31665 research outputs found
Sort by
Suplementasi Prill Fat Minyak Sawit terhadap Kecernaan Ransum dan Performa Sapi Perah
Prill fat adalah minyak nabati yang terhidrogenasi dan mengandung lebih dari 85% asam palmitat dengan titik leleh yang tinggi. Prill fat tidak meleleh pada suhu rumen dan dapat bypass di dalam rumen. Penelitian ini bertujuan mengukur karakteristik fisik prill fat dan penggunaannya pada ternak sapi perah. Penelitian terdiri atas tiga tahap, tahap pertama yaitu pengujian kualitas prill fat yang dilakukan di Laboratorium Industri Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian tahap II berupa suplementasi ransum menggunakan prill fat secara in vitro dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian tahap III yaitu secara in vivo yang dilakukan di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK II), Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Penelitian secara in vitro menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan: P1 (kontrol tanpa perlakuan), P2 (P1+2% prill fat), P3 (P1+4% prill fat), dan P4 (P1+6% prill fat). Variabel yang diamati meliputi karakteristik fermentasi rumen (pH, konsentrasi volatile fatty acid (VFA) total, konsentrasi ammonia), kecernaan bahan kering dan bahan organik, kecernaan Neutral Detergent Fiber (NDF) dan Acid Detergent Fiber (ADF), dan aktivitas mikroba rumen. Pengujian secara in vivo dilakukan dengan menguji suplemen prill fat pada taraf 2% dibandingkan dengan tanpa penambahan prill fat. Pengujian dilakukan sebanyak 10 ulangan dengan parameter meliputi konsumsi bahan kering (BK), produksi susu, komponen susu, dan profil asam lemak susu menggunakan near infrared reflectance spectroscopy (NIRS) dan dianalisis menggunakan t-test.
Hasil pengujian in vitro menunjukkan bahwa suplementasi prill fat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan konsentrasi VFA total (P<0.05) dan tidak berpengaruh terhadap konsentrasi ammonia, pH, dan bakteri total. Penurunan secara linier terjadi pada kecernaan bahan kering dan bahan organik (P<0.01), NDF dan ADF digestibility (P<0.05), total biomasa protozoa (P<0.01), dan populasi bakteri selulolitik (P<0.05). Hasil pengujian secara in vivo menunjukkan bahwa suplementasi 2% prill fat pada performa sapi perah di KUNAK Cibungbulang tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering (BK), komponen lemak susu, dan produksi susu. Suplementasi prill fat berpengaruh terhadap profil asam lemak susu dan menunjukkan adanya peningkatan komponen lemak dan produksi susu setelah adanya penambahan prill fat ke dalam ransum sapi perah laktasi.
Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penambahan prill fat terbaik adalah pada taraf 2%. Penambahan prill fat pada taraf 2% tidak mengganggu aktivitas fermentasi rumen dan kecernaan serat. Suplementasi 2% prill fat pada performa sapi perah di KUNAK berpengaruh terhadap profil asam lemak susu, produksi dan komponen lemak susu, serta tidak berpengaruh negatif terhadap Atherogenicity Index (AI) dan Hypocholesterolemic/Hypercholesterolemic (HH) ratio
Literasi Pasar Modal dan Pengaruhnya Terhadap Perilaku Investasi Mahasiswa S1 IPB
Mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa sehingga menjadi salah
satu sasaran dalam program literasi pasar modal yang dilakukan oleh Otoritas Jasa
Keuangan (OJK). Subjek penelitian adalah mahasiswa S1 IPB. Penelitian
bertujuan menganalisis tingkat literasi pasar modal mahasiswa dan menganalisis
faktor – faktor yang memengaruhi literasi pasar modal serta pengaruh literasi
pasar modal terhadap perilaku investasi. Faktor – faktor yang dianalisis yaitu jenis
kelamin, fakultas, angkatan, pendapatan dan pengeluaran. Metode analisis yang
digunakan yaitu analisis deskriptif dan Structural Equation Modelling (SEM) PLS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi pasar modal mahasiswa S1
IPB sebesar 51% yang tergolong sufficient literate. Perilaku investasi (profil
risiko) mahasiswa S1 IPB tergolong moderat dengan persentase sebesar 29.8%.
Faktor – faktor yang berpengaruh signifikan adalah jenis kelamin, fakultas dan
pendapatan. Faktor angkatan dan pengeluaran berpengaruh tidak signifikan.
Literasi pasar modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku
investasi mahasiswa
Toksisitas Ekstrak Limbah Pengolahan Jernang.
Penelitian ini bertujuan menentukan rendemen ekstrak limbah pengolahan
jernang (ELJ) hasil ekstraksi bertingkat dari buah rotan Daemonorops draco
(Wild.) Blume dengan pelarut yang kepolarannya bertingkat (pelarut n-heksana, etil
eter, etil asetat, etanol, dan air) dan menguji toksisitas ELJ terhadap larva udang
Artemia salina, serta menganalisis fitokimia ekstrak terbaik berdasarkan rendemen
dan toksisitas ekstrak. ELJ diekstraksi dengan metode sokletasi menggunakan
pelarut kepolaran bertingkat (n-heksana, etil eter, etil asetat, dan etanol) serta
metode dekok untuk pelarut air. Uji toksisitas menggunakan metode Brine Shrimp
Letahlity Test (BSLT). Hasil penelitian menunjukkan jenis pelarut memengaruhi
rendemen ELJ. Rendemen ELJ terlarut etil asetat tertinggi (8,29%), diikuti ELJ
terlarut etanol, etil eter, air, dan n-heksana dengan nilai rendemen berturut-turut
6,86%, 5,82%, 5,15%, dan 2,00%. Berdasarkan uji BSLT, ELJ terlarut etil asetat
dan etanol bersifat toksisitas sedang (nilai LC50: 367,65±13,32 dan 282,56±8,75
ppm), sedangkan toksisitas ELJ lainnya tergolong toksisitas rendah (nilai LC50 =
500−1000 ppm). ELJ terlarut etanol (toksisitas tertinggi) dan ELJ terlarut etil asetat
(rendemen tertinggi) mengandung senyawa fenolhidrokuinon, flavonoid, saponin,
steroid, dan triterpenoid. Namun, ELJ terlarut etanol lebih kuat mengandung
flavonoid dan lebih lemah mengandung triterpenoid dibandingkan ELJ terlarut etil
asetat
Analisis Pelanggan Pengendalian Hama dengan Customer Lifetime Value dan K-Means Clustering (Studi Kasus Pada PT Agricon Putra Citra Optima Cabang Tangerang).
PT Agricon Putra Citra Optima (PT APCO) merupakan perusahaan
pengendalian hama dengan merek Terminix yang memiliki kantor cabang di
seluruh wilayah Indonesia. Saat ini jumlah pelanggan PT APCO mengalami
pertumbuhan rata-rata 40% setiap tahunnya. Dengan semakin bertambahnya jumlah
pelanggan yang dimiliki, maka diperlukan strategi dalam mengukur dan
memetakan nilai pelanggannya berdasarkan transaksi dengan perusahaan.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil pelanggan, menganalisis nilai
pelanggan dengan Customer Lifetime Value (CLV), dan mengelompokkan
pelanggan dengan menganalisis variabel pendapatan, nilai CLV dan indeks
kepuasan pelanggan dengan metode K-means Clustering. Data yang digunakan
merupakan data sekunder yang diambil dari sistem operasional perusahaan dan
laporan-laporan kinerja Cabang Tangerang tahun 2018. Perhitungan CLV
menggunakan model yang dikembangkan oleh Gupta, Lehman dan Stuart (2004)
dan metode K-means Clustering digunakan untuk mengelompokkan pelanggan
dengan variabel pendapatan, CLV, dan indeks kepuasan pelanggan.
Hasil perhitungan CLV menunjukkan bahwa tidak semua pelanggan yang
dianalisis memberikan keuntungan bagi perusahaan. Rata-rata nilai CLV tertinggi
adalah sebesar Rp. 19,170,991 dan terendah sebesar –Rp. 112,566. Hasil analisis
nilai CLV terbentuk 4 (empat) segmentasi dengan rata-rata nilai CLV masingmasing
segmen sebagai berikut: segmen sangat rendah dengan rata-rata nilai CLV
–Rp. 112,566. Segmen rendah dengan rata-rata nilai CLV Rp. 3,026,924. Segmen
sedang dengan rata-rata nilai CLV Rp. 7,637,121. Segmen tinggi dengan rata-rata
nilai CLV Rp. 19,170,991. Mayoritas pelanggan berada pada segmen rendah
dengan populasi sejumlah 51 unit pelanggan.
Hasil klastering pelanggan berdasarkan variabel pendapatan, CLV, dan
tingkat kepuasan pelanggan menghasilkan 3 (tiga) klaster pelanggan dengan
karateristik yang berbeda-beda. Klaster 1 (satu) menghasilkan marjin CLV dan
indeks kepuasan tertinggi dengan mayoritas pelanggan adalah tipe warehouse
(WD). Klaster 2 (dua) menghasilkan nilai CLV dan pendapatan tertinggi dengan
mayoritas pelanggan adalah tipe manufacture (M). Klaster 3 (tiga) menghasilkan
nilai CLV, marjin CLV, dan indeks kepuasan terendah dengan mayoritas pelanggan
adalah tipe warehouse (WD).
Kata kunci: Profil Pelanggan, Customer Lifetime Value, K-means Clustering,
Pengelompokan Pelangga
Penilaian Memar Karkas Sebagai Indikator Kesejahteraan Hewan pada Sapi Brahman Cross
(STATE KESEJAHTERAAN HEWAN DAPAT DILIHAT DARI MEMAR KARKAS). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesejahteraan ternak dengan mengobservasi banyaknya kejadian memar karkas sapi brahman cross. PENGAMATAN MEMAR PADA KARKAS DILAKUKAN PADA 300 KARKAS SAPI BRAHMAN CROSS. INDIKATOR MEMAR PADA KARKAS MELIPUTI.... Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif meliputi frekuensi dan persentase kejadian memar. Hasil pengamatan menunjukkan TERDAPAT 70 KARKAS SAPI TIDAK MEMAR (...%) SEDANGKAN 230 karkas mengalami kejadian memar. Persentase tingkaT KEPARAHAN memar KARKAS sebesar 90.43% dan tingkat memar 2 sebesar 9.57%. Tidak terjadi tingkat keparahan memar hingga ke tulang pada saat pengamatan. PENYEBAB MEMAR Sedangkan proses unloading memiliki nilai durasi waktu dibawah satu menit (sangat baik). Perilaku terpeleset, melompat, dan jatuh merupakan perilaku yang sering muncul selama proses unloading yang menjadi salah satu penyebab terjadinya memar pada karkas
Survei Hama, Musuh Alami dan Penyakit Tanaman Padi Sawah Program Upsus di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat.
Program Upsus (Upaya Khusus) adalah program pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi sawah guna mencapai percepatan swasembada pangan. Sasaran Upsus adalah peningkatan indeks pertanaman (IP) sebesar 0,5 dan peningkatan produktivitas sebesar 0,3 ton/ha/GKP. Sasaran belum tercapai karena serangan hama dan penyakit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui jumlah/jenis hama dan musuh alami dominan, intensitas serangan hama dan tingkat keparahan penyakit, pengetahuan, sikap dan tindakan petani Upsus dalam mengendalikan hama dan penyakit, melakukan kegiatan budidaya padi sawah dan implementasi pelaksanaan Upsus di tingkat petani. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang pada bulan Oktober 2018 – April 2019. Penelitian terdiri dari pengamatan langsung dan pemberian kuisioner. Pengamatan langsung dilakukan dengan menggunakan metode diagonal pada empat stadia pertumbuhan tanaman padi yaitu pada fase persemaian, fase bibit, fase vegetatif dan fase generatif. Hama dominan yang ditemukan adalah Nilaparvata lugens, Leptocorisa oratorius, Scirpophaga incertulas, Scotinophara lurida, Cnaphalocrosis medinalis, Mythimna separata dan Rattus argentiventer. Kerapatan populasi dan intensitas serangan hama relatif rendah dan berada dibawah ambang ekonomi kecuali intensitas serangan S. incertulas pada fase bibit. Hal ini disebabkan oleh keberadaan musuh alami dan aplikasi pestisida yang dilakukan secara terjadwal. Kerapatan populasi musuh alami yang ditemukan masih relatif rendah. Jenis musuh alami dominan yang ditemukan adalah Paederus sp. Penyakit dominan yang ditemukan adalah hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae), blas (Pyricularia oryzae) dan bercak coklat sempit (Cercospora oryzae) dengan tingkat keparahan penyakit yang relatif rendah. Penentuan responden kuisioner menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 60 orang. Sikap dan tindakan petani Upsus dalam mengendalikan hama dan penyakit masih belum mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu yang dianjurkan Upsus
Jenis dan Musuh Alami Ulat Kantong dan Pendugaan Instar Larva Pteroma plagiophleps serta Sebaran Serangannya di Hutan Rakyat Sengon
Serangan hama ulat kantong pada tanaman sengon (Falcataria moluccana) (Miq.) Barneby & J.W. Grimes di berbagai daerah sering dilaporkan sebagai masalah serius. Beberapa aspek tentang informasi bioekologinya merupakan hal penting dan mendesak untuk disediakan. Sementara itu, usaha pengendalian hama ini dasarnya adalah berasal dari informasi tersebut. Penelitian ini mengkaji jenis- jenis ulat kantong dan musuh alaminya, menduga instar dan pertambahan ukuran larva yang paling dominan serta menduga sebaran letak serangan jenis ulat kantong ini pada individu tanaman sengon. Sampel yang berupa larva dan pupa ulat kantong dikumpulkan melalui survei yang dilakukan pada Nopember 2018 sampai Mei 2019 di daerah Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Ulat kantong dan musuh alaminya diidentifikasi berdasar ciri morfologinya. Analisis regresi digunakan untuk menduga tahap perkembangan (instar) larva Pteroma plagiophleps sementara metode analisis ragam digunakan untuk menganalisis sebaran letak serangan ulat kantong P. plagiophleps pada individu tanaman sengon. Empat spesies ulat kantong telah diidentifikasi yaitu Pteroma plagiophleps Hampson, Chalia javana (Heylaerts), Clania crameri (Westw), dan Kophene cuprea (Moore). Setiap spesies ulat kantong memiliki kantong yang khas meliputi bentuk, ukuran maupun material dan pola susunannya. Kantong larva dapat digunakan sebagai petunjuk atau identifikasi awal spesiesnya. Meskipun demikian identifikasi sebaiknya dilakukan dengan cara mendeskripsikan imago jantannya. Musuh alami ulat kantong berupa parasitoid yang berasal dari enam famili dari Ordo Hymenoptera (Ichneumonidae, Eulophidae, Trichogrammatidae, Braconidae, Chalcididae, dan Eurytomidae) dan satu famil (Tachinidae) dari Ordo Diptera. Dua spesies cendawan entomopatogen juga berhasil diidentifikasi. Cendawan tersebut adalah Peacilomyces sp. dan Beauveria bassiana. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis parasitoid pada P. plagiophleps pada periode pengamatan ini masih rendah. Sebaliknya, parasitisasi terhadap ulat kantong C. javana dan C. crameri cukup tinggi. Larva P. plagiophleps yang berkembang pada tanaman sengon mengalami empat instar dengan rentang lebar kapsul kepala yang cukup jelas. Larva berkembang mengikuti pola pertambahan ukuran geometris yang relatif konstan berkisar 1.42. Panjang kantong larva terkait erat dengan instarnya sehingga dapat digunakan untuk menduga instar larva ulat kantong tersebut. Lokasi serangan ulat kantong P. plagiophleps merata pada tajuk individu pohon. Tidak ada perbedaan yang nyata diantara posisi tajuk bagian atas, tengah atau bawah. Meskipun demikian sebaran ini dipengaruhi oleh fase perkembangan larva atau pupa. Pada fase larva, populasi ulat kantong yang terbesar dapat ditemukan pada bagian daun tua sedangkan pupa juga dapat ditemukan pada bagian daun yang masih muda. Implikasi dari hasil penelitian ini berkaitan dengan sasaran
pengambilan sampel larva untuk kepentingan studi ekologi maupun pengendalian hama dan mengabaikan posisi tajuk tanaman. Penelitian serupa yang aspek fisik seperti pengaruh musim (suhu dan kelembaban), ketinggian wilayah, dan asosiasi vegetasi sekitar tegakan perlu dikaji. Aspek-aspek tersebut perlu dikaji baik secara terpisah maupun secara simultan untuk melihat pengaruhnya terhadap musuh alami ulat kantong (keanekaragaman dan kerapatan) dan terhadap pradewasa ulat kantong (larva dan pupa) termasuk ukuran tubuh, jumlah instar dan pola sebaran serangannya pada tanaman sengon. Perubahan aspek-aspek tersebut mungkin akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda
Penapisan Virtual Senyawa Aktif Ginseng (Panax ginseng) Terhadap PPARγ dalam Meningkatkan Sensitivitas Insulin
Perubahan demografi di Indonesia menyebabkan timbulnya penyakit degeneratif seperti Diabetes Melitus (DM). DM merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia. Sebanyak 90 % kasus DM didominasi oleh DM tipe 2. PPARγ merupakan faktor transkripsi yang berperan mengekspresikan adipogenesis dalam peningkatan senstivitas insulin. Ginseng (Panax ginseng) merupakan tumbuhan herbal yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional dan berpotensi sebagai agonis PPARγ. Penelitian ini bertujuan menyeleksi dan memprediksi senyawa aktif ginseng yang berpotensi sebagai agonis PPARγ dalam meningkatkan sensitivitas insulin pada penderita DM tipe 2. Penelitian dimulai dengan penapisan virtual 72 ligan menggunakan PyRx, analisis toksisitas dan bioavaibilitas, penambatan molekuler menggunakan Autodock Vina, dan visualisasi 2D menggunakan LigPlot+. Terdapat 7 ligan yang memiliki energi afinitas mendekati rosiglitazone dan asam linolenat yaitu ginsenoside Rb1, Rb3, Rc, Ra2, floralginsenoside B, ginsenoside Rd, dan floralginsenoside C. Ginsenoside Rb1 memiliki potensi agonis terbaik berdasarkan energi afinitas sebesar -7.70 kkal/mol, interaksi, dan sisi aktif pengikatan
Tahapan Komunikasi Partisipatif dalam Proses Pengelolaan Wisata Underwater Desa Bangsring (Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi).
Komunikasi yang baik merupakan kunci keberhasilan pengelolaan Desa wisata. Peran aktif pengelola wisata, masyarakat lokal, dan pemerintah menjadi suatu kesatuan dalam proses pengelolaan wisata. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi tahapan komunikasi partisipatif dalam proses pengelolaan desa wisata Bangsring Underwater. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sensus dengan menggunakan pendekatan kuantitatif didukung data kualitatif. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 40 responden. Mayoritas pengelola wisata Bangsring Underwater adalah laki-laki dan tergolong kedalam usia kategori dewasa. Terdapat empat indikator hubungan antara dukungan lingkungan dengan tahapan proses pengelolaan wisata Bangsring Underwater, yaitu dukungan masyarakat lokal berhubungan dengan tahap implementasi kegiatan, dukungan pemerintah dan mitra kerja berhubungan dengan tahap pemetaan isu, potensi, dan permasalahan, tahap merancang tindakan bersama, dan tahap monitoring dan evaluasi. Dukungan pemerintah dan mitra kerja tidak berupa pengalokasian dana melainkan dukungan secara fasilitas, pelatihan, dan promosi
Penggunaan Drone (UAV) Termal untuk Pemetaan Keparahan Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Padi
Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan produktivitas padi disebabkan oleh hawar daun bakteri (HDB). Drone termal dapat merekam aktivitas fisiologis tanaman seperti suhu tanaman. Suhu tanaman merupakan hasil dari faktor eksternal dan fisiologis. Varietas yang digunakan padi Inpari 32 pada fase generatif awal. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi karakter penyakit HDB pada padi, mengetahui hubungan keparahan penyakit dengan suhu tanaman di lapang, dan pemetaan berbasis interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW) keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit HDB menginfeksi bagian daun sehingga berwarna keabuan dan menggulung, kemudian mengering. Citra termal menunjukkan bahwa semakin parah penyakit maka semakin rendah suhu yang terekam, sedangkan semakin sehat tanaman, semakin tinggi suhu yang terekam. Suhu yang lebih rendah pada tanaman berpenyakit disebabkan oleh penurunan aktivitas biologis tanaman. Suhu tanaman di lapang berkolerasi dengan suhu drone dengan nilai 0,5 sedangkan keparahan penyakit berkolerasi dengan suhu tanaman di lapang bernilai -0,4