31665 research outputs found
Sort by
Makroekonomi Global dan Indeks Saham Amerika dan Cina terhadap Pergerakan Jakarta Islamic Index Akibat Pandemi COVID-19.
Perubahan kondisi makroekonomi global akibat pandemi COVID-19 memberikan guncangan pada pasar modal seluruh dunia. Indeks saham syariah dinilai dapat menjadi pelindung nilai portofolio indeks saham konvensional meskipun ditengah kondisi krisis. Penelitian ini bertujuan dari untuk melihat respon Jakarta Islamic Index (JII) terhadap pasar saham Amerika-Cina dan makroekonomi global. Penelitian ini menggunakan model Vector Error Correction Model (VECM), dengan periode data sebelum lockdown dan lockdown yaitu 23 Januari 2020 hingga 17 April 2020. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa pengaruh jangka panjang pada periode sebelum lockdown indeks saham Jakarta Islamic Index merespon seluruh variabel secara signifikan. Akan tetapi, pada periode lockdown hanya Hang Seng Index dan Dow Jones Islamic Index yang berpengaruh secara signifikan. Dow Jones Islamic Market Index mengalami perubahan arah dari semula negatif pada periode sebelum lockdown menjadi positif pada periode lockdown. Variabel yang berkontribusi besar memengaruhi Jakarta Islamic Index pada periode lockdown yaitu Jakarta Islamic Index, VIX S&P 500, dan Fed Fund Rate secara berurutan. Pada periode lockdown, variabel yang berkontribusi besar memengaruhi Jakarta Islamic Index yaitu Dow Jones Islamic Market Index dan VIX S&P 500
Sifat Fisis dan Mekanis Kayu Jabon (Anthocephalus cadamba) Hasil Furfurilasi.
Kayu jabon merupakan salah satu jenis kayu cepat tumbuh yang mengandung banyak kayu juvenile sehingga sifat fisis dan mekanis lebih rendah dibandingkan kayu dewasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sifat fisis dan mekanis kayu jabon yang diimpregnasi furfuril alkohol. Proses impregnasi menggunakan metode vakum tekan. Hasil impregnasi FA kemudian dibandingkan dengan kayu jabon tanpa perlakuan impregnasi (kontrol). Rata-rata nilai weight percent gain (WPG) FA 99,37%. Rata-rata nilai kadar air, kerapatan, daya serap air, pengembangan volume, penyusutan, modulus elastisitas, modulus patah, kekerasan radial, kekerasan tangensial dan kekerasan ujung kayu jabon hasil impregnasi secara berturut-turut sebesar 2,15%, 0,64 g/cm3, 6,15%, 0,83%, 0,84%, 54.486 kg/cm2, 318 kg/cm2, 265 kg/cm2, 264 kg/cm2 dan 182 kg/cm2. Sementara itu, nilai rata-rata kadar air, kerapatan, daya serap air, pengembangan volume, penyusutan, modulus elastisitas, modulus patah, kekerasan radial, kekerasan tangensial dan kekerasan ujung kayu jabon kontrol secara berturut-turut sebesar 12,61%, 0,34 g/cm3, 69,9%, 6,9%, 2,87%, 52.924 kg/cm2, 493 kg/cm2, 127 kg/cm2, 134 kg/cm2 dan 258 kg/cm2. Kayu jabon hasil impregnasi FA memiliki stabilitas dimensi tinggi karena anti swelling efficiency (ASE) 88,81%. Berdasarkan analisis ANOVA, kayu jabon hasil furfurilasi tidak berpengaruh nyata pada pengujian modulus elastisitas dan kekerasan ujung
Pengaruh Sertifikat Halal terhadap Omzet IKM Produk Makanan di Kota Padang.
Penelitian tentang dampak kehalalan produk terhadap omzet Industri Kecil dan Menengah (IKM) belum banyak dilakukan terutama di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan IKM produk makanan bersertifikat halal di Kota Padang, serta menganalisis pengaruh sertifikat halal terhadap omzet IKM tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kota Padang dengan 20 responden yang memiliki sertifikat halal dan 20 responden yang tidak memiliki sertifikat halal. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis regresi linear berganda dan uji sampel berpasangan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan omzet IKM yang memiliki dan tidak memiliki sertifikat halal. Faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan perolehan omzet IKM secara positif dan signifikan adalah modal, jumlah produksi, dummy kepemilikan sertifikat halal, dan dummy promosi. Sementara, faktor yang tidak memengaruhi perolehan omzet IKM produk makanan di Kota Padang adalah lama usaha dan jumlah tenaga kerja
Efisiensi Pupuk Anorganik pada Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) Lahan kering dengan Aplikasi Kompos Blotong
Kebutuhan gula nasional per tahun sebesar 5.7 juta ton berupa 3.2 juta ton gula
kristal rafinasi (GKR) untuk industri dan 2.5 juta ton gula kristal putih (GKP) untuk
konsumsi. Produksi gula tebu tahun 2018 sebesar 2.17 juta ton lebih rendah
dibandingkan dengan produksi gula tebu tahun 2016 sebesar 2.2 juta ton. Hal ini
terjadi karena pertanaman tebu di Indonesia bergeser dari lahan sawah ke lahan sub
optimal berupa lahan kering. Lahan kering memiliki kendala berupa kapasitas tukar
kation (KTK) dan kadar C-organik rendah. Pengaruh keterbatasan kondisi
lingkungan menunjukkan perbedaan keragaan tanaman tebu. Solusi dalam
menghadapi permasalahan tersebut dengan dilakukan pemupukan yang tepat waktu
dan penggunaan varietas unggul. Kualitas tanah pada lahan kering belum mampu
diperbaiki dengan aplikasi pupuk anorganik, sehingga perlu dilakukan penanganan
tambahan dalam meningkatkan kualitas tanah. Penambahan bahan organik
merupakan salah satu cara untuk memperbaiki sifat tanah pada lahan kering.
Blotong merupakan hasil endapan nira yang dilakukan pada saat proses
penggilingan tebu. Bahan organik memperbaiki kapasitas menahan air, KTK,
ketersediaan hara dan struktur tanah. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari
peranan kompos blotong pada tanggap pertumbuhan dan hasil dua varietas terhadap
pupuk anorganik pada lahan kering.
Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan milik PT Kebun Tebu
Mas, Mantup, Lamongan, Jawa Timur. Percobaan disusun dengan rancangan petakpetak
terpisah (split-split plot design). Perlakuan yang digunakan terdiri dari tiga
faktor yaitu dua varietas, tiga taraf kompos blotong dan empat dosis pupuk
anorganik yang tersusun berturut-turut sebagai petak utama, anak petak dan anakanak
petak. Varietas yang digunakan adalah PS 881 dan PS 862, pupuk kompos
blotong terdiri dari tiga taraf yaitu 0, 5 dan 10 ton per hektar dan empat dosis pupuk
anorganik (persen dosis rekomendasi) yaitu 25%, 50%, 75% dan 100%.
Hasil menunjukkan pertumbuhan dan hasil varietas PS 862 lebih baik daripada
PS 881 pada keragaan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang, panjang
ruas dan hasil tebu. Varietas PS 881 memberikan tanggap lebih baik daripada
varietas PS 862 pada peubah keragaan jumlah ruas dan panjang batang pada
aplikasi kompos blotong. Dosis optimum pupuk anorganik didapatkan sebesar
75.93% untuk menghasilkan diameter batang varietas PS 881 dan 76.76% untuk
hasil tebu per hektar. Penggunaan kompos blotong dengan dosis 5 ton ha-1 mampu
memberikan efisiensi sebesar 0.097 ton kg-1 pada dosis 76.76% pupuk anorganik
tetapi belum mereduksi penggunaan pupuk anorganik dalam menghasilkan
diameter batang dan hasil tebu dua varietas
Regenerasi, Keragaman dan Ketahanan Propagul Klonal Anggrek Phalaenopsis Hibrida terhadap Infeksi Dickeya dadantii
Anggrek Phalaenopsis merupakan tanaman hias yang banyak digemari
oleh masyarakat karena memiliki keragaman baik dalam warna, bentuk bunga
maupun karakteristik lainnya yang unik, oleh karena itu banyak orang yang ingin
mengusahakannya, sehingga penyediaan bibit menjadi faktor penting dalam
agribisnis anggrek. Kelemahan perbanyakan anggrek secara konvensional adalah
membutuhkan waktu yang lama. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi
bibit secara cepat, banyak dan seragam adalah melalui kultur jaringan. Salah satu
kelemahan propagasi klonal in vitro adalah kemungkinan adanya variasi
somaklonal. Disisi pemuliaan tanaman, variasi somaklonal berguna untuk
mendapatkan keragaman genetik baru yang belum ada sebelumnya. Secara umum
penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan protokol propagasi klonal anggrek
Phalaenopsis dan mengidentifikasi adanya variasi somaklonal pada planlet yang
dihasilkan. Penelitian ini terbagi menjadi 2 percobaan: (1) multiplikasi tunas
anggrek Phalaenopsis pada media perlakuan BAP dan analisis keragaman genetik
planlet klonal dengan marka SNAP pada Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no 1102-
44 hasil multiplikasi dan (2) evaluasi respon ketahanan propagul klonal anggrek
terhadap bakteri dickeya dadantii.
Percobaan pertama bertujuan untuk mengevaluasi respon beberapa
genotipe anggrek Phalaenopsis terhadap konsentrasi BAP dalam multiplikasi
anggrek Phalaenopsis in vitro dan analisis keragaman planlet klonal anggrek
Phal. „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 dengan marka SNAP. Terdapat satu populasi
anggrek hibrida multigenotipe yaitu, Phal. amabilis x KHM 421 dan dua genotipe
hibrida Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ yaitu Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no
1102-38 dan Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 yang diuji dalam
penelitian ini. Perlakuan zat pengatur tumbuh BAP yang digunakan yaitu 0 μM,
11.09 μM, 22.19 μM, 33.29 μM dan 44.39 μM. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa media terbaik untuk jumlah tunas dan jumlah daun terbanyak adalah pada
perlakuan 22.19 μM BAP pada ketiga anggrek hibrida Phalaenopsis. Media
terbaik untuk pertumbuhan akar adalah pada 0 μM BAP pada populasi Phal.
amabilis x KHM 421, sedangkan untuk pertambahan jumlah PLBs adalah pada
media dengan penambahan 11.09 μM BAP dan hanya pada populasi Phal.
amabilis x KHM 421.
Hasil analisis molekuler dengan marka SNAP berdasarkan 11 lokus Pto
pada planlet klonal Phal. „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 menunjukkan adanya
keragaman sebesar 18.8%. Keragaman ditemukan pada planlet klonal dari
perlakuan 22.19 μM dan 44.39 μM BAP. Keragaman ini diduga berasal dari
variasi somaklonal terlihat dengan adanya penambahan BAP dengan beberapa
tingkatan. Keragaman dapat diidentifikasi karena perubahan alel pada beberapa
planlet di lokus-lokus tertentu.
Percobaan kedua bertujuan untuk mengevaluasi respon ketahanan
Phalaenopsis „Salbellina-IPB‟ no 1102-44 menggunakan metode leaf disk
v
terhadap bakteri Dickeya dadantii. Terdapat lima kriteria ketahanan yaitu tahan,
agak tahan, rentan, agak rentan dan sangat rentan berdasarkan pengamatan pada
24 jam setelah inokulasi. Terdapat tiga tanaman yang tahan, dimana dua aksesi
yang tahan berasal dari perlakuan media 22.19 μM (T2-15 dan T2-17), sementara
satu aksesi lainnya yang tahan berasal dari perlakuan media 44.39 μM (T4-23)
Sebaran Logam Berat Terlarut (Pb, Cd, Hg, dan As) di Perairan Pantai Cengkok, Teluk Banten
Perairan Teluk Banten merupakan salah satu wilayah yang dipadati dengan
berbagai aktivitas masyarakat, seperti industri dan pelabuhan yang berpotensi
membuang limbah termasuk bahan kimia beracun dan berbahaya seperti logam
berat. Tujuan penelitian ini adalah menentukan konsentrasi dan distribusi sebaran
logam berat terlarut (Pb, Cd, Hg, dan As) di Pantai Cengkok, Teluk Banten.
Penelitian ini dilakukan pada bulan April-September 2019. Analisis logam berat
terlarut mengikuti prosedur APHA 2012. Hasil penelitian menunjukkan kondisi
kualitas air perairan Pantai Cengkok mengalami fluktuasi selama periode
penelitian. Konsentrasi logam terlarut umumnya masih rendah (tidak terdeteksi)
terutama Hg dan As. Konsentrasi logam terlarut Pb dan Cd pada bulan April, Juni,
Juli dan Agustus umumnya masih rendah (tidak terdeteksi), pada bulan Mei
konsentrasi logam terdeteksi di beberapa lokasi pengamatan yaitu <0.002-0.011
mg/l Cd dan <0.002-0.008 mg/l Pb. Pada bulan September ditemukan pada semua
lokasi pengamatan dengan kisaran konsentrasi 0.007-0.014 mg/l Cd dan 0.004-
0.042 mg/l Pb. Diantara konsentrasi tersebut, hanya beberapa lokasi dengan Cd
dan Pb terindikasi melebihi baku mutu untuk kehidupan organisme. Pola
distribusi Cd dan Pb menunjukkan asal potensi sumber polutan dari daratan.
Proses dinamika pantai diduga berperan terhadap gradasi persebaran dan
homogenasi konsentrasi di lokasi penelitian
Respon Berbagai Varietas Jagung Terhadap Pemupukan N Melalui Daun Pada Budidaya Jenuh Air di Lahan Pasang Surut
Salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi jagung nasional adalah
memanfaatkan lahan pasang surut. Kandungan pirit yang tinggi dan kondisi pH
yang cenderung masam menyebabkan lahan pasang surut tergolong sebagai lahan
marjinal. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman
jagung pada lahan pasang surut adalah dengan memanfaatkan varietas yang toleran
tahan terhadap kondisi cekaman dan pemupukan yang tepat. Penelitian ini bertujuan
mengetahui respon pertumbuhan dari berbagai varietas jagung terhadap pemupukan
N melalui daun pada budidaya jenuh air. Penelitian dilaksanakan di Desa
Karyabakti, Kecamatan Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi
Jambi dari bulan April sampai Agustus 2019. Tipe lahan pasang surut yang
digunakan adalah tipe B. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan
split plot dengan main plot pemupukan N dan sub plot berupa varietas jagung.
Faktor main plot adalah dosis pemupukan urea melalui daun yaitu: 0 g urea L-1, 10
g urea L-1, 20 g urea L-1 dan 30 g urea L-1. Faktor sub plot terdiri dari empat taraf
varietas jagung yaitu: Sukmaraga, Pioneer-27, Bima-20 dan Bisma. Percobaan ini
diulang sebanyak 3 kali. Pemupukan urea melalui daun dengan konsentrasi 20 g L-
1 secara umum memberikan hasil terbaik pada parameter tinggi tanaman, jumlah
daun, dan diameter batang, sedangkan untuk komponen hasil seperti diameter
tongkol, bobot tongkol dengan kelobot, bobot tongkol tanpa kelobot, bobot biji, dan
produktivitas tertinggi dihasilkan pada perlakuan pemupukan 30 g L-1. Keempat
varietas yang digunakan menunjukkan hasil yang relatif sama untuk parameter
pertumbuhan jagung. Varietas Pioneer 27 memberikan hasil terbaik pada
komponen hasil bobot 100 biji, bobot biji dan produktivitas
Nilai Ekonomi dan Strategi Pembangunan Hutan Kota pada Lahan Bekas Tambang Batu Bara PT Bukit Asam, Tbk, Kabupaten Muara Enim.
PT Bukit Asam, Tbk sebagai salah satu perusahaan tambang batu bara
dengan produksi tertinggi, memerlukan upaya pengelolaan lingkungan untuk
meminimalisasi dampak negatif dari pertambangan. Salah satu bentuk pengelolaan
lingkungan yang dilakukan adalah reklamasi. Pembangunan hutan kota pada lahan
bekas tambang merupakan salah satu bentuk area penggunaan lain dari reklamasi.
Pembangunan hutan kota pada lahan bekas tambang batu bara belum berjalan
dengan baik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui persepsi
masyarakat terhadap pembangunan hutan kota; 2) Mengestimasi nilai ekonomi
guna tidak langsung dari hutan kota; 3) Menganalisis sistem kelembagaan dalam
pembangunan hutan kota; 4) Merumuskan strategi pembangunan hutan kota. Data
yang diperoleh dianalisa dengan analisis deskriptif kualitatif, analisis skala likert,
analisis pendekatan harga pasar, analisis benefit transfer, analisis stakeholder, dan
Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 1)
Pembangunan hutan kota belum berpengaruh secara sosial dan ekonomi, namun
sudah secara lingkungan bagi masyarakat; 2) Total nilai ekonomi guna tidak
langsung dari hutan kota adalah Rp 1 005 108 454,00/tahun yang terdiri dari nilai
ekonomi resapan air sebesar Rp 199 332 910,00/tahun dan nilai ekonomi serapan
karbon sebesar Rp 805 775 544,00/tahun; 3) Kelembagaan dalam pembangunan
hutan kota belum berjalan dengan baik, dilihat dari pelaksanaan tugas yang belum
efektif, adanya missing link antar stakeholder, dan belum adanya penegakkan
peraturan; 4) Berdasarkan perumusan strategi pembangunan hutan kota dengan
AHP, level kriteria yang menjadi prioritas utama adalah perencanaan (0.483),
sedangkan level alternatif yang menjadi prioritas utama adalah komitmen antara
perusahaan dan Pemerintah Daerah melalui penetapan target dan penyerahan
laporan
Dampak Relokasi Pasar Terhadap Ekonomi Pedagang Ikan (Studi Kasus: Pasar Ikan Modern Muara Baru, DKI Jakarta).
Rencana pemerintah dalam mempercepat pembangunan industri perikanan nasional membuat pemerintah membangun pasar ikan modern di Muara Baru yang menyebabkan pedagang ikan PPI Muara Baru direlokasi ke pasar tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi fisik ekonomi pedagang ikan sebelum dan setelah direlokasi, mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan pedagang ikan untuk direlokasi, menganalisis perbandingan kondisi ekonomi pedagang ikan sebelum dan sesudah relokasi serta menganalisis sistem kelembagaan di PIM Muara Baru. Metode yang digunakan adalah analisis deksriptif, analisis regresi logistik, analisis pendapatan, dan analisis kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relokasi menyebabkan perubahan kondisi fisik ekonomi pada pedagang ikan seperti keanggotaan KUSUKA, kondisi lingkungan, keadaan pasar, jumlah tenaga kerja (anak buah), total berat ikan dan jumlah penyewaan bak. Faktor- faktor yang mempengaruhi kesediaan pedagang ikan untuk direlokasi yaitu bantuan pemerintah, kondisi lingkungan, serta koordinasi antara pemerintah dan pedagang ikan dalam rencana relokasi Perubahan kondisi ekonomi yang terjadi kepada pedagang ikan yaitu berupa penurunan pendapatan sebesar Rp 86.707.566.000 per bulan dengan persentase sebesar 61%. Terdapat tiga aturan main dalam pengelolaan PIM Muara Baru antara lain, pengelolaan pasar ikan modern; penyewaan dan tarif lapak; dan pembangunan pasar ikan modern
Penggunaan Ruang berdasarkan Perilaku Bergerak Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa, Ciwidey, Jawa Barat
Owa jawa (Hylobates moloch) termasuk ke dalam famili Hylobatidae. Perilaku bergerak owa jawa dibedakan menjadi empat, yaitu brachiate (brakiasi), climbing (memanjat), bipedal (berjalan atau berlari), dan leaping (melompat). Penggunaan ruang oleh satwa liar menunjukkan interaksi antara satwa dengan habitatnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perilaku bergerak dan penggunaan ruang oleh owa jawa sebagai salah satu aspek kesiapan pelepasliaran. Subjek yang diamati terdiri dari dua pasang owa jawa dewasa. Metode yang digunakan adalah focal animal sampling. Pengamatan dilakukan selama 104 jam. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan pergerakan dominan di antara keempat individu. Brachiate dominan dilakukan oleh individu Acoy (♀) dan Iwan (♂), sedangkan bipedal dominan dilakukan oleh individu Kimba (♀) dan Douglas (♂). Berdasarkan uji t, jenis kandang memengaruhi pergerakan pada owa jawa. Owa jawa Pusat Rehabilitasi Primata Jawa sudah memenuhi salah satu kriteria pelepasliaran, yaitu berada pada bagian teratas kandang dan tidak pernah tidur di lantai kandang