31665 research outputs found
Sort by
Kelembagaan Panglima Laot Dalam Mengatasi Perubahan Ekosistem Kawasan Pesisir Pulau Sabang
Kelembagaan Panglima laot merupakan perangkat adat dalam komunitas
nelayan yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melestarikan adat, wadah
menyelesaikan sengkerta, mengatur tata kelola perikanan, dan penghubung dengan
pemerintah. Beberapa peran yang dilakukan kelembagaan Panglima Laot dalam
sektor perikanan maupun dalam komunitas nelayan perlu dikembangkan terutama
dalam menggerakan komunitas nelayan menghadapi tantangan perubahan
ekosistem pesisir di Pulau Sabang. Perubahan ekosisem telah memberi dampak
sosial dan ekonomi terhadap aktivitas nelayan. Keberadaan Panglima Laot
diharapkan berperan dalam menggerakkan komunitas untuk bertindak menghadapi
perubahan ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tantangan
perubahan ekosistem kawasan pesisir yang dihadapi nelayan. (2) menganalisis
keberadaan kelembagaan Panglima Laot dalam komunitas nelayan. (3)
menganalisis peran kelembagaan Panglima Laot dalam mengorganisir komunitas
nelayan dalam melestarikan ekosistem kawasan pesisir. (4) menganalisis hubungan
antara berbagai pihak dalam mengurangi dampak (sosial, ekonomi) dari perubahan
ekosistem. Penelitian lapangan dilaksanakan pada Maret hingga Juni 2019.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan survei, wawancara mendalam, fokus diskusi
kelompok, dan observasi. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling
sebanyak 70 responden nelayan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas nelayan sedang
menghadapi tantangan perubahan ekosistem. Penyebab kerusakan ekositem pesisir
adalah pencemaran limbah industri, degradasi mangrove dan karang, serta
penggunaan alat tangkap deskruktif. Perubahan ekosistem membawa dampak sosial
dan ekonomi pada komunitas nelayan. Secara ekonomi perubahan ekosistem
memeberi dampak terhadap nelayan dengan adanya penurunan pendapatan nelayan,
perubahan jarak tempuh penangkapan ikan, musim ikan yang tidak menentu dan
menurunnya keragaman ikan. Secara sosial perubahan ekosistem telah
menimbulakan tantangan dengan mulai sering terjadinya konflik nelayan sesama
nelayan, menumbuhkan tumbuh kesadaran bagi sebagian golongan muda, dan
menguatnya peran perempuan dalam mencari nafkah membantu rumah tangga.
Kelembagaan yang efektif perlu mendapatkan dukungan pilar kelembagaan
yang meliputi aspek regulatif, normatif dan kognitif. Keberadaan Panglima Laot
tergolong kuat dalam menyelesaikan sengketa dalam komunitas nelayan. Panglima
Laot dalam melestarian adat cenderung melemah, kecuali dalam pelaksanaan ritual
kenduri laot. Peran Panglima Laot dalam mengatur tata aturan penangkapan juga
melemah, kecuali pada penetapan wilayah kelola. Penetapan wilayah kelola saat ini
dibantu oleh Dinas Kelautan dan Perikanan dengan sistim koordinat.Peran dalam
koordinasi (penghubung) dengan komunitas dan Pemerintah masih lemah. Banyak
nelayan yang merasa keluhannya tidak disampaikan oleh Panglima Laot kepada
pemerintah. Peran Panglima Laot dalam mengurangi melestarikan ekosistem
dilakukan dengan mengupayakan advokasi melalui pertemuan duek pakat terhadap
aktivitas perusakan pesisir, melakukan tindakan bersama, dan membangun jaringan
denggan lembaga lainya. Pihak yang terlibat dalam mengurangi dampak perubahan
ekosistem dilakukan dengan menjalin komunikasi, koordinasi dan kerjasama antar
lembaga. Peranan lembaga desa belum terlihat dalam upaya penangan dampak
perubahan ekosistem. Pengelolaan secara Co Management di Desa iboh saat ini
masih berada pada tahap konsultatif. Pemerintah baru mulai mempertimbangkan
pandangan masyarakat dan keterlibatannya sebelum membuat keputusan. Kegiatan
penyusunan rencana pengelolaan, pelaksanaan program, pengawasan dan evaluasi
masih belum melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari pihak masyarakat
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Konsumen Membeli Sayur dan Buah Melalui E-commerce
Laju perkembangan teknologi dan internet telah menggeser zaman
hingga ke revolusi industri 4.0. Salah satu pengaruhnya pada bisnis di sektor
pertanian, yaitu munculnya e-commerce pertanian. Akibatnya, berbelanja
sayur dan buah melalui e-commerce menjadi tren bagi konsumen. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
memengaruhi keputusan konsumen dalam membeli sayur dan buah melalui
e-commerce. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah nonprobability
sampling menggunakan teknik purposive sampling . Metode
analisis data yang dipakai adalah analisis deskriptif dan regresi linear
berganda. Hasil penelitian desktiptif menunjukan bahwa 1.) Secara
keseluruhan faktor tersebut memiliki kontribusi dan berpengaruh signifikan,
secara parsial faktor yang paling berpengaruh dengan arah positif dan
signifikan yaitu faktor keamanan. 2.) Secara simultan, faktor sosial, pribadi,
psikologis, keamanan, promosi dan atribut produk dapat menjelaskan sebesar
52,3 persen terhadap keputusan pembelian
Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Kejadian Rabies pada Anjing: Studi Kasus Kontrol di Kabupaten 50 Kota
Rabies di Indonesia masih merupakan penyakit hewan penting dan termasuk
ke dalam Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) karena berdampak terhadap
sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Sumatera Barat merupakan salah satu
provinsi yang termasuk ke dalam lima besar kasus rabies di Indonesia. Salah satu
daerah yang berada di Provinsi Sumatera Barat dengan kasus rabies yang cukup
tinggi dan penyumbang kasus rabies terbanyak adalah Kabupaten 50 Kota.
Tingginya kasus rabies tidak terlepas dari kesenangan masyarakat memelihara
anjing untuk berburu babi hutan, aktivitas lalu lintas anjing yang tidak terkontrol
dan aktivitas perdagangan anjing yang dilakukan oleh masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berasosiasi
terhadap kasus rabies pada anjing di Kabupaten 50 Kota. Penelitian ini
menggunakan desain matched case-control study 1:3 dan dianalisis menggunakan
uji khi-kuadrat (χ2) dan Conditional Multiple Logistic Regression yang dilakukan
terhadap 96 responden yang terdiri dari 24 responden kasus dan 72 responden
kontrol. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner terstruktur.
Hasil analisis multivariabel menggunakan Conditional Multiple Logistic
Regression menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor risiko yang memengaruhi
kejadian rabies pada anjing di Kabupaten 50 Kota, yaitu memelihara anjing
dengan cara dibiarkan bebas liar (OR=5.62, CI=1.28-24.60), status vaksinasi
rabies (OR=11.00, CI=2.03-59.77), dan kegiatan penyuluhan (OR=5.50, CI=1.04-
29.05). Upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi kejadian rabies adalah
melakukan tindakan yang konkrit serta regulasi hukum yang jelas dari pemerintah
mengenai kebiasaan masyarakat memelihara anjing yang dibiarkan bebas liar.
Anjing bertuan mapun tanpa bertuan diwajibkan untuk vaksinasi rabies.
Peningkatan dan Perbaikan mengenai Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
yang dilakukan oleh pemerintah maupun instansi terkait juga perlu dilakukan
sehingga masyarakat mengikuti kegiatan-kegiatan yang mampu mencegah dan
mengendalikan penyakit rabies berkembang di lingkungan masyarakat.
Penekanan lebih lanjut juga diperlukan pada program penyuluhan rabies untuk
masyarakat yang berfokus pada tanggung jawab kepemilikan anjing serta
prosedur operasional standar mengenai pengendalian rabies dari pemerintah yang
sangat penting untuk mengurangi infeksi rabies di 50 Kabupaten Kota
Analisis Komoditas Unggulan dan Strategi Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pertanian di Kabupaten Bogor
Sektor pertanian memiliki peran penting karena memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi dan paling banyak menyerap tenaga kerja di
Indonesia. Namun demikian, sektor pertanian di Indonesia mengalami
permasalahan besar dalam regenerasi sumberdaya manusia ataupun dari sisi
sumberdaya lahan. Kondisi ini juga terjadi di Kabupaten Bogor dimana alih fungsi
lahan dari lahan pertanian ke lahan non pertanian terjadi cukup masif. Salah satu
faktor pendorongnya adalah rent di sektor pertanian relatif lebih rendah
dibandingkan dengan sektor lain. Sementara rent yang rendah bisa disebabkan
karena pemanfaatan lahan yang belum optimal. Dengan demikian perlu adanya
optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian di Kabupaten Bogor. Tujuan penelitian
ini yaitu (1) Bagaimana ketersediaan lahan pertanian di Kabupaten Bogor; (2) Apa
saja komoditas komoditas unggulan sektor pertanian di Kabupaten Bogor; (3)
Berapa besar rente lahan komoditas unggulan sektor pertanian di Kabupaten
Bogor; dan (4) Bagaimana upaya pemerintah daerah Kabupaten Bogor dalam
pengembangan sektor pertanian. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu metode analisis deskriptif, Location Quotient (LQ), resource rent dan
gap analysis. Hasil penelitian menunjukan bahwa luas lahan sektor pertanian di
Kabupaten Bogor dari tahun 2007-2018 cenderung mengalami penurunan dengan
penurunan tertinggi yaitu terjadi pada tahun 2017-2018 sebesar 4%. Berdasarkan
hasil analisa LQ, komoditas unggulan di Kabupaten Bogor berjumlah 19
komoditas, diantaranya adalah ubi kayu, wortel, durian, dan kopi robusta. Land
rent tertinggi terdapat pada komoditas wortel yaitu sebesar
Rp.145.991.250/ha/tahun, sedangkan land rent terendah terdapat pada komoditas
kopi yaitu sebesar Rp.20.681.500/ha/tahun. Luasan minimum yang harus dimiliki
oleh petani jika ingin mendapatkan minimum atau sama dengan UMK Kabupaten
Bogor tahun 2020 untuk komoditas wortel, ubi kayu, durian, dan kopi yaitu
sekitar 0,4 hektare, 17,6 hektare, 21 hektare, dan 25 hektare. Pemerintah
Kabupaten Bogor memiliki beberapa kebijakan pertanian, namun berdasarkan
hasil gap analysis diperoleh bahwa capaian saat ini belum tercapai dan memenuhi
target sasaran yang telah ditetapkan sehingga perlu adanya evaluasi dalam
program
Pengaruh Pendidikan Gizi dan Kesehatan terhadap Keterampilan Kader dalam Pemantauan Pertumbuhan dan Konseling di Posyandu.
Kegiatan kader melakukan pemantauan pertumbuhan dan konseling di posyandu dalam pelaksanaannya belum berjalan dengan maksimal. Hal ini dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan keterampilan kader yang belum memadai. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi pengetahuan dan keterampilan kader yang belum memadai yaitu karakteristik kader (umur, pendidikan, pekerjaan, lama menjadi kader), frekuensi mengikuti pelatihan, dan motivasi yaitu secara internal (dari dalam diri) dan eksternal (dukungan dari keluarga, masyarakat dan pemerintah) serta fasilitas yang mendukung kader dalam menjalankan tugasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pendidikan gizi dan kesehatan terhadap keterampilan kader dalam melakukan pemantauan pertumbuhan dan konseling di posyandu.
Penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment dengan rancangan non-randomized control group pre-post test. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai September 2019, di Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Subjek penelitian adalah kader yang termasuk dalam kategori Posyandu Madya di Kecamatan Tatanga. Pemilihan Posyandu Madya dilakukan karena jumlah yang lebih banyak terdapat di tempat penelitian dan ciri-ciri Posyandu yang sesuai dengan ketentuan penelitian. Ciri-cirinya adalah Posyandu yang sudah melaksanakan kegiatan lebih dari 8 kali per tahun, dengan rata-rata jumlah kader sebanyak 5 orang atau lebih, tetapi cakupan kelima kegiatan utamanya masih rendah yaitu kurang dari 50%.
Kriteria inklusi yaitu kader yang terdaftar di Kecamatan Tatanga, bisa membaca dan menulis, bersedia mengisi informed consent dan mengikuti seluruh kegiatan intervensi. Kriteria eksklusi yaitu kader dalam waktu 6 bulan terakhir tidak aktif dalam kegiatan posyandu. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, maka jumlah subjek penelitian adalah 60 kader yang dibagi dalam dua kelompok yaitu intervensi dan kontrol dengan jumlah 30 kader pada masing-masing kelompok.
Jenis data yang dikumpulkan meliputi karakteristik (umur, pendidikan, pekerjaan, lama menjadi kader dan frekuensi mengikuti pelatihan), pengetahuan dan sikap tentang masalah gizi balita (stunting), Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di keluarga, pemantauan pertumbuhan dan konseling. Selanjutnya, motivasi yang terdiri dari intrinsik dan ekstrinsik dalam melakukan tindakan untuk mencapai tujuan di Posyandu. Data karakteristik, pengetahuan, sikap dan motivasi ini dikumpulkan dengan cara pengisian lembar kuesioner terstruktur. Data keterampilan konseling dikumpulkan dengan cara pengisian lembar penilaian observasi yang diisi oleh peneliti. Pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali yaitu sebelum intervensi (pre-test), setelah intervensi (post-test 1) dan sebulan setelah intervensi (post-test 2). Pemberian intervensi pendidikan gizi dan kesehatan berupa pelatihan kader dengan 3 kali pertemuan dengan topik masalah
gizi balita (stunting), ASI Eksklusif, MP-ASI, PHBS di keluarga, serta praktik dan simulasi dengan menggunakan dacin dan tinggi badan menggunakan microtoise dan melakukan konseling.
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel 2013 dan SPPS versi 16.0. Analisis data meliputi analisis deskriptif (rataan±SD, persentase), uji sebaran data (kenormalan data), independent t-test (Mann-Whitney) untuk melihat perbedaan antara kelompok intervensi dan kontrol dan paired t-test (Wilcoxon) untuk melihat perbedaan antara sebelum dan setelah intervensi.
Hasil penelitian menunjukkan rerata umur kader adalah 40 tahun dengan kelompok umur terbanyak yaitu 35-45 tahun. Sebagian besar (>70%) kader berpendidikan terakhir setingkat SMA dan bekerja sebagai ibu rumah tangga. Rata-rata subjek lama menjadi kader adalah 7 tahun dan sebagian besar (70%) sudah mengikuti pelatihan kader sebanyak 2 kali. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara karakteristik kader pada kelompok intervensi dan kontrol (p>0.05), sehingga tidak memengaruhi hasil intervensi.
Hasil penelitian sebelum intervensi (pre-test) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan skor pengetahuan, sikap, motivasi dan keterampilan (melakukan penimbangan dan konseling) antara kelompok intervensi dan kontrol (p>0.05). Setelah intervensi (post-test 1) menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan skor pengetahuan (dari 67.6 menjadi 89.6 poin), sikap (dari 83.5 menjadi 90.3) dan keterampilan konseling (dari 52.0 menjadi 74.0) pada kelompok intervensi yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol (p0.05) karena skor motivasi dan keterampilan melakukan penimbangan sudah baik sebelum intervensi.
Sebulan setelah intervensi (post-test 2) menunjukkan terdapat peningkatan skor pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kelompok intervensi (p0.05). Berdasarkan hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa skor pengetahuan, sikap, motivasi dan keterampilan kader setelah sebulan diberikan intervensi masih tergolong baik.
Rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah perlu adanya pelatihan kader yang dilakukan secara rutin yakni setidaknya dilakukan 3 bulan sekali yang tidak hanya pelatihan saja, namun ditambah praktik (pemantauan pertumbuhan dan konseling) dan evaluasi pada 3 bulan sebelumnya. Kemudian pelatihan yang diberikan sebaiknya mendalami materi gizi yang kader butuhkan dalam melakukan konseling. Salah satunya adalah MP-ASI yang terdiri dari pengertian dan manfaat MP-ASI, tekstur MP-ASI berdasarkan usia balita dan jenis-jenis pangan MP-ASI yang dianjurkan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan bagi Dinas Kesehatan, Puskesmas dan kader setempat, serta peneliti yang bertanggungjawab atas pemantauan pertumbuhan dan konseling, untuk menjaga status gizi ibu dan balitanya normal
Trade Creation dan Trade Diversion atas Pemberlakuan ACFTA terhadap Perdagangan Hortikultura Indonesia
Peningkatan Free Trade Agreement (FTA) dalam dua dekade terakhir telah
memberikan dampak yang signifikan pada perdagangan internasional. Salah satu
FTA yang ditandatangani oleh Indonesia adalah ACFTA (Asean-China Free Trade
Area), kawasan perdagangan bebas bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara
dan China yang dimulai sejak tahun 2004. The Early Harvest Programm (EHP)
adalah program untuk menghapuskan hambatan perdagangan komoditas (HS 01-
HS 08) secara bertahap. Bagi Indonesia, produk hortikultura dengan kode HS 07
(Edible vegetables and certain roots and tubers) dan HS 08 (Edible fruit and nuts;
peel of citrus fruit or melons) menjadi produk dengan total perdagangan terbesar.
Sub-sektor hortikultura seharusnya mendapat dampak positif atas implementasi
ACFTA. Namun demikian, kinerja sub-sektor hortikultura belum memberikan
kinerja yang berarti ketika sebagian besar komoditas hortikultura telah diturunkan
tarifnya melalui program EHP. Sebaliknya, yang terjadi adalah impor hortikultura
mengalami peningkatan pasca ACFTA diberlakukan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis : 1) Keragaan ekonomi
negara anggota ACFTA 2) Keragaan perdagangan hortikultura negara anggota
ACFTA 3) Daya saing produk hortikultura negara ASEAN-5 dengan China baik
sebelum atau sesudah ACFTA diberlakukan dan 4) Dampak trade creation dan trade
diversion atas pemberlakuan ACFTA terhadap perdagangan produk hortikultura
Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan RSCA (Revealed Symetric
Comparative Advantage) untuk menganalisis daya saing produk hortikultura
tersebut dan dampak kreasi perdagangan dan diversi perdagangan atas
pemberlakuan ACFTA dianalisis menggunakan pendekatan model gravitasi. Data
yang dianalisis adalah data time series tahunan dari 2001 hingga 2018 dan data
cross section 17 negara ( 7 negara anggota ACFTA dan 10 negara utama mitra
dagang Indonesia).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara diantara anggota ACFTA yang
memiliki jumlah terbesar jika dilihat dari keragaan ekonominya adalah GDP riil
dan populasi (China dan Indonesia) serta GDP riil per kapita (Singapura dan Brunei
Darussalam). Jika dilihat dari keragaan perdagangan produk hortikultura Indonesia,
impor didominasi produk hortikultura asal China. Di sisi ekspor, tujuan ekspor
relatif terdiversifikasi diantara negara anggota ACFTA yaitu Thailand, Vietnam
dan Malaysia. Dengan pendekatan RSCA didapatkan hasil bahwa daya saing pada
produk-produk sayuran di kawasan ASEAN-China dimiliki oleh China dan
Thailand (RSCA > 0). Negara-negara anggota ACFTA yang memiliki keunggulan
komparatif untuk produk buah-buahan adalah China, Philipina dan Thailand
(RSCA > 0). Sementara itu berdasarkan nilai RSCA, Indonesia tidak berdaya saing
pada kedua jenis produk hortikultura tersebut (RSCA < 0).
Hasil estimasi model gravitasi menunjukkan bahwa telah terjadi kreasi
perdagangan pada sektor perdagangan produk hortikultura Indonesia baik dari sisi
impor maupun ekspor dan tidak menyebabkan adanya diversi perdagangan atas
pemberlakuan ACFTA tersebut. Dalam hal impor, ACFTA telah memberikan efek
peningkatan perdagangan sebesar 63.57 persen [(exp(0. 0.492063)-1)*100)] lebih
tinggi daripada tanpa ACFTA. Sementara itu di sisi ekspor, ACFTA telah
memberikan efek peningkatan perdagangan sebesar 110.97 persen
[(exp(0.746555)-1)*100)] lebih tinggi daripada tanpa ACFTA. Rekomendasi
kebijakan yang dapat disarankan adalah melakukan kebijakan peningkatan daya
saing melalui perbaikan komponen manajerial dan teknologi baik melalui teknik
budidaya mengikuti Good Agricultural Practise (GAP), penanganan pasca panen
dan perbaikan sistem distribusi produk hortikultura seiring terbukanya pasar di
kawasan ini bagi UMKM
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kebahagiaan di Tempat Kerja Karyawan Auto 2000 Dramaga
Karyawan yang bahagia di tempat kerja adalah mereka yang sering mengalami
emosi positif seperti kegembiraan, minat dan kebanggaan, dan emosi negatif yang jarang
terjadi seperti kesedihan, kecemasan dan kemarahan. Kebahagiaan tersebut selalu dikaitkan
dengan kehidupan dan pekerjaan positif seperti kepuasan hidup, kondisi kesehatan yang
baik, kinerja, dan komitmen kerja yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kebahagiaan di tempat kerja karyawan Auto 2000 Dramaga dan pengaruh faktor-faktor
kebahagiaan di tempat kerja terhadap kebahagiaan di tempat kerja karyawan Auto 2000
Dramaga. Faktor yang digunakan adalah employee engagemet, organizational
commitment, dan job satisfaction. Analisis data menggunakan analisis statistika deskriptif
dan analisis regresi linier berganda. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa karyawan
divisi sales lebih bahagia daripada karyawan divisi service. Analisis regresi linier pada uji
F karyawan divisi sales dan divisi service membuktikan ketiga faktor secara bersama-sama
berpengaruh terhadap kebahagiaan di tempat kerja, sedangkan pada analisis regresi linear
uji t secara parsial menunjukkan bagi karyawan divisi service dan divisi sales, employee
engagement berpengaruh secara signifikan dan positif terhadap kebahagiaan di tempat
kerja
Pengaruh Peran Gender dan Strategi Koping terhadap Indeks Kebahagiaan Keluarga Nelayan
Perubahan musim yang terjadi memberikan dampak bagi kehidupan keluarga nelayan khususnya sektor perekonomian. Perubahan musim melaut dan musim tidak melaut memberikan dampak terhadap kerja sama keluarga untuk bertahan hidup. Hal tersebut mempengaruhi peran gender yang dilakukan suami istri untuk menyelesaikan masalah di dalam keluarga nelayan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh peran gender dan strategi koping terhadap indeks kebahagiaan keluarga nelayan. Desain penelitian menggunakan studi cross sectional dengan wawancara dan alat bantu kuesioner. Sampel penelitian dipilih secara purpossive sampling dengan responden sebanyak 40 keluarga nelayan di Kecamatan Toboali, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Variabel peran gender, strategi koping, dan indeks kebahagiaan keluaraga nelayan berada pada kategori sedang. Terdapat hubungan antara strategi koping dengan indeks kebahagiaan keluarga nelayan. Jumlah anggota keluarga berpengaruh negatif signifikan terhadap indeks kebahagiaan pada musim melaut dan musim tidak melaut. Strategi koping berpengaruh positif signifikan terhadap indeks kebahagiaan keluarga nelayan pada musim melaut dan musim tidak melaut
Rancang Bangun Autonomous Mobile Robot untuk Evaluasi Kematangan Tandan Buah Segar Kelapa Sawit di Lahan dengan Algoritma Deep Learning
Pemantauan kematangan buah kelapa sawit dapat memberikan informasi untuk menentukan waktu panen yang tepat sehingga dapat meningkatkan kualitas minyak kelapa sawit. Saat ini pemantauan dilakukan secara manual oleh pekerja. Hal ini memiliki kekurangan yaitu memerlukan pekerja yang tidak sedikit dan waktu yang relatif lama. Hasil pemantauan juga cenderung tidak konsisten karena faktor kelelahan pekerja. Pada penelitian ini dikembangkan autonomous mobile robot untuk memantau tingkat kematangan TBS kelapa sawit di lahan. Sensor yang digunakan untuk mendeteksi posisi objek untuk sistem autonomous yaitu Lidar Lite v3. Lidar mampu mendeteksi jarak objek sampai 25 m sehingga mampu mendeteksi setidaknya 4 pohon sawit yang berada di bagian depan robot. Penetuan titik tujuan robot dilakukan menggunakan point-to-go algorithm. Robot dapat melakukan perhitungan titik tujuan dengan nilai error 7.22 cm terhadap sumbu x dan 52.8 cm terhadap sumbu y. Pada posisi titik tujuan tersebut, robot melakukan 2 kali pendeteksian menggunakan kamera yang diarahkan oleh manipulator. Pendeteksian pertama yaitu untuk mencari posisi buah. Pendeteksian kedua yaitu untuk mendeteksi tingkat kematangannya. Citra dari kamera diproses menggunakan model yang dibuat dengan algoritma deep learning pada Tensorflow Framework dan menggunakan Faster R-CNN Model. Model tersebut telah mampu mendeteksi dan membedakan pohon, daun, dan buah sawit dengan akurasi masing-masing 71.01%, 79.63%, dan 72.73%. Model deep learning juga mampu mendeteksi tingkat kematangan yaitu buah hitam, merah, dan brondol dengan akurasi masing-masing sebesar 82.69%, 70.59%, dan 61.11%
Gangguan Hutan di BKPH Kedewan KPH Cepu Divisi Regional Jawa Tengah.
Laju deforestasi di Indonesia berdasarkan hasil analisis FWI (2019) pada
periode 2013-2017 mencapai angka kurang lebih 5,7 juta hektar atau sekitar 1,46
juta hektar per tahun. Sampai dengan tahun 2017, luas tutupan hutan alam tersisa
82,8 juta hektar atau sekitar 43% dari luas daratan Indonesia. Deforestasi dan
degradasi hutan yang terjadi diakibatkan oleh adanya gangguan hutan yang
disebabkan oleh alam maupun manusia. Gangguan hutan dapat menimbulkan
kerugian baik secara ekologi maupun secara ekonomi. Untuk itu, diperlukan
upaya perlindungan hutan untuk memperbaiki kondisi hutan di Indonesia saat ini.
Selama lima tahun terakhir (2014-2018) jenis gangguan hutan yang sering terjadi
di KPH Cepu adalah pencurian kayu, bencana alam, kebakaran hutan, perusakan
hutan dan penggembalaan liar. Penyebab terjadinya gangguan hutan di BKPH
Kedewan KPH Cepu disebabkan karena rendahnya pendapatan masyarakat sekitar
hutan, rendahnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian hutan, serta
mudahnya aksesibilitas menuju hutan. Upaya pengendalian terhadap gangguan
hutan di BKPH Kedewan KPH Cepu adalah tindakan pre-emptif yang berupa
penyuluhan, tindakan preventif berupa patroli rutin dan tindakan represif yaitu
berupa penegakan hukum