31665 research outputs found
Sort by
Pertumbuhan Sengon Solomon F2 (Falcataria moluccana) Umur 14 Bulan dan Padi (Oryza sativa) dalam Sistem Agroforestri
Sengon Solomon merupakan provenan sengon yang memiliki pertumbuhan lebih cepat dibanding provenan lokal. Sengon sering dibudidayakan secara agroforestri, salah satunya dengan padi. Persaingan antar kedua komponen tanaman dalam memperoleh cahaya matahari dan unsur hara semakin tinggi seiring bertambahnya umur sengon. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pertumbuhan sengon Solomon F2 berumur 14 bulan serta pertumbuhan beberapa varietas padi yang ditanam dalam sistem agroforestri. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dua faktorial. Padi ditanam di bawah naungan sengon Solomon F2 berjarak tanam 1.5 m x 1.5 m dan 1.5 m x 3 m. Varietas padi yang digunakan adalah LIPI Go 1, LIPI Go 2, IPB 3S, dan IPB 9G. Analisis data dilakukan dengan pengujian sidik ragam dan uji lanjut Duncan pada selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sengon Solomon F2 berumur 14 bulan pada jarak tanam 1.5 m x 3 m memiliki tinggi, diameter dan luas tajuk yang lebih besar. Varietas padi berpengaruh nyata terhadap beberapa parameter pertumbuhan padi. Padi varietas IPB 3S merupakan padi dengan pertumbuhan dan produksi terbaik pada penelitian
Uji Daya Hasil Pendahuluan Galur Dihaploid Padi Beras Hitam Hasil Kultur Antera.
Kepedulian terhadap kesehatan meningkatkan permintaan terhadap jenis beras fungsional. Beras hitam memiliki kandungan antosianin yang bermanfaat bagi kesehatan. Perakitan varietas baru dilakukan sebagai upaya pengembangan padi beras hitam dengan karakter agronomi yang diinginkan. Tujuan penelitian ini ialah menguji penampilan agronomi dan daya hasil 27 galur dihaploid padi beras hitam hasil kultur antera untuk mendapatkan galur-galur dengan produktivitas tinggi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan 3 ulangan dan faktor tunggal yaitu 27 galur dihaploid padi beras hitam hasil kultur antera dan 3 varietas pembanding yaitu Aek Sibundong, Inpari 24, dan Jeliteng. Hasil percobaan menunjukkan 18 galur memiliki aleuron berwarna hitam sedangkan 9 galur lainnya berwarna hitam kekuningan. Galur- galur uji memiliki daya hasil yang baik, sebanyak 23 galur memiliki produktivitas setara terhadap varietas pembanding yaitu galur MW2-7-1-1, MW2-7-1-2, MW2- 7-1-3, MW3-58-1-2, MW4-2-1-1 MW4-2-2-1, MW5-5-1-3, MW5-19-1-5, dan MW6-8-1-1 dengan warna aleuron hitam kekuningan serta galur MW3-19-1-2, MW3-24-1-1, MW3-24-1-3, MW3-24-1-4, MW3-24-2-5, MW3-32-2-4, MW3-58-1-3, MW3-58-2-1, MW3-58-2-5, MW4-2-1-2, MW4-11-1-3, MW4-11-2-3, MW4-17-1-1, dan MW4-53-1-1 dengan warna aleuron hitam. Galur-galur tersebut berpotensi untuk diuji lebih lanjut pada uji daya hasil lanjutan. Selain itu galur yang diuji memiliki karakter agronomi yang baik yaitu tinggi tanaman generatif seluruh galur tergolong pendek dan sedang, bobot 1000 butir ≥ 25 g hampir pada seluruh galur kecuali galur MW3-58-1-2 dan MW3-58-2-1, serta umur panen genjah hampir pada seluruh galur kecuali galur MW2-7-1-1 yang berumur sedang
Manajemen Tanaman Penaung Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Kebun Blawan, PT. Perkebunan Nusantara XII, Bondowoso, Jawa Timur.
Kopi merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan berperan penting dalam komoditas ekspor sebagai sumber devisa bagi Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan teknik budidaya tanaman kopi yaitu dengan penggunaan tanaman penaung. Tujuan umum dari kegiatan magang ialah mempelajari pengelolaan tanaman kopi Arabika baik secara teknis maupun manajerial, serta melatih keterampilan dalam bekerja di lapangan. Kegiatan magang juga bertujuan khusus untuk mempelajari manajemen tanaman penaung kopi Arabika di Kebun Blawan, serta melihat korelasi antara intensitas cahaya, jumlah buah per tanaman dan produktivitas kopi yang dihasilkan. Kegiatan magang dilaksanakan di Kebun Blawan, PT. Perkebunan Nusantara XII, Bondowoso, Jawa Timur selama tiga bulan dari akhir Januari hingga akhir April 2020. Metode yang digunakan dalam kegiatan magang yaitu metode langsung meliputi pengambilan data primer melalui pengamatan di lapangan, wawancara, diskusi, serta mengikuti seluruh kegiatan di lapang sesuai aspek teknis dan manajerial. Metode tidak langsung dilakukan dengan pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari laporan manajemen kantor Kebun Blawan. Manajemen tanaman penaung di Kebun Blawan diterapkan pada kegiatan penanaman dan pemeliharaan. Intensitas cahaya diperoleh melalui pengamatan secara langsung dilapangan menggunakan lux meter. Pengamatan dilakukan pada 3 blok berbeda dengan jumlah sampel sebanyak 45 tanaman. Uji korelasi antara intensitas cahaya dengan jumlah buah dan produktivitas kopi menunjukkan hasil kopi yang menurun dengan semakin meningkatnya intensitas cahaya
Preferensi Penggunaan Uang Fiat Dibandingkan Uang Berbasis Logam Mulia dengan Pengaruh Harga Emas dan Informasi Return Asset
Fenomena uang fiat yang dipakai pada negara-negara yang ada di dunia,
termasuk rupiah, dinilai menjadi salah satu faktor penyebab instabiltas kinerja
perekonomian yang tercermin dari fluktuasi laju inflasi dan volatilitas nilai tukar.
Penelitian ini berupaya untuk memberikan alternatif instrumen pembayaran yang
ada di Indonesia maupun yang ada di dunia karena uang fiat tidak memiliki nilai
intrinsik. Dengan menggunakan instrumen pembayaran di Indonesia berupa uang
berbasis logam mulia, yaitu uang memiliki nilai intrinsik berupa beberapa gram
emas pada uang tersebut sesuai dengan nominal uang. Nilai intrinsik pada uang
berbasis logam mulia ini diharapkan dapat menahan laju inflasi serta depresiasi
nilai tukar suatu negara khususnya rupiah terhadap mata uang negara lain sehingga
mampu mencapai dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui sejauh mana uang berbasis logam mulia dapat diterima oleh
masyarakat dengan mengetahui preferensi pilihan uang yang akan digunakan
dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan uang fiat
dibanding uang berbasis logam mulia.
Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis inferensial dan
model regresi logistik dengan pendekatan eksperimental ekonomi. Hasil penelitian
menunjukan bahwa jenis uang yang paling banyak dipilih oleh responden dengan
pengaruh harga emas dan informasi return asset adalah uang berbasis logam mulia.
Secara umum, faktor yang berpengaruh terhadap preferensi penggunaan uang
dengan pengaruh harga emas adalah umur, pendapatan dan asal universitas.
Adapun faktor yang mempengaruhi preferensi dengan pengaruh informasi return
asset terdiri dari umur, asal universitas dan departemen
Rancang Bangun Traceability System Kopi Berbasis Android dengan Implementasi QR Code
Kopi merupakan komoditas pertanian yang tergolong pada sub sektor perkebunan yang memiliki cita rasa unik yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Upaya untuk mempertahankan cita rasa suatu produk kopi di antaranya adalah dengan mengetahui informasi tentang bahan baku produk kopi hingga tingkat paling dasar, dalam hal ini petani. Traceability (ketertelusuran) adalah suatu sistem yang dirancang untuk mendapatkan setiap informasi yang dilalui suatu barang atau produk. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi rantai pasok kopi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra kemudian membangun prototipe sistem ketertelusuran berbasis Android dengan implementasi QR Code. Sistem tersebut diberi nama Tracko. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah System Development Life Cycle (SDLC) yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan sistem ketertelusuran Tracko. Tahap pertama pada metode SDLC yang dilakukan adalah investigasi rantai pasok. Terdapat beberapa aktor utama dalam rantai pasok kopi yaitu petani, pengepul, pedagang besar, pabrik pengolahan, kedai kopi, eksportir dan konsumen. Prototipe sistem ketertelusuran Tracko telah berhasil dibangun dengan dua pengguna utama yaitu petani dan pabrik pengolahan kopi. Terdapat aktor tambahan yaitu pengepul dan pedagang besar, namun pengepul dan pedagang besar dalam pengaplikasiannya tidak memiliki wewenang untuk menambahkan informasi produk karena peran pengepul dan pedagang besar hanya sebagai penyalur. QR Code dalam aplikasi Tracko mempunyai fungsi untuk menyimpan kode unik produk yang kemudian dapat digunakan untuk mengakses informasi dari server. Tahap pengujian alpha yang telah dilakukan mendapatkan hasil bahwa semua fungsi pada aplikasi Tracko bekerja dengan baik dan semestinya. Tahap pengujian beta menunjukkan aplikasi Tracko tergolong mudah untuk digunakan, namun efektivitasi sistem dinilai kurang
Kelimpahan dan Distribusi Larva Ikan di Perairan Pesisir Lampung Timur.
Stadia larva pada ikan merupakan pasca menetas setelah stadia telur yang
organ tubuhnya belum lengkap seperti ukuran anak dan induknya serta berperan
penting dalam rekrutmen. Secara morfologi, perkembangan stadia larva ikan
terbagi dua fase yaitu pro-larva dan post-larva. Berdasarkan perkembangan tulang
vertebrata bagian ekor, fase pro-larva dapat dikategorikan dalam tiga tahap yaitu
pre-flexion, flexion dan post-flexion sedangkan fase post-larva digolongkan tahap
perkembangan ekor sudah terbentuk sempurna dan mulai aktif berenang. Riset
stadia larva ikan telah lama dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu sejak 10
tahun terakhir di beberapa wilayah perairan Indonesia. Namun, riset khususnya di
perairan pesisir Lampung Timur saat ini informasinya masih sangat terbatas.
Penelitian ini bertujuan menganalisis komposisi, kelimpahan, distribusi dan
struktur komunitas larva ikan di perairan pesisir Lampung Timur. Penelitian ini
dilaksanakan pada Tahun 2017, bertempat di perairan pesisir Lampung Timur,
Provinsi Lampung dan diwakili dua periode musim yang berbeda yaitu musim
timur (Bulan Juni) dan musim peralihan (Bulan September). Pengambilan sampel
dilakukan di sembilan stasiun pengamatan dan pada representasi dua musim
(musim timur dan musim peralihan). Ke sembilan stasiun pengamatan berada
dalam tiga lokasi perairan dengan jarak tertentu dari garis pantai, yakni perairan
pinggir (ST3, ST4, ST9) pada jarak <4 mil, perairan tengah (ST2, ST5, ST8) pada
jarak 4–10 mil dan perairan luar (ST1, ST6, ST7) pada jarak >10 mil dari garis
pantai dengan kedalaman perairan 5 meter.
Pengumpulan larva ikan dilakukan menggunakan alat tangkap Bonggo-net
dengan bingkai mulut berdiameter 60 cm, panjang 3 m, dan mata jaring 0.5 μm
yang dilengkapi dengan flowmeter mekanis merk General Oceanics Seri 2030R.
Pengukuran parameter fisika-kimia perairan meliputi: kecepatan arus yang diukur
dengan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP), dan kekeruhan, suhu, pH
serta salinitas dengan menggunakan Conductivity Temperature Depth (CTD).
Namun khusus klorofil-a, sampel air laut dari lokasi penelitian diambil dengan
botol Nansen lalu dimasukkan kedalam botol sampel untuk selanjutnya dianalisis
di laboratorium.
Setiap stasiun penelitian, koordinat stasiun penelitian dicatat dan alat
tangkap larva ikan Bonggo-net diturunkan di belakang kapal hingga berada di
permukaan perairan pada posisi horizontal kemudian kapal bergerak secara
perlahan dengan kecepatan 1–2.5 knot selama 7–10 menit. Saat diatas kapal, alat
Bonggo-net dibilas dan dicatat angka pada flowmeter sedangkan tabung bucket
disaring menggunakan saringan berbahan jaring plankton untuk memperoleh
volume sampel larva. Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam botol 500 ml
yang berisi larutan Etanol 96% dan diberi label. Identifikasi dan pengukuran
morfometrik larva ikan menggunakan alat mikroskop portabel Dino-Lite
AM4113/AD4113 berketelitian 0.05 μm dengan kriteria merujuk pada buku
identifikasi The Larvae of Indo-Pacific Coastal Fishes.
Hasil pengukuran parameter kondisi lingkungan perairan menunjukkan
kualitas perairan yang layak untuk kehidupan larva ikan. Komposisi larva ikan
terdiri dari 81 famili yang diperoleh pada kedua musim pengamatan dan
ditemukan 10 famili dominan, yakni Gobiidae (11%), Pegasidae (10%), Mullidae
(9%), Pomacentridae (7%), Blenniidae (5%), Sillaginidae (4%), Bothidae,
Bythitidae, Carangidae dan Pseudochromidae (3%). Secara temporal, jumlah
sampel larva yang diperoleh pada musim timur adalah 275 individu sedangkan
musim peralihan 232 individu. Dengan demikian, kelimpahan larva ikan lebih
tinggi pada musim timur yaitu 2.99 (≈3.0) ind/m3 dibandingkan musim peralihan
yaitu 1.90 (≈2.0) ind/m3. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus.
Pada kedua musim pengamatan, proporsi stadia larva tertinggi adalah tahap
flexion menunjukkan kemampuan berenang terbatas untuk memperoleh makanan
alamiah dan memerlukan habitat yang sesuai. Sementara itu, tahap post-flexion
mengalami keadaan yang sama dengan tahap flexion, namun kemampuan
berenangnya lebih baik. Untuk tahap pre-flexion, kebutuhan makanan tercukupi
masih menggantungkan kuning telur.
Pada musim timur, pola arus perairan berputar yang ditimbulkan oleh tiupan
angin menyebabkan individu larva ikan lebih banyak diperairan pinggir (ST3, ST4,
ST9) dibandingkan perairan tengah (ST2, ST5, ST8) dan perairan luar (ST1, St6,
ST7). Hal tersebut dikarenakan larva ikan tidak tersebar luas dan berkumpul di
sekitar putarannya. Sementara itu, pada musim peralihan terjadi turbelensi angin
yang menyebabkan pola pergerakan arus tidak teratur serta adanya pengaruh arus
pasang surut perairan pesisir (coastal currents) dengan arus dua samudera (ocean
currents) sehingga terjadinya benturan.
Struktur komunitas larva ikan pada kedua periode musim pengamatan
menunjukkan nilai indeks keanekaragaman (H’) tergolong sedang (1≤ H’ ≤3)
yang mana masing-masing nilai pada musim timur antara 2.03–2.82 dan musim
peralihan antara 1.82–2.65. Indeks keseragaman (E) menunjukkan dua kriteria
pada kedua musim pengamatan tergolong sedang (≤0.50 E ≤0.75), yang terjadi di
musim timur pada lokasi ST9 dan ST2 di musim peralihan. Sementara itu, nilai
keseragaman pada musim timur di lokasi ST1, ST2, ST3, ST4, ST5, ST6, ST7 dan
ST8 serta musim peralihan di ST1, ST3, ST4, ST5, ST6, ST7, ST8 dan ST9
dikategorikan tinggi (E >0.75). Adapun nilai indeks dominansi (D) yang diperoleh
dicirikan dengan tidak adanya famili larva ikan yang mendominansi secara
ekologi ada kedua musim pengamatan (D <0.50).
Hasil ordinasi Cannonical Corespodence Analysis (CCA), memperlihatkan
bahwa kelimpahan dan distribusi larva ikan dikendalikan sepenuhnya oleh
parameter kecepatan arus. Selain itu, faktor lainnya yang berkontribusi terjadinya
sebaran larva ikan seperti parameter klorofil-a, kekeruhan, suhu, pH, salinitas,
fitoplankton dan zooplankton menjelaskan faktor penentu kehadiran larva ikan di
ketiga lokasi perairan. Berdasarkan urairan tersebut, dapat diketahui komposisi,
kelimpahan dan distribusi larva ikan terbanyak terjadi pada musim timur di lokasi
perairan pinggir (ST3, ST4 dan ST9). Sementara itu, persentase tertinggi
distribusi stadia larva ikan di lokasi perairan tengah (ST2, ST5 dan ST8) yang
menunjukkan tahap flexion lebih banyak ditemukan
Upaya Peningkatan Efisiensi Pemasaran Kopi Robusta (Studi Kasus: Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung Barat).
Kopi robusta merupakan komoditas unggulan di Kabupaten Lampung
Barat. Adanya kesenjangan harga kopi di tingkat produsen dan konsumen ratarata
sebesar 49.04 persen diduga bahwa banyaknya lembaga pemasaran yang
terlibat sehingga menimbulkan biaya pemasaran yang tinggi. Hal ini
menimbulkan dugaan tidak meratanya share antar lembaga pemasaran sehingga
berdampak pada tingkat efisiensi pemasaran kopi di Kecamatan Sekincau. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pemasaran kopi
robusta yang terbentuk berdasarkan lembaga-lembaga yang terlibat dan
menganalisis efisiensi pemasaran kopi robusta di Kecamatan Sekincau. Data
penelitian diperoleh dari hasil observasi, wawancara menggunakan kuesioner serta
data pendukung dari instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat
saluran pemasaran yang melakukan setiap fungsi pemasaran. Berdasarkan
perhitungan kuantitatif, saluran I merupakan saluran yang paling efisien dengan
marjin Rp 5 669 per kg dan farmer’s share 76.77 persen. Upaya mengatasi
ketidakefisienan pemasaran kopi di Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung
Barat melalui pelaksanaan secara optimal fungsi-fungsi pemasaran pada setiap
lembaga pemasaran
Evaluasi Hematologi dan Konsumsi Anak Kambing Pasca Sapih yang diberi Pakan Creep Feed mengandung Black Soldier Fly.
Maggot (Larva Black Soldier Fly) merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki beberapa keunggulan antara lain mudah didapatkan, kandungan protein yang tinggi sebesar 40%-50%, asam amino glisin dan methionin untuk pembentukan darah. Maggot dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti bungkil kedelai yang memiliki kandungan protein tinggi sebagai bahan baku pakan sumber protein. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan tepung maggot dengan media bungkil sawit sebagai pengganti bungkil kedelai dalam creep feed terhadap konsumsi nutrien dan gambaran hematologi darah anak kambing PE pasca sapih. Peubah yang diamati adalah konsumsi nutrien dan hematologi darah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan dan 5 ulangan pada anak kambing PE pasca sapih sebanyak 15 ekor dengan bobot berkisar 14.58±1.81kg. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 : 30% hijauan + 70% creep feed (0% tepung maggot), P1 : 30% hijauan + 70% creep feed (15% tepung maggot), P2 : 30% hijauan + 70% creep feed (30% tepung maggot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung maggot (Larva Black Soldier Fly) pada creep feed signifikan (P0.05) konsumsi bahan kering, abu, serat kasar, TDN, jumlah eritrosit, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah leukosit, limfosit, eosinofil, monosit dan basofil. Penggunaan tepung maggot (Larva Black Soldier Fly) dapat menggantikan bungkil kedelai pada creep feed sampai kadar 30%
Model Buangan Limbah Plastik dari Sungai yang Bermuara di Teluk Jakarta: Kasus Pra dan Pasca Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN).
Plastik merupakan material polimer yang membutuhkan waktu yang sangat
lama untuk terurai sehingga mengancam kesehatan perairan termasuk Teluk Jakarta
yang terpapar polutan dari sungai-sungai yang bermuara ke dalam teluk.
Keberadaan pulau-pulau reklamasi diduga akan menurunkan kemampuan cuci
alami (flushing) Teluk Jakarta terhadap polutan termasuk limbah plastik. Tujuan
dari penelitian ini adalah memodelkan sebaran limbah plastik di Teluk Jakarta
sebelum dan setelah reklamasi. Pembangunan model dua dimensi dilakukan
menggunakan MOHID (Modulo Hidrodinamico) dengan diskretisasi finite volume
dalam dua skenario (pra dan pasca Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara
(PTPIN)) dan divalidasi dengan tinggi muka air hasil pengukuran di lapang.
Sebaran limbah plastik paling banyak menumpuk di pesisir teluk yaitu saat Musim
Barat kondisi pra PTPIN. Hal ini disebabkan pengaruh angin musiman yang bertiup
dominan menuju pantai (bartiup dari Barat hingga Utara). Sebaran limbah plastik
terjauh yaitu saat Musim Timur kondisi pra PTPIN. Hal tersebut disebabkan arah
angin dominan bertiup dari Timur hingga Tenggara yang bergerak ke arah luar teluk.
Pulau reklamasi menyebabkan perubahan pola arus dan memerangkap partikel
sampah plastik. Skenario pasca PTPIN menunjukkan seluruh partikel limbah
terperangkap pulau-pulau reklamasi dan Sea Wall karena keberadaan bangunan
tersebut menghambat pergerakan sampah plastik yang dipicu oleh angin, arus, dan
elevasi muka air (pasang surut)
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor Lada Indonesia ke Amerika Serikat Tahun 2010-2018.
Lada merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia. Pada 2017 Indonesia menjadi pengekspor lada terbesar ketiga di dunia. Amerika Serikat adalah salah satu negara tujuan utama ekspor lada Indonesia. Ekspor lada Indonesia ke Amerika Serikat memiliki tren menurun dalam rentang tahun 20120-2018. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor lada Indonesia ke Amerika Serikat menggunakan Error Correction Model (ECM). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data triwulanan dalam rentang 2010-2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang dan jangka pendek variabel yang berpengaruh signifikan adalah harga lada Indonesia dan harga lada Vietnam