31665 research outputs found
Sort by
Kekuatan Lentur Balok Pelupuh Bambu Lamina dari Jenis Bambu Ater (Gigantochloa atter) dan Analisis Reliabilitasnya,
Batang bambu dapat digalar secara manual menjadi pelupuh sebagai bahan baku produk rekayasa bambu, yang diklasifikasikan sebagai lembaran pelupuh bambu lamina, yang dalam penelitian ini disebut balok pelupuh bambu lamina (BPBL). BPBL dibuat dari jenis bambu ater, berperekat Water-Based Polymer Isocyanate (WBPI) dengan pendekatan teknologi tepat guna, berpotensi sebagai substitusi terhadap kayu gergajian struktural (KGS). Melalui analisis reliabilitas struktur, kinerja dari kedua bahan dapat dipelajari. Desain struktur sesuai kondisi iklim serta sumber daya hasil hutan di Indonesia, membutuhkan penyempurnaan terhadap standar SNI 7973:2013. Hal ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (a) memodifikasi faktor konversi format (KF) dan faktor normalisasi reliabilitas (KR) dalam standar ASTM D 5457 terhadap beban salju, atau (b) mengembangkan metode DFBK melalui pendekatan atau metode analisis reliabilitas inversi, untuk digunakan dalam standar SNI 7973:2013.
BPBL dengan berat labur 350 g m-2 SGL, memiliki pengaruh ukuran panjang kali tinggi balok terhadap MOR dengan faktor pengaruh ukuran n = 0.33 pada ukuran dasar tinggi balok d = 50 mm. Ketebalan balok tidak berpengaruh terhadap MOR, namun agak menurunkan nilai MOE dengan persamaan: MOE =−0.18(b)+24.6 (GPa), untuk b = tebal balok (mm). Secara statistis, model sebaran data MOR adalah Normal, Log-Normal, dan 2p-Weibull, sedangkan model sebaran yang sesuai dengan data MOE adalah Log-Normal.
Revisi nilai KF melalui analisis reliabilitas menghasilkan kenaikan nilai KR untuk kayu daun jarum dan kayu daun lebar, berturut-turut, sebesar 15 dan 26 % dari nilai KR yang dihitung ulang sesuai standar ASTM D 5457. Jika konstanta KR berbeban salju tidak direvisi, 15–26 % nilai desain berkurang dari yang sebenarnya.
Nilai tahanan nominal acuan, Rn, yang dihitung menggunakan nilai revisi KR sebaran 2p-Weibull hipotetis standar ASTM D 5457 tidak mencapai target indeks reliabilitas, T = 2.4, pada faktor tahanan, b = 0.85, untuk semua jenis bahan yang diteliti yang memiliki kesesuaian sebaran data MOR 80 %. Hal ini menunjukkan bahwa nilai KR asumsi sebaran 2p-Weibull teoritis dalam standar ASTM D 5457 kurang handal dalam capaian indeks reliabilitas.
Melalui metode analisis reliabilitas inversi, perhitungan nilai Rn berbasis sebaran empiris bahan menunjukkan bahwa estimasi nilai Rn tercapai pada target T = 2.4. Dengan cara ini produsen atau desainer harus melakukan analisis reliabilitas setiap kali ada produk baru. Walaupun demikian,metode ini lebih akurat dan lebih sederhana karena tidak membutuhkan banyak tabel seperti pada standar ASTM D 5457. Jika model sebaran data dianalisis dari data uji laboratorium yang telah memenuhi kondisi acuan atau terkoreksi sesuai standar, nilai Rn dapat langsung dipakai untuk perhitungan nilai desain acuan. Metode analisis reliabilitas inversi juga dapat diaplikasikan untuk desain batas kemampuan layan. Jika ditetapkan nilai target indeks reliabilitas sebesar T, pada faktor tahanan, d, analisis reliabilitas dapat digunakan untuk menghitung nilai MOE acuan.
Kinerja bahan BPBL dan KGS dipelajari melalui desain balok lantai. Secara mekanis, capaian panjang bentang meningkat dengan meningkatnya ukuran serta nilai MOE dan MOR balok. Panjang bentang dihitung menurut desain batas kekuatan dan kemampuan layan kemudian diambil yang terpendek di antara keduanya. Ukuran penampang bahan BPBL adalah 3, 4, dan 5×12 cm2, sedangkan bahan referensi KGS adalah 6×12 cm2. Desain beban yang digunakan adalah beban mati nominal Dn = 0.48 kN m-2 (10 psf), spasi antar balok 30.5 cm (12 inci), target lantai bangunan hunian (beban hidup 1.92 kN m-2 atau 40 psf) dan perkantoran (beban hidup 2.40 kN m-2 atau 50 psf) dengan panjang bentang 305 cm (10 ft). Target panjang bentang 305 cm (10 ft) selalu terlewati, jika dihitung menurut keadaan batas kekuatan menggunakan kombinasi beban mati dan beban hidup (D+L) pada rasio beban hidup terhadap beban mati, L/D = 5, yakni target bangunan perkantoran. Panjang bentang pada desain kemampuan layan lebih pendek dari yang dicapai pada desain batas kekuatan. Oleh sebab itu, desain kemampuan layan mengontrol desain balok lantai.
Nilai MOE nominal acuan, En, dihitung pada target indeks reliabilitas = 2.0, 1.5, dan 1.0 dan faktor tahanan, berturut-turut, d = 0.5, 0.6, dan 0.7 untuk kombinasi beban D+L dengan konstanta limit defleksi s = 240. Nilai En ini kemudian digunakan untuk menghitung panjang bentang yang ekuivalen dengan capaian panjang bentang pada prosedur desain kemampuan layan yang sedang digunakan yang didasarkan pada beban hidup layan dengan konstanta limit defleksi s = 360. Panjang bentang yang dicapai pada nilai T = 1.0 dan d = 0.7 ekuivalen dengan panjang bentang yang dihitung menurut prosedur desain kemampuan layan yang sedang digunakan, terutama untuk bahan dengan nilai koefisien variasi yang rendah, seperti bahan BPBL (CV = 15 %), pada target bangunan hunian dan perkantoran.
Hasil analisis reliabilitas menggunakan nilai En yang dihitung pada indeks reliabilitas T = 1.0 dan faktor tahanan d = 0.7, menunjukkan bahwa target panjang bentang 305 cm tercapai oleh bahan BPBL tebal 3 cm, KGS jenis P. merkusii dan kelompok kayu daun jarum hutan tanaman untuk target bangunan hunian, sedangkan untuk bahan BPBL tebal 4 dan 5 cm serta KGS kelompok kayu daun lebar hutan alam, target panjang bentang 305 cm tercapai pada target bangunan perkantoran. Jika spasi antar balok dinaikkan dari 30.5 cm (12 inci) menjadi 40.6 cm (16 inci), BPBL tebal 5 cm masih memiliki nilai indeks reliabilitas yang cukup tinggi dibanding yang dimiliki oleh bahan KGS daun lebar hutan alam, pada target panjang bentang 305 cm tersebut untuk target bangunan hunian.
Panjang bentang dan indeks reliabilitas yang dicapai oleh bahan BPBL tebal 3, 4, dan 5 cm mengindikasikan potensi serta keunggulan bahan komposit bambu yang terbuat dari bambu ater, yang tergolong jenis bambu dengan ketebalan dinding yang relatif tipis, sebagai komponen lentur, jika dibandingkan dengan bahan KGS kayu daun lebar hutan alam serta daun jarum hutan tanaman daerah beriklim tropis. Hal ini disebabkan oleh tingginya nilai MOE nominal acuan (19.62 – 21.46 GPa) serta rendahnya koefisien variasi (CV = 15 %) yang dimiliki oleh bahan BPBL
Sebaran Spasial dan Temporal Nutrien pada Danau Hias Crown Golf, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
Aktivitas antropogenik di sekitar danau dapat menyumbang masukan berupa limbah organik dan anorganik yang berpotensi menyebabkan penurunan kualitas perairan dan pengayaan nutrien danau. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sebaran nutrien di Danau Hias Crown Golf, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara secara spasial dan temporal. Pengambilan contoh dilakukan pada bulan September 2018 sampai Agustus 2019 pada empat stasiun pengamatan. Analisis data yang dilakukan terdiri dari sebaran spasial dan temporal nutrien (nitrogen dan fosfor) dengan ArcGIS 10.2 dan tingkat pencemaran dengan Water Quality Index (WQI) dan Indeks Pencemaran (IP). Secara spasial, terdapat perbedaan konsentrasi dan sebaran N dan P (total dan terlarut) pada keempat stasiun baik pada musim kemarau dan hujan. Secara temporal, konsentrasi nutrien yang terdiri nitrit, nitrat, fosfat terlarut, dan fosfat total lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan pada musim hujan sedangkan amonia dan nitrogen total tidak berbeda antarmusim. Danau Hias Crown Golf berada pada kondisi sedang-buruk berdasarkan nilai WQI dan cemar ringan-cemar sedang nilai berdasarkan IP
Penambahan Multienzim dalam Pakan untuk Meningkatkan Pertumbuhan Benih Ikan Nila Oreochromis niloticus
Produktivitas pendederan dapat dicapai melalui peningkatan efisiensi
pemanfaatan pakan dengan meningkatkan kinerja saluran pencernaan ikan. Upaya
dalam meningkatkan kecernaan benih yaitu dengan penambahan exogenous enzyme
dalam pakan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian
multienzim dalam pakan terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis
niloticus fase pendederan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap
(RAL) dengan empat perlakuan pakan komersial yang diberi multienzim dengan
dosis 0, 1, 2, dan 3 g kg-1 pakan sebanyak tiga ulangan. Benih ikan nila yang
dipelihara berukuran 1,12±0,09 g dan dipelihara selama 30 hari. Hasil penelitian
menunjukan pemberian pakan yang ditambahkan multienzim dosis 1, 2, 3 g kg-1
pakan secara ad statiation dengan frekuensi 3 kali sehari dapat meningkatkan
pertumbuhan secara signifikan. Pemberian multienzim tidak berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup dan rasio panjang usus/panjang total benih ikan. Kesimpulan
yang didapat bahwa pemberian multienzim dengan dosis 1 g kg-1 pakan cukup
efektif untuk meningkatkan produktivitas pendederan benih nila
Keragaman dan Tanggap Produksi Daun Enam Aksesi Kelor (Moringa oleifera Lam.).
Tanaman kelor yang kaya akan gizi dapat digunakan untuk mengatasi
kekurangan gizi anak-anak di negara berkembang. Tanaman kelor memiliki
keragaman morfologi yang tinggi sehingga perlu dilakukan analisis keragaman
yang dapat digunakan sebagai perakitan aksesi kelor. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui tanggap produksi daun enam aksesi kelor dan keragaman aksesi kelor
berdasarkan karakter morfologi kuantitatif dan kualitatif. Penelitian dilaksanakan
di Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor dari bulan Oktober 2018
sampai Januari 2019. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak
lengkap dengan faktor tunggal yaitu aksesi kelor. Hasil percobaan menunjukkan
aksesi Cirebon dan Bogor menghasilkan bobot basah panen yang tinggi
dibandingkan aksesi lainnya. Hasil analisis dendrogram berdasarkan gabungan
karakter kuantitatif dan kualitatif memperlihatkan ada 2 kelompok utama.
Kelompok pertama terdiri atas aksesi Bogor dan Cirebon. Kelompok kedua terdiri
atas aksesi Kediri, Pasuruan, Probolinggo dan Lhokseumawe
Manajemen Risiko di Objek Wisata Air Terjun Sawer, Resort Situ Gunung, Taman Nasional Gunung Gede
Objek wisata Air Terjun Sawer di Resort Situ Gunung merupakan salah satu
daya tarik wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).
Identifikasi terhadap sumber bahaya, bahaya, dan risiko pada suatu kawasan perlu
dilakukan agar pengelola dapat mengidentifikasi risiko yang bisa menimbulkan hal
buruk kepada wisatawan. Sumber bahaya merupakan segala hal yang dapat
menimbulkan bahaya baik sumber bahaya yang berasal dari lingkungan, sumber
bahaya manajemen, dan sumber bahaya perilaku manusia. Potensi bahaya yang
dapat terjadi di antaranya adalah jatuh ke jurang, tergelincir diakibatkan batu licin,
terkena tumbuhan yang menyebabkan gatal-gatal di kulit, terkena hipotermia
diakibatkan suhu air yang sangat dingin dan terjadinya air bah dikarenakan curah
hujan yang tinggi sehingga debit air naik secara drastis. Manajemen risiko
merupakan proses pengelolaan yang terdiri dari kegiatan identifikasi, evaluasi dan
pengendalian yang berhubungan dengan tercapainya tujuan organisasi dan
perusahaan untuk memutuskan opsi mitigasi dan strategi kontrol yang efektif
terhadap sumber bahaya. Teknis keselamatan pengunjung pada objek wisata Air
Terjun Curug Sawer disusun sebagai upaya perlindungan atau keselamatan
pengunjung di objek wisata tersebut
Pemanfaatan Adsorben Berbasis Limbah Pulp Kopi untuk Penjerapan Logam Timbal (Pb).
Pulp kopi dapat dimanfaatkan sebagai adsorben untuk menjerap logam Pb dalam
limbah cair. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari penambahan senyawa
xanthat adsorben pulp kopi dan menentukan kinerja adsorpsi adsorben, serta menentukan
analisis kelayakan ekonomi pemanfaatan pulp kopi menjadi adsorben. Tahapan dimulai dengan
persiapan bahan, pembuatan larutan timbal, proses xanthasi, penentuan kinerja adsorben, dan
perhitungan kelayakan ekonomi. Penentuan kinerja adsorben dilakukan terhadap larutan timbal
80 mg/L dengan jumlah massa adsorben 0.2, 0.4, 0.6, 0,8 dan 1 gram, serta 1 gram adsorben
non xanthat sebagai pembanding kinerja. Pengujian FTIR pada adsorben xanthat mendapatkan
hasil gelombang 3272.33 cm-1 dengan intensitas cahaya (%T) 6% dan adsorben non xanthat
mendapatkan hasil pada gelombang 3427.87 cm-1 dengan intensitas cahaya (%T) 35%.
Pengujian logam dengan AAS mendapatkan kapasitas adsorpsi sebesar 19.925 mg/g dan kadar
adsorpsi adsorben terxanthat sebesar 80.43% dengan kadar adsorpsi pembanding sebesar
43.75% . Perhitungan menggunakan metode Freundlich mendapatkan koefisien dan nilai n
berturut sebesar 0.06809 dan 0.62073 dengan R sebesar 0.7495. Analisis kelayakan ekonomi
untuk adsorben terxanthat menghasilkan B/C ratio sebesar 1.65 dengan harga pokok produk
(HPP) Rp784 900/Kg dan biaya jual Rp1 300 000 /Kg
Ketahanan Batang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Terfurfurilasi terhadap Serangan Rayap Tanah Melalui Uji Kubur
Pemanfaatan pada bagian batang kelapa sawit (BKS) (Elaeis guineensis Jacq.) masih belum optimal karena BKS umumnya dibakar atau dibiarkan menumpuk. Batang kelapa sawit memiliki sifat keawetan yang rendah dimana BKS termasuk kedalam kelas awet V. Untuk meningkatkan keawetan BKS maka perlu dilakukan modifikasi kimia melalui proses furfurilasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan konsentrasi dan lama perendaman BKS pada larutan furfuril alkohol (FA) paling optimal kemudian diuji terhadap serangan rayap tanah melalui uji kubur (graveyard test). Batang kelapa sawit direndam dengan FA 25%, 50% dan 100% masing-masing selama 6 jam, 12 jam dan 24 jam. Pengujian kubur mengikuti standar ASTM D 1758-06 yang telah dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan peningkatan konsentrasi FA dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap nilai WPG, kadar air, WL dan ketahanan terhadap rayap tanah pada BKS. Perlakuan FA pada konsentrasi 50% selama 6 jam menunjukkan nilai yang baik untuk ketahanan BKS terhadap serangan rayap untuk pengujian selama 3 bulan, namun untuk pengujian yang lebih lama seyogyanya dengan konsentrasi 100% selama 24 jam agar weight percent gain minimal 40%
Generalisasi Isometrik Gödel dan Persamaan Keadaan Alam Semesta Rotasi dengan Densitas Energi Vakum.
Model kosmologi Gödel dengan metrik yang identik dapat ditemukan pada solusi medan fluida sempurna melalui asumsi parameter tunggal dalam permisalan fungsi tebakan (D(x) = bE(x) 2 ) pada metrik ansatz. Solusi persamaan medan yang telah diselesaikan memiliki bentuk generalisasi yang membawa solusi memiliki beberapa metrik dalam bentuk lain. Solusi isometrik juga dapat ditemukan dalam persamaan medan dengan suku densitas energi vakum (p��). Penambahan suku tersebut menghasilkan metrik yang sama namun dengan solusi persamaan keadaan yang berbeda. Telah diperkenalkan nisbah densitas energi vakum dengan densitas energi ( p��/pc 2 ) pada persamaan keadaan. Nisbah tersebut memiliki pengaruh pada persamaan keadaan untuk beberapa keadaan tertentu. Persamaan keadaan dengan nisbah tersebut dapat memberi beberapa petunjuk untuk masalah konstanta kosmologi
Distribusi dan Keanekaragaman Bentuk Pertumbuhan (Lifeform) Karang di Perairan Pulau Badi, Makassar, Sulawesi Selatan
Terumbu karang merupakan padatan yang terdiri dari kalsium karbonat
berada di dasar laut dan memiliki berbagai macam bentuk pertumbuhan. Faktor fisik
yang dapat mempengaruhi perkembangan terumbu karang yaitu suhu perairan,
kedalaman perairan, dan salinitas perairan. Penelitian ini dilakukan untuk
memberikan informasi mengenai distribusi keanekaragaman bentuk pertumbuhan
yang diperlukan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi keberadaan terumbu
karang di Pulau Badi, Makassar, Sulawesi Selatan. Penentuan pengambilan data
bentuk pertumbuhan karang dilakukan pada 4 stasiun di 2 kedalaman (3 meter dan
10 meter) sesuai arah mata angin meggunakan metode LIT. Terdapat 4 kategori
tutupan karang bentik yaitu karang keras hidup (KKH), abiotik, Dead Coral, dan
Fauna Lain yang didominasi oleh KKH sebesar 59,05%. Distribusi bentuk
pertumbuhan karang tersebar rata di kedalaman 3 meter dan 10 meter yang
didominasi oleh acropora encrusting, coral massive, dan coral encrusting.
Keanekaragaman bentuk pertumbuhan karang di wilayah penelitian perairan Pulau
Badi, Makassar, Sulawesi Selatan berdasarkan nilai keanekaragaman dan
keseragaman tergolong sedang dan dikategorikan stabil
Pengaruh Kalium Permanganat terhadap Mutu Fisik Tandan Buah Segar Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman industri yang cukup penting dan berperan dalam pembangunan nasional. Kualitas minyak sawit (CPO dan KPO) dipengaruhi oleh Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. TBS yang berkualitas memiliki mutu fisik dan mutu kimia yang baik. Kerusakan yang terjadi pada buah kelapa sawit menyebabkan proses hidrolisis semakin cepat sehingga kadar asam lemak bebas semakin meningkat dan kadar minyak semakin menurun. Kerusakan disebabkan oleh proses pascapanen buah seperti lamanya pengangkutan menuju pabrik, dan pengumpulan buah yang tertunda. Perlakuan selama penundaan proses pengolahan harus tepat agar kerusakan-kerusakan yang terjadi pada buah dapat diminimalisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh waktu aplikasi kalium permanganat, konsentrasi dan interaksi keduanya terhadap mutu fisik tandan buah segar kelapa sawit. Penelitian dilaksanakan di Kebun Pendidikan dan Penelitian Kelapa Sawit IPB-Cargill, Jonggol dan Laboratoriun Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB pada bulan Februari – Maret 2020. Penelitian menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor dengan tiga kali pengulangan. Faktor pertama yaitu waktu aplikasi (sebelum dan sesudah panen) dan faktor kedua konsentrasi kalium permanganat (0 ppm, 1 500 ppm, 3 000 ppm, 4 500 ppm dan 6 000 ppm). Percobaan menunjukkan bahwa interaksi antara waktu aplikasi sebelum panen dengan konsentrasi kalium permanganat 1 500 ppm mampu mempertahankan laju respirasi, suhu buah, dan kadar air. Interaksi dengan konsentrasi 3 000 ppm mempertahankan susut bobot dan kerontokan buah