Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Evaluasi Pemanfaatan Kayu Apu (Pistia stratiotes L.) sebagai Campuran Pakan terhadap Performa dan Karkas Itik Hibrida

    No full text
    Pistia stratiotes L. merupakan tanaman air yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang baik sehingga berpotensi untuk digunakan sebagai pakan ternak seperti itik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pemanfaatan kayu apu sebagai campuran pakan terhadap performa, karkas, dan Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Penelitian ini menggunakan 128 ekor DOD (day old duck) itik hibrida. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut adalah pakan tanpa pemberian kayu apu (P0), pakan mengandung 10% kayu apu (P2), pakan mengandung 20% kayu apu (P2), dan pakan mengandung 30% kayu apu (P3). Kayu apu diberikan pada itik dalam keadaan segar. Peubah yang diamati adalah performa, bobot karkas, persentase karkas, persentase bagian karkas, persentase bagian nonkarkas, serta Meat Bone Ratio. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian kayu apu sebagai campuran pakan tidak berbeda nyata terhadap nilai konversi pakan, bobot badan, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio pada itik hibrida. Perlakuan P2 dapat meningkatkan nilai IOFC dengan margin keuntungan sebesar 48.57%. Simpulan dari penelitian ini adalah kayu apu dapat digunakan sampai 30% sebagai pakan itik tanpa menurunkan performa, persentase karkas, maupun Meat Bone Ratio, serta dapat meningkatkan IOFC

    Paradoks Undang – Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa : Konstruksi Dan Transformasi Sosial Komunitas Adat Ammatoa Kajang

    No full text
    Penetapan Undang – Undang Desa No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa membuka babak baru tradisi berdesa Perbedaan menonjol dalam Undang – Undang Desa terletak pada asasnya, Undang – Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah berasaskan desentralisasi-residual berkedudukan sebagai pemerintahan di bawah sistem pemerintahan kabupaten/kota. Sementara, Undang – Undang Desa berkedudukan berasaskan rekognisi-subsidiaritas sebagai pemerintahan masyarakat. Undang – Undang Otoda menempatkan desa di bawah kontrol dan kewenangan pengaturan pemerintahan kota sedangkan Undang – Undang Desa baru ini memberikan kewenangan lebih luas untuk mengatur kelembagaan dan masyarakatnya sendiri. Undang – Undang ini pula memberikan hak politik kepada masyarakat mengatur dirinya berdasarkan asal – usulnya disebut rekognisi dan desa memiliki kewenangan lebih luas menyelenggarakan pemerintah disebut subsidiaritas Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis konstruksi sosial pemerintah dan Komunitas adat dalam pengimplementasian asas rekognisi dan subsidiaritas Undang – Undang Desa terhadap komunitas Ammatoa Kajang dalam pembangunan, (2) Mengidentifikasi posisi Komunitas Adat Ammatoa Kajang dalam praktik – praktik pembangunan, (3) Menerangkan pola transformasi sosial yang berlangsung dari tahun 2004 – 2017 dalam komunitas Ammatoa Kajang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme dan pendekatan yang digunakan yakni studi kasus, etnografi, dan historiografi. Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan Fokus Group Discussion (FGD). Sementara, data sekunder diperoleh melalui penelitian terdahulu, profil desa, dan Badan Pusat Statistik. Pemilihan informan dilakukan dengan purposive sampling dan snowball yang memahami implementasi Undang – Undang Desa dan komunitas adat Ammatoa Kajang. Dari kriteria tersebut, penelitian ini melibatkan 26 informan yang terdiri dari 14 orang anggota komunitas Adat Ammatoa Kajang, Pihak pemerintah terdiri dari 9 orang, dan Lembaga Swadaya Pemerintah terdiri dari 3 orang. Penelitian ini dimulai dari pada bulan Februari sampai bulan Mei tahun 2019 yang berlokasi di Desa Tanah Towa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian ini menemukan implementasi Undang – Undang Desa di Desa Tanah Towa menunjukkan konstruksi sosial rekognisi yang paradoks antara pihak pemerintah dan komunitas adat Ammatoa Kajang. Paradoks konstruksi sosial rekognisi ketika yakni (1) aspek budaya, negara tidak menjadikan pasang (pesan, wasiat, risalah, dan amanah) sebagai sistem pengetahuan dan praktik kebudayaan dalam kelembagaan pendidikan formal, (2) aspek politik negara masih mempertahankan warisan orde baru sebagai sistem tatanan lama tetap dipertahankan sebagai sistem pemerintahan integral antara pemerintahan formal (desa administratif) dan pemerintahan adat menyatu dalam satu bentuk pemerintahan yakni pemerintahan formal desa. Di dalam Undang – Undang Desa sendiri sebagai tatanan tradisi baru berdesa menempatkan kelembagaan adat di bawah sistem pemerintahan formal, (3) pada aspek ekonomi komunitas adat Ammatoa Kajang masih ditempatkan sebagai objek pembangunan dan pengembangan ekonomi dan bertentangan dengan ajaran pasang, (4) aspek hukum, komunitas adat Ammatoa Kajang masih memiliki sistem hukum yang masih hidup, (5) rekognisi diberikan melalui penguatan kohesivitas dan soliditas masyarakat melalui program – program gotong royong. Paradoks Konstruksi Sosial Keberadaan elite kognitif di dalam masyarakat menyebabkan gap atau kesenjangan kepentingan dalam proses pengaturan kemasyarakatan. Gap kepentigan dan realitas konstruksi sosial terhadap Undang – Undang Desa secara ekspresif tidak nampak ke atas permukaan. Diskursus Undang – Undang Desa khususnya asas rekognisi – subsidiaritas terkait perubahan status desa adat dan penyusunan regulasi dengan Peraturan Daerah nomor 9 tahun 2019 (Perda Bulukumba 9/2015) tentang pengukuhan, pengakuan, dan perlindungan hak masyarakat hukum adat Ammatoa Kajang hanya diserap oleh kalangan elite kognitif yakni pemangku kepentingan yakni Cifor, Aman, dan Balang Institut sebagai inisiator dalam penyusunan Perda Bulukumba 9/2015. Wacana perubahan status Desa Tanah Towa menjadi desa adat berada pada pada level wahana primer yakni birokrasi dan penyelenggara pemerintahan formal. Pembentukan desa adat diiniasiasi oleh pemerintahan daerah, provinsi, dan pusat. Sementara, di pihak pemerintah desa masih kebingungan dalam menentukan arah perubahan status tersebut. Diskursus perubahan Desa Biasa menjadi Desa Adat belum sampai di level masyarakat. Ini menunjukkan bahwa konstruksi atas rekognisi – subsidiaritas dilakukan di level wahana primer saja di pemerintahan formal. Oleh karena itu, responds komunitas adat Ammatoa Kajang terhadap perubahan status desa tidak sampai pada keinginan berubah atau tidak berubah. Implementasi Undang – Undang Desa memposisikan komunitas adat Ammatoa Kajang Komunitas sebagai objek dari kebijakan. Posisi komunitas adat Ammatoa Kajang dalam praktik – praktik pembangunan dapat dilihat pertama, komunitas adat Ammatoa Kajang diposisikan sebagai objek kebijakan melalui konstruksi stigmatisasi atau stereotipe; kedua, komunitas adat Ammatoa Kajang diposisikan sebagai komunitas kecil yang bertahan dalam menjaga spirit yang nilai dan tatanan sosial yang dimiliki komunitas adat Ammatoa Kajang; ketiga, komunitas adat Ammatoa Kajang sudah terekonstruksi melalui praktik – praktik pembangunan dengan perubahan sikap kebudayaan. Proses transformasi sosial yang berlangsung di komunitas adat Ammatoa Kajang didasari dengan keterlekatan modus resiprokal, distribusi dan tata rumah tangga komunitas adat berdasarkan pada hubungan kekerabatan. Kohesivitas dan soliditas di antara anggota komunitas adat Ammatoa Kajang disebabkan karena hubungan kerabat antar rumah tangga dalam satu komunitas. Proses tranformasi yang berlangsung memiliki dua tipologi, transformasi sosial yang berlangsung di komunitas yang di Pantarang Embayya bersifat Involusi sedangkan Ilalang Embayya bersifat siklikal

    Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Financial Distress BPR di Indonesia

    No full text
    Sektor perbankan memiliki peranan penting dalam perkembangan perekonomian di Indonesia. Namun, peranan yang penting ini tidak diimbangi dengan peningkatan kinerja. Hal ini mengakibatkan jumlah BPR yang dilikuidasi di Indonesia terus mengalami peningkatan. Likuidasi yang dilakukan oleh LPS disebabkan karena BPR mengalami kesulitan keuangan (financial distress). Financial distress adalah tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum kebangkrutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat financial distress, dan meneliti faktor-faktor kinerja keuangan (ROA, NPL, BOPO, CAR, dan LDR) yang memengaruhi financial distress BPR di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan 320 BPR periode 2015-2019. Metode purposive sampling digunakan dalam menentukan sampel. Penelitian menggunakan metode Springate untuk memprediksikan tingkat financial distress dan analisis faktor-faktor menggunakan regresi data panel. Hasil dari penelitian menunjukkan variabel ROA, NPL dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap financial distress, sedangkan variabel CAR dan LDR tidak berpengaruh signifikan

    Perbanyakan Mikro dan Karakter Morfo-genetika Talas (Colocasia esculenta) Kultivar Kaliurang Diploid dan Tetraploid

    No full text
    Talas Kaliurang merupakan tanaman umbi sebagai pangan fungsional. Kultivar ini toleran terhadap hama dan penyakit tertentu, selain rasanya yang enak. Untuk pengembangannya, talas Kaliurang memiliki kendala dalam penyediaan benih bermutu. Benih unggul dapat diupayakan melalui induksi poliploid. talas Kaliurang tetraploid telah berhasil dihasilkan oleh Ermayanti et al. (2018). Kendala dalam penyediaan benih yang terbatas dapat diupayakan melalui perbanyakaan mikro dengan teknik kultur in vitro. Komposisi media untuk perbanyakan mikro menjadi faktor penting dalam keberhasilan proses ini, komposisi media untuk menunjang penyediaan benih talas Kaliurang belum pernah dilakukan. Informasi morfologi talas Kaliurang (diploid dan tetraploid) juga belum pernah diinformasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media yang optimum untuk perbanyakan mikro tanaman talas Kaliurang diploid dan tetraploid menggunakan perlakuan tiamin dan adenin pada media dasar (media MS dengan penambahan 2 mg/L BAP), hingga proses aklimatisasinya, dan memastikan kestabilan tingkat ploidi talas Kaliurang tetraploid setelah perlakuan perbanyakan mikro dan menganalisis karakter morfologi dan genetik talas Kaliurang diploid dan tetraploid. Penelitian ini dilakukan sejak Mei 2018 hingga September 2019. Sampel yang digunakan adalah stok tunas in vitro, koleksi Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cibinong. Perbanyakan mikro dilakukan pada klon diploid dan tetraploid hasil induksi poliploid dengan kolkisin, pada media dasar (MS dengan penambahan 2 mg/L BAP) dengan enam kombinasi perlakuan tiamin dan adenin. Pertumbuhan tanaman diamati setiap minggu selama enam minggu, pada jumlah tunas, daun, dan akar, serta panjang petiol. Tingkat ploidi diamati menggunakan alat flositometer, untuk mengkonfirmasi stabilitas ploidi tanaman tetraploid. Karakter morfologi dicatat, mengacu pada Mayo et al. (1997) dan IPGRI (1999), dan dianalisis keragamannya dengan metode UPGMA menggunakan NTSys 2.11. Analisis morfometrik geometris dilakukan dalam tiga langkah utama: Digitasi daun menggunakan tpsDig untuk memperoleh data kuantitatif, analisis statistik untuk mengevaluasi variasi bentuk menggunakan tpsRelw dan tpsSplin, dan analisis kelompok berdasarkan jarak euclideus menggunakan program R versi 3.6.1. Analisis molekuler dilakukan dengan mengisolasi DNA dari daun menggunakan kit Zymo plant. Amplifikasi PCR dengan 20 primer ISSR pada suhu 35 – 60 ᴼC. Hasil PCR diamati menggunakan elektroforesis dan difoto menggunakan GelDoc. Pita polimorfik diberi skor menjadi data biner, dan dikompilasi dalam matriks data, yang akan digunakan untuk mengetahui keragamannya dengan metode UPGMA menggunakan NTSys 2.11. Hasil penelitian menunjukkan penambahan 4 mg/L tiamin dan 2 mg/L adenin pada media dasar merupakan media optimal untuk perbanyakan mikro talas Kaliurang, dengan rata-rata 3.45 tunas. Persentase keberhasilan aklimatisasi mencapai 99.1 %. Ploidi tanaman telah stabil. Secara fenotipik, tanaman tetraploid menunjukkan perubahan fenotipe yang memisahkannya dari diploidnya. Ciri morfologi berbeda pada 22 karakter morfologi, yaitu karakter Is, Ts, VSbZ, VSbY, AbC, AdC, TP, TC, SbC, AdVL1C, AdVL2C, AdVL3C, UpC, UpT, TpC, pC, pdCo, pCo, ptDoC, BptC, GptC dan Td. Analisis morfologi menunjukkan adanya 2 kelompok besar, dengan koefisien kemiripan 0.35 – 0.78. Kelompok I terdiri dari klon K0 dan kelompok II dibagi menjadi 2 sub-kelompok, sub-kelompok A yang terbagi dari klon K1 dan K2, dan sub-kelompok B terdiri dari K3. Karakter morfometri berbeda pada titik Ts, Vn1, Vn,2 Vn3, dan Vp. Morfometri daun terbagi menjadi 3 kelompok, kelompok I terdiri dari K0, kelompok II terdiri dari K2, dan kelompok III memasukkan klon K1 dan K3. Tanaman tetraploid menunjukkan perubahan genetik dari diploidnya hanya pada klon K2 dan K3, yaitu pada primer (CT)8G T400, (AG)8YC T350,750, (AC)8CYT T350 dan (CTC)6 T1000, sedangkan klon K1 tidak berbeda kelompok dengan diploidnya. Penanda ISSR menunjukkan 2 kelompok; kelompok I terdiri dari klon K0 dan K1, dan kelompok II terdiri dari klon K2 dan K3, dengan koefisien kemiripan antara kedua kelompok 0.71

    Zat Warna dari Jamur Pelapuk Kayu sebagai Alternatif Pewarna Tekstil

    No full text
    Jamur pelapuk kayu merupakan jamur makro yang memiliki potensi sebagai pewarna alami. Penelitian ini bertujuan menguji zat warna yang terdapat pada tubuh buah jamur pelapuk kayu pada benang kapas, kain katun dan benang wol. Pengambilan sampel dilakukan di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor dengan metode eksplorasi. Tubuh buah jamur diekstrak dengan air untuk mendapatkan zat warna dan diuji spektrum emisi fluoresensinya. Uji pewarnaan larutan ekstrak jamur pada benang kapas, kain katun, serta benang wol dilakukan dengan perlakuan dua macam mordan (alum dan iron) dan tanpa mordan. Bahan tekstil yang telah diuji warna selanjutnya diuji ketahanan luntur warnanya menggunakan larutan deterjen 1%. Jamur pelapuk kayu yang diperoleh pada penelitian ini sebanyak enam jenis, yaitu Ganoderma sp., Lentinus squarrosulus, Microporus xanthopus, polypore 1, polypore 2, dan polypore 3. Larutan pewarna hasil ekstraksi tubuh buah semua jenis jamur berwarna jingga muda hingga coklat. Pengukuran emisi fluoresensi larutan ekstrak jamur menunjukkan panjang gelombang optimum seluruh jenis jamur berkisar antara 511 nm – 529 nm. Uji pewarnaan menunjukkan benang wol paling baik menyerap zat warna dan warna yang dihasilkan ialah coklat. Mordan tidak mempengaruhi hasil pewarnaan pada penelitian ini. Hasil uji kelunturan menunjukkan warna pada benang wol lebih tahan terhadap pencucian dengan deterjen 1% dibandingkan warna pada benang kapas dan kain katun

    Distribusi dan Kelimpahan Relatif Jenis Hiu dengan Menggunakan DNA Lingkungan (eDNA) di Perairan Raja di Ampat, Wakatobi, dan Lombok

    No full text
    Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman jenis hiu tertinggi di dunia. Indonesia memiliki 117 jenis hiu yang dapat ditemukan di perairan Indonesia dari total 500 jenis hiu yang ada. Beberapa perairan Indonesia yang diketahui sebagai tempat ditemukannya hiu adalah Raja Ampat, Wakatobi, dan Lombok. Penelitian ini menggunakan teknik DNA lingkungan dan platform Multiplex Barcode Research And Visualization Environment (mBRAVE) untuk melihat distribusi jenis hiu di ketiga wilayah penelitian dan menilai kelimpahan relatifnya. Hasil tersebut kemudian disesuaikan dengan daftar IUCN Red List dan CITES untuk mengetahui status konservasi dan status perdagangannya. Pengambilan sampel air laut dilakukan di Raja Ampat, Wakatobi, dan Lombok. Penelitian ini menemukan bahwa Raja Ampat memiliki kelimpahan relatif jenis hiu tertinggi, sebanyak 16 dari total 19 jenis hiu yang teridentifikasi berada di Raja Ampat. Wakatobi merupakan wilayah dengan kelimpaharan relatif jenis hiu terendah karena hanya terdapat 5 dari total 19 jenis hiu yang teridentifikasi. Persentase kelimpahan relatif jenis hiu terbesar di Raja Ampat dimiliki jenis Sphyrna lewini (31%) dan Rhizoprionodon oligolinx (28%) dari total 5500 sekuens yang terbaca. Persentase kelimpahan relatif jenis hiu terbesar di Wakatobi dimiliki jenis S. zygaena (74%) dari total 74 sekuens yang terbaca. Persentase kelimpahan relatif jenis hiu terbesar di Lombok dimiliki jenis Rhincodon typus (41%), R. oligolinx (29%) dan Atelomycterus erdmanni (15%) dari total 634 sekuens yang terbaca. Raja Ampat dan Lombok memiliki sembilan jenis hiu yang sama sedangkan Raja Ampat dan Wakatobi hanya memiliki empat jenis hiu yang sama. Wakatobi dan Lombok memiliki empat jenis hiu yang sama. Oleh karena itu, nilai kesamaan keanekaragaman tertinggi dimiliki oleh Raja Ampat dan Lombok sebesar 0,5. Berdasarkan kategori Red List IUCN, satu jenis hiu yang teridentifikasi berada dalam kategori Not Evaluated (NE), dua jenis termasuk Least Concern (LE), tujuh jenis termasuk Near Threatened (NT), tiga jenis termasuk Vulnerable (VU), empat jenis termasuk Endangered (EN) dan dua jenis termasuk Critically Endangered (CR). Berdasarkan kategori CITES, terdapat enam jenis yang termasuk dalam kategori Apendiks II. Data yang disajikan diharapkan dapat menjadi data pendukung dalam merancang strategi konservasi jenis hiu di Indonesia

    Faktor-faktor yang Memengaruhi Awareness Produk Makanan Instan Impor Berlabel Halal Bagi Mahasiswa S1 IPB

    No full text
    Populasi muslim dunia meningkat setiap tahunnya. Indonesia dengan populasi penduduk muslim terbesar menjadikannya memiliki potensi pangsa pasar halal terbesar. Selain itu, Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang menganut sistem perekonomian terbuka, maka melakukan ekspor dan impor produk. Salah satu konsumennya adalah mahasiswa program sarjana (S1) IPB yang merupakan universitas lima besar terbaik di Indonesia. Tujuan dari penelitian menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi awereness produk makanan instan impor berlabel halal bagi mahasiswa S1 IPB. Teknik pengambilan contoh pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan responden 68 orang. Metode pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS). Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi awareness pada produk makanan instan impor halal secara keseluruhan adalah halal certification, health reason, dan religious belief dengan tingkat awareness termasuk pada kategori cukup/moderat

    Analisis Pendapatan dan Persepsi Masyarakat terhadap Usaha Ternak Ayam Pedaging Adhita Farm

    No full text
    Wilayah di daerah Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, yaitu di Kecamatan Getasan, merupakan salah satu daerah yang masyarakatnya banyak melakukan usaha ternak ayam pedaging. Peternak di Kecamatan Getasan, tepatnya di Desa Polobogo, yang mengusahakan peternakan ayam pedaging adalah usaha ternak ayam pedaging Adhita Farm. Dalam menjalankan kegiatan usaha ternak ayam pedagingnya, Adhita Farm melakukan kerja sama (bermitra). Tingginya harga pakan dan DOC yang diberikan dari perusahaan mitra mempengaruhi kondisi pendapatan peternak, karena biaya pemeliharaan yang menjadi beban peternak meningkat. Usaha ternak ayam pedaging Adhita Farm juga menimbulkan respon dari masyarakat sekitar karena adanya dampak yang dirasakan masyarakat terhadap aktivitas produksi ayam pedaging. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis pendapatan usaha ternak ayam pedaging Adhita Farm. 2) Menganalisis persepsi masyarakat Desa Polobogo terhadap usaha ternak ayam pedaging Adhita Farm. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan dengan analisis R/C-ratio, analisis deskriptif, dan skala likert dengan jumlah responden sebanyak 54 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh peternak Adhita Farm bernilai positif, usaha ternak ayam pedaging Adhita Farm telah efisien dan menguntungkan. Hal ini terlihat dari nilai R/C-ratio yang menunjukkan nilai lebih besar dari satu yaitu sebesar 1.24. Persepsi responden terhadap adanya usaha ternak ayam pedaging Adhita Farm terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan menunjukkan adanya persepsi positif

    Ketahanan Kayu Tusam (Pinus merkusii) Terimpregnasi Furfuril Alkohol terhadap Rayap Tanah melalui Uji Kubur

    No full text
    Kayu tusam termasuk ke dalam kelas kuat III dan kelas awet IV, bersifat atraktan, dan sangat disukai oleh rayap, serta berpotensi untuk ditingkatkan keawetannya dengan impregnasi furfuril alkohol. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan ketahanan kayu tusam terimpregnasi furfuril alkohol dengan pengawet komersil Premise 70WG dengan bahan aktif imidakloprid dan kontrol atau kayu tusam tanpa perlakuan impregnasi terhadap rayap tanah melalui uji kubur. Kayu tusam diimpregnasi menggunakan metode vakum tekan. Pengujian ketahanan kayu mengikuti standar ASTM D 1758-08 yang dimodifikasi. Hasil menunjukkan rata-rata weight percent gain kayu furfurilasi 33,40% dan retensi bahan pengawet 2,68 kg.m-3. Sementara itu, ratarata kerapatan kayu furfurilasi, imidakloprid, dan kontrol masing-masing sebesar 0,91 g.cm-3, 0,68 g.cm-3, dan 0,63 g.cm-3. Kayu furfurilasi signifikan terhadap kayu imidakloprid dan kontrol pada nilai kadar air. Rata-rata perubahan warna kayu tusam terfurfurilasi dan terawetkan imidakloprid terhadap kontrol masing-masing sebesar 30,24 dan 6,12. Namun, nilai kehilangan berat menunjukkan hasil yang serupa antara kayu furfurilasi dan diawetkan imidakloprid. Nilai daya tahan kayu berdasarkan ASTM D1758-06 menunjukkan nilai yang tidak berbeda nyata pada kayu furfurilasi dan imidakloprid, namun keduanya berbeda nyata terhadap kontrol. Furfuril alkohol memberikan pengaruh yang serupa dengan imidakloprid terhadap ketahanan kayu tusam, sehingga furfuril alkohol berpotensi untuk digunakan sebagai pengawet komersil untuk proses furfurilasi

    Prediksi Jumlah Kendaraan yang Melintas Menggunakan Analisis Random Forest.

    No full text
    Informasi mengenai jumlah kendaraan yang melintasi suatu lokasi dibutuhkan banyak pihak, baik pemerintah maupun swasta. Permasalahan di lapangan, yaitu dibutuhkannya perhitungan jumlah kendaraan roda empat atau lebih yang akurat dan cepat. Pemodelan statistika dapat digunakan untuk membantu dalam prediksi jumlah kendaraan serta peubah yang berpengaruh terhadap jumlah kendaraan yang melintasi suatu lokasi. Salah satu pemodelan yang dapat digunakan untuk mengetahui hal tersebut dengan akurasi yang tinggi adalah analisis regression random forest dan ordinal random forest. ..

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇