31665 research outputs found
Sort by
Pengaruh Perilaku Kewirausahaan terhadap Kinerja Usaha di Sentra Industri Tempe Semanan, Jakarta Barat
Kewirausahaan berkaitan erat dengan pengembangan Usaha Kecil Menengah
(UKM), termasuk UKM pengolahan kedelai menjadi tempe. Kemampuan bertahan
pelaku usaha tempe hingga saat ini tidak terlepas dari jiwa kewirausahaan yang
dimiliki yang dicerminkan oleh perilaku kewirausahaan. Penelitian ini dilakukan
untuk menganalisis pengaruh perilaku kewirausahaan terhadap kinerja usaha di
sentra industri tempe Semanan, Jakarta Barat. Alat analisis yang digunakan adalah
SEM-PLS dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil
analisis menunjukkan bahwa perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor
lingkungan yang direfleksikan dengan atribut ketersediaan bahan baku, koperasi,
dan dukungan pemerintah. Perilaku kewirausahaan mampu mempengaruhi kinerja
usaha secara positif dan signifikan yang direfleksikan oleh atribut inovatif, tekun
berusaha, dan bersikap mandiri
Keterkaitan Sebaran Suhu dengan Stok Ikan Layang Decapterus russeli (Ruppell, 1830) dan Ikan Selar Kuning Selaroides leptolepis (Cuvier, 1833) di Perairan Selat Sunda.
Perairan Selat Sunda memiliki sumberdaya ikan pelagis yang beranekaragam dan memiliki kelimpahan yang cukup tinggi. Ikan layang (Decapterus russelli) dan Ikan selar kuning (Selaroides leptolepi) merupakan ikan komunitas perikanan pelagis kecil yang penting di Indonesia.Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan hubungan konsentrasi suhu permukaan laut terhadap hasil tangkapan ikan pelagis di Perairan Selat Sunda. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Pengambilan contoh ikan data primer menggunakan metode penarikan contoh acak sederhana (PCAS) dan data sekunder menggunakan aplikasi SeaDAS versi 7.5.3 for windows dan ArcGis 10.4 untuk menvisualisikan sebaran suhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan layang memiliki pola pertumbuhan alometrik positif dan ikan selar kuning alometrik negatif. Perairan Selat Sunda pada Musim Barat dan Peralihan I menunjukkan nilai rata-rata sebaran suhu 26,69-33,42°C, sedangkan pada Musim Timur dan Peralihan II menunjukkan nilai rata-rata sebaran suhu 23,33-33,51°C. Hasil dari hubungan suhu permukaan laut terhadap hasil tangkapan (CPUE) menunjukkan hubungan tidak erat dengan nilai determinasi R2 sangat kecil yaitu 0,2831 dan pada ikan layang sebesar 0,4666 di pengaruhi beberapa faktor antara lain salinitas, klorofil- a, kelimpahan makanan dan arus laut
Evaluasi Tingkat Kesehatan Tegakan Jati (Tectona grandis F.) Pasca Kebakaran Berulang Di BKPH Dander, KPH Bojonegoro, Jawa Timur
BKPH Dander merupakan salah satu bagian dari KPH Bojonegoro yang
memiliki hutan tanaman Jati (Tectona grandis) dengan luasan 1370 ha. Jati
merupakan salah satu jenis pohon kehutanan yang memiliki nilai ekonomi yang
sangat tinggi namun sering terjadi kebakaran hutan jati dengan berbagai sebab.
Kebakaran hutan yang terjadi dalam satu tahun terakhir ini (2018) sebanyak 4 – 5
kali pada musim kering (April-Oktober). Kebakaran yang terjadi dapat menurunkan
kualitas tegakan atau kayu sehingga dapat menurunkan nilai ekonominya.
Kebakaran berulang mengakibatkan beberapa kerusakan pada pohon yang
berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas produktivitas, kualitas tapak, dan
vitalitas sehingga hutan menjadi tidak sehat. Hutan dikatakan sehat jika hutan masih
dapat memenuhi fungsinya sebagaimana fungsi yang ditetapkan. Oleh karena itu
perlu diukur status kesehatan hutan pasca kebakaran berulang dengan
menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Indikator yang digunakan
dalam metode FHM adalah produktivitas (LBDS), kualitas tapak (pH dan KTK),
dan vitalitas (kondisi tajuk dan kerusakan pohon). Klaster plot dibangun dengan
menggunakan desain klaster plot FHM pada areal terbakar berulang, tidak terbakar,
dan berada pada tegakan berumur 9 tahun (petak 22b), 8 tahun (petak 22b1), 5 tahun
(petak 13d), dan 4 tahun (petak 15) dengan setiap petak dibuat dua klaster plot FHM
sehingga terdapat 8 klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LBDS pada areal
tidak terbakar lebih besar dibandingkan LBDS pada areal terbakar. Kerusakan yang
mendominasi pada areal terbakar dan tidak terbakar adalah kerusakan pada bagian
tajuk (vitalitas) yang disebabkan oleh hama ulat dan sarang rayap pasca kebakaran,
sedangkan kerusakan lainnya yang ditemukan adalah liana dan cabang patah atau
mati. Dampak kebakaran terhadap kualitas tegakan dan kematian pohon masih
sangat kecil karena api kebakaran hutan termasuk api permukaan. Dampak
kebakaran hutan terhadap kualitas tapak termasuk tinggi hingga sangat tinggi. Hasil
akhir nilai kesehatan hutan pada semua klaster plot areal terbakar dengan kategori
sehat hingga sangat sehat dengan masing masing skor akhir 26-31, sedangkan areal
tidak terbakar dengan status kesehatan sangat sehat atau ideal dengan skor akhir 32
Hubungan Status Gizi dan Aktivitas Fisik dengan Tingkat Kebugaran Jasmani Remaja Perempuan di SMA Negeri 9 Palembang
Hasil penelitian Tim pengembang Sport Development Index pada tahun 2007 meneliti kebugaran jasmani pelajar SD, SMP dan SMA di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa kebugaran remaja sebagian besar berada pada kondisi sedang 37.66%, kondisi kurang 45.97%, kondisi kurang sekali 10.71%, kondisi baik 5.66%, dan kondisi baik sekali sebanyak 0%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi dan aktivitas fisik dengan kebugaran jasmani di SMA Negeri 9 Palembang. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan subjek berjumlah 100 orang. Pengumpulan data kebugaran jasmani melalui rangkaian Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI). Status gizi subjek ditentukan menggunakan indeks IMT/U. Data aktivitas fisik subjek diperoleh dari recall aktivitas fisik di hari sekolah dan hari libur. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p<0.05) antara aktivitas subjek di hari sekolah dengan tingkat kebugaran jasmani. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi aktivitas fisik subjek di sekolah maka semakin baik tingkat kebugaran jasmaninya
Identifikasi Grup Filogenetik dan Gen Virulen, serta Resistansi Antibiotik Karbapenem pada isolat Escherichia coli Resistan Kolistin di Bogor, Jawa Barat.
Kontaminasi Escherichia coli patogen di sepanjang rantai suplai ayam
pedaging telah menjadi perhatian serius bagi kesehatan masyarakat. Infeksi E. coli
patogen yang bersifat multiresistan terhadap antibiotik dapat menyebabkan
kegagalan pengobatan. Beberapa studi telah membuktikan bahwa avian pathogenic
E. coli (APEC) dan extraintestinal pathogenic E. coli (ExPEC) pada manusia
menunjukkan adanya kemiripan genetik, terutama pada gen virulennya. Tujuan
penelitian ini adalah melakukan identifikasi grup filogenetik dan gen virulen, serta
menguji resistansi antibiotik karbapenem pada isolat arsip E. coli resistan kolistin
yang berasal dari rantai suplai ayam pedaging di Bogor, Jawa Barat.
Limapuluh delapan isolat dikarakterisasi menggunakan metode polymerase
chain reaction (PCR) untuk menentukan grup filogenetiknya (A, B1, B2, atau D)
dan mendeteksi profil gen virulennya menggunakan marker genetik APEC (iutA,
hlyF, iss, iroN, dan ompT). Pengujian resistansi terhadap antibiotik karbapenem
dilakukan dengan metode disk diffusion. Deteksi karbapenemase dilakukan dengan
metode modified carbapenem inactivation method (mCIM) dan EDTA carbapenem
inactivation method (eCIM), selanjutnya deteksi gen penyandi resistansi blaNDM
dan blaKPC menggunakan metode PCR.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat E. coli arsip yang termasuk dalam
grup filogenetik A adalah 34.48%, D 34.48%, B1 17.24% dan B2 13.79%. Deteksi
gen virulen menunjukkan adanya ekspresi gen iutA (36%), hlyF (21%), ompT
(21%), iroN (10%) dan iss (9%). Grup filogenetik B2 menunjukkan adanya
kombinasi gen virulen lebih banyak. Gen virulen iroN, hlyF dan ompT mempunyai
asosiasi positif dengan grup filogenetik B2 (P ≤ 0.05). Pengujian resistansi terhadap
antibiotik golongan karbapenem menunjukkan 10.34% (6/58) isolat resistan dan
22.41% (13/58) intermediate terhadap imipenem, serta keseluruhan isolat sensitif
terhadap meropenem. Hasil deteksi karbapenemase menunjukkan isolat resistan
dan intermediate terhadap antibiotik imipenem termasuk dalam serin
karbapenemase. Tidak ditemukan adanya ekspresi gen penyandi karbapenemase
blaKPC dan blaNDM pada isolat resistan dan intermediate tersebut. Keberadaan isolat
E. coli patogen yang memiliki gen virulen marka APEC yang berada dalam
plasmidnya, membuktikan bahwa rantai suplai daging ayam berpotensi sebagai
reservoir gen virulen ExPEC pada manusia. Ditemukannya isolat yang resistan
terhadap kolistin dan imipenem merupakan alarm yang penting bagi kesehatan
masyarakat dan hewan
Komunitas Rangkong dan Habitatnya di Lanskap Perkebunan Kelapa Sawit Desa Labangka dan Desa Api-Api, Kabupaten Penajam Paser Utara
Lanskap perkebunan kelapa sawit di Kalimantan yang merupakan salah satu
wilayah human dominated landscape, masih memiliki habitat alami yang berpotensi
sebagai rumah bagi komunitas rangkong. Oleh karena itu diperlukan penelitian dasar
untuk mengetahui struktur komunitas rangkong dan habitatnya. Penelitian ini
bertujuan mengidentifikasi parameter populasi setiap spesies rangkong, menganalisis
kelimpahan pada komunitas rangkong, dan menganalisis habitat rangkong di Lanskap
Perkebunan Kelapa Sawit Desa Labangka dan Desa Api-Api, Kabupaten Penajam
Paser Utara. Rangkong yang ditemukan sebanyak 7 spesies. Kangkareng perut putih
menjadi spesies dengan jumlah individu dugaan terbanyak yakni 22 individu, nilai
kepadatan tertinggi dengan nilai 1.54 individu/km2, dan kelimpahan tertinggi dengan
nilai 2.02 individu/100 jam. Tidak terlihat adanya pengusiran untuk menguasai buah
pada saat makan di waktu dan pohon yang sama. Terdapat 28 spesies dari 5 famili
tumbuhan yang merupakan pakan potensial dan 7 spesies dari 4 famili tumbuhan yang
berpotensi sebagai pohon sarang bagi rangkong
Evaluasi Kualitas Fisik Dedak Padi Lokal di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Dedak padi adalah produk samping dari padi yang dapat digunakan sebagai bahan pakan unggas dan ruminansia. Dedak padi memiliki kualitas yang berbeda sesuai dengan daerah produksinya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas dedak padi secara fisik dan pendugaan komposisi kimia di Kabupaten Cirebon. Uji fisik terdiri atas kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, dan berat jenis, sedangkan pendugaan kimia terdiri dari protein kasar dan serat kasar. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 10 perlakuan dan 4 ulangan. Uji fisik dianalisis dengan ANOVA, kemudian dilanjutkan dengan uji duncan jika terdapat hasil yang berbeda nyata (P<0.01). Kualitas kimia digunakan pendugaan kolerasi antara KT atau KPT dengan protein kasar dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan nilai berat jenis, kerapatan tumpukan, dan kerapatan pemadatan tumpukan sangat berbeda nyata (P <0.01). Dedak padi desa Kudukeras memiliki kualitas tertinggi sedangkan dedak padi desa Suranenggala memiliki kuaitas terendah. Dedak padi penelitian ini termasuk dalam kategori mutu II dan III SNI
Inhibisi Ekstrak Tunggal Daun Tempuyung (Sonchus arvensis) terhadap Aktivitas Enzim Pengonversi Angiotensin secara in Vitro.
Tempuyung (Sonchus arvensis) merupakan tanaman yang banyak digunakan dalam mengobati berbagai penyakit, berkhasiat sebagai diuretik, antiinflamasi, dan antihipertensi. Salah satu mekanisme pengobatan hipertensi adalah dengan menghambat pembentukan Enzim Pengonversi Angiotensin (ACE). Tujuan penelitian ini adalah menguji daya inhibisi ekstrak tunggal, lapisan polar BuOH, semipolar CH2Cl2, dan lapisan nonpolar n-heksana dari sampel daun tempuyung terhadap aktivitas ACE serta membandingkannya dengan obat sintesis (kaptopril). Sampel daun tempuyung diperkolasi menggunakan air, selanjutnya dipartisi, dan diperoleh tiga lapisan. Lapisan BuOH yang bersifat polar menghasilkan persentase inhibisi tertinggi yaitu 45%, diikuti lapisan CH2Cl2 dengan persentase inhibisi 42%, dan lapisan n-heksana menghasilkan persentase inhibisi 39%, serta persentase inhibisi kaptopril yaitu 48%. Lapisan BuOH berpotensi dikembangkan untuk obat antihipertensi melalui mekanisme penghambatan ACE, diindikasikan dengan daya inhibisi yang mendekati daya inhibisi kaptopril
Pengelolaan Perikanan Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus, 1758) dengan Pendekatan Ekosistem
Rajungan merupakan salah satu komoditas utama perikanan di Kabupaten
Pangkajene dan Kepulauan. Data produksi tertinggi mencapai 2041.8 ton pada
tahun 2017. Produksi rajungan tersebut berasal dari kegiatan penangkapan
rajungan yang tidak terkontrol, diantaranya nelayan menangkap rajungan dengan
lebar karapas kurang dari 10 cm serta rajungan bertelur yang telah diatur di dalam
PERMEN-KP Nomor 56 Tahun 2016. Melihat fenomena pemanfaatan rajungan
yang semakin meningkat tersebut, maka diperlukan kebijakan pengelolaan yang
memperhatikan potensi lestari rajungan agar tidak terjadi degradasi berlebihan
dari populasinya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi biologi, menilai status
pengelolaan dan memberikan rekomendasi pengelolaan berdasarkan faktor-faktor
yang mempengaruhi kondisi perikanan rajungan yang berkelanjutan di pesisir
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
November 2018 sampai April 2019 dengan menggunakan metode observasi dan
wawancara mendalam terhadap responden secara purposive sampling melalui
pendekatan kuesioner. Analisis status pengelolaan perikanan rajungan di perairan
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dilakukan melalui pendekatan indikator
Ecosystem Approach for Fisheries Management (EAFM). Kemudian rekomendasi
pengelolaan perikanan rajungan berkelanjutan dilakukan melalui pendekatan
keputusan taktis (tactical decision).
Kondisi biologi rajungan di pesisir Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
diindikasikan telah mencapai kondisi pemanfaatan berlebih (over exploited).
Status pengelolaan perikanan rajungan secara umum tergolong dalam kategori
sedang, masih dapat dikembangkan dan diperbaiki. Untuk memperbaiki
pengelolaan perikanan rajungan secara bertahap maka direkomendasikan untuk
memperkuat pengawasan terhadap nelayan agar mengembalikan tangkapan
rajungan dibawah ukuran 10 cm dan rajungan bertelur ke laut, memperbaiki
tutupan lamun, koordinasi antar lembaga pada tata kelola perikanan rajungan,
serta peningkatan partisipasi stakeholder dalam upaya pengelolaan perikanan
rajungan
Daya Saing Produk Kayu Lapis Indonesia di Pasar Internasional Periode 2015-2019.
Kayu lapis merupakan salah satu hasil hutan kayu dan telah menjadi komoditas ekspor utama yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keunggulan daya saing komparatif dan daya saing kompetitif kayu lapis serta faktor-faktor yang berpengaruh pada pertumbuhan ekspor kayu lapis tersebut. Metode analisis yang digunakan berturut-turut adalah Revealed Comparative Advantage, Indeks Spesialisasi Perdagangan dan Constant Market Share.
Hasil penelitian menunjukkan komoditi HS 441231, HS 441234, HS 441294 dan HS 441299 memiliki keunggulan daya saing komparatif yang kuat dan telah mencapai tahap kematangan. Komposisi komoditas berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekspor kayu lapis Indonesia sementara pertumbuhan standar dan daya saing berpengaruh negatif