Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Aplikasi Mannanoligosakarida dan Bacillus NP5 terhadap Pertumbuhan dan Respons Imun Benih Ikan Patin (Pangasianodon hypophthalmus) yang Diinfeksi Aeromonas hydrophila

    No full text
    Salah satu permasalahan dalam budidaya ikan patin adalah tingkat kematian larva hingga benih yang cukup tinggi yakni mencapai 40-80% yang diakibatkan oleh serangan bakteri Aeromonas hydrophila. Salah satu alternatif preventif dan ramah lingkungan dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut, misalnya menggunakan prebiotik, probiotik dan sinbiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian prebiotik mannanoligosakarida (MOS) dan probiotik Bacillus NP5 terhadap pertumbuhan dan respons imun benih ikan patin yang diinfeksi bakteri A. hydrophila. Penelitian terdiri atas empat perlakuan yakni kontrol (tanpa pemberian prebiotik dan probiotik), prebiotik MOS, probiotik NP5, dan kombinasi keduanya. Larva ikan patin dengan bobot rata-rata 1.09±0.05 mg dan panjang rata-rata 0.54±0.01 cm dipelihara dengan padat tebar 150 ekor/akuarium. Ikan diberi pakan Artemia sp. dan pakan buatan yang telah diperkaya dengan prebiotik MOS, probiotik NP5, dan kombinasi keduanya selama 28 hari kemudian diuji tantang dengan bakteri A. hydrophila. Parameter yang diamati selama penelitian meliputi tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang mutlak, jumlah konsumsi pakan, total kelimpahan bakteri, koefisien keragaman, aktivitas fagositosis, dan respiratory burst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mannanoligosakarida dan Bacillus NP5 dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan respons imun benih ikan patin yang diinfeksi bakteri A. hydrophila dengan hasil terbaik pada perlakuan kombinasi keduanya

    Analisis Daya Saing dan Faktor yang Memengaruhi Ekspor Komoditi Terpilih Indonesia ke Developing Eight Countries (D-8).

    No full text
    Perdagangan internasional memegang peranan penting dalam meningkatkan perekonomian suatu negara. Aktivitas perdagangan dilakukan oleh berbagai negara didunia dengan kesepakatan bersama dan dengan kegiatan transaksi atau tukar menukar barang dan jasa yang meliputi kegiatan ekspor dan impor. Usaha untuk meningkatkan aktivitas perdagangan menjadi proritas pemerintah terutama dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekspor. Strategi untuk meningkatkan ekspor diperlukan untuk mengatasi defisit neraca perdagangan yang terjadi. Sasaran pasar ekspor Indonesia tersebar ke berbagai negara di dunia. Selama ini, pasar tujuan ekspor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh kelompok mitra dagang utama yaitu China, Jepang, Amerika Serikat, India dan Singapura. Ketergantungan terhadap suatu pasar tertentu dapat berdampak negatif ketika terjadi krisis, sehingga perlu dilakukan suatu diversifikasi pasar tujuan ekspor serta pengembangan komoditi yang memiliki daya saing tinggi. Beberapa negara yang dapat menjadi pasar tujuan ekspor adalah negaranegara yang tergabung dalam Organisasi Developing Eight Countries (D-8). Organisasi ini terdiri dari delapan negara anggota yaitu Bangladesh, Iran, Indonesia, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Oleh karena itu dalam rangka diversifikasi pasar dan komoditi ekspor ke D-8, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi dan mengidentifikasi daya saing komoditi terpilih di pasar D-8 serta menganalisis faktor yang memengaruhi ekspor komoditi terpilih tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari berbagai sumber seperti Trade Map, World Integrated Trade Solution (WITS), World Bank, Centre d’Etudes Prospectives et d’Informations Internationales (CEPII) dan World Trade Organization (WTO). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat kuantitatif. Jenis data yang digunakan adalah data panel yang terdiri dari data time series tahunan selama sepuluh tahun (2009-2018) dan data cross section yang terdiri dari negara anggota D-8 (Bangladesh, Malaysia, Mesir, Iran, Nigeria, Pakistan dan Turki). Metode analisis yang digunakan yaitu analisis Revealed Comparative Advantage (RCA), Intra Industry Trade (IIT), Export Product Dynamics (EPD) serta estimasi faktor yang memengaruhi ekspor dengan model gravitasi yang terdiri dari variabel Gross Domestic Bruto (GDP), nilai tukar riil, harga ekspor, dan jarak ekonomi. Hasil analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) komoditi terpilih ekspor Indonesia ke D-8 tergolong tinggi dengan hasil nilai RCA lebih dari satu untuk sebagian besar komoditi, namun pada komoditi dan pasar tertentu menunjukkan nilai RCA yang rendah. Hasil analisis tingkat integrasi komoditikomoditi terpilih ekspor Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar perdagangan intra industri antara Indonesia dengan D-8 secara umum berada pada derajat integrasi satu arah (no integration). Namun pada komoditi dan negara tujuan tertentu menunjukkan hubungan perdagangan dua arah dan berada pada v derajat Integrasi yang lemah, sedang, dan kuat. Apabila dilihat dari hasil analisis EPD, menunjukkan posisi pasar yang bervariasi dengan hasil yang berbeda-beda yang menempati posisi rising star, falling star, lost opportunity dan retreat. Sepuluh komoditi terpilih yang dianalisis menggunakan model gravitasi berdasarkan nilai rata-rata ekspor tertinggi serta adanya kesinambungan dan ketersediaan data tiap negara pada komoditi tersebut selama kurun waktu sepuluh tahun periode penelitian. Kesepuluh komoditi tersebut yaitu Palm oil and its fractions, whether or not refined (excluding chemically modified) (HS 1511), Margarine, other edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils and edible (HS 3401), Industrial monocarboxylic fatty acids; acid oils from refining; industrial fatty alcohols (HS 3823), new pneumatic tires, of rubber (HS 4011), Uncoated paper and paperboard, of a kind used for writing, printing or other graphic purposes (HS 4802), Margarine, other edible mixtures or preparations of animal or vegetable fats or oils and edible (HS 1517), Oxygenfunction amino-compounds (HS 2922), Plates, sheets, film, foil and strip, of noncellular plastics, not reinforced, laminated (HS 3920), Refrigerators, freezers and other refrigerating or freezing equipment, electric or other; heat (HS 8418) dan Furniture and parts thereof, n.e.s. excluding seats and medical, surgical, dental or veterinary (HS 9403). Terdapat perbedaan faktor-faktor yang memengaruhi ekspor komoditi terpilih Indonesia ke D-8 untuk masing-masing komoditi. Variabel GDP negara tujuan berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 1517, HS 2922, HS 3401, HS 3823, HS 3920, HS 4011, dan HS 4802. Variabel nilai tukar riil berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 3823, HS 3920, HS 4011, HS 4802, HS 8418 dan HS 9403. Variabel harga berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 3401 dan HS 8418. Variabel jarak ekonomi berpengaruh signifikan terhadap nilai ekspor komoditi HS 1511, HS 2922, HS 3401, HS 3823, HS 3920, HS 4011 dan HS 9403

    Pengaruh Media Tanam dan Intensitas Naungan Terhadap Pertumbuhan Bibit Bakau Minyak (Rhizophora apiculata).

    No full text
    Kerusakan hutan mangrove membuat luasan hutan dan jenis tanaman mangrove berkurang. Perbaikan hutan mangrove memerlukan bibit yang memiliki pertumbuhan baik serta tahan terhadap hama dan penyakit. Intensitas naungan dan media tanam merupakan faktor yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh media tanam dan intensitas naungan terhadap pertumbuhan bibit bakau minyak (R. apiculata). Penelitian ini dilakukan selama 12 minggu dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) untuk menganalisis data. Faktor pertama yaitu media tanam (A) dengan 3 taraf perlakuan yaitu tanah lumpur (A0), tanah lumpur dan kompos (A1), serta campuran tanah lumpur, pasir, dan kompos (A2). Faktor kedua yaitu intensitas naungan (N) yang terdiri dari 3 taraf yaitu intensitas naungan 0% (N0), 50% (N1), dan 70% (N2). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa intensitas naungan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan R. apiculata, sedangkan media tanam tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan R. apiculata. Pertumbuhan terbaik pada bakau minyak (R. apiculata) yaitu pada perlakuan intensitas naungan 0% (N0)

    Pemanfaatan Fermentasi Kotoran Ternak Sebagai Media Tumbuh Cacing Sutera (Tubifex sp.).

    No full text
    Limbah ternak merupakan salah satu faktor pencemar lingkungan dikarenakan masih terdapatnya nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan limbah ternak sebagai media tumbuh cacing sutera sehingga mengurangi dampak yang ditimbulkan limbah ternak ke lingkungan. Limbah ternak yang terdiri dari kotoran puyuh, kotoran ayam dan kotoran sapi kemudian difermentasi, ditambah lumpur tanah dan dialiri air. Penggunaan fermentasi kotoran ternak sebagai media tumbuh cacing sutera (Tubifex sp.) dengan kotoran burung puyuh, kotoran ayam, dan kotoran sapi menunjukkan semua fermentasi kotoran ternak yang digunakan memberikan hasil yang positif terhadap pertumbuhan cacing sutera

    Bioakumulasi Logam Berat (Pb, Hg, Cd, dan Cu) pada Daging Kerang Hijau Perna viridis (Linnaeus, 1758) di Perairan Teluk Banten dan Teluk Jakarta

    No full text
    Kerang hijau mampu mengakumulasikan logam berat di dalam tubuhnya karena sifat hidupnya sebagai filter feeder. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-September 2019 di Teluk Banten dan Teluk Jakarta. Penelitian bertujuan untuk menduga bioakumulasi logam berat (Pb, Hg, Cd, dan Cu) pada daging kerang hijau (Perna viridis) di Perairan Teluk Banten dan Teluk Jakarta menggunakan metode AAS. Konsentrasi Pb, Hg, Cd, dan Cu pada daging kerang hijau baik yang berada di Teluk Banten maupun di Teluk Jakarta masih berada di bawah baku mutu yang telah ditetapkan oleh SNI 2009, PerBPOM No. 5 Tahun 2018, dan DepKesRI No. 03725 Tahun 1989. Kerang hijau besar mampu mengakumulasikan logam Pb dua kali lebih tinggi dibandingkan kerang hijau kecil dengan nilai BCF kurang dari seratus (<100). Batas aman konsumsi kerang hijau di Teluk Banten dan Teluk Jakarta masing-masing sebesar 0,91 kg/minggu dan 0,51 kg/minggu (untuk anak-anak) dan 3,04 kg/minggu dan 1,72 kg/minggu (untuk orang dewasa). Daging kerang hijau yang terdapat di Teluk Banten dan Teluk Jakarta masih layak untuk dikonsumsi selama tidak melebihi batas yang telah ditetapkan

    Analisis Keragaman Morfologi Pala (Myristica fragrans Houtt.) Populasi Tidore, Ternate dan Bogor

    No full text
    Pala Banda (Myristica fragrans Houtt.) adalah spesies pala yang paling banyak dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomi paling tinggi dan telah menyebar luas ke berbagai daerah. Tidore dan Ternate di Maluku Utara merupakan salah satu daerah dengan tingkat keanekaragaman pala yang tinggi. Kabupaten Bogor, di sisi lain adalah salah satu pusat pengembangan pala di Jawa Barat. Karakteristik pala Bogor memiliki kemiripan dengan pala asal Maluku Utara, namun tetap terdapat perbedaan yang disebabkan karena adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda. Analisis keragaman dan kekerabatan perlu dilakukan untuk memastikan hubungan antar populasi tersebut. Identifkasi keragaman dapat dilakukan dengan menggunakan penanda morfologi. Keragaman genetik pala berdasarkan penanda morfologi telah dipelajari secara luas, namun tidak spesifik untuk pala Banda, atau mencakup wilayah geografis yang berbeda. Informasi keragaman akan bermanfaat dalam pengembangan program pemuliaan tanaman pala. Sampai dengan saat ini peningkatan produksi dan kualitas masih menjadi target utama program pemuliaan pala. Kualitas produksi dan komponen mutu merupakan salah satu faktor keberhasilan perdagangan pala Indonesia di dunia. Komponen hasil merupakan karakter yang dipengaruhi oleh lingkungan dan terkait banyak gen. Pendugaan langsung pada karakter hasil tertentu umumnya sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang panjang. Oleh karena pendugaan komponen hasil seringkali dilakukan melalui karakter lain yang memiliki keeratan hubungan dengan karakter hasil tertentu. Bobot biji dan komponen mutu minyak pala merupakan salah satu produk utama. Hubungan antara komponen pertumbuhan terhadap bobot biji dan mutu dapat diketahui melalui korelasi dan analisis lintas. Karakter yang berkorelasi positif dan memiliki pengaruh langsung yang besar diasumsikan memiliki keeratan terhadap karakter hasil dan dapat digunakan sebagai alternatif karakter penduga komponen hasil Penelitian bertujuan untuk mengetahui keragaman morfologi dan hubungan kekerabatan populasi pala Tidore, Ternate, Bogor, serta mengetahui korelasi antara komponen pertumbuhan dan hasil. Penelitian dilakukan pada bulan November 2017 - Desember 2018. Penelitian dilakukan menggunakan 46 sampel dari delapan lokasi berbeda, tiga di Ternate-Tidore, Maluku Utara (Gurubunga, Jaya dan Marikurubu) lima di Bogor, Jawa Barat (Curugnangka, Cigombong, Ciawi, Leuwisadeng dan Tamansari). Pengamatan menggunakan metode observasi langsung pada karakter habitus, daun, buah, biji, fuli, dan bunga berdasarkan deskriptor tanaman buah tropis IPGRI. Data kuantitatif dianalisis menggunakan software MINITAB 17. Analisis gerombol menggunakan program PBSTAT metode agglomerative UPGMA. Kemiripan antar aksesi dihitung menggunakan jarak Gower. Analisis korelasi dan sidik lintas menggunakan program MINITAB 17. Hasil penelitian menunjukan keragaman morfologi pala terlihat pada bentuk buah, bentuk pangkal dan ujung buah, warna buah dan bentuk pohon. Tebal fuli merupakan karakter dengan nilai keragaman terbesar (50,38%). Keragaman morfologi intra populasi umumnya rendah kecuali pada karakter buah dan berat fuli. Kekerabatan populasi pala Bogor lebih dekat dengan Ternate dibandingkan Tidore. Tingkat kemiripan populasi pala Bogor dengan populasi Ternate mencapai 60%, sementara kemiripan dengan pala Tidore 46%. Panjang dan lebar daun merupakan salah satu karakter yang dapat digunakan untuk menduga komponen hasil, karena memiliki korelasi terhadap bobot biji, bobot buah, tebal fuli dan bobot fuli. Selain panjang dan lebar daun, tebal daun juga dapat digunakan sebagai penduga bobot buah dan bobot fuli. Karakter bentuk buah dan biji agak lonjong dapat digunakan sebagai penseleksi pohon berkadar safrol biji dan myristicin biji tinggi. Hubungan antar komponen mutu tidak memperlihatkan korelasi yang tinggi

    Kesesuaian Lahan Perkebunan Kopi di Kabupaten Bogor dan Sebaran Spasial Kedai Kopi di Kota Bogor

    No full text
    Total luas pertanaman kopi di Kabupaten Bogor mencapai lebih dari 6000 hektar dengan produksi mencapai 2955.6 ton, bahkan kemampuan ekspor kopi kian meningkat yakni mencapai 200 ton per tahun. Distanhorbun (2019) menjelaskan bahwa setiap hektar perkebunan kopi di Kabupaten Bogor mampu menghasilkan 1 ton kopi robusta, padahal menurut Kementan (2019) potensi produksi kopi robusta per hektarnya bisa mencapai 3 ton sedangkan kopi arabika bisa mencapai 2 ton, sehingga perlu dipertanyakan apakah penanaman kopi di Kabupeten Bogor sudah sesuai dengan karakteristik tumbuh tanaman kopi, karena bila dikalkulasikan berdasarkan produksi maksimal per hektar, seharusnya Kabupaten Bogor mampu memproduksi + 14000-16000 ton per total sekali musim panennya. Melihat potensi komoditas kopi tersebut dan permintaan pasar yang semakin meningkat, maka semakin bertambahlah bangunan kedai kopi di Kota Bogor. Jumlah kedai kopi yang cukup banyak tersebut perlu diketahui apakah kedai-kedai kopi yang bermunculan menyajikan minuma kopi asli atau merujuk pada kafe. Selain itu, lokasi kedai kopi pun perlu ditinjau apakah sudah selaras dengan rencana pola ruang Pemerintah Kota Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan perkebunan kopi di Kabupaten Bogor, persentase kopi dari Kabupaten Bogor yang terdistribusi pada kedai kopi di Kota Bogor, sebaran spasial dan karakteristik kedai kopi di Kota Bogor, serta keselarasan kedai kopi dengan tata ruang dan perkembangan wilayah di Kota Bogor. Pengambilan sampel untuk mengetahui persebaran spasial kedai kopi diperoleh dengan menggunakan alat bantu GPS Garmin tipe 78s. Pengambilan sampling dipilih berdasarkan metode purposive (non-probability sampling) sehingga penelitian ini bersifat deskriptif dan korelasional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 90 titik kedai kopi dengan metode analisis spasial. Analisis spasial digunakan untuk mengidentifikasi kesesuaian lahan perkebunan kopi dan sebaran lokasi kedai kopi dengan software ArcGIS, sedangkan analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik kedai kopi. Berdasarkan evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditas kopi spesies robusta, diketahui kelas kesesuaian lahan untuk komoditas kopi robusta di Kabupaten Bogor antara lain kelas S2, S3 dan N dari total 308452.73 hektar. Penyebaran kelas lahan yang cukup sesuai (S2) tersebar merata (dominan utara) sebesar 21.86% dengan faktor pembatas utamanya yaitu temperatur (tc), curah hujan dan kelembapan (wa), tekstur (rc), dan lereng (eh). Kelas kesesuaian lahan S3 sebagian besar tersebar di selatan dan beberapa di timur, selatan, dan barat Kabupaten Bogor sebesar 15.19% dengan faktor pembatas temperatur (tc), curah hujan dan kelembapan (wa), tekstur (rc), lereng (eh), dan banjir (fh1), serta kelas kesesuaian lahan N (tidak sesuai) tersebar merata hampir pada sebagian besar wilayah kabupaten sebesar 62.95% dengan faktor pembatas temperatur (tc), curah hujan dan kelembapan (wa), drainase (oa), lereng (eh), dan banjir (fh1). Evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditas kopi arabika, diketahui bahwa terdapat dua kelas lahan kopi arabika di Kabupaten Bogor yaitu S3 dan N dengan total luas lahan 156685.01 hektar. Kelas kesesuaian lahan S3 hanya tersebar di wilayah timur kabupaten sebesar 0.58% dengan faktor pembatas temperatur (tc) dan lereng (eh), sedangkan kelas kesesuaian lahan N tersebar dominan di seluruh wilayah kabupaten sebesar 99.42% dengan faktor pembatas temperatur (tc), curah hujan dan kelembapan (wa), tekstur (rc), drainase (oa), lereng (eh), dan banjir (fh1). Tingkat distribusi kopi dari Kabupaten Bogor yang digunakan pada kedaikedai kopi di Kota Bogor tergolong cukup besar yakni mencapai 31.67% per bulan. Rata-rata distribusi kopi dari Kabupaten Bogor mencapai 0,6 ton atau 573.27 kg per bulannya, sedangkan penggunaan kopi pada kedai-kedai kopi di Kota Bogor tergolong sedikit yakni sebesar 0.5 ton per musim panen atau sebesar 0.24% per bulan. Meski penggunaan coffee bean dari total produksi sedikit, surplus yang diterima oleh kedai kopi di Kota Bogor setiap bulannya terbilang cukup besar (31.67%) dikarenakan adanya efisiensi pada biaya transportasi dan akomodasi dibandingkan dengan biaya penggunaan kopi dari luar Kabupaten Bogor. Persebaran spasial kedai kopi di Kota Bogor terkonsentrasi pada Kota Bogor bagian tengah dengan karakteristik kedai kopi yang didominasi oleh kedai dengan skala usaha sedang yang mana memiliki peralatan seduh yang lengkap serta menyediakan menu tambahan selain kopi berupa makanan. Sebanyak 87% kedai kopi di Kota Bogor sudah selaras dengan rencana pola ruang, sedangkan 13% kedai kopi tidak/belum selaras dengan rencana pola ruang Kota Bogor, sedangkan berdasarkan tingkat perkembangan wilayah, kelurahan di Kota Bogor dibagi ke dalam Hirarki 1 sebanyak 8 kelurahan, Hirarki 2 sebanyak 14 kelurahan, dan Hirarki 3 sebanyak 48 kelurahan dengan Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Selatan sebagai kecamatan yang paling berkembang. Untuk itu, bagi para pelaku usaha hilir kopi di Kota Bogor, sebaiknya memilih lokasi usaha dengan tingkat pertumbuhan yang baik dan kepadatan penduduk yang tinggi tetapi harus tetap memperhatikan keselarasan dari lokasi kedai kopi dengan pola ruang (RTRW) dan faktor keuntungan usaha

    Manajemen Tenaga Sukarelawan Menggunakan Integer Programming: Studi Kasus di Kabupaten Purworejo

    No full text
    Kabupaten Purworejo merupakan sebuah kabupaten yang terletak di Jawa Tengah. Secara geografis, Purworejo berbatasan langsung dengan Pegunungan Serayu Selatan dan Gunung Sumbing untuk sebelah utara dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di sebelah selatannya. Letak geografis yang demikian, menyebabkan Purworejo berpeluang tinggi terhadap bencana. Daerah rawan bencana membutuhkan jumlah tenaga sukarelawan dengan jumlah tinggi. Keberadaan sukarelawan di Purworejo masih terbatas dan latar belakang profesi yang beragam. Keberagaman tersebut membutuhkan manajemen yang baik sehingga sukarelawan dapat terfasilitasi secara optimal. Karya ilmiah ini mendiskusikan manajemen tenaga sukarelawan yang dimodelkan menggunakan integer programming. Fungsi objektifnya adalah memaksimumkan preferensi sukarelawan terhadap sektor kerja, shift waktu dan jarak. Jarak tersebut merupakan jarak antara lokasi domisili sukarelawan dengan titik lokasi bencana yang dioperasikan menggunakan prinsip pengukuran jarak Euclid. Penerapan model ini dipartisi menjadi dua, yang pertama diaplikasikan ke dalam data hipotetik dengan tujuan untuk memvalidasi model. Selanjutnya, model diimplementasi ke dalam data real yang merupakan data arsip Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Purworejo. Penyelesaian masalah ini menggunakan bantuan software LINGO 17.0, yang menghasilkan jadwal sukarelawan selama satu periode

    Tanggap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung terhadap Waktu Tanam Menurut Tingkat Radiasi Matahari

    No full text
    Penentuan waktu tanam yang tepat dapat mengurangi dampak negatif dari rendahnya ketersediaan air dan radiasi matahari pada fase pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Selain itu, keberhasilan budidaya komoditas tanaman juga dipengaruhi oleh pemilihan varietas yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan waktu tanam yang efektif untuk mendapatkan radiasi dan air serta hasil panen yang optimal, (2) menentukan varietas yang sesuai dengan waktu tanam dan dapat mengoptimalkan pemanfaatan radiasi dan air. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juli 2019 di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat-NTT. Percobaan faktorial tiga faktor dilakukan di lahan dengan menggunakan rancang petak-petak terpisah (splitsplit plot design). Faktor pertama ditempatkan di petak utama, yaitu tiga jadwal penanaman yang terdiri dari tanggal 26 Februari 2019, tanggal 12 Maret 2019, tanggal 26 Maret 2019. Faktor kedua ditempatkan pada anak petak yaitu tiga varietas jagung yang terdiri dari varietas Pena muti m'naes, Lamuru, dan Pioneer- 36. Faktor ketiga ditempatkan sebagai anak-anak petak, yaitu 2 taraf penyiraman yang terdiri dari: tidak disiram dan disiram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu tanam tanggal 12 Maret 2019 merupakan waktu tanam yang tepat dan sesuai dengan tingkat ketersediaan radiasi matahari dan air sehingga memberikan hasil yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung dibandingkan dengan waktu tanam lainnya. Varietas Pioneer-36 yang ditanam pada tanggal 12 Maret 2019, memberikan pertumbuhan dan hasil tertinggi dibandingkan varietas lainnya. Penanaman jagung varietas Pioneer-36 tanggal 12 Maret 2019, pada ketersediaan air dan radiasi yang cukup dengan penggunaan yang lebih efisien dan tingkat intersepsi radiasi matahari yang lebih tinggi menghasilkan produktivitas tertinggi yaitu 8.47 ton ha-1. Hal tersebut didukung oleh adanya keselarasan tanggap kapasitas source (luas daun) dan kapasitas sink (ukuran tongkol)

    Aktivitas Antioksidan Garam Rumput Laut Ulva lactuca pada Tikus Putih Sprague-Dawley.

    No full text
    Aktivitas antioksidan garam rumput laut Ulva lactuca secara in vitro sudah diketahui sebelumnya dan tergolong memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Informasi mengenai data aktivitas antioksidan garam rumput laut secara in vivo belum diketahui sehingga dosis yang efektif belum dapat ditentukan. Tujuan penelitian adalah menentukan aktivitas antioksidan garam rumput laut secara in vivo dan jumlah dosis yang sesuai pada tikus putih Sprague-Dawley. Garam rumput laut Ulva lactuca diberikan pada tikus putih jantan galur Sprague-Dawley selama 14 hari secara oral untuk dilihat pengaruh aktivitas antioksidan superoxida dismutase (SOD) dan katalase (CAT) pada organ hati tikus. Aktivitas antioksidan SOD hati tikus perlakuan garam rumput laut Ulva lactuca sebesar 60.98±6.45 hingga 83.27±3.71 U/mL dan aktivitas antioksidan katalase hati tikus perlakuan garam rumput laut Ulva lactuca sebesar 0.65±0.06 hingga 0.77±0.07 U/mL dosis 78 mg/350 BB (Berat Badan), 157 mg/350 BB, dan 315 mg/350 BB. Total fenol dan flavonoid garam rumput laut Ulva lactuca dalam penelitian sebesar 139.09±7.51 mg GAE/g ekstrak dan 125.93±4.66 mg QE/g ekstrak yang berhubungan dengan aktivitas antioksidan in vitro sehingga potensi kerusakan sel hati akibat radikal bebas dapat dikurangi

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇