31665 research outputs found
Sort by
Tingkat Literasi Media Remaja Desa dalam Pemanfaatan Media Sosial
Media komunikasi di Indonesia semakin berkembang dan informasi semakin cepat serta mudah untuk didapatkan. Di era perkembangan teknologi ini seseorang sebaiknya melek media atau memiliki literasi media yaitu mampu memanfaatkan media dengan bijak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat literasi media remaja desa pada media sosial, mengidentifikasi pemanfaatan media sosial oleh remaja desa, serta menganalisis hubungan karakteristik remaja dan faktor lingkungan dengan tingkat literasi media remaja desa pada media sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif didukung data kualitatif dengan metode survei, wawancara mendalam, dan observasi. Responden penelitian sebanyak 30 orang remaja Desa Sinarsari dengan menggunakan pengambilan sampel aksidental. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat hubungan nyata dan sangat nyata antara karakteristik remaja (indikator usia, tingkat pendidikan, dan pemahaman media sosial) dengan literasi media (indikator kemampuan menggunakan dan kemampuan komunikatif) serta hubungan sangat nyata antara faktor lingkungan (indikator ketersediaan media) dengan literasi media (indikator kemampuan menggunakan)
Model Penyediaan Air Baku Berkelanjutan di DAS Ciliman Provinsi Banten
DAS Ciliman merupakan DAS terbesar kedua dan menjadi bagian dari
Wilayah Sungai Ciliman-Cibungur, memiliki potensi Sumberdaya Air yang sangat
strategis yang salah satunya dimanfaatkan untuk mengairi Daerah Irigasi Ciliman
seluas 5.423 hektar yang merupakan salah satu lahan sawah beririgasi teknis yang
terbesar di Kabupaten Pandeglang dan penyumbang lumbung padi nasional. Selain
itu, pada DAS ini juga dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan ekonomi
khusus tanjung lesung, pembangunan bandara panimbang dan jalan tol serangpanimbang.
Mengingat pesatnya pembangunan disekitar DAS Ciliman harus
diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan airnya.
Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk merumuskan rancangan model
penyediaan air baku berkelanjutan pada DAS Ciliman, Provinsi Banten digunakan
beberapa metode analisis, salah satunya yang paling mendasar adalah analisis
neraca air yang merupakan perbandingan antara ketersediaan dan kebutuhan air di
suatu wilayah untuk melihat kapasitas sumber daya airnya. Perhitungan
ketersediaan air permukaan dilakukan pembangkitan data hujan menjadi data debit
menggunakan metode Mock dengan memperhatikan adanya titik-titik pengambilan
dengan total kebutuhan air di wilayah yang dilayaninya, dengan belum
memperhitungkan adanya optimasi pemanfaatan jika terjadi defisit air. Selanjutnya
dilakukan optimasi pemanfaatan alokasi air menggunakan metode WEAP karena
walaupun Sungai Ciliman terhitung tidak pernah kering, namun dari perhitungan
debit diketahui adanya 3 (tiga) bulan yang mengalami defisit air di musim kemarau
yaitu Juli, Agustus dan September, sehingga tidak semua kebutuhan yang beragam
pada DAS Ciliman dapat terpenuhi. WEAP ini menghasilkan rekomendasi berupa
pengembangan prasarana bendungan dengan 3 (tiga) alternatif bendungan dengan
kapasitas tampungan dan ketinggian yang berbeda untuk memenuhi berbagai
kepentingan, dan diharapkan dengan adanya pembangunan bendungan ini dapat
lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan.
Perhitungan neraca air dan alokasi air menggunakan metode WEAP
walaupun secara matematis dapat memprediksi terpenuhinya pemenuhan
penyediaan air baku, namun tidak dapat memprediksi keberlanjutan multidimensi
pada DAS Ciliman. Karena itu, dilakukan analisis MDS menggunakan rapfish
modifikasi untuk mengetahui keberlanjutan multi dimensi dari aspek
ekologi/lingkungan, sosial, ekonomi, kelembagaan serta infrastruktur. Diperoleh
hasil bahwa indeks keberlanjutan DAS Ciliman dikategorikan kurang berkelanjutan
dengan nilai indeks 45,78% sehingga dilakukan pemodelan terhadap aspek yang
dikategorikan kurang berkelanjutan, menggunakan metode sistem dinamik untuk
melihat kecenderungan terhadap perilaku sistem dimasa yang akan datang
Strategi Pengelolaan Hutan Wisata Mangrove Berkelanjutan di Desa Karangsong Kabupaten Indramayu
Desa Karangsong merupakan kawasan wisata yang prospektif dan potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah kawasan wisata unggulan atau kawasan ekonomi khusus pariwisata, dan akan mampu menjadi kawasan wisata berskala nasional maupun internasional. Kawasan mangrove Karangsong memiliki beberapa potensi daya tarik wisata, yang bisa dikembangkan dan dinikmati sebagai atraksi wisata. Potensi tersebut juga merupakan salah satu daya ungkit peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berdasarkan hal tersebut, maka konsep strategi pengelolan kawasan hutan wisata mangrove menjadi faktor yang penting dalam pengembangan kegiatan wisata. Diharapkan dapat melibatkan masyarakat untuk menjaga dan memelihara kelestarian hutan mangrove yang berkelanjutan.
Peneltian ini bertujuan: (1) Memetakan kondisi eksisting biofisik dan sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan wisata mangrove di Desa Karangsong; (2) Mengetahui potensi atraksi hutan wisata mangrove di Desa Karangsong; (3) Menghitung daya dukung kawasan dan daya dukung setiap potensi atraksi hutan wisata mangrove di Desa Karangsong; (4) Menyusun strategi pengelolaan hutan wisata mangrove di Desa Karangsong. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober – November 2019 di hutan wisata mangrove Karangsong, dengan menggunakan metode survei dan analisis Strength-Weakness-Opportunity-Threats (SWOT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting biofisik hutan wisata mangrove Karangsong berdasarkan kajian yang telah dilakukan adalah mangrove Karangsong memiliki 5 jenis mangrove, yang didominasi oleh famili Rhizophoraceae dan Avicenniaceae, dan termasuk memiliki golongan diversitas fauna yang cukup tinggi. Tingkat partisipasi dan persepsi masyarakat sangat mendukung dalam kegiatan hutan wisata mangrove Karangsong. Potensi Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) layak untuk dikembangkan dengan nilai klasifikasi yang tinggi dengan jumlah sebesar 6565. Kondisi daya dukung untuk masing-masing kegiatan wisata adalah: untuk kegiatan pendidikan dan penelitian 35.127 orang/tahun, kegiatan berperahu 11.332 orang/tahun, kegiatan rekreasi santai menikmati alam terbuka 51.574 orang/tahun, dan kegiatan photo hunting 40.801 orang/tahun. Berdasarkan perhitungan SWOT, hasil penyusunan strategi diperoleh 3 prioritas strategi dari strategi SO yaitu: (I) Meningkatkan pengembangan potensi yang dimiliki hutan mangrove Karangsong. (II) Melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan ekowisata, sehingga masyarakat bisa berinteraksi langsung dengan pengunjung dan dapat meningkatkan kesejahteraannya. (III) Memberikan edukasi kepada wisatawan agar tetap peduli dengan lingkungan
Analisis Manfaat Taman bagi Kesehatan Pengguna Taman di DKI Jakarta
Perkembangan kawasan perkotaan di Indonesia yang semakin pesat dapat
dilihat dari banyak dan pesatnya pembangunan infrastruktur kota. Pembangunan
ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara ekonomi,
namun demikian harus tetap selaras dengan aspek kesehatan (fisik, psikologis, dan
sosial). Agar kota tetap berkelanjutan perlu penyeimbangan pembangunan
ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan, antara lain dengan peningkatan kualitas
lingkungan dan menghadirkan lingkungan alam di wilayah perkotaan. Salah satu
lingkungan alam di wilayah perkotaan yaitu taman kota. Taman kota memiliki
banyak manfaat, selain secara ekologis, juga dapat meningkatkan nilai kesehatan
masyarakat. Penelitian mengenai manfaat taman kota dalam membantu mengatasi
permasalahan kesehatan masyarakat masih jarang dilakukan di Indonesia,
sehingga dilakukan kajian mengenai manfaat taman kota berdasarkan aspek
kesehatan di DKI Jakarta.
Penelitian dilakukan di 10 taman kota yang tersebar di 5 wilayah DKI
jakarta. Survei dilakukan melalui 2 cara yaitu survei lapang pada 10 taman kota di
DKI Jakarta dan survei online yang disebarkan menggunakan software google
form dan ditujukan pada masyarat secara umum (tidak dikhususkan pada
masyarakat DKI Jakarta). Pemilihan sampel penelitian untuk responden pada
survei lapang menggunakan teknik purposive sampling. Pemilihan responden
dilakukan secara acak di masing-masing lokasi survei pada weekend dan non
working hours. Jumlah responden yang diambil yakni 30 orang per taman.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis statistik deskriptif,
analisis korelasi spearman, analisis kuadran (Importance Performance Analysis),
dan analisis komponen utama (Principal Component Analysis).
Manfaat yang paling dirasakan responden pada survei lapang dan survei
online ialah manfaat psikologis daripada manfaat fisik dan sosial. Manfaat
psikologis yang dimaksud ialah dapat menenangkan pikiran dan mengurangi
stress. Manfaat psikologis paling dirasakan oleh pengunjung di Taman Wijaya
Kusuma. Sedangkan, manfaat fisik ialah manfaat yang paling kecil dirasakan oleh
sebagian besar pengunjung taman kecuali Taman Jogging dan Taman Menteng.
Selain manfaat fisik, Taman Menteng juga dapat memberikan manfaat sosial yang
lebih besar dari taman lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi manfaat taman
antara lain fasilitas eksisting taman, tingkat kepuasan pengunjung, persepsi
pengunjung, dan frekuensi kunjungan. Berdasarkan analisis komponen utama,
dibentuk 3 faktor yang dapat mempengaruhi manfaat taman yaitu faktor persepsi
dan preferensi pengunjung, faktor pola kunjungan, dan faktor frekuensi kunjungan
Pergantian Cacing Sutra dengan Pakan Buatan yang Ditambahkan Nukleotida terhadap Struktur Usus dan Pertumbuhan Larva Ikan Lele Clarias gariepinus.
Nukleotida merupakan bagian penting dari materi genetik DNA dan RNA. Nukleotida mampu menjadi penghubung dalam proses sintesis protein dan berperan penting dalam hal regulasi fungsi fisiologis, struktur seluler, energi, dan metabolisme. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penambahan nukleotida pada pakan sidat terhadap sruktur usu dan pertumbuhan larva ikan lele Clarias gariepinus. Penelitian ini menggunakan empat perlakuan dan tiga kali ulangan yaitu perlakuan pakan cacing sutra serta pakan buatan dengan dosis nukleotida 0,0%; 0,5%; dan 1,0%. Ikan yang digunakan memiliki ukuran panjang rata-rata 0,67±0,05 cm dengan bobot rata-rata 0,002±0,0005 g. Frekuensi pemberian pakan pada ikan uji sebanyak empat kali sehari (09.00, 13.00, 17.00, dan 21.00 WIB) dengan metode at satiation selama 12 hari pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan penambahan nukleotida dosis 0,5% dalam pakan secara signifikan memberikan pengaruh terhadap bobot individu, pertambahan panjang individu akhir, dan rasio konversi pakan. Perlakuan cacing sutra yang diberikan pada larva ikan lele secara signifikan memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi pakan, tingkat kelangsungan hidup dan rasio efisiensi protein. Distribusi ukuran panen pada perlakuan cacing sutra lebih seragam dengan nilai sebesar 92,18% pada ukuran 2-3 cm. Lebar basal dan lebar apikal vili tidak menunjukkan perbedaan nyata secara signifikan antar perlakuan, sedangkan parameter tinggi vili dan luas permukaan usus larva ikan lele pada nukleotida dosis 0,5% menunjukkan perbedaan yang secara signifikan (p<0,05) antar perlakuan. Penambahan nukleotida sebesar 0,5% dalam pakan dapat menggantikan pakan cacing sutra untuk meningkatkan struktur usus dan kinerja pertumbuhan larva ikan lele
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Wakif untuk Berwakaf Uang di Kabupaten Purworejo.
Wakaf uang merupakan bentuk inovasi wakaf yang lebih fleksibel dalam pengelolaan karena dapat diinvestasikan ke sektor riil maupun sektor keuangan. Wakaf uang memiliki peranan penting yaitu sebagai multiplier effect di dalam perekonomian. Potensi wakaf uang di Kabupaten Purworejo sangat besar. Akan tetapi, potensi tersebut belum dapat terealisasi. Rendahnya penghimpunan wakaf uang yang belum mencapai potensi dipengaruhi oleh faktor masyarakat khususnya wakif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganilisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan wakif untuk berwakaf uang di Kabupaten Purworejo. Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 60 orang. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan wakif untuk berwakaf uang dipengaruhi oleh pendapatan dan pengetahuan tentang wakaf uang serta usia
Deteksi Penurunan Permukaan Tanah Menggunakan Citra Sentinel-1A di Pantai Utara Provinsi DKI Jakarta dan Sekitarnya
Permukaan tanah di Provinsi DKI Jakarta diduga mengalami penurunan relatif secara terus-menerus yang diakibatkan oleh proses alami maupun aktivitas buatan manusia. Faktor yang mempengaruhi penurunan permukaan tanah, antara lain kenaikan permukaan laut, pembangunan infrastruktur, transport sedimen, serta pemanfaatan sumber air tanah yang berlebihan. Tujuan penelitian ini untuk memetakan laju penurunan permukaan tanah yang diolah dari citra satelit radar Sentinel 1-A dengan metode Differential Synthetic Aperture Radar (DInSAR) di DKI Jakarta. Data yang digunakan adalah dua pasang citra Sentinel-1A level 1 Single Looking Complex (SLC) yang diakuisisi pada tahun 2019 dan 2020. Proses pengolahan citra dilakukan dengan teknik filtering dan multilooking pada citra Synthetic Aperture Radar (SAR). Prosedur selanjutnya mengubah phase unwrapping menjadi phase ketinggian tanah menggunakan phase to displacement. Penurunan permukaan tanah DKI Jakarta tahun 2019 – 2020 dari pengolahan DInSAR memiliki interval 1.8 cm sampai dengan -10.7 cm/tahun. Dari tahun 2019 hingga tahun 2020 rata-rata penurunan permukaan tanah di wilayah Kota Jakarta Utara sekitar –4.9 cm/tahun, Jakarta Timur sekitar –2.5 cm/tahun, Jakarta Barat sekitar –4.8 cm/tahun, Jakarta Pusat sekitar –3.1 cm/tahun, dan Jakarta Selatan sekitar –2.8 cm/tahun. Penurunan permukaan tanah banyak terjadi di daerah pesisir dan dekat muara disebabkan akibat dari sifat material endapan aluvial. Penurunan permukaan tanah ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan di wilayah Provinsi DKI Jakarta seperti di Pantai Mutiara, Cengkareng Barat, dan Pademangan. Berdasarkan penelitian ini dapat diperlihatkan dari citra satelit Sentinel-1A telah terjadi penurunan permukaan tanah di Provinsi DKI Jakarta. Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang tepat untuk menangani kasus penurunan permukaan tanah di DKI Jakarta. Pemetaan penurunan permukaan tanah merupakan salah satu faktor untuk mengetahui kerentanan wilayah pesisir terhadap bencana
Penentuan Koefisien Tekanan untuk Perancangan Rumah Tanaman Tipe Modified Standard Peak.
Rumah tanaman merupakan suatu bangunan pertanian yang digunakan untuk
mengendalikan lingkungan pertumbuhan bagi tanaman.. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menentukan nilai koefisien tekanan pada rumah tanaman tipe modified
standard peak menggunakan wind tunnel experiment system dan menentukan besar
beban angin maksimal pada rumah tanaman tipe modified standard peak untuk
beberapa lokasi di Indonesia. Model rumah tanaman terbuat dari rangka besi
dengan penutup atap menggunakan plastik UV, bagian dinding dan ventilasi atap
menggunakan screen ukuran 500 mesh. Nilai koefisien tekanan didapatkan dengan
melakukan pengujian pada rumah tanaman di wind tunnel. Nilai koefisien tekanan
yang didapatkan adalah ventilasi dinding pada windward 0.42, ventilasi atap pada
windward 0.55, ventilasi dinding pada leeward -0.4, ventilasi atap pada leeward -
0.44, dinding samping leeward kanan -0.5 dan dinding samping leeward kiri -0.53.
Nilai ini menunjukkan ventilasi atap pada windward berperan sebagai inlet untuk
rumah tanaman. Koefisien tekanan mempengaruhi beban angin yang dapat diterima
oleh rumah tanaman. Beban angin pada rumah tanaman disetiap lokasi berbedabeda
hal ini dipengaruhi oleh besar kecepatan angin yang terjadi pada lokasi
tersebut dan arah sudut datangnya angin. Lokasi yang digunakan pada penelitian
ini adalah Berastagi, Bogor, Bandung, Malang dan Rinjani. Nilai beban angin
maksimum yang didapatkan pada rumah tanaman di beberapa lokasi tersebut
berturut-turut adalah 320.65 N, 169.60 N, 858.60 N, 350.46 N, dan 1341.56 N
Status Kesehatan dan Kinerja Produksi Ikan Kerapu Cantang yang Diberi Pakan dengan Penambahan Tepung Meniran dan Bawang Putih Di Keramba Jaring Apung
Ikan kerapu cantang merupakan salah satu ikan hasil hibrida dari ikan kerapu macan dan kerapu kertang. Kegiatan pendederan dan pembesaran ikan kerapu cantang banyak dilakukan pada keramba jaring apung, kondisi lingkungan tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Untuk menjaga kesehatan ikan telah banyak digunakan fitofarmaka, dan diharapkan penggunaan herbal tersebut dapat efektif diterapkan pada ikan kerapu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penambahan tepung meniran-bawang putih melalui pakan terhadap status kesehatan dan kinerja produksi ikan kerapu cantang di keramba jaring apung. Ukuran awal ikan kerapu cantang rata-rata panjang 8,27±0,16 cm dan bobot 10,89±0,83 g dengan perlakuan penambahan tepung meniran dan bawang putih 20 dan 25 g/kg pakan selama 7 hari, 14 hari, dan tidak diberi tepung meniran dan bawang putih pada kontrol. Penelitian dilakukan selama 42 hari dan di sampling darah setiap 2 minggu. Penambahan tepung meniran dan bawang putih selama 14 hari pada pakan ikan kerapu dapat meningkatkan status kesehatan dan kinerja pertumbuhan
Arahan Rencana dan Strategi Pengembangan Komoditas Unggulan Di Kota Terpadu Mandiri (KTM) Cahaya Baru, Kalimantan Selatan
Kota Terpadu Mandiri (KTM) merupakan program prioritas nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, salah satunya adalah KTM Cahaya Baru yang terletak di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. KTM Cahaya Baru menghasilkan produktivitas padi 4,5 ton/ha, jagung 4,7 ton/ha dan produksi jeruk yang mencapai 74.682 ton. Hal ini mampu meningkatan PDRB di Kabupaten Barito Kuala hingga 28,53%, namun tingginya hasil produktivitas pertanian di KTM Cahaya Baru belum mampu memenuhi permintaan produksi dari daerah-daerah sekitar.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengidentifikasi komoditas unggulan di KTM Cahaya Baru (2) Mengidentifikasi lahan yang berpotensi untuk pengembangan komoditas unggulan di KTM Cahaya Baru (3) Menganalisis tingkat perkembangan wilayah di KTM Cahaya Baru (4) Merumuskan arahan rencana dan strategi pengembangan KTM Cahaya Baru. Metode yang digunakan untuk menentukan komoditas unggulan adalah Location Quotient (LQ) dan Differential Shift (DS). Lahan berpotensi pengembangan komoditas unggulan dengan analisis ketersediaan lahan dan kesesuaian lahan. Tingkat perkembangan wilayah dianalisis menggunakan metode skalogram. Arahan rencana pengembangan komoditas unggulan didasarkan atas tingkat perkembangan wilayah terendah (hirarki III). Strategi pengembangan komoditas unggulan ditentukan dengan menggunakan metode A’WOT.
Hasil penelitian menunjukkan komoditas unggulan KTM Cahaya Baru adalah Padi, Jagung, Tomat, Terong, Jeruk, Rambutan, dan Mangga. Penetapan komoditas unggulan berdasarkan hasil LQ dan SSA. Dari hasil analisis ketersediaan dan kesesuaian lahan hanya tanaman padi, jagung, dan jeruk yang memiliki lahan berpotensi pengembangan. Sebagian besar tingkat perkembangan wilayah di KTM Cahaya Baru berada padi hirarki III dan II, dan hanya kecamatan Mandastana yang berada di hirarki I. Arahan pengembangan komoditas unggulan direncanakan pada lahan berpotensi pengembangan seluas 4.705 ha dengan komoditas unggulan padi, jagung, dan jeruk. Prioritas rencana pengembangan diutamakan di kecamatan Cerbon dengan komoditas unggulan jagung seluas 1.114 ha (23,68%). Prioritas kedua di Barambai seluas 499 ha (10,61%), Belawang seluas 451 ha (9,59%), Jejangkit 350 ha (7,44%), dan Rantau Badauh 1.711 ha (36,37%). Prioritas pengembangan ketiga ada di kecamatan Marabahan 106 ha (2,25%) dan Mandastan 473 ha (10,06%). Strategi pengembangan komoditas unggulan berdasarkan analisis A’WOT ada delapan dan diprioritaskan tiga strategi utama yang dapat diterapkan di KTM Cahaya Baru