31665 research outputs found
Sort by
Dampak Bencana Alam terhadap Kualitas Pembangunan Manusia di Indonesia dengan Pendekatan Geograhically Weighted Panel Regression (GWPR).
Bencana alam merupakan kejadian yang tidak dapat terduga, hal ini mampu mengganggu kesejahteraan terutama kualitas pembangunan manusia. Kualitas pembangunan manusia di Indonesia dapat dilihat pada nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Penelitian ini menggunakan data time series tahun 2012-2018 dan cross section 33 provinsi di Indonesia. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah Geograhically Weighted Panel Regression dengan tujuan melihat pengaruh spasial berdasarkan hasil estimasi langsung pada setiap provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian bencana memiliki hubungan negatif pada 9 provinsi. Korban jiwa berhubungan negatif pada 3 provinsi. PDRB per kapita berhubungan positif pada kualitas pembangunan manusia di 33 provinsi, tingkat pengangguran terbuka berhubungan negatif pada kualitas pembangunan manusia di 7 provinsi, rasio penduduk miskin berhubungan negatif pada kualitas pembangunan manusia di 33 provinsi, konsumsi berhubungan positif pada kualitas pembangunan manusia di 33 provinsi dan angka partisipasi sekolah berhubungan positif pada kualitas pembangunan manusia di 33 provinsi
Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berbasis Dinamika Stok Karbon dan Fluks Gas Rumah Kaca di Pesisir Kabupaten Muna Barat
Pemanasan global merupakan salah satu fenomena alam yang perlu
diwaspadai dan harus mendapatkan perhatian serius, bukan hanya di Indonesia,
tetapi berkembang menjadi isu global. Ekosistem mangrove merupakan tipe
ekosistem pesisir yang memiliki kemampuan sangat baik untuk menyimpan
karbon dan mereduksi emisi karbon di atmosfir. Stok karbon mangrove
mengalami dinamika seiring dengan pertumbuhan diameter, perubahan luas dan
kerapatan mangrove baik secara alami maupun oleh tekanan antropogenik. Selain
menyimpan karbon, mangrove juga melepaskan gas rumah kaca (CO2, CH4, dan
N2O) melalui dekomposisi serasah. Pengelolaan ekosistem mangrove umumnya
terdiri atas pengelolaan konservatif dan pengelolaan destruktif. Pada perpektif
dinamika karbon, penentuan kondisi maksimal dan minimal ekosistem akan
berbeda dengan pendekatan ekologi lainnya. Dinamika karbon ditentukan oleh
produksi semai dan laju pertumbuhan diameter. Tujuan khusus penelitian ini yaitu
untuk (1) menganalisis dinamika stok karbon mangrove (2) menganalisis fluks gas
rumah kaca. Adapun tujuan umumnya adalah untuk merumuskan pengelolaan
ekosistem mangrove berbasis dinamika stok karbon dan fluks gas rumah kaca di
pesisir Kabupaten Muna Barat.
Penelitian ini dilakukan di kawasan desa pesisir Kabupaten Muna Barat
yaitu Kecamatan Maginti, Kecamatan Tiworo Tengah, Kecamatan Tiworo
Kepulauan, dan Kecamatan Sawerigadi. Pengumpulan data dilakukan selama
bulan Januari - Desember 2019. Data yang dikumpulkan adalah data ekologi
mangrove dan data sosial. Parameter ekologi mangrove yang diambil meliputi
data kerapatan, diameter, fluks gas rumah kaca, dan kualitas perairan, sedangkan
parameter sosial pengguna sumberdaya, penyedia infrastruktur, dan beberapa
parameter fisik infrastruktur yang terdapat di kawasan ekosistem mangrove. Data
aspek ekologi diperoleh melalui survei lapangan dan analisis laboratorium,
sedangkan data aspek sosial dan budaya juga diperoleh melalui wawancara
mendalam dengan masyarakat, tokoh adat, dan tokoh masyarakat terutama
pemerintah setempat. Analisis stok karbon dilakukan dengan menggunkan
persamaan allometrik terbaik yang diperoleh melalui uji statistik berdasarkan
model pertumbuhan diameter, analisis fluks gas rumah kaca dilakukan melalui
metode kromatografi gas, dan analisis permasalahan sistem sosial ekologi
dilakukan dengan metode DPSIR (Drive – Pressures – State – Impact –
Responsses), serta analisis jaringan dan konektivitas sistem sosial – ekologi
dilakukan secara deskriptif kuantitatif melalui pendekatan spidergram approach.
Hasil analisis dinamika stok karbon menunjukkan bahwa pada skenario II –
IV stok karbon pada masing – masing spesies mangrove meningkat secara
signifikan. Spesies dengan stok karbon terbesar pada tahun 2019 adalah R. stylosa
dan S. alba dengan nilai masing – masing 81.3 tonC/ha dan 63.6 tonC/ha ,
sedangkan yang terkecil adalah B. cylindrica dan B. gymnorrhiza dengan nilai
stok karbon yaitu 2.7 tonC/ha dan 8.9 tonC/ha. Komposisi stok karbon terbesar
dan terkecil tidak mengalami perubahan hingga tahun 2119. Stok karbon terbesar
vi
adalah 1,504.8 tonC/ha untuk R. stylosa dan 832.7 tonC/ha untuk S. alba,
sedangkan yang terkecil yaitu B. cylindrica dan B. gymnorrhiza dengan nilai stok
karbon masing – masing 171.5 tonC/ha dan 444.9 tonC/ha II. Adapun pada
skenario V, spesies yang masih memiliki nilai stok karbon mangrove adalah R.
apiculata, R. mucronata, R. stylosa dan S. alba dengan stok karbon masing –
masing sebesar 146.8 tonC/ha, 21 tonC/ha, 224.6 tonC/ha, dan 97.8 tonC/ha.
Hasil penelitian terhadap fluks gas rumah kaca menunjukkan bahwa fluks
gas CO2 terbesar terjadi di bulan April (dh = 2.03 jam/hari) pada spesies B.
cylindrica dengan nilai fluks sebesar 79.29 mg/m2/jam, dan terendah di bulan Juli
(dh = 0.34) pada spesies S. alba dengan nilai fluks sebesar 6.32 mg/m2/jam. Fluks
gas CH4 terbesar terjadi di bulan April (dh = 2.03 jam/hari) pada spesies R.
mucronata sebesar 57.16 mg/m2/jam, sedangkan terendah terjadi di bulan Juli (dh
= 0.34 jam/hari) pada spesies B. gymnorrhiza sebesar 11.38 mg/m2/jam. Fluks gas
N2O terbesar terjadi di bulan Juni (dh = 1.22 jam/hari) pada spesies S. alba
sebesar 6.08 mg/m2/jam, dan terendah terjadi di bulan Juli (dh = 0.34 jam/hari)
pada spesies B. cylindrica sebesar 0.43 mg/m2/jam. Durasi hujan memiliki
korelasi yang tinggi terhadap fluks gas CO2 pada spesies B. cylindrica dan B.
gymnorrhiza dan terhadap fluks gas CH4 pada spesies R. mucronata dan S. alba
dengan nilai korelasi masing – masing yaitu r = 0.6318, r = 0.5071, r = 0.6371
dan r = 0.5076. Namun tidak berkorelasi terhadap fluks gas N2O pada masing –
masing spesies terutama S. alba dan B. gymnorrhiza dengan nilai korelasi masing
– masing r = 0.0002 dan r = 0.0003.
Pada pengelolaan ekowisata mangrove yang berbasis dinamika stok karbon
mangrove, kisaran minimal total stok karbon yang harus dipertahankan adalah
208.52 – 347.53 tonC/ha. Berdasarkan indikator tersebut, maka wilayah yang
sesuai untuk pengelolaan ekowisata mangrove di Kabupaten Muna Barat adalah
Kecamatan Maginti dan Kecamatan Sawerigadi. Kesesuaian ekowisata mangrove
di wilayah tersebut juga ditunjang oleh pengetahuan dan persepsi masyarakat
yang berada pada kategori cukup baik. Wilayah Kecamatan Tiworo tengah dan
Tiworo kepulauan tidak sesuai untuk pengelolaan ekowisata karena memiliki nilai
stok karbon yang lebih kecil dibandingkan nilai stok karbon minimal dalam
pengelolaan ekowisata mangrove yang berbasis pada dinamika stok karbon,
sehingga diperlukan strategi rehabilitasi. Pada pengelolaan budidaya stok karbon
yang dapat dikonversi dari ekosistem dengan stok awal sebesar 194.83 – 324.72
tonC/ha adalah 65.48 – 109.09 tonC/ha. Pengelolaan kegiatan budidaya di
Kecamatan Maginti dan Tiworo Kepulauan dapat dilakukan di lahan eksisting dan
tanpa melakukan konversi mangrove, kegiatan budidaya di Kecamatan Tiworo
tengah tidak dapat dilakukan karena stok karbon minimal tidak terpenuhi dan
tidak tersedianya lahan eksisting, sedangkan untuk kegiatan budidaya di
Kecamatan Sawerigadi dapat dilakukan dengan melakukan konversi mangrove
sebesar 113.48 tonC/ha
Sifat Perekat Berbahan Kopal dan Keteguhan Rekatnya pada Tiga Jenis Kayu.
Kopal merupakan salah satu kelompok resin padat yang diperoleh dari sadapan kulit pohon agathis (Agathis loranthifolia Salisb.) dan dapat diolah menjadi perekat alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan mengidentifikasi sifat perekat dan keteguhan rekat dari perekat alami berbahan dasar kopal terhadap tiga jenis kayu yaitu kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen), kayu agathis (Agathis loranthifolia Salisb.), dan kayu kamper (Cinnamomum camphora (L.) J. Presl.). Standar yang digunakan yaitu SNI 06-4566-1998 tentang urea formaldehida cair untuk perekat pengerjaan kayu, SNI 06-4567-1998 tentang fenol formaldehida cair untuk perekat kayu lapis, dan SNI 06-0060-1998 tentang urea formaldehida cair untuk kayu lapis dan JAS 234:2003 tentang Japanese Agricultural Standard for Glue Laminated Timber. Kadar formulasi yang digunakan dengan perbandingan kopal:arang:thinner yaitu A (20:1:18), B (30:1:18), C (40:1:18), D (50:1:18) dan E (60:1:18) dengan berat labur 260 g/m2. Karakteristik perekat yang diuji meliputi kenampakan (L*), derajat keasaman (pH), masa gelatinasi, berat jenis, kadar padatan, kadar abu, serta keteguhan rekat dan delaminasinya pada tiga jenis kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kopal dapat mempengaruhi sifat perekat dan keteguhan rekatnya. Bertambahnya kadar kopal membuat warna perekat semakin gelap, meningkatnya nilai derajat keasaman (pH) dan kadar padatan, serta semakin cepatnya masa gelatinasi, sementara itu terjadi penurunan pada berat jenis dan kadar abu. Papan laminasi yang dibuat dari ketiga jenis kayu tersebut tidak mengalami pengelupasan atau delaminasi 0%, namun memiliki nilai keteguhan rekat yang belum sepenuhnya memenuhi standar yang diacu. Perlu dilakukan modifikasi kimia lebih lanjut untuk mengoptimalisasikan sifat perekat dan keteguhan rekat produk kayu yang dihasilkan
Fermentabilitas Rumen Domba yang Diberi Pakan Flushing dengan Suplementasi Minyak Lemuru dan Minyak Sawit
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek dari pemberian minyak kelapa sawit dan minyak lemuru terhadap profil fermentabilitas rumen domba. Penelitian ini menggunakan 20 ekor domba berumur 12-14 bulan. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan domba sebanyak 20 ekor dengan 4 perlakuan. Tiap perlakuan terdiri atas 5 ekor domba sebagai ulangan. Pengelompokkan didasarkan pada rataan bobot hidup domba. Ransum terdiri dari rumput dan konsentrat dengan perbandingan 30:70, P1= rumput+konsentrat kontrol, P2= rumput+konsentrat flushing mengandung 6% minyak kelapa sawit, P3= rumput+konsentrat flushing mengandung 3% minyak lemuru dan 3% minyak sawit, P4= rumput+konsentrat flushing mengandung 6% minyak lemuru. Data yang diperoleh diuji dengan ANOVA (Analysis of Variance), untuk analisis ANOVA yang mendapatkan hasil berbeda nyata (P<0.05), diuji lanjut Duncan. Parameter pada penelitian ini meliputi nilai pH, VFA(volatile fatty acid) total, NH3 (ammonia), protozoa total dan bakteri total. Hasil menujukkan pemberian perlakuan tidak memberikan efek yang signifikan terhadap nilai pH, VFA total, NH3 (ammonia), protozoa dan bakteri toral rumen. Nilai pH (6.54-6.86), VFA total (70.31-80.43 mM), NH3 (10.97-14.64 mM), populasi protozoa (5.23-5.43 log sel ml-1) yang dihasilkan akibat pemberian suplementasi minyak lemuru dan minyak sawit berada dalam kisaran normal, namun hasil yang didapatkan untuk bakteri total lebih rendah daripada rentang normal, yaitu sebesar 4.71-5.5 log cfu ml-1. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian minyak lemuru dan minyak sawit pada level 6% dalam pakan domba tidak memberikan efek negatif terhadap profil fermentabilitas rumen domba
Efikasi Vaksin Streptococcus agalactiae dengan Dosis Berbeda dan Diuji Tantang S. agalactiae Strain Berbeda pada Ikan Nila
Streptococcosis merupakan penyakit bakterial yang sering menyerang ikan nila dan
beresiko menyebabkan kematian lebih dari 90% total populasi. Beragamnya dosis dan jenis
vaksin yang digunakan untuk pencegahan streptococcosis menyulitkan dalam memilih yang
terbaik untuk pengembangan vaksin dan aplikasinya. Tujuan penelitian ini menguji efikasi
vaksin Streptococcus agalactiae strain S1 dengan dosis dan uji tantang berbeda untuk
pencegahan streptococcosis serta menganalisis sistem imun spesifik dan nonspesifik ikan nila
yang divaksinasi. Ikan nila yang digunakan memiliki bobot 24.39±0.99 g dan panjang
11.49±0.49 cm. Ikan nila diinjeksi vaksin S1 pada bagian intraperitoneal sebanyak 0.1 mL/ekor
dengan dosis 107, 108, dan 109 CFU/ekor. Setelah vaksinasi ikan nila diuji tantang dengan strain
bakteri S1, S2, dan S3 dengan dosis 106 CFU/ekor. Vaksin S1 dengan dosis 107, 108, dan 109
CFU/ekor mampu meningkatkan sistem imun spesifik maupun nonspesifik serta memproteksi
ikan nila terhadap infeksi S. agalactiae strain S1, S2, dan S3. Perlakuan vaksin dengan dosis
109 CFU/ekor mampu meningkatkan sistem imun spesifik dan nonspesifik terbaik pada ikan
nila dari infeksi strain S1, S2, dan S3 dengan nilai KHR sebesar 96.30%. Semakin tinggi dosis
vaksin yang diberikan maka proteksi vaksin juga semakin tinggi. Vaksin S1 memiliki proteksi
lebih baik jika diuji tantang dengan strain bakteri yang sama
Karakterisasi dan Aplikasi Kitosan Selongsong Pupa Black Soldier Fly sebagai Edible Coating pada Anggur Merah (Vitis vinifera).
Selongsong pupa Black Soldier Fly (BSF) masih menjadi limbah dan belum termanfaatkan padahal mempunyai kandungan kitin yang berpotensi menjadi kitosan. Kitosan pada penelitian ini dimanfaatkan sebagai edible coating yang mampu meningkatkan daya simpan buah. Anggur merah (Vitis vinifera) merupakan buah yang cukup digemari masyarakat Indonesia dengan daya simpan yang pendek yaitu 3-6 hari. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakterisasi kitosan dari selongsong pupa BSF dan potensinya sebagai edible coating pada anggur merah. Kitosan dikarakterisasi dan diaplikasikan sebagai edible coating menggunakan metode celup dan spray dengan variasi konsentrasi 0.5%, 1%, 1.5%, 2% dan 2.5% serta lama pencelupan yaitu 5, 10 dan 15 menit. Kitosan menghasilkan morfologi fisik berupa serbuk kepingan dengan warna putih coklat seulas, tingkat kelarutan 55% dan derajat deasetilasi sebesar 91.88%. Rendemen (%) kitin dan kitosan masing-masing sebesar 16.2% dan 4.8%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan kitosan terbaik dalam mempertahankan penampakan fisik buah anggur dan menghambat penyusutan buah didapatkan pada konsentrasi 2.5%. Lama pencelupan terbaik dalam mempertahankan penampakan fisik buah anggur didapatkan pada pencelupan selama 10 menit
Potensi Zeolit Terimpregnasi Logam Kromium sebagai Katalis Konversi Glukosa menjadi 5-Hidroksimetilfurfural
Zeolit merupakan mineral aluminosilikat yang memiliki struktur berpori. Senyawa gula, seperti glukosa dan fruktosa, dapat dikonversi menjadi 5-hidroksimetilfurfural (HMF) dengan dikatalisis oleh zeolit. Namun, aktivitas katalisisnya sangat rendah terhadap glukosa. Aktivitas katalisis ini dapat ditingkatkan melalui impregnasi logam Cr(III). Penelitian ini bertujuan memodifikasi zeolit alam melalui impregnasi logam Cr dan menganalisis potensinya sebagai katalis konversi glukosa menjadi menjadi HMF. Impregnasi logam Cr dapat meningkatkan keasaman zeolit dan peningkatannya berbanding lurus dengan meningkatnya rendemen HMF yang dihasilkan. Optimisasi konsentrasi logam yang diimpregnasi tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya rendemen HMF. Konsentrasi logam Cr yang terlalu tinggi dapat menurunkan rendemen akibat terjadinya reaksi samping. Campuran pelarut dapat digunakan dalam sintesis HMF untuk mengatasi sulitnya pemisahan pada penggunaan pelarut dimetil sulfoksida murni
Retracking waveform Data Satelit Altimeter dengan Sistem Logika Fuzzy di Perairan Natuna dan Sekitarnya.
Retracking waveform telah terbukti dapat meningkatkan akurasi data estimasi tinggi paras laut (sea surface height (SSH)) dari data satelit altimeter di perairan pesisir. Akan tetapi, pada masing-masing algoritma retracking memiliki kelebihan dan kelemahan sehingga tidak ditemukan algoritma yang dominan yang dapat diterapkan pada setiap kondisi perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan estimasi SSH terbaik dari data satelit altimeter menggunakan metede retracking waveform dengan sistem logika fuzzy. Sistem logika fuzzy digunakan untuk memilih nilai SSH terbaik dari hasil retracking bebagai metode. Data yang digunakan merupakan data level-2 SGRD dari satelit Jason-2 dan Jason-3 di perairan Natuna dan sekitarnya tahun 2016-2018, data undulasi geoid (EGM08), dan data in situ stasiun pasang surut (pasut) tahun 2016-2018. Retracking waveform dengan sistem logika fuzzy dilakukan dengan menggunakan beberapa metode retracker yang kemudian dimasukan kedalam sistem fuzzy.
Hasil analisis performa metode retracking menunjukan bahwa retracking waveform dengan sistem logika fuzzy secara konsisten menghasilkan estimasi SSH terbaik di seluruh lintasan pengamatan. Retracking waveform dengan sistem fuzzy mampu menurunkan standar deviasi SSH hingga 29.7 cm untuk Jason-2 dan 22.9 cm untuk Jason-3 dari standar deviasi on-board retracker. Retracking waveform dengan sistem fuzzy menghasilkan persentase improvement percentage IMP yang tertinggi dibandingkan dengan metode lainnya dengan nilai rata-rata perbaikan mencapai 60.9 % untuk Jason-3 dan 43.1 % untuk Jason-2.
Validasi estimasi sea surface height anomaly (SSHA) hasil retracking waveform terhadap data pasang surut menunjukan bahwa retracking waveform dengan sistem logika fuzzy lebih akurat dibandingkan metode lain. Retracking waveform dengan sistem logika fuzzy mampu menghasilkan rata-rata korelasi temporal mencapai 0.75-0.89 dan RMSE antara 0.15-0.17 m. Retracking waveform dengan sistem logika fuzzy mampu meningkatkan akurasi estimasi SSHA di daerah pesisir hingga jarak 4 km dari garis pantai. Dari hasil penelitain ini dapat disimpulkan bahwa retracking waveform dengan sistem logika fuzzy berpotensi untuk diterapkan dilokasi lain baik di daerah pesisir maupun perairan yang dekat dengan pulau-pulau kecil dan untuk satelit altimeter lainnya
Analisis Kestabilan Model Epidemi HIV/AIDS dengan Pengobatan.
Model penyebaran epidemi HIV/AIDS dengan pengobatan merupakan
modifikasi model SIA (Susceptible, Infected, AIDS) dengan penambahan faktor
terinfeksi yaitu terinfeksi dengan gejala dan tanpa gejala. Model ini
memungkinkan individu yang terinfeksi beralih dari fase gejala ke fase tanpa
gejala ataupun sebaliknya. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
populasi tertutup. Dalam penelitian ini dianalisis perilaku penyebaran individu
yang terinfeksi (baik dengan gejala maupun tanpa gejala) dan individu yang
terjangkit AIDS. Untuk menganalisis kestabilan lokal pada titik tetap bebas
penyakit dan endemik dilakukan menggunakan bantuan kriteria Routh-Hurwitz
dan matriks compound. Simulasi numerik yang dilakukan dapat menggambarkan
arah kestabilan model yang menuju titik tetap. Sedangkan, analisis sensitivitas
digunakan untuk melihat pengaruh parameter terhadap kestabilan titik tetap.
Kenaikan laju penularan penyakit berbanding lurus dengan kenaikan bilangan
reproduksi dasar, sehingga kondisi endemik ikut meningkat. Sehingga faktor
penularan penyakit ini dapat dikontrol untuk mengurangi populasi yang terinfeksi
Simulasi Pengaruh Variasi Laju Bahan Bakar Tempurung Kelapa terhadap Efisiensi Termal Sistem Pembangkit Organic Rankine Cycle
Organic Rankine Cycle (ORC) merupakan siklus termal pada sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan fluida kerja organik dengan titik didih rendah. Simulasi sistem ORC dilakukan untuk mengetahui performa dari sistem pembangkit listrik dalam kondisi kerja tertentu. Tujuan dari simulasi ini adalah mengetahui efisiensi termal sistem ORC dengan menggunakan bahan bakar biomasa tempurung kelapa, menganalisis hubungan laju bahan bakar dan suhu evaporator terhadap efisiensi termal serta merekomendasikan biomassa yang mampu bekerja secara optimum untuk sistem ORC. Fluida kerja yang digunakan adalah R134a. Simulasi dilakukan dengan variasi laju bahan bakar, laju aliran air, perbedaan suhu turbin, dan suhu kondensasi. Variasi laju bahan bakar yang dilakukan adalah 5 kg/jam, 7.5 kg/jam, dan 10 kg/jam, laju aliran air 1 lpm, 2 lpm, dan 3 lpm, perbedaan suhu turbin 15oC, 20oC, 25oC, dan 30oC serta suhu kondensasi 20oC, 25oC, dan 30oC. Efisiensi termal optimum didapatkan dengan nilai 13.4% pada saat laju massa bahan bakar 10 kg/jam dengan perbedaan suhu turbin 30oC dan suhu kondensasi 30 oC