31665 research outputs found
Sort by
Klasifikasi dan Retracking Waveform Data Satelit Altimeter Jason-2 dan Jason-3 di Laut Halmahera
Pengukuran satelit altimeter menghasilkan estimasi tinggi paras laut (sea surface height (SSH)) yang akurat di laut lepas yang tidak mengalami gangguan. Akurasi estimasi SSH sangat dipengaruhi oleh sinyal pantulan yang diterima oleh satelit altimeter (waveform). Waveform di laut lepas umumnya memiliki bentuk ideal (Brown). Namun, pada daerah pantai dan perairan dangkal, pola waveform sangat kompleks (Non-Brown waveform) karena gangguan pantulan sinyal dari daratan. Pendugaan tinggi paras laut dari data satelit altimeter yang berbentuk Non-Brown waveform umumnya menghasilkan nilai SSH yang kurang akurat sehingga perlu dilakukan pemrosesan ulang yang disebut retracking waveform. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klasifikasi waveform, analisis retracking waveform data satelit altimeter pada perairan yang kompleks (teluk, pulau-pulau kecil, dan laut dalam), dan menghitung tingkat akurasi estimasi nilai SSH hasil analisis retracking waveform di Laut Halmahera. Data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data waveform dari Sensor Geophysical Data Record type D (SGDR-D) Jason-2 tahun 2016 hingga 2017 dan Jason-3 tahun 2016 hingga 2018. Algoritma retracking yang digunakan pada penelitian ini yaitu Offset Centre of Gravity (OCOG), Ice, Threshold, dan Improved Threshold.
Waveform di Laut Halmahera pada perairan yang dangkal dan dekat dari daratan mendekati pola peaky sedangkan waveform pada perairan yang dalam namun dekat dari daratan memiliki tren trailing edge yang meningkat. Waveform pada perairan dalam dan jauh dari daratan didominasi oleh pola Brown namun persentase waveform tertinggi adalah kelas Brown waveform dengan titik tengah leading edge tidak tepat pada tracking point. Hasil retracking waveform menunjukkan semua retracker memberikan perbaikan nilai estimasi SSH yang signifikan kecuali retracker OCOG. Retracker yang paling cocok diaplikasikan di Laut Halmahera pada teluk dangkal dan sempit yaitu Threshold 10%, pada teluk dalam dan lebar yaitu Threshold 20%, serta pada perairan dekat pulau-pulau kecil yaitu Threshold 10% dan Threshold 20%. Secara umum, Non-Brown waveform lebih banyak ditemukan di perairan teluk dangkal dan sempit (rata-rata=67,46%) dibandingkan dengan teluk dalam dan lebar (rata-rata=29,04%) dan perairan pulau-pulau kecil (rata-rata=23,22%). Namun demikian, tingkat perbaikan data SSH di perairan teluk dangkal dan sempit lebih tinggi dibandingkan dengan teluk dalam dan lebar serta perairan pulau-pulau kecil dan laut dalam. Persentase peningkatan perbaikan data (IMP) tertinggi yaitu 96,71% dengan algoritma Improved Threshold 10% pada Jason-2 pass 164 yang melewati Teluk Kao. Hasil validasi juga menunjukkan bahwa semua retracker kecuali OCOG memiliki rata-rata korelasi di atas 0.75 dan RMSE di bawah 25 cm pada jarak 5 – 20 km dari daratan. Namun, Threshold 10% merupakan retracker yang paling sering muncul dengan IMP tertinggi sedangkan Ice merupakan retracker konsisten menghasilkan korelasi dan RMSE terbaik dengan korelasi tertingginya yaitu 0.86 dan RMSE terendah 16 cm
Kinerja Liquid Fertilizing Menggunakan Knapsack Power Sprayer pada Sistem Budidaya Vertikultur Tanaman Sawi Pakcoy di dalam Greenhouse.
Liquid fertilizing dengan sprayer yang memiliki nosel yang berbeda dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen tanaman. Penelitian ini bertujuan
menganalisis dan membandingkan kinerja liquid fertilizing menggunakan knapsack
power sprayer pada berbagai kombinasi kecepatan maju aplikasi dan tipe nosel
terhadap pertumbuhan dan hasil produksi budidaya vertikultur tanaman sawi
pakcoy di dalam greenhouse. Pengujian kinerja sprayer dilakukan dengan alat
patternator untuk mendapatkan parameter debit penyemprotan efektif, lebar
penyemprotan efektif, tinggi penyemprotan efektif, diameter droplet, dan kerapatan
droplet. Pengujian kinerja liquid fertilizing dilakukan pada tanaman sawi pakcoy
dengan knapsack power sprayer nosel flat fan dan solid cone untuk memperoleh
tingkat pertumbuhan dan bobot panen tanaman pakcoy. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa liquid fertilizing dengan nosel flat fan dengan kecepatan maju
aplikasi 0.345 m/s menghasilkan laju pertumbuhan dan hasil panen yang paling
optimal dibandingkan nosel solid cone dengan bobot segar rata-rata berturut-turut
sebesar 38.615 gram dan 29.89 gram. Berdasarkan bentuk lubang noselnya, lubang
nosel flat fan lebih panjang dan sempit sehingga cairan keluar dari nosel secara
lebih konsisten dan rapat. Hal ini didukung dengan hasil pengujian kinerja sprayer,
nilai kerapatan droplet nosel flat fan lebih tinggi daripada nosel solid cone, yaitu
76.98 droplet/cm2 dan 55.21 droplet/cm2
Biopelet Torefaksi Kayu Kaliandra (Calliandra calothysrus).
Torefaksi biopelet dapat meningkatkan mutu biopelet seperti sifat
hidrophobik dan kerapatan energi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
mutu biopelet kayu kaliandra dengan proses torefaksi. Serbuk kayu kaliandra
berukuran 40-60 mesh dicetak menjadi biopelet tanpa menggunakan perekat dengan
suhu kempa 180°C selama 10 menit kemudian dilakukan torefaksi. Torefaksi
dilakukan pada suhu 200°C, 230°C, 260°C dan 290°C selama 1 jam. Karakteristik
biopelet torefaksi diuji berdasarkan SNI 8021-2014. Hasil penelitian menunjukkan
torefaksi meningkatkan mutu biopelet. Suhu torefaksi memberikan pengaruh nyata
terhadap karakteristik biopelet (p<0.05). Peningkatan suhu torefaksi meningkatkan
nilai kadar abu, kadar karbon terikat dan nilai kalor serta menurunkan nilai kadar
air, kadar zat terbang, kerapatan, ketahanan dan rendemen biopelet yang
ditorefaksi. Secara umum biopelet yang dihasilkan telah memenuhi syarat SNI
8021-2014. Nilai kadar air, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, kadar abu,
kerapatan, rendemen, ketahanan dan nilai kalor berturut-turut yaitu 1.98-2.78%,
62.58-77.51%, 18.87-34.17%, 0.84-1.27%, 0.83-1.17g/cm3, 71.68-97.62%, 32.18-
46.79%, 4516-5790 kkal/kg
Hubungan Kemampuan Akses Masyarakat terhadap Produk Hasil Hutan Produksi dengan Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga (Kasus Hutan Sanggabuana, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang)
Saat ini status Hutan Sanggabuana merupakan hutan produksi terbatas yang berada di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Masyarakat sekitar hutan dapat memperoleh hasil hutan produksi sesuai dengan kemampuan akses yang dimiliki, diduga semakin tinggi kemampuan akses masyarakat terhadap produk hasil hutan produksi maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan rumah tangga masyarakat. Setelah dilakukan penelitian dengan metode kuantitatif dan kualitatif melalui instrumen kuesioner, wawancara mendalam serta observasi sumber-sumber terkait, kondisi kesejahteraan rumah tangga masyarakat Desa Mekarbuana sudah cukup merata dan tidak didapati kesenjangan yang berarti. Dapat dikatakan tidak terdapat hubungan antara kemampuan akses masyarakat terhadap produk hasil hutan produksi dengan tingkat kesejahteraan rumah tangga masyarakat
Performa Pertumbuhan Meranti Penghasil Tengkawang (Shorea spp.) di Hutan Penelitian Gunung Dahu, Bogor
Tengkawang merupakan jenis lokal Indonesia yang termasuk marga meranti (Shorea spp.) famili Dipterocarpaceae. Penggunaan jenis lokal dalam restorasi, revegetasi, dan rehabilitasi suatu bentang lahan memiliki manfaat ekologi serta jasa lingkungan yang tinggi. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan meranti penghasil tengkawang jenis Shorea pinanga, Shorea macrophylla dan Shorea stenoptera di Hutan Penelitian Gunung Dahu dengan menganalisis keberhasilan penanaman menggunakan karakteristik pertumbuhan tinggi dan diameter atau riap, serta faktor lingkungan tempat tumbuhnya. Hasil analisis menunjukkan perbedaan jenis tengkawang yang ditanam tidak memiliki pengaruh terhadap tinggi dan diameter. Rataan tinggi total dan diameter ketiga jenis sebesar 11.67-12.01 m dan 19.99-24.35 cm. Rata-rata riap diameter CAI dan MAI masing-masing sebesar 0.21-0.27 cm/tahun dan 0.91-1.11 cm/tahun. Sementara, riap tinggi MAI cenderung sama dengan nilai 0.53-0.55 m/tahun. Faktor lingkungan yang berhubungan dengan pertumbuhan tegakan tekstur tanah, kelerengan, ketersediaan ruang tumbuh dan keanekaragaman tumbuhan bawah
Meta-Analisis: Pengaruh Waktu Penggorengan (Deep Fat Frying) Kentang terhadap Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit
Pengolahan pangan dengan penggorengan secara deep fat frying yang berlangsung pada suhu tinggi dapat memberikan pengaruh terhadap minyak goreng sawit (selanjutnya disebut dengan minyak sawit). Salah satu pengaruh dari penggorengan adalah perubahan pada komposisi asam lemak yang terkandung di minyak sawit. Asam lemak yang terkandung pada minyak sawit meliputi asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Perubahan komposisi asam lemak meliputi peningkatan, penurunan, maupun pembentukan asam lemak baru seiring perubahan waktu penggorengan dengan bahan pangan kentang sebagai sampel penggorengan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan meta-analisis dengan menggunakan data dari berbagai literatur terpublikasi yang melaporkan hasil penelitian mengenai pengaruh perlakuan waktu penggorengan deep fat frying makanan (kentang) selama 40 jam terhadap komposisi asam lemak minyak sawit untuk mengetahui waktu penggorengan yang signifikan berpengaruh terhadap komposisi asam lemak setelah penggorengan. Waktu penggorengan selama 40 jam merupakan waktu dari penggorengan sistem batch yang berulang dengan menggunakan sampel kentang baru pada setiap pengulangannya. Lama sekali penggorengan adalah 2.5 – 8 menit. Data dari literatur yang digunakan pada meta-analisis merupakan data yang memiliki jumlah sampel, nilai rata-rata, dan standard deviation atau standard error. Komposisi asam lemak yang menjadi parameter pada penelitian ini adalah asam lemak jenuh yaitu asam laurat (C12:0), asam miristat (C14:0), asam palmitat (C16:0), asam stearat (C18:0), dan asam arakhidat (C20:0); asam lemak tidak jenuh yaitu asam oleat (C18:1), asam linoleat (C18:2), dan asam linolenat (C18:3); total monounsaturated fatty acids/asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA); total polyunsaturated fatty acids/asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA); dan total saturated fatty acids/asam lemak jenuh (SFA); serta asam lemak trans yang diamati secara terpisah.
Materi yang digunakan pada penelitian meta-analisis ini berupa pustaka terpublikasi. Pustaka terpublikasi dikumpulkan dari beberapa database literatur yang dicari melalui internet, meliputi Science Direct (www.sciencedirect.com), Wiley Online Library (www.onlinelibrary.wiley.com), Taylor & Francis Online (www.tandfonline.com), National Center for Biotechnology Information (www.ncbi.nlm.nih.gov), Springer Link (www.link.springer.com), ACS Publications (www.pubs.acs.org), dan Google Scholar (www.scholar.google.com). Pustaka-pustaka hasil pencarian dianalisis dan diseleksi menggunakan inclusion criteria yang telah ditentukan, untuk selanjutnya dibuat dalam bentuk database. Database yang memuat data-data kuantitatif dari 19 pustaka hasil penelusuran literatur metode PRISMA diolah secara meta-analisis Hedges’d menggunakan Microsoft Excel 2013. Pengolahan data menghasilkan nilai-nilai parameter meta-analisis yang selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai effect size gabungan (D+) dan confidence interval 95 % (95% CI) dari masing-masing parameter asam lemak pada waktu penggorengan yang berbeda. Nilai mutlak dari D+ suatu parameter lebih dari 0.80 artinya waktu penggorengan berpengaruh kuat terhadap
parameter tersebut. Nilai D+ dan 95% CI dibuat ke dalam bentuk grafik forest plot dan diagram batang nilai D+, untuk dianalisis perubahan nilainya pada berbagai waktu penggorengan. Nilai D+ ± 95% CI dari dua atau lebih parameter dalam forest plot yang beririsan artinya pengaruh waktu penggorengan terhadap parameter tersebut sama. Data juga disajikan dalam bentuk nilai kisaran absolut untuk masing-masing parameter komposisi asam lemak. Selain itu, effect size gabungan dari meta-analisis diolah menggunakan metode Pearson Correlation untuk melihat korelasi dari berbagai parameter komposisi asam lemak. Korelasi antar dua parameter dikatakan kuat jika nilai R2 lebih dari 0.80.
Minyak sawit yang digunakan sebagai medium penggorengan deep fat frying untuk menggoreng kentang menunjukkan perubahan pada komposisi asam lemaknya terutama asam lemak utama yaitu asam lemak C16:0, C18:1, dan C18:2. Pada minyak sawit kontrol yang masih segar masing-masing asam lemak berkisar 32.09 – 47.86 %, 32.52 – 46.20 %, dan 7.27 – 16.99 %, sedangkan pada minyak sawit setelah penggorengan hingga 40 jam diketahui berkisar 37.21 – 52.25 %, 28.26 – 44.27 %, dan 3.03 – 11.17 %. Dari nilai ini terlihat asam lemak jenuh C16:0 meningkat komposisinya, sedangkan asam lemak tidak jenuh menurun komposisinya.
Meta-analisis menunjukkan waktu penggorengan berpengaruh terhadap komposisi asam lemak, yang ditunjukkan oleh beberapa parameter yang memiliki nilai D+ lebih dari 0.80 atau kurang dari -0.80. Berdasarkan hasil meta-analisis diketahui bahwa semakin bertambahnya waktu penggorengan kentang, pengaruhnya terhadap golongan asam lemak jenuh yaitu asam laurat, asam miristat, asam palmitat, dan asam stearat cenderung semakin besar yang ditandai oleh nilai effect size gabungan yang cenderung meningkat, demikian pula pengaruhnya terhadap asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam linolenat tetapi dengan nilai effect size gabungan yang berlawanan arahnya. Sebaliknya untuk asam arakhidat hanya sedikit dipengaruhi oleh penggorengan yang ditunjukkan oleh nilai effect size gabungan yang cenderung konstan seiring bertambahnya waktu penggorengan.
Waktu penggorengan selama 8 jam atau kurang telah berpengaruh kuat terhadap komposisi asam lemak, terutama C16:0, C18:0, dan C18:2 dengan nilai D+ masing-masing 0.97, 1.33, dan -1.73. Waktu penggorengan ini juga berpengaruh terhadap MUFA, PUFA, dan SFA, meskipun arahnya berlawanan, yaitu MUFA dan PUFA dari minyak sawit setelah penggorengan memiliki nilai D+ masing-masing -1.97 dan -3.00, sedangkan SFA memiliki D+ 2.56. Nilai negatif disebabkan komposisi asam lemak bersangkutan pada minyak setelah penggorengan hingga 8 jam lebih rendah daripada komposisinya pada minyak kontrol (minyak segar).
Waktu penggorengan >8 – 16 jam serta >16 – 24 jam sangat berpengaruh pada komposisi asam lemak trans minyak sawit setelah penggorengan, dengan effect size gabungan masing-masing yaitu 7.64 dan 10.98, yang menunjukkan pengaruh waktu penggorengan yang sangat kuat. Penggorengan hingga 24 jam lebih berpengaruh pada parameter asam lemak trans daripada penggorengan hingga 16 jam, sedangkan waktu penggorengan 0.1 – 8 jam belum mempengaruhi komposisi asam lemak trans minyak sawit (D+ 0.30). Dari keseluruhan parameter, penggorengan kentang berulang (2.5 – 8 menit untuk sekali penggorengan) dengan deep fat frying yang lebih dari 8 jam sangat berpengaruh terhadap komposisi asam
lemak tidak jenuh C18:2 dan C18:3 atau PUFA yang komposisinya lebih rendah daripada kontrol (minyak sawit segar). Waktu penggorengan 0.1 – 8 jam, >8 – 16 jam, >16 – 24 jam, >24 – 32 jam, dan >32 – 40 jam memberikan nilai effect size gabungan -1.73, -2.22, -4.25, -5.46, dan -6.87 untuk C18:2 serta -0.57, -1.49, -1.74, -2.86, dan -2.38 untuk C18:3 berturut-turut. Nilai mutlak D+ tersebut semakin besar dengan semakin lama penggorengan. Hal ini berarti semakin meningkat waktu penggorengan maka akan semakin kuat pengaruh proses penggorengan terhadap komposisi asam lemak C18:2 dan C18:3.
Pengaruh penggorengan lebih dari 8 jam terhadap keberadaan asam lemak trans jauh lebih tinggi (dengan D+ tertinggi 10.98) daripada pengaruhnya terhadap komposisi asam lemak tidak jenuh (C18:2 dengan nilai mutlak D+ tertinggi), pada waktu penggorengan yang sama adalah 4.25. Di antara berbagai jenis asam lemak selain asam lemak trans, penggorengan deep fat frying sangat mempengaruhi komposisi asam lemak C18:2 dengan D+ yang terbesar pengaruhnya adalah -6.87 pada penggorengan hingga 40 jam. Secara umum, semakin lama waktu penggorengan, pengaruhnya terhadap komposisi minyak sawit dilihat dari parameter tersebut semakin besar yang ditunjukkan oleh nilai mutlak effect size gabungan yang meningkat.
Dari sebanyak 36 korelasi berbagai parameter komposisi asam lemak, terdapat 14 korelasi yang memiliki nilai R2 diatas 0.80 yang menunjukkan korelasi antara kedua parameter yang bersangkutan kuat. Diantaranya, terdapat 3 korelasi yang signifikan pada selang kepercayaan 99 % yaitu antara C12:0 dan C14:0, antara C14:0 dan trans total, serta antara C20:0 dan trans total, sedangkan pada selang kepercayaan 95 % terdapat 2 korelasi yang signifikan yaitu antara C14:0 dan C18:0 serta antara C18:1 dan C18:3. Korelasi ini menunjukkan terdapat asam lemak jenuh, asam lemak tidak jenuh, dan asam lemak trans yang berkorelasi kuat sehingga dapat menjelaskan hubungan dari penurunan asam lemak tidak jenuh yang bertransformasi membentuk asam lemak jenuh serta asam lemak trans
Penampilan Produksi Ayam Broiler yang Dipelihara pada Kandang Terbuka di Lingkungan yang Berbeda
Penelitian ini dilakukan di PT Ciomas Adi Satwa yang berlokasi di Cibedug dan
Exflas Farm yang berlokasi di Parung, Bogor. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis deskriptif. komsumsi pakan, PBB, bobot badan ayam pada
umur panen selama 5 minggu di PT Ciomas Adi Satwa (masing-masing
1 026.28, 505.77 dan 2 009.67 g ekor-1) lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi
pakan, PBB dan bobot badan ayam pada umur panen di Exflas Farm (masing-masing
785.90, 279.19 1 260.03 g ekor-1). Tingkat mortalitas ayam di PT Adi Satwa rendah
yaitu (8.85%) jika dibandingkan dengan tingkat mortalitas ayam di Exflas Farm
(27.68%). Konversi pakan (FCR) ayam yang dipelihara di PT Ciomas Adi Satwa lebih
rendah (2.03) dan Exflas Farm (2.81). Indeks Performa ayam yang dipelihara PT
Ciomas Adi Satwa adalah (264.87) dan di Peternakan Exflas Farm adalah (94.95).
Kondisi iklim mikro di sekitar kandang lebih baik dan lebih nyaman untuk beternak
ayam pedaging di PT Ciomas Adi Satwa. Kinerja produksi ayam broiler di PT Ciomas
Adi Satwa lebih baik dibandingkan dengan Exflas Farm
Penentuan Unsur Terpenting di antara N, P, K untuk Produksi dan Kualitas Buah Okra melalui Metode Minus One Test
Okra dikenal memiliki berbagai kegunaan dari mulai daun segar, buah muda
dan biji. Kandungan metabolit sekunder okra antara lain total fenolik, flavonoid,
kuersetin dan aktivitas antioksidan. Biji okra mengandung minyak yang terdiri
dari lemak tak jenuh. Unsur hara makro (N, P, K) diperlukan untuk pertumbuhan
dan produksi buah okra. Penelitian tentang pengaruh unsur hara makro yang
menjadi faktor pembatas pertumbuhan dan produksi buah okra belum banyak
dilakukan. Metode minus one test dapat digunakan untuk mengkombinasikan
unsur hara N, P, K pada perlakuan pemupukan tanaman okra. Tujuan penelitian
ini adalah mengetahui pengaruh perlakuan kombinasi N, P, K menggunakan
metode minus one test untuk produksi dan kualitas buah okra.
Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB di Leuwikopo,
Dramaga, Bogor pada bulan Juli – Oktober 2018. Rancangan percobaan yang
digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan satu
faktor, yaitu perlakuan kombinasi pemupukan N, P, K yang terdiri dari tanpa
pemupukan, pemupukan N+P+K + pukan, pemupukan N+P+K, pemupukan N+P
(-K), pemupukan N+K (-P), pemupukan P+K (-N). Aplikasi pupuk dilakukan
secara bertahap pada -5, 15, 40, 65 dan 90 hari setelah pindah tanam dengan total
dosis pupuk yg digunakan adalah 300 kg urea/ha, 150 kg SP36/ha, dan 150 kg
KCl/ha. Pengamatan terdiri atas tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang,
kadar pigmen dan hara daun. Panen buah okra muda dilakukan 4-6 hari setelah
antesis, sedangkan panen biji okra dilakukan setelah buah kering di tanaman (± 30
hari setelah berbunga). Peubah produksi buah terdiri atas jumlah buah, bobot
basah buah, bobot buah per tanaman dan per bedeng 4.25 m2, jumlah buah kering,
jumlah biji per buah, bobot kering per buah dan 100 biji. Pengamatan kualitas
buah terdiri atas ukuran, kelunakan, hara buah dan biji, metabolit sekunder buah
(total fenol, total flavonoid, antioksidan, asam fitat, asam lemak biji).
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh signifikan dari perlakuan
pemupukan metode minus one test hanya pada peubah kadar hara Mg daun,
persen relatif diameter batang, laju tumbuh relatif (rentang umur 32-48 HSP),
diameter buah, bobot biji per tanaman, persen relatif bobot biji per tanaman,
kandungan hara P biji dan persen relatif serapan hara P total. Perlu kajian lebih
lanjut karena ada indikasi tanpa N menyebabkan nilai pertumbuhan vegetatif
tanaman, pigmen daun, bobot basah buah muda, kelunakan buah, pigmen buah
(karoten dan total klorofil), produksi biji okra, kadar N buah serta biji dan kadar
total fenol lebih rendah. Tanpa P diduga menurunkan diameter buah okra, jumlah
buah kering per tanaman, kadar Ca buah, kadar Ca serta Mg biji dan produksi
asam fitat, tetapi nilai IC50 dan asam lemak biji okra tinggi. Tanpa K diduga
menurunkan produksi buah okra, kadar P dan K buah, kadar P dan K biji serta
kadar total flavonoid
Analisis Kualitas Infrastruktur Transportasi Laut Terhadap Ekspor Manufaktur Intra-ASEAN+3 dengan Pendekatan Panel Spasial
ASEAN merupakan kawasan ekonomi yang melakukan kerjasama perdagangan bebas dengan negara anggota maupun non anggota ASEAN. Salah satu bentuk kerjasama yang dilakukan adalah Free Trade Area ASEAN+3 yang menghasilkan prefential tariff. Sektor manufaktur merupakan salah satu sektor unggulan yang mengalami pergerakan fluktuaktif. Hal itu terjadi karena adanya faktor lain yang mempengaruhinya yaitu kualitas pelabuhan, indeks pengiriman jaringan global, dan efek spasial yang diakibatkan karena kondisi ASEAN+3 yang saling berdekatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peranan infrastruktur transportasi laut dan pengaruh efek spasial terhadap ekspor manufaktur intra-ASEAN+3. Penelitian ini menggunakan sembilan negara anggota ASEAN+3 dari tahun 2007-2017. Spatial Error Model dipilih sebagai model terbaik. Berdasarkan hasil estimasi SEM, diperoleh kesimpulan bahwa kelima variabel yang digunakan positif dan signifikan terhadap ekspor manufaktur intra-ASEAN+3. Selain itu disimpulkan bahwa terdapat efek spasial yang mempengaruhi ekspor manufaktur intra-ASEAN+3
Studi Gelombang Internal di Kawasan Perairan Pulau Weh, Aceh.
Wilayah bagian selatan gugusan kepulauan Andaman-Nikobar yang berbatasan dengan perairan barat laut Sumatera dikenal sebagai salah satu wilayah pembangkitan dan perambatan gelombang soliton internal (internal solitary waves ISWs) yang kuat. Hal ini diduga karena arus pasang surut (pasut) barotropik semidiurnal yang kuat dari Samudera Hindia membentur dangkalan punggung laut (ridge) yang memanjang dari lepas pantai Pulau Breueh ke arah barat laut sehingga membangkitkan gelombang pasut internal. Tujuan dari penelitian ini adalah memetakan rona permukaan laut dari gelombang pasut internal yang terdeteksi oleh satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) Sentinel-1A, serta mempelajari mekanisme pembangkitan gelombang internal dengan analisis pola arus pasut di sekitar ridge dan kawasan perairan Pulau Weh Aceh terkait dengan pembentukan dan propagasi gelombang internal. Data citra satelit Sentinel-1A bulan Januari-Mei 2018 diperoleh dari Pusfatja LAPAN dan Alaska Satellite Facility (ASF), sedangkan data arus pasut dari hasil simulasi model sirkulasi laut dengan sistem Coastal and Regional Ocean Community Modelling (CROCO). Hasil analisis citra radar di wilayah studi menunjukkan rona permukaan laut dari gelombang pasut internal dicirikan dengan nilai hambur balik sinyal radar yang kuat berupa satu kelompok (paket) seperti riak yang rapat di wilayah pembangkitan (generating) gelombang pasut internal di sekitar ridge, serta dua kelompok seperti busur di wilayah perambatan (propagating) ISWs di lepas pantai timur laut dan timur-jauh dari Pulau Weh. Jarak antar kelompok paket tersebut bervariasi sekitar 60 – 80 km, estimasi panjang gelombang dari ISWs bervariasi antara 9 – 163 km, serta jumlah ISWs terbanyak sekitar 31 ditemukan pada 21 Maret 2018. Pembentukan gelombang internal di sepanjang ridge utamanya dibangkitkan oleh arus pasut barotropik dari komponen semidiurnal (M2), dimana orientasi sumbu mayor ellipse M2 adalah arah timurlaut (pasang) dan baratdaya (surut) dengan amplitudo elevasi muka laut dan magnitude arus pasut yang sangat kuat, masing-masing, mencapai sekitar 0.5 m dan 5 m/s. Dalam periode pasang, magnitude arus pasut barotropik dari Samudera Hindia yang memotong sepanjang ridge mengalami amplifikasi yang sangat drastis, kemudian sebagian arusnya mengalir ke arah tenggara memasuki celah (passage) antara Pulau Weh dengan Pulau Breueh dan Sumatera, dan sebagian lagi mengalir melintasi sisi utara dari Pulau Weh ke arah timur dan berbelok ke arah timur/tenggara. Sebagian arus pasang juga berasal dari selat antara Pulau Nasi dan daratan Sumatera. Hal sebaliknya terjadi dalam periode surut. Hasil model menunjukkan bahwa pembangkitan gelombang pasut internal di sepanjang ridge berasosiasi dengan fluktuasi isopiknal dan kecepatan vertikal yang kuat, serta amplifikasi drastis kecepatan arus pasut