31665 research outputs found
Sort by
Pengembangan Prototipe Modul Kustomisasi Produk Pada Website Marketplace Menggunakan Metode Design Thinking
Belanja online menjadi tren yang mengubah kebiasaan masyarakat dalam
kegiatan perdagangan. Salah satu kebiasaan masyarakat dalam belanja online yaitu
adanya keinginan personalisasi terhadap produk. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengembangkan fitur kustomisasi produk pada website marketplace. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Design Thinking. Penelitian ini
menghasilkan prototipe kustomisasi produk pada website marketplace hingga tahap
medium-fidelity yang telah diuji coba kegunaan. Pengujian diukur berdasarkan
aspek performance dan satisfaction. Pengujian pertama dilakukan dengan metode
remote testing. Pada aspek performance, nilai success rate 75% dan miss click rate
53%. Pada aspek satisfaction, prototipe pertama mendapatkan nilai 4.25 dari 6,
yaitu “Cukup mudah” untuk digunakan. Kemudian dilakukan pengujian kedua
dengan metode guerrilla testing dan remote testing. Hasilnya didapatkan kenaikan
persentase pada aspek performance yang cukup signifikan. Pada aspek satisfaction,
prototipe kedua mendapatkan nilai 4.55 dari 6 yaitu “Cukup mudah”, tetapi masih
ada responden yang mengalami kesulitan dalam menggunakan prototipe tersebut
Dukungan Sosial, Strategi Koping, dan Kesejahteraan Subjektif Remaja pada Keluarga Utuh dan Tidak Utuh.
Masa remaja identik dengan periode perubahan multidimensi yang dapat menyebabkan permasalahan perilaku dan suasana hati. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan sosial dan strategi koping terhadap kesejahteraan subjektif remaja pada keluarga utuh dan tidak utuh. Penelitian ini melibatkan 100 orang remaja yang terdiri dari 50 remaja dari keluarga utuh dan 50 remaja dari keluarga tidak utuh. Sampel diperoleh melalui disproporsionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji beda T-test, uji korelasi dan Structural Equation Model (SEM). Tidak terdapat perbedaan nyata pada karakteristik remaja, karakteristik keluarga, dukungan sosial, strategi koping, dan kesejahteraan subjektif remaja antara keluarga utuh dan tidak utuh. Perbedaan nyata hanya terdapat pada variabel karakteristik remaja yakni usia remaja dan karakteristik keluarga yakni besar keluarga. Hasil bootstrapping menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh langsung positif signifikan terhadap kesejahteraan subjektif remaja
Escherichia coli Resistan Antibiotik pada Daging Kebab yang Dijual di Sekitar Kampus IPB Dramaga
Kebab merupakan makanan siap saji yang berasal dari Timur Tengah dan
telah dikenal di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kebab telah menjadi
makanan favorit di kalangan mahasiswa IPB Dramaga. Kebab banyak dikaitkan
dengan beberapa masalah dalam kualitas mikrobiologik dan formulasi. Pangan
asal hewan dapat bertindak sebagai media pembawa patogen penyebab foodborne
disease dan material genetik yang resistan terhadap antibiotik. Escherichia coli
(E. coli) dapat menyebabkan foodborne disease dan dapat resistan terhadap
antibiotik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan dan resistansi
E. coli terhadap antibiotik pada daging kebab yang dijual di sekitar Kampus IPB
Dramaga. Total 43 sampel daging kebab diambil dari seluruh pedagang kebab
dalam radius 2 km dari batas terluar Kampus IPB Dramaga. Pengujian
Escherichia coli pada sampel daging kebab mengacu pada SNI 2897:2008 dari
Badan Standardisasi Nasional tentang Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam
Daging, Telur, dan Susu, serta Hasil Olahannya. Uji Resistansi dilakukan
terhadap 10 jenis antibiotik (ampisilin, amoksisilin-klavulanat, sefotaksim,
gentamisin, trimetoprim-sulfametoksasol, siprofloksasin, enrofloksasin,
oksitetrasiklin, kloramfenikol, dan kolistin sulfat) menggunakan metode Kirby
Bauer disk diffusion, berdasarkan standar Clinical Laboratory Standards Institute
(CLSI).
Hasil penelitian menunjukkan 9 sampel positif E. coli (9/43; 20.9%) serta
isolat yang diperoleh sebanyak 19, dan diantaranya terdapat E. coli O157:H7
(6/19; 31.6%), serta E. coli O157 (7/19; 36.8%). Sebanyak 84.2% (16/19) isolat
E. coli resistan terhadap 9 jenis antibiotik, yaitu: gentamisin (57.9%); ampisilin
(26.3%); sefotaksim, trimetoprim-sulfametoksasol, dan siprofloksasin (21.1%);
amoksisilin-klavulanat dan kolistin sulfat (10.5%); enrofloksasin dan
oksitetrasiklin (5.3%). Semua isolat E. coli sensitif terhadap kloramfenikol
(100%). Isolat E. coli O157:H7 menunjukkan resistansi terhadap 6 jenis antibiotik
(ampisilin, amoksisilin-asam klavulanat, gentamisin, siprofloksasin, enrofloksasin,
kolistin sulfat). Semua isolat E. coli O157:H7 sensitif terhadap trimethoprimsulfametoksasol,
oksitetrasiklin, dan kloramfenikol. Hasil penelitian menunjukkan
21.1% isolat E. coli juga resistan terhadap 3 atau lebih kelas antibiotik yang
dikenal sebagai multi-drug resistant (MDR) dan satu isolat termasuk strain E. coli
O157:H7. Keberadaan E. coli resistan antibiotik pada daging kebab menyebabkan
masalah serius terhadap kesehatan masyarakat
Hubungan Dinamika Kelompok dengan Pengelolaan Desa Wisata Berkelanjutan
Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kegiatan pariwisata di Indonesia.
Melalui pengembangan desa wisata diharapkan terjadi pemerataan yang sesuai
dengan konsep pembangunan pariwisata yang berkesinambungan, namun pada
pengelolaannya terdapat beberapa permasalahan. Pengelolaan desa wisata tidak
akan berjalan dengan baik apabila kelompok yang mengelolanya tidak memiliki
kekuatan untuk bertahan. Kekuatan-kekuatan yang ada di dalam kelompok
tersebut yang membuat kelompok secara aktif dapat mencapai tujuannya disebut
dinamika kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
dinamika kelompok dengan pengelolaan desa wisata berkelanjutan. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif dengan
responden sebanyak 57 orang. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan
bahwa terdapat hubungan tidak nyata antara karakteristik individu dengan
dinamika kelompok dan terdapat hubungan sangat nyata antara variabel dinamika
kelompok dengan pengelolaan desa wisata berkelanjutan pada indikator
pengelolaan lingkungan dan sosial budaya berkelanjutan, namun pada indikator
pengelolaan ekonomi menunjukkan hubungan tidak nyata antara dinamika
kelompok dengan tingkat pengelolaan ekonomi berkelanjutan
Prosedur Pendataan Hasil Tangkapan dan Pelaksanaannya: Studi Kasus Pelabuhan Perikanan di Jakarta
Data hasil tangkapan ikan diperlukan untuk mengkaji dan membuat kebijakan
pengelolaan perikanan berkelanjutan. Data hasil tangkapan ikan diperoleh dari
pelabuhan perikanan. Sistem pencatatan di pelabuhan perikanan mengindikasikan
adanya peluang terjadinya ketidak akuratan data hasil tangkapan, baik karena
tidak tercatat, hilang ataupun tidak sesuai. Bila hal ini tidak diidentifikasi dan
diatasi maka kebijakan pengelolaan perikanan dapat tidak sesuai kondisi
sumberdaya yang sesungguhnya. Penelitian mengidentifikasi peluang terjadinya
data hilang di pelabuhan perikanan DKI Jakarta, menganalisis kinerja sistem
pendataan hasil tangkapan ikan, dan merekomendasikan saran tindak perbaikan.
Penelitian dilakukan dengan metode observasi langsung di lapang, wawancara
mendalam serta analisis deskriptif komperatif antara pelaksanaan sistem
pendataan dengan standar prosedur yang ditetapkan. Diagram tulang ikan
(fishbone) digunakan untuk menggambarkan permasalahan yang ditemukan dan
menjadi dasar penyusunan rekomendasi perbaikan terhadap penyebab hilangnya
data hasil tangkapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang data hilang
saat proses pengambilan data di PPS Nizam Zachman, PPN Muara Angke, dan PP
Cilincing masing-masing sebesar 8,33%, 25%, dan 100%. Salah satu
penyebabnya adalah tidak adanya standar baku prosedur pengambilan data hasil
tangkapan yang mengatur secara rinci mekanisme pengambilan data beserta
perlengkapannya. Penyebab lainnya adalah kurangnya sarana prasarana, jumlah
tenaga pendata, dan kesadaran akan pentingnya data. Oleh karena itu, perlu
dilakukan peningkatan sarana prasarana, sumberdaya manusia dan perlu dibuatnya
standar operasional pendataan hasil tangkapan agar dalam pelaksanaannya tidak
ada lagi kesalahan sehingga data hasil tangkapan ikan merupakan data yang baik,
benar dan dapat dipertanggungjawabkan
Metabolomik Tobangun (Coleus amboinicus (Lour.)) dan Pengaruhnya Terhadap Apotosis sel Kanker WiDr
Coleus amboinicus (Lour.) atau daun torbangun tersebar luas di negara-negara tropis dan telah digunakan secara tradisional sebagai stimulant ASI, bahan pemberi flavor dalam sejumlah masakan dan obat tradisional untuk mengobat sejumlah penyakit. Sifat anti-kanker melalui efek pro-apoptotik dan antiproliferasi torbangun telah dipelajari dalam sejumlah sel kanker. Akan tetapi, mekanisme dan senyawa bioaktif torbangun terhadap sel kanker kolon belum dipelajari lebih dalam. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi potensi kandungan senyawa aktif torbangun dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan proliferasi sel kanker kolon WiDr. Pada penelitian ini, dievaluasi sitotoksisitas ekstrak torbangun dalam metanol serta ekspresi gen-gen yang berhubungan dengan apoptosis. Kontribusi lain dari penelitian ini adalah mengidentifikasi senyawa aktif dalam torbangun dengan aktivitas anti kanker menggunakan pendekatan metabolomik dan memvalidasi hasil yang diperoleh.
Penelitian pertama disertasi ini difokuskan pada investigasi komposisi senyawa-senyawa penting dalam torbangun. Kadar fenolik dan flavonoid total juga ditentukan menggunakan metode kolorimetri. Analisis GC-MS digunakan untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia dalam torbangun yang diekstrak secara bertahap menggunakan pelarut dan campuran pelarut dari nonpolar-semipolar dan akhirnya pelarut polar menggunakan teknik ekstraksi cairan bertekanan. Data yang diperoleh menghasilkan kandungan fenolik dan flavonoid dalam ekstrak torbangun berturut-turut sebesar 42.174 ± 2.957 mg GAE eq./g dan 11.199 ± 0.576 mg QE eq/g. Kandungan senyawa kimia yang berhasil teridentifikasi dalam torbangun adalah gula, hidrokarbon, keton, terpena, fenolik, asam lemak, alkohol, steroid, alkaloid dan lain-lain serta kandungan yang utama adalah senyawaan fenol, alkana dan gula. Senyawa bioaktif yang paling banyak terdapat dalam torbangun adalah asam kafeat yang teridentifikasi dalam seluruh fraksi, serta paling tinggi berada dalam pelarut polar. Hasil ini mengkonfirmasi bahwa torbangun mengandung sejumlah senyawa penting yang beberapa diantaranya terekstrak hanya dalam pelarut tertentu.
Penelitian kedua pada disertasi ini adalah pengujian sitotoksisitas torbangun menggunakan udang laut Brine Shrimp Lethality Assay (BSLA) dan viabilitas sel WiDr menggunakan uji MTT. Ekspresi sejumlah gen yang bertanggungjawab terhadap kematian sel terprogram dari ekstrak torbangun dalam metanol juga diteliti. Morfologi sel yang mengalami apoptosis dideteksi menggunakan uji pewarnaan Hoechst. Ekspresi gen BAX, BCL2, P53, CASPASE 1,7,8 dan 9 dari sampel yang diberi perlakuan ekstrak pada sejumlah konsentrasi (10, 15, 25 & 50 μg/ml) diukur menggunakan Real Time PCR. Konsentrasi letal (LC50) ekstrak menggunakan udang laut yang diperoleh adalah 34.545 μg/ml dan ekstrak memberikan aktivitas penghambatan viabilitas baik terhadap sel kanker WiDr dengan nilai IC50 (8.598±2.68 μg/ml) dibandingkan dengan kontrol positif obat antikanker 5-flurourasil (IC50 1.839±0.03 μg/ml). Sel yang diberi perlakuan
5
terdapat bukti terjadinya apoptosis berdasarkan morfologi sel. Hasil ekspresi gen menunjukan mekanisme kematian sel untuk ekstrak torbangun pada konsentrasi rendah sesuai dengan apoptosis dengan jalur intrinsik.
Penelitan terakhir disertasi ini adalah aplikasi pendekatan metabolomik untuk mengidentifikasi senyawa aktif dengan sitotoksisitas tinggi terhadap sel kanker kolon WiDr. Data spektroskopi HNMR yang dihubungkan dengan aktivitas sitotoksik pada tiap fraksi dari ekstaksi komprehensif dievaluasi menggunakan analisis multivariate OPLS. Hasil yang diperoleh mengungkap asam ursolat (UA) dan asam oleanolat (OA) diduga sebagai senyawa aktif dengan aktivitas sitotoksik yang tinggi teridentifikasi menggunakan model OPLS. LC MS/MS mengonfirmasi keberadaan senyawa-senyawa ini dalam seluruh fraksi dengan konsentrasi tertinggi pada pada fraksi yang memiliki sitotoksisitas tinggi. Nilai IC50 dari penghambatan asam ursolat terhadap sel WiDr adalah 0.957±0.0190 μM. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan obat standar 5-Fluorourasil (nilai IC50 13.238 ± 9.95 μM). Uji pewarnaan Hoechst juga mengonfirmasi terjadinya apoptotis pada sel yang diberi perlakuan asam ursolat. Ekspresi beberapa gen yang bertanggungjawab terhadap apoptosis menggunakan Real Time PCR dari sel yang diberi perlakuan asam ursolat menunjukkan mekanisme apoptosis asam ursolat dalam sel WiDr sesuai dengan jalur intrinsik.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah, disertasi ini memberikan bukti ilmiah bahwa torbangun ternyata mengandung sejumlah senyawa penting dan dapat menjadi sumber senyawa antikanker yang efektif. Torbangun juga berpotensi dijadikan sebagai bahan baku makanan kesehatan untuk mencegah kanker kolon
Karakterisasi Habitat dan Perilaku Mencari Makan Semut Pheidole (Hymenoptera: Formicidae) di Area Kampus Institut Pertanian Bogor
Semut Pheidole merupakan salah genus semut yang bersifat agresif
sekaligus invasif. Genus ini dapat hidup di berbagai habitat dan berasosiasi dengan
manusia sehingga berpotensi menjadi hama permukiman. Penelitian ini bertujuan
memberikan informasi mengenai karakteristik habitat dan perilaku mencari makan
semut Pheidole di area kampus Institut Pertanian Bogor (IPB). Penentuan lokasi
pengamatan berdasarkan metode purposive sampling. Pengamatan karakter
habitat dilakukan pada 10 lokasi yang berada di sekitar bangunan kampus IPB
Dramaga dengan mengamati karakter habitat yang meliputi posisi sarang, vegetasi
sekitar, suhu, kelembapan relatif, dan intensitas cahaya. Pengamatan perilaku
mencari makan dilakukan pada dua kondisi cuaca, yaitu saat cuaca cerah dan
cuaca berawan dengan menggunakan dua jenis umpan, yaitu umpan madu (5 ml)
dan umpan potongan ayam goreng (4 gram) di lokasi yang sama. Indikator yang
diamati saat pengamatan adalah jangka waktu dalam menemukan umpan dan
jumlah semut yang tertarik pada umpan. Pada saat pengamatan, habitat semut
Pheidole di area kampus IPB Dramaga terpantau suhunya yang berkisar antara
26.8-35.2 °C, kelembapan relatif 54-69%, dan intensitas cahaya berkisar 1073-
11830 lux. Semut Pheidole lebih tertarik pada umpan potongan ayam goreng
daripada madu. Faktor cuaca memengaruhi jumlah semut Pheidole yang
mendatangi umpan. Semakin tinggi suhu dan intensitas cahaya, maka semakin
banyak jumlah semut yang mendatangi umpan. Sebaliknya, semakin tinggi
kelembapan relatif, maka semakin sedikit jumlah semut yang mendatangi umpan
Pendugaan Sumber Makanan Tachypleus gigas, T. tridentatus dan Carcinoscorpius rotundicauda (Xiphosura: Limulidae) dengan Aplikasi Isotop Stabil
Mimi merupakan salah satu hewan living fossil yang masih dapat kita
temukan di habitatnya, hal ini dikarenakan mimi dapat mempertahankan morfologi
mereka yang hampir tidak berubah untuk 150 juta tahun terakhir. Terdapat tiga jenis
mimi di Indonesia, yaitu Tachypleus gigas, T. tridentatus, dan Carcinoscorpius
rotundicauda yang tersebar di pesisir utara Jawa (Demak dan Madura) dan
Balikpapan. Populasi mimi dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena
disebabkan oleh faktor kematian alami, penangkapan, dan degradasi habitat serta
kegiatan antropogenik. Demi keberlangsungan keberadaan mimi di habitatnya,
maka perlu dilakukan upaya konservasi mimi dengan dilakukan kajian ilmu
mengenai mimi untuk menghasilkan rekomendasi untuk pelaksanaan upaya
konservasi mimi, salah satunya dengan menganalisis potensi makanan.
Penelitian ini dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu pesisir utara Jawa (Demak dan
Madura) serta pesisir timur Kalimantan (Balikpapan). Pengambilan contoh untuk
lokasi pesisir utara Jawa dilakukan pada bulan Mei sampai Oktober 2019,
sedangkan di pesisir timur Kalimantan pada bulan Oktober hingga November 2019.
Jenis mimi yang tertangkap selama penelitian di ketiga tempat yaitu Sumenep
dan Demak T. gigas dan C. rotundicauda, serta Balikpapan T. gigas, C.
rotundicauda dan T. tridentatus. Total mimi yang tertangkap selama penelitian
berjumlah 755 ekor. Pada analisis isi perut diambil contoh pada masing-masing
lokasi pesisir Madura (T. gigas 7 ekor dan C. rotundicauda 10 ekor), pesisir Demak
(T. gigas 7 ekor dan C. rotundicauda 10 ekor) dan pesisir Balikpapan (T. gigas 12
ekor dan C. rotundicauda 8 ekor). T. tridentatus tidak dilakukan pengamatan isi
perut dikarenakan statusnya terancam punah dan contoh yang didapatkan sangat
sedikit.
Jenis-jenis makanan mimi yang teridentifikasi dikelompokkan menjadi
delapan kelompok selama masa penelitian, yaitu bivalvia, gastropoda, scaphopoda,
crustasea, polychaeta, serasah, echinodermata, dan lain-lain. Semua kelompok
makanan termasuk dalam kategori organisme bentik, hal ini dikarenakan mimi
merupakan organisme bentik dengan posisi mulut berada di tubuh bagian bawah.
Makanan yang paling disukai mimi jenis T. gigas di pesisir Demak adalah
polychaeta. Adapun pada mimi C. rotundicauda, bivalvia merupakan makanan
utama, gastropoda merupakan makanan pelengkap, dan sisanya merupakan
makanan tambahan. Makanan utama mimi T. gigas dan C. rotundicauda di perairan
pesisir selatan Madura sama, yaitu gastropoda. Di perairan pesisir Balikpapan,
makanan utama atau yang paling disukai mimi T. gigas adalah gastropoda dan
bivalvia, sedangkan pada mimi C. rotundicauda adalah gastropoda dan serasah.
Mimi C. rotundicauda di perairan pesisir Balikpapan dan Sumenep, serta
mimi T. gigas di perairan pesisir Sumenep kecenderungan bersifat generalis atau
tidak terlalu selektif dalam memilih sumberdaya makanan di alam. Hal ini
mengindikasikan bahwa jenis tersebut lebih mampu memanfaatkan beragam
sumberdaya makanan di alam. Adapun mimi T. gigas di Balikpapan, T. gigas dan
C. rotundicauda di Demak cenderungan bersifat selektif dalam memilih
makanannya atau bersifat spesialis.
Nilai tumpang tindih relung antara dua jenis mimi di tiga lokasi memiliki tiga
kriteria, yaitu kecenderungan kompetisi tinggi, di perairan pesisir Sumenep,
kompetisi sedang di perairan pesisir Demak, dan kompetisi rendah di perairan
pesisir Balikpapan. Nilai tumpang tindih yang rendah dapat dimanfaatkan untuk
pemulihan dan memperbanyak stok karena tidak bersaing dalam memanfaatkan
makanan terhadap spesies lain yang terdapat di habitatnya.
Hasil dari komposisi isotop stabil menunjukkan nilai yang bervariasi pada
mimi dan potensi sumber makanan. Nilai asimilasi sumber makanan menunjukkan
ada beberapa potensi sumber makanan yang menjadi sumber makanan mimi.
Berdasarkan kedekatan perhitungan asimilasi rasio isotop karbon, substrat
merupakan sumber makanan langsung dari ketiga mimi yang diuji kecuali C.
rotundicauda jantan dan T. tridentatus betina. T. tridentatus memanfaatkan
langsung daun mangrove Sonneratia sp. sebagai sumber makanan.
Berdasarkan hasil analisis tingkat trofik, ditemukan hanya satu serikat trofik
selama penelitian, yaitu omnivora yang cenderung pemakan hewan (2.9<TL3≤3.7).
Hal ini menunjukkan bahwa adanya pemanfaatan bersama satu jenis makanan oleh
dua spesies mimi pada masing-masing lokasi penelitian. Posisi trofik pada mimi
dengan menggunakan analisis isotop stabil menunjukkan hasil yang berbeda.
Berdasarkan tingkat trofik menggunakan isotop stabil, spesies C. rotundicauda di
perairan Sumenep dan C. rotundicauda dan T. gigas di perairan Demak memiliki
tingkat trofik TL2. Tingkat trofik tertinggi terdapat pada spesies T. gigas diperairan
Sumenep dengan tingkat trofik TL5, hal ini diduga sumber makanan T. gigas yang
diasimilasi memiliki δ15N yang lebih rendah dibandingkan dengan spesies lain.
Hasil analisis similaritas pemanfaatan jenis makanan oleh dua jenis mimi
secara spasial di perairan pesisir Demak, Sumenep, dan Balikpapan pada saat
penelitian menunjukkan adanya persamaan. Ditinjau dari tingginya nilai kesamaan
jenis makanan, ada kemungkinan terjadinya kompetisi memperebutkan makanan
antar spesies mimi di ketiga lokasi jika terjadi kelangkaan sumberdaya makanan.
Keberadaan mangrove di sekitar masing-masing lokasi penelitian juga memegang
andil besar dalam mendukung keberadaan sumberdaya makanan bagi dua jenis
mimi. Vegetasi mangrove merupakan tempat mencari makan, oleh sebab itu hutan
mangrove di ketiga lokasi perlu dilestarikan.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut di atas, perlu dilakukan upaya
pengelolaan mimi agar pemanfaatan sumberdaya mimi di masa yang akan datang dapat
berkelanjutan, baik secara ekologis maupun ekonomis. Adapun langkah pengelolaan
mimi yang dapat dilakukan adalah dengan perlindungan habitat
Identifikasi Keragaman Gen Alpha-S1 Casein g.12164G>A pada Kambing Perah di Balitnak
Polimorfisme gen Alpha-S1 Casein (CSN1S1) berimplikasi pada keragaman komposisi susu dan kualitas curd keju. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi keragaman gen CSN1S1 g.12164G>A, berasal dari 67 set DNA terdiri dari kambing PE 5 ekor, saanen 8 ekor, Sapera 51 ekor, dan SaanPE 3 ekor di Balitnak. Polimorfisme diidentifikasi menggunakan PCR-RFLP enzim DdeI standar Phenol-chloroform. Keragaman gen dianalisis menggunakan program Popgen32. Amplifikasi menghasilkan panjang fragmen 438 bp. Enzim DdeI memotong produk PCR menjadi 3 fragmen, yakni 192 pb, 145 pb, dan 101 pb, dinyatakan sebagai alel G, sedangkan alel A apabila terpotong menjadi 2 fragmen, yaitu 337 pb dan 101 pb. Frekuensi alel G tertinggi terdapat pada kambing saanen (0.625), Sapera (0.578), PE (0.400) dan terendah SaanPE (0.333). Frekuensi alel A tertinggi terdapat pada kambing SaanPE (0.667), PE (0.600), Sapera (0.422) dan terendah pada kambing saanen (0.375). Keragamaan tertinggi terdapat pada kambing saanen (0.75). Sebagian besar kambing perah pengamatan berada dalam kesetimbangan Hardy-Weinberg, terkecuali kambing SaanPE. Berdasarkan data keragaman, dapat disimpulkan bahwa kambing perah di Balitnak Ciawi bersifat polimorfik untuk gen CSN1S1 g.12164G>
Pengembangan Zona Pengelolaan Persampahan Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan
Pertumbuhan penduduk Kabupaten Tapin mencapai 1.27% per tahun
berimplikasi terhadap peningkatan jumlah timbulan sampah. Pada tahun 2017
pemerintah hanya mampu mengelola 27.2% dari timbulan sampah yang dihasilkan.
Pengelolaan sampah masih bersifat terpusat sehingga efektifitas pengelolaan
sampah dapat dilakukan dengan zonasi skala kabupaten yang berbasis kewilayahan.
Penelitian ini memiliki tujuan: 1) Menganalisis keselarasan Peraturan Daerah
Nomor 06 Tahun 2015 terhadap Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang
pengelolaan sampah; 2) Mengkaji karakteristik, persepsi, dan partisipasi
masyarakat tentang pengelolaan sampah rumah tangga di kawasan perkotaan dan
perdesaan; 3) Menganalisis penanganan sampah aktual; 4) Mengidentifikasi tipe
kawasan untuk membuat zona pengelolaan sampah; dan 5) Merumuskan arahan
zona pengelolaan dan pengembangan cakupan pelayanan persampahan.
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer
dikumpulkan melalui survei lapang, observasi, kuesioner dan wawancara. Data
sekunder dikumpulkan melalui institusi pemerintah yang terdiri atas data jumlah
rumah tangga, komposisi timbulan sampah, kepadatan penduduk, laju pertumbuhan
penduduk, dan panjang jalan kabupaten. Metode penelitian yang digunakan adalah
content analysis, independent t-test, principal component analysis, k-means cluster,
indeks daya dukung, dan AHP (analytical hierarchy process).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi dan pengambilan
kebijakan pengelolaan sampah telah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 06
tahun 2015. Peraturan daerah tersebut selaras dengan Undang-Undang Nomor 18
tentang pengelolaan sampah.Tingkat pengetahuan masyarakat terkait pengelolaan
sampah sudah cukup baik. Sejalan dengan itu, persepsi juga menunjukkan tingkat
yang positif. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di kawasan
perdesaan lebih rendah dibandingkan kawasan perkotaan. Tidak ada perbedaan
nyata antara tingkat persepsi dan partisipasi di kedua kawasan tersebut. Jumlah
timbulan sampah yang mampu dikelola pemerintah daerah hanya sebesar 25.4
ton/hari (27.2%) dari 93.3 ton/hari sampah. Jumlah sampah yang direduksi sebesar
0.69 ton/hari dengan rincian 0.45 ton/hari sampah organik dikelola TPS3R dan 0.24
ton/hari sampah anorganik dikelola bank sampah.
Zona pengelolaan sampah dibagi menjadi 3 yaitu Zona Tipe 1, 2 dan 3. Zona
Tipe 1 dan Tipe 2 berlokasi di kawasan perkotaan dan sekitarnya namun berbeda
dari jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Berbeda dengan Zona Tipe 1 dan 2,
Zona Tipe 3 berlokasi di kawasan perdesaan dan memiliki jumlah timbulan sampah
yang paling rendah. Zona Tipe 1 dan Tipe 2 merupakan zona yang diproritaskan
untuk pengembangan pelayanan persampahan yang mencakup 73.3% wilayah
Kabupaten Tapin. Bentuk implementasi kebijakan berupa program peningkatan
peran masyarakat dengan menggunakan konsep 3R (reduce, reuse, recycle)