31665 research outputs found
Sort by
Morfometrik Ayam IPB-D1 Generasi Ketujuh Umur 2 Sampai 12 Minggu.
Indonesia memiliki rumpun ayam lokal yang beragam. Keragaman tersebut
cukup potensial untuk meningkatkan kualitas genetik dan laju pertumbuhan. Salah
satu ayam lokal yang sedang dikembangkan adalah ayam IPB-D1 yang dihasilkan
dari persilangan ayam asli (pelung, sentul, dan kampung) dengan ayam ras
pedaging (meat type). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai ukuran tubuh
ayam IPB-D1 G7 umur 2 hingga 12 minggu. Jumlah ayam yang digunakan
sebanyak 9 jantan dan 21 betina indukan sedangkan untuk anakan yaitu 36 jantan
dan 43 betina. Peubah yang diukur setiap 2 minggu adalah panjang shank, lingkar
shank, panjang tibia, panjang femur, panjang dada, lebar dada, dalam dada, lingkar
dada, panjang punggung, panjang sayap, dan rentang sayap. Data dianalisis dengan
menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan ayam IPB-D1 G7
memiliki koefisien keragaman berkisar 4.46% sampai 12.03% pada setiap peubah
yang diamati. Ayam IPB-D1 memiliki ukuran tubuh yang seragam. Panjang dada
merupakan peubah terbaik untuk menduga bobot badan
Kinerja Produksi Teripang Pasir Holothuria Scabra pada Substrat Dasar yang Berbeda.
Pengembangan teknik budidaya intensif teripang pasir dalam wadah terkontrol terkendala di pemilihan substrat yang cocok bagi teripang pasir. Penambahan lumpur tambak tradisional dan pasir laut sebagai substrat diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teripang pasir secara land-based aquaculture. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kinerja produksi teripang pasir Holothuria scabra pada substrat dasar campuran lumpur tambak tradisional dan pasir laut. Perlakuan substrat diulang sebanyak tiga kali, meliputi A (100% pasir), B (25% Lumpur + 75% Pasir), dan C (75% Lumpur + 25% Pasir). Persentase campuran substrat perlakuan diatur dengan menimbang bobot basah substrat hingga tercapai 15 kg sebagai bobot total substrat untuk masing-masing perlakuan. Teripang pasir dengan bobot 14.05±0.12 g sebanyak 10 ekor dipelihara dalam wadah 90 cm × 40 cm × 40 cm dengan tinggi air 30 cm dan ketebalan substrat 5 cm selama 30 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan teripang pasir dipengaruhi oleh jenis substrat. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi terlihat pada perlakuan pasir 100% namun laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan substrat lumpur 25% + pasir 75%
Sistem Monitoring Produksi dan Konsumsi Cabai menurut Aktor Tata Niaga dengan Extreme Programming
Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki harga fluktuatif dan penyumbang tingkat inflasi yang tinggi yaitu pada bulan juni 2019 mencapai 31,66%. Tingginya harga cabai merah dapat disebabkan karena pola distribusi yang kurang baik dan juga panjangnya rantai pasok hingga konsumen akhir. Descriptive analytics menjadi dasar untuk pengembangan sistem ini. Dengan adanya sistem monitoring ini pengguna dapat dengan mudah melihat perkembangan bisnis usahanya melalui penyajian data dalam bentuk tabel, grafik batang, dan garis agar data dapat dengan mudah dimengerti. Sistem ini berbasis web yang pengembangannya dengan framework Laravel untuk backend dan Vue.js untuk frontend. Metode pengembangan pada penelitian ini menggunakan Extreme Programming. Sistem ini digunakan untuk produsen, pedagang pengepul, pedagang grosir, dan pedagang eceran cabai di Jawa Barat. Pengguna dapat mengakses rekap penjualan, rekap pengeluaran, rekap harga, rekap pasokan dan juga rekap target penjualan dalam bentuk grafik dan tabel. Grafik dan tabel yang ditampilkan dapat disaring dengan pilihan bulan dan tahun yang dipilih. Aktor tata niaga dapat membangun strategi untuk mendukung pengambilan keputusan dengan mengunduh laporan setiap bulannya dan melihat dashboard
Analisis gender dan alokasi pemanfaatan pendapatan dalam rumah tangga nelayan
Isu gender telah mendapat banyak perhatian, dimana pada kenyataannya kesetaraan gender dalam masyarakat nelayan masih banyak hambatan. Selain itu, kondisi perekonomian yang tidak menentu pada masyarakat nelayan mengharuskan istri yang harus bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi tentang analisis gender serta keterkaitannya dengan pemanfaatan pendapatan serta mengidentifikasi tingkat akses dan kontrol dalam rumah tangga nelayan. Berawal dari kesetaraan dalam pembagian kerja, pengalokasian pendapatan rumah tangga nelayan juga berimbas pada kesejahteraan mereka. Rumah tangga nelayan akan memanfaatkan penghasilan mereka untuk produksi dan investasi, sehingga dapat menambah penghasilan selanjutnya. Metode pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan metode survei. Teknik yang digunakan dalam metode survei ini dengan menggunakan wawancara dan kuesioner sebagai alat mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik rumah tangga dengan tingkat kesetaraan gender rumah tangga nelayan. Tingkat kesetaraan gender juga memilliki hubungan dengan alokasi pemanfaatan dalam ranah produksi
Hubungan Pemesanan Pangan Daring dengan Alokasi Biaya Pangan, Tingkat Kecukupan Gizi, serta Keragaman Konsumsi Pangan
Munculnya jasa pengantar makanan yang dapat diakses secara daring meningkatkan kemudahan bagi konsumen dalam membeli berbagai jenis makanan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penggunaan jasa pemesanan pangan daring, biaya pangan, kecukupan gizi dan keragaman konsumsi pangan dan pada mahasiswa S1 IPB. Jumlah contoh yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 94 orang. Data diperoleh dari hasil wawancara kuesioner, recall 2 x 24 jam, lembar pengukuran Diet Diversity Score, dan pengukuran antropometri. Mahasiswa menggunakan 17.1 persen alokasi biaya pangan untuk pangan daring. Sebagian besar mahasiswa memiliki tingkat pemesanan yang rendah. Berdasarkan uji Spearman, tingkat pemesanan pangan daring memiliki hubungan dengan alokasi biaya pangan. Tingkat pemesanan pangan daring tidak memiliki hubungan dengan skor keragaman konsumsi pangan. Tingkat pemesanan pangan daring juga tidak memiliki hubungan dengan kecukupan Energi, protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan Ca
Sifat anti-rayap zat ekstraktif kayu pelawan (Tristaniopsis merguensis) terhadap rayap tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren).
Kayu pelawan (Tristaniopsis merguensis) merupakan salah satu tanaman
yang termasuk genus Tristaniopsis yang diketahui memiliki kandungan senyawa
bioaktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan zat ekstraktif
dalam kayu pelawan dan menguji sifat bioaktivitasnya terhadap rayap tanah
Coptotermes curvignathus. Ekstrak aseton yang diperoleh kemudian difraksinasi
secara bertingkat dengan pelarut n-heksan, etil eter, etil asetat. Setiap hasil
fraksinasi lalu diuji sifat anti-rayap dengan menggunakan kertas selulosa
Whatman no. 42 dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10%. Analisis kimia
dilakukan terhadap fraksi yang paling aktif. Identifikasi senyawa kimia aktif
dilakukan dengan alat GC-MS. Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar ekstrak
aseton kayu pelawan adalah 1,79%. Dari proses fraksinasi menghasilkan fraksi nheksana
0,20 %, fraksi etil eter 0,45 %, etil asetat 0,25 %, dan residu 0,89 %.
Fraksi n-heksan dengan konsentrasi 10% memiliki persentase mortalitas rayap
tertinggi sebesar 84,93 % dan persentase kehilangan berat kertas selulosa terendah
sebesar 25,08 %. Senyawa dominan yang terkandung dalam fraksi n-heksan
meliputi asam stearat, Octadecadienoic acid, methyl ester (CAS), Asam Oleat,
1,2-Benzenedicarboxylic acid, bis(2-ethylhexyl) ester (CAS), methyl ester (CAS),
Androst-5-en-17-one, Estran-3-one, 17-(acetyloxy), dan 1,5-Dimethyl-hexyl
Produksi Benih Jeruk Siap Salur di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, Jawa Timur.
Jeruk merupakan salah satu komoditi buah-buahan yang mempunyai peranan penting di pasaran dunia juga domestik. Peningkatan produksi jeruk dapat dimulai dengan menggunakan benih bersertifikat. Kegiatan magang bertujuan untuk menambah wawasan dan keterampilan teknis budidaya tanaman jeruk dan pengetahuan manajerial pada produksi benih jeruk, serta mengetahui produksi benih jeruk siap salur. Kegiatan magang dilaksanakan pada 10 Februari hingga 20 Maret 2020 di IP2TP Punten, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Batu, Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam kegiatan magang yaitu metode langsung. Data primer didapatkan dengan cara mengikuti semua kegiatan teknis, pengamatan di lapangan, dan wawancara, sedangkan data sekunder didapatkan dengan cara mengumpulkan data dari arsip kebun, laporan manajemen, dan studi pustaka. Produksi benih jeruk bermutu terdiri dari penyediaan batang bawah, penyediaan mata tempel, okulasi, pemeliharaan tanaman, sertifikasi benih, dan distribusi benih. Kegiatan magang mengamati beberapa variabel diantaranya karakteristik benih siap salur, penyediaan batang bawah, penyediaan batang atas, tingkat keberhasilan okulasi, dan pertumbuhan pasca okulasi. Hasil pengamatan peubah tingkat keberhasilan okulasi menunjukkan bahwa varietas Rimau Gerga Lebong (RGL) memiliki persentase keberhasilan tertinggi hingga 7 Minggu Setelah Okulasi (MSO) dibandingkan varietas lainnya. Berdasarkan pengamatan panjang tunas, varietas Keprok Terigas memiliki panjang tunas rata-rata tertinggi hingga 7 MSO dibandingkan varietas lainnya
Analisis Kapasitas Infiltrasi dan Konduktivitas Hidrolik Tanah pada Berbagai Penggunaan Lahan
Cimulang merupakan desa yang didominasi oleh penggunaan lahan kelapa sawit. Desa ini memiliki luas sekitar 343 ha dengan 300 ha merupakan HGU PTPN VIII. Pertanian menjadi sektor andalan bagi masyarakat setempat karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani atau buruh tani. Akan tetapi, dalam prakteknya petani mengolah lahan secara berlebihan tanpa tindakan konservasi tanah dan air sehingga kualitas fisik tanah menurun seperti rusaknya struktur dan agregat tanah, menurunnya ruang pori dan kadar bahan organik tanah, serta meningkatnya kerapatan isi. Hal ini mengakibatkan kemampuan tanah dalam meresapkan dan menyimpan air menjadi tidak optimal. Apabila kemampuan tanah dalam menyimpan air berkurang maka kebutuhan air tanaman tidak tercukupi dengan baik sehingga produktivitas tanaman tidak optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan tanah dalam meresapkan air melalui pengukuran lapang, yaitu nilai infiltrasi dan konduktivitas hidrolik tanah pada penggunaan lahan kebun kelapa sawit, hutan jati dan tegalan di Desa Cimulang. Pengukuran nilai infiltrasi menggunakan alat double ring infiltrometer dan konduktivitas hidrolik tanah menggunakan alat permeameter dengan metode Invers Auger Hole. Hasil penelitian menunjukkan kapasitas infiltrasi secara berurutan dari yang terbesar terdapat pada hutan jati sebesar 24.10 cm jam-1 masuk dalam kelas cepat diikuti oleh kebun kelapa sawit dan tegalan, masing-masing sebesar 13.83 cm jam-1 dan 10.03 cm jam-1 masuk dalam kelas infiltrasi cepat dan agak cepat. Nilai konduktivitas hidrolik terbesar terdapat pada hutan jati pada kedalaman 0-20 cm dan 20-40 cm sebesar 2.31 cm jam-1 dan 2.98 cm jam-1 masuk ke dalam kelas sedang, kemudian diikuti oleh lahan tegalan, yaitu 2.02 cm jam-1 dan 1.41 cm jam-1 tergolong ke dalam kelas sedang dan agak lambat, sedangkan lahan kebun kelapa sawit memiliki nilai konduktivitas hidrolik paling rendah, yaitu 1.74 cm jam-1 dan 2.12 cm jam-1 dengan kelas agak lambat
Epoksi dasi Olein Sawit sebagai Base Oil untuk Bio Grease Kalsium Kompleks
Pengembangan biogrease minyak sawit bertujuan mensubstitusi grease
berbahan minyak bumi dengan bahan yang lebih ramah lingkungan. Peningkatan
karakteristik biogrease dapat dilakukan dengan melakukan sintesis kimia.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan perbandingan mololein sawit dengan H2O2
dalam proses epoksidasi,dan analisis fisik produk biogrease yang dihasilkan.
Proses epoksidasi menggunakan asam asetat dan H2O2 dengan variasi
perbandingan mololein dan H2O2 adalah1:3,1:6,dan1:9. Perbandingan mol
dipilih berdasarkan uji bilangan iod dan oksiran, kemudian diproses menjadi bio
grease dengan penambahan sabun pengental. Oleinterepoksidasi dengan
perbandingan mololein dan H2O2 yaitu1:9 dipilih karena memiliki rata-rata
bilangan oksiran tertinggi 0.99 dan bilangan iod terendah 33.09mgI2/gserta
berdasarkan uji ANOVA danLSD. Bilangan oksiran menunjukkan banyaknya
senyawa epoksida yang dihasilkan. Bilangan iod menunjukkan ketidak jenuhan.
Asam peroksi yang digunakan dalam proses epoksi dasi bereaksi dengan senyawa
tidak jenuh sehingga semakin rendah bilangan iod pada olein teepoksidasi,
semakin banyak senyawa epoksi dayangd ihasilkan. Biogrease dengan baseoil
olein terepoksidasi dengan perbandingan mololein dan H2O2 1:9 memiliki warna
kremmuda,densitas0.96g/cm3, viskositas31280mPa.s, unworkedpenetration
438 (0.1mm), worked penetration 443 (0.1mm), dropping point <26oC,daya
tahan korosi 2c dan NLGI00
Perubahan Kualitas Diet Penderita Penyakit Jantung Koroner pada Usia Dewasa di Kota Bogor
Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan bagian dari Penyakit Tidak Menular (PTM) dan menyebabkan kematian sebesar 85% (WHO 2016). Kualitas diet dapat menurunkan komplikasi hingga kematiansebesar 17 sampai 26%, sehingga perubahan kualitas diet penting pada PJK (Guinter et al. 2018; Prieto et al. 2017).Metode Alternate Healthy Eating Index (AHEI) modifikasiyang dikembangkan berdasarkan AHEI 2010 digunakan untuk melihat kualitas dietyang porsinya disesuaikan dengan Pedoman Gizi Seimbang (PGS) 2014.Perubahan kualitas dietdilihat dari hasil kualitas diet pada saat sebelum dan setelah diagnosis penyakit, dan perubahannya dapat disebabkan oleh kondisi penderita(McGrievyet al. 2008).Berdasarkan penelitian Lee et al.(2007) dan Prieto et al. (2015) menunjukkan bahwa terdapat perubahan kualitas diet setelah terdiagnosis penyakit, kualitas diet mengalami peningkatan 8.3% untuk laki-laki, dan 7.9% untuk wanita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan kualitas diet penderita PJK pada usia dewasa (29 tahun keatas) di Kota Bogor.Tujuan khusus penelitian ini yaitu 1) Menilai karakteristik subjek yang terdiri dari karakteristik demografi, faktor perilaku, dan faktor komorbid;2) HubunganAHEI sebagai instrumen penilaian kualitas diet dengan biomarker SM pada penderita PJK; 3) Menganalisis perubahan kualitas diet;4)Menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan kualitas diet. Desain studi yang digunakan adalah desain studi longitudinal dengan repeated measures. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Studi Kohor Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) yang telah dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Upaya Kesehatan Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.Data yang dianalisis yaitu semua data kasus baru PJKyang muncul selama follow up 4 tahun yang berjumlah 124. Data konsumsi food recall 1x24 jamdiambil saat setahun sebelum dan setahun setelah terdiagnosisPJK. Data biomarker Sindrom Metabolik (SM) pada penelitian ini yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik, glukosa darah puasa, glukosa darah pasca pembebanan, kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL), dan trigliserida. Data karakteristik subjek yaitu faktor demografi (usia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan keluarga, pekerjaan), faktor perilaku (merokok, aktivitas fisik), dan faktor komorbid (hipertensi, diabetes, obesitas, gangguan profil lipid, dan strok) diambil pada saat subjek terdiagnosisPJK.Kualitas diet dinilai menggunakan AHEI modifikasi. Data dianalisis menggunakan uji Pearson, Spearman, Paired t-test, Wilcoxon test, Chi-Square,dan Regresi Logistic.
Mayoritas penderita PJKberusia46-55 tahun (40.3%),perempuan (73.4%), tingkat pendidikan SMP dan SMA (43.5%), tingkat pendapatan keluarga cukup (58.9%), dan bekerja (58.9%). Perilaku penderita PJKyaitu melakukan aktivitas fisik cukup (60.5%), dan memiliki kebiasaan tidak merokok (48.4%). Komorbid penderita PJKyaitu hipertensi (58.1%), obesitas (58.1%), kolesterolLDLtinggi (83.9%), dan kolesterol HDL rendah (60.5%).Tidak terdapat hubungan antara skor
kualitas diet total dengan nilai biomarker SM. Terdapat hubungan bermakna antara skor komponenminuman berpemanis dengan glukosa darah puasa (p=0.002; r=0.271), glukosa darah pasca pembebanan (p=0.033; r=0.191), dan kolesterol HDL(p=0.026; r=-0.200). Terdapat hubungan bermakna antara skor komponen Polyunsaturated Fatty Acids(PUFA)dengan kolesterolHDL(p=0.015; r=0.219). Sehingga AHEIdapat digunakan sebagai instrumen penilaian kualitas diet bagi PJKmelalui komponen minuman berpemanis, dan PUFA.
Total skor kualitas diet setahun sebelumPJK58.6 poin dan setahun setelahPJK63.6 poin. Total skor kualitas diet meningkat (kualitas diet membaik) setahun setelah PJKsebesar 5 poin, sebanyak 66.9% memiliki peningkatan skor (kualitas diet membaik) dan 33.1% memiliki penurunan skor (kualitas diet memburuk).Rata-rata skor yang mengalami peningkatan yaitu skor kualitas diet total, buah-buahan,kacang-kacangan, sodium, dan terdapat perbedaan perubahan yang signifikan (p0.05).
Setelah dikontrol dengan faktor lain, faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan kualitas diet yaitu pendapatan keluarga cukup (≥Rp 3557146) [OR=7.35(95%CI: 2.83,19.08)], subjek yang memiliki pendapatan keluarga cukup dapat meningkatkan kualitas diet 7.35 kali dibandingkan dengan subjek yang memiliki pendapatan keluarga kurang.Aktivitas fisik cukup (≥600 MET) [OR=3.46(95% CI: 1.29,9.29)], subjek yang memiliki aktivitas fisik yang cukup dapat meningkatkan kualitas diet 3.46 kali dibandingkan dengan subjek dengan tingkat aktivitas fisik yang kurang. Kolesterol HDLtinggi [OR=0.15(95% CI: 0.05,0.41)],dapat menurunkan kualitas diet.
Sebagian besar subjek memiliki peningkatan kualitas diet sebesar 7.9% pada komponen buah 51.9%, kacang 16.9%, dan sodium 10.6%. Peningkatan kualitas diet dipengaruhi oleh faktor pendapatan keluarga, dan aktivitas fisik. Rekomendasi porsi diet bagi penderita PJKyang harus ditingkatkan yaitu batasi konsumsi gula kurang dari duasdm/hari, konsumsi sayur sesuai anjuran yaitu tiga sampai empatporsi/hari, buah lima porsi/hari, protein nabati tiga porsi/hari, batasi sodium, minuman dan makanan yang diawetkan, serta batasi makanan yang digoreng