31665 research outputs found
Sort by
Strategi optimalisasi Pengelolaan Sumber Air di Asrama Mahasiswa Institut Pertanian Bogor.
Sungai Ciapus dan Sungai Cihideung merupakan anak Sungai Cisadane yang digunakan oleh Asrama Mahasiswa IPB sebagai sumber air yang dikelola oleh Direktorat Umum, Sarana dan Prasarana IPB. Namun, kualitas air yang dihasilkan masih rendah, karena sering terjadi kekeruhan. Upaya penjernihan sudah dilakukan, namun karena keterbatasan anggaran, pengelolaan belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengidentifikasi sistem pengelolaan sumber air di asrama mahasiswa, 2) Mengidentifikasi pola pemanfaatan air oleh mahasiswa asrama, 3) Mengestimasi kerugian ekonomi yang dirasakan mahasiswa asrama akibat keruhnya air di Asrama Mahasiswa IPB, 4) Mengestimasi besarnya kesediaan mahasiswa untuk berkontribusi dalam upaya pengelolaan sumber air di asrama mahasiswa dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, 5) Merumuskan strategi optimalisasi pengelolaan sumber air di asrama mahasiswa. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, replacement cost, cost of illness, Contingent Valuation Method (CVM), Analisis Regresi Logistik Biner, dan Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem instalasi pengolahan air dari Sungai Ciapus menggunakan tipe gravitasi, sedangkan Sungai Cihideung menggunakan tipe tekanan. Total pemanfaatan air oleh mahasiswa asrama adalah 158.707 liter/minggu yang berasal dari 73,2% air Sungai Ciapus dan 26,8% air Sungai Cihideung. Saat terjadi kekeruhan air, mahasiswa melakukan strategi adaptasi, sebagian besar mahasiswa mengalami kerugian rata-rata setiap orangnya Rp 205.052/tahun. Rata-rata Willingness to Pay (WTP) mahasiswa dalam berkontribusi untuk pengelolaan sumber air asrama adalah Rp 22.725 per bulan dan faktor yang memengaruhinya yaitu jumlah hari tinggal di asrama dan besarnya kerugian ekonomi. Strategi optimalisasi pengelolaan sumber air yang dapat dipilih yaitu sistem kombinasi (penggantian mesin dosing pump, pengurasan ground water tank (GWT) dan penggantian instalasi air)
Pemodelan Kalibrasi Alat Non-Invasive Glukosa dalam Darah dengan Pendekatan Regresi Spline
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang dianggap serius
belakangan ini. Penyakit ini disebabkan karena gangguan metabolisme yang
ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang dihasilkan
dari ketidaknormalan sekresi insulin. Penderita diabetes perlu melakukan
pengendalian kadar glukosa darah. Salah satu bentuk pengendalian yang dapat
dilakukan adalah dengan mengukur kadar glukosa darah secara rutin. Pengecekan
kadar glukosa dalam darah biasanya dilakukan dengan glukometer, yaitu alat
pengukur kadar glukosa darah yang dapat melukai tubuh yang dikenal dengan alat
invasive. Penggunaan alat invasive akan sangat membahayakan pasien, sehingga
diperlukan solusi alat pengukur kadar glukosa darah yang aman bagi tubuh dan
tanpa melukai tubuh, yaitu alat pengukur kadar glukosa darah non–invasive.
Alat pengukur kadar glukosa darah non-invasive memiliki keluaran berupa
spektrum nilai residu intensitas. Pada pemodelan spektrum residu intensitas
diperlukan suatu metode yang dapat digunakan untuk memodelkan keluaran nilai
residu intensitas. Bentuk pola data yang tidak beraturan mengakibatkan pemilihan
metode parametrik tidak tepat untuk digunakan sehingga dilakukan dengan
metode nonparametrik. Regresi Spline merupakan salah satu metode
nonparametrik dengan proses kerja melakukan pengepasan kurva regresi
berdasarkan data yang ada sehingga model akan memberikan fleksibilitas yang
lebih tinggi. Model yang terbaik akan dilihat dari nilai Generalized Cross
Validation (GCV) dan Root Mean Square Error Prediction (RMSEP) terkecil.
Tujuan dari penelitian ini adalah memodelkan hubungan antara keluaran alat
non-invasive dengan alat invasive dengan Regresi Spline Linier, Regresi Spline
Kuadratik, dan Regresi Spline Kubik untuk menemukan model terbaik dalam
pendugaan kadar glukosa dalam darah pada alat non-invasive. Data yang
digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dari data Pengembangan
dan Uji Klinis Purwarupa Alat Pemantauan Kadar Glukosa Darah non-invasive.
Data ini dikumpulkan dari 118 responden yang merupakan mahasiswa Institut
Pertanian Bogor.
Prapemrosesan data dilakukan sebelum data dianalisis. Data yang digunakan
merupakan data nilai residu intensitas pada saat lampu dan sensor hidup secara
bersamaan pada lima periode yang telah ditentukan. Setelah pemilihan data pada
kondisi tersebut, selanjutnya data diringkas, yaitu mengambil data yang
merupakan data kedua awal, data tengah, dan data kedua akhir pada setiap
modulasi. Peringkasan dilakukan karena jumlah data antar modulasi tidak sama.
Setelah data diringkas, selanjutnya dilakukan pemilihan modulasi terbaik.
Modulasi akan menggambarkan tingkat pencahayaan pada lampu. Modulasi
terbaik dalam penelitian ini adalah modulasi 50%. Hal ini dikarenakan modulasi
50% memiliki nilai rata-rata dan standar deviasi terkecil dibanding dengan
modulasi lainnya, selanjutnya dengan menggunakan data modulasi 50%, data
dilanjutkan ke tahap analisis.
Data dianalisis dengan menggunakan metode Regresi Spline Linier, Regresi
Spline Kuadratik, dan Regresi Spline Kubik. Regresi Spline Linier merupakan
metode terbaik dibandingkan metode Spline lainnya. Hal ini karena Regresi
Spline Linier memiliki nilai Generalized Cross Validation (GCV) dan Root Mean
Square of Prediction (RMSEP) terkecil.
Tiga metode Regresi spline diterapkan pada tiga jenis data yang berbeda,
yaitu dengan penggunaan seluruh data, penggunaan 117 data (menghapus satu
data pencilan), serta penggunaan 106 data (menghapus 12 data pencilan).
Penerapan metode Regresi Spline Linear pada 106 data merupakan perlakuan
yang terbaik
Aspek Dinamika Populasi Ikan Gulamah (Johnius trachycephalus Bleeker, 1851) di Perairan Lampung Timur
Ikan gulamah (Johnius trachycephalus) merupakan salah satu ikan bernilai
ekonomis dan ekologis di perairan Lampung Timur. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengkaji aspek dinamika populasi ikan gulamah untuk menjadi informasi
dasar dalam pengelolaan ikan gulamah. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni
hingga Oktober 2017 dengan jumlah sampel sebanyak 617 ekor. Hasil penelitian
menunjukan bahwa pola pertumbuhan ikan gulamah berdasarkan uji-t adalah
alometrik negatif. Pendugaan parameter pertumbuhan dengan metode Normal
separation (NORMSEP) menghasilkan L∞ dan K sebesar 230 mm dan 0,32 pada
jantan, serta 227 mm dan 0,38 pada betina. Laju eksploitasi sebesar 0,69 dan
mortalitas penangkapan lebih tinggi daripada mortalitas alami. Berdasarkan nilai
panjang pertama kali matang gonad (Lm50) dan panjang pertama kali tertangkap
(Lc50) dengan alat tangkap jaring insang dasar mengarah pada growth overfishing.
Kondisi stok ikan gulamah di perairan Lampung Timur berdasarkan aspek
dinamika populasi terindikasi mengalami tangkap lebih
Nilai Ekonomi Lahan dan Pengaruh Aktor dalam Penggunaan Lahan Komoditas Kehutanan dan Pertanian: Kasus di Desa Sedayu, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo.
Lahan memiliki nilai ekonomi yang berbeda. Para pemilik lahan
cenderung menggunakan lahan untuk tujuan yang memberikan harapan untuk
diperolehnya penghasilan yang tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan nilai ekonomi lahan tertinggi dalam satu tahun/daur berdasarkan pola
penggunaan lahan produk hutan rakyat dan produk pertanian di Desa Sedayu,
Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo dan menentukan nilai ekonomi lahan
tertinggi dalam satu daur dan satu tahun berdasarkan jenis komoditas di Desa
Sedayu dan mengetahui peranan aktor yang terlibat di dalamnya. Nilai ekonomi
lahan tertinggi dimiliki oleh komoditas sengon dengan rata-rata sebesar
Rp9.559/m²/daur dan Rp1.895/m²/tahun. Terdapat 5 aktor dominan yaitu kepala
desa, penyuluh pertanian, ketua kelompok tani, tengkulak, dan pemilik lahan.
Kepala desa memiliki pengaruh paling besar dibanding aktor lainnya
Serapan Logam Kadmium (Cd) Oleh Kerang Hijau (Perna viridis Linnaeus 1758) di Perairan Tambak Lorok, Kota Semarang.
Logam Kadmium termasuk ke dalam golongan II B tabel periodik. Logam
yang tidak mudah larut dalam air, mempunyai berat molekul 114,24 berwarna perak.
Jumlah kadmium di perairan laut tidak besar sekitar 0,001 nanogram/L, sumber
kadmium masuk ke perairan disebabkan secara natural (aktivitas vulkanik, erosi
batuan) dan secara antropogenik (pelapisan cat, stabilisator, penstabil plastik, hasil
sampingan Zn dan Pb dan pelapis baterai Ni-Cd). Logam Cd berbahaya bagi
organisme kerang hijau karena dapat mengganggu fertilisasi. Kerang hijau adalah
organisme yang penyebarannya luas, dapat bertahan hidup pada lingkungan yang
buruk, organisme menetap, cara makan kerang hijau yaitu filter feeder, dan
digunakan sebagai bioindikator untuk memonitor konsentrasi logam Cd di perairan.
Kerang hijau yang terkontaminasi logam Cd apabila dimakan oleh manusia akan
berdampak pada kesehatan tubuh.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kandungan logam Cd pada air laut,
sedimen dan daging kerang hijau dan menganalisis nilai Maximum Tolerable Intake
(MTI) di perairan Tambak Lorok dan Morosari.
Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi logam Cd pada air laut pada bulan
Mei, Juli dan Agustus di kedua perairan sebesar < 0,001; 0,002; dan 0,002 mg/L.
Konsentrasi logam Cd pada sedimen di perairan Tambak Lorok sebesar < 0,004;
0,0023; dan 0,0021 mg/kg, sedangkan di perairan Morosari sebesar < 0,004; 0,002;
dan 0,0114mg/kg. Konsentrasi logam Cd pada daging kerang hijau pada bulan Mei,
Juli dan Agustus di perairan Tambak Lorok sebesar < 0,01; 0,0060; dan 0,1277 ppm,
sedangkan di perairan Morosari konsentrasi logam Cd pada bulan Mei, Juli dan
Agustus sebesar < 0,01; 0,0067; dan 0,0493 ppm. Nilai MTI untuk orang dewasa
lokasi perairanTambak Lorok pada bulan Mei, Juli dan Agustus sebesar tidak
terbatas; 58,3; dan 2,7 kg/minggu, sedangkan untuk lokasi perairan Morosari
sebesar tidak terbatas; 52,5; dan 7,1 kg/minggu. Nilai MTI untuk anak-anak pada
bulan Mei, Juli dan Agustus lokasi perairan Tambak Lorok sebesar tidak terbatas;
23,3; dan 1 kg/minggu, sedangkan untuk lokasi perairan Morosari sebesar tidak
terbatas; 21; 2,8 kg/minggu.
Konsentrasi logam Cd daging kerang hijau meningkat dari bulan Juli ke
Agustus dan masyarakat masih dibolehkan makan daging kerang hijau yang berasal
dari perairan Tambak Lorok dan Morosari
Perubahan Struktur Histologi Insang dan Mortalitas Ikan Mas (Cyprinus carpio) akibat Pembekuan dan Pemingsanan dengan Minyak cengkeh.
Ikan mas merupakan komoditas perikanan yang digemari dan biasanya di pasarkan dalam keadaan hidup sehingga teknologi transportasi sangat penting. Transportasi ikan hidup dapat dilakukan dengan memindahkan ikan yang diberi perlakuan pemingsanan untuk menjaga agar ikan tetap hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemingsanan dengan minyak cengkeh dan waktu pembekuan terhadap mortalitas ikan mas. Konsentrasi minyak cengkeh yang digunakan 125 ppm. Lama waktu pembekuan 60, 90 dan 120 menit dengan suhu -13℃. Waktu sadar tercepat yaitu 4.83 menit dengan perlakuan pemingsanan pada pembekuan 60 menit. Waktu sadar terlama yaitu 26.20 menit diperoleh pada perlakuan metode tanpa pemingsanan dengan lama pembekuan 120 menit. Penelitian ini dapat disimpulkan dengan metode pemingsanan, pembekuan dan penyadaran kembali diperoleh tingkat mortalitas terendah yaitu 0% menggunakan perlakuan pemingsanan dengan lama penyimpanan 90 menit. Analisis histologi didapatkan kerusakan jaringan ikan pada pembekuan 120 menit yaitu terjadi pendarahan pada filamen insang
Pendugaan Biomassa dan Simpanan Karbon di Kawasan Hutan Lindung Gunung Tampomas Sumedang Jawa Barat
Peningkatan karbondioksida di atmosfer menyebabkan suhu permukaan bumi secara global semakin panas. Tumbuhan di hutan dapat menyerap karbondioksida terbesar melalui proses fotosintesis. Kawasan hutan lindung Gunung Tampomas terbagi menjadi kawasan yang didominasi oleh jenis pinus (Pinus merkusii) dan rimba campuran. Pada kedua kawasan tersebut dilakukan pengklasifikasian kelas normalize difference vegetation index (NDVI) menjadi 5 kelas sebagai dasar untuk menghitung kerapatan tegakan, biomassa dan simpanan karbonnya. Model regresi kuadratik merupakan model paling baik untuk menghubungkan kelas NDVI dan kerapatan tegakan. Total biomassa dan simpanan karbon secara berurutan pada kawasan hutan lindung yang didominasi oleh pinus adalah sebesar 132 613.79 ton dan 62 328.48 ton C, sedangkan total biomassa dan simpanan karbon secara berurutan pada kawasan hutan lindung rimba campuran sebesar 64 682.95 ton dan 30 400.99 ton C, sehingga total biomassa dan simpanan karbon secara berurutan di kawasan hutan lindung Gunung Tampomas adalah sebesar 197 296.74 ton dan 92 729.47 ton C
Respon Fisiologis, Metabolit, dan Molekuler Tanaman Padi terhadap Cekaman Keracunan Besi (Fe).
Cekaman keracunan Fe menyebabkan berbagai gangguan fisiologis yang sangat kompleks sehingga menurunkan pertumbuhan tanaman. Secara genetik, sifat toleransi tanaman terhadap cekaman keracunan Fe dikendalikan oleh banyak gen (poligenik). Hal tersebut yang menyebabkan hingga saat ini studi terkait cekaman keracunan Fe pada tanaman masih perlu dilakukan terutama berkaitan dengan sifat toleransinya. Berbagai pendekatan diperlukan untuk mengungkap dan memberikan gambaran tentang kondisi tanaman dalam mentoleransi cekaman keracunan Fe. Tingkat toleransi tanaman padi terhadap cekaman keracunan Fe sangat dipengaruhi oleh sifat genetik dan kondisi lingkungannya. Pendekatan secara fisiologis, metabolomik, dan molekuler diperlukan untuk mengungkap lebih mendalam tentang cekaman keracunan Fe pada tanaman padi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari toleransi tanaman padi terhadap cekaman keracunan Fe melalui analisis fisiologis, metabolomik, dan molekuler.
Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan utama. Tahapan pertama yaitu analisis respon anatomis dan fisiologis tanaman padi pada kondisi tergenang dan jenuh air di lahan dengan kandungan Fe tinggi. Kondisi tergenang untuk menunjukkan cekaman keracunan Fe yang terjadi di lapang. Tahapan kedua yaitu analisis profil metabolit tanaman padi pada kondisi cekaman keracunan Fe berdasarkan analisis GC-MS tanpa proses derivatisasi dan LC-MS. Tahapan ketiga yaitu analisis aktivitas gen PLA2 dan PPO pada konsentrasi Fe yang berbeda melalui quantitative real time polymerase chain reaction (qRT-PCR). Terdapat empat varietas tanaman padi yang digunakan pada penelitian ini yaitu IR64, Inpara 5, Inpara 2, dan Pokkali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi tanah berpengaruh terhadap respon anatomis dan fisiologis tanaman padi. Tanah yang tergenang di lahan dengan kandungan Fe tinggi menyebabkan penurunan biomassa, diameter akar, kandungan Fe jaringan akar dan tajuk, kandungan klorofil, laju fotosintesis, laju transpirasi, dan konduktansi stomata. Pada kondisi tergenang hanya Pokkali yang mampu menunjukkan pertumbuhan yang baik dibandingkan varietas padi lainnya. Pokkali menunjukkan kandungan Fe plak dan jaringan dengan konsentrasi yang besar pada saat kondisi tanah tergenang. Pada kondisi jenuh air Inpara 2 dan Pokkali mampu tumbuh baik dengan cara meningkatkan jumlah plak akar sebagai bentuk penghidaran (avoidance) dan meminimalisir dari cekaman yang berlebih. Namun pada kondisi jenuh air, Pokkali juga meningkatkan kemampuan kompartementasi Fe di dalam jaringan serta detoksifikasi ROS sebagai bentuk toleransinya. Kondisi jenuh air juga menyebabkan tanaman padi varietas sensitif yaitu IR64 dan Inpara 5 mampu tumbuh dengan baik dibandingkan kondisi tergenang.
Analisis metabolomik menggunakan GC-MS dan LC-MS masing-masing diperoleh 163 dan 58 senyawa metabolit dari 4 varietas tanaman padi meliputi IR64, Inpara 5, Inpara 2, dan Pokkali. Tiga senyawa kelompok asam lemak (asam elaidat, asam linoleat, asam linolenat) dan riboflavin menjadi senyawa metabolit penanda cekaman keracunan Fe pada tanaman padi. Terdapat korelasi positif antara asam elaidat dan laju pertumbuhan tajuk (r = 0.60) dan klorofil (r = 0.76). Konsentrasi
asam linoleat akar berkorelasi negatif dengan kandungan MDA akar (r = -0.56). Korelasi negatif ditunjukkan antara konsentrasi asam linolenat tajuk dengan kandungan klorofil (r = -0.92). Korelasi secara positif ditunjukkan antara riboflavin dan klorofil (r = 0.88) serta laju pertumbuhan tajuk (r = 0.9) ketika kondisi cekaman keracunan Fe.
Tingkat toleransi tanaman dan perbedaan konsentrasi Fe memengaruhi tingkat ekspresi gen PLA2 dan PPO pada jaringan tajuk. Aktivitas gen PLA2 berkorelasi positif (r = 0.62) terhadap kandungan klorofil dan negatif (r = -0.46) terhadap tingkat bronzing daun pada saat kondisi tanaman padi tercekam keracunan Fe. Aktivitas gen PPO juga diketahui berkorelasi positif (r = 0.75) terhadap kandungan klorofil dan negatif (r = -0.90) terhadap tingkat bronzing daun pada saat kondisi tanaman padi tercekam keracunan Fe.
Simpulan umum dari penelitian ini yaitu biomassa, diameter akar, kandungan Fe jaringan, tingkat peroksidasi lipid, kandungan klorofil, laju fotosintesis, laju transpirasi, dan konduktansi stomata secara konsisten mampu membedakan respon tanaman padi varietas sensitif (IR64 dan Inpara 5), moderat (Inpara 2), dan toleran (Pokkali) terhadap cekaman keracunan Fe. Mekanisme toleransi tanaman padi terhadap cekaman keracunan Fe melibatkan beberapa asam lemak (asam linolenat, asam linoleat, dan asam elaidat) dan riboflavin. Peningkatan ekspresi gen PLA2 berkaitan dengan konsentrasi asam lemak sebagai komponen penting membran sel dan peningkatan ekspresi gen PPO saat terjadi cekaman keracunan Fe berkaitan dengan mekanisme toleransi tanaman padi terhadap kondisi cekaman keracunan Fe. Peningkatan ekspresi gen PLA2 dan PPO berkorelasi positif dengan kandungan klorofil dan negatif dengan bronzing pada daun
Efek Ekstrak Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (Blume) Miq.) terhadap Indeks Eritrosit Tikus Sprague Dawley yang Diinduksi Etilen Glikol
Ginjal memiliki peran penting dalam regulasi dan pembentukan sel darah
karena ginjal memproduksi hormon eritropoietin yang menstimulasi produksi sel
darah merah (eritropoiesis). Gangguan pada ginjal dapat mengganggu proses
pembentukan sel darah merah dan menyebabkan anemia. Jenis-jenis anemia dapat
diketahui dengan menghitung indeks eritrosit. Tanaman kumis kucing merupakan
tanaman yang umum digunakan sebagai obat dalam berbagai penyakit ginjal.
Penelitian ini bertujuan untuk menghitung indeks eritrosit sebagai parameter
penentu terjadinya anemia pada tikus yang diinduksi etilen glikol dan diberi
ekstrak daun kumis kucing. Etilen glikol merupakan senyawa nefrotoksik.
Sejumlah 35 tikus berumur 7 bulan dibagi dalam 3 kelompok, yaitu yang diberi
ekstrak kumis kucing saja, kombinasi ekstrak kumis kucing dan etilen glikol
secara bersamaan, dan yang diberi ekstrak kumis kucing setelah etilen glikol.
Dosis ekstrak kumis kucing yang digunakan sebanyak 245 mg/kgBB, sedangkan
dosis etilen glikol sebanyak 21.43 mg/kgBB. Data indeks eritrosit dianalisa
dengan varian satu arah (one-way ANOVA) dengan selang kepercayaan 5%. Hasil
menunjukkan ekstrak daun kumis kucing mampu menghambat efek etilen glikol
pada nilai Mean Corpuscular Value
Strategi Pengembangan Usaha Peternakan Sapi Rakyat di Kabupaten Timor Tengah Utara Provinsi NTT
Bisnis peternakan perlu dikembangkan untuk mendukung program
ketahanan pangan yang diluncurkan oleh pemerintah Indonesia. Kebutuhan
daging sapi di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan
peningkatan impor dari negara tetangga Indonesia dengan jumlah penduduk lebih
dari 250 juta yang memerlukan ketahanan pangan dan terpenuhinya kebutuhan
daging sapi. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk peringkat lima besar
sentra populasi sapi potong terbesar di Indonesia. Kabupaten Timor Tengah Utara
(TTU) adalah salah satu daerah di provinsi NTT yang dikenal sebagai "Gudang
Ternak". Populasi sapi di Kabupaten TTU sebanyak 98.631 ekor dan mengalami
peningkatan cukup tinggi pada tahun 2015 sebanyak 117.784 ekor atau 19.42 %.
Pada periode tahun 2011-2015, rata-rata pertambahan populasi sapi di Kabupaten
TTU dapat mencapai 4.6 % setiap tahunnya.
Studi ini bertujuan untuk merancang beberapa strategi untuk
mengembangkan peternakan sapi di kabupaten TTU. Data dikumpulkan dengan
observasi dan mewawancarai tujuh responden ahli yang terdiri dari lima peternak,
Kepala Dinas Peternakan dan Penyuluh Peternakan. Data sekunder diperoleh dari
Badan Pusat Statistik (BPS) dan Departemen Peternakan, dokumentasi sebagai
data pendukung. Metode faktor identifikasi digunakan untuk mengetahui faktor
internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan peternakan sapi di
Kabupaten TTU. Evaluasi faktor internal dan eksternal digunakan untuk menilai
besarnya pengaruh faktor. Internal-External matrix analysis (IE) digunakan untuk
merumuskan beberapa strategi berdasarkan posisi bisnis. SWOT digunakan untuk
membuat beberapa strategi dan strategi dipilih menggunakan AHP.
Hasil dari penelitian ini adalah peternakan sapi di kabupaten TTU berada
pada kuadran empat yang artinya posisi tumbuh dan bina. Kepala Dinas
Peternakan merupakan aktor yang sangat berperan penting dalam keberlanjutan
strategi yang ada. Strategi yang tertinggi adalah strategi Integrasi dengan prioritas
strategi yang dilakukan adalah penambahan UPTD dan koperasi di setiap titik
daerah potensial, kedua memberikan pelatihan teknologi budidaya sapi secara
periodik dan upaya penyediaan petugas pendamping tingkat desa