31665 research outputs found
Sort by
Hantaran Hidrolik dan Infiltrasi Lahan Kelapa Sawit pada Umur Berbeda
Kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan salah satu tanaman perkebunan
yang memerlukan air dalam jumlah banyak. Oleh karena itu keberadaan
perkebunan kelapa sawit sering kali dipandang sebagai penyebab menurunnya
ketersediaan air. Hal tersebut dikaitkan dengan sistem budidaya di perkebunan
kelapa sawit yang dilakukan secara monokultur yang dianggap dapat menurunkan
kualitas sifat-sifat tanah. Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman yang berumur
panjang. Seiring dengan bertambahnya umur akan terjadi perubahan sifat tanah. Hal
ini dikarenakan lahan dengan umur yang berbeda akan mendapatkan perlakuan
berbeda. Lahan dengan tanaman yang tua akan mendapatkan intensitas gangguan
aktivitas manusia yang lebih besar, karena aktivitas seperti aktivitas pemanenan dan
pemeliharaan (pruning) lebih sulit dilakukan. Oleh karena itu lahan dengan tanaman
yang berumur lebih tua biasanya mempunyai kualitas yang lebih buruk. Namun,
seiring dengan berjalannya waktu dapat terjadi konsolidasi tanah yang dapat
menyebabkan tanah cenderung menjadi lebih. Oleh karena itu, bagaimana
karakteristik tanah seiring dengan umur tanaman menjadi tidak tentu.
Ketidaktentuan ini semakin besar karena di lahan kelapa sawit biasanya diterapkan
empat kondisi yang berbeda dengan intensitas gangguan yang berbeda pula, yaitu
piringan, gawangan hidup, gawangan mati dan non gawangan. Suatu penelitian
yang bertujuan untuk mengetahui kualitas sifat tanah pada berbagai umur tanaman
kelapa sawit dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara VIII Kebun Cisalak Baru,
Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Parameter yang diukur adalah tekstur, bahan
organik, bobot isi, porositas total, stabilitas agregat, hantaran hidrolik dan kapasitas
infiltrasi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa blok umur kelapa sawit 4 tahun
memiliki nilai kapasitas infiltrasi tertinggi (14.55 cm/jam) dan hantaran hidrolik
tertinggi (1.88 cm/jam). Hal tersebut dapat terjadi karena perbedaan tanaman
penutup tanah, yaitu pada umur 4 tahun didominasi oleh tanaman Mucuna
bracteata dan pada blok umur 15 dan 22 tahun yang didominasi dengan tanaman
pakis dan lumut. Blok umur kelapa sawit 15 tahun memiliki karakteristik fisik tanah
yang baik yang ditunjukkan dengan kandungan bahan organik tinggi (3.88%),
Rasio Stabilitas agregat tinggi (0.49), bobot isi rendah (1.11 g/cm3), dan porositas
tinggi (57.00%)
Efisiensi Teknis Usahatani Padi Sawah Irigasi dan Non-Irigasi di Provinsi Jawa Timur
Peningkatan produksi padi melalui perluasan lahan pertanian sudah tidak relevan mengingat lahan merupakan sumberdaya yang bersifat terbatas. Di sisi lain, pertumbuhan produktivitas padi menunjukkan stagnasi, termasuk di provinsi Jawa Timur yang memberikan kontribusi terbesar terhadap produksi padi nasional. Oleh karena itu, upaya peningkatan produktivitas padi terus dilakukan, salah satunya melalui pengembangan jaringan irigasi. Secara umum penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi keberadaan jaringan irigasi terhadap kinerja usahatani padi yang dinilai menggunakan indikator efisiensi teknis. Secara khusus penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi produksi padi sawah di Jawa Timur, mengetahui dan membandingkan tingkat efisiensi teknis usahatani padi sawah yang dilakukan di lahan beririgasi dan lahan non-irigasi di Jawa Timur, dan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi teknis usahatani padi sawah di Jawa Timur. Analisis dilakukan dengan metode pendugaan maximum likelihood estimation menggunakan software Frontier 4.1. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas lahan, unsur N, unsur P, dan tenaga kerja luar keluarga memengaruhi produksi padi sawah di Jawa Timur. Usahatani padi sawah di lahan irigasi lebih efisien secara teknis dibandingkan usahatani padi sawah di lahan non-irigasi. Keberadaan jaringan irigasi, tingkat pendidikan formal petani, pendidikan nonformal petani, status kepemilikan lahan, dan keanggotaan petani dalam kelompok tani memengaruhi efisiensi teknis usahatani padi di Jawa Timur
Decision Tree Classification Method to Classify the Diabetic Risk at Pondok Rumput Area
The expanding diabetic epidemic worldwide has influenced health status of many countries including Indonesia. The change in how people consume food and in lifestyle has made Indonesia into top ten of country with diabetic risk. Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic disorders characterized by high blood glucose levels over a prolonged period. The purpose of this study is to classify diabetic risk of Pondok Rumput resident in the classification model. The attributes in the study are made up from personal information obtained from the participant’s information and their blood glucose level collected during the research. This classification analysis is implemented to generate the decision tree consisting of useful variable related to the diabetic risk
Pertumbuhan dan Produksi Protease Lactobacillus plantarum IN05 dan Lactobacillus rhamnosus IN13 Asal Inasua
Inasua merupakan produk fermentasi ikan asal Maluku yang diolah dengan cara tradisional. Lactobacillus plantarum IN05 dan Lactobacillus rhamnosus IN13 merupakan bakteri asam laktat yang berhasil diisolasi dari inasua. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan dan produksi protease Lactobacillus plantarum IN05 dan Lactobacillus rhamnosus IN13 yang diisolasi dari inasua. Tahapan penelitian meliputi penyegaran isolat, penentuan indeks proteolitik, pengukuran kurva tumbuh, produksi enzim, serta uji aktivitas dan kadar protein enzim protease. Kurva pertumbuhan isolat L. plantarum IN05 memiliki fase eksponensial pada jam ke-12 hingga jam ke-24 dan fase stasioner pada jam ke-24 hingga jam ke-48, sedangkan isolat L. rhamnosus IN13 memiliki fase eksponensial pada jam ke-18 hingga jam ke-24 dan fase stasioner pada jam ke-24 hingga jam ke-48. Isolat L. plantarum IN05 memiliki indeks proteolitik lebih tinggi sebesar 3.4 dari pada isolat L. rhamnosus IN13 sebesar 2.2. Produksi enzim protease isolat L. plantarum IN05 maksimum pada jam ke-15 dengan aktivitas unit dan aktivitas spesifik masing-masing sebesar 4.593 U/mL dan 5.166 U/mg. Produksi enzim protease L. rhamnosus IN13 maksimum pada jam ke-18 dengan aktivitas unit dan aktivitas spesifik masing-masing sebesar 5.643 U/mL dan 6.196 U/mg. Perbandingan kedua isolat didapatkan hasil bahwa L. plantarum IN05 memiliki indeks proteolitik lebih tinggi dari pada L. rhamnosus IN13, tetapi L. plantarum IN05 memiliki aktivitas enzim dan spesifik yang lebih rendah dari pada L. rhamnosus IN13
Body Image, Kebiasaan Makan, dan Kepercayaan Diri pada Siswi dengan Status Gizi Obese dan Non Obese di SMAN 3 Bogor
Masa remaja merupakan masa seorang individu mengalami perkembangan secara psikologis dan perubahan fisik. Hal ini disebabkan karena mereka merasa tidak puas dengan penampilan fisik dirinya yang akan mempengaruhi kepercayaan diri dan kebiasaan makan. Kebiasaan makan yang buruk dan kepercayaan diri yang rendah akan mempengaruhi status gizi seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis body image, kebiasaan makan dan kepercayaan diri pada siswi dengan status gizi obese dan non obese di SMAN 3 Bogor. Desain penelitian ini adalah cross-sectional study dan pengambilan subjek menggunakan metode purposive sampling. Subjek yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 54 subjek dengan 27 subjek kelompok obese dan 27 subjek kelompok non obese dengan usia 14-16 tahun dengan status gizi kelompok obese dan kelompok non obese. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas subjek berusia 15 tahun (80%), body image negatif pada kelompok obese (59.7%) serta kelompok non obese (66.7%), kebiasaan makan tidak sehat pada kelompok non obese (63%) kebiasaan makan sehat pada kelompok obese (55.6%), kepercayaan diri rendah pada kelompok obese (53.8%), dan kepercayaan diri tinggi pada kelompok non obese (53.6%). Berdasarkan uji chi-square tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara body image, kebiasaan makan, dan kepercayaan diri dengan status gizi obese dan non obese (p>0.05)
Perbandingan Daya Saing serta Faktor yang Memengaruhi Perdagangan Rumput Laut Olahan Indonesia ke Kawasan Asia, Eropa, dan Amerika
Rumput laut olahan merupakan salah satu komoditi yang diekspor oleh Indonesia di pasar internasional. Minimnya teknologi, jumlah industri olahan domestik yang masij sedikit, serta sulitnya mendapatkan bahan baku menyebabkan ekspor rumput laut olahan Indonesia tidak sebanyak ekspor bahan bakunya. Selama tahun 2014-2018, Indonesia tidak pernah berada pada posisi lima besar sebagai negara eksportir rumput laut olahan terbesar didunia serta persentase eskpor didominasi tiga kawasan terbesar yakni Kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan ekspor, daya saing, serta faktor yang memengaruhi perdagangan ekspor rumput lautolahan Indonesia di Kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Metode analisis yang digunakan adalah analisis CMS, RCA, EPD, X-Model, dan regresi data panel. Hasil analisis CMS menunjukan pertumbuhan ekspor Indonesia yang positif di Kawasan Asia dan Amerika namun negatif di Kawasan Eropa. Analisis RCA, EPD, dan X-Model menunjukan Indonesia berdaya saing kuat di Kawasan Asia dan Amerika namun berdaya saing lemah di Kawasan Eropa. Regresi data panel menunjukan bahwa GDP nominal, nilai tukar, pertumbuhan populasi, dan jarak ekonomi berpengaruh signifikan sedangkan kebijakan non tarif SPS tidak berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor rumput laut olahan Indonesia
Sintesis Nanopartikel Karbon (C-dots) dari Limbah Kulit Jengkol secara Hidrotermal untuk Deteksi Ion Hg(II).
Merkuri (Hg) merupakan salah satu logam berat dengan toksisitas tinggi
yang dapat dideteksi melalui metode spektrofluorometri menggunakan
nanomaterial berfluoresens, seperti karbon dot (C-dots). Permukaan C-dots dapat
dimodifikasi dengan menggunakan bahan dasar yang mengandung nitrogen dan
sulfur seperti kulit jengkol untuk meningkatkan sifat fotofisik dan kinerja
deteksinya. Penelitian ini bertujuan menyintesis C-dots dari limbah kulit jengkol
menggunakan metode hidrotermal dengan hidrolisis dan tanpa hidrolisis
kemudian membandingkan pendarannya dengan C-dots dari biji jengkol, serta
menganalisis sifat pendaran dan interaksinya terhadap Hg2+ melalui kajian pustaka.
Rendemen C-dots kulit jengkol dari hasil hidrolisis dan tanpa hidrolisis berturutturut
adalah 25% dan 6.4%. Fluoresensi yang dihasilkan oleh C-dots biji jengkol
terlihat lebih terang dibandingkan dengan C-dots kulit. Peningkatan fluoresensi
dipengaruhi oleh keberadaan atom nitrogen dan sulfur pada permukaan C-dots.
Berdasarkan kajian pustaka, C-dots yang pada permukaannya terdapat atom sulfur
dan nitrogen memiliki quantum yields (QY) yang tinggi dan dapat digunakan
untuk mendeteksi logam Hg2+
Efektivitas Program Sekolah Ibu (Kasus Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Provinsi Jawa Barat).
Program Sekolah Ibu merupakan salah satu upaya pemberdayaan perempuan yang dirancang untuk menjadikan keluarga lebih harmonis. Kelurahan Situgede menjadi salah satu tempat pelaksanaan program sekolah ibu yang ada di Kota Bogor, program sekolah ibu bertujuan untuk menambah pengetahuan seorang istri atau ibu tentang mempertahankan keutuhan keluarga dan menguatkan peran dan fungsi keluarga. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan karakteristik individu, manajemen program serta mencari hubungan efektivitas program sekolah ibu dengan dampak program sekolah ibu yang dilakukan oleh alumni yang terletak di Kelurahan Situgede. Subjek responden pada penelitian ini berjumlah 58 orang yang tergabung ke dalam program tersebut. Alat pengukuran data yang digunakan ialah kuesioner dan metode wawancara mendalam. Teknik analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji kolerasi pada Rank Spearman. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara karakteristik individu dan managemen program terhadap efektivitas program sekolah ibu,tetapi terdapat hubungan antara efektivitas program sekolah ibu dengan dampak program sekolah ibu (mutual understanding)
Pengaruh Pelarut dan Waktu Pemanasan pada Proses Sintesis terhadap Emisi Nanopartikel Karbon (C-dot) dari Henna
C-dot merupakan nanopartikel berfluoresens berukuran kurang lebih 10 nm. Emisi C-dot yang telah dilaporkan, umumnya memancarkan warna biru dan hijau, sedangkan untuk memperoleh emisi merah terdapat dua strategi, yaitu mengubah keadaan permukaan dan meningkatkan domain π melalui jenis pelarut dan waktu pemanasan. Penelitian ini difokuskan menyintesis C-dot emisi merah dari henna dengan metode solvotermal dan kajian pustaka tentang C-dot emisi merah. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengaruh pelarut dan waktu pemanasan pada proses sintesis, emisi yang dipancarkan larutan C-dot relatif berwarna hijau dengan intensitas yang berbeda. Juga, terjadi perbedaaan pada larutan C-dot dengan waktu pemanasan satu jam sebab, emisi yang dipancarkan berwarna kuning. Rendemen yang dihasilkan berkisar dari 6.9% sampai 22%
Pengaruh Tailing Tambang Emas terhadap Morfofisiologi Kemiri Sunan dan Jarak Pagar yang Diinokulasi Cendawan Dark Septate Endophyte.
Kemiri sunan (Reutealis trisperma) dan jarak pagar (Jatropha curcas) merupakan tanaman non-edible oil yang dapat digunakan sebagai fitoremediator lahan pertambangan karena kemampuannya untuk tumbuh di lahan marjinal. Saat ini, teknik fitoremediasi mulai dikembangkan dengan pemanfaatan keberadaan mikrob termasuk cendawan dari kelompok dark septate endophyte (DSE) yang diketahui memiliki kemampuan dalam membantu penyerapan logam pada beberapa spesies tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon morfologi dan fisiologi tanaman kemiri sunan dan jarak pagar yang mendapat perlakuan cendawan DSE terhadap cekaman tailing tambang emas. Tanaman kemiri sunan dan jarak pagar ditanam dalam 6 kg media berisi campuran tanah dan tailing tambang emas dengan konsentrasi 0, 50 dan 100%. Kedua spesies tanaman diberi perlakuan tanpa dan dengan inokulasi cendawan DSE selama 91 hari. Karakteristik morfologis dan fisiologis kedua tanaman diamati selama perlakuan. Tailing tambang emas dengan konsentrasi 50 dan 100% secara signifikan menurunkan tinggi tajuk, luas daun, bobot kering akar dan bobot kering tajuk, kandungan air relatif, kandungan klorofil, karotenoid, dan laju fotosintesis kedua tanaman. Perlakuan tailing juga menyebabkan peningkatan kandungan peroksida lipid daun dan akar, prolin, konduktansi stomata, konsentrasi CO2 interseluler serta laju transpirasi. Inokulasi cendawan DSE meningkatkan kemampuan hidup R. trisperma dan J. curcas pada perlakuan tailing tambang emas sehingga cenderung menguntungkan bagi tanaman untuk menghindari adanya penurunan pada karakter morfofisiologi yang lebih besar akibat tailing tambang emas