31665 research outputs found
Sort by
Kajian Aplikasi Feromon Sintetik Pengganggu Kopulasi Scirpophaga incertulas di Lapang
Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas merupakan hama
utama penyebab sundep dan beluk pada tanaman padi. Aplikasi feromon
pengganggu kopulasi merupakan salah satu teknologi pengendalian ramah
lingkungan yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia untuk menekan
kerusakan sundep dan beluk. Penjenuhan awan feromon di sekitar pertanaman
padi dipengaruhi oleh kandungan bahan feromon, jarak penempatan feromon dan
keberadaan angin. Penelitian ini bertujuan memantau populasi ngengat S.
incertulas pada areal perlakuan seks feromon YSB-MDP berbahan aktif Z11-
Hexadicenal 33% dan mengamati pengaruh jarak pelepasan feromon dan arah
angin terhadap kerusakan sundep dan beluk di tepi lahan perlakuan YSB-MDP.
Saset dispenser YSB-MDP berukuran 10 x 6 cm dipancangkan pada ujung pasak
bambu setinggi 1.2 meter dari permukaan tanah. Pasak dispenser diaplikasikan
dengan jarak 16 m x 16 m. Aplikasi dilakukan pada awal musim tanam dan
dibiarkan hingga panen. Areal pengamatan sundep dan beluk ditentukan berjarak
16, 32, dan 48 m kearah luar dan dalam dari tepi lahan tempat pemasangan
dispenser yang berbatasan dengan lahan petani. Pengamatan gejala kerusakan oleh
penggerek berada di dua daerah Utara dan Selatan dari tepi lahan. Lokasi
pengamatan dilakukan di dua areal Utara dan Selatan tepi lahan. Setiap
pengamatan, diambil 10 rumpun dan dilakukan sebanyak 6 kali dalam satu musim
tanam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa feromon sintetik atau dispenser
YSB-MDP mampu menekan populasi ngengat S. incertulas hingga 93%. Puncak
penerbangan ngengat tertinggi terjadi pada 8 MST di lahan perlakuan YSB-MDP
sebesar 50 ekor/lahan/2 trap dan 10 MST di lahan petani sebesar 387 ekor/lahan/2
trap. Intensitas serangan S. incertulas berkisar antara 0.31%-9.47% di lahan
perlakuan YSB-MDP sedangkan di lahan tanpa perlakuan YSB-MDP berkisar
4.79%-14.16%. Kondisi curah hujan dan kecepatan angin yang rendah serta arah
angin utara memberi peluang meningkatnya infestasi ngengat S. incertulas pada
lahan perlakuan YSB-MDP
Analisis Faktor Iklim Terhadap Populasi Larva Anopheles spp. dengan Kejadian Malaria di Distrik Abepura, Kota Jayapura
Malaria merupakan salah satu penyakit yang ditularkan nyamuk Anopheles spp yang membawa parasit Plasmodium. Penyakit malaria dapat menyebabkan kematian pada manusia khususnya bayi, balita, dan ibu hamil. Kehidupan dan perkembangbiakan nyamuk dipengaruhi oleh iklim. Penelitian ini, secara umum bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklim terhadap populasi larva dan hubungannya dengan angka kejadian malaria di Distrik Abepura. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dan hasilnya ditampilkan dalam 3D Surface plot. Unsur iklim yang memperlihatkan adanya pola hubungan dengan populasi larva yaitu curah hujan dan suhu udara. Populasi larva tinggi ketika curah hujan rendah dan suhu udara tinggi. Sebaliknya, populasi larva rendah ketika curah hujan tinggi dan suhu udara rendah. Secara deskriptif kejadian malaria dapat dipengaruhi oleh populasi larva dan curah hujan. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan kejadian malaria memiliki korelasi nyata dengan populasi larva 4-8 hari sebelumnya. Sebagai faktor tunggal, unsur iklim yang berpengaruh terhadap kasus malaria ialah curah hujan
Klasifikasi Fase Pertumbuhan Padi Menggunakan Random Forest berdasarkan Data Multitemporal Landsat-8.
Pemantauan tanaman padi di Indonesia memainkan peran penting untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada. Salah satu tantangan mendasarnya adalah tugas klasifikasi fase pertumbuhan tanaman pangan yang dapat membantu memperkirakan hasil sebelum panen. Klasifikasi fase pertumbuhan tanaman pangan khususnya padi, telah dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan metode survei, yaitu kerangka sampel area (KSA). Survei memiliki kualitas estimasi yang tinggi namun, juga memiliki keterbatasan, yaitu biaya yang besar dan kurangnya informasi area non sampel. Berbeda dengan metode survei, penelitian ini mengeksplorasi metode yang terukur dan murah menggunakan data penginderaan jauh gratis, yaitu Landsat-8. Landsat-8 menyediakan informasi spasio-temporal yang mencakup informasi pertumbuhan vegetasi. Hal ini memungkinkan Landsat-8 untuk menjadi sumber informasi klasifikasi fase pertumbuhan padi namun, untuk klasifikasi yang akurat perlu dilakukan rekayasa fitur yang mampu menangkap pola spektral temporal pertumbuhan padi dari satu musim tanam.
Penelitian ini bertujuan untuk membentuk model klasifikasi fase pertumbuhan padi berdasarkan data multitemporal Landsat-8, mengevaluasi kebaikan model dengan confusion matrix, dan melakukan features engineering untuk menelusuri set fitur terbaik. Data yang digunakan adalah citra Landsat-8 periode November 2017 sampai Desember 2018 dan data KSA tahun 2018. Fitur dasar yang digunakan adalah band 1 sampai band 7, indeks EVI, NDVI, NDWI, dan NDBI. Dari fitur dasar tersebut dilakukan features engineering terhadap empat periode temporal Landsat-8. Model klasifikasi yang digunakan adalah random forest.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi model klasifikasi sebesar 23.6% ketika model menggunakan fitur EVI saja. Akurasi klasifikasi menjadi 57.3% ketika model menggunakan seluruh fitur dasar dari 1 periode Landsat-8. Saat fitur ditingkatkan lagi sampai 4 periode, akurasi meningkat menjadi 73.6%. Artinya akurasi klasifikasi meningkat ketika fitur temporal dimasukkan ke dalam model. Akurasi tertinggi adalah kelas vegetatif awal, vegetatif akhir, dan bukan sawah. Akurasi terendah di kelas generatif awal dan kelas bera. Fitur terbaik pembeda kelas padi dengan non padi adalah varian indeks vegetasi, sedangkan pembeda kelas fase pertumbuhan padi adalah maksimum dan minimum EVI, EVI, band 5, dan band 6. Dalam penelitian ini, penulis menunjukkan metode yang diusulkan memberikan manfaat potensial bagi pemerintah dan lembaga statistik sebagai sumber data pertanian yang murah dan terukur
Evaluasi Kualitas Fisik Dedak Padi Lokal di Kabupaten Jember Jawa Timur.
Dedak padi adalah hasil sampingan dari proses penggilingan padi menjadi beras yang digunakan dalam ransum ternak. Dedak padi memiliki kualitas berbeda di setiap daerah penghasilnya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas fisik dedak padi di Kabupaten Jember Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut antara lain: P1 = Kecamatan Puger, P2 = Kecamatan Rambipuji, P3 = Kecamatan Jombang, P4 = Kecamatan Semboro, P5 = Kecamatan Ledokombo, P6 = Kecamatan Sumber baru, P7 = Kecamatan Tempurejo, P8 = Kecamatan Tanggul, P9 = Kecamatan Umbulsari. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan dilakukan uji Duncan jika terdapat hasil yang berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, dan berat jenis berbeda sangat nyata (P<0.01) pada setiap kecamatan. Dedak padi pada sembilan kecamatan di Kabupaten Jember memiliki kualitas bervariatif. Dedak padi P1 dan P2 (Kecamatan Puger dan Kecamatan Rambipuji) memiliki kualitas tertinggi sedangkan dedak padi P9 (Kecamatan Umbulsari) memiliki kualitas terendah. Secara umum dedak padi yang digunakan dalam penelitian tergolong dalam kualitas II dan III SNI
Evaluasi Laju Fotosintesis Spesies Tanaman Buah Potensial untuk Tanaman Penghijauan Kota
Pemilihan jenis tanaman penghijauan di perkotaan bersifat dinamis dan
berkembang sesuai dengan perubahan visi kota. Pada umumnya, wilayah perkotaan
memiliki tingkat pencemaran udara CO2 yang cukup tinggi dibandingkan dengan
wilayah perdesaan. Oleh karena itu, pemilihan jenis tanaman untuk wilayah
perkotaan pada umumnya mempertimbangkan daya adaptasi tinggi dan memiliki
kapasitas fiksasi karbon yang tinggi. Seiring dengan trend penanaman tanaman
buah di perkotaan, maka evaluasi tanaman buah yang memiliki laju fotosintesis
(fiksasi karbon) yang tinggi sangat diperlukan. Penelitian bertujuan mengetahui
jenis tanaman buah yang memiliki laju fotosintesis tinggi untuk direkomendasikan
sebagai tanaman penghijauan kota. Karakterisasi 15 jenis tanaman buah dilakukan
pada tanaman yang ada di Kebun Percobaan Leuwikopo dan analisis laboratoriuk
di lakukan di Laboratorium Mikroteknik, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor pada Desember 2019 sampai Januari 2020. Data yang diperoleh dari hasil
pengamatan dianalisis dengan uji F pada taraf 5%, apabila data berbeda nyata
dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa tanaman buah memiliki laju fotosintesis yang berbeda-beda. Jenis tanaman
yang memiliki laju fotosintesis tinggi adalah rambutan (Nephelium lappaceum)
yaitu 30.84 μmol CO2 m-2s-1, pisang (Musa paradisiaca) 29.94 μmol CO2 m-2s-1,
dan durian (Durio zibethinus) 29.73 μmol CO2 m-2s-1. Tanaman sukun memiliki
nilai konduktansi stomata yang tinggi yaitu 0.1724 mol H2O m-2s-1 dengan laju
transpirasi yang tinggi yaitu 0.0063 mol H2O m-2s-1, tetapi memiliki laju fotosintesis
yang relatif rendah. Secara morfologi, tanaman rambutan memiliki tingkat
kerimbunan sedang, mampu sebagai peneduh, tingkat sampah serasah yang sedang
sehingga relatif mudah dipelihara. Dengan demikian, tanaman rambutan
direkomendasikan untuk agroekologi kota. Namun demikian, perlu penelitian lebih
lanjut terkait aspek keamanan konsumsi buah yang dihasilkan di kota
Evaluasi mutu produk olahan rumput laut merah Euchema cottoni DI Sumenep Madura Jawa Timur
Kabupaten Sumenep merupakan daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kesesuaian rumput laut dengan SNI 2690:2015, menentukan komposisi serat rengginang dan kerupuk di Sumenep dan Mataram, dan menentukan presentase karbohidrat dan serat pada kecukupan gizi produk. Metode yang digunakan yaitu uji organoleptik, analisis proksimat dan mineral. Hasil penelitian ini menunjukkan kandungan cemaran logam rumput laut Sumenep dan Lombok dibawah batas maksimal SNI 2690:2015 hanya kandungan kadmium melebihi batas maksimal. Skor uji sensori untuk kenampakan dan tekstur pada rumput laut (Euchema cottonii) dari Sumenep sudah memenuhi standar hanya kenampakan pada rumput laut Lombok yang belum memenuhi ketentuan. Kesimpulan penelitian ini adalah angka kecukupan gizi produk rengginang dan kerupuk rumput laut dari Sumenep lebih baik dari produk rengginang dan kerupuk rumput laut dari Mataram
Rekayasa Sistem Mikrokontroler Lampu Pemikat Ikan Pada Perikanan Bagan Tancap.
Penggunaan cahaya lampu dalam pengoperasian penangkapan ikan,
pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1900 untuk menarik perhatian
berbagai jenis ikan, kemudian berkembang dengan pesat setelah Perang Dunia II.
Di Norwegia penggunaan lampu berkembang sejak tahun 1930 dan di Uni Soviet
baru mulai digunakan pada tahun 1948 (Nikonorov 1975). Penggunaan lampu
merupakan salah satu teknik modern dan efektif, memanfaatkan tingkah laku ikan
yang tertarik dengan cahaya agar berkumpul di sekitar alat tangkap
(Anongponyoskun et al. 2011). Menurut Wisudo et al. (2002), perkembangan
perikanan lampu semakin pesat setelah ditemukannya lampu listrik (lampu merkuri,
halogen, fluorescent dan metal halide) yang memiliki iluminasi cahaya lebih tinggi
dibandingkan lampu petromaks. Cahaya digunakan untuk menarik dan
mengkonsentrasikan kawanan ikan pada catchable area yang selanjutnya dengan
menggunakan alat tangkap tertentu untuk menangkapnya (Setiawan et al. 2015).
Beberapa penelitian terdahulu telah menggunakan lampu LED pada
kegiatan operasi penangkapan ikan di bagan seperti yang dilakukan oleh (Thenu et
al. 2013; Taufiq et al. 2015, Sulaiman et al. 2015; Hamidi 2017; Susanto 2019;
Sugandi 2019). Cahaya yang digunakan pada perikanan bagan, biru, hijau, merah,
kuning dan putih. Lampu LED biru memiliki panjang gelombang yang sangat
pendek, namun jangkauan cahayanya jauh, sehingga lampu LED biru dapat
digunakan untuk memikat ikan yang jauh dari sumber cahaya. Menurut Hamidi
(2017) jumlah hasil tangkapan terbesar diperoleh pada lampu LED biru sebesar
79%, diikuti oleh lampu LED warna merah 13% dan kuning 8%. Hal ini
membuktikan bahwa cahaya lampu biru dapat menjangkau areal yang lebih luas
dibanding lampu merah dan kuning.
Retina ikan memiliki tiga macam reseptor yaitu reseptor biru, reseptor hijau
dan reseptor merah dimana masing-masing reseptor menyerap satu dari 3 warna
utama (Verheyen 1959). Ada dua macam sel reseptor pada retina mata ikan yaitu
sel kerucut (cone cell) dan sel batang (rod cell) dimana sel cone berfungsi pada
lingkungan yang terang untuk membedakan warna, sel ini peka terhadap cahaya
merah, hijau dan biru sedangkan sel rod cell berfungsi pada lingkungan kurang
terang (Herring et al. 1990). Tingkah laku ikan terhadap warna utama yaitu merah,
biru dan hijau membuktikan bahwa retina mata ikan juga hanya dapat menangkap
cahaya (Hamidi 2017).
Berdasarkan penelitian Sulaiman et al. (2015), pergantian warna
menggunakan cara manual dengan menaikan dan menurunkan saklar,
mempengaruhi tingkah laku ikan, dimana ikan terkejut dengan adanya perubahan
warna tersebut, bahwa pada saat pergantian warna cahaya yang digunakan untuk
memikat ikan dan mengumpulkan ikan, tejadi pengaruh terhadap tingkah laku ikan,
yaitu ikan menjadi terkejut dan keluar dari catchable area.
Berdasarkan penelitian Thenu (2014), pergantian warna cahaya LED
menggunakan dimmer, pengaturan dengan menggunakan dimmer ini tidak stabil
dan tidak konstan untuk jangka waktu tertentu, dan tidak dapat menggunakan
v
pengaturan yang sama pada waktu dan tempat berikutnya, karena pemutaran
dengan cara manual menggunakan potensiometer.
Beberapa permasalahan di atas yaitu pengaturan intensitas cahaya dilakukan
secara manual (Thenu et al. 2013; Taufiq et al. 2015, Sulaiman et al. 2015; Hamidi
2017; Susanto 2019), sedangkan pada penelitian ini dilakukan perubahan intensitas
cahaya secara konstan dan otomatis dilakukan secara halus menggunakan modulasi
lebar pulsa.
Tujuan dari penelitian ini pertama, merancang bangun lampu pemikat ikan
warna Red, Green dan Blue (RGB) menggunakan LED jenis high power LED
(HPL). Kedua, merancang bangun sistem dan konstruksi kontrol intensitas cahaya
berbasis microcontroller ATMega 328. Ketiga, menentukan karakteristik lampu
LED-RGB dengan intensitas cahaya PWM yang berbeda. Keempat, menentukan
efektifitas lampu LED-RGB pada bagan tancap berdasarkan tingkah laku ikan,
komsumsi energi dan hasil tangkapan.
Metode yang digunakan adalah pertama, eksperimen di Lab. PSP FPIK IPB
dalam uji coba sebaran intensitas cahaya di udara dan sebaran intensitas cahaya di
bagan tancap. Kedua, eksperimen lapangan di bagan tancap pulau Bokor,
Kepulauan Seribu DKI Jakarta untuk uji coca sebaran intensitas cahaya di air dan
implementasi alat.
Hasil penelitian ini pertama, menghasilkan sebuah konstruksi dan desain
lampu pemikat ikan dengan sistem pengaturan intensitas cahaya berdasarkan
modulasi lebar pulsa dibuat berdasarkan bentuk armature yang dapat
mengkonsentrasikan intensitas cahaya pada sudut antara 120o-240o dengan
spesifikasi ukuran, diameter 32 cm, tinggi 22 cm, dan daya 42 Watt. Kedua,
Karakteristik intensitas cahaya berdasarkan modulasi lebar pulsa yang berbeda
beda, dari alat pemikat ikan menghasilkan pola sebaran cahaya secara vertikal dan
horizontal, ditunjukan dengan pembagian zona cahaya yang terdiri dari centre zone
(CZ) dengan kedalaman cahaya 0-4 m jangkauan 0-4 m, main zone (MZ) dengan
kedalaman cahaya 5-12 m jangkauan 5-6 m, influence zone (IZ) dengan kedalaman
cahaya 13-15 m jangkauan 6-7 m. Ketiga, Hasil dari penelitian ini adalah perubahan
warna hijau ke biru dan biru ke merah secara halus (smooth) dan konstan.
Berdasarkan hasil uji coba di bagan tancap perubahan intensitas cahaya
secara halus pada Gambar 63 sampai dengan Gambar 70, menunjukkan bahwa ikan
tidak mengalami terkejut tetapi tetap di catchable area.
Dari kedua pengamatan keberadaan ikan untuk transisi intensitas cahaya
warna biru-hijau 0-250 PWM dan hijau-merah 0-250 PWM, dari sisi spasial
menunjukkan pola tingkah laku ikan disekitar cahaya saat terjadi perubahan warna
biru ke hijau atau hijau ke merah, tidak keluar dari catchable area, atau ikan tidak
terkejut untuk meninggalkan catchable area.
Pengamatan keberadaan ikan pada transisi warna biru-hijau dan hijaumerah,
baik dari sisi temporal atau sisi spasial menunjukkan bahwa ikan tetap
berada pada sekitar cahaya atau ikan tidak terkejut terhadap perubahan warna yang
dilakukan secara halus.
Berdasarkan hasil uji coba pada saat pengoperasian alat pemikat ikan
dengan sistem microcontroller di bagan tancap, perubahan warna cahaya LED
dapat dilakukan dengan halus (smooth) secara konstan dan kontinyu menggunakan
sistem modulasi lebar pulsa atau PWM dengan langkah pengaturan pulsa 5 PWM.
Pengaturan modulasi lebar pulsa mempunyai range 0 – 250 PWM. Keempat,
vi
Perubahan warna cahaya yang dilakukan dengan halus (smooth) pada saat
pengoperasian ikan di bagan tancap, mempengaruhi perubahan tingkah laku pada
ikan untuk tetap melakukan schooling, ikan tidak terkejut dengan adanya perubahan
warna cahaya secara halus namun tetap berada sekitar catchable area. Efektifitas
alat pemikat ikan dengan perubahan intensitas cahaya LED RGB mampu
mendapatkan komposisi tangkapan ikan dengan jumlah 50 kg dari 5 spesies ikan
yang berbeda yaitu petek (Leiognathus equulus), selar bentong (Selar
crumenophthalmus), cumi-cumi (Loligo sp), teri (Stolephorus indicus), teri nasi
(Stolephorus sp), beseng (Apogon sp) pada pengoperasian bagan tancap jam 18.00
– 03.00 WIB. Alat pemikat ikan dengan pengaturan intensitas cahaya berdasarkan
modulasi lebar pulsa cukup efisien dalam pemakaian BBM, dimana konsumsi
bahan bakar minyak dengan menggunakan 3 liter bensin atau Rp30 000 mampu
menghemat biaya sebesar Rp45 000 dalam satu malam, dibandingkan dengan
menggunakan lampu halogen dan neon yang mengkonsumsi bahan bakar 10 liter
solar atau sebesar Rp75 000. Pendapatan hasil tangkapan untuk lampu kontrol
Rp750 000 dan lampu perlakuan (lampu LED RGB) Rp850 000. Keuntungan
ekonomi yang diperoleh sebesar Rp145 000. Biaya pembuatan alat ini termasuk
murah, karena dapat dibuat dengan biaya sebesar Rp4 315 000 dibandikan dengan
menggunakan lampu merkuri atau neon yang memiliki harga cukup tingi dan sering
putus.
Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa rekayasa pengembangan lampu
LED alat pemikat ikan dengan sistem microcontroller pada perikanan bagan tancap
mampu mengatur perubahan intensitas warna cahaya secara halus (smooth) dan
konstan, efektif dalam penangkapan ikan, dan efisien dalam bahan bakar minyak
(BBM)
Perakitan Tanaman Lamtoro (Leucaena Leucocephala) Teradaptasi Tanah Masam.
Peningkatan keragaman genetik tanaman Lamtoro (Leucaena leucocephala) akan mempermudah usaha dalam menyeleksi tanaman untuk mendapatkan suatu tanaman dengan sifat yang diinginkan, misalnya karakter tanaman yang tahan pada tanah masam. Pada penelitian ini diharapkan diperoleh galur tanaman yang toleran pada kondisi tanah masam melalui pemuliaan mutasi dengan menggunakan iradiasi sinar gamma. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis daya tumbuh dan radiosensitivitas tanaman lamtoro pasca iradiasi sinar gamma; (2)menganalisis respon pertumbuhan tanaman lamtoro pasca iradiasi sinar gamma pada tanah latosol; (3) menganalisis respon pertumbuhan lamtoro pasca iradiasi sinar gamma pada tanah masam dengan kejenuhan almunium tinggi (4) mengidentifikasi serangan kutu loncat pada tanah masam kejenuhan almunium tinggi. Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahap, yaitu (I) Daya tumbuh dan radiosensitivitas tanaman lamtoro pasca iradiasi sinar gamma (II) Respon pertumbuhan tanaman lamtoro pasca iradiasi sinar gamma pada tanah latosol dan (III) Respon pertumbuhan tanaman lamtoro pasca iradiasi sinar gamma pada tanah masamdengan kejenuhan almunium tinggi. Tahap I ditentukan melalui pengolahan data laju kelangsungan hidup (survival rate) terhadap perlakuan dosis iradiasi sinar gamma menggunakan program Curve Expert 1.3. Dosis iradiasi sinar gamma yang digunakan adalah 0 Gray (Gy), 100 Gy, 200 Gy, 300 Gy, 400 Gy dan 500 Gy. Rancangan yang di gunakan pada tahap II dan III, Rancangan Acak Lengkap (RAL) tidak seimbang. Masing- masing tahap terdiri dari: Tahap II dengan 6 perlakuan 0 Gy (n: 713), 100 Gy (n: 322), 200 Gy (n: 871), 300 Gy (n: 816), 400 Gy (n: 606) dan 500 Gy (n: 434) dan Tahap III dengan 6 perlakuan 0 Gy (n: 100), 100 Gy (n: 322), 200 Gy (n: 650), 300 Gy (n: 650), 400 Gy (n: 606) dan 500 Gy (n: 434).
Hasil pengujian radiosensitivitas benih lamtoro menunjukkan LD20 dan LD50 yang didapat adalah 391.91 Gy dan 414.39 Gy, dengan model persamaan persamaan polynomial Y= 381.58+ 0.0.41X + 0.0055X2 + 0.000029X3. Dosis iradiasi diatas 200 Gy memperlambat laju daya tumbuh tanaman lamtoro. Tanaman lamtoro pasca iradiasi pada level dosis 100 Gy cenderung mampu mempercepat tinggi tanaman, jumlah tangkai dan jumlah daun pada tanah latosol. Tanaman lamtoro pasca iradiasi pada dosis 400 Gy menghasilkan tanaman yang tahan pada tanah masam kejenuhan almunium tinggi dan tahan terhadap serangan kutu loncat
Development of seed vigour testing method using single count of radicle emergence for true seed of shallots (Allium ascalonicum B.).
Seed vigour is one of the seed parameters that determines the quality of seed for successful crop production. Looking into the complexity of the situation, the ISTA congress of 1995 adopted the definition of seed vigour as "the sum total of those properties of the seed which determine the level of activity and performance of the seed or seed lot during germination and seedling emergence". Seed deterioration resulting from production and storage factors are the major cause of the differences in seed vigour that results in low seedling emergence in both the laboratory and in the field, hence a loss in seed vigour
The experiment was conducted at IPB University (Bogor Agricultural University) to develop a seed vigour testing method for the true seed of shallots (TSS) using single counts of radicle emergence (RE) that can be used to estimate and predict the germination percentage of normal seedlings in the laboratory and field emergence. The research was conducted in three phases with experiment 1; determination of a single count for RE, experiment 2 was done to verify the RE method on naturally deteriorated seed stored under two different conditions for a period of 6 months, and experiment 3 was done to improve RE through seed invigoration.
TSS of two varieties were used in this study i.e. Bima and Trisula harvested on 4th and 10th October 2018 cropping season respectively. Four seed lots from Trisula and five seed lots from Bima were artificially made by exposing the seeds to accelerated aging treatment and used in experiment 1. The second and third experiment used Trisula (92.0% germination), harvested on 3rd November 2018. Seed lots were artificially made which consisted of nine seed lots for experiment 1. Seed lots were germinated at two different temperatures i.e. 20±1℃ and 25±1℃. The experiments were arranged in a completely randomized design (CRD) with a repeated measurement for RE and randomized complete block design (RCBD) for seedling vigour in the field with four replicates.
Results showed that a single count of RE at 68 or 72 hours for seed lots germinated at 20±1℃ or 25±1℃ respectively were able to predict germination percentage in the laboratory 12 days after sowing and field emergence 14 days after sowing. Regression and correlation analysis values for a single count of RE were predictive to germination percentage with r = 0.891 and R 2 = 0.951 for seed lots germinated at 20±1℃ or r = 0.924 and R2 = 0.875 for seed lots germinated at 25±1℃ which were all significant. RE further predicted mean germination time (MGT) r = -0.543 and R2 = 0.801 (p < 0.05) for seed lots germinated at 20±1℃ or r = -0.818 and R2 = -0.553 for seed lots germinated at 25±1℃. Furthermore, RE was predictive to field emergence (FE %) with r = 0.953 and R2 = 0.909 (p<0.05) and r = 0.865 and R2 = 0.732 (p<0.01) for seed lots germinated at 20±1℃ or 25±1℃ respectively.
Results further indicated that RE was able to separate seed lots of TSS that deteriorated naturally for a period of six months. RE predicted seed vigour parameters in the laboratory and seedling vigour in the field for naturally deteriorated seed lots confirming that the newly developed method was very effective. A single count of RE
at 72 hours was predictive to seedling vigour in the field for naturally deteriorated seed lots with R2 = 0.953, R2 = 0.913 and R2 = 0.955 for field emergence, mean emergence time and field emergence rate respectively. High correlation coefficients and coefficient of determination between RE and seed vigour parameters in the laboratory and seedling vigour in the field provided adequate evidence that a single count of RE was effective in predicting other seed vigour parameters for TSS.
Invigoration of TSS with ZnSO4 was better than other osmoconditioning treatments which increased germination percentage, vigour index, germination rate and reduced MGT. The RE of the ZnSO4 invigorated seed correlated well with these seed viability and vigour parameters for seed lots stored under uncontrolled condition. Seed invigoration with 0.5% ZnSO4 significantly reduced the time of a single count of RE from 72h and 68h to 60 hours with field prediction rate ranging from 90-99%. Since a single count of RE correlated well with other seed vigour parameters and seedling vigour in the field, therefore a single count of RE at 68 or 72 hours can be used as one of the methods for seed vigour tests of TSS
Karakteristik Oriented Strand Board Hibrida Strand Sengon dan Mangium dengan Perlakuan Steam pada Berbagai Tingkat Kerapatan Papan
Oriented Strand Board (OSB) merupakan produk yang dapat memanfaatkan
kayu fast growing species dan bahan baku secara efisien. Kombinasi bahan baku dan
perlakuan pendahuluan steam diterapkan untuk meningkatkan kualitas papan.
Penelitisn ini adalah untuk mengevaluasi karakteristik OSB hibrida strand Sengon dan
Mangium dengan perlakuan steam pada berbagai tingkat kerapatan papan. Strand
Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Mangium (Acacia mangium) diberi perlakuan
pendahuluan steam. Papan OSB hibrida dibuat dengan kerapatan target 0.6 g.cm-3, 0.65
g.cm-3, dan 0.7 g.cm-3. Papan OSB hibrida dibuat tiga lapis dengan nisbah lapisan
(25/50/25) dan perekat phenol formaldehyde (PF) (SC = 49.95%) 10%. OSB hibrida
berhasil dibuat dengan kerapatan sesuai dengan kerapatan target. Peningkatan
kerapatan papan menyebabkan peningkatan sifat fisis dan mekanis OSB hibrida. OSB
hibrida dengan kerapatan 0.7 g.cm-3merupakan OSB hibrida dengan kualitas terbaik