31665 research outputs found
Sort by
Paradoks dalam Masalah Transportasi Multi-objektif Dimensid
Masalah transportasi multi-objektif dimensi-d merupakan perumuman dari
masalah transportasi dengan d jenis kendala dan lebih dari satu fungsi objektif.
Dalam hal ini, jenis kendala disebut sebagai dimensi yang dipandang sebagai vektor
jenis kendala. Jenis kendala dapat berupa kendala persediaan barang, permintaan
barang, tipe kendaraan, tipe barang, dan lain sebagainya. Sementara fungsi objektif
dapat berupa meminimumkan total biaya pengiriman barang, lamanya pengiriman
barang, total jarak pengiriman barang, dan lainnya.
Dalam masalah transportasi, setiap satuan barang dikenakan biaya
pengiriman, sehingga semakin banyak barang yang dikirimkan maka semakin besar
total biaya pengirimannya. Namun, terdapat beberapa kasus di mana mengirimkan
lebih banyak barang justru mengurangi total biaya pengiriman barang. Kasus ini
disebut sebagai paradoks transportasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan model, menetapkan syarat
cukup terjadi paradoks, dan menyusun algoritme pencarian paradoks masalah
transportasi multi-objektif dimensi-d. Model dibentuk dengan mempertimbangkan
kendala lain yang mungkin terjadi dalam masalah transportasi serta fungsi objektif
tambahan yang dapat diminimumkan dalam hal pengiriman barang. Syarat cukup
terjadi paradoks diperoleh dengan melibatkan variabel dual dari masing-masing
fungsi objektif, keterlibatan variabel dual ini menunjukkan tempat terjadi paradoks
pada tiap jenis kendala yang ada serta memperlihatkan besarnya pengurangan hasil
untuk masing-masing fungsi objektif setelah dilakukan penambahan barang.
Penambahan barang kemudian dilakukan ke dalam kendala dengan nilai
pengurangan terbesar. Syarat cukup terjadi paradoks disusun ke dalam algoritme
pencarian paradoks. Algoritme pencarian paradoks dilakukan dengan
menambahkan barang sebanyak 1 satuan tiap iterasi secara berulang hingga tidak
lagi memenuhi syarat cukup terjadi paradoks atau tidak ditemukan tempat terjadi
paradoks pada semua fungsi objektif
Morfogenetik Squat Lobster Genus Galathea Fabricus 1793 (Decapoda; Galatheidae) Di Kepulauan Seribu
Banyak taksa yang ditemukan sebagai spesies kriptik dengan kesamaan morfologis yang tinggi, tetapi secara genetik menunjukkan spesies yang berbeda. Spesies kriptik telah dilaporkan sebelumnya dalam Famili Galatheidae. Genus Galathea Fabricius 1793, termasuk dalam famili Galatheidae Samouelle 1819 yang merupakan salah satu kelompok yang paling beragam dari krustasea berkaki sepuluh yang dijuga dikenal sebagai "lobster jongkok (squat lobster)", karena perut mereka terselip di bawah dada, memberikan penampilan "berjongkok". Mayoritas spesies genus Galathea dicirikan oleh karapas yang ditutupi dengan setiferous transvers ridges dan rostrum segitiga pipih dengan empat gigi lateral. Kompleksitas karakter morfologis membuat mereka sulit diidentifikasi. Selain itu, informasi taksa ini terbatas di Indonesia. Oleh karena itu, teknik molekuler saat ini menjadi aset yang berguna untuk penggambaran spesies. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan identifikasi molekuler dan morfologis lobster jongkok (squat lobster) di Kepulauan Seribu. Sebanyak 156 sampel lobster jongkok dikumpulkan dari karang mati saat ekspedisi pada tahun 2013 hingga 2015. Sampel yang dikumpulkan diidentifikasi secara molekuler menggunakan mitokondria DNA target lokus 16S, dan masing-masing diklasifikasi lebih lanjut dijelaskan secara morfologis. Sebanyak tujuh clades direkonstruksi dari pohon filogenetik menggunakan 122 sekuens yang teridentifikasi sebagai Allogalathea inermis (clade 1 dan clade 5), Galathea sp.2 (clade 2 dan clade 3), Procambarus fallax (clade 4) dan Plesionida concava (clade 6 dan clade 7) pada GenBank. Namun, persentase kemiripannya kurang dari 93%, menunjukkan bahwa database taksa ini masih terbatas atau tidak tersedia dalam GenBank. Spesimen dari masing-masing clade dijelaskan secara morfologis. Genus dan spesies dikenali dari bentuk rostrum dan struktur duri pada karapas dan abdomen. Karapas di punggung dengan punggung melintang, di sepanjang sisi dengan deretan duri. Rostrum dorsoventral berbentuk datar, segitiga, dengan 2-4 gigi horizontal. Pemanfaatan informasi molekuler dan morfologis dapat membantu memperjelas batasan dan kompleksitas identifikasi antar spesies
Kajian Bibliometrika tentang Penelitian Satwaliar sebagai Tugas Akhir Mahasiswa Institut Pertanian Bogor
Satwaliar, keanekaragaman hayati, dan upaya konservasi menjadi penting pada dasawarsa terakhir. Tren penelitian selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hasil penelitian tersebut hingga saat ini belum terhimpun atau terinventarisasi dalam bentuk database. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, mengelompokkan dan menganalisis hasil penelitian terkait satwaliar yang dilakukan oleh mahasiswa IPB berdasarkan beberapa kategori dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2008-2017). Kategori tersebut antara lain tahun penelitian, jenis kelamin mahasiswa, strata pendidikan, topik penelitian, taksa, dan lokasi penelitian. Terbitan hasil penelitian terkait satwaliar terbanyak pada tahun 2017 yaitu 106 penelitian. Mahasiswa perempuan lebih banyak melakukan penelitian ini (56,3%). Strata-1 memberikan kontribusi penelitian terkait satwaliar terbanyak (78,1%). Selanjutnya kategori topik terbanyak yang digunakan yaitu habitat (18,3%) dengan taksa satwaliar terbanyak yaitu mamalia (53,7%). Lokasi yang digunakan sebagai tempat penelitian yaitu Provinsi Jawa Barat (48,2%) dan taman nasional (24,2%)
Ukuran Optimal Unit Contoh Bujur Sangkar untuk Pendugaan Parameter Tegakan Pinus berbagai Kelas Umur di KPH Banyumas Barat.
Ukuran unit contoh dapat menentukan ketelitian dan keakuratan dalam
pendugaan parameter tegakan. Tujuan penelitian ini menentukan ukuran optimal
unit contoh bujur sangkar untuk pendugaan parameter tegakan pinus berbagai kelas
umur. Pengumpulan data dilakukan pada tegakan pinus kelas umur (KU) II, KU III,
KU IV, KU V, KU VI, KU VII, dan KU VIII dengan membuat unit populasi
simulasi 100 m100 m pada setiap kelas umur. Unit populasi simulasi tersebut
dibuat menjadi 5 unit contoh simulasi berbagai ukuran (10 m 10 m, 20 m 20
m, 30 m 30 m, 40 m 40 m, dan 50 m 50 m) yang digunakan untuk menilai
ketelitian dan keakuratan pendugaan parameter tegakan pada masing-masing unit
contoh simulasi terhadap unit populasinya. Parameter tegakan yang digunakan
meliputi kerapatan tegakan, bidang dasar tegakan, dan volume tegakan. Hasil
penelitian menunjukkan unit contoh simulasi yang optimal memberikan hasil
pendugaan semua parameter tegakan pada KU II, KU III, dan KU IV berukuran
20 m 20 m, sedangkan pada KU V, KU VI, KU VII, dan KU VIII berukuran
30 m 30 m. Jika pendugaan parameter tegakan tidak memperhatikan perbedaan
kelas umur maka unit contoh simulasi yang optimal berukuran 30 m 30 m
Adaptasi Fisiologi dan Tanggap Morfologi Akar Galur Inbrida (RIl-F8) Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) Toleran Kondisi P Rendah
Sorgum menempati urutan ke 5 sebagai pangan dunia setelah gandum, beras, jagung dan barley. Sorgum mempunyai adaptasi agroekologi yang luas sehingga dapat mendukung pengembangan sorgum di Indonesia yang dilakukan pada lahan sub-optimal terutama defisiensi P. P merupakan unsur makro yang berperan sangat penting yaitu keterlibatannya dalam penyimpanan dan transfer energi seperti ATP dan ADP. Pada kondisi tercekam seperti P tanah rendah tanaman mengalami perubahan fisiologi dan morfologi sebagai bentuk adaptasi. Berdasarkan hal tersebut pemahaman aspek fisiologi dan morfologi tanaman menjadi penting sebagai dasar strategi pengelolaan tanaman pada lahan defisiensi P.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi adaptasi fisiologi dari galur-galur inbrida sorgum pada kondisi P rendah. Tujuan khusus penelitian ini adalah 1) memperoleh tingkat efisiensi penyerapan dan penggunaan P galur inbrida sorgum (RIL-F8) pada kondisi P rendah dan P cukup, 2) mendapatkan tanggap morfologi akar galur inbrida sorgum (RIL-F8) kondisi P rendah dan P cukup.
Percobaan ini dilakukan dalam 2 cara yaitu percobaan lapang dan percobaan pot. Percobaan lapang untuk adaptasi fisiologi galur inbrida sorgum pada kondisi P rendah dilakukan pada bulan Oktober 2018 sampai Februari 2019. Percobaan dilakukan dengan mengamati karakter-karakter pertumbuhan, fisiologi dan produksi pada kondisi P cukup dan P rendah. Percobaan pot untuk tanggap morfologi akar dilakukan pada bulan Januari sampai Maret 2019. Percobaan dilakukan dengan mengamati karakter-karakter morfologi akar dan biomassa yang dihasilkan. Dua percobaan tersebut dilakukan di Kebun Percobaan Pendidikan Cikabayan IPB Bogor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi P rendah galur-galur toleran memiliki sistem perakaran yang baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh karakter morfologi akar seperti panjang akar terpanjang, volume akar, diameter akar dan jumlah akar proteoid yang lebih tinggi dibandingkan galur-galur peka sehingga kemampuan penyerapan hara meningkat. Selain itu galur toleran memiliki efisiensi penggunaan P dan stay green yang tinggi.
Galur toleran B-69/N 286-6 memiliki efisiensi penggunaan P lebih tinggi dibandingkan galur lainnya namun laju serapan spesifiknya rendah. Galur peka B-69/N 110-6 memiliki efisiensi penggunaan P rendah namun laju serapan spesifiknya lebih tinggi dibandingkan galur lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa genotipe yang berbeda pada spesies yang sama mempunyai mekanisme adaptasi yang berbeda. Hal ini diduga karena adanya rekombinasi sifat dari kedua tetua yaitu Numbu sebagai varietas toleran dan B-69 sebagai genotipe peka.
Galur toleran pada kondisi P rendah terkait dengan karakter fisiologi seperti tingginya nilai kehijauan daun (SPAD), stay green dan laju pengisian biji. Galur toleran B-69/N 286-6 dan B-69/N 104-7 memiliki stay green dan kehijauan daun
lebih tinggi dibandingkan galur peka. Karakter stay green dan kehijauan berkorelasi positif dengan pembentukan biomassa. Biomassa yang tinggi mendukung tingginya laju pengisian biji sehingga bobot biji per malai lebih tinggi dibanding galur peka.
Kata kunci: toleran P rendah, efisiensi penggunan P, laju serapan spesifik, stay green, morfologi akar
Kandungan Total Flavonoid dan Kapasitas Antioksidan Buah Kapulaga (Amomum compactum) Asal Bogor, Sukabumi, dan Ciamis
Banyak penyakit yang diderita manusia diawali oleh reaksi oksidasi radikal bebas yang berlebih di dalam tubuh. Buah kapulaga (Amomum compactum) merupakan salah satu rempah yang mengandung antioksidan. Analisis untuk mencari buah kapulaga dengan potensi antioksidan terbaik belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur kandungan flavonoid serta kapasitas antioksidan ekstrak etanol 80% dan etil asetat buah kapulaga asal Bogor (kapulaga putih dan merah), Sukabumi (kapulaga putih) dan Ciamis (kapulaga putih) dengan metode DPPH dan CUPRAC. Kandungan total flavonoid tertinggi yaitu ekstrak etil asetat kapulaga asal Ciamis sebesar 2.26±0.27 mg QE/g bobot kering. Uji antioksidan dengan metode DPPH menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat kapulaga merah asal Bogor memiliki kapasitas antioksidan tertinggi sebesar 0.40±0.02 μmol TE/g bobot kering. Hasil berbeda diperoleh pada pengujian antioksidan dengan metode CUPRAC yaitu kapasitas antioksidan tertinggi terdapat pada ekstrak etanol kapulaga putih asal Bogor sebesar 36.42±0.61 μmol TE/g bobot kering. Perbedaan hasil pengujian dapat disebabkan oleh peran senyawa lain yang terkandung pada sampel, asal tanaman, umur, dan kondisi lingkungan tempat tumbuh
Tingkat Toleransi Kekeringan Mutan Alfalfa (Medicago sativa L.) Tahan Asam pH 3.6 pada Kultur In Vitro
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat toleransi mutan Alfalfa (Medicago sativa L.) tahan asam pH 3.6 terhadap kekeringan dengan penambahan Polyethylene glycol (PEG). Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah P0: 0% PEG (0 MPa), P1: 5% PEG (-0.13 MPa), P2: 10% PEG (-0.19 MPa), P3: 15% PEG (-0.41 MPa), P4: 20% PEG (-0.71 MPa). Data yang dihasilkan dianalisis ragam menggunakan program komputer SPSS versi 16.0 dan jika terdapat perbedaan nyata antar perlakuan dilakukan uji lanjut Tukey. Peubah yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, kerontokan daun, kematian tanaman, biomassa tanaman, penyusutan media dan warna daun. Penambahan PEG dengan level yang berbeda secara nyata menurunkan (P<0.05) tinggi tanaman, jumlah daun, biomassa tanaman, penyusutan media dan merubah warna daun menjadi kuning kecoklatan. Penambahan PEG meningkatkan kerontokan pada daun dan kematian tanaman. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Alfalfa (Medicago sativa L.) toleran pada penambahan PEG dengan level 15% (-0.41 MPa)
Strategi Pengembangan Kambing Peranakan Etawa (PE) Galur Kaligesing Berbasis Analisis SWOT di Kabupaten Purworejo
Kabupaten Purworejo berpotensi dalam pengembangbiakan kambing PE galur Kaligesing. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis karakteristik peternak, mengidentifikasi jenis hijauan pakan serta menghasilkan rekomendasikan program kerja, rekomendasi implementasi program kerja berdasarkan faktor internal dan faktor eksternal dari pengembangan kambing PE galur Kaligesing. Data diperoleh dalam bentuk data primer melalui wawancara dan observasi lapangan. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis regresi dan analisis SWOT. Hasil dari karakteristik peternak menunjukan bahwa peternak pemula dengan usia dan pengalaman lebih rendah cenderung berkemampuan budidaya lebih tinggi meskipun nilai kolerasinya yang diperoleh relatif rendah. Jenis hijauan pakan yang ditemukan ada 41 jenis terdiri dari 4 rumput, 7 legume dan 30 rumbah. Pengembangan Kambing PE galur Kaligesing di Kabupaten Purworejo dipengaruhi faktor internal dan eksternal pada posisi kuadran I dengan Strategi Agresif. Rekomendasi progam kerja sangat prioritas yang harus diadakan yaitu 1) pelatihan intensif, 2) pelestarian dan pengawasan terhadap bibit berkualitas, 3) terjaminnya pasar dan nilai ekonomi kambing PE galur Kaligesing, 4) penetapan standar grade kambing PE galur Kaligesing dan 5) peningkatan kemandirian pakan hijauan dan pakan penguat berbasis komoditas lokal yang berkualitas serta berkelanjutan untuk kambing PE galur Kaligesing unggulan
Kesuburan Tanah pada Hutan Organik Megamendung Bogor
Evaluasi kesuburan tanah merupakan cara untuk mendiagnosa keharaan di dalam tanah. Evaluasi kesuburan tanah juga penting untuk mengetahui status kesuburan tanah dalam suatu lahan. Penelitian ini bertujuan menentukan status kesuburan tanah pada Hutan Organik Megamendung Bogor. Penelitian ini dilakukan melalui 2 tahap yaitu pengambilan sampel tanah di lapang dan analisis sampel tanah di laboratorium. Setelah dilakukan analisis di laboratorium, maka selanjutnya dilakukan penilaian sifat-sifat tanah dan penilaian status kesuburan tanah. Hasil analisis laboratorium pada kerapatan tajuk rendah, sedang, tinggi menunjukkan nilai pH tanah masam (pH 5.21, pH 5.24, dan pH 5.35), C-Organik tergolong sedang (2.17%, 2.75%, dan 2.79%), kandungan P total tergolong sedang sampai sangat tinggi (37.23 mg/100g, 60.47 mg/100g, dan 60,86 mg/100g), kandungan K total tergolong sangat rendah (4.61 mg/100g, 4.43 mg/100g, 3.71 mg/100g), KTK tergolong rendah (15.50 me/100g, 14.41 me/100g, 16.17 me/100g), dan kejenuhan basa sangat rendah (5.87%, 11.86%, 17.36%). Berdasarkan hasil analisis, status kesuburan tanah pada lokasi penelitian hutan organik tergolong rendah
Rancang Bangung Fasilitas Pengolahan Sampah Organik dengan Larva Black Soldier Fly di Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur
Pengelolaan sampah organik yang tidak tepat merupakan permasalahan
penting di hampir semua negara berkembang. Salah satu solusi dari permasalahan
tersebut adalah melakukan pengolahan sampah organik hingga menghasilkan
produk yang memiliki nilai ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
merancang fasilitas pengolahan sampah organik skala desa dan skala mikro dengan
menambahkan larva black soldier fly (BSF) sebagai agen biodegradasi serta
melakukan analisis ekonomi untuk menentukan kelayakan pengoperasian fasilitas
tersebut. Perancangan dilakukan dengan melibatkan aspek struktural dan
fungsional. Fasilitas pengolahan sampah organik skala desa dirancang dengan luas
total 144 m2 dengan volume tampung sampah sebanyak 28,6 m3. Fasilitas
pengolahan sampah organik skala mikro dirancang untuk pemakaian skala rumah
tangga atau pun industri kecil dengan kapasitas tampung total 0,57 m3. Fasilitas
tersebut berfungsi sebagai sarana pengolahan sampah organik juga sarana budidaya
larva BSF. Produk yang dihasilkan berupa biomassa larva BSF dan pupuk organik.
Produk ini dapat dimanfaatkan dan dijual guna menghasilkan nilai ekonomi. Hasil
analisis kelayakan usaha pada fasilitas skala desa menunjukkan bahwa kegiatan
usaha yang dilakukan mampu mencapai rasio R/C sebesar 1,1 yang menunjukkan
bahwa fasilitas ini layak untuk beroperasi