31665 research outputs found
Sort by
Pengelolaan Tanaman Penaung Kopi Robusta (Coffea canephora Pierre Ex. A Froehner) di Kebun Bangelan, PT Perkebunan Nusantara XII, Malang, Jawa Timur.
Kegiatan magang bertujuan mempelajari aspek teknis dan aspek
manajerial tanaman kopi, serta aspek khusus yaitu mempelajari hubungan
intensitas cahaya dengan populasi tanaman penaung tetap, produktivitas kopi dan
persentase slagging factor (gugur bunga dan buah). Kegiatan magang telah
dilaksanakan di Kebun Bangelan, PT Perkebunan Nusantara XII, Malang, Jawa
Timur pada bulan Januari sampai bulan April 2020. Metode yang digunakan
dalam pelaksanaan kegiatan magang yaitu melakukan pekerjaan secara langsung
serta mengumpulkan data primer dan sekunder. Tanaman penaung tetap yang
digunakan di Kebun bangelan yaitu tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala
Benth) dan tanaman rete (Senna siamea) dengan rata-rata populasi yaitu 722
tanaman ha-1. Pemeliharaan tanaman penaung terdiri atas tokok (pemenggalan
batang) yang dilakukan pada saat awal musim hujan dan rempes (pemotongan
cabang) yang dilakukan saat akhir musim hujan. Penaung kopi yang baik adalah
penaung dengan intensitas sedang (naungan 50-60%) sehingga dapat
mengoptimalkan intensitas cahaya untuk pertumbuhan kopi. Jumlah tanaman
sampel yang diamati untuk intensitas cahaya, produksi dan persentase slagging
factor berjumlah 45 tanaman yang tersebar pada 3 blok. Setiap blok memiliki 3
titik pengamatan dengan taraf intensitas cahaya berbeda, yaitu intensitas ringan,
sedang dan berat. Hasil uji korelasi antara intensitas cahaya dengan produksi dan
produktivitas kopi menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas matahari yang
diterima oleh tanaman kopi, maka semakin rendah produktivitas yang dapat
dihasilkan. Hasil uji korelasi antara persentase slagging factor dengan intensitas
cahaya menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas cahaya matahari yang
diterima tanaman kopi, semakin tinggi nilai slagging factor. Hasil uji korelasi
antara persentase slagging factor dengan produktivitas menunjukkan bahwa
semakin tinggi tingkat slagging factor, maka produktivitas kopi semakin rendah
Potensi Kebakaran Hutan BKPH Dander, KPH Bojonegoro, Jawa Timur.
Potensi kebakaran hutan di BKPH Dander KPH Bojonegoro dikaji
berdasarkan sumber penyebab kebakaran, upaya pengendalian yang dilakukan dan
curah hujan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penyebab terjadinya kebakaran
hutan dan mengkaji upaya pengendalian yang dilakukan oleh BKPH Dander, serta
menganalisis tingkat kerawanan kebakaran hutan berdasarkan curah hujan. Data
yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Rata-rata curah hujan
dalam 5 tahun terakhir yaitu 1 788.8 mm/tahun dengan total luas area terbakar 44.6
Ha dan total kerugian mencapai Rp 5 645 300. Potensi kebakaran hutan di BKPH
Dander akibat pembersihan lahan tergolong sedang, sedangkan akibat adanya
aktivitas pembakaran oleh pelaku tertentu dengan motif kepentingan memenuhi
kebutuhan dan kepentingan. Optimalisasi upaya pengendalian kebakaran hutan
berjalan baik, hal ini dikarenakan terjalin kerjasama antar masyarakat dalam upaya
pengendalian serta kesadaran partisipasi masyarakat yang tinggi dalam penyuluhan,
dan menjaga kelestarian serta keamanan hutan
Model Klasifikasi Serangan DDoS pada Layer Aplikasi Menggunakan Metode Random Forest
Distributed Denial of Service(DDoS) masih menjadi topik yang diteliti dalam penelitian tentang keamanan jaringan. Hal itu disebabkan semakin banyak tools untuk melakukan serangan DDoS dan semakin mudah cara penggunaannya. Pada kuarter pertama tahun 2018 tercatat rata-rata ukuran terbesar serangan DDoS mencapai 11.2 Gbps. Layer aplikasi menjadi salah satu target untuk melancarkan serangan DDoS, dengan memanfaatkan celah pada protokol yang berjalan pada layer aplikasi penyerang melakukan serangan untuk meniadakan layanan server untuk user. Serangan DDoS pada layer aplikasi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda karena serangannya hampir menyerupai request user pada umumnya, jika dibandingkan serangan DDoS pada layer network dan transport yang menyerang dengan membanjiri trafik jaringan. Serangan pada layer tersebut terbukti mampu melewati keamanan yang tertanam pada perangkat jaringan.
Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada klasifikasi serangan DDoS pada layer aplikasi. Model klasifikasi yang dibangun pada penelitian ini menggunakan dataset CICIDS2017 yang disediakan oleh University of New Brunswick (UNB). Metode random forest dipilih pada penelitian ini dikarenakan keunggulan dari metode tersebut dan dianggap cocok untuk mengklasifikasi serangan DdoS pada layer aplikasi. Beberapa keunggulan metode random forest adalah mampu mengatasi data yang besar, memiliki akurasi yang tinggi, dan tidak terpengaruh oleh missing data.
Penelitian ini berhasil membangun model klasifikasi dengan akurasi sebesar 0.9993. Nilai recall untuk kelas normal sebesar 0.9999, DDoS goldeneye sebesar 0.9946, DDoS hulk sebesar 0.9985, DDoS slowhttptest sebesar 0.9972, dan DDoS slowloris sebesar 0.9976. Nilai presisi untuk kelas normal sebesar 0.9992, kelas DDoS goldeneye sebesar 0.9979, kelas DDoS hulk sebesar 0.9999, kelas DDoS slowhttptest sebesar 0.9925, dan kelas DDoS slowloris sebesar 0.9939. Lima Importance variable yang didapat dari model klasifikasi random forest adalah backward packet length max, max packet length, subflow backward bytes, total length of backward packets, destination port
Intensitas Kabut Asap di Atas Pertanaman Kelapa Sawit ditentukan Berdasarkan Transmisivitas Atmosfer (Studi Kasus: PT Perkebunan Nusantara VI, Batanghari, Jambi).
Kabut asap menjadi salah satu hasil kebakaran hutan yang dapat dilihat secara langsung dan memberikan dampak negatif bagi visibilitas atmosfer. Keberadaan kabut asap dapat diestimasi menggunakan berbagai metode baik menggunakan satelit, pengukuran menggunakan alat, maupun perhitungan matematis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis intensitas kabut asap adalah dengan perhitungan transmisivitas atmosfer. Transmisivitas atmosfer didapatkan dari rasio antara radiasi global yang terukur oleh alat pada permukaan bumi dengan radiasi global di puncak atmosfer. Hasilnya didapatkan rata-rata transmisivitas atmosfer di PT. Perkebunan Nusantara VI (PTPN VI), Batanghari, Jambi pada tahun 2015 adalah 0,28. Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar kondisi cuaca pada tahun 2015 di PTPN VI Jambi memiliki turbiditas atmosfer yang tinggi. Adapun periode kebakaran hutan dan kabut asap berlangsung sejak September hingga pertengahan November, dimana puncak kebakaran terjadi pada bulan Oktober 2015. Kebakaran hutan menyebabkan nilai radiasi hambur meningkat hingga mencapai nilai tertinggi sebesar 33,8 MJ/m2/hari diikuti dengan penurunan radiasi global dibanding rata-ratanya. Kandungan partikulat berupa PM 10 dan Aerosol Optical Depth yang tinggi pada periode September hingga pertengahan November 2015 memperkuat adanya intensitas kabut asap yang tinggi di Jambi. Kabut asap juga berdampak terhadap kemampuan tanaman kelapa sawit untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Batas fotosintesis yang masih dapat dilakukan tanaman kelapa sawit saat tertutupi oleh kabut asap adalah pada fraksi difus 0,55. Fraksi difus lebih dari 0,55 menunjukkan berkurangnya kemampuan kelapa sawit dalam menyerap CO2 dan mengakibatkan penurunan NEE. Kondisi ini menyebabkan tingginya konsentrasi CO2 di atmosfer
Evaluasi Hematologi dan Konsumsi Anak Kambing Pasca Sapih yang diberi Pakan Creep Feed mengandung Black Soldier Fly.
Maggot (Larva Black Soldier Fly) merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki beberapa keunggulan antara lain mudah didapatkan, kandungan protein yang tinggi sebesar 40%-50%, asam amino glisin dan methionin untuk pembentukan darah. Maggot dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bungkil kedelai yang memiliki kandungan protein tinggi sebagai bahan baku pakan sumber protein. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung maggot dengan media bungkil sawit sebagai pengganti bungkil kedelai dalam creep feed terhadap konsumsi nutrien dan gambaran hematologi darah anak kambing PE pasca sapih. Peubah yang diamati adalah konsumsi nutrien dan hematologi darah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan pada anak kambing PE pasca sapih sebanyak 15 ekor dengan bobot berkisar 14.58±1.81kg. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 : 30% hijauan + 70% creep feed (0% tepung maggot), P1 : 30% hijauan + 70% creep feed (15% tepung maggot), P2 : 30% hijauan + 70% creep feed (30% tepung maggot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung maggot (Larva Black Soldier Fly) pada creep feed signifikan (P0.05) konsumsi bahan kering, abu, serat kasar, TDN, jumlah eritrosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah leukosit, limfosit, eosinofil, monosit dan basofil. Penggunaan tepung maggot (Larva Black Soldier Fly) dapat menggantikan bungkil kedelai pada creep feed sampai kadar 30%
Churn Analysis and Prediction For A Product Customer Based on Survival Analysis and Random Forest
Salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan adalah loyalitas konsumen. Loyalitas konsumen biasanya ditunjukkan oleh tingkat churn konsumen. Loyalitas konsumen telah disarankan menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh banyak perusahaan di era sekarang ini. Pada perusahaan dengan skala besar dan luas, churn menjadi masalah berkurangnya laba perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu mengembangkan metodologi yang konsisten dan sistematis untuk menangani churn konsumen. Hal ini dapat diatasi dengan analisis daya tahan dan random forest untuk menghasilkan solusi penangan konsumen churn. Analisis daya tahan digunakan untuk memberikan label churn atau tidak pada konsumen dengan mempertimbangkan definisi yang diberikan perusahaan untuk konsumen churn seberapa lama konsumen tidak kembali berbelanja. Setelah pelabelan dilakukan, baru dapat dilakukan pembentukan model prediksi untuk konsumen menggunakan random forest. Dalam analisis daya tahan delapan puluh persen dari konsumen loyal di perusahaan ritel ini memiliki karakteristik untuk melakukan pembelian kembali setelah hari ke-121 pasca transaksi pertama mereka, hal ini digunakan untuk melabelkan konsumen agar dapat dibentuk model prediksi. Random forest sebagai salah satu metode supervised learning dapat menggambarkan masalah churn konsumen. Menggunakan nilai hyperparameter random forest yang telah dioptimalkan dapat menghasilkan kinerja random forest yang cukup baik untuk menggambarkan churn konsumen. Akurasi total model ini adalah 77.60% , sensitivitas 82.25% dan spesifisitas 68.76%. Namun untuk dapat menggambarkan konsumen churn dengan data tidak seimbang diperlukan perhitungan precision, recall, dan f1 score. Peneliti mendapatkan 83.35% pada precision, 82.25% pada recall, dan 82.80% pada f1 score. Terakhir nilai AUC yang diperoleh adalah 0.810. Random Forest mengindikasi bahwa rata-rata transaksi dan jumlah pengeluaran rata-rata adalah faktor utama yang dapat membedakan churn konsumen dan bukan. Random Forest juga menyimpulkan bahwa penggunaan saluran otomatis dan manual untuk berbelanja tidak secara signifikan memengaruhi churn konsumen. Setelah performa random forest cukup baik dibentuk web app sederhana untuk melakukan pengotomatisan prediksi churn konsumen
Profil Metabolit Sekunder dan Kualitas Daun Enam Aksesi Kelor (Moringa oleifera Lam.).
Kelor (Moringa oleifera L.) merupakan tanaman perdu yang dimanfaatkan
daun dan bijinya dalam bentuk kapsul sebagai suplemen. Kelor memiliki sumber
keragaman yang tinggi berdasarkan pertumbuhan, produksi, dan kualitas yang
disebabkan dari perbedaan asal kelor. Penelitian terdiri dari dua percobaan.
Penelitian pertama bertujuan mengetahui informasi data pertumbuhan dan panen
serta profil metabolit sekunder daun kelor dari enam aksesi. Penelitian kedua
bertujuan menentukan kombinasi yang sesuai antara aksesi dan pengeringan untuk
mendapatkan kadar vitamin C, kalium, dan kalsium serta kemampuan rehidrasi
yang tertinggi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai September 2019
di Kebun Percobaan Leuwikopo, Dramaga, Bogor. Percobaan pertama
menggunakan Rancangan Acak Lengkap satu faktor yaitu aksesi. Percobaan
kedua dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu aksesi dan suhu pengeringan. Aksesi daun
kelor terdiri dari 6 aksesi yaitu Bogor, Cirebon, Kediri, Lhokseumawe, Pasuruan,
dan Probolinggo. Pengeringan daun kelor dilakukan menggunakan food
dehydrator dengan suhu 35 oC, 45 oC, dan 55 oC. Percobaan pertama
menghasilkan aksesi tanaman kelor dengan pertumbuhan dan bobot panen
tertinggi adalah aksesi Cirebon. Profil metabolit sekunder yang terkandung dalam
enam aksesi daun kelor adalah terpenoid, karotenoid, steroid, saponin, dan
alkaloid. Hasil percobaan kedua menunjukkan bahwa pada semua aksesi, suhu
pengeringan 35 oC menghasilkan kualitas kelor terbaik
Identifikasi Enteropatogen sebagai Dasar Manajemen Diare Monyet Ekor Panjang di Fasilitas Penangkaran IPB Dramaga
Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang (MEP) merupakan salah satu satwa primata yang digunakan sebagai hewan laboratorium dan/atau hewan model dalam penelitian biomedis. Diare merupakan salah satu masalah karena menyebabkan angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi, serta perlu diatasi dengan baik dalam manajemen kesehatan satwa primata di penangkaran. Ketuntasan pengendalian diare membutuhkan intervensi klinis untuk menghasilkan konsep manajemen diare, sehingga penelitian ini dilakukan untuk 1) mengidentifikasi enteropatogen dari sampel feses, pakan, dan sumber air minum, 2) menyusun langkah intervensi klinis, dan 3) merumuskan konsep manajemen diare MEP.
Sampel penelitian dikoleksi dari fasilitas penangkaran monyet ekor panjang IPB Dramaga yang terdiri dari: 1) feses (n=30) untuk identifikasi enterobakteria, rotavirus dan endoparasit, 2) air (n=6) dan pakan (n=2) diuji untuk mengetahui jumlah Escherichia coli dan coliform. Isolat enterobakteria yang didapat dilakukan pengujian resistensi antibiotik untuk menentukan sensitivitasnya terhadap berbagai antibiotika. Pengambilan sampel feses diawali dengan pengamatan kejadian diare selama seminggu pada setiap kandang (total 18 kandang dengan 310 ekor MEP) dan kembali diamati selama seminggu setelah pemberian pengayaan lingkungan (penambahan rantai untuk brachiasi dan drum plastik).
Total kejadian diare pada MEP di fasilitas penangkaran IPB Dramaga adalah 9.67%. Bakteri dari sampel feses teridentifikasi E. coli 100% (30/30), Salmonella enteritidis 97% (29/30), dan Shigella sp. 60% (18/30), serta rotavirus tidak teridentifikasi. Endoparasit yang teridentifikasi antara lain Strongyloides sp., Trichuris sp., dan Entamoeba sp. masing-masing dari satu sampel (3.33%), serta Balantidium coli 23.33% (7/30). Kontaminasi E. coli dan coliform pada sampel air dan pakan (pisang dan monkey chow) berada di atas batas minimum. Bakteri enteropatogen yang teridentifikasi memiliki sensitivitas yang baik terhadap siprofloksasin dan gentamisin, serta resistensi tertinggi terhadap eritromisin. Pengayaan lingkungan pada koloni MEP dengan jumlah hewan kurang dari 10 ekor mengalami penurunan kejadian diare sebesar 1%, sedangkan koloni dengan jumlah 10-20 ekor mengalami penurunan kejadian diare sebesar 10%. Oleh karena itu, manajemen diare perlu secara konsisten dilakukan antara lain 1) intervensi air dengan klorinasi untuk mengurangi jumlah bakteri, 2) penanganan pakan yang baik pada gudang penyimpanan, 3) melakukan sanitasi dengan desinfektan sesuai dengan standar baku di penangkaran, 4) pengobatan diare secara intensif pada individu MEP berupa terapi cairan dan antibiotik, dan 5) pencegahan endoparasit dengan memberikan ivermectin dan metranidazol setiap tiga bulan sekali
Peningkatan Skala Produksi Starter Kering Bakteri Proteolitik (Bacillus aerophilus) untuk Fermentasi Kopi
Pemanfaatan starter kering bakteri yang diisolasi dari feses luwak saat ini sedang dikembangkan. Namun, perkembangan starter kering bakteri masih dalam skala kecil. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatan kondisi proses yang baik untuk produksi starter kering pada skala 1 L, mendapatkan kinerja bakteri proteolitik yang sama antara skala 100 ml dengan skala 1 L,serta melakukan pengujian terhadap viabilitas bakteri setelah dikeringkan. Bakteri yang digunakan adalah bakteri proteolitik Bacillus aerophilus diinkunbasikan pada shaker untuk skala 100 ml dan reaktor untuk skala 1 L. Kondisi proses yang digunakan saat inkubasi bakteri pada skala 100 ml adalah suhu 37 oC, kecepatan putar 100 rpm sedangkan pada skala 1 L adalah suhu 30 oC, kecepatan putar 50 rpm yang didapatkan dari hasil perhitungan kesamaan Relative Centrifugal Force (RCF). Pembuatan starter kering dilakukan dengan menginokulasikan bakteri pada bahan pengisi biji kopi Arabika (1:1 v/b). Pengujian viabilitas bakteri dilakukan dengan pengukuran jumlah bakteri menggunakan metode Total Plate Count. Waktu optimum untuk pemanenan bakteri dilakukan pada waktu inkubasi 18 jam saat fase eksponensial pertumbuhan dan aktivitas enzim optimum yaitu 0.38 U/ml. Starter kering yang dihasilkan memiliki kadar air sebesar 9.86% dengan aktivitas enzim 0.32 U/ml dan viabilitas bakteri sebesar 96.76% . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses produksi starter kering memiliki kondisi proses dan viabilitas yang sama antara skala 100 ml dengan skala 1 L
Karakteristik Residu Garam Rumput Laut Hijau (Halimeda micronesica) sebagai Bahan Baku Sediaan Body Scrub
Rumput laut hijau dan residu garam rumput laut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk salah satunya produk body scrub. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dari bahan baku serta menentukan formulasi body scrub terbaik H. micronesica pada konsentrasi 3, 6, dan 9% (b/b). Penelitian dilakukan dalam dua tahapan kerja yaitu persiapan karakterisasi bahan baku serta pembuatan basis sedian body scrub dilanjutkan dengan karakterisasi terhadap body scrub yang dihasilkan. Rumput laut H. miconesica memiliki kandungan mineral tinggi, Mg didapatkan 3.85 mg/g, Fe 0.45 mg/g, K 0.56 mg/g, sedangkan unsur Ca memiliki kadar 191.34-276.35 mg/g. Senyawa aktif yang terkandung pada bahan baku berupa alkaloid, saponin dan steroid. Body scrub memiliki nilai pH 7.07-7.25, emulsi stabil, mampu mempertahankan kelembaban kulit, total mikroba 1.0x10-1-2.5x10-2 CFU/mL, daya sebar 1.95-2.4 cm. Produk terpilih body scrub dari hasil uji sensori didapatkan body scrub terbaik pada rumput laut utuh 9% (HU9) dan residu garam rumput laut 9% (HR9). Antioksidan yang didapat pada metode CUPRAC 192.58-217.32 μM/g dan metode DPPH dengan IC50 sebesar 55.81 ppm dan 68.47 ppm