31665 research outputs found
Sort by
Uji Laboratorium Microfertilizers Untuk Perkecambahan Benih Jelutung Rawa dan Padi
Deforestasi lahan gambut telah menyebabkan berbagai bencana ekologis bagi lingkungan. Program rehabilitasi menggunakan penanaman spesies adaptif jelutung rawa (Dyera polyphylla) dan padi Inpara 2 (Oryza sativa), serta pemupukan diperlukan sebagai upaya percepatan pemulihan ekosistem gambut. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi formula pupuk mikro berbasis limbah kelapa sawit dan menganalisis pengaruh aplikasi pupuk mikro terhadap perkecambahan jelutung dan benih padi. Pupuk yang digunakan berupa mikrokarbon teraktivasi (MT), mikrokarbon non aktivasi (MNT), mikrolignoselulosa (ML), dan mikrokristalin (MK) yang berasal dari biomassa kelapa sawit dengan konsentrasi 1%, 3%, 5%, dan 7%. Penelitian ini menunjukan bahwa pupuk berpengaruh signifikan terhadap semua parameter dalam uji perkecambahan rawa jelutung dan berpengaruh signifikan terhadap sebagian besar parameter uji perkecambahan padi, kecuali parameter laju perkecambahan. Perlakuan MK 5% menghasilkan perkecambahan jelutung rawa terbaik, sedangkan MNT 1% menghasilkan perkecambahan padi terbaik.Peatland deforestation has caused various ecological disasters for the environment. The rehabilitation program uses the planting of adaptive species of swamp jelutung (Dyera polyphylla) and Inpara 2 paddy (Oryza sativa), as well as fertilization as an effort to accelerate the recovery of the peat ecosystem. This research aimed to produce microfertilizers formula based on palm oil waste and analyze the effect of microfertilizer application on the germination of swamp jelutung and paddy seeds. The fertilizers used are activated microcarbon (MT), non-activated microcarbon (MNT), microlignocellulose (ML), and microcrystalline (MK) derived from oil palm biomass with concentrations of 1%, 3%, 5%, and 7%. Fertilizers application significantly affected all parameters in the swamp jelutung germination test and significantly impacted most of the rice germination test parameters, except for the Mean Germination Time parameter. The MK 5% treatment produced the best
germination of swamp jelutung, while MNT 1% produced the best paddy germination.Tim PDUPT 202
Pendugaan Simpanan Karbon Mangrove di Kawasan Mangrove Muara Sungai Musi, Sumatra Selatan
Ekosistem mangrove membentuk siklus karbon yang saling terhubung dan menghasilkan simpanan karbon yang lebih besar dari tipe hutan tropis lainnya. Karbon mangrove memiliki peran penting dalam penyerapan emisi gas rumah kaca yang terkandung dalam atmosfer bumi. Kebutuhan data terkait karbon mangrove sangat penting dalam memprediksi kontribusi dan kemampuan ekosistem pesisir dalam pengendalian iklim secara nasional dan internasional. Perhitungan simpanan karbon dilakukan pada hutan mangrove Delta Muara Sungai Musi, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan. Hasil penelitian menunjukan hutan mangrove memiliki simpanan karbon maksimum mencapai 509 ton ha-1 dengan rata rata simpanan karbo sebesar 121 ton ha-1 . Simpanan karbon ini terkandungan pada spesies dominan yaitu A. marina, A. alba, dan S. caseolaris. Informasi simpanan karbon ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam aktivitas antropogenik secara berkelanjutan di sekitar hutan mangrove, dan juga dapat dijadikan bahan rujukan bagi penelitian selanjutny
Phytoplankton identification using Deep Learning with the YOLOv8 Algorithm Implemented on the Website
Fitoplankton memiliki peran penting dalam ekosistem dan dapat berfungsi sebagai bioindikator kualitas perairan. Genus Bacteriastrum, Chaetoceros, dan Thalassiothrix merupakan diatom yang dominan karena morfologinya yang dapat hidup dalam lingkungan tercemar. Identifikasi fitoplankton menjadi krusial untuk analisis dan mencegah potensi kerusakan ekosistem. Metode konvensional memerlukan waktu dan keahlian observasi karena kemiripan morfologi, sehingga diperlukan metode alternatif yang mudah dan efisien. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini menggunakan metode deep learning algoritma YOLOv8 yang diimplementasikan pada website dengan framework Flask untuk menjadi solusi. Pengambilan sampel dilakukan pada dua tempat yaitu Perairan Palabuhanratu dan Perairan Pulau Kelapa Dua dengan aktif dan pasif vertikal. Pelabelan melalui platform Roboflow dan training dilakukan pada Google Colaboratory dengan dua model epoch berbeda yaitu 1000 dan 3000, 16 batch, serta learning rate 0,01. Implementasi website dilakukan dengan framework Flask. Sampel yang diperoleh sebesar 700 dataset yang seimbang dengan genus Bacteriastrum, Chaetoceros, dan Thalassiothrix. Performa model training epoch 3000 menghasilkan akurasi sebesar 97,14%, recall, precision, dan F1-score berturut-turut 0,9855. Model tersebut dapat bekerja dengan baik diimplementasi menggunakan framework Flask setelah diuji.Phytoplankton has an important role in the ecosystem and serve as a bioindicator of water quality. The genera Bacteriastrum, Chaetoceros, and Thalassiothrix are the dominant diatoms because of their morphology that can live in polluted environments. Pythoplankton identification is crucial for analysis and prevent potential ecosystem damage. Conventional methods require time and observation skills due to morphological similarities, so an easy and efficient alternative method is needed. Therefore, the purpose of this research is to use deep learning YOLOv8 algorithm implemented on websites with Flask framework method can be a solution. Sampling was conducted in two places, namely Palabuhanratu and Kelapa Dua Island Waters with active and passive vertical. Labeling uses the Roboflow platform and training is carried out on Google Colaboratory with two different epoch models, namely 1000 and 3000, 16 batches, and a learning rate of 0.01. Website implementation uses Flask framework. Balanced 700 datasets obtained with the genera Bacteriastrum, Chaetoceros, and Thalassiothrix. The performance of the model from epoch 3000 training results in high accuracy of 97.14%, recall, precision, and F1-score of 0.9855 respectively. This model can work well implemented using the Flask framework after testing
Effectiveness of NSP Enzyme and Organic Chromium Supplementation in Low-protein Feed on Carbohydrate Utilization in Pomfret Colossoma macropomum
Ikan bawal Colossoma macropomum merupakan ikan yang berasal dari
Sungai Amazon yang mulai masuk dan dibudidayakan di Indonesia sekitar tahun
1980. Provinsi Jawa Barat merupakan sentra penghasil ikan bawal, yang total
produksinya mewakili 40% hingga 43% total produksi ikan bawal di Indonesia.
Pakan merupakan faktor penting dari budidaya ikan bawal karena biaya pakan
mencapai 85-98% dari biaya produksi. Semakin tinggi kandungan protein pada
pakan membuat harganya juga semakin mahal. Oleh karena itu, penurunan kadar
protein dapat menjadi solusi untuk menurunkan biaya produksi. Penurunan kadar
protein pakan biasanya diimbangi dengan peningkatan kadar karbohidrat.
Karbohidrat adalah sumber energi makanan yang paling murah. Namun
demikian, peningkatan karbohidrat dalam pakan akan meningkatkan polisakarida
non pati yang merupakan zat antinutrisi yang dapat mengurangi kecernaan ikan.
Kecernaan bahan sumber karbohidrat pada pakan dapat ditingkatkan dengan
penambahan enzim non starch polysaccharidase (NSP). Kandungan di dalam
enzim NSP antara lain Endo-1,4-beta-xylanase, Endo-1,4-beta-glucanase, phytase
dan protease. Aplikasi enzim pada pakan bertujuan untuk membantu mendegradasi
senyawa komplek menjadi sederhana dan dilanjutkan dalam saluran pencernaan.
Ikan bawal termasuk dalam golongan ikan omnivora. Ikan omnivora pada
umumnya kurang mampu memanfaatkan karbohidrat pada pakan disebabkan
karena keterbatasan kemampuan organ pencernaan ikan dalam mencerna
karbohidrat pakan dan ketersediaan hormon insulin dalam mentransfer glukosa ke
dalam sel sebagai sumber energi. Semakin tinggi karbohidrat yang dicerna oleh
ikan, akan meningkatkan glukosa darah. Jika glukosa tidak bisa dimanfaatkan,
maka ikan akan terpapar hiperglikemia yang menyebabkan stress oksidatif. Insulin
adalah hormon polipeptida yang mengatur metabolisme karbohidrat dan merupakan
efektor utama dalam homeostasis karbohidrat. Pemanfaatan karbohidrat dapat
ditingkatkan melalui pemberian kromium organik dalam pakan. Kromium organik
merupakan mikromineral esensial yang berperan meningkatkan aktivitas insulin.
Kromium organik juga dapat meningkatkan kinerja beberapa organ pencernaan,
meningkatkan metabolisme karbohidrat, serta meningkatkan retensi protein. Oleh
sebab itu, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi dosis optimal suplementasi
enzim NSP dan kromium organik pada pakan rendah protein terhadap pemanfaatan
karbohidrat pada ikan bawal.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Rancangan percobaan
yang digunakan adalah rancangan faktorial dua faktor yang terdiri atas dosis enzim
NSP (0 g/kg dan 1 g/kg) dan dosis kromium organik (0 mg/kg, 1 mg/kg dan 2
mg/kg). Masing masing perlakuan tiga ulangan, dengan perlakuan N0K0 (0 g/kg
enzim NSP + 0 mg/kg kromium organik), N0K1 (0 g/kg enzim NSP + 1 mg/kg
kromium organik), N0K2 (0 g/kg enzim NSP + 2 mg/kg kromium organik), N1K0
(1 g/kg enzim NSP + 0 mg/kg kromium organik), N1K1 (1 g/kg enzim NSP + 1
mg/kg kromium organik), dan N1K2 (1 g/kg enzim NSP + 2 mg/kg kromium
organik).
Ikan bawal yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari pembudidaya
ikan di Bogor, Jawa Barat. Pemeliharaan ikan bawal dilakukan dengan kepadatan
15 ekor per akuarium (80×50×35) cm3
dengan tinggi air 18,8 cm sehingga volume
air sebanyak 75 L. Bobot awal individu rata-rata 9 g dan dipelihara selama 60 hari
dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari yaitu jam 08.00, 12.00 dan 16.00
secara at satiation. Pada pemeliharaan hari ke-15, 30 dan 45 dilakukan sampling
penimbangan biomassa ikan. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara
penggantian air secara bertahap setiap hari dengan volume 30-70%. Pengukuran
kualitas air meliputi oksigen terlarut, pH, total amoniak yang dilakukan pada awal,
pertengahan dan akhir pemeliharaan. Kisaran nilai pH 7,15 – 7,36, suhu 28,3 –
31,4 °C, oksigen terlarut 4,9 – 6,3 mg/L dan TAN 0,14 – 0,27 mg/L. Parameter
yang dievaluasi pada penelitian ini antara lain glukosa darah postprandial, aktivitas
antioksidan (MDA, SOD dan GPx), glikogen (hati dan otot) dan parameter
pertumbuhan (tingkat kelangsungan hidup, bobot ikan pada awal pemeliharaan,
bobot ikan pada akhir pemeliharaan, jumlah konsumsi pakan, laju pertumbuhan
harian, rasio konversi pakan, retensi protein dan retensi lemak).
Hasil penelitian menunjukkan penambahan kadar glukosa darah postprandial
tertinggi terjadi pada pakan yang ditambahkan enzim NSP dan penurunan glukosa
darah postprandial tercepat pada pakan yang ditambahkan kromium organik.
Selanjutnya nilai malondialdehyde (MDA) terendah dan superoxide dismutase
(SOD) dan glutathione peroxide (GPx) tertinggi didapat pada ikan yang diberi
pakan mengandung 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik. Ikan yang
diberi pakan yang mengandung 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik
menunjukkan nilai signifikan pada glikogen otot serta kinerja pertumbuhan seperti
bobot ikan pada akhir pemeliharaan, jumlah konsumsi pakan, laju pertumbuhan
harian, dan retensi lemak. Sedangkan pada glikogen hati, rasio konversi pakan, dan
retensi protein nilai signifikan pada pakan yang mengandung 0 g/kg enzim NSP dan
2 mg/kg kromium organik dan 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg kromium organik.
Berdasarkan hasil penelitian ini, suplementasi 1 g/kg enzim NSP dan 1 mg/kg
kromium organik dapat meningkatkan pemanfaatan karbohidrat berdasarkan dari
hasil uji glukosa darah postprandial, aktivitas antioksidan, glikogen hati dan otot
serta parameter pertumbuhan
Management of Vascular Streak Dieback (VSD) on Cocoa Plants by farmers in East Luwu Regency and the Potential of Endophytic Bacteria as Control Agents
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomi potensial untuk peningkatan devisa negara. Produktivitas kakao belum tercapai secara optimal karena kurangnya perawatan dan pemeliharaan yang dilakukan petani sehingga intensitas serangan hama dan penyakit masih cukup tinggi. Rendahnya produktivitas kakao juga dipengaruhi oleh penyakit, salah satu diantaranya yaitu Vascular Streak Dieback (VSD) yang disebabkan oleh cendawan Oncobasidium theobromae. Penyakit VSD dapat terjadi mulai dari fase pembibitan, tanaman muda, maupun tanaman dewasa yang berproduksi. Pengendalian penyakit VSD masih sulit dilakukan karena cendawan O. theobromae merupakan cendawan parasit obligat menginfeksi jaringan xilem tanaman yang terlindung dan sulitnya mengembangbiakkan pada media buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pengetahuan, sikap, dan tindakan petani dalam pengelolaan hama dan penyakit padatanaman kakao serta mengkaji potensi isolat bakteri endofit dalam mengendalikan penyakit VSD.
Penelitian pertama merupakan penelitian lapangan dengan pengamatan tanaman di lahan kakao dan wawancara langsung dengan petani menggunakan acuan kuesioner terstruktur di Kecamatan Burau dan Wotu di Kabupaten Luwu Timur. Jumlah responden petani adalah 50 petani untuk setiap kecamatan, pemilihan petani responden dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan mudah ditemui dan lokasi kebun yang mudah dijangkau. Penelitian kedua adalah melakukan screening beberapa isolat bakteri endofit terhadap penyakit VSD. Kegiatan ini meliputi persiapan isolat bakteri endofit, pembibitan benih kakao, penempatan bibit kakao pada pohon kakao yang bergejala VSD, aplikasi bakteri endofit dengan cara penyiraman dan penyemprotan, pengamatan peubah agronomi serta pengamatan intensitas penyakit. Kegiatan di laboratorium dilanjutkan dengan isolasi patogen dari bibit kakao yang menunjukkan gejala VSD dengan media water agar.
Penelitian pertama menunjukkan sebagian besar petani responden merupakan kelompok tani aktif. Hama dan penyakit adalah permasalahan utama yang dihadapi petani dalam budi daya kakao. Mayoritas petani responden menggunakan klon MCC 02 pada lahan kakaonya dan jarak tanam yang digunakan yaitu 3x3 m. Penyakit yang ditemukan pada lahan kakao petani diantaranya, yaitu VSD, busuk buah, jamur upas, dan kanker batang. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan melalui penggunaan pestisida kimia dan pemangkasan (teknik budi daya). Petani kakao di Kecamatan Burau dan Wotu rutin melakukan pemangkasan sebagai salah satu teknik pengendalian penyakit pada lahan kakao. Pemangkasan pada tanaman kakao yang dilakukan petani bertujuan untuk membuang cabang yang sakit serta memacu pertumbuhan bunga dan buah.
Penelitian kedua menunjukkan bahwa dari 8 isolat bakteri endofit yang diuji, hanya salah satu bakteri endofit yaitu isolat LCA 19 yang mampu menunjukkan hasil yang positif dan mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kakao dibanding kontrol. Namun, hal ini berbeda dengan hasil pengamatan intensitas penyakit yang menunjukkan bahwa perlakuan bakteri endofit belum mampu untuk menurunkan keparahan penyakit yang disebabkan oleh cendawan O. theobromae. Hasil isolasi cendawan pada bibit kakao yang bergejala VSD, ditemukan adanya asosiasi beberapa cendawan seperti Fusarium sp., Rhizoctonia sp., dan Colletotrichum sp.
Mutu Dan Potensi Produksi Berbagai Jenis Cormel Sebagai Bahan Tanam Dua Aksesi Talas (Colocasia esculenta L. Schott)
Talas merupakan tanaman pangan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber karbohidrat. Kendala yang dihadapi saat ini adalah belum tersedianya bahan tanam yang bermutu. Sulitnya memperoleh benih pada talas menyebabkan budidaya talas pada umumnya menggunakan bahan perbanyakan vegetatif, seperti cormel, anakan, dan stolon. Keuntungan penggunaan bahan perbanyakan vegetatif adalah memiliki sifat yang sama dengan induknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi mutu berbagai jenis cormel sebagai bahan tanam talas dan mempelajari potensi berbagai jenis cormel terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman talas serta mempelajari pertumbuhan, perkembangan, dan waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan cormel dari berbagai jenis cormel dan potensinya dalam produksi benih cormel. Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama adalah mutu beberapa jenis cormel dari dua aksesi talas sebagai bahan tanam yang dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah aksesi S24 dan aksesi S28 dan faktor kedua adalah jenis cormel sebagai bahan tanam yaitu cormel primer, cormel sekunder dan cormel tersier. Percobaan kedua adalah pertumbuhan dan perkembangan cormel dari berbagai jenis cormel. Penelitian ini menemukan bahwa benih dengan kualitas terbaik berasal dari cormel primer yang menempel langsung pada umbi utama yang digunakan sebagai bahan tanam. Perkecambahan cormel primer diperoleh sebesar 53,25%, diikuti oleh cormel sekunder dan tersier sebesar 51,59% dan 39,42%. Hari pertama munculnya tunas dan daun digunakan sebagai parameter vigor, S24 lebih cepat 30,26 hari dibandingkan S28 yaitu 58,08 hari. Aksesi S24 tidak memiliki perbedaan yang nyata antar jenis cormel pada parameter ini. Sebaliknya, S28 memiliki perbedaan yang signifikan antar jenis cormel, dengan nilai cormel primer 33,65 hari dibandingkan dengan cormel sekunder dan tersier masing-masing 62,57 dan 78,02. Penelitian ini menunjukkan bahwa cormel primer terbentuk 8 minggu setelah tanam (MST), diikuti oleh cormel sekunder dan tersier pada 12 MST
Demand Forecasting and Material Requirement Planning for a Tea and Boba Beverage Outlet
Pertumbuhan pasar minuman teh dan boba telah berkembang cepat di Indonesia. Gerai Haus! Dramaga merupakan salah satu gerai minuman teh dan boba yang mengalami kendala dalam perencanaan kebutuhan material/ bahan baku disebabkan perbedaan fluktuasi permintaan pada varian produk yang beragam, khususnya minuman. Penelitian ini dilakukan dari bulan Oktober 2023-Februari 2024 di gerai Haus! Dramaga, Bogor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi proses produksi, mengklasifikasikan varian produk minuman menggunakan ABC Class-Based, menentukan metode peramalan terbaik produk varian minuman prioritas utama diantara metode Trend Analysis, Double Exponential Smoothing, dan Decomposition, dan menentukan kebutuhan jumlah dan jadwal pemesanan material/ komponen varian produk minuman pilihan. Strategi proses produksi yang diterapkan gerai Haus! Dramaga adalah strategi proses fokus berulang. Terdapat 12 varian produk minuman yang termasuk kategori produk prioritas utama. Metode peramalan terbaik untuk 10 varian adalah metode Trend Analysis. Sedangkan metode peramalan terbaik dua varian sisanya adalah metode Decomposition. Berdasarkan hasil peramalan, terdapat tiga varian yang mengalami trend kenaikan pada permintaan, yaitu Choco Cheese Crunchy, Choco Ovaltine dan Strawberry Tea. Jumlah kebutuhan komponen varian Choco Cheese Crunchy diperoleh dari kalkulasi Bill of Material dan Jadwal Induk Produksi, dengan jadwal pemesanan maksimal 12 kali per tahun dan ukuran lot pemesanan berdasarkan kebutuhan bulanan.The tea and boba beverage market in Indonesia rapidly grew. Haus! Dramaga, a tea and boba outlet, faced challenges in material requirements planning due to fluctuating demand across various product variants. This study, conducted from October 2023 to February 2024 at Haus! Dramaga in Bogor, aimed to identify the production process strategy, classify beverage variants using the ABC Class-Based method, determine the best forecasting method for priority beverage variants among Trend Analysis, Double Exponential Smoothing, and Decomposition, and establish material order quantities and schedules for selected beverage variants. Haus! Dramaga applied a repetitive process focus strategy. Twelve beverage variants were identified as top priority products. Trend Analysis was the best forecasting method for ten variants, while Decomposition was best for the other two. Forecasting results showed an upward demand trend for Choco Cheese Crunchy, Choco Ovaltine, and Strawberry Tea. The required components for Choco Cheese Crunchy were determined using Bill of Material calculations and the Master Production Schedule, with a maximum ordering frequency of 12 times per year and lot sizes based on monthly needs
Sensory Quality and Antioksidan Aktivity Syrup with Additional of Rosella
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) atau belimbing sayur banyak ditanam oleh masyarakat sebagai tanaman pekarangan. Ciri khas dari buah belimbing wuluh adalah rasanya yang sangat asam, sehingga jarang masyarakat memakannya secara langsung. Kemampuan belimbing wuluh yang berbuah sepanjang tahun tersebut tidak diimbangi dengan pemanfaatannya secara optimal, sehingga buah ini sering terbuang begitu saja. Pemanfaatan buah belimbing wuluh sebagai bahan makanan juga masih terbatas, di antaranya ditambahkan ke dalam masakan olahan untuk memberikan rasa asam, atau dibuat minuman. Belimbing wuluh memiliki kandungan zat gizi, yaitu vitamin (vitamin A, asam askorbat, riboflavin, thiamin, dan niasin), mineral (kalsium, fosfor, dan sulfur), dan komponen bioaktif sepertu fenol, flavonoid, dan pektin, saponin, tannin, glukosida, kalsium oksalat, sulfur, asam format, peroksidase. Nilai tambah belimbing wuluh dapat ditingkatkan dengan mengolahnya menjadi sirup. Pengolahan belimbing wuluh menjadi sirup dapat dikombinasikan dengan penambahan bunga rosella (Hibiscus sadbariffa L.) Tanaman rosella merupakan anggota famili Malvaceae yang dapat tumbuh subur di wilayah tropis dan subtropis. Bunga rosella berwarna merah yang berasal dari kadar antosianinnya yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh formulasi sirup belimbing wuluh dengan penambahan rosella yang optimal berdasarkan sifat organoleptik sirup dengan atribut rasa, aroma, warna, kekentalan dan penerimaan keseluruhan, dan mengevaluasi aktivitas antioksidan (IC50) dan karakteristik kimia masing-masing formula sirup belimbing wuluh dengan penambahan rosella, serta stabilitas aktivitas antioksidan (IC50) formula terpilih selama penyimpanan.Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu persiapan bahan, ekstraksi belimbing wuluh dan rosella. Kemudian dilakukan formulasi F1, F2, F3 untuk mendapatkan sirup paling disukai dengan uji kesukaan. Analisis data menggunakan program SPSS dan tingkat kesukaan menggunakan uji Anova satu jalur (oneway anova), dan diuji dengan uji lanjut Duncan apabila signifikan. Uji antioksidan IC50 dilakukan untuk mengetahui kapasitas antioksidan dari formula sampel yang terpilih dengn metode DPPH. Kemudian tahap yang terakhir yaitu evaluasi mutu sirup selama penyimpanan dengan melakukan uji aktifitas antioksidan IC50. Berdasarkan hasil uji kesukaan Sirup belimbing wuluh yang dibuat dengan campuran ekstrak belimbing wuluh (50.0%), ektrak rosella (49,6%), pemanis stevia (0,3%), dan xanthan gum (0,1%)(Formula 1) menunjukkan formula yang terbaik dari aspek warna, rasa, aroma, dan penerimaan keseluruhan. Aktivitas antioksidan IC50 pada F1 sebesar 91,41±0,35a, F2 sebesar 83,0±0,02b, F3 sebesar 44,77±0,407c. Aktivitas antioksidan IC50 pada Formula terpilih cenderung mengalami penurunan selama penyimpanan hingga 5 minggu
The Effect of Compensation and Standard Operating Procedures (SOP) on Employee Performance at Guntur Sumber Mushroom
HAFIDZ ARIEF DARMAWAN. Pengaruh Kompensasi dan Standar Operasional
Prosedur (SOP) terhadap Kinerja Karyawan pada Guntur Sumber Mushroom.
Dibimbing oleh MURDIANTO.
Guntur Sumber Mushroom merupakan sebuah perusahaan yang bergerak
pada sektor pertanian komoditas jamur tiram. Pemberian reward dan kurangnya
penerapan standar operasional prosedur (SOP) mempengaruhi kinerja karyawan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompensasi dan standar
operasional (SOP) terhadap kinerja karyawan. Metode analisis yang digunakan
terdiri dari uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik, regresi linear berganda
dengan variabel independen berupa kompensasi dan standar operasional prosedur
(SOP) dan variabel dependen berupa kinerja karyawan. Hasil penelitian diperoleh
persamaan berikut: Y = 6,677 + 0,379 X1 + 0,477 X2 dan menunjukkan bahwa
kompensasi dan standar operasional prosedur (SOP) berpengaruh positif dan
signifikan. Koefisien determinasi sebesar 0,590 bahwa variabel kinerja karyawan
(Y) dipengaruhi oleh variabel kompensasi (X1) dan variabel standar operasional
prosedur (X2) sebesar 59 % dan 41% dipengaruhi oleh variabel lainnya.
Kata kunci: kinerja karyawan, kompensasi, standar operasional prosedur (SOP)HAFIDZ ARIEF DARMAWAN. The Effect of Compensation and Standard
Operating Procedures (SOP) on Employee Performance at Guntur Sumber
Mushroom. Supervised by MURDIANTO.
Guntur Sumber Mushroom is a company engaged in the agricultural sector of
oyster mushroom commodities. The provision of rewards and the lack of
application of standard operating procedures (SOP) affect employee performance.
This study aims to analyze the effect of compensation and operational standards
(SOP) on employee performance. The analysis method used consists of validity
test, reliability test, classical assumption test, multiple linear regression with
independent variables in the form of compensation and standard operating
procedures (SOP) and the dependent variable in the form of employee performance.
The results of the study obtained the following equation: Y = 6.677 + 0.379 X1 +
0.477 X2 and shows that compensation and standard operating procedures (SOP)
have a positive and significant effect. The coefficient of determination is 0.590 that
the employee performance variable (Y) is influenced by the compensation variable
(X1) and the standard operating procedure variable (X2) by 59% and 41% is
influenced by other variables.
Keywords: compensation, employee performance, standard operating procedures
(SOP
Keanekaragaman Hayati Tumbuhan di Areal Hutan Desa Sungai Pelang, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat
Sungai Pelang Village Forest is a village forest managed by a community group in Sungai Pelang Village, Matan Hilir
Selatan District, Ketapang Regency, West Kalimantan Province. The Community Group that manages Sungai Pelang VF
has a strong commitment to sustainable forest management. To minimize the negative impact of forest exploitation on
plant biodiversity in the area, it is necessary to identify the presence of protected and/or rare plant species, their threats,
as well as management and monitoring efforts for biodiversity that need to be carried out. This research aims to identify
the habitat conditions and biodiversity of plants in the Sungai Pelang VF area, Ketapang Regency, West Kalimantan
Province. The richness of plant species found in the Sungai Pelang VF area is 36 types which can be grouped into 25
families. Based on location, the highest plant species richness is found in transect 2 (24 species) and the least is found in
transect 3 (10 species). The diversity of plant species in the Sungai Pelang VF area ranges from low to medium (0.000 to
2.253), while the density of plant species ranges from 0 to 78,000 ind./ha. Based on its protection status, in the Sungai
Pelang VF area there are no protected plant species found according to Minister of Environment and Forestry Regulation
No. P.106 of 2018; However, 4 types of plants were found which were included in the CITES Appendix II List, and 1 type
of plant was included in the VU/Vulnerable category according to IUCN. There are 4 threats to plant biodiversity in the
Sungai Pelang VF area, namely (1) Illegal logging, (2) Area encroachment, (3) Availability of resources to manage and
monitor plants is still lacking, and (4) Forest and land fires. Plant biodiversity management activities in the Sungai Pelang
VF area that need to be carried out include boundary marking, internal and external outreach, prevention and protection
of plant biodiversity, further surveys of the population status of plant species, as well as coordination with relevant agencies
and the community. Plant biodiversity monitoring activities that need to be carried out include biodiversity and plant density,
the effectiveness of preventing and overcoming disturbances to plant biodiversity, and monitoring the intensity of
disturbances to plant biodiversity