Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) di PG. Madukismo PT. Madubaru, Yogyakarta dengan Aspek Khusus Hubungan Produktivitas dan Pola Tanam

    No full text
    Beberapa wilayah kerja tanaman tebu ditanam pada pola tanam yang berbeda berdasarkan tipologi dan kesesuain lahan. Pada lahan sawah yang ditanami tanaman tebu kebutuhan air dicukupi dengan air irigasi, sedangkan di lahan tegalan kebutuhan air diperoleh dari hujan. Sebagian besar lahan tebu saat ini adalah lahan tegalan sehingga pola tanamnya pada awal musim hujan. Tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara pola tanam dengan produktivitas pada tiap tipologi lahan. Kajian dilakukan pada 20 Januari hingga 19 Mei 2020 di PG. Madukismo PT. Madubaru, Yogyakarta. Data yang diamati adalah produktivitas, brix untuk dasar perhitungan rendemen, dan kegiatan wawancara dengan petani tebu. Hasil pengamatan pada dua wilayah kerja PG. Madukismo Bantul dan Sleman menunjukkan bahwa pada taksasi Maret pola tanam I (Mei-Agustus) memiliki produktivitas dan rendemen lebih tinggi dari pola tanam II (Oktober-Desember). Rata-rata produktivitas pada wilayah Bantul dan Sleman pada pola tanam I sebesar 834 ku ha-1 dan 802 ku ha-1 sedangkan pola tanam II sebesar 444 ku ha-1 dan 487 ku ha-1. Rendahnya produktivitas pola tanam II merupakan hasil taksasi Maret jika dilakukan tebang awal. Hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan penundaan waktu panen. Pola tanam I dan pola tanam II memiliki perbedaan terhadap korelasi produktivitas dan rendemen. Pola tanam I tidak berkorelasi nyata dengan produktivitas dan rendemen disebabkan sudah tidak ada pemanjangan batang dan penambahan bobot batang pada tanaman dikarenakan tanaman sudah mencapai kemasakan optimum. Pola tanam II berkorelasi nyata terhadap produktivitas dan rendemen dikarenakan masih terdapat pemanjangan batang dan penambahan bobot batang tanaman. Hal tersebut menunjukkan fase pertumbuhan pada pola tanam II belum selesai. Tingkat kemasakan mempengaruhi hasil produktivitas dan rendemen sehingga pada pola tanam I lebih tinggi dari pola tanam I

    Pemeliharaan Ganjur Alang-alang dari Cianjur di Laboratorium.

    No full text
    Nyamuk ganjur alang-alang, Orseolia javanica Kieffer & Van Leeuwen- Reijnvaan (Diptera: Cecidomyiidae) merupakan serangga monofagus yang berpotensi sebagai agens pengendali biologi alang-alang. Serangga tersebut mampu menurunkan proses fotosintesis dan kadar karbohidrat pada rimpang alang-alang dengan membentuk gejala berupa puru yang disebut ganjur. Pemanfaatan O. javanica di lapangan dapat didukung dengan tersedianya informasi mengenai teknik perbanyakan massal serangga tersebut dan pemeliharaan ganjur alang-alang. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mengenai rentang waktu kemunculan imago nyamuk ganjur alang-alang selama pemeliharaan, jumlah dan nisbah kelamin imago nyamuk ganjur alang-alang, serta parasitoid yang berasosiasi dengan nyamuk ganjur alang-alang termasuk karakteristik dan tingkat parasitisasinya. Waktu kemunculan imago nyamuk ganjur terjadi pada rentang hari ke-0 hingga maksimal hari ke-4 setelah pengambilan sampel. Jumlah imago nyamuk ganjur yang muncul dari 300 ganjur alang-alang adalah 41 individu dengan nisbah kelamin antara jantan dan betina 1:1. Parasitoid ganjur alang-alang yang ditemukan yaitu Platygaster sp., Aprostocetus sp., dan Propicroscytus sp., dengan tingkat parasitisasi mencapai 30.33%. Rata-rata jumlah Platygaster sp. yang keluar dari satu ganjur adalah 51 individu, Aprostocetus sp. 8 individu, dan Propicroscytus sp. ditemukan dalam jumlah rendah yaitu hanya 1 individu. Platygaster sp. serta Aprostocetus sp. tergolong parasitoid yang bersifat gregarius dan Propicroscytus sp. tergolong parasitoid soliter

    Pengaruh Internalisasi Nilai Keluarga, Regulasi Emosi, dan Habituasi Karakter, Terhadap Perilaku Sosial Remaja

    No full text
    Manusia membutuhkan manusia lain untuk hidup, dan manusia didesain untuk saling ketergantungan satu sama lain. Pola ketergantungan individu, akan berlangsung secara berbeda di tiap tingkat usia. Dalam proses menuju dewasa serta meninggalkan masa anakanak, ikatan kebergantungan pada remaja dapat dipahami melalui perilaku sosial. Perilaku sosial remaja merupakan perilaku yang dilakukan baik secara irasonal maupun rasional dan dapat memberikan sebab – akibat pada individu yang melakukannya, serta di lingkungan individu tersebut. Faktor yang memotivasi perilaku sosial remaja, antara lain dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungannya. Internalisasi nilai keluarga, dalam konteks perilaku sosial merupakan dasar dari keyakinan remaja dalam berperilaku, dan beradaptasi. Kemudian, regulasi emosi akan mengatur perasaan seseorang dan pemikiran logisnya (kognitif) dalam menciptakan kondisi tertentu sebelum seseorang berperilaku, serta setelah remaja melakukan suatu hal pada diri sendiri, maupun pada orang lain. Melalui pembiasaan, yang selanjutnya disebut sebagai habituasi karakter, seorang remaja dibentuk jati dirinya dengan pembiasaan bersikap baik dari keluarganya, melihat teladan guru, dan mencontoh teman sebayanya sehingga dari habituasi karakter, akan tercipta pola perilaku sosial remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan, hubungan, dan pengaruh internalisasi nilai keluarga, regulasi emosi, dan habituasi karakter terhadap perilaku sosial remaja di dua lingkungan tempat tinggal yang berbeda yaitu di perumahan kompleks dan di perkampungan dengan kondisi ayah dan ibu bekerja (dual earner family). Desain penelitian menggunakan cross-sectional study, dilakukan di Kota Depok. Contoh dalam penelitian ini adalah remaja dengan keluarga utuh, yang memiliki ayah dan ibu bekerja, serta ibu yang bekerja secara formal dan informal. Teknik penarikan contoh dilakukan secara disproportional stratified random sampling. Data penelitian dikumpulkan melalui self-report menggunakan kuesioner dengan responden sebanyak 120 remaja dan 120 ibu bekerja. Rata-rata usia orangtua merupakan dewasa madya, pendidikan orangtua di perumahan kompleks lebih tinggi dari pendidikan ayah dan ibu di perkampungan, secara keseluruhan keluarga yang diteliti merupakan keluarga tidak miskin dengan pendapatan perkapita keluarga di perumahan kompleks lebih tinggi dari keluarga di perkampungan. Remaja yang diteliti rata-rata berusia remaja akhir, yakni 16 tahun dengan urutan kelahiran sebagai anak bungsu. Ibu yang tinggal di perkampungan lebih sering melakukan internalisasi nilai keluarga pada remaja. Dalam hal regulasi emosi dan habituasi karakter justru sebaliknya, remaja kompleks mampu mengatur emosinya serta melakukan habituasi karakter secara lebih baik. Sedangkan dalam perilaku sosial, remaja perkampungan, lebih tinggi dalam berperilaku prososial daripada remaja di perumahan kompleks. Internalisasi nilai keluarga yang tidak dianggap penting sehingga tidak atau jarang ditransfer oleh ibu bekerja pada anak remajanya ialah apresiasi pada anak melalui prestasi. Hasil dari penelitian lainnya, menyebutkan bahwa perilaku sosial yang jarang atau tidak pernah dilakukan oleh remaja ialah kenakalan. Regulasi emosi yang jarang dilakukan oleh remaja ialah penempatan sudut pandang, kurang matangnya jati diri remaja, mendorong remaja masing melihat dari perspektifnya sendiri. Habituasi karakter yang jarang dibiasakan pada remaja ialah adil terhadap diri sendiri dan adil terhadap orang lain. Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson, pendidikan ayah dan ibu, jumlah anggota keluarga dan pendapatan perkapita, berhubungan positif dengan internalisasi nilai keluarga, hal ini dapat dimaknai bahwa semakin tinggi lama pendidikan ayah dan ibu (r=0.246*, p=0.036); (r=0.228*, p=0.033), semakin banyak anggota keluarga di dalam rumah (r=0.156*, p=0.049), semakin tinggi pendapatan perkapita keluarga (r=0.134*, p=0.047), maka semakin baik pula internalisasi nilai keluarga. Variabel lainnya yang dinyatakan berhubungan positif antara lain, pendidikan ibu (r=0.174, p=0.034) dengan regulasi emosi, apabila pendidikan ibu tinggi, maka remaja akan lebih baik dalam meregulasi emosi. Sebaliknya, pendidikan ayah berhubungan positif langsung dengan habituasi karakter remaja (r=0.457*, p=0.021), dengan demikian semakin tinggi pendidikan ayah, maka akan semakin baik pula habituasi karakter remaja. Temuan lain dalam penelitian memperlihatkan, pendidikan ayah dan ibu (r=0.254*, p=0.034); (r=0.373*, p=0.015), jam kerja ibu (r=0.166*, p=0.043), pendapatan perkapita keluarga (r=0.557**, p=0.008), serta regulasi emosi (r=0.585**, p=0.001), berkorelasi positif signifikan dengan perilaku sosial remaja yang bisa diartikan bahwa semakin tinggi pendidikan ayah dan ibu, jam kerja ibu, pendapatan perkapita keluarga, serta semakin baik remaja melakukan regulasi emosi, maka semakin baik pula perilaku sosial remaja. Karakteristik lingkungan (perumahan kompleks) berpengaruh positif langsung terhadap regulasi emosi (β=0.221, t>1.96), yang dapat dimaknai remaja yang tinggal di perumahan kompleks lebih baik dalam melakukan regulasi emosi daripada remaja di perkampungan. Temuan lain menyatakan, karakteristik lingkungan (perumahan kompleks) berpengaruh positif langsung terhadap habituasi karakter (β=0.338, t>1.96), artinya remaja yang tinggal di perumahan kompleks lebih baik habituasi karakternya. Hasil penelitian juga menunjukkan karakteristik keluarga, terutama pendidikan ibu berpengaruh positif langsung terhadap perilaku sosial remaja (β=0.249, t>1.96), semakin tinggi pendidikan ibu, maka akan semakin baik perilaku sosial remaja. Regulasi emosi berpengaruh secara positif langsung terhadap perilaku sosial remaja (β=0.277, t>1.96), yang artinya baik buruknya atau kemampuan remaja dalam meregulasi emosi, akan berpengaruh terhadap perilaku sosial remaja. Karakteristik remaja (urutan kelahiran) berpengaruh positif langsung terhadap internalisasi nilai keluarga (β=0.142, t>1.96), yang dapat dimaknai anak sulung lebih baik mendapatkan internalisasi nilai keluarga. Karakteristik lingkungan (perumahan kompleks) berpengaruh positif langsung terhadap regulasi emosi (β=0.221, t>1.96), dengan demikian remaja di perumahan kompleks lebih baik dalam melakukan regulasi emosi. Karakteristik remaja (urutan kelahiran) berpengaruh negatif terhadap perilaku sosial (β=-0.171, t>1.96) yang berarti anak bungsu lebih berperilaku antisosial. Merujuk hasil penelitian, saran yang dapat diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat, antara lain: (1) diperlukan pelatihan emosi bagi remaja, agar remaja dapat mengatur emosinya dengan efisien, sehingga mampu mengelola emosi dimensi menyalahkan diri sendiri dan fokus memikirkan/merenungkan sesuatu, serta menghasilkan perilaku yang baik; (2) remaja dianjurkan untuk mencari role model yang berperilaku prososial agar dapat melakukan pembiasaan atau habituasi karakter secara positif dan dapat menekan perilaku antisosial yang berupa perilaku tidak bersahabat serta perilaku menarik diri; (3) perlu diadakan penelitian selanjutnya mengenai perilaku sosial yang lebih spesifik mengarah pada prososial dan atau antisosial di wilayah lain

    Karakteristik Genetik Kelelawar (Microchiroptera) dan Pendekatan Konservasi di Sukabumi dan Sentul Jawa Barat

    No full text
    Kelelawar merupakan salah satu hewan yang sebagian besar berhabitat di gua. Kelelawar berperan sebagai penyeimbang dalam proses ekologi seperti pada penyebaran benih, penyerbukan, dan penyeimbang populasi serangga. Keberadaan kelelawar di dalam gua dapat berperan sebagai kunci penyedia energi ekosistem (key factor in cycle energy) bagi organisme yang ada di dalam gua. Oleh sebab itu, apabila ekosistem gua tidak dikelola dengan baik, dapat mengganggu keseimbangan ekosistem, baik ekosistem yang ada di dalam gua maupun ekosistem yang ada di luar gua. Gua di kawasan Sukabumi dan Sentul Jawa Barat merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. COI (Cytochrome c Oxidase I) merupakan gen mitokondria digunakan untuk membantu konstruksi dari pohon filogeni yang dapat bertindak sebagai gen marker. COI memiliki keakuratan dalam mengidentifikasi spesies dan biasanya digunakan sebagai “DNA Barcoding”. Informasi mengenai karakteristik genetik berdasarkan DNA mitokondria pada kelelawar di Sukabumi dan Sentul Jawa Barat belum banyak dilaporkan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui keragaman genetik kelelawar berdasarkan DNA Mitokondria dengan penanda Cytochrome Oxidase 1 (COI) sebagai DNA Barcoding serta mengetahui pola pengelolaan gua. DNA diekstraksi dari darah kelelawar. Isolasi DNA total dilakukan menggunakan Kit Dneasy® Blood and Tissue Kit cat no 69504 (50) berdasarkan prosedur Spin-Column Protocol (Qiagen 2003) dengan modifikasi. Proses replikasi DNA melalui Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan menggunakan bahan kit PCR dan dNTP. Data hasil sekuensing baik forward maupun reverse disejajarkan (alignment) menggunakan software MEGA (Molecular Evolutionary Genetics Analysis) versi 7.0 (Kumar et al. 2016). Pengumpulan data pengelolaan gua menggunakan pendekatan studi observasi dan literatur (pustaka). Hasil identifikasi secara morfologi diketahui bahwa spesies yang berasal dari Sukabumi merupakan spesies Chaerephon plicatus, sedangkan spesies yang ditemukan di Sentul merupakan spesies Hipposideros larvatus dan Rhinolophus affinis. Berdasarkan Barcode DNA menunjukkan populasi Sukabumi merupakan spesies Chaerephon plicatus dengan nilai identitas genetik sebesar 97.08%, sedangkan populasi Sentul menunjukkan perbedaan secara genetik dengan spesies Hipposideros larvatus dengan nilai identitas genetik sebesar 94.85%. Kawasan Gua Lalay Sukabumi dan Gua Agung Garunggang merupakan kawasan obyek wisata yang membutuhkan pengelolaan gua yang tepat agar dapat menjaga kelestarian ekosistem yang ada di dalam maupun ekosistem luar gua (khusus nya kelelawar)

    Pengaruh Peningkatan Suhu Terhadap Preferensi dan Tingkah Laku Makan Gastropoda (Haliotis squamata Reeve 1846).

    No full text
    Peningkatan suhu air laut dapat menyebabkan perubahan interaksi antar biota laut. Perubahan tersebut terjadi karena adanya perubahan fisiologis maupun anatomi dari biota. Salah satu interaksi yang terdapat dalam ekosistem laut adalah interaksi antara herbivora dengan makroalga. Salah satu herbivora laut yang bernilai penting di Indonesia adalah Haliotis squamata yang memiliki nama lokal kerang mata tujuh. H. squamata merupakan sumber makanan yang menjadi komoditi ekspor, namun masih sedikit yang melakukan upaya budidaya sehingga terjadi eksploitasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkah laku makan H. squamata di bawah pengaruh peningkatan suhu. Penelitian terdiri dari dua tahap. Tahapan pertama H. squamata diberi pakan pelet dengan perlakuan suhu (27°C, 28.5°C, 30°C, 31.5°C, dan 33°C) dan pemuasaan. Laju konsumsi dan mortalitas menjadi hasil yang didapat pada tahap ini. Tahapan kedua dilakukan dengan pakan alami berupa makroalga dari jenis Gracilaria sp., Sargassum sp., dan Amphiroa sp. Laju konsumsi makroalga, preferensi pakan dan laju pergerakan H. squamata di setiap level suhu didapat pada tahapan ini. Selama penelitian berlangsung, kualitas air diukur dan diatur secara berkala. Hasil pada tahap pertama, laju konsumsi perlakuan yang dipuasakan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan yang tidak dipuasakan. Mortalitas terbanyak terjadi pada suhu tertinggi, yaitu 33°C. Kelompok perlakuan pertama mengalami perubahan preferensi pakan pada tahapan kedua, sedangkan kelompok kedua tidak. Perubahan preferensi pakan dapat terlihat dari laju konsumsi Gracilaria sp. yang tinggi pada suhu 27°C kemudian terus menurun pada suhu yang lebih tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan laju konsumsi Amphiroa sp. yang cenderung tidak diminati pada suhu 27°C, namun konsumsinya terus meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Laju konsusi total makroalga pada kedua perlakuan memiliki pola yang serupa, yaitu mengalami penuruan dengan adanya peningkatan suhu. Hal ini berbeda dengan hasil yang diperoleh pada aktifitas pergerakan H. squamata sehingga laju pergerakan dapat membentuk kurva berbentuk bel seperti kurva performa pada umumnya. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah peningkatan suhu mempengaruhi tingkah laku diet, bahkan mortalitas dari H. squamata. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelestarian habitat H. squamata perlu dilakukan sehingga hewan ini dapat beradaptasi dengan baik terhadap fenomena peningkatan suhu

    Pertumbuhan Tanaman dalam Rumpang di Areal Penelitian Tebang Pilih Tanam Rumpang IUPHHK-HA PT. Intracawood Manufacturing

    No full text
    Pada tahun 2018 kondisi hutan alam di Indonesia yang dalam keadaan terdegradasi adalah seluas 32.70 juta ha. Salah satu usaha meningkatkan produktifitas hutan tersebut adalah dengan melakukan tindakan silvikultur tanam rumpang dengan jenis-jenis pohon unggulan yang cepat pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pertumbuhan diameter dan tinggi jabon merah dalam rumpang. Metode yang dipakai berupa pengumpulan data diameter dan tinggi jabon merah yang ditanam di plot penelitian Tebang Pilih Tanam Rumpang (TPTR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jabon merah memiliki rata-rata pertumbuhan diameter sebesar 4.21 cm/tahun dan tinggi sebesar 268.2 cm/tahun. Jalur dalam rumpang mempengaruhi pertumbuhan diameter dan tinggi jabon merah. Pertumbuhan diameter dan tinggi jabon merah pada periode 2018- 2019 mengalami penurunan dibandingkan pertumbuhan diameter dan tinggi jabon merah pada periode 2017-2018

    Keanekaragaman dan Vegetasi Melastomataceae di Perkebunan Teh Nirmala, Kabupaten Bogor

    No full text
    Melastomataceae merupakan famili tumbuhan asing invasif yang memiliki kemampuan beradaptasi di berbagai macam lingkungan salah satunya di perkebunan teh. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi spesies Melastomataceae yang tumbuh di Perkebunan Teh Nirmala, Kabupaten Bogor serta mengetahui vegetasi spesies Melastomataceae. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling di dua ketinggian yaitu 1070 mdpl dan 1400 mdpl kemudian sampel dibuat herbarium untuk diidentifikasi dan dihitung kerapatan trikomanya. Hubungan faktor lingkungan dan spesies dianalisis dengan metode Canonical Correspondence Analysis. Dua spesies Melastomataceae tumbuh di Perkebunan Teh Nirmala yaitu Clidemia hirta dan Melastoma malabathricum. Melastoma malabathricum yang teramati memiliki dua varian yang berbeda pada tipe indumentum permukaan daun dan tangkai daun. Clidemia hirta di kedua ketinggian memiliki Indeks Nilai Penting yang mendominansi daripada spesies M. malabathricum. Kedua spesies tersebut memiliki pola sebaran mengelompok. Faktor lingkungan mempengaruhi keberadaan spesies. Clidemia hirta dipengaruhi oleh suhu, intensitas cahaya dan curah hujan sedangkan M. malabathricum dipengaruhi oleh kelembapan, dan kecepatan angin

    Pengaruh Jenis Kemasan dan Bahan Pengisi terhadap Mutu Fisik Buah Mangga Arumanis (Mangifera indica L.) Selama Simulasi Transportasi

    No full text
    Mangga arumanis merupakan produk pertanian yang mudah sekali rusak. Kerusakan yang ada pada mangga arumanis akan berdampak pada penurunan kualitas, peningkatan susut pascapanen, dan penurunan harga jual mangga arumanis. Penanganan pascapanen yang tepat diperlukan untuk mempertahankan kualitas mangga arumanis. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan jenis kemasan dan bahan pengisi terhadap mutu buah mangga arumanis, serta pemilihan bahan kemasan dan pengisi terbaik untuk menunjang kegiatan transportasi dan distribusi pascapanen mangga arumanis. Bahan kemasan yang digunakan adalah keranjang buah plastik dan kardus Regular Slotted Container (RSC) tipe flute C, sedangkan cacahan kertas dan net foam sebagai bahan pengisi. Simulasi transportasi dilakukan selama 2 jam dengan frekuensi 3.68 Hz dan amplitudo 3.71cm atau setara dengan perjalanan luar kota sejauh 128 km atau jalan buruk aspal setara 62 km. Bahan pengisi net foam merupakan bahan pengisi yang paling baik untuk digunakan baik pada kemasan keranjang buah plastik maupun kemasan kardus karena memiliki kerusakan mekanis terendah, yaitu 15.91% untuk kemasan keranjang buah plastik dan 6.25% untuk kemasan kardus. Penggunaan jenis kemasan dan bahan pengisi berpengaruh nyata terhadap kerusakan mekanis buah mangga arumanis

    Daya Dukung Fisik Wisata Keramikan dan Nirwana di Suoh Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

    No full text
    Suoh merupakan zona pemanfaatan dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang memiliki daya tarik wisata unik dan khas berupa fenomena alam panas bumi yang membentuk kawasan wisata Keramikan dan Nirwana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung fisik kawasan wisata Keramikan dan Nirwana di Suoh Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari - Maret 2020 menggunakan metode observasi lapangan, wawancara, dan studi literatur. Nilai daya dukung fisik diperoleh melalui pendekatan Cifuentes yang termodifikasi. Hasil perhitungan daya dukung fisik menunjukkan sebesar 7393 pengunjung untuk Kawasan Keramikan dengan luas pemanfaatan 10 147 m2 dan 11 280 pengunjung untuk Kawasan Nirwana dengan luas pemanfaatan 31 350 m2

    Tingkah Laku Induk-Anak dan Metabolit Darah Anak Domba dengan Konsentrat Flushing Mengandung Minyak Sawit dan Lemuru

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian konsentrat flushing menggandung minyak sawit, lemuru dan kombinasinya pada induk terhadap tingkah laku induk-anak, dan metabolit darah anak. Penelitian ini menggunakan 12 ekor induk domba bunting (3 bulan) dengan bobot rata-rata 38.45±4.18 kg dan 22 ekor anak domba dengan bobot lahir 2.26±0.54 kg. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas P0=konsentrat flushing kontrol, P1=konsentrat flushing 6% minyak sawit, P2=konsentrat flushing 3% minyak sawit dan 3% minyak lemuru, P3=konsentrat flushing 6% minyak lemuru. Peubah yang diamati berupa tingkah laku induk beranak (sebelum, saat dan setelah), tingkah laku anak setelah lahir dan metabolit darah anak. Data dianalisis statistik menggunakan General Linear Model (GLM) kecuali tingkah laku induk saat beranak dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap tingkah laku induk-anak dan metabolit darah anak. Konsentrasi glukosa 71.30-88.83 mg dL-1, kolesterol 66.4-91.56 mg dL-1 dan trigliserida 51.10 - 94.47 mg dL-1 berada dalam kisaran normal. Perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi tingkah laku induk-anak dan metabolit darah anak domba berada pada kisaran normal menunjukkan kebutuhan nutrien anak pada semua perlakuan tercukupi

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇