31665 research outputs found
Sort by
Kajian Stok Karbon Tinggi (SKT) di Areal Hutan Desa Sungai Pelang, Sungai Besar dan Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat
The Sungai Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung Village Forests (VF) are village forests managed by
community groups in the villages of Sungai Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung, South Matan Hilir District,
Ketapang Regency, West Kalimantan Province. Community groups managing the Sungai Pelang, Sungai Besar and
Pematang Gadung VFs have a strong commitment to sustainable forest management. To minimize the negative impact of
forest exploitation on High Carbon Stock (SKT) areas in the area, it is necessary to carry out an inventory of HCS forests,
threats, as well as efforts to manage and monitor SKT areas. This research aims to identify High Carbon Stock (HCS)
areas in the Sungai Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung VF areas, Ketapang Regency, West Kalimantan
Province. Based on the results of the SKT forest inventory, it was found that in the >50 cm diameter class, 1 tree/ha was
found including 1 tree/ha in Medium Density Forest (HK2); in the 30-49.9 cm diameter class, 6 trees/ha were found
including 4 trees/ha in Medium Density Forest (HK2), 1 tree/ha in Low Density Forest (HK1), and 1 tree/ha in Young
Regeneration Forest ( HRM). The distribution of trees in the diameter classes 15-29.9 cm and 5-14.9 cm was found in
each land cover class. The highest estimated carbon stocks in the Sungai Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung
VF areas were found in the High Density Forest (HK3), Medium Density Forest (HK2), Low Density Forest (HK1), and
Young Regeneration Forest (HRM) cover classes at 9,151. 09 tC/ha; while the lowest was in the Plantation-agriculture
land cover class (AGRI) at 481.77 tC/ha. Area estimates for vegetation stratification show that the potential SKT class in
the Sungai Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung VF areas is 9,151.09 ha, while the non-SKT class in the area is
4,907.85 ha. Based on the results of the FGD and field observations, there are 4 threats to the HCS area in the Sungai
Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung VF areas, namely (1) Illegal logging, (2) area encroachment, (3) and (3)
Forest and land fires. HCS area management activities in the Sungai Pelang, Sungai Besar and Pematang Gadung VF
areas that need to be carried out include boundary marking, internal and external outreach, prevention and protection of
HCS areas, as well as coordination with related agencies and the community. Monitoring activities for HCS areas that need
to be carried out include carrying out an inventory of HCS forests, preventing and controlling disturbances to HCS areas
effectively, and monitoring the intensity of disturbances to HCS areas
Karakterisasi Susu Kental Manis Berbahan Baku Susu Skim Bubuk Terstandardisasi
Susu kental manis (SKM) merupakan salah satu produk olahan pangan yang populer di Indonesia. SKM menggunakan susu skim bubuk sebagai salah satu bahan utama sumber proteinnya. Susu skim bubuk dapat digolongkan berdasarkan derajat denaturasi protein whey pada saat proses pembuatannya menjadi low, medium, atau high heat. Susu skim bubuk umumnya juga distandardisasi menggunakan laktosa atau permeate susu untuk mendapatkan nilai protein yang diinginkan. Jenis susu skim bubuk dan proses standardisasi ini dapat menyebabkan perubahan karakteristik susu skim bubuk yang dihasilkan, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi sifat fisik SKM bila digunakan sebagai bahan baku. Penelitian ini bertujuan membandingkan karakteristik fisik SKM yang dihasilkan dari bahan baku susu skim bubuk low dan medium heat yang distandardisasi laktosa atau permeate susu. Metode penelitian yang digunakan adalah standardisasi susu skim bubuk dan karakterisasi sifat fisiknya, pembuatan prototipe SKM skala laboratorium dengan susu skim bubuk terstandardisasi, karakterisasi fisiko-kimia SKM, dan analisis data. Parameter fisiko-kimia yang diuji pada produk akhir adalah viskositas, pH, warna, padatan total, protein, lemak, dan sukrosa. Hasilnya, SKM dengan susu skim bubuk medium heat atau low heat terstandardisasi permeate susu memiliki warna yang berbeda pada nilai L, a, dan b bila dibandingkan susu skim bubuk terstandardisasi laktosa. SKM dengan susu skim bubuk medium heat atau low heat terstandardisasi permeate susu memiliki viskositas yang lebih tinggi dibandingkan susu skim bubuk terstandardisasi laktosa, terutama pada sheer rate rendah. SKM dengan susu skim bubuk low heat juga memiliki karakteristik viskositas yang berbeda dengan susu skim bubuk medium heat.Sweetened condensed milk (SCM) is one of popular food processed product in Indonesia. SCM consist of skimmed milk powder as one of its major protein source ingredients. Skimmed milk powder can be classed as low, medium, or high heat by its degree of whey protein denaturation during production process. Skimmed milk powder also generally standardized using lactose or milk permeate to get a desired protein value. These skimmed milk powder types and standardization processes can alter the skimmed milk powder product characteristic, and finally can influence physical characteristic of SCM if used as ingredient. This study aimed to compare physical characteristic of SCM that consist of lactose or milk permeate standardized low or medium heat skimmed milk powder. The research method used are skimmed milk powder standardization and its physical properties characterization, laboratory scale SCM prototype creation using standardized skimmed milk powder, SCM physical-chemical properties characterization, and data analysis. Physical chemical properties analyzed in final product were viscosity, rheology, pH, color, total solids, protein, fat, and sucrose. As the result, SCM with milk permeate standardized medium or low heat skimmed milk powder had different L, a, and b value and higher viscosity in lower sheer rate compared to lactose standardized skimmed milk powders. SCM with low heat skimmed milk powder also had different fresh viscosity compared to medium heat skimmed milk powder
Production Risk Management for Indonesian Livestock Business
Usaha peternakan sering dihadapkan dengan tingginya ketidakpastian harga jual dan risiko produksi seperti penyakit dan kematian ternak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko produksi usaha peternakan di Indonesia dan manajemen risiko yang digunakan peternak Indonesia untuk menghadapi risiko produksi. Data yang digunakan berasal dari Survei Rumah Tangga Usaha Peternakan tahun 2014 dengan jumlah sampel sebanyak 20.601 rumah tangga peternak unggas dan 597 rumah tangga peternak sapi perah. Metode analisis yang digunakan menggunakan Model Just and Pope (1976) untuk menganalisis faktor yang memengaruhi produksi dan risiko produksi. Model risiko fungsi produksi ini mempertimbangkan unsur risiko yang berasal dari variasi penggunaan input produksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor produksi yang berpengaruh terhadap peningkatan nilai produksi pada usaha peternakan unggas yaitu pakan unggas, sanitasi, kesehatan hewan ternak, pengalaman beternak. Sedangkan variabel desinfektan tidak signifikan secara statistik dan variabel jumlah ternak signifikan menurunkan nilai produksi. Faktor produksi yang berpengaruh terhadap peningkatan nilai produksi pada usaha peternakan sapi perah yakni sanitasi, kesehatan hewan ternak, pengalaman beternak, dan jumlah ternak. Sedangkan pakan sapi perah merupakan faktor produksi yang dapat menurunkan nilai produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang menimbulkan risiko pada usaha peternakan unggas meliputi pakan unggas, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, jumlah ternak, kredit dan tingkat kematian. Faktor produksi yang termasuk dalam faktor yang mengurangi risiko pada usaha peternakan unggas antara lain sanitasi, kesehatan hewan ternak, dan pengalaman beternak. Sedangkan variabel desinfektan, usia peternak, keaktifan peternak, dan kemitraan tidak signifikan. Faktor produksi yang termasuk dalam faktor yang menimbulkan risiko pada usaha peternakan sapi perah antara lain adalah sanitasi, pengalaman beternak, tingkat pendidikan, dan jumlah ternak. Faktor produksi yang termasuk dalam faktor yang mengurangi risiko adalah pakan sapi perah. Sedangkan variabel biaya kesehatan hewan ternak, usia peternak, jumlah tanggungan, kredit, keaktifan peternak, dan kemitraan tidak signifikan.
Dalam menjalankan usaha peternakan, peternak dihadapkan pada risiko produksi usaha yaitu penyakit hewan ternak yang menyerang dan kematian ternak menyebabkan peternak perlu melakukan strategi pencegahan yang bertujuan untuk meminimalkan terjadinya risiko sebelum terjadinya risiko (strategi preventif), mengurangi dampak sebelum terjadinya risiko (strategi mitigasi), ataupun mengurangi dampak setelah terjadinya risiko (coping strategi). Strategi pencegahan dilakukan dengan meningkatkan pakan, sanitasi, desinfektan, vaksinasi, pemberian vitamin ternak, kemitraan dan meningkatkan keaktifan peternak. Strategi mitigasi risiko dilakukan dengan meningkatkan kesehatan hewan ternak. Sedangkan strategi coping dapat dilakukan dengan menggunakan kredit
Neraca Bahan Makanan Kota Bekasi 2023
Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan
perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun
mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan
agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara
berkelanjutan (Undang-undang Pangan no.18 Tahun 2022). Pemantapan ketahanan pangan
merupakan salah satu fokus dari pembangunan nasional yang dilaksanakan di setiap daerah.
Perwujudan ketahanan pangan dapat dicapai melalui empat pilar yaitu: (1) ketersediaan pangan;
(2) cadangan pangan; (3) penganekaragaman konsumsi pangan; dan (4) pencegahan dan
penanggulangan masalah pangan. Dengan demikian, ketersediaan pangan wilayah merupakan
prasyarat terwujudnya ketahanan pangan penduduk.
Situasi ketersediaan pangan menunjukkan jumlah dan jenis pangan yang tersedia untuk
penduduk yang akan mengalami variasi dari waktu ke waktu maupun antara satu tempat
dengan tempat lain. Hal tersebut sangat tergantung pada kondisi lingkungan baik politik, iklim,
jenis tanah, teknologi pertanian, cara penyimpanan pangan, sarana transportasi dan pemasaran.
Neraca Bahan Makanan (NBM) merupakan salah satu instrumen data statistitik yang dapat
memberikan informasi mengenai situasi ketahanan pangan di suatu wilayah, khususnya untuk
aspek ketersediaan pangan, baik di tingkat nasional maupun provinsi dan kabupaten/kota.
Melaui analisis situasi ketersediaan pangan secara kuantitatif dengan menggunakan NBM yang
memberikan informasi mengenai data produksi, pengadaan serta semua perubahan yang terjadi
di suatu wilayah dapat diketahui sejauh mana kondisi bahan makanan yang tersedia dan siap
untuk dikonsumsi penduduk.
Desain analisis yang digunakan adalah explorative study dengan menggali sebanyakbanyaknya data & informasi untuk merumuskan karakteristik khas dari subjek yang dikaji
secara deskriptif. Fokus utama dalam kajian ini adalah analisis situasi penyediaan dan
ketersediaan pangan wilayah Kota Bekasi yang didasarkan pada hasil perhitungan Neraca
Bahan Makanan (NBM) Kota Bekasi Tahun 2023. Perhitungan dan analisis ketersediaan
pangan berdasarkan NBM Kota Bekasi sepenuhnya menggunakan data sekunder yang diperoleh
dari dinas/intansi terkait di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Bekasi, khususnya : Badan
Pusat Statistik; Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan, Dinas Pertanian &
Kehutanan; Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan; Dinas Perindustrian dan Perdagangan;
dan Bulog Divisi Regional Kota Bekasi; serta intansi-intansi terkait lainnya. Jenis data dasar
yang dikumpulkan dan digunakan untuk menghitung NBM mencakup data jumlah produksi,
perubahan stok, impor, dan ekspor pangan selama satu tahun
Innovation Communication Strategy for the Sustainability of Enlargement Aquaculture for Small-Scale Consumption Fish, in Bogor Regency, West Java Province.
Komunikasi inovasi diperlukan untuk mewujudkan perubahan perilaku
pembudidaya yang berorientasi ekonomi menjadi orientasi sosial dan lingkungan
sesuai dengan perubahan kebijakan pembatasan perikanan tangkap menjadi
perikanan budidaya. Untuk mewujudkan keberlanjutan pembangunan bidang
perikanan memerlukan perubahan perilaku pembudidaya sehingga diperlukan
peran komunikasi pembangunan. Keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran
ikan konsumsi skala kecil dalam memperoleh kesejahteraan (aspek ekonomi),
memenuhi kebutuhan masyarakat (aspek sosial) dan memelihara ketersediaan stok
secara stabil (aspek lingkungan) harus memiliki daya saing. Daya saing dapat
terwujud dengan menggerakkan dan mengorganisasikan seluruh potensi sumber
daya produktif dan penguatan teknologi melalui inovasi Cara Budi Daya Ikan yang
Baik (CBIB). Pembudidaya perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala
kecil dalam mengakses serta implementasi inovasi berbeda, oleh karena itu
penelitian ini merumuskan permasalahan bagaimana komunikasi inovasi untuk
keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengevaluasi proses dan elemen
komunikasi inovasi CBIB, karakteristik, tahap adopsi inovasi, serta status
keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (2)
Menilai pengaruh elemen komunikasi inovasi CBIB terhadap keberlanjutan
perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (3) Menilai pengaruh
karakteristik individu terhadap tahap adopsi inovasi pembesaran ikan konsumsi
skala kecil; (4) Menilai pengaruh tahap adopsi inovasi terhadap keberlanjutan
perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil; (5) Merancang model
strategi komunikasi inovasi CBIB untuk keberlanjutan perikanan budidaya
pembesaran ikan konsumsi skala kecil.
Penelitian ini berlandaskan pada kerangka pemikiran komunikasi untuk
pembangunan dan perubahan sosial, komunikasi pembangunan partisipatif, strategi
komunikasi, secara operasional menggunakan model sosioecological serta konsep konsep komunikasi inovasi, inovasi CBIB, jaringan komunikasi, pembangunan
berkelanjutan menjadi landasan konseptual penelitian ini. Model sosioekologis
merupakan salah satu model komunikasi perubahan sosial yang berfokus kepada
tahap, proses dan tujuan dijadikan sebagai acuan dalam mengevaluasi proses dan
elemen komunikasi inovasi, karakteristik, tahap adopsi inovasi serta pengaruhnya
terhadap keberlanjutan perikanan budidaya pembesaran skala kecil.
Paradigma pragmatis metode campuran digunakan pada penelitian ini
secara sekuensial eksplanatori melalui survey terhadap 114 orang pembudidaya
pembesaran ikan konsumsi skala kecil di sembilan kecamatan Kabupaten Bogor
dengan teknik sampel sensus. Teknik pengumpulan data primer menggunakan
kuesioner semi terbuka yang berisi data kuantitatif dan kualitatif, dilakukan melalui
wawancara langsung dengan subjek penelitian, observasi ke Dinas Perikanan dan
Peternakan (Disnakan) Kabupaten Bogor, kelompok pembudidaya pembesaran
ikan konsumsi skala kecil serta penelusuran secara online untuk data sekunder.
Analisis data tahap pertama dilakukan secara kuantitatif untuk
mengevaluasi proses komunikasi dan elemen komunikasi inovasi CBIB,
karakteristik, tahap adopsi inovasi pembudidaya serta tingkat keberlanjutan
ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan
konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat menggunakan
statistik deskriptif skor rata-rata dari skala 1 sampai dengan 5, distribusi frekuensi
dan persentase dengan microsoft excel, analisis jaringan utuh dengan software
ucinet 6, dan status keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan
perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor
Provinsi Jawa Barat dengan rapid appraisal for fisheries (rapfish) versi R Multi
Dimentional Scalling (MDS), Monte Carlo dan Leverage.
Tahap kedua dilakukan secara kuantitatif untuk mengevaluasi pengaruh
elemen komunikasi inovasi CBIB, karakteristik dan tahap adopsi inovasi terhadap
keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan perikanan budidaya
pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
menggunakan smartPLS-3. Tahap ketiga secara kualitatif merumuskan strategi
komunikasi inovasi CBIB untuk keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan
lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil Kabupaten
Bogor Provinsi Jawa Barat.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi inovasi CBIB
antarpembudidaya telah dilakukan dengan baik menggunakan tipe komunikasi
antarpersonal. Elemen komunikasi yang dominan dari aspek tema pesan adalah
inovasi pakan dengan fungsi pesan persuasif, aspek saluran menggunakan saluran
media sosial yang bersifat non formal /personal.
Pembudidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor
rata-rata berusia dalam rentang 18 sampai dengan 45 tahun, tingkat pendidikan
formal lulus Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sebagian besar
pembudidaya pernah mengikuti pelatihan inovasi CBIB secara mandiri, masa
pengalaman budidaya 2 sampai dengan 11 tahun, status lahan budidaya rata-rata
sudah hak milik. Aspek komunikator ditemukan pembudidaya yang memiliki
tingkatan sentralitas tinggi dan sentralitas kedekatan sebagai sumber informasi dan
narahubung antarpembudidaya dalam jaringan komunikasi.
Tahap adopsi inovasi pembudidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil
berada pada tahap pemahaman yang artinya penguasaan terhadap permasalahan
budidaya serta cara untuk mengantisipasinya sudah baik. Keberlanjutan perikanan
budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil di Kabupaten Bogor memiliki nilai
status cukup berkelanjutan secara lingkungan, sosioteritorial serta ekonomi.
Indikator sensitifitas yang dapat menjadi faktor pengungkit status
keberlanjutan yang ditemukan adalah efektifitas produksi, keuntungan penjualan
yang menjadi faktor penghambat, kepemilikan modal sebagai faktor pendorong
keberlanjutan ekonomi, tren usaha budidaya, kualitas pekerjaan dan kesehatan serta
kondisi kerja sebagai faktor pendorong keberlanjutan sosioteritorial, produksi ikan
di tambak, peran lembaga kebersihan dan kesehatan sebagai faktor penghambat,
serta pengelolaan kebersihan air, indeks konversi lahan sebagai faktor pendorong
keberlanjutan lingkungan.
Elemen komunikasi inovasi yang berdampak terhadap keberlanjutan
perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil secara langsung adalah
tema inovasi terhadap keberlanjutan ekonomi; fungsi pesan terhadap keberlanjutan
ekonomi, sosioteritorial dan lingkungan; jenis saluran terhadap keberlanjutan
ekonomi, lingkungan dan tahap adopsi inovasi; tingkatan sentralitas terhadap
keberlanjutan ekonomi dan sosioteritoria; serta tahap adopsi inovasi terhadap
keberlanjutan sosioteritorial; sedangkan karakteristik pembudidaya tidak memiliki
dampak terhadap tahap adopsi inovasi pembudidaya.
Model strategi komunikasi inovasi untuk keberlanjutan perikanan budidaya
pembesaran ikan konsumsi skala kecil Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
adalah strategi komunikasi pemberdayaan kelompok pembudidaya ikan berbasis
jaringan komunikasi dengan penggunaan pesan persuasif menggunakan media
sosial dengan melibatkan kemitraan lembaga permodalan, koperasi dan BUMDES
serta unit pelaksana teknis terkait untuk keberlanjutan ekonomi, sosioteritorial dan
lingkungan perikanan budidaya pembesaran ikan konsumsi skala kecil Kabupaten
Bogor Provinsi Jawa Barat.Innovation communication is needed to realize changes in the behavior of
farmers who are economically oriented to social and environmental orientation in
accordance with changes in the policy of limiting capture fisheries to aquaculture.
To achieve sustainable development in the fisheries sector requires changes in the
behavior of cultivators so that the role of development communication is needed.
Sustainability of aquaculture aquaculture for small-scale fish consumption in
obtaining welfare (economic aspect), meeting community needs (social aspect) and
maintaining stable stock availability (environmental aspect) must have
competitiveness. Competitiveness can be realized by mobilizing and organizing all
potential productive resources and strengthening technology through innovations in
Good Fish Cultivation Methods (CBIB). Small-scale consumption fish farming
aquaculture cultivators in accessing and implementing innovations are different,
therefore this research formulates the problem of how to communicate innovation
for the sustainability of small-scale consumption fish farming aquaculture.
This study aims to: (1) evaluate the processes and elements of innovation
communication, characteristics, stages of innovation adoption, as well as the
sustainability status of small-scale consumption aquaculture aquaculture; (2)
Assessing the effect of innovation communication elements on the sustainability of
small-scale consumption fish farming aquaculture; (3) Assessing the effect of
individual characteristics on the adoption stage of small-scale fish farming
innovations; (4) Assessing the effect of the innovation adoption stage on the
sustainability of small-scale consumption fish farming aquaculture; (5) Designing
an innovation communication strategy model for the sustainability of small-scale
consumption aquaculture aquaculture.
This research is based on the framework of communication for development
and social change, participatory development communication, operational
communication strategies using socioecological models and the concepts of
innovation communication, CBIB innovation, communication networks,
sustainable development are the conceptual basis of this research. The
socioecological model is a social change communication model that focuses on
stages, processes and objectives used as a reference in evaluating processes and
elements of innovation communication, characteristics, stages of innovation
adoption and their impact on the sustainability of small-scale aquaculture.
The pragmatic paradigm of mixed methods was used in this study explanatory
sequentially through a survey of 114 small-scale consumption fish cultivators in
nine sub-districts of Bogor Regency using a census sampling technique. The
primary data collection technique used a semi-open questionnaire containing
quantitative and qualitative data, carried out through direct interviews with research
subjects, observations at the Bogor District Fisheries and Livestock Service
(Disnakan), groups of small-scale consumption fish growers and online searches for
secondary data.
The first stage of data analysis was carried out quantitatively to evaluate the
communication process and communication elements of CBIB innovation,
characteristics, stages of cultivator innovation adoption and the level of economic,
socio-territorial and environmental sustainability of small-scale consumption fish
farming in Bogor Regency, West Java Province using score descriptive statistics
average from scale 1 to 5, frequency distribution and percentage with Microsoft
Excel, full network analysis with ucinet 6 software, and status of economic, socio territorial and environmental sustainability of small-scale consumption fish farming
in Bogor Regency, West Java Province with rapid appraisal for fisheries (rapfish)
version of R Multi-Dimensional Scalling (MDS), Monte Carlo and Leverage.
The second stage was carried out quantitatively to evaluate the influence of
CBIB innovation communication elements, characteristics and stages of innovation
adoption on the economic, socio-territorial and environmental sustainability of
small-scale consumable aquaculture aquaculture in Bogor District, West Java
Province using smartPLS-3. The third stage qualitatively formulates a CBIB
innovation communication strategy for economic, socio-territorial and
environmental sustainability of small-scale consumption aquaculture aquaculture,
Bogor Regency, West Java Province.
The research findings showed that CBIB innovation communication
between cultivators has been carried out well with the interpersonal communication
type. The dominant communication elements from the message theme aspect are
the feed innovation theme with a persuasive message function, the channel aspect
uses social media channels that are non-formal/personal in nature.
Small-scale consumption fish cultivators in Bogor Regency have an average
age of 18 to 45 years, with a formal education level of elementary school and junior
high school. Most of the cultivators have attended CBIB innovation training
independently, the cultivation experience is 2 to 11 years, the average status of
cultivated land is private property. The communicator aspect is found by cultivators
who have a high degree of centrality and closeness centrality as a source of
information and a link between cultivators in a communication network.
The adoption stage of small-scale consumable fish cultivator innovations is at
the understanding stage, which means that the mastery of cultivation problems and
the ways to anticipate them are good.
The economically, socio-territorially and environmentally sustainability of
small-scale consumption fish farming in Bogor Regency has a quite sustainable
status value. Sensitivity indicators that can be a lever factor for sustainability status
found are production effectiveness, sales profits which are inhibiting factors, capital
ownership as a driving factor for economic sustainability, aquaculture business
trends, quality of employment and health and working conditions as factors driving
socio-territorial sustainability, fish production in ponds, the role of hygiene and
health institutions as inhibiting factors, as well as management of water hygiene,
land conversion index as a driving factor for environmental sustainability.
The elements of innovation communication that have an impact on the
sustainability of aquaculture aquaculture for small-scale consumption of fish
directly are the theme of innovation on economic sustainability, the message
function on economic, socio-territorial and environmental sustainability, the type of
channel on economic sustainability, the environment and the stage of innovation
adoption, the level of centrality towards economic and socio-territorial
sustainability as well as the innovation adoption stage on socio-territorial
sustainability, while cultivator characteristics have no impact on the innovation
adoption stage of cultivators.
The innovation communication strategy for the sustainability of small-scale
consumable growing aquaculture fisheries in Bogor Regency, West Java Province
is a communication strategy for empowering fish cultivator groups based on
communication networks by using persuasive messages using social media by
involving partnerships with capital institutions, cooperatives and BUMDES as well
as related technical implementing units for sustainability economic, socio-territorial
and environmental fisheries for growing small-scale consumption fish, Bogor
Regency, West Java Province
Water Trophic Level in Lampung Bay with VGPM Method (Vertically Generalized Production Model)
Teluk Lampung memiliki potensi sumber daya perikanan tinggi yang didukung oleh kesuburan perairannya. Penelitian bertujuan memodelkan secara spasial dan temporal kesuburan perairan berdasarkan produktivitas primer (PP) di perairan Teluk Lampung. Data yang digunakan yaitu data observasi lapang yaitu suhu permukaan laut (SPL), klorofil-a, dan PP, lalu data sekunder yaitu curah hujan, SPL, klorofil-a, dan Photosynthetically Active Radiation (PAR). Pemodelan PP menggunakan metode VGPM. Validasi data dilakukan pada data SPL, klorofil-a, dan PP menggunakan metode Root Mean Square Error. Hasil validasi menunjukkan nilai 0,27 untuk SPL, 1,60 untuk klorofil-a, dan 155,66 untuk PP. Sebaran PAR Teluk Lampung berkisar 35 – 52,50 E/m^2/hari. Sebaran SPL berkisar 28,5 – 31,50° C. Sebaran klorofil-a tertinggi berada di kepala teluk dengan kisaran 0,30 – 12 mg/m^3. Analisis korelasi menunjukkan klorofil-a memiliki pengaruh tertinggi dengan nilai 0,99. PP tertinggi berada di area kepala teluk dengan nilai 988,28 mgC/m^2/hari. Sementara area tengah dan luar teluk memiliki rata-rata yang rendah dengan nilai 345,54 dan 291,13 mgC/m^2/hari. Kesuburan perairan Teluk Lampung berdasarkan PP menunjukkan kesuburan yang tinggi pada kepala teluk dengan tingkat eutrofik dan mesotrofik. Pada area tengah dan luar teluk menunjukkan kesuburan sedang pada tingkat mesotrofik dan oligotrofik.Lampung Bay has a great fisheries potential with support of its water trophic level (WTL). Research objection is model spatial and temporal distribution of WTL in Lampung Bay. Research data is from field observation i.e. sea surface temperature (SST), chlorophyll-a, and primary productivity (PP), secondary data i.e. rainfall, SST, chlorophyll-a, and Photosynthetically active radiation (PAR). VGPM method is applied to model PP. Validation in this research is applied to SST, chlorophyll-a, and PP using root mean square error method. Validation shows its value 0,27 for SST, 1,60 for chlorophyll-a, and 155,66 for PP. PAR level reach 35 – 52,50 E/m^2/day. SST with range 28,50 – 31,50°C. Chlorophyll-a on head’s bay is the highest with range 0,3 – 12 mg/m^3. Correlation analysis shows that chlorophyll-a has the most impact on PP with value of 0,99. PP on head’s bay with high average of 988,23 mgC/m^2/day. Meanwhile, center and outer bay have lower value with average of 345,54 and 291,13 mgC/m^2/day. WTL on Lampung Bay based on PP indicate high WTL on head’s bay with eutrophic and mesotrophic levels. Meanwhile, on center and outer bay indicate moderate value with mesotrophic and oligotrophic level
Keanekaragaman Hayati Tumbuhan Di Areal PBPH PT. Agra Primera Plantation Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat
PT. Agra Primera Plantation (PT. APP) is a company engaged in the exploitation of natural production forests in Ketapang Regency, West
Kalimantan Province. The company has a strong commitment to sustainable forest management. To minimize the negative impact of forest exploitation
on plant biodiversity in the area, it is necessary to identify the existence of protected and/or rare plant species, their threats, as well as efforts to manage
and monitor biodiversity that need to be carried out. This research aims to identify habitat conditions and plant biodiversity in the PBPH area of PT.
APP, Ketapang Regency, West Kalimantan Province. In the PBPH area of PT. APP consists of 502 species which can be grouped into 100 families,
where the highest plant species richness is found in secondary dryland forests (435 species) and the least is found in oil palm plantations (67 species).
Based on its protection status, in the PBPH area of PT. APP did not find any protected plant species according to the Minister of Environment and
Forestry Regulation (Permen LHK) No. P.106 of 2018; However, 6 types of endemic plants were found; found 3 types of plants included in the CITES
Appendix II List; and found 10 (ten) types of plants which are classified as VU/Vulnerable according to IUCN, 3 (three) types which are EN/Endangered
according to IUCN, and 5 (five) types of plants which are included in the CR category/Critically Endangered according to IUCN. There are 4 threats
to plant biodiversity in the PBPH area of PT. APP namely (1) Illegal logging, (2) Area encroachment, (3) Availability of resources to manage and
monitor plants is still lacking, and (4) Forest and land fires. Plant biodiversity management activities in the PBPH area of PT. APP that need to be
carried out are boundary marking, internal and external outreach, prevention and protection of plant biodiversity, further surveys of plant species
population status, and coordination with related agencies and the community. Plant biodiversity monitoring activities in the PBPH area of PT. The
APP that needs to be carried out are plant diversity and density, the effectiveness of preventing and controlling disturbances to plant biodiversity, as
well as monitoring the intensity of disturbances to plant biodiversity
Ultrasound Assisted Rehydration Kinetic of Smoked Dried Sea Cucumber : Effect on Sulfated Polysaccharides
Beche-de-mer merupakan luxury seafood dan telah lama digunakan sebagai ethnic tonic food. Rehidrasi merupakan tahapan penting dalam pengolahan teripang dan memiliki pengaruh terhadap glycosaminoglycan (GAG) holothurian. Peran Ultrasound dalam membantu meningkatkan efisiensi pengolahan belum dikembangkan. Tujuan penelitian adalah menentukan kinetika rehidrasi teripang kering asap dan pengaruhnya terhadap karakteristik polisakarida sulfat menggunakan ultrasound. Penelitian meliputi kinetika rehidrasi konvensional suhu 27°C (KV27°C) dan suhu 15°C (KV15°C), kombinasi ultrasound suhu 27°C dan konvensional suhu 15°C (UAR27°C +KV15°C), serta kombinasi ultrasound suhu 15°C dan konvensional suhu 15°C (UAR15°C+KV15°C). Rehidrasi terpilih adalah UAR27°C+KV15°C pada waktu konstan 28 jam dan laju rehidrasi 0,58±0,53 gH2O/jam, serta kebutuhan energi yang rendah. Rendemen yang dihasilkan adalah 2,49%, protein 24,69±0,65%, lemak 0,31±0,03%, aktivitas air 0,77±0,04, total color difference 93,70±0,91 dan mikrostruktur dengan pori tinggi. Kandungan sulfat dan rendemen GAG sulfat adalah 10% dan 5,28 mg/g. Konfirmasi pita serapan sulfat memperlihatkan 3-N-asetil galaktosamin pada panjang gelombang 1269 cm-1 dan C-O-S pada 860 cm-1.Beche-de-mer is luxury seafood and has long been used as an ethnic tonic food. Rehydration is an important step in the processing of sea cucumbers and has an effect on the holothurian glycosaminoglycan (GAG). Ultrasound's role in helping to increase processing efficiency has not yet been explored.This study aimed to determine the rehydration kinetics of smoked dried sea cucumbers to characterize sulfated polysaccharides using ultrasound. The research covered the kinetics of rehydration conventional at 27°C (KV27°C) and 15°C (KV15°C), a combination of ultrasound at 27°C with conventional at 15°C (UAR27°C+ KV15°C), and a combination of ultrasound at 15°C with conventional at 15°C (UAR15°C+ KV15°C). The rehydration technique UAR27°C +KV15°C is the chosen technique with a constant time of 28 hours, rehydration rate of 0,58±0,53 gH2O/hour, and low energy. The resulting yield was 2,49%, protein 24,69±0,65%, fat 0,31±0,03%, water activity 0,77±0,04, total color difference 93,70±0,91, and microstructure with high pore density. The sulfate content and the yield of the sulfate GAG were 10% and 5,28 mg/g. Confirmation of the absorption band of the sulfate group showed the presence of 3-N-acetyl galactosamine at a wavelength of 1269 cm-1 and C-O-S at 860 cm-1.PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
Struktur Komunitas Meiofauna Pada Ekosistem Mangrove Kuala Langsa, Aceh Timur
Meiofauna merupakan hewan metazoa diantara makrofauna dan mikrofauna yang hidup di ruang antar partikel sedimen dan berperan penting dalam kesuburan perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas meiofauna dengan karakteristik fisika-kimia pada ekosistem mangrove Kuala Langsa, Aceh Timur. Penelitian dilakukan pada 29 Agustus 2022 di 3 Stasiun. Sampel meiofauna diambil menggunakan pipa paralon atau corer (ø: 5 cm; tinggi: 10 cm). Sejumlah parameter fisika-kimia lingkungan diukur dan dianalisa hubungannya menggunakan analisis komponen utama (PCA) dan analisis korespondensi (CA) dengan hasil ditemukannya banyak meiofauna dan ragam jenis mangrove pada Stasiun 3. Hasil pengamatan meiofauna pada ekosistem mangrove Kuala Langsa terdiri dari 8 filum, 12 kelas, 17 ordo, 22 famili, dan 23 genus dengan dominasi Platyhelminthes. Jenis mangrove yang mendominasi adalah spesies Rhizophora mucronata. Kelimpahan meiofauna banyak ditemukan pada wilayah penelitian dengan dominasi substrat pasir, kerapatan mangrove dan bahan organik yang tinggi.Meiofauna is a metazoan animal between macrofauna and microfauna that lives in spaces between sediment particles and plays an important role in water fertility. The purpose of this study was to determine the meiofauna community structure with physicochemical characteristics in the Kuala Langsa mangrove ecosystem, East Aceh. Research was conducted on August 29, 2022 at 3 Stations. The meiofauna samples were taken using a paralon pipe or corer (ø: 5 cm; height: 10 cm). A number of environmental physico-chemical parameters were measured and analyzed using principal component analysis (PCA) and correspondence analysis (CA) with the results discovery of many meiofauna and variety of mangrove species at Station 3. The results of meiofauna observations in the Kuala Langsa mangrove ecosystem consisted of 8 phyla, 12 classes, 17 orders, 22 families, and 23 genus with the dominance of Platyhelminthes. The dominating mangrove species is Rhizophora mucronata. Abundance of meiofauna is found in research area with the dominance of sand substrate, mangrove density and high organic matter.IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aceh Wetland Foundatio
Penerapan Metode SARIMA Intervensi dalam Peramalan Jumlah Penumpang Kereta Api di Pulau Jawa
Peramalan merupakan metode analisis statistik yang digunakan untuk mengetahui fenomena yang terjadi di masa depan. Salah satu metode peramalan untuk data berpola musiman adalah SARIMA. Pola data deret waktu biasanya mengalami perubahan pada pola rataan yang terjadi di luar dugaan. Peristiwa tersebut dinamakan Intervensi. Pandemi Covid-19 memberikan dampak negatif pada sektor transportasi darat jarak jauh, salah satunya yaitu transportasi kereta api. Jumlah penumpang kereta api setiap tahun cenderung mengalami kenaikan dan membentuk pola musiman, namun adanya pandemi Covid-19 menyebabkan terjadinya penurunan penumpang diluar dugaan. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan dan mengevaluasi metode SARIMA Intervensi yang terbentuk serta meramalkan jumlah penumpang kereta api di Pulau Jawa. Data yang digunakan dalam penelitian memiliki periode bulanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model sebelum Intervensi adalah SARIMA (0,1,1)(0,1,0) dengan nilai BIC 995,1037 sedangkan model Intervensi terbaik adalah SARIMA (0,1,1)(0,1,0) b = 0, s = 3, r = 1 dengan nilai BIC 1685,2870. Bentuk interensi yang digunakan pada data jumlah penumpang kereta api periode April 2013 – Maret 2022 adalah fungsi step. Nilai MAPE yang dihasilkan model sebelum Intervensi dan saat Intervensi masing-masing sebesar 2,0081% dan 33,8308%.Forecasting is a method of statistical analysis used to determine phenomena that occur in the future. One of the forecasting methods for data with a seasonal pattern is the SARIMA. Time series data patterns usually experience changes to the average pattern that occur unexpectedly. This event is called Intervention. The Covid-19 pandemic has had a negative impact on the long-distance land transportation sector, one of which is rail transportation. The number of train passengers every year tends to increase and forms a seasonal pattern, but the Covid-19 pandemic has caused an unexpected decrease in passengers. The purpose of this study is to apply and to evaluate the SARIMA Intervention method that was build, and to predict the number of train passengers on the island of Java. The data used in the study has a monthly period. The results showed that the model before the intervention was SARIMA (0,1,1)(0,1,0) with a BIC value of 995,1037 while the best intervention model was SARIMA (0,1,1)(0,1,0) b = 0, s = 3, r = 1 with a BIC value of 1685,2870. The form of intervention used in data on the number of train passengers for the period April 2013 – March 2022 is the step function. The MAPE values generated by the model before the intervention and during the intervention were 2,0081% and 33,8308%, respectively