31665 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan Ekonomi dan Ketimpangan Pembangunan Wilayah di Provinsi Jambi.
Pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Pembangunan tidak hanya berorientasi kenaikan pendapatan, namun juga memperhitungkan masalah lain seperti tingkat pendidikan yang lebih baik, peningkatan standar kesehatan dan nutrisi, pemberantasan kemiskinan, perbaikan kondisi lingkungan hidup, pemerataan kesempatan, peningkatan kebebasan individual dan pelestarian ragam kehidupan budaya. Hal ini bermakna bahwa keberhasilan pembangunan juga dapat dilihat dari semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor (World Development Report 1991).
Tingginya PDRB per kapita beberapa wilayah kabupaten di Provinsi Jambi juga diiringi dengan tingginya tingkat kemiskinan. Kegiatan investasi dan sumberdaya terkonsentrasi di perkotaan dan pusat-pusat pertumbuhan, sementara wilayah-wilayah yang jauh dari perkotaan (hinterland) mengalami eksploitasi sumberdaya yang berlebihan.
Tujuan dari penelitian ini yang pertama adalah memetakan perkembangan ekonomi wilayah di Provinsi Jambi, kedua adalah menganalisis ketimpangan pembangunan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi wilayah di Provinsi Jambi dan ketiga adalah merumuskan kebijakan dalam pemerataan pembangunan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jambi. Metode analisis yang di gunakan adalah: tipologi Klassen, analisis klaster, indeks Williamson, regresi linear berganda data panel dan Analytical Hierarchy Process (AHP)
Tipologi Klassen menunjukkan tren membaik dari tahun 2008 hingga 2017. Alokasi dana transfer baik DAU maupun DAK mendukung pencapaian kinerja ini. Indeks Williamson di Provinsi Jambi tahun 2008-2017 menunjukan tingkat ketimpangan sedang. Wilayah timur Provinsi Jambi lebih timpang dibanding wilayah barat. Belanja modal, belanja barang dan jasa serta jumlah penduduk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi wilayah di Provinsi Jambi. Kemajuan ekonomi yaitu PDRB bersama-sama dengan jumlah penduduk memengaruhi tingkat kemiskinan, pengangguran dan IPM. Prioritas kebijakan pembangunan wilayah di Jambi adalah untuk mengurangi ketimpangan antar daerah. Untuk mencapai ini, strategi adalah mengoptimalkan sumberdaya manusia
Pengelolaan Tebu (Saccharum officinarum L.) di Wilayah Kerja PG Madukismo, PT Madubaru, Yogyakarta dengan Aspek Khusus Perbanyakan Bibit dengan Bibit Satu Mata
Produksi gula Indonesia masih rendah sehingga perlu di tingkatkan. Salah
satunya dengan penggunaan bibit bagal satu mata (SBP). Tujuan kajian adalah
mempelajari dan menganalisis perbanyakan bibit metode SBP melalui
perbandingan produktivitas, rendemen dan analisis usahatani tebu SBP dengan
bagal 2-3 mata (konvensional). Kegiatan magang dilaksanakan di PG Madukismo,
PT Madubaru, Yogyakarta dari 20 Januari hingga 11 April 2020. Hasil kajian
menunjukkan perbanyakan bibit metode SBP lebih baik dibandingkan dengan
metode bagal konvensional. Produktivitas dari metode SBP nyata lebih tinggi
dibandingkan bagal konvensional. Hasil analisis rendemen untuk perbanyakan bibit
metode SBP dan bagal konvensional tidak berbeda nyata namun nilai rendemen
dari metode SBP lebih besar dibandingkan dengan bagal konvensional. Nilai b/c
ratio dan r/c ratio untuk analisis usahatani dari metode SBP lebih tinggi
dibandingkan bagal konvensional. Kendala penerapan perbanyakan bibit
menggunakan metode SBP oleh petani adalah minimnya pengetahuan terkait
pembuatan SBP dan besarnya biaya diawal kegiatan budidaya
Identifikasi Potensi Jenis Hasil Hutan dan Tahap Keekonomiannya di KPH Yogyakarta
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 6 tahun 2007 Pasal 1 Ayat 1,
Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) merupakan unit pengelolaan suatu wilayah
atau kawasan hutan sesuai dengan fungsi pokok dan peruntukannya serta memiliki
tujuan untuk mengelola dan atau memanfaatkan seluruh potensi hasil hutan
secara efisien dan lestari. Penelitian ini bertujuan menidentifikasi potensi dan
tahap keekonomian dari jenis-jenis hasil/manfaat yang terdapat dalam ekosistem
hutan di wilayah KPH Yogyakarta. Data dan informasi diperoleh melalui kegiatan
wawancara terhadap pegawai KPH dan masyarakat setempat, serta observasi
lapang. Hasil penelitian menunjukan KPH Yogyakarta memiliki 75 potensi
hasil/manfaat dari kawasan hutan yang terdiri dari beberapa jenis hasil hutan
kayu, hasil hutan bukan kayu, termasuk satwa liar dan jasa lingkungan, serta hasil
pertanian, dan hasil perternakan. Potensi hasil/manfaat tersebut dapat
diklasifikasikan: terdapat 2 jenis pada tahap keekonomian 1 (belum ada ilmu
pengetahuan tentang manfaat), 35 jenis pada tahap 2 (ada ilmu pengetahuan
tentang manfaat), 8 jenis pada tahap 3 (ada teknologi pemanfaatan), 9 jenis pada
tahap 4 (ada manajemen pemanfaatan), 12 jenis pada tahap 5 (ada pasar), 6 jenis
pada tahap 6 (ada keunggulan komparatif), dan 3 jenis pada tahap 7 (ada
keunggulan kompetitif). Berdasarkan kemajuan pada tingkat nasional
diperkirakan terdapat 33 jenis yang diharapkan mampu mencapai tahap
keunggulan kompetitif
Depolimerisasi Kappa Karaginan Menggunakan Oksidator Natrium Hipoklorit.
Peningkatan kelarutan kappa karaginan dalam air bersuhu ruang dapat dilakukan melalui depolimerisasi. Natrium hipoklorit adalah oksidator yang berpotensi diterapkan dalam proses depolimerisasi karaginan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh perbedaan konsentrasi klorin tersedia dan perbedaan waktu reaksi dalam proses depolimerisasi karaginan serta mengevaluasi karakteristik fisikokimia karaginan murni dan karaginan hasil depolimerisasi. Konsentrasi klorin tersedia yang digunakan adalah 1%, 2%, 3% (b/b) dengan waktu reaksi 30 menit atau 60 menit. Perbedaan konsentrasi klorin tersedia dan waktu reaksi memberi pengaruh nyata terhadap rendemen, bobot molekul, viskositas, dan kelarutan total karaginan hasil depolimerisasi. Karakterisasi pada karaginan hasil depolimerisasi menghasilkan perlakuan depolimerisasi terpilih yaitu kombinasi konsentrasi klorin tersedia 3% dengan waktu reaksi 30 menit dengan hasil rendemen 40.80%, derajat putih 64.06%, viskositas 9.57 cP, bobot molekul 115.47 kDa, kelarutan total 44.00%. Depolimerisasi kappa karaginan menggunakan NaOCl menyebabkan perubahan struktur galaktosa-4-sulfat, 3,6-anhidrogalaktosa, dan ikatan glikosidik pada karaginan serta terbentuknya gugus karboksil dan aldehida
Hubungan Kesetaraan Gender dengan Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Talas
Talas merupakan komoditi unggulan Kabupaten Bogor yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pengolahan makanan dan bahan baku industri. Rumah tangga petani talas merupakan elemen penting dalam pengembangan talas. Berbagai kebijakan, program hingga kegiatan dilaksanakan sebagai instrumen dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rumah tangga petani. Adanya ketidaksetaraan pada pembagian kerja serta ketidaksamaan akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan hasilnya akan berdampak pada cara anggota rumah tangga dalam mencapai kesejahteraan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat kesetaraan gender dengan tingkat kesejahteraan rumah tangga petani talas di Desa Sukajadi, Kabupaten Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu survei kepada responden sehingga didapatkan data kuantitatif dan didukung data kualitatif yang didapatkan dari informan dan responden. Unit analisis adalah rumah tangga petani talas. Hasil penelitian menunjukkan beda usia antara suami dan istri sebagai indikator karakteristik rumah tangga memiliki hubungan dengan tingkat kesetaraan gender. Pada penelitian ini ditemukan pula hubungan antara tingkat kesetaraan gender dan tingkat kesejahteraan rumah tangga
Pengembangan dan Nilai Gizi Tepung Tempe Benguk (Mucuna pruriens) serta Aplikasinya dalam Pembuatan Camilan Anak Usia Sekolah.
Leguminosa atau kacang-kacangan, salah satunya koro benguk (Mucuna pruriens) memiliki potensi sebagai sumber protein alternatif. Biji koro benguk mengandung berbagai macam zat gizi, baik makro maupun mikro yang memiliki manfaat untuk dikembangkan lebih lanjut. Selain mengandung zat gizi yang bermanfaat, pada biji koro benguk terdapat senyawa anti-gizi yang dapat menghambat penyerapan zat gizi serta dampak yang kurang baik lainnya. Pengolahan biji koro benguk menjadi tempe merupakan salah satu cara untuk mengoptimalkan kandungan gizinya yaitu protein, serta mengurangi senyawa anti-gizi di dalamnya yaitu asam sianida. Proses pembuatan tepung tempe benguk adalah salah satu upaya meningkatkan daya simpan serta dapat menjadi bahan baku dalam pengembangan beberapa produk pangan.
Secara umum, penelitian bertujuan mengembangkan dan menganalisis nilai gizi tepung tempe benguk (Mucuna pruriens) yang berpotensi sebagai salah satu bahan dalam pengembangan produk camilan untuk Anak Usia Sekolah berupa cookies. Sementara beberapa tujuan khusus dalam penelitian ini diantaranya: (1) Mempelajari proses pembuatan tempe benguk serta menganalisis kandungan gizi dan senyawa anti-gizinya; (2) Mempelajari proses pembuatan tepung tempe benguk dan aplikasinya dalam pembuatan cookies untuk Anak Usia Sekolah, serta menganalisis kandungan gizi, senyawa anti-gizi dan profil asam amino; (3) Melakukan uji hedonik, menentukan formula terpilih cookies komposit berbasis tepung tempe benguk, menganalisis kandungan gizi, senyawa anti-gizi dan profil asam amino cookies formula terpilih; (4) Menganalisis kontribusi zat gizi dan mengestimasi harga cookies formula terpilih.
Penelitian awal menggunakan desain eksperimental eksploratif melalui adaptasi proses pengolahan tempe benguk (Mucuna pruriens) di Yogyakarta. Pemilihan lokasi untuk memperoleh menggunakan metode purposive di Yogyakarta. Masyarakat Yogyakarta biasa mengonsumsi tempe benguk sebagai salah satu lauk makanan sehari-hari. Pemilihan lokasi pengumpulan sampel koro benguk dilakukan berdasarkan kesesuaian kriteria sampel, ketersediaan sampel, dan keberadaan lahan budidaya koro benguk yang dikelola dengan baik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 hingga Maret 2020. Penelitian meliputi pengambilan sampel koro benguk, pembuatan tempe benguk, pengembangan tepung tempe benguk, formulasi cookies komposit berbasis tepung tempe benguk dan analisis karakteristik kimia.
Formulasi cookies menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penentuan taraf dilakukan berdasarkan studi pustaka serta trial and error sebelum penetapan formula di laboratorium. Terdapat tiga formula yang digunakan dalam penelitian yaitu F1 (Formula dengan komposit berbasis tepung tempe benguk sebesar 50), F2 (Formula dengan komposit berbasis tepung tempe benguk sebesar 75), F3 (Formula dengan komposit berbasis tepung tempe benguk sebesar 100). Tiga formula diuji daya terimanya pada uji organoleptik. Analisis sensory atau uji orgnoleptik berupa uji rating hedonik dan uji rangking. Uji tersebut melibatkan 35
panelis semi terlatih untuk menentukan formula terpilih dan kesan panelis terhadap produk. Analisis statistik menggunakan Microsoft Excel 2010 dan SPSS 16.0 for Windows. Data tersebut dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan uji beda Mann Whitney.
Secara morfologi, koro benguk (Mucuna pruriens) memiliki warna cokelat muda dan rata-rata berat biji koro benguk sebesar (0.95±0.04 gram). Koro benguk mengandung kadar air, kadar abu, lemak, protein, karbohidrat, serat kasar, kalsium, zat besi, seng, dan HCN berturut-turut sebesar 12.73±0.10 (% b.b), 4.19±0.03 (% b.k), 4.97±0.38 (% b.k), 29.21±0.06 (% b.k), 61.63±0.41 (% b.k), 4.46±0.07 (% b.k), 76.38±8.77 (mg/100 g), 6.64±0.67 (mg/100 g), 3.08±0.12 (mg/100 g), dan <2.00 (ppm). Penggunaan koro benguk sebagai bahan baku dalam proses pembuatan tempe telah dilakukan oleh masyarakat Gunungkidul, Yogyakarta secara turun-temurun. Proses pembuatan tempe benguk dalam penelitian ini mengacu pada proses adaptasi dan modifikasi pembuatan tempe benguk Yogyakarta dalam skala laboratorium. Tempe benguk mengandung kadar air, kadar abu, lemak, protein, karbohidrat, serat kasar, kalsium, zat besi, seng, dan HCN berturut-turut sebesar 54.76±0.24 (% b.b), 2.25±0.28 (% b.k), 5.31±0.34 (% b.k), 28.37±1.23 (% b.k), 64.07±1.86 (% b.k), 8.08±1.08 (% b.k), 55.49±13.91 (mg/100 g), 6.56±0.39 (mg/100 g), 2.60±0.33 (mg/100 g), dan <2.00 (ppm).
Pembuatan tepung tempe benguk dilakukan sebagai salah satu alternatif tepung dalam pengembangan produk pangan. Tepung tempe benguk mengandung kadar air, kadar abu, lemak, protein, karbohidrat, serat kasar, kalsium, zat besi, seng, dan HCN berturut-turut sebesar 13.13±0.52 (% b.b), 0.87±0.04 (% b.k), 7.80±0.48 (% b.k), 29.11±0.47 (% b.k), 62.22±0.05 (% b.k), 4.76±0.02 (% b.k), 23.49±0.00 (mg/100 g), 5.87±1.36 (mg/100 g), 2.56±0.04 (mg/100 g), dan <2.00 (ppm). Asam amino pembatas pada tepung tempe benguk adalah sistin dan metionin (asam amino sulfur) dengan skor sebesar 67.64±0.13. Kandungan zat gizi cookies terpilih dengan taraf komposit berbasis tepung tempe benguk sebesar 75% (F2). Cookies terpilih mengandung kadar air, kadar abu, lemak, protein, karbohidrat, serat kasar, kalsium, zat besi, seng, dan HCN berturut-turut sebesar 2.67±0.11 (% b.b), 2.18±0.10 (% b.k), 38.31±1.71 (% b.k), 13.74±0.83 (% b.k), 45.77±2.55 (% b.k), 10.92±0.08 (% b.k), 43.66±0.70 (mg/100 g), 5.50±0.67 (mg/100 g), 2.52±0.06 (mg/100 g), dan <2.00 (ppm). Kandungan gizi cookies per takaran saji (40 gram) memenuhi energi sebesar 12.59% dan protein sebesar 12.08% terhadap Angka Kecukupan Gizi (AKG) Anak Usia Sekolah serta berpotensi sebagai pangan sumber protein, zat besi dan seng
Implementasi Kebijakan Perhutanan Sosial Skema HKm dan HTR: Tinjauan Kapasitas dan Akses Masyarakat
Kebijakan perhutanan sosial ditetapkan sebagai kebijakan prioritas nasional pada tahun 2015 di bawah kendali Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kebijakan tersebut menyediakan pemberian hak kelola legal kawasan hutan negara kepada masyarakat yang diatur dalam peraturan Menteri lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.83/Menlhk/Setjen/Kum.1/10/2016 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.39/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2017 khusus di wilayah kerja Perum Perhutani. Dalam konteks pengelolaan kawasan hutan negara oleh masyarakat, penelitian-penelitian sebelumnya menyatakan bahwa masyarakat memiliki kapasitas untuk mengelola kawasan hutan yang umumnya menegaskan tentang pengetahuan lokal, modal sosial, dan kearifan lokal yang didalami secara terpisah. Penelitian-penelitian tersebut belum ada yang menyatakan bahwa ketiga hal tersebut merupakan komponen yang menyusun kapasitas masyarakat sebagai satu kesatuan. Belum ada penelitian yang mendalami hubungan antara komponen kapasitas masyarakat dengan implementasi kebijakan perhutanan sosial. Penelitian-penelitian sebelumnya lebih banyak memfokuskan pada kesulitan dan hambatan yang dialami masyarakat pemegang izin untuk mencapai keberhasilan serta minimnya manfaat yang diperoleh dari kebijakan perhutanan sosial. Belum ada penelitian yang memfokuskan pada aspek akses masyarakat dan meneliti hubungan antara kapasitas dan akses masyarakat terutama pada skema HKm dan HTR. Demikian halnya belum banyak penelitian tentang kesenjangan implementasi kebijakan yang memfokuskan pada kelompok aktor yang ditetapkan dalam peraturan perhutanan sosial saat ini.
Disertasi ini mengisi celah penelitian tersebut untuk menganalisis kapasitas masyarakat, akses masyarakat dan kesenjangan implementasi kebijakan untuk merumuskan pilihan-pilihan rekomendasi perbaikan dan pengembangan implementasi kebijakan perhutanan sosial ke depan. Penelitian ini menggunakan pendekatan konstruktivis-interpretivis sebagai pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode studi dokumentasi dan studi lapangan. Masyarakat yang didalami yaitu masyarakat yang terlibat dalam 48 kegiatan grantee Yayasan Kehati, masyarakat HKm Beringin Jaya di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung dan masyarakat HTR Hajran di Kabupaten Batanghari Provinsi Lampung. Pengumpulan data menerapkan studi dokumentasi, wawancara mendalam informan kunci dan observasi partisipatif lapangan. Pengolahan, analisis data dan penyajian hasil penelitian menggunakan analisis isi secara kualitatif, analisis kesenjangan implementasi kebijakan dan analisis kualitatif.
Penelitian kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya hutan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki tiga komponen kapasitas yaitu kapasitas teknis sebagai perwujudan dari pengetahuan lokal, kapasitas berjaringan sebagai perwujudan dari modal sosial dan kapasitas kultural sebagai perwujudan dari kearifan lokal. Pada masyarakat yang terlibat dalam 48 kegiatan grantee Yayasan Kehati, kapasitas teknis ditunjukkan oleh 86 barang dan jasa lingkungan yang
ii
dihasilkan dengan teknik kebun campur atau agroforesti. Kapasitas berjaringan ditunjukan oleh 63 bentuk berjaringan antar anggota masyarakat dan 8 bentuk berjaringan dengan pihak di luar komunitasnya. Kapasitas kultural ditunjukan oleh 36 narasi yang menggambarkan nilai-nilai kultural masyarakat. Di masyarakat HKm Beringin Jaya, kapasitas teknis ditunjukkan oleh hasil biji kopi dan tanaman lain dengan menerapkan teknik agroforestri atau kebun campur di areal izin. Kapasitas berjaringan ditunjukkan oleh 8 bentuk berjaringan antar anggota masyarakat dan 9 bentuk berjaringan dengan pihak di luar komunitasnya. Kapasitas kultural ditunjukkan oleh 7 nilai kultural terkait pengelolaan areal izin. Pada masyarakat HTR Hajran, ketiga komponen kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan areal izin belum terbentuk dan terbangun. Masyarakat HKm Beringin Jaya memiliki ketiga komponen kapasitas yang lebih tinggi dibanding masyarakat HTR Hajran yang menentukan keberlanjutan pemanfaatan atau pengelolaan areal izin dan diperolehnya manfaat-manfaat yang dituju masyarakat dari implementasi kebijakan perhutanan sosial.
Penelitian akses masyarakat menunjukkan bahwa untuk sampai pada terbit izin, masyarakat HKm Beringin Jaya dan HTR Hajran harus memiliki akses ke: (1) informasi perhutanan sosial, (2) identitas sosial seluruh anggota yang akan terlibat, (3) pendamping, dan (4) otoritas pemerintah (desa, kabupaten, provinsi, KLHK dan UPT terkait). Di tahap pasca izin, untuk memperoleh manfaat-manfaat yang dituju oleh masyarakat, masyarakat pemegang izin harus memiliki akses ke: (1) modal, (2) pendamping, (3) informasi dan pengetahuan, (4) peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan administrasi keorganisasian formal, (5) otoritas pemerintah, (6) teknologi, (7) pasar dan jaringannya, dan (8) swasta/mitra usaha. Akses ke sumber daya tersebut lebih banyak diperoleh oleh masyarakat HKm Beringin Jaya karena didukung oleh tingginya kapasitas berjaringan masyarakat (bonding dan bridging social capital) dan difasilitasi pendamping yang memiliki kapasitas. Tingginya akses tersebut juga didukung oleh ketersediaan infrastruktur pendukung.
Penelitian kesenjangan implementasi kebijakan pada kelompok aktor menunjukkan bahwa hak dan kewajiban masyarakat pemegang izin, pekerjaan yang menjadi kewenangan pemerintah dan keterlibatan para pihak terkait sebagian besar difasilitasi oleh lembaga swadaya masyarakat (pendamping), sebagian kecil oleh pemerintah dan para pihak terkait lainnya. Implementasi kewenangan pemerintah (pusat-daerah) tidak berjalan memadai di lapangan karena kebijakan perhutanan sosial mengalami kompleksitas dalam implementasinya. Kompleksitas tersebut disebabkan oleh: (1) sistem politik dan otoritas yang terpisah antara pemerintah pusat dan daerah yang menuntut kolaborasi, koordinasi, dan sinergi, (2) belum optimalnya KPH sebagai lembaga terdekat dengan masyarakat, dan (3) menuntut pelaksana kebijakan dengan motivasi profesional dan kepribadian tinggi. Ketiga hal itu mengindikasikan tentang kapasitas pemerintah (pusat-daerah) untuk menjalankan kebijakan perhutanan sosial. Keterlibatan para pihak terkait dalam mendukung masyarakat lebih banyak dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat karena para pihak terkait lainnya akan terlibat apabila kepentingannya terakomodir dan masyarakat pemegang izin memiliki kapasitas untuk mengaksesnya. Sintesis dari ketiga hasil penelitian menghasilkan rumusan pilihan-pilihan rekomendasi untuk tiga tingkat pengambil keputusan (operasional, kolektif dan konstitusi)
Formulasi Strategi Pengembangan Usaha pada Peternakan CV. Mitra Tani Farm Kabupaten Bogor
CV Mitra Tani Farm merupakan perusahaan yang melakukan kegiatan usaha di bidang peternakan berupa pembibitan, penggemukan, dan penjualan hewan ternak berupa domba dan kambing. Peningkatan konsumsi yang tidak disertai dengan peningkatan produksi daging dari kedua hewan ternak tersebut, menjadikan usaha ini potensial untuk dikembangkan. Disamping itu, peluang usaha ternak domba dan kambing untuk kegiatan keagamaan di Indonesia cukup tinggi. Dalam rangka pengembangan usaha CV Mitra Tani Farm agar dapat bertahan dalam persaingan, maka dilakukan analisis terhadap faktor internal dan eksternal untuk memformulasikan alternatif strategi dan menentukan prioritas strategi. Metode penelitian menggunakan analisis matriks IFE dan EFE untuk menganalisis faktor internal dan eksternal, Matriks IE dan Matriks SWOT untuk memformulasikan alternatif strategi, dan Matriks QSP untuk menentukan prioritas strategi. Berdasarkan hasil penelitian, CV Mitra Tani Farm berada pada sel satu yaitu tumbuh dan membangun. Terdapat enam alternatif strategi yang dihasilkan dengan meningkatkan kegiatan promosi melalui media online maupun offline yang berciri Islami sebagai strategi prioritas
Populasi Ganjur Alang-alang Orseolia javanica Kieffer & van Leeuwen-Reijnvaan (Diptera: Cecidomyiidae) di Gunung Gadung Cipaku, Kota Bogor.
Alang-alang (Imperata cylindrica) merupakan gulma penting yang
menyebabkan kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi yang cukup tinggi
pada sektor pertanian, pemukiman, kehutanan, dan perkebunan. Pengendalian
alang-alang umumnya dilakukan secara mekanik, manual, dan kimiawi. Observasi
terhadap agen hayati alang-alang baru-baru ini mulai dilakukan. Salah satu
serangga yang dilaporkan memiliki potensi sebagai agen pengendali alang-alang
adalah nyamuk ganjur alang-alang (Orseolia javanica). Nyamuk ganjur alangalang
merupakan serangga monofagus dengan gejala serangan membentuk puru
pada daun. Infestasi serangga ini dapat mengurangi aktivitas fotosintesis pada
daun sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan alang-alang.
Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat populasi ganjur alang-alang dan
parasitoid nyamuk ganjur alang-alang di Gunung Gadung Cipaku, Kecamatan
Bogor Selatan, Kota Bogor. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai
September 2019. Penelitian dimulai dari penentuan titik pengamatan dan
pengambilan sampel, kemudian dilakukan pengukuran ganjur alang-alang,
perhitungan tingkat parasitasi nyamuk ganjur alang-alang, identifikasi parasitoid,
dan analisis data. Setiap pengamatan diamati sebanyak 25 titik menggunakan
kuadran berukuran 50x50 cm. Pengamatan dilakukan satu kali dalam seminggu
dengan jumlah pengamatan sebanyak sebelas kali. Rentang rata-rata populasi
ganjur setiap pengamatan yaitu 0.16 – 16 ganjur per m2. Populasi ganjur tertinggi
terjadi pada pengamatan ke-1 yaitu 16 ganjur per m2 dan terendah pada
pengamatan ke-5 dan ke-6 sebanyak 0.16 ganjur per m2
. Parasitoid ganjur alangalang
yang ditemukan yaitu, Aprostocetus sp. (Hymenoptera: Eulopidae) dan
Platygaster sp. (Hymenoptera: Platygasteridae)
Pertumbuhan Sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) Umur 14 Bulan dan Produktivitas Padi (Oryza sativa L.) Varietas IPB 3S dalam Sistem Agroforestri
Padi dan sengon merupakan tanaman yang banyak dikembangkan secara agroforestri. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan pada masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan sengon berbagai jenis serta padi IPB 3S dalam sistem agroforestri. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 Faktorial dengan faktor pertama yaitu jenis sengon solomon F1, Solomon F2 dan lokal serta faktor kedua berupa jarak tanam 1.5 m x 3 m dan 1.5 m x 1.5 m. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan sengon Solomon F2 pada umur 14 bulan mempunyai nilai tertinggi pada parameter tinggi dan diameter. Produktivitas padi IPB 3S tertinggi terdapat pada naungan sengon lokal pada jarak tanam 1.5 m x 1.5 m yaitu sebesar 0.201 ton/ha. Hal ini dikarenakan besarnya intensitas cahaya yang diterima padi yaitu 5414.30 lux. Secara aspek biofisik, kondisi lahan penelitian sudah mencukupi untuk pertumbuhan tanaman padi dan sengon