenai pemberian informasi pada label kemasan agar sesuai dengan peraturan yang ditetapkan. Hal tersebut dilakukan agar konsumen mendapatkan informasi yang benar karena membaca informasi merupakan salah satu faktor pengambilan keputusan saat akan membeli produk. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengambilan produk dilakukan di pasaran wilayah Kota Bogor dan sekitarnya dengan menentukan sampel sesuai dengan produk yang telah terdaftar dan beredar di Indonesia berdasarkan peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (PerKaBPOM) tentang kategori pangan. Data yang diperoleh dapat dianalisis menggunakan program Microsoft Excel

    Pemanfaatan Media Sosial untuk Mendukung Kegiatan Penyuluhan Pertanian di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara

    No full text
    Perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat menghasilkan banyak media komunikasi yang dapat digunakan untuk mendiseminasikan informasi. Salah satu media komunikasi yang dapat digunakan adalah media sosial. Media sosial merupakan salah satu bentuk pemanfaatan teknologi komunikasi dalam menyebarluaskan informasi pertanian. Penyuluh sebagai agen perubahan sekaligus diseminator informasi pertanian dituntut mampu memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan media sosial, menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat pemanfaatan media sosial, serta menganalisis pengelolaan informasi pertanian dan hubungannya dengan tingkat pemanfaatan media sosial oleh penyuluh pertanian. Penelitian ini didesain dengan pendekatan deskriptif korelasional menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan selama bulan Februari sampai dengan Maret 2020. Responden penelitian adalah penyuluh pertanian yang memanfaatkan media sosial dan bertugas di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, diambil secara sensus sebanyak 125 orang. Data dikumpulkan dengan observasi, mengajukan kuesioner dan teknik wawancara. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis uji korelasi rank Spearman dengan aplikasi SPSS versi 19. Tingkat pemanfaatan media sosial oleh penyuluh diukur dari frekuensi dan durasi pemanfaatan media sosial. Pemanfaatan media sosial oleh penyuluh tergolong tinggi pada media sosial Facebook dan WhatsApp yaitu lebih dari separuh penyuluh memanfaatkannya lebih dari lima kali dalam seminggu. Pemanfaatan media sosial Youtube tergolong sedang yaitu antara tiga sampai lima kali dalam seminggu. Pemanfaatan media sosial Instagram tergolong rendah yaitu kurang dari tiga kali dalam seminggu. Sebagian besar penyuluh pertanian mengakses masingmasing media sosial Facebook, Youtube, WhatsApp atau Instagram kurang dari tiga jam dalam sehari. Faktor-faktor yang memiliki hubungan nyata dengan pemanfaatan media sosial adalah karakteristik penyuluh berupa tingkat pendidikan dan ketersediaan alat teknologi komunikasi, persepsi penyuluh terhadap kemudahan mengakses informasi melalui media sosial, kebutuhan informasi penyuluh tentang iklim dan permodalan serta motivasi penyuluh dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Pengelolaan informasi oleh penyuluh pertanian berupa disimpan untuk dimanfaatkan pribadi, dibagikan ke sesama penyuluh sebagai bahan diskusi dan disebarkan ke petani sebagai materi penyuluhan. Hampir semua penyuluh mengelola informasi yang diperoleh dari media sosial untuk disebarkan kepada petani

    Bisnis Fotografi Snapcash : Platform Digital.

    No full text
    Fotografi merupakan bagian gaya hidup masyarakat saat ini. Namun hingga saat ini belum ada platform digital yang menawarkan jasa fotografi. Ide bisnis Snapcash diciptakan sebagai solusi berupa platform digital yang dapat digunakan oleh fotografer untuk mencari pekerjaan dan konsumen untuk mencari jasa fotografi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui permasalahan konsumen, menciptakan solusi yang tepat, dan merumuskan model bisnis yang sesuai untuk Snapcash. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan customer discovery. Pengumpulan data dilakukan secara non probability purposive sampling. Hasil pengujian masalah menunjukkan kesulitan fotografer dalam mendapatkan pelanggan dan kesulitan konsumen dalam menemukan fotografer yang sesuai kriteria. Solusi yang ditawarkan adalah aplikasi dan fitur yang ada didalamnya. Berdasarkan uji solusi yang dilakukan, solusi yang ditawarkan diterima oleh responden sehingga menjadi solusi bagi responden penelitian. Model bisnis Snapcash terverifikasi berdasarkan tiga aspek yaitu kesesuaian produk dengan pasar, segmen pelanggan dan cara mencapainya, serta cara perusahaan menghasilkan uang

    Kuat Tekan Beton dengan Agregat Daur Ulang sebagai Pengganti Agregat Alam pada Beton Ramah Lingkungan

    No full text
    Konsep bangunan hijau yang ramah lingkungan telah berkembang secara pesat terutama pada bidang konstruksi. Salah satu konsep bangunan hijau yang terpenting adalah penggunaan material konstruksi. Material alam seperti pasir dan batu belah merupakan material utama yang mencapai 80% dari perencanaan pembuatan beton. Pengambilan sumber daya alam yang terus-menerus untuk agregat dalam campuran beton dapat menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Pemanfaatan material daur ulang merupakan salah satu metode yang ramah lingkungan yang dapat mengurangi eksploitasi dan menjaga kelestarian sumber daya alam. Penelitian ini bertujuan untuk a). menganalisis karakteristik material limbah konstruksi sebagai pengganti agregat pada rancang campur beton ramah lingkungan; b). menganalisis pengaruh penggunaan agregat daur ulang serta penggantian agregat daur ulang bata merah terhadap karakteristik mortar beton berdasarkan nilai slump adukan beton; c). menganalisis mutu beton ramah lingkungan yang dihasilkan ditinjau dari kuat desak dan berat isi beton pada berbagai umur beton; dan d). merekomendasikan pemanfaatan beton agregat daur ulang sebagai bahan bangunan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen di laboratorium, dengan membuat tujuh jenis campuran beton dan masing-masing terdiri dari 4 benda uji. Agregat halus daur ulang bata beton (recycled paving block aggregate/ RPA) secara parsial diganti dengan agregat halus daur ulang bata merah (recycled brick aggregate/RBA) sebanyak 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% berdasarkan beratnya. Pengujian kuat tekan dilakukan pada beton berumur 3, 7, 28, 35 dan 90 hari. Analisis data dilakukan dengan uji normalitas metode lilliefors, analysis of variance (ANOVA) dan analisis statistik non parametrik wilcoxon signed rank test menggunakan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan semua campuran beton agregat daur ulang pada umur 28 hari memiliki kuat tekan yang lebih rendah dibandingkan campuran beton agregat alam. Kuat tekan beton umur 28 hari pada campuran beton dengan kode Rec B, Rec C, Rec D, Rec D, Rec E, Rec F, dan Rec G secara berurutan sebesar 16.94 MPa; 17.16 MPa; 18.22 MPa;1.,60 MPa; 15.32 MPa dan 16.89 MPa. Hasil ini menunjukkan bahwa beton agregat daur ulang cukup layak menggantikan agregat alam dengan material daur ulang. Dengan kuat tekan pada umur 28 hari lebih dari 17 MPa, campuran beton dengan kode Rec C dan Rec D masih dapat direkomendasikan penggunaannya untuk elemen struktur pada bangunan rumah tinggal, tetapi campuran beton dengan kode Rec B, Rec E, Rec F, dan Rec G hanya direkomendasikan untuk beton non-struktur misalnya sebagai dinding pemisah. Berdasarkan standar yang berlaku campuran beton dengan kode Rec C dan Rec D dapat digunakan sebagai paving block mutu B misalnya digunakan di tempat parkir. Beton agregat daur ulang dengan kode Rec B, Rec E, Rec F dan Rec G dapat digunakan sebagai paving block mutu C dan D misalnya digunakan pada area pejalan kaki dan taman

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇