31665 research outputs found
Sort by
Nanoenkapsulasi Fikosianin dari Spirulina platensis dengan Kitosan Larut Air
Fikosianin merupakan pigmen biru yang terdapat pada Spirulina platensis.
Fikosianin dapat diekstrak dengan menggunakan sonikasi. Pigmen ini mudah
terdenaturasi, sehingga perlu dilakukan metode enkapsulasi. Penyalut yang
digunakan pada enkapsulasi berupa kitosan larut air yang memiliki berat molekul
rendah. Tujuan penelitian ini menentukan karakteristik kitosan larut air
menggunakan metode sinar UV dan menentukan pengaruh rasio kitosan larut air
pada proses enkapsulasi fikosianin. Depolimerisasi kitosan yang dilakukan
menggunakan sinar UV selama 30 dan 60 menit. Rasio enkapsulasi kitosan larut air
dan fikosianin terdiri dari 1:0.5, 1:0.75, dan 1:1. Indeks murni fikosianin sebelum
dan setelah purifikasi, yaitu 1.15±0.1 mg/mL dan 1.33±0.06. Ukuran partikel dan
indeks polidispersitas yang optimal didapatkan pada rasio 1:0.75, yaitu 457±51.6
nm dan 0.263±0.05. Nilai count rate tertinggi terdapat pada rasio 1:1, yaitu
212.61±1.25 103kcps. Enkapsulasi fikosianin dengan kitosan larut air dapat
menjaga stabilitas fikosianin selama 90 menit pada suhu 50 ᵒC
Aspek Teknologi dan Organisasi: Pengaruhnya terhadap Adopsi E-Commerce pada Usaha Mikro Kecil di Kabupaten Grobogan.
Indonesia saat ini sedang memasuki era digital dimana kebanyakan informasi dapat diakses dengan mudah. Kemudahan ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. E-commerce merupakan salah satu alternatif teknologi sebagai alat pemasaran yang dapat digunakan oleh UMK dalam memperluas bisnisnya guna mencapai target pasar yang sebelumnya tidak terjangkau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap adopsi e-commerce di usaha mikro kecil Kabupaten Grobogan. Responden pada penelitian ini adalah usaha mikro dan kecil (UMK) dengan total 100 responden, berdomisili di Kabupaten Grobogan dengan target yaitu para pelaku usaha mikro dan kecil (UMK). Metode pengambilan sampel yaitu Nonprobability Sampling dengan teknik Purposive Sampling. Alat analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan SEM-PLS menggunakan Smart PLS 3.0. Hasil menunjukan bahwa faktor organisasi dan teknologi berpengaruh positif dan signifikan terhadap adopsi e-commerce
Pengaruh Konsentrasi Ammonium Persulfate terhadap Karakteristik Nanoselulosa Kristal dari Serat Balsa dan Kapuk
Hasil hutan nonkayu berupa serat buah balsa dan kapuk adalah beberapa jenis serat berlignoselulosa yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan nanoselulosa sebagai penguat polimer. Kedua serat ini memiliki kandungan holoselulosa yang tinggi yaitu >80 % dan kandungan lignin yang rendah yaitu <20%. Nanoselulosa dapat dikategorikan dalam tiga kelompok yaitu nanoselulosa kristal (CNCs), nanoselulosa serat (CNFs), dan nanoselulosa bakterial (CNBs). CNCs mendapat perhatian dari para peneliti karena memiliki sifat mekanik yang tinggi dibandingkan dengan kelompok nanoselulosa yang lain. Proses ekstraksi CNCs serat balsa dan kapuk dapat menggunakan metode “satu tahap” dengan larutan ammonium persulfate (APS). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi konsentrasi larutan APS terhadap karakteristik CNCs serat balsa dan kapuk yang dihasilkan.
Ektraksi CNCs dari serat balsa dan kapuk menggunakan metode oksidasi APS. Ekstraksi CNCs dilakukan pada konsentrasi larutan APS yang berbeda-beda (1, 1.5, dan 2 M) pada suhu 60 oC selama 16 jam dengan pengadukan berlanjut. Karakteristik CNCs dievaluasi dengan beberapa alat pengujian. Karakteristik permukaan, ukuran CNCs, gugus fungsi, indeks kristalinitas dan stabilitas panas serat dan CNCs balsa dan kapuk dianalisis masing-masing menggunakan SEM, analisis PSA, FTIR spektroskopi, analisis XRD, dan analisis TGA.
Analisis PSA menunjukkan bahwa CNCs berhasil dihasilkan menggunakan metode APS pada larutan yang digunakan dan menghasilkan CNCs dengan ukuran 39-52 nm tergantung pada konsentrasi larutan yang digunakan. Analisis FTIR menunjukkan bahwa bagian lignin dan hemiselulosa hilang setelah ekstraksi menggunakan larutan APS. Indeks kristalinitas CNCs meningkat dengan meningkatnya konsentrasi APS tetapi stabilitas panas CNCs menurun karena meningkatnya luas permukaan dan hadirnya gugus karboksil group pada CNCs
Dampak Perubahan Struktur Penguasaan Lahan terhadap Struktur Nafkah Pasca Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus: Desa Sungai Teritip, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau).
Ekspansi perkebunan kelapa sawit swasta pada penelitian ini dilakukan oleh perusahaan dengan cara mengkonsolidasikan lahan milik masyarakat. Legalitas lahan milik masyarakat tersebut berupa Surat Keterangan Tanah (SKT) dari pemerintah desa. Sehingga pasca konsolidasi lahan terjadi perubahan penguasaan lahan berubah dari lahan milik pribadi (masyarakat) menjadi lahan yang dikuasai penuh oleh pihak swasta. Lahan ini kemudian beralih menjadi Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan dengan izin konsesi 30 tahun. Relasi produksi perusahaan-masyarakat direncanakan dilakukan dalam bentuk kemitraan dengan sistem bagi hasil sebesar 65 persen untuk perusahaan dan 35 persen hasil dari perkebunan untuk masyarakat pemilik lahan. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Teritip, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner untuk mendapatkan data kuantitatif dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data kualitatif. Hasil penelitian menujukan bahwa perubahan rezim penguasaan lahan berdampak pada struktur penguasaan lahan dan struktur nafkah rumah tangga. Mata pencaharian masyarakat kemudian banyak beralih pada sektor non farm. Sementara pendapatan sektor on farm yang diharapkan masyarakat dari lahan yang dikonsolidasikan kedalam HGU, faktanya belum memberikan kontribusi pendapatan meskipun perkebunan kelapa sawit dari lahan konsolidasi masyarakat tersebut telah berbuah dan sistem kemitraan telah disepakati
Analisis pada Beban Kerja Dosen IPB University Tahun Akademik 2018/2019.
Salah satu unsur dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi adalah dosen.
Salah satu masalah yang dihadapi IPB adalah tidak meratanya pembagian jam
mengajar diantara dosen berdasarkan penilaian kinerja dosen tahun akademik
2018/2019. Hasil penilaian ini menggunakan empat peubah: pendidikan, penelitian,
pengabdian masyarakat dan penunjang. Analisis biplot digunakan untuk
mengidentifikasikan pengelompokan kinerja dan memberikan informasi mengenai
karakteristiknya. BKD pengajaran berkorelasi negatif dengan BKD penelitian dan
pengabdian masyarakat. Secara umum, analisis biplot menunjukkan bahwa
FAPERTA (A), FKH (B), FPIK (C), FAPET (D), FAHUTAN (E) dan FATETA
(F) tergolong ke dalam fakultas yang memiliki nilai BKD penelitian dan
pengabdian masyarakat yang relatif lebih tinggi dibandingkan fakultas lainnya,
sedangkan fakultas FMIPA (G), FEM (H) dan FEMA (I) adalah fakultas yang
Sekolah Vokasi (J) merupakan fakultas dengan nilai BKD pengajaran yang relatif
tinggi, sedangkan Sekolah Bisnis (K) adalah fakultas dengan nilai BKD penunjang
yang relatif tinggi
Kinerja Pencernaan dan Produksi Benih Gurami (Osphronemus goramy Lacepede) pada Sistem Bioflok dengan Pakan Berbeda
Peningkatan produksi ikan konsumsi ikan gurami mendorong peningkatan
permintaan benih, untuk itu perlu dilakukan upaya peningkatan produksi melalui
intensifikasi pada pendederan ikan gurami. Upaya intensifikasi masih terkendala
dengan tingginya kematian ikan yang disebabkan oleh penurunan kualitas air dan
ketergantungan pada pakan alami. Pakan alami yang umum digunakan pada
kegiatan pendederan gurami adalah cacing sutra yang keberadaannya masih
terkendala dengan ketersediaannya di alam. Benih gurami umur 21 hari setelah
menetas dapat diberikan pakan buatan sebagai pakan alternatif. Aplikasi teknologi
bioflok dapat menjadi salah satu strategi pada intensifikasi pendederan gurami
melalui peningkatan kualitas air dan pemanfaatan pakan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengevaluasi kinerja pencernaan dan produksi pendederan benih ikan
gurami (Osphronemus goramy Lacepede) pada sistem bioflok dengan pemberian
jenis pakan yang berbeda.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu penelitian skala laboratorium dan
skala produksi. Pada skala laboratorium, benih ikan gurami yang digunakan
berukuran panjang 1,41±0,11 cm dan bobot 0,03±0,01 g berumur 21 hari setelah
menetas (dph). Penelitian ini menggunakan dua faktor perlakuan (2x3) yaitu sistem
budidaya ; bioflok (B) dan tanpa bioflok (K); serta jenis pakan; pakan buatan (P),
cacing sutra (C) dan kombinasi dari keduanya (CP), sehingga terdapat 6 perlakuan
dengan 3 ulangan yaitu bioflok pakan buatan (BP), bioflok cacing sutra (BC),
bioflok pakan kombinasi (BCP), tanpa bioflok pakan buatan (KP), tanpa bioflok
cacing sutra (KC) dan tanpa bioflok pakan kombinasi (KCP) yang dipelihara selama
21 hari. Aklimatisasi benih dilakukan selama 4 hari, kemudian didistribusikan
secara acak ke dalam 18unit akuarium (volume air 18 L) dengan kepadatan 5 ekor
L-1. Pemberian pakan dilakukan secara at satiation dengan frekuensi 4 kali sehari.
Penelitian skala produksi dilakukan pada sistem budidaya yang berbeda dengan
pemberian pakan yang menghasilkan kinerja produksi terbaik pada penelitian
laboratorium. Perlakuan tersebut adalah pemberian pakan kombinasi cacing sutra
dan pakan buatan (CP) pada sistem bioflok dan tanpa bioflok. Tujuan penelitan
tahap kedua adalah untuk mengevaluasi kinerja produksi pada skala yang lebih
besar dengan menggunakan analisis usaha pada pendederan gurami. Benih ikan
berukuran panjang rata-rata 1.18±0.001cm dan bobot rata-rata 0.02±0.001g ditebar
pada 6 unit bak beton dengan ukuran 3 m x 4 m x 0.15 m (volume air 1.200 L)
berada dalam greenhouse dengan prosedur pemeliharaan sama dengan tahapan
pada skala laboratorium.
Berdasarkan hasil penelitian pada skala laboratorium, benih gurami pada
perlakuan BCP (bioflok-pakan kombinasi) menunjukkan aktivitas enzim protease,
tinggi dan luas permukaan vili yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya
(p<0.05). Faktor sistem budidaya dan jenis pakan berpengaruh nyata (p<0.05)
terhadap laju pertumbuhan harian (LPH), rata-rata panjang dan bobot akhir ikan.
Interaksi yang bebeda nyata (p<0.05) menunjukkan bahwa pengaruh sistem
budidaya terhadap LPH bergantung pada jenis pakan yang diberikan. Nilai LPH
tertinggi dihasilkan pada ikan yang dipelihara pada sistem bioflok dengan
pemberian pakan cacing sutra (C) saja dan pakan kombinasi cacing sutra dan pakan
buatan (CP). Sintasan benih gurami lebih dipengaruhi oleh jenis pakan
dibandingkan sistem budidaya dan interaksi keduanya. Perlakuan pakan buatan (P)
menghasilkan sintasan yang paling rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Secara
umum pemberian pakan kombinasi cacing sutra dan pakan buatan memberikan
kinerja produksi yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Pemeliharaan
pada sistem bioflok dapat meningkatkan kinerja pencernaan dan produksi benih
gurami. Demikian pula perlakuan sistem bioflok pada penelitian skala produksi,
panjang akhir ikan lebih tinggi dibandingkan sistem tanpa bioflok. Analisis
ekonomi pendederan gurami pada skala produksi menunjukkan nilai ekonomi yang
lebih besar pada perlakuan bioflok dengan pemberian kombinasi pakan buatan dan
cacing sutra dibandingkan tanpa bioflok dengan keuntungan sebesar Rp.
32,579,237 per siklus dan pengembalian investasi modal dalam 3 siklus
pemeliharaan
Tingkat Keaktifan dan Tingkat Pemenuhan Kebutuhan Perempuan Aktivis Organisasi
Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG), pembangunan nasional yang diimplementasikan ke dalam setiap program, kebijakan, dan kegiatan harus berprespektif gender. Selain dibentuk melalui program dan kebijakan, PUG juga diwujudkan melalui pembentukan organisasi. Tujuan penelitian ini secara khusus adalah mengidentifikasi tingkat keaktifan dan tingkat pemenuhan kebutuhan perempuan aktivis organisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif (metode sensus) yang didukung oleh data kualitatif (wawancara mendalam). Responden pada penelitian ini adalah pengurus dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Ciharashas yang berjumlah tiga puluh orang. Hasil dari penelitian ini adalah tingkat keaktifan dan tingkat pemenuhan kebutuhan praktis berada pada kategori tinggi, serta tingkat pemenuhan kebutuhan strategis perempuan aktivis dalam organisasi berada pada kategori rendah . Selain itu, terdapat hubungan antara karakteristik ekonomi dengan tingkat keaktifan perempuan aktivis dalam organisasi, serta terdapat pula hubungan antara tingkat keaktifan perempuan aktivis dalam organisasi dengan tingkat pemenuhan kebutuhannya di dalam organisasi tersebut
Pengemasan Secara Atmosfer Termodifikasi pada Sayuran Kubis, Selada, dan Wortel Terolah Minimal
Sayuran merupakan produk hortikultura yang salah satunya dapat dijadikan
salad, seperti kubis, selada, dan wortel dilakukan dengan cara pengolahan minimal.
Pengolahan minimal merupakan serangkaian kegiatan meliputi pencucian,
penyortiran, pemotongan, pengupasan, dan pengirisan. Tujuan penelitian ini adalah
mengkaji laju respirasi sayuran kubis, selada, wortel, dan campuran terolah minimal,
merancang simulasi, dan mengkaji pengaruh jenis kemasan terhadap perubahan
mutu sifat fisik sayuran kubis, selada, dan wortel terolah minimal dalam satu
kemasan. Penelitian ini terdiri atas empat tahap, yaitu tahap persiapan, pengukuran
laju respirasi, perancangan simulasi, serta pengemasan dan penyimpanan. Hasil
penelitian menunjukkan laju respirasi sayuran terolah minimal berpengaruh dengan
suhu penyimpanan. Semakin tinggi suhu penyimpanan, maka semakin tinggi laju
respirasinya. Berdasarkan hasil simulasi didapatkkan nilai bobot, ketebalan plastik,
dan luas permukaan plastik agar mencapai konsentrasi O2 dan CO2 sebesar 2 % dan
3 % untuk kemasan Stretch Film sebesar 0.081 kg, 0.050 mm, dan 0.050 m2,
sedangkan agar mencapai konsentrasi O2 dan CO2 sebesar 2 % dan 8 % untuk
kemasan Low Density Polyethylene sebesar 0.081 kg, 0.060 mm, dan 0.050 m2 pada
suhu 5 °C. Berdasarkan parameter pengamatan mutu sayuran kubis, selada, dan
wortel terolah minimal dalam satu kemasan yang terbaik, yaitu kemasan Low
Density Polyethylene pada suhu 5 °C
Produksi Tanaman Cabai Sistem Tumpang Sari dengan Tanaman Kubis dan Sawi Putih di UD Mitra Tani Parahyangan, Cianjur
Tumpang sari merupakan salah satu program intensifikasi pertanian yang dapat digunakan sebagai alternatif meningkatkan hasil panen per luasan. Pola tanam tumpang sari dapat meningkatkan produksi tanaman, menambah pendapatan petani, serta menghindari kegagalan pada satu jenis tanaman. Kegiatan magang di usaha dagang (UD) Mitra Tani Parahyangan secara umum bertujuan untuk meningkatkan pengalaman, keterampilan teknis dan manajerial dalam pengelolaan produksi sayuran dan secara khusus bertujuan untuk memperoleh informasi tentang produksi cabai (tanaman utama) sistem tumpang sari dengan tanaman kubis dan sawi putih (tanaman pendamping) serta mengevaluasi komoditas melalui analisis usahatani. Metode yang digunakan adalah metode langsung dan metode tidak langsung. Pengamatan meliputi umur panen (MST), bobot hasil panen (kg), luas lahan (m2) dan analisis usahatani. Hasil nilai R/C ratio yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tanaman cabai yang ditumpangsarikan dengan kubis memiliki nilai R/C ratio sebesar 3.20, sedangkan tanaman cabai yang ditumpangsarikan dengan sawi putih memiliki nilai R/C ratio sebesar 3.21. Kelayakan usaha tani antara keduanya menguntungkan dan layak diusahakan karena R/C ratio >1
Keragaman fungsional reseptor rasa pahit TAS2R38 pada monyet Dunia Lama
Hewan dapat mengenali dan membedakan lima rasa utama yaitu, manis,
umami, pahit, asam dan asin. Hewan menggunakan persepsi rasa untuk
mengevaluasi makanan sebelum dicerna. Persepsi rasa pahit sangat penting karena
membantu hewan mendeteksi dan menghindari kompenen makanan yang memiliki
potensi racun. Persepsi rasa pahit diperantarai oleh kelompok reseptor rasa pahit,
TAS2R pada permukaan sel-sel rasa di lidah. Salah satu reseptor rasa pahit yang
banyak dipelajari adalah TAS2R38, yang disandikan oleh gen TAS2R38. TAS2R38
umumnya terekspresi sebagai protein utuh dan fungsional pada sebagian besar
mamalia. Beberapa studi menunjukkan bahwa keragaman TAS2R38 menyebabkan
variasi sensitivitas terhadap molekul pahit phenylthiocarbamide (PTC) pada
mamalia. Beberapa spesies Primata omnivora dan pemakan buah memiliki reseptor
TAS2R38 fungsional dan umumnya sensitif terhadap PTC.
Subfamili Colobinae merupakan anggota kelompok Primata yang unik karena
makanan utamanya adalah daun. Persepsi rasa pahit pada Colobinae menarik untuk
dipelajari karena tanaman memproduksi metabolit sekunder yang mungkin beracun
sebagai pertahanan diri terhadap herbivora. Spesies-spesies anggota Colobinae
terdistribusi di Asia (Asia colobines) dan Afrika (African colobines). Sebagian
besar spesies dalam kelompok Asian colobines memiliki reseptor TAS2R38 dengan
sensitivitas rendah terhadap PTC dibandingkan dengan Macaca sp., anggota
subfamili Cercopithecinae. Beberapa mutasi asam amino pada TAS2R38 di Asian
colobines bertanggung jawab atas turunnya sensitivitas terhadap PTC.
Reseptor TAS2R38 di African colobines menunjukkan respons yang lebih
besar terhadap PTC dibandingkan dengan kerabatnya di Asia, tetapi lebih rendah
dari Macaca. Sehingga, sensitivitas rendah terhadap PTC adalah karakteristik
umum subfamili Colobinae sebagai adaptasi untuk memakan daun. Karakteristik
umum ini diperkirakan sudah diturunkan oleh nenek moyangnya. Tetapi, beberapa
perbedaan TAS2R38 di tingkat asam amino pada kedua kelompok Colobinae
menunjukkan bahwa TAS2R38 berkembang secara independen setelah pemisahan
kedua kelompok ini.
Anggota lain dari Famili Cercopithecidae adalah subfamili Cercopithecinae.
Cercopithecinae memiliki sensitivitas tinggi terhadap PTC, tetapi data untuk
spesies allopatric seperti monyet Sulawesi. Secara umum, monyet Sulawesi adalah
pemakan buah. Karakteristik umum TAS2R38 pada monyet Sulawesi adalah
sensitif terhadap PTC. Monyet Sulawesi memiliki alel TAS2R38 fungsional dengan
sensitivitas tinggi terhadap PTC yang ditemui di empat spesies anggotanya,
mungkin merupakan tipe nenek moyang. Namun, beberapa individu menunjukkan
TAS2R38 non-fungsional yang disebabkan oleh oleh mutasi, menandakan adaptasi
TAS2R38 dengan kondisi lingkungan spesifik