31665 research outputs found
Sort by
Analisis Persepsi Pengunjung dan Manfaat Ekonomi Keberadaan Kampung Budaya Sindangbarang
Kampung Budaya Sindangbarang (KBS) adalah tempat wisata berbasis desa. KBS berfungsi untuk mengenalkan berbagai budaya Sunda. Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat pengunjung KBS menurun drastis. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis persepsi masyarakat terhadap dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang timbul dari aktivitas wisata KBS; (2) Menganalisis persepsi pengunjung terhadap wisata KBS; (3) Mengestimasi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar KBS. Metode yang digunakan adalah Analisis Deskriptif, Skala Likert, Analisis Pendapatan share dan covering. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat lokal terhadap manfaat ekonomi dan sosial dinilai kurang memberikan manfaat yang berarti (skor 2,41). Dari sisi lingkungan, masyarakat menilai keberadaan KBS tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap lingkungan (skor 2,80). Hasil analisis persepsi pengunjung menunjukkan bahwa secara umum pengunjung cukup puas dengan kondisi wisata alam dan fasilitas yang ada (skor 2,84). Dari sisi manfaat ekonomi bagi masyarakat, nilai share pendapatan wisata terhadap pendapatan total rumah tangga sebesar 29,41% untuk pemilik usaha dan 22,59% untuk tenaga kerja di KBS. Nilai share ini menunjukkan rendahnya dampak ekonomi dari KBS terhadap pendapatan masyarakat setempat. Hal ini diperkuat dengan rendahnya nilai covering pendapatan wisata terhadap pengeluaran rumah tangga (25,38% untuk pemilik usaha dan 46,04% untuk tenaga kerja)
Perubahan Sifat Kimia Kayu Kapuk Terdensifikasi Akibat Perlakuan Pendahuluan Alkali
Densifikasi pada kayu kapuk merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan sifat fisis dan mekanis kayu dengan stabilisasi dimensi kayu yang tetap. Masalah yang sering ditemukan pada produk kayu terdensifikasi adalah kembalinya dimensi kayu terpadatkan ke dimensi awal (recovery set) akibat tidak tercapainya fiksasi permanen kayu hasil densifikasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perlakuan pendahuluan alkali sebelum densifikasi dapat meningkatkan stabilisasi dimensi kayu terpadatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan sifat kimia kayu terdensifikasi dengan perlakuan pendahuluan alkali. Sampel yang diuji dihasilkan dari perlakuan perebusan natrium hidroksida 1.25 N selama 3 jam. Perubahan sifat kimia diuji melalui perubahan kadar komponen kimia, gugus fungsi, dan kristalinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan alkali menyebabkan penurunan kadar holoselulosa sebesar 21.81% yang menyebabkan menurunnya hemiselulosa dan selulosa amorf. Kelarutan kayu dalam NaOH 1% dan kelarutan dalam air panas sampel kayu setelah perlakuan alkali lebih rendah dibandingkan dengan kayu tanpa perlakuan. Analisis FTIR mengkonfirmasi terjadinya perubahan kadar gugus fungsi O-H, C=C, dan C-H. Analisis XRD menunjukkan bahwa densifikasi dan perlakuan alkali menurunkan indeks kristalinitas kayu
istem Pakar Penentuan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan untuk Produk Pangan. Dibimbing
Bahan Tambahan Pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan
untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan (warna, cita rasa dan tekstur, serta
memperpanjang masa simpan). Bahan tambahan pangan yang digunakan dalam
pangan terdiri atas 27 golongan yaitu antibuih, antikempal, antioksidan, bahan
pengkarbonasi, garam pengemulsi, gas untuk kemasan, humektan, pelapis,
pemanis, pembawa, pembentuk gel, pembuih, pengatur keasaman, pengawet,
pengembang, pengemulsi, pengental, pengeras, penguat rasa, peningkat volume,
penstabil, peretensi warna, perisa, perlakuan tepung, pewarna, propelan dan
sekuestran. Penelitian ini berfokus pada 4 golongan bahan tambahan pangan yaitu
antioksidan, pemanis, pengawet, dan pewarna karena banyak terkait dengan
keamanan pangan dan memiliki nilai batas maksimum penggunaannya.
Penyalahgunaan bahan tambahan pangan yang tidak sesuai dengan peraturan
masih dilakukan oleh pelaku usaha. Kurangnya pengetahuan tentang bahan
tambahan pangan dan pengaruhnya terhadap kesehatan menjadi alasan pelaku
usaha dan masyarakat saat terjadinya keracunan pangan.
Penelitian yang dilakukan bertujuan membangun sistem pakar penentuan
penggunaan bahan tambahan pangan untuk produk pangan dengan bantuan
seorang pakar di bidang bahan tambahan pangan. Metode yang digunakan yaitu
pohon keputusan dengan algoritme C5.0 untuk mengklasifikasikan jenis kategori
pangan berdasarkan bahan dasar pangan dan cara pengolahan pangan hingga
menghasilkan bahan tambahan pangan yang tepat untuk digunakan. Bahan dasar
pangan yang diperoleh dari pakar berjumlah 21 bahan dan 31 cara pengolahan.
Dari 27 bahan tambahan pangan memiliki 16 kelompok kategori pangan dengan
268 jenis kategori pangan. Keempat bahan tambahan pangan pada penelitian ini
menggunakan 15 kelompok kategori pangan dengan 215 jenis kategori pangan.
Model pohon keputusan menghasilkan 98 aturan dan diimplementasikan ke dalam
web dengan menggunakan data yang tersimpan di MySQL. Evaluasi kinerja
model menggunakan k-cross validation dengan akuras i rata-rata sebesar 45.6 %.
Pengguna yang berhak mengakses menu pada web adalah penguna umum,
anggota dan administrator. Hasil implementasi dari analisis perancangan sistem
berupa web yang dapat memberikan solusi berupa rekomendasi bahan tambahan
pangan dan juga nilai batas maksimum dalam penggunaannya
Pengaruh Intermittent Irrigation terhadap Ketahanan Penetrasi Regosol dan Latosol Dramaga, Bogor, Jawa Barat
Irigasi secara berselang (intermittent irrigation) merupakan teknik irigasi yang diterapkan dalam SRI (System of Rice Intensification) sebagai salah satu system budidaya padi sawah yang banyak menarik perhatian akhir akhir ini. Irigasi berselang adalah suatu konsep penghematan penggunaan air melalui pengaturan kondisi air di lahan. Dalam menerapkan metode irigasi berselang atau intermittent irrigation, perlu dipertimbangkan bahwa metode tersebut hanya dapat diterapkan pada jenis tanah yang tidak responsif terhadap penurunan kadar air. Konsep intermittent irrigation dapat menyebabkan terjadinya perubahan kadar air menjadi lebih rendah, yang selanjutnya akan menyebabkan meningkatnya nilai ketahanan penetrasi tanah. Ketahanan penetrasi tanah merupakan sifat tanah yang menggambarkan mudah tidaknya tanah ditembus akar. Tanah dengan ketahanan penetrasi yang tinggi akan menyulitkan akar tanaman untuk menembus tanah. Terganggunya pertumbuhan akar tanaman akan berpengaruh terhadap daya serap air dan unsur hara dari dalam tanah oleh akar tanaman. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui respon ketahanan penetrasi tanah sebagai akibat intermittent irrigation, hubungan ketahanan penetrasi tanah dengan kadar air tanah, dan pengaruh suhu tanah terhadap kadar air tanah telah dilakukan di Rumah Kaca DITSL, Kebun Pendidikan Cikabayan, Institut Pertanian Bogor pada bulan Januari 2020 hingga bulan Maret 2020. Jenis tanah yang digunakan yaitu Regosol dan Latosol Dramaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ketahanan penetrasi tanah semakin meningkat dengan bertambahnya hari tanpa suplai air. Hal tersebut seiring dengan menurunnya kadar air tanah dengan bertambahnya hari tanpa suplai air. Peningkatan ketahanan penetrasi pada Regosol meningkat tajam diawal lalu melambat diakhir, sebaliknya peningkatan ketahanan penetrasi pada Latosol lambat diawal dan cepat diakhir. Pada hari keenam, garis batas pada alat penetrometer belum seluruhnya masuk kedalam tanah tetapi sudah mencapai angka maksimum dari penetrometer saku yang digunakan, hal tersebut menunjukkan bahwa ketahanan penetrasi yang sebenarnya lebih dari 4.5 kg/cm2. Hubungan antara kadar air tanah dengan ketahanan penetrasi tanah tergolong sangat erat dengan nilai coefficient of determination (R2) 0,9642 pada Latosol dan 0,9465 pada Regosol. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh kadar air tanah terhadap ketahanan penetrasi tanah sangat besar
Daya Dukung Perairan Waduk Sebelum dan Sesudah Penggenangan Bagi Pengembangan Perikanan Alami (Studi Kasus : Waduk Jatigede)
Waduk Jatigede merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia yang dibangun dengan membendung aliran Sungai Cimanuk yang terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Potensi sumberdaya perikanan waduk ini dapat menjadi sumber mata pencaharian alternatif masyarakat yang dahulu terkena dampak pembangunan Waduk Jatigede. Kegiatan perikanan yang dapat dilakukan yaitu kegiatan budidaya sistem Keramba Jaring Apung (KJA) dan kegiatan perikanan tangkap. Namun, berdasarkan pertimbangan dalam aspek ekologis, kegiatan KJA ini dilarang melalui Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 2 Tahun 2012. Dalam peraturan daerah ini ditegaskan adanya larangan budidaya ikan sistem KJA sehingga hanya kegiatan perikanan tangkap yang diperbolehkan di Waduk Jatigede. Untuk mendukung perikanan tangkap ini, perlu dilakukan pengelolaan perikanan alami. Pengelolaan perikanan alami dilakukan dengan cara menebar benih ikan untuk dimanfaatkan oleh masyarakat. Jumlah benih optimal yang dapat ditebar dapat diketahui dengan melakukan kajian daya dukung perairan waduk untuk kegiatan perikanan alami.
Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis daya dukung perikanan alami Waduk Jatigede setelah penggenangan, mengonfirmasi hasil perhitungan model estimasi daya dukung yang telah dilakukan ketika pra-inundasi serta menentukan prioritas jenis dan jumlah benih ikan yang disarankan untuk ditebar. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar strategi pengelolaan Waduk Jatigede untuk pengembangan perikanan alami. Penelitian dilakukan selama empat bulan dari Februari-Mei 2018 di area genangan dan inlet Waduk Jatigede. Perhitungan daya dukung perikanan alami dilakukan dengan menggunakan pendekatan produktivitas primer. Penentuan prioritas jenis ikan yang akan ditebar dilakukan berdasarkan pertimbangan dari hasil analisis kebiasaan makan ikan yang telah ada di Waduk Jatigede.
Hasil penelitian menunjukkan kondisi kualitas air Waduk Jatigede berdasarkan baku mutu air Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 masih dikatakan layak atau baik untuk kegiatan perikanan. Status kesuburan perairan berada pada tingkat eurofik sedang hingga berat. Daya dukung perikanan alami Waduk Jatigede pada awal penggenangan sebesar 489,8 ton/tahun. Terdapat peningkatan daya dukung perikanan alami sebesar 9,5% dibandingkan dengan hasil estimasi sebelum penggenangan. Berdasarkan analisis kebiasaan makan dan potensi produksi ikannya, jenis ikan yang disarankan untuk ditebar adalah ikan bandeng dengan jumlah 2.487.698 benih ikan bandeng per tahun
Laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup transplantasi karang genera Porites dan Montipora di Pulau Tunda, Banten
Kondisi terumbu karang Pulau Tunda menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, sehingga dibutuhkan upaya rehabilitasi melalui transplantasi karang untuk memperbaikinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan karang serta tingkat kelangsungan hidup karang transplantasi genera Porites dan Montipora di Pulau Tunda, Banten. Pengamatan dilakukan pada bulan September 2019 hingga Februari 2020 serta dilakukan tiga kali pengamatan setiap dua bulan. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini berupa laju pertumbuhan karang, tingkat kelangsungan hidup serta hubungan kualitas air dengan pertumbuhan karang. Nilai laju pertumbuhan karang untuk genera Porites sebesar 0,646 (± 0,097) cm/bulan, sedangkan pada karang genera Montipora sebesar 0,507 (± 0,095) cm/bulan. Tingkat kelangsungan hidup karang genera Porites sebesar 52,27% dan Montipora sebesar 56,25%
Potensi Pemberdayaan Pelaku Usaha sebagai Agen Konservasi di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu
Taman Wisata Alam (TWA) adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk pariwisata dan rekreasi alam. TWA Gunung Tangkuban Perahu menempati posisi kedua sebagai penerima wisatawan mancanegara terbanyak se-Indonesia dan mendapatkan predikat platinum dari penerimaan PNBP tertinggi. TWAGTP memiliki tantangan tersendiri dalam memenuhi fungsi ekonomi dan ekologi karena kedua aspek tersebut harus berjalan selaras. TWA perlu dikelola dengan baik agar terjaminnya kelestarian kondisi lingkungan dan optimalnya manfaat TWA untuk kegiatan wisata alam, penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya bagi kesejahteraan masyarakat.
Upaya pengelolaan kawasan konservasi belum optimal dan masih terbatas oleh sumber daya manusia dan sumber dana. Perlu adanya dukungan dari berbagai stakeholder, termasuk pelaku usaha yang sudah mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan TWAGTP. Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan pelaku usaha terhadap pengelolaan kawasan yaitu menjadi agen konservasi. Agen konservasi bertujuan mengubah sikap maupun perilaku wisatawan agar lebih menghargai dan melestarikan TWAGTP. Kontribusi pelaku usaha sebagai agen konservasi dalam penelitian yaitu terlibat dalam kegiatan konservasi.
Tujuan umum dari penelitian ini yaitu mengkaji potensi pemberdayaan pelaku usaha sebagai agen konservasi di Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu yang didekati dengan tujuan khusus yaitu merumuskan persepsi pelaku usaha terhadap kawasan dan kegiatan konservasi, mengestimasi kesediaan pelaku usaha berkontribusi dalam kegiatan konservasi melalui Willingness To Pay (WTP), merumuskan tingkat partisipasi pelaku usaha dalam pengelolaan kawasan.dan memetakan potensi serta merumuskan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan pelaku usaha sebagai agen konservasi. Metode yang digunakan adalah observasi, kuesioner, wawancara, dan studi literatur. Responden yang diwawancarai berjumlah 58 pelaku usaha dengan teknik stratified random sampling.
Hasil penelitian menunjukkan persepsi pelaku usaha masuk ke dalam kategori tinggi yang berarti persepsi mereka positif mendukung kelestarian dan kegiatan konservasi di TWAGTP. Seluruh pelaku usaha bersedia kontribusi dalam kegiatan konservasi sedangkan yang bersedia membayar iuran dana konservasi hanya sekitar 60%. Potensi penerimaan dari iuran dana konservasi jika diterapkan di TWAGTP sebesar Rp105 785 460/tahun. Tingkat partisipasi pelaku usaha di dominasi oleh tingkat informatif dan konsultatif. Tingkat partisipasi pelaku usaha dalam pengelolaan kawasan belum optimal dan baru dilibatkan dalam kegiatan wisata sedangkan dalam kegiatan konservasi belum dilibatkan. Seluruh pelaku usaha bersedia menjadi agen konservasi dan terlibat dalam program konservasi (edukasi, aksi lingkungan, dan mengurangi dampak lingkungan) dan yang potensinya lebih tinggi sebagai agen konservasi adalah guide karena masuk pada tahap 2
Pengaruh Kepemilikan dan Kinerja Keuangan terhadap Stabilitas BPR Milik Pemda dan Swasta di Jawa Barat. Dibimbing oleh BUDI PURWANTO.
Jumlah BPR di Provinsi Jawa Barat adalah yang terbanyak dilikuidasi oleh LPS selama periode 2006-2019 yakni sebanyak 35 BPR. Persentasi likuidasi BPR milik pemda lebih tinggi dibandingkan dengan BPR milik swasta. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor kinerja keuangan dan faktor kepemilikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stabilitas dan membandingan tingkat stabilitas BPR milik pemda dan BPR milik swasta di Jawa Barat, menganalisis pengaruh kinerja keuangan dan faktor kepemilikan terhadap kestabilan BPR milik pemda dan BPR milik swasta di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan tahunan 185 BPR di Provinsi Jawa Barat periode 2016 - 2018. Berdasarkan hasil analisis diskriminan (Z-Score) didapatkan tingkat stabilitas BPR di Jawa Barat sebesar 32.62% berada di kategori stabil dan 67.38% berada di kategori tidak stabil. Jika dibandingkan secara persentase, BPR milik swasta lebih stabil dari BPR milik pemda. Kemudian berdasarkan hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa variabel NPL, ROA dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap stabilitas BPR. Variabel CAR, LDR dan kepemilikan berpengaruh tidak signifikan terhadap stabilitas BPR
Uji Sensitivitas Skema YSU dan QNSE Model WRF-Chem dalam Memprediksi Konsentrasi PM10 (Studi Kasus: Jakarta dan Bogor)
Salah satu model polusi udara yang dapat digunakan untuk menganalisis
sebaran pencemaran udara adalah Weather Research Forecasting-Chemistry
(WRF-Chem). Model WRF-Chem menggunakan beberapa skema parameterisasi
yang berbeda untuk setiap wilayah. Penelitian tentang skema parameterisasi ini
diharapkan dapat membantu dalam menentukan skema parameterisasi yang dapat
merepresentasikan karakteristik wilayah tropis, khususnya Indonesia. Studi ini
membandingkan skema Yonsei University (YSU) dan Quasi-Normal Scale
Elimination (QNSE). Kedua skema ini adalah parameterisasi dari lapisan perbatas
planeter (PBL). Keluaran dari model WRF-Chem dengan dua skema
parameterisasi YSU dan QNSE memiliki hasil yang berbeda pada bulan Februari
dan Agustus. Konsentrasi PM10 dengan menggunakan skema YSU menunjukkan
perbedaan yang sangat signifikan antar wilayah stasiun pengamatan dibandingkan
dengan hasil keluaran skema QNSE yang menunjukkan fluktuasi yang sama antar
stasiun. Konsentrasi PM10 dan kecepatan angin hasil keluaran model dengan
menggunakan kedua skema memiliki fluktuasi yang sama dengan hasil observasi.
Ketinggian PBL pada bulan Februari memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat
menggunakan skema QNSE sebesar 2002 m dibandingkan dengan YSU sebesar
795 m. Indeks sensitivitas untuk keluaran QNSE pada bulan Februari lebih tinggi
yaitu sebesar 0.5 dari keluaran YSU sebesar 0.3, yang berbeda pada bulan
Agustus dimana indeks sensitivitas keluaran YSU sebesar 0.4 lebih tinggi dari
keluaran QNSE sebesar 0.3
Pendugaan Kerugian Agregat dengan Model Regresi Berbasis Copula.
Pendugaan kerugian agregat dari sebuah portofolio asuransi merupakan hal yang sangat penting bagi keputusan aktuarial, seperti menentukan harga kontrak asuransi dan menghitung premi. Kerugian agregat merupakan total kerugian polis yang harus ditanggung oleh perusahaan pada periode waktu tertentu. Kerugian polis dapat dihitung berdasarkan rata-rata besarnya klaim dan banyaknya klaim. Dalam karya ilmiah ini, model regresi marjinal dari rata-rata besarnya klaim dan banyaknya klaim menggunakan model linear terampat (generalized linear model). Pada model linear terampat, peubah respon dipengaruhi oleh peubah penjelas yaitu pendapatan per kapita dan kepadatan penduduk. Penelitian sebelumnya menggunakan asumsi peubah rata-rata besarnya klaim dan banyaknya klaim saling bebas, namun pada kenyataannya kedua peubah ini tidak saling bebas. Oleh karena itu, digunakan model regresi berbasis copula untuk mengatasi asumsi saling bebas. Model regresi berbasis copula terbaik dipilih berdasarkan nilai logaritma kemungkinan terbesar dan mean square error terkecil. Dalam karya ilmiah ini, data yang digunakan adalah data asuransi kendaraan di Massachusetts dari tahun 1993 sampai 1997. Model regresi berbasis copula terbaik yang dapat memodelkan kerugian agregat pada asuransi ini adalah copula Gumbel sehingga diperoleh pendugaan kerugian agregat untuk periode 1998 sebesar $73831.95