31665 research outputs found
Sort by
Potensi Cadangan Karbon pada Hutan Tanaman Rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah
Pemanasan global yang diakibatkan oleh peningkatan kadar CO2 dan gas rumah kaca di atmosfer merupakan salah satu permasalahan paling serius untuk iklim global. Emisi gas CO2 dan gas rumah kaca lainnya di atmosfer sebagai akibat dari aktivitas manusia menyebabkan ketidakseimbangan di bumi. Peningkatan emisi gas rumah kaca disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi dan degradasi hutan. Salah satu wilayah yang paling sering mengalami kebakaran hutan adalah Kalimantan, dan Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu wilayah yang setiap tahunnya menyumbangkan CO2 ke atmosfer melalui peristiwa tersebut. Tahun 2014 terjadi peristiwa kebakaran hutan dan lahan besar di Palangkaraya yang menghanguskan 629.36 ha lahan hutan dan mengakibatkan Palangkaraya dikepung asap selama musim kemarau tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengestimasi biomassa bagian atas permukaan tanah sebelum dan setelah dilakukan rehabilitasi dengan metode non-destruktif yaitu dengan menggunakan persamaan alometrik pada hutan tanaman rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, (2) mengestimasi nilai karbon organik tanah pada hutan tanaman rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah sebelum dan setelah dilakukan rehabilitasi, dan (3) mengestimasi simpanan karbon dan karbondioksida pada hutan tanaman rakyat di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah sebelum dan setelah dilakukan rehabilitasi. Penelitian ini dilakukan pada lima tutupan lahan (hutan tanaman rakyat tahun tanam 2015, 2016, 2017, lahan terbuka, dan hutan sekunder) di tiga kecamatan (Manuhing, Rungan Barat, dan Manuhing Raya) di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Petak contoh yang digunakan dalam penelitian ini ditetapkan dengan metode purposive sampling masing-masing sebanyak 5 plot contoh. Pengamatan pohon, pohon mati dan kayu mati dilakukan pada petak ukur berukuran 20 x 20 m, tiang pada petak ukur 10 x 10 m dan pancang pada petak ukur 5 x 5. Semai, tumbuhan bawah serta serasah diamati pada petak ukur 2 x 2 meter.
Kandungan Biomassa di atas permukaan tanah pada hutan tanaman rakyat tertinggi baik pada tahun tanam 2015 maupun 2016 terdapat di Kecamatan Manuhing Raya dengan 84.96 ton/ha dan 29.31 ton/ha. Berbeda dengan kandungan biomassa pada tahun tanam 2017 dimana Kecamatan Manuhing memiliki total biomassa atas permukaan tertinggi dengan 12.59 ton/ha. Tahun penanaman 2017 di Kecamatan Manuhing memiliki cadangan biomassa yang lebih besar dibandingkan biomassa tahun 2016 serta kedua kecamatan lainnya dengan tahun tanam yang sama. Hal tersebut terjadi karena adanya input tambahan berupa pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah di lahan penanaman tersebut sehingga kandungan biomassanya lebih baik jika dibandingkan dengan lahan tahun tanam 2016 serta kedua kecamatan lainnya dengan tahun tanam yang sama.
Total biomassa pada beberapa tutupan lahan di Kabupeten Gunung Mas semakin menurun dengan urutan: hutan sekunder (465.12-806.48 ton/ha) > hutan tanaman rakyat (0.77-84.89 ton/ha) > lahan terbuka (0.001-0.06 ton/ha). Simpanan
karbon mengalami penurunan yang sangat drastis dari 310.24-418.62 ton C/ha menjadi 7.25-29.43 ton C/ha karena adanya deforestasi dan alih fungsi hutan. Kegiatan rehabilitasi, mampu meningkatkan kembali kemampuan suatu lahan dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon secara berkelanjutan
Pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME) dari Pembangkit Listrik Biogas untuk Pertumbuhan Mikroalga Sebagai Bahan Baku Biodiesel
Palm Oil Mill Effluent (POME) biasanya diolah secara biologis di kolam penampungan limbah pabrik untuk menunggu waktu pembuangan ke kolam pengolahan berikutnya sedangkan limbah tersebut akan menghasilkan gas metan (CH4) yang dapat menyebabkan pemanasan global. Namun, beberapa perusahaan pengolahan minyak kelapa sawit telah menggunakannya sebagai pembangkit listrik dengan memanfaatkan gas CH4 yang dikeluarkan oleh POME yang biasa disebut biogas. POME yang telah digunakan sebagai sumber biogas masih mengandung nutrien yang bisa dipergunakan untuk pertumbuhan mikroalga. Mikroalga saat ini merupakan salah satu alternatif energi terbarukan yang mempunyai potensi yang cukup besar.
Mikroalga daat digunakan sebagai salah satu alternatif energi terbarukan karena beberapa jenis mengandung lipid yang cukup banyak yaitu 2-8% (berat kering) yang bisa dijadikan biodiesel. Salah satunya adalah jenis Botryococcus braunii yang bisa diekstrak dengan metode cell disruption yaitu dengan menurunkan tekanan osmotic sel mikroalga menggunakan bahan kimia yang disebut osmotic agent. Osmotic agent yang digunakan pada penelitian ini adalah HCl dan CH3COONa dengan konsentrasi 0.1, 0.3, 0.5 M yang seterusnya dilakukan esterifikasi untuk mengubah lipid menjadi metil ester.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium SBRC IPB dengan kultivasi Botryococcus braunii menggunakan nutrien POME dengan nutrien standar sebagai kontrol dan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan Botryococcus braunii dengan nutrien POME lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yaitu 2.7x106 sel/ml. Ekstraksi lipid menggunakan metode osmotic shock dengan HCl dan CH3COONa sebagai osmotik agent dalam konsentrasi 0.1, 0.3, 0.5 M didapatkan hasil tertinggi 0.108 gram pada osmotik agent CH3COONa 0.3 M
Hasil Semu Gerakan Sosial Nelayan Cantrang di Kabupaten Pati, Jawa Tengah
Perikanan adalah tentang hubungan antara nelayan dan alam, yang meliputi
hubungan diantara sesama nelayan, nelayan dengan pedagang, pejabat
pemerintah, hingga komunitas lain yang bersaing dalam memperebutkan sumber
daya yang sama. Indonesia dikenal sebagai negara maritim sehingga banyak
penduduk Indonesia yang bermatapencaharian bersumber dari atau berhubungan
dengan laut, salah satunya adalah nelayan. Ditinjau dari segi struktur sosialnya,
nelayan di Indonesia dapat dibagi ke dalam beberapa kelas sosial. Hal ini
mempunyai konsekuensi terhadap pengorganisasian para nelayan tersebut karena
nelayan yang beragam memiliki kepentingan yang beragam pula.
Organisasi seringkali berkaitan erat dengan gerakan sosial. Studi tentang
gerakan sosial menjadi penting untuk memahami masyarakat kontemporer dan
arah pergerakannya. Hal ini dikarenakan gerakan sosial merupakan fenomena
unik, di mana individu-individu di dalamnya bertekad untuk mencapai tujuan
tertentu dengan menerapkan berbagai macam strategi.
Lebih lanjut, gerakan sosial tidak terlepas dari dimensi politik dan
budaya. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam studi mengenai gerakan
sosial sebagai agen perubahan, antara lain adalah peluang dan hambatan politik
serta budaya, dinamika organisasi, dan sumber daya, sehingga dapat terus
menghasilkan studi-studi baru tentang ragam gerakan sosial di banyak negara
yang berbeda, tidak terkecuali Indonesia.
Kemunculan gerakan sosial bukanlah secara tiba-tiba, seringkali sebuah
gerakan sosial yang baru masih berhubungan dengan gerakan yang sebelumnya,
dan dapat dipicu oleh banyak hal seperti perubahan sosial, ekonomi dan politik
skala besar, peluang dan ancaman baru, peristiwa-peristiwa penting, ataupun
kebijakan baru. Salah satu gerakan sosial berkenaan dengan nelayan di Indonesia
yang sempat mencuri perhatian di awal tahun 2018 adalah gerakan penolakan
terhadap kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan
(KKP) tentang larangan penggunaan cantrang, yang terkandung di dalam
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. 2 Tahun 2015.
Sejumlah nelayan yang mengorganisir diri ke dalam Aliansi Nelayan Indonesia
(ANNI) menentang pemberlakuan kebijakan ini, khususnya bagi kawasan Pantai
Utara Jawa, dengan melakukan gerakan yang mencapai titik puncak pada bulan
Januari tahun 2018 silam di Taman Pandang Monumen Nasional (Monas) Jakarta.
Oleh sebab itu, menggunakan metode mix method, tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menganalisis dinamika gerakan sosial nelayan serta sejauhmana
gerakan sosial tersebut berhasil mencapai tujuannya. Penelitian dilakukan di Desa
Bajomulyo dan Desa Bendar, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah
hingga diperoleh hasil bahwa sinergi dari seluruh faktor pendukung dan
keberhasilan organisasi dalam memobilisasi seluruh sumber daya berpengaruh
terhadap tingkat keberhasilan gerakan sosial di berbagai arena
Morfologi Daun pada Anakan Kelompok Meranti Kuning, Meranti Putih, dan Balau
Shorea merupakan salah satu tumbuhan penghasil kayu terbaik dalam dunia perindustrian yang tersebar di Asia Tenggara bagian barat antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, Serawak, Sabah, dan Filipina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara kelompok meranti kuning, meranti putih, dan balau. Kegiatan penelitian dilakukan melalui pengukuran morfologi daun (bentuk fisik dan warna daun). Data dianalisis dengan metode Hierarchical Cluster dan PCA (Principal Component Analysis). Hasil analisis Hierarchical Cluster berdasarkan bentuk fisik daun menunjukkan bahwa S. balanocarpoides memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan S, collaris dan paling jauh dengan S. bracteolata. Sedangkan berdasarkan warna daun S. atrinervosa memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan S. hopeifolia dan paling jauh dengan S. collaris. Hasil analisis PCA menunjukan bahwa S. balanocarpoides dan S. collaris cenderung memiliki kesamaan pada besar sudut antara tulang daun primer dan tulang daun sekunder, bentuk pangkal daun, serta nilai form factor. Sedangkan S. atrinervosa dan S. hopeifolia cenderung memiliki nilai klorofil yang sama
Hubungan antara Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Gizi dengan Frekuensi Jajan Anak Sekolah Dasar di Kota Tangerang Selatan
Makanan jajanan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dengan anak sekolah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan praktik gizi dengan frekuensi jajan anak sekolah dasar di Kota Tangerang Selatan. Desain penelitian berupa cross-sectional study dengan 105 subjek penelitian. Data meliputi karateristik contoh, karakteristik keluarga, pengetahuan, sikap dan praktik gizi, serta frekuensi jajan. Sebagian besar pengetahuan dan sikap gizi contoh tergolong sedang (52.4%) dan baik (59%), hanya saja praktik gizi sebagian besar (41%) tergolong kurang. Sebagian besar contoh (81%) memiliki frekuensi jajan ≥4 kali/hari. Hasil uji korelasi chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik contoh (jenis kelamin, usia dan besar uang saku), pekerjaan orang tua dan pendapatan orang tua dengan frekuensi jajan (p>0.05). Sedangkan, adanya hubungan yang sigmifikan antara pendidikan ayah (p=0.000) dan pendidikan ibu (p=0.004) dengan frekuensi jajan. Hasil uji korelasi chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap dan praktik gizi (>0.05) dengan frekuensi jajan
Ekspresi Gen B11 dari Padi Varietas Hawara Bunar dalam Sistem Escherichia coli.
Gen B11 adalah gen toleransi aluminium (Al) yang diisolasi dari padi lokal
Indonesia var. Hawara Bunar menggunakan teknik polymerase chain reaction
(PCR). Gen B11 dapat dimanfaatkan untuk peningkatan ketahanan tanaman melalui
pendekatan rekayasa genetik. Namun, protein B11 perlu dikarakterisasi terlebih
dahulu untuk mengetahui fungsi dari protein tersebut dalam mekanisme toleransi
padi terhadap cekaman Al. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekspresikan gen
B11 pada sistem Escherichia coli untuk memproduksi protein rekombinan B11 dan
mengkarakterisasi protein tersebut. Fragmen cDNA B11 berukuran 573bp
diligasikan ke dalam vektor kloning pGEMT-Easy (pGEMT-B11). Plasmid
tersebut ditransformasikan ke dalam E. coli DH5α dan dikultivasi pada media
seleksi LB yang ditambahkan antibiotik.
Plasmid rekombinan pGEMT-B11 dipurifikasi dan diamplifikasi dengan
primer B11 dengan penambahan adaptor site enzim restriksi NdeI dan BamHI
masing-masing pada ujung 3’ dari primer forward and reverse. Fragmen B11NB
hasil amplifikasi dengan PCR kemudian dipurifikasi dan diligasikan ke dalam
vektor ekspresi pET-15b yang telah dipotong dengan enzim restriksi NdeI dan
BamHI untuk menghasilkan plasmid rekombinan pET-B11. Transformasi vektor
pET-B11 dilakukan pada E. coli BL21(DE3)pLysS. Ekspresi gen B11 dalam
rekombinan E. coli BL21(DE3)pLysS diinduksi dengan menggunakan IPTG
(Isopropyl β-D-1-thiogalactopyranoside). Protein rekombinan B11 dipurifikasi
dengan QIAGEN Ni-NTA Spin Kit (Qiagen, DE). Profil protein divisualisasi pada
SDS-PAGE (12%) dengan pewarnaan Comassive Blue. Ekspresi gen B11 dengan
qRT-PCR meliputi tiga tahapan, yaitu: isolasi RNA total, sintesis cDNA, dan
analisis ekspresi gen dengan qRT-PCR.
Gen B11 telah berhasil dikloning ulang pada bakteri E. coli DH5α. Selain itu,
gen B11 telah berhasil disubkloning pada E. coli BL21(DE3)pLysS dengan bantuan
vector pET-15b, sehingga dapat diekspresikan. Open reading frame gen B11 terdiri
dari 342 bp dan menyandikan 113 asam amino dengan bobot molekul sebesar 11.61
kDa. Protein B11 mengandung motif protein ribosomal L32p pada asam amino ke
58 sampai asam amino 102. Struktur 3D protein B11 berhasil dimodelkan dan
divalidasi. Bagian protein B11 pengkelat logam terdeteksi pada asam amino
GLY23, GLY106, dan ASP110. Ekspresi gen B11 pada E. coli rekombinan pada
kondisi induksi IPTG 5.4 kali kali lebih tinggi dibandingkan ekspresi pada E. coli
rekombinan tanpa induksi IPTG
An Implementation of Value Stream Mapping for Efficiency and Productivity Improvement at Gluten-Free Remix Flour Production
Proses produksi adalah kegiatan utama yang berorientasi nilai tambah untuk menjaga aliran efisiensi dan produktivitasnya dengan menghilangkan beberapa pemborosan di seluruh aliran proses. Value Stream Mapping (VSM) adalah upaya untuk mengurangi pemborosan dalam proses produksi dengan menerapkan konsep lean manufacturing, yaitu dengan mengidentifikasi dan menghilangkan segala jenis limbah. Implementasi value stream mapping sebagai rekomendasikan untuk perbaikan untuk mengeliminasi limbah yang telah teridentifikasi sepanjang aliran nilai dapat mengurangi lead time dari 16415 detik menjadi 12044 detik. Takt time proses produksi per unit produk menurun dari 256 detik menjadi 188 detik. Berdasarkan hasil tersebut, terjadi peningkatan efisiensi proses produksi, yang awalnya 64%, meningkat menjadi 88%. Selain itu, produktivitas produksi juga mengalami peningkatan dari 1,75 menjadi 2,39. Hasil tersebut menunjukkan eliminasi pemborosan yang terdapat dalam proses produksi dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas proses produksi
Kajian Pengendalian Histamin pada Rantai Proses Produk Ikan Tuna Beku Ekspor
Ikan tuna merupakan salah satu komoditi konsumsi hasil perikanan yang
sangat penting karena selain sebagai komoditi pangan juga merupakan komoditi
perdagangan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Sebagai komoditi
perdagangan, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor ikan tuna terbesar
di dunia terutama ke negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang.
Sebagai komoditi pangan, tuna mempunyai kandungan gizi yang penting bagi tubuh
terutama kandungan protein dan asam lemak omega3. Namun demikian sebagai
salah satu komoditi pangan, pada jenis ikan golongan scombroidae seperti tuna
terdapat bahaya keamanan pangan yang harus menjadi perhatian yaitu adanya
kandungan histamin.
Histamin pada ikan tuna dapat terbentuk sepanjang rantai proses dari hulu ke
hilir yakni sejak proses produksi, pengolahan dan distribusi. Histamin pada ikan
tuna terbentuk melalui mekanisme dekarboksilase asam amino histidin yang
terkandung pada tuna. Histamin merupakan bahaya keamanan bawaan pangan
(foodborn illness) pada ikan tuna yang dapat mempengaruhi kesehatan konsumen
yang dapat mengakibatkan sakit kepala, kejang, mual, wajah dan leher kemerahmerahan,
tubuh gatal-gatal, mulut dan kerongkongan terasa terbakar, bibir
membengkak, badan lemas dan muntah-muntah. Pengendalian peningkatan bahaya
histamin sepanjang rantai proses dapat dilakukan dengan menerapkan sistem rantai
dingin dengan menjaga suhu tuna tidak lebih dari 4.4℃.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tingkat
pemenuhan persyaratan pada rantai proses di tahap produksi, pengolahan dan
distribusi yang belum optimal dalam pengendalian bahaya histamin pada ikan tuna
oleh unit pengolahan ikan (UPI). Pada rantai proses dengan tingkat pemenuhan
persyaratan yang rendah akan diperoleh parameter persyaratan yang belum efektif
yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan histamin pada tuna. Berdasarkan
tingkat pemenuhan persyaratan, nilai korelasi dan determinasi akan didapatkan
parameter persyaratan penting pada rantai proses yang harus ditingkatkan dalam
mengendalikan bahaya histamin pada tuna.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei daring dengan
responden berasal dari UPI di Indonesia yang mengolah tuna beku untuk diekspor.
Total responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 134 orang terdiri dari
70 orang laki – laki (52.5 %) dan 64 orang perempuan (47.8%). UPI pengolah tuna
beku dari responden tersebar di seluruh Indonesia dengan proporsi tiga lokasi
terbesar berada di Jakarta sebanyak 36 UPI (26.9%), Bali sebanyak 20 UPI (14.9%)
dan Jawa Timur sebanyak 18 UPI (13.4%).
Hasil survei menunjukkan, rantai proses dengan tingkat pemenuhan
persyaratan dibawah 75% adalah kapal ikan pemasok bahan baku ke UPI sebesar
64.60%, unit supplier sebesar 68.72% dan unit distribusi produk akhir sebesar
57.46%. Tingkat pemenuhan persyaratan yang rendah (<75%) mengindikasikan
terdapat parameter persyaratan pada rantai proses yang belum diterapkan secara
optimal oleh UPI dalam pengendalian bahaya histamin pada produk tuna.
Parameter persyaratan dengan tingkat pemenuhan terendah pada kapal ikan
adalah UPI hanya menerima bahan baku dari kapal ikan yang sudah bersertifikat
cara penanganan ikan yang baik (CPIB) sebesar 29.89%. Tingkat pemenuhan
persyaratan terendah pada rantai proses unit supplier adalah UPI mendapatkan
rekaman suhu bahan baku dari unit supplier sebesar 31.91%. Pada unit distribusi
produk akhir, pemenuhan parameter persyaratan terendah yakni UPI mendapatkan
data rekaman suhu dari pembeli sebesar 44.03%.
Berdasarkan tingkat pemenuhan persyaratan terendah, nilai korelasi dan nilai
determinasi maka parameter persyaratan penting yang harus ditingkatkan dalam
sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan di Indonesia adalah UPI hanya
menerima bahan baku dari kapal ikan yang sudah memiliki sertifikat CPIB. Tingkat
pemenuhan persyaratan parameter tersebut hanya 29.89%, mengindikasikan bahwa
secara umum UPI dalam penerimaan bahan baku tuna dari kapal ikan tidak
mempersyaratkan bahwa kapal ikan pemasok bahan baku ke UPI harus mempunyai
sertifikat CPIB. Jika UPI mempersyaratkan, maka UPI tidak konsisten dalam
penerapannya. Hubungan kedua parameter persyaratan antara UPI hanya menerima
bahan baku dari kapal ikan yang memiliki sertifikat CPIB dengan UPI
mempersyaratkan kapal pemasok bahan baku yang bersertifikat CPIB mempunyai
korelasi positif (Phi Correlation 0.509) dengan tingkat saling mempengaruhi
(determinasi) antara kedua parameter tersebut adalah 25.91%.
UPI harus mempunyai komitmen dalam pemenuhan persyaratan penerimaan
bahan baku dari kapal ikan yang sudah mempunyai sertifikat CPIB sebagai salah
satu paremeter persyaratan penting yang harus diterapkan secara konsisten dalam
pengendalian bahaya keamanan histamin pada produk tuna. Pemenuhan
persyaratan cara penanganan ikan yang baik (CPIB) bagi kapal pemasok bahan
baku ikan tuna ke UPI antara lain melalui penerapan sanitasi dan sistem rantai
dingin sehingga dapat meningkatkan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan
dan meningkatkan kepercayaan dalam perdagangan internasional terhadap
komoditi ikan tuna dari Indonesia
Analisis Evaluasi Kesesuaian Agroekologi pada Lahan Gambut untuk Tanaman Nanas (Studi Kasus di Kabupaten Kampar, Riau).
Nanas adalah salah satu komoditas subsektor hortikultura di Indonesia. Produksi dan area panen nanas telah meningkat, tetapi tidak terlalu tinggi dalam lima tahun terakhir. Selain lahan mineral, lahan gambut memiliki potensi yang besar untuk ditanami nanas. Tanaman nanas menjadi salah satu tanaman ramah gambut dalam pencegahan kebakaran dan restorasi lahan gambut. Sifat dan karakteristik tanah menjadi dasar pengembangan komoditas pertanian berkelanjutan (agroekologi). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi lahan gambut yang berpotensi ditanami nanas melalui pengembangan pertanian berkelanjutan dalam meningkatkan produktivitas nanas. Penelitian ini menggunakan sistem inferensi fuzzy dengan pendekatan sistem inferensi fuzzy Mamdani dan Mamdani berbobot untuk faktor pembatas yang bisa diperbaiki serta memvisualisasikan hasil pada area studi Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Dataset terdiri dari 10 variabel yang dibagi menjadi dua kategori, tujuh variabel numerik (temperatur rata-rata, curah hujan, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, pH H2O, ketebalan gambut, kemiringan) dan 3 variabel kategori (tekstur tanah, drainase, kematangan gambut).
Penelitian ini menghasilkan kesesuaian agroekologi lahan gambut dengan tiga kelompok faktor pembatas yaitu iklim (temperatur rata-rata, curah hujan), tanah (retensi hara (kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, ph H2O) drainase, tekstur, lereng), dan gambut (ketebalan gambut, kematangan gambut). Untuk identifikasi kesesuaian iklim berada pada kelas cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Untuk identifikasi kesesuaian tanah menempati kelas tidak sesuai (N), cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Untuk identifikasi kesesuaian gambut menempati kelas tidak sesuai (N), cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Untuk identifikasi kesesuaian agroekologi lahan gambut menempati kelas tidak sesuai (N), cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Penelitian ini juga melakukan identifikasi kesesuaian agroekologi lahan gambut dengan pembobotan variabel menggunakan metode Mamdani berbobot untuk variabel yang bisa diperbaiki (faktor pembatas) pada kelompok tanah (ktk, ph H2O, kb dan drainase). Hasil yang diperoleh adalah kesesuaian lahan faktor pembatas menempati kelas cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3).
Analisis kesesuaian agroekologi lahan gambut dan produktivitas hasil nanas dari budidaya di Kabupaten Kampar dalam 4 tahun terakhir menunjukkan bahwa daerah yang memiliki produktivitas tinggi memiliki kelas kesesuaian lahan yang cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3). Luas lahan gambut di Kampar dengan sesuai marginal (S3) adalah 52 531.36 ha, sedikit lebih besar dari pada yang cukup sesuai (S2), yaitu 49 674.15 ha. Daerah dengan kelas sesuai marginal (S3) terbesar adalah Kecamatan Tapung (18 078.96 ha) dan wilayah terkecil adalah Kecamatan Gunung Sahilan (1.33 ha). Kecamatan Kampar Kiri Hilir dengan luas 17 775.49 ha memiliki kelas kesesuaian yang cukup sesuai (S2). Studi ini menghasilkan peta kesesuaian agroekologi lahan gambut untuk nanas.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pendukung keputusan dalam meningkatkan produktivitas nanas di lahan gambut Indonesia
Partisipasi Anggota Kelompok Sadar Wisata dalam Pengelolaan Desa Wisata dan Dampaknya terhadap Sosial Budaya, Lingkungan, dan Ekonomi
Pemerataan kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu tujuan nasional dari negara Indonesia. Dalam mencapai tujuan tersebut, dilakukan berbagai macam upaya, salah satunya pembangunan desa wisata. Pembangunan desa wisata dianggap efektif dan efisien, dikarenakan dalam implementasi pengelolaannya mengedepankan kemandirian partisipasi masyarakat. Untuk menarik perhatian masyarakat agar mau berpartisipasi tidak muncul dengan sendirinya, terdapat faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keterlibatan masyarakat agar termotivasi untuk ikut serta dalam pembangunan desa wisata tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah, menganalisis hubungan karakteristik individu dan faktor eksternal dengan tingkat partisipasi, dan menganalisis hubungan partisipasi dengan dampak pengelolaan desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara umur pada karakteristik individu dengan tingkat partisipasi, peranan kepala desa pada faktor eksternal dengan tingkat partisipasi dan tingkat partisipasi dengan dampak ekonomi pengelolaan desa wisata