Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Sifat Fisis dan Mekanis Kayu Sengon (Falcataria moluccana Miq.) dan Kayu Mangium (Acacia mangium Willd.) Terimpregnasi Furfuril Alkohol.

    No full text
    Kayu yang digunakan di industri saat ini dipasok dari hutan tanaman. Kayu dari hutan tanaman secara umum memiliki sifat fisis dan mekanis yang rendah. Perlakuan furfurilasi dapat meningkatkan sifat fisis dan mekanis tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kayu sengon (Falcataria moluccana Miq.) dan mangium (Acacia mangium Willd.) dengan sifat fisis dan mekanis yang lebih baik melalui proses impregnasi furfuril alkohol (FA) dan menganalisis ada atau tidaknya ikatan kimia antara FA dengan komponen kayu. Kayu sengon dan mangium divakum pada 600 mmHg selama 30 menit, setelah vakum selesai, larutan FA dimasukkan ke dalam tabung impregnasi kemudian diberikan tekanan sebesar 10 kg/cm2 selama 30 menit. Contoh uji yang telah diimpregnasi kemudian dilapisi alumunium foil dan dimasukkan ke dalam oven bersuhu 103 oC selama 24 jam. Contoh uji diukur banyaknya penambahan berat setelah proses impregnasi (weight percent gain, WPG). Pengujian sifat fisis yang dilakukan pada contoh uji meliputi pengujian kadar air (KA), kerapatan, daya serap air (DSA), pengembangan dan penyusutan volume kayu, serta koefisien anti pengembangan (anti-swelling efficiency, ASwE) dan koefisien anti penyusutan (anti-shrinking efficiency, AShE). Pengujian mekanis berupa modulus of elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR), dan kekerasan yang mengacu pada BS 373:1957. Pengujian sifat fisis dan mekanis juga dilakukan pada contoh uji tanpa perlakuan sebagai perbandingan, pengujian dilakukan sebanyak 10 ulangan tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara berurutan kayu sengon dan kayu mangium terfurfurilasi memiliki nilai WPG 46.49% dan 9.14%, KA berkurang sebesar 77.58% dan 66.04%, kerapatan meningkat 34.39% dan 10.07%, DSA berkurang 83.80% dan 75.99%, pengembangan volume berkurang sebesar 71.91% dan 72.46%, penyusutan volume juga berkurang sebesar 57.84% dan 52.72%, nilai ASwE 71.81% dan 71.77%, serta nilai AShE 51.23% dan 53.19%. Sifat mekanis kayu sengon dan mangium terfurfurilasi secara berurutan nilai MOE meningkat sebesar 19.89% dan 35.20%, MOR meningkat 0.90% dan 61.14%, kekerasan kayu sisi radial meningkat 51.35% dan 56.79%, kekerasan sisi tangensial meningkat 38.96% dan 84.58%, kekerasan ujung meningkat 20.00% dan 21.19%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kayu sengon dan kayu mangium terfurfurilasi memiliki sifat fisis dan mekanis yang lebih baik dibanding kayu tanpa perlakuan. Hasil analisis melalui uji X-Ray Diffractometer, Fourier Transform Infra-Red, dan Gas Chromatography-Mass Spectrometry menunjukkan adanya ikatan kimia antara FA dengan kayu

    Hubungan Antara Tingkat Konflik Agraria Dengan Tingkat Efektivitas Program Model Kampung Konservasi

    No full text
    Program Model Kampung Konservasi (MKK) yang dilaksanakan sejak tahun 2005 dan ditujukan untuk kampung yang berbatasan langsung atau dekat dengan Taman Nasional, yaitu Kampung Sukagalih, Cisarua, Cisalimar 1, Cisalimar 2, dan Cilodor. Program MKK memiliki cita-cita perbaikan taraf ekonomi, kemandirian masyarakat dan juga sebagai jawaban atas konflik agraria yang dewasa ini terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif didukung pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif menggunakan alat berupa kuesioner dan pendekatan kualitatif yaitu wawancara mendalam menggunakan alat panduan wawancara. Hasil penelitian ini adalah konflik agraria yang ada mayoritas masih tergolong tinggi meskipun tidak sampai pada kekerasan. Selain itu juga efektivitas program model kampung konservasi masih tergolong rendah, hanya pada Kampung Sukagalih saja yang tergolong tinggi. Terdapat hubungan antara konflik agraria dengan efektivitas program, bahwa hanya pada kampung dengan konflik rendah yang dapat melaksanakan program dengan baik

    Implementasi Desentralisasi Kehutanan dan Implikasinya Terhadap Kinerja Pembangunan Kehutanan di Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi

    No full text
    Dengan diberlakukannya UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang menggantikan UU No. 22 tahun 1999 dan UU No. 32 tahun 2004, pemerintah kabupaten/kota tidak lagi memiliki kewenangan untuk mengelola kawasan hutan negara, terkecuali Taman Hutan Raya yang terletak di wilayah administrasi masing-masing. Pengelolaan hutan produksi dan hutan lindung adalah wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi, sedangkan pengelolaan hutan konservasi adalah wewenang pemerintah pusat. Keberhasilan kegiatan pengelolaan hutan dan program pengelolaan ditentukan antara lain oleh kebijakan pemerintah dan pemerintah daerah serta implementasinya di tingkat tapak. Mempertimbangkan kompleksitas pengelolaan hutan dalam konteks desentralisasi serta memperhatikan keterbatasan sumber daya dan kewenangan, penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis implikasi hampir dua dekade implementasi kebijakan desentralisasi di Kabupaten Tebo; (2) menentukan elemen kunci dari sasaran pembangunan daerah, tantangan dan modal dasar pembangunan kehutanan di tingkat kabupaten; (3) menentukan tingkat kepentingan dan peran utama pemerintah kabupaten dalam pengelolaan hutan. Kesimpulan umum hasil dari penelitian ini menyatakan perlunya tindakan konkret untuk menyelesaikan masalah yang terus-menerus terjadi secara sistematis, terencana, dan berlanjut. Beberapa permasalahan pokok yang perlu mendapatkan perbaikan untuk diatasi adalah lemahnya koordinasi antarlembaga, kualitas sumber daya manusia, komunikasi dengan para pemangku kepentingan dan pembiayaan pengelolaan hutan. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten dapat memiliki peran utama dalam membangun modal sosial, yang berfungsi sebagai langkah pertama dalam mengembangkan pengelolaan hutan kolaboratif dengan mendorong optimasi multiguna hutan

    Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat Mengenai Konservasi Kura-kura di Sumatera Bagian Selatan

    No full text
    Penelitian mengenai pengetahuan dan perilaku masyarakat terhadap konservasi kura-kura air tawar di Pulau Sumatera masih terbatas. Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik masyarakat yang hidup berdekatan dengan habitat kura-kura air tawar, mengidentifikasi pengetahuan masyarakat mengenai jenis kura-kura air tawar yang ada di lingkungan mereka, dan mengidentifikasi persepsi dan perilaku masyarakat mengenai konservasi kura-kura air tawar. Penelitian ini dilakukan di tiga DAS Pulau Sumatera Bagian Selatan yaitu DAS Indragiri (Riau), DAS Pasir Darat (Sumatera Selatan), dan DAS Sekampung (Lampung) dengan mewawancarai 133 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara yang dilakukan secara semi–terstruktur, menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kuisioner tertutup dan semi terbuka, yang dikombinasikan dengan metode recollection melalui alat bantu foto kura-kura air tawar. Penduduk di wilayah penelitian merupakan campuran antara penduduk asli Melayu dan pendatang didominasi laki-laki dengan tingkat pendidikan paling tinggi adalah Sekolah Dasar (SD). Mata pencaharian masyarakat di tiga DAS, umumnya nelayan namun ada campuran, misalnya sebagai petani. Pengetahuan masyarakat di tiga DAS terhadap jenis kura-kura air tawar sangat baik. Jenis yang paling banyak mampu diidentifikasi adalah kuya batok (Cuora amboinensis), bajuku (Orlitia borneensis), labi-labi (Amyda cartilaginea), dan kura-kura pipi putih (Sienbenrockiella crassicollis). Nilai rata-rata perilaku dan persepsi masyarakat masuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada perilaku negatif pada masyarakat seperti kegiatan menangkap, memelihara, mengonsumsi telur, bahkan menjual kura-kura. Perlunya ada penelitian dan monitoring lebih lanjut mengenai inventarisasi jumlah kura-kura untuk mengetahui populasi kura-kura di tiga DAS

    Peningkatan Keragaman Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Melalui Mutasi Fisik dengan Iradiasi Sinar Gamma

    No full text
    Pemuliaan pada tanaman hias dilakukan untuk mendapatkan genotipe dengan karakteristik yang diinginkan pemulia dan konsumen. Salah satu penerapannya adalah pemuliaan pada bunga matahari. Penelitian ini mempelajari keragaan tanaman bunga matahari setelah diberi perlakuan induksi mutasi fisik dengan sinar gamma. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, yaitu mulai bulan Februari 2019 hingga Juni 2019 di Kebun Percobaan Sindang Barang IPB, Bogor. Perlakuan iradiasi sinar gamma dilakukan di PATIR-BATAN. Rancangan yang digunakan adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dua faktor yaitu genotipe dan taraf dosis sinar gamma. Genotipe yang digunakan sebanyak 2 genotipe yaitu IPB BM 1 dan IPB BM 2. Dosis yang dipakai sebanyak 6 dosis yaitu 0, 60 Gy, 70 Gy, 80 Gy, 90 Gy, dan 100 Gy. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga pada penelitian ini terdapat 36 satuan percobaan. Hasil yang diperoleh yakni Genotipe IPB BM 1 memiliki nilai LD50 sebesar 148 Gy dan genotipe IPB BM 2 sebesar 95 Gy. Genotipe berpengaruh nyata pada semua peubah yang diamati kecuali pada peubah jumlah bunga per tanaman. Ukuran diameter batang dan tinggi tanaman lebih kecil dibanding kontrol pada perlakuan dosis iradiasi 70 Gy. Ukuran diameter bunga penuh menurun pada perlakuan dosis iradiasi 60 Gy dan 100 Gy. Jumlah bunga per tanaman dapat diturunkan dengan perlakuan dosis iradiasi 80, 90, 100 Gy. Keragaman bentuk percabangan meningkat pada perlakuan dosis iradiasi 100 Gy pada genotipe IPB BM 1 dan 90 Gy pada IPB BM 2. Karakter bentuk percabangan pada IPB BM 2 menghasilkan keragaman tertinggi di kisaran nilai LD50

    Kecernaan Nutrien pada Kambing Peranakan Etawa Jantan yang Diberi Konsentrat Mengandung Frass Black Soldier Fly

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi frass dari Black soldier fly (BSF) media bungkil inti sawit sebagai bahan pakan alternatif sumber serat dan protein didalam konsentrat terhadap kecernaan nutrien ransum penggemukan kambing peranakan etawa jantan. Penelitian ini menggunakan 8 kambing peranakan etawa jantan berumur 10 bulan dengan berat badan rata rata 30.6 ± 2.08 kg selama 8 minggu. Desain eksperimental yang digunakan adalah uji independent sample t-test dengan 2 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan ini membandingkan antara konsentrat komersial dan konsentrat komersial yang mengandung limbah larva BSF (frass) yang diberi bungkil inti sawit, perlakuannya yaitu P0 = rumput gajah 30% + 70% konsentrat komersial dan P1 = 30% rumput gajah + 70% konsentrat mengandung frass BSF. Peubah yang diamati adalah kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Beta-N, dan TDN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan ransum pakan yang mengandung frass BSF secara signifikan (P <0.05) lebih rendah nilai kecernaan bahan kering, bahan organik, Beta-N, TDN, serat kasar (P<0.1) dibandingkan konsentrat kontrol tanpa mempengaruhi nilai kecernaan protein kasar dan lemak kasar. Ransum perlakuan konsentrat yang mengandung frass BSF (P1) tidak memiliki efek negatif pada konsumsi bahan kering dan bahan organik

    Deteksi Anomali Cerdas untuk Tipikal Aliran Data Sensor IoT

    No full text
    Salah satu pemanfaatan internet of things adalah data logging pada sensor. Data logging pada sensor memudahkan orang untuk memonitor segala aktivitas lingkungan. Anomali didefinisikan sebagai suatu kejadian dimana pembacaan data pada sensor IoT yang tidak mengikuti pola bacaan aliran data sebelumnya. Terkadang sensor tidak memberi peringatan ketika terjadi anomali. Hal ini menyebabkan sulitnya deteksi anomali pada data yang dikirimkan sensor. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model deteksi anomali cerdas untuk tipikal aliran data sensor IoT dengan menggunakan algoritme deep neural network sebagai model pendeteksi anomali. Jenis arsitektur deep neural network yang digunakan adalah autoencoder. Evaluasi model prediksi untuk kelompok sensor 1, 2, dan 3 diperoleh f1-score masing-masing sebesar 0.866, 0.654, dan 0.8. Parameter batas error yang digunakan agar diperoleh nilai tersebut masing-masing adalah 0.09, 0.055, dan 0.07

    Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Pengeringan Terhadap Mutu Rumput Laut Eucheuma cottonii sp dengan Rotary Dryer.

    No full text
    Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor perikanan karena permintaan yang terus meningkat, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. Kebutuhan rumput laut diperkirakan akan meningkat seiring meningkatnya kebutuhan untuk konsumsi langsung maupun industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan suhu dan lama waktu yang tepat untuk pengeringan rumput laut Eucheuma cootonii menggunakan alat pengering rotary dryer sesuai dengan standar yang ditentukan untuk pembuatan ATC (Alkali Treated Cottonii). Tahapan penelitian yang dilakukan adalah perendaman rumput laut, sortasi bahan, pengukuran kadar air awal, pengeringan, pengukuran kadar air akhir, dan analisis karakteristik rumput laut kering. Pengeringan menggunakan hot air rotary oven dengan suhu 50OC, 65OC, dan 80OC. Waktu yang digunakan adalah 240 menit, 200 menit, dan 140 menit. Hasil penelitian menunjukkan untuk mengeringkan rumput laut sampai kadar air 30% (sesuai standar SNI) dengan suhu 50OC memerlukan waktu prediksi rata-rata 228.05 menit, suhu 65OC memerlukan waktu prediksi rata-rata 200 menit dan suhu 80OC memerlukan waktu prediksi rata-rata 109.63 menit. Karakteristik rumput laut kering meliputi kekerasan, kerenyahan, dan kecerahan. Nilai kekerasan rumput laut kering pada suhu 50OC 41.45 kg/cm2 kgf dan nilai kerenyahan sebesar 7.79 kgf, suhu 65OC mempunyai nilai kekerasan 42.71 kg/cm2 dan nilai kerenyahan 7.92 kgf, sedangkan pada suhu 80OC mempunyai nilai kekerasan 36.40/cm2 kg/cm2 dan nilai kerenyahan 7.79 kgf. Nilai kecerahan dari ketiga suhu mengalami penurunan menjadi agak gelap, serta warna hijau dari hijau terang menjadi hijau gelap

    Strategi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata di Teluk Jor, Lombok Timur

    No full text
    Kawasan pesisir Teluk Jor merupakan salah satu pusat kegiatan perikanan dan ekowisata di Kabupaten Lombok Timur yang juga berperan menjadi sumber penghidupan masyarakat. Kerusakan mangrove yang terjadi di kawasan tersebut mengkonfirmasi adanya banyak intervensi serta perubahan karakteristik lingkungan yang terlalu signifikan. Oleh sebab itu, perlunya pengembangan kawasan ekowisata sebagai salah satu bentuk upaya konservasi mangrove dengan melibatkan masyarakat lokal. Diharapkan pendekatan ini akan dapat menjamin keberlanjutan ekosistem mangrove dan memberikan manfaat lebih besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Tujuan penelitian adalah (1) menentukan potensi dan kondisi ekosistem mangrove di Teluk Jor untuk pengembangan ekowisata, (2) menghitung tingkat kesesuaian dan daya dukung ekosistem mangrove di Teluk Jor untuk pengembangan ekowisata, dan (3) merumuskan strategi pengelolaan ekosistem mangrove untuk pengembangan ekowisata. Penelitian dilakukan pada bulan November-Desember 2018. Lokasi penelitian meliputi dua desa yang terdapat di kawasan Teluk Jor yang mencakup tujuh dusun. Data primer yang diteliti adalah data ekologi mangrove, sosial masyarakat, pengunjung, dan stakeholder. Data sekunder dalam penelitian ini yakni data pendukung yang diperoleh dari studi pustaka pada jurnal dan buku. Analisis data terdiri atas 1) analisis kerapatan mangrove diolah dengan rumus kerapatan mangrove dan dideskripsikan untuk mendapatkan gambaran kondisi mangrove, 2) analisis kesesuaian dan daya dukung kawasan untuk memperoleh tingkat kesesuaian ekowisata dan batas daya dukung wisatawan per hari, 3) analisis sosial untuk mendapatkan gambaran persepsi dan partisipasi masyarakat serta harapan pengunjung, 4) analisis stakeholder untuk memetakan pengaruh dan kepentingan stakeholder terkait pengembangan ekowisata 5) analisis Analytic Network Process (ANP) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan kawasan mangrove Teluk Jor memiliki 5 jenis mangrove, berbagai biota akuatik dan burung air yang dilindungi dan akses yang sangat mudah dijangkau. Indeks kesesuaian ekowisata mangrove secara rata-rata berdasarkan parameter kesesuaian termasuk dalam kategori sesuai. Indeks kesesuaian ekowisata secara spasial termasuk dalam kategori sesuai dan sangat sesuai dengan daya dukung kawasan untuk kegiatan tracking sebanyak 797 orang per hari. Strategi prioritas pengembangan ekowisata mangrove Teluk Jor yaitu 1) pemeliharaan lingkungan mangrove agar tetap lestari, 2) peningkatan kerjasama dan pemahaman konsep ekowisata bagi stakeholder, 3) peningkatan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat, 4) peningkatan komitmen dan dukungan pemerintah untuk pengembangan ekowisata dan 5) pengembangan jasa dan produk ekowisata dengan melibatkan peran stakeholder. Strategi pengembangan ekowisata yang memiliki prioritas nilai tertinggi adalah peningkatan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat

    Strategi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove Berbasis Ekowisata di Teluk Pangpang Banyuwangi

    No full text
    Teluk Pangpang merupakan kawasan pesisir yang menjadi pusat kegiatan perikanan dan ekowisata di Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Kerusakan mangrove yang terjadi menggambarkan bahwa dikawasan tersebut mangrove tidak dapat tumbuh dengan lestari akibat gangguan atau perubahan karakteristik lingkungan yang terlalu besar. Pengembangan ekowisata adalah bentuk upaya konservasi mangrove dengan melibatkan masyarakat lokal ke dalam pengelolaan ekowisata yang akan lebih menjamin keberlanjutan rehabilitasi dan konservasi mangrove serta memberikan manfaat lebih terkait peningkatan perekonomian masyarakat. Tujuan penelitian adalah (1) menilai potensi dan kondisi ekosistem mangrove di Teluk Pangpang, (2) menghitung tingkat kesesuaian dan daya dukung ekosistem mangrove di Teluk Pangpang untuk pengembangan ekowisata, dan (3) merumuskan strategi pengelolaan ekosistem mangrove untuk pengembangan ekowisata. Metode penelitian dengan pendekatan spasial dan survei, data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data ekologi mangrove, sosial masyarakat, pengunjung, dan stakeholder. Data sekunder yaitu hasil studi pustaka atau data dari jurnal dan buku sebagai data pendukung. Analisis data terdiri atas 1) analisis kerapatan mangrove diolah dengan rumus kerapatan mangrove dan di deskriptifkan untuk mendapatkan gambaran kondisi mangrove, 2) analisis kesesuaian dan daya dukung kawasan untuk memperoleh kelas kesesuaian ekowisata dan batas daya dukung wisatawan perhari, 3) analisis sosial untuk mendapatkan gambaran persepsi dan partisipasi masyarakat serta harapan pengunjung, 4) analisis stakeholder untuk memetakan pengaruh dan kepentingan stakeholder terkait pengembangan ekowisata 5) analisis Analytic Network Process (ANP) untuk menentukan prioritas strategi pengembangan ekowisata. Hasil penelitian menunjukkan kawasan mangrove Teluk Pangpang memiliki 9 jenis mangrove, berbagai biota akuatik dan burung air yang dilindungi seperti Bangau tong tong (Leptoptilos javanicus), dan akses yang sangat mudah dijangkau. Indeks kesesuaian ekowisata mangrove berdasarkan kerapatan mangrove, jenis mangrove, pasang surut dan objek biota dalam kategori sesuai, tetapi secara spasial dalam kategori sesuai dan tidak sesuai dengan daya dukung kawasan sebanyak 339 orang per hari. Strategi prioritas pengembangan ekowisata mangrove Teluk Pangpang yaitu 1) meningkatkan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat, 2) pengembangan jasa dan produk ekowisata dengan melibatkan partisipasi masyarakat, dan 3) pemantapan koordinasi antar stakeholder

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇