31665 research outputs found
Sort by
Pengembangan Modul Front-End Sistem Informasi Manajemen Unit Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka Tropika
Laboratorium Pusat Studi Biofarmaka Tropika Institut Pertanian Bogor
(Trop BRC) merupakan salah satu laboratorium yang bergerak di bidang analisis
kimia dan pengujian. Saat ini proses pendataan dan pemantauan proyek dalam
bentuk analisis kimia dan pengujian di Unit Laboratorium Trop BRC masih
dilakukan dengan cara manual. Hal ini dapat dilihat dari pencatatan semua
kebutuhan klien di formulir tercetak, tidak adanya pemantauan untuk mengetahui
tahapan analisis yang sedang berlangsung, dan hasil pelaporan kepada manajer
puncak masih bersifat tercetak. Pada penelitian ini dikembangkan Sistem
Informasi Manajemen Laboratorium Uji Biofarmaka (SIMALUB) yang berfungsi
untuk mendata dan memantau perkembangan analisis kimia dan pengujian di Unit
Laboratorium Trop BRC. Pengembangan SIMALUB menggunakan metode
Prototyping sebanyak 2 iterasi dengan fokus pada bagian front-end. Pengujian
SIMALUB dilakukan menggunakan metode user acceptance testing (UAT).
Berdasarkan hasil UAT, pengembangan SIMALUB telah berhasil memenuhi
kebutuhan pengguna
Tolok Ukur Kearifan Lokal pada Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan di Desa Adat Kedonganan Provinsi Bali
Terminologi kearifan lokal sering digunakan walau tidak ada pedoman teknis
yang dapat digunakan untuk mengukur kadar kearifan tersebut. . Padahal kearifan
dalam mengelola sumberdaya harus diartikan sebagai pengelolaan yang menjaga
keberlanjutan sumberdaya tersebut.. Oleh sebab itu pemerintah harus memiliki
tolok ukur untuk menentukan apakah praktik pengelolaan masysarakat lokal
tersebut arif atau tidak. Penelitian bertujuan menyusun tolok ukur tingkat kearifan
masyarakat dalam mengelola sumberdaya ikan dan mengujicobakannya terhadap
praktik pengelolaan di Desa Adat Kedonganan. Penelitian berupa studi kasus
dilakukan dengan studi pustaka serta pendekatan kualitatif melalui pengamatan
langsung dan wawancara terhadap prajuru adat dan perwakilan nelayan
Kedonganan. Penelitian mendefinisikan kearifan yang dipadankan dengan
berbagai kriteria pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan ke dalam satu
instrumen tolok ukur. Tolok ukur memiliki dua bagian yaitu aspek Dasar
Pemikiran (factual knowledge) dan aspek Praktik Pengelolaan (procedural
knowledge) masing-masing terbagi ke dalam lima kriteria yaitu: ekosistem dan
sumberdaya, perencanaan dan tata kelola, kelembagaan, alat tangkap dan
teknologi, serta sosial dan ekonomi. Tiap kriteria memiliki indikator dan
parameter penilaian tertentu. Penelitian mengungkapkan adanya perbedaan tingkat
kearifan antara prajuru adat dengan nelayan. Tingkat kearifan nelayan pada aspek
Dasar Pemikiran termasuk lemah di tiga kriteria. Nelayan mencapai tingkat
moderat pada kriteria alat tangkap dan teknologi serta mencapai tingkat kuat pada
kriteria sosial dan ekonomi. Adapun prajuru desa hanya satu kriteria yang bernilai
lemah (sumberdaya dan ekosistem). Tidak ada perbedaan tingkat kearifan di
kedua kelompok tersebut untuk aspek Praktik Pengelolaan. Keduanya cenderung
lemah di kriteria ekosistem dan sumberdaya, perencanaan, dan kelembagaan.
Namun mencapai moderat pada kriteria alat tangkap dan tinggipada kriteria sosial
ekonomi
“Plant Today”: Aplikasi Penyedia Informasi Perawatan Tanaman Dekorasi Rumah
Permintaan tanaman dekorasi rumah terus meningkat sehingga memberikan peluang pengembangan bisnis baru. Daya saing bisnis baru dapat dibentuk menggunakan metode design thinking dengan menciptakan produk yang sesuai keinginan pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk mendefinisikan permasalahan pelanggan, merumuskan produk yang sesuai, dan menguji penerimaan pelanggan terhadap produk yang diciptakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelanggan memiliki masalah: (1) keterbatasan informasi (a) tata cara perawatan tanaman, (b) hama, (c) jenis dan karakter tanaman, (d) pengembangbiakkan, (e) referensi online kurang friendly, dan (2) kualitas barang serta pengiriman dari penjual tanaman masih kurang baik. Solusi yang titawarkan adalah “Plant Today” yang merupakan aplikasi penyedia informasi perawatan tanaman untuk dekorasi rumah yang lengkap dan menarik. Pengguna potensial Plant Today ialah Ibu rumah tangga penyuka tanaman hias berusia rata-rata > 30 - 44 tahun, dengan tingkat ekonomi menengah keatas. Hasil uji solusi menunjukan bahwa Plant Today dapat diterima menjadi solusi dari permasalahan yang ada
Analisis Sifat Fisis dan Mekanis Komponen Kayu pada Kapal Pelayaran Rakyat Pekalongan, Jawa Tengah
Kapal pelayaran rakyat merupakan layanan transportasi laut tradisional
yang secara umum terdiri dari lambung, dek, lunas, transom dan rumah-rumah.
Penelitian mengidentifikasi jenis dan sifat fisis-mekanis komponen kayu serta
faktor aman kapal pelayaran rakyat menggunakan standar pengujian BS-373: 1957.
Kapal pada bagian dek menggunakan kayu bangkirai sedangkan bagian lunas,
transom, dan lambung menggunakan kayu merbau. Hasil penelitian menunjukan
bahwa sifat fisis kayu bangkirai dan merbau meliputi kadar air masing-masing
sebesar 20.05 % dan 15.64 %. Kerapatan masing-masing sebesar 1.07 g/cm3 dan
0.93 g/cm3, dan berat jenis sebesar 0.90 dan 0.81. Sifat mekanis kayu bangkirai dan
merbau meliputi kekerasan kayu masing-masing sebesar 765 kg/cm2 dan 682
kg/cm2, kekuatan tekan sejajar serat sebesar 664 kg/cm2 dan 604 kg/cm2, kekuatan
tekan tegak lurus sebesar 49.69 kg/cm2 dan 37.45 kg/cm2. Kekakuan lentur (MOE)
masing-masing sebesar 202090 kg/cm2 dan 161867 kg/cm2. Kekuatan lentur
(MOR) sebesar 1581 kg/cm2 dan 1418 kg/cm2. Merujuk pada ASTM D245-2005
faktor aman kayu minimal sebesar 2.25 untuk kayu konstruksi sedangkan hasil
perhitungan faktor aman kapal berdasarkan pendekatan berat total kapal sebesar 5.4
sehingga kapal aman dalam berlayar
IPB (Bogor Agricultural University)
Penyakit tular vektor seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) masih
merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia termasuk di Kota Cirebon.
Pelabuhan laut Cirebon sebagai salah satu pintu masuk negara berpotensi terhadap
penularan penyakit DBD tersebut. Tujuan penelitian untuk mengukur kepadatan
dan mendeterminasi karakteristik habitat larva Aedes aegypti, menganalisis
hubungan faktor lingkungan (karakteristik habitat, suhu dan kelembapan udara),
tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat dengan keberadaan larva Ae.
aegypti dan mengukur status resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida
malation dan sipermetrin.
Jenis penelitian yaitu observasi deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional study dengan sampel seluruh rumah/ bangunan yang berada di wilayah
perimeter Pelabuhan laut Cirebon. Faktor lingkungan, karakteristik habitat diukur
dengan pengamatan secara visual terhadap jenis, letak, bahan, warna dan tutup
kontainer serta volume air, jenis sumber air dan paparan cahaya pada kontainer.
Suhu air diukur menggunakan termometer infra merah dan pH air menggunakan
pH meter. Suhu dan kelembapan udara diukur menggunakan termohigrometer.
Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat diperoleh melalui wawancara
menggunakan pedoman kuesioner terstruktur tentang pencegahan dan
pengendalian vektor DBD. Koleksi larva dilakukan dengan metode single larvae
dan morfologi Ae. aegypti diamati menggunakan mikroskop berdasarkan kunci
identifikasi Aedes spp. Pengukuran status resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap
insektisida malation 0.8% dan sipermetrin 0.05% menggunakan metode
susceptibility test standar World Health Organization (WHO).
Hasil penelitian, jumlah kontainer yang diamati sebanyak 486 kontainer
dengan jenis kontainer positif larva Ae. aegypti yaitu bak kakus, bak mandi, drum,
ember, kolam dan ban bekas. Keberadaan larva Ae. aegypti sebagian besar berada
pada kontainer di luar rumah. Jenis kontainer yang paling banyak ditemukan yaitu
ember dan perkiraan volume air pada kontainer sebagian besar lebih dari 20 L. Hasil
perhitungan House Index (HI), Container Index (CI), Breteau Index (BI) dan
Density Figure (DF) (HI:8.74%; CI:9.05%; BI:12.02; DF:3) dengan kategori
kepadatan Ae. aegypti sedang. Berdasarkan hasil uji chi square, karakteristik habitat
yang mempunyai hubungan signifikan dengan keberadaan larva Ae. aegypti yaitu
jenis kontainer, bahan kontainer, volume air, sumber air, pH air dan suhu udara
(p<0.05). Hasil analisis dengan binary logistic regression, variabel yang
berpengaruh dan berisiko terhadap keberadaan larva Ae. aegypti yaitu jenis
kontainer ember (p=0.003; OR=18.972) dan pH air (p=0.022; OR=2.489). Faktor
pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat tidak berpengaruh terhadap
keberadaan larva Ae. aegypti. Hasil uji resistensi nyamuk terhadap insektisida
berdasarkan persentase kematian nyamuk di wilayah perimeter Pelabuhan laut
Cirebon, status Ae. aegypti resisten terhadap malation dan sipermetrin
Komposisi Hasil Tangkapan Utama dan Sampingan Benih Sidat dengan Alat Tangkap Seser di Muara Sungai Cimandiri
Sidat merupakan sumberdaya perairan yang bernilai ekonomis. Dalam kegiatan
budidaya sidat, benih masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam. Hingga saat
ini, penelitian yang tersedia difokuskan terhadap hasil tangkapan utama sedangkan
informasi bycatch diperlukan untuk memberikan saran terkait pengelolaan hasil
tangkapan sampingan dalam meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangi tingkat
kematian bycatch yang dibuang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
unit penangkapan benih sidat (glass eel) pada pengoperasian alat tangkap seser,
mengetahui komposisi hasil tangkapan utama dan sampingan sidat di Muara Sungai
Cimandiri dan mengestimasi pendapatan nelayan yang menangkap benih sidat.
Metode yang digunakan adalah simple random sampling untuk mengumpulkan data
hasil tangkapan utama dan sampingan, dan metode accidental sampling untuk
mewawancara nelayan dan pengumpul benih sidat. Analisis yang digunakan adalah
analisis hasil tangkapan dan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa unit penangkapan ikan pada pengoperasian alat tangkap seser terdiri dari
nelayan dan alat tangkap. Nelayan penangkapan benih sidat di Muara Sungai
Cimandiri adalah nelayan pekerja sambilan. Catch per unit effort alat tangkap seser
tertinggi terjadi pada bulan Februari 2019 yaitu 3,07 gr/jam, dan yang terendah pada
bulan Maret 2019 sebesar 2,57 gr/jam. Terdapat 8 jenis biota tangkapan yang terdiri
dari 1 jenis hasil tangkapan utama yaitu glass eel (Anguilla bicolor) dan 7 jenis
hasil tangkapan sampingan: pepetek (Leoignathus equulus), gulamah (Johnuis
amblycephalus), teri nasi (Stolephorus commersonii), belanak (Mugil cephalus),
bondolan (Gazza minuta), udang rebon (Mysis relicta), dan kuro (Polydactylus
plebius). Pendapatan rata-rata nelayan benih sidat per hari sebanyak Rp 12.286,-
sedangkan pendapatan rata-rata pengumpul per hari sebanyak Rp 190.133,-
Pengaruh Dolomit pada Sifat Kimia Tanah Berkadar Aluminium Tinggi dari Jasinga Bogor
Kondisi iklim tropika basah memungkinkan untuk terjadinya pelapukan tanah intensif dan menghasilkan tanah-tanah terlapuk lanjut. Salah satu tanah tersebut adalah Ultisol dari Jasinga, Kabupaten Bogor yang mempunyai Al dapat ditukar (Al-dd) sebesar 24.75 cmol(+)/kg dan kejenuhan aluminium 44.31% yang tergolong tinggi dan kejenuhan basa (KB) 13.78% yang tergolong rendah. Penggunaan tanah ini dibatasi oleh tingginya Al-dd yang beracun bagi tanaman. Kadar Al-dd dan kejenuhan Al dapat diminimalisir dengan cara perbaikan kondisi tanah (ameliorasi). Ameliorasi yang umum dilakukan adalah pengapuran. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dolomit terhadap perubahan nilai pH, kation dapat ditukar (Al, Ca, dan Mg), KTK, kejenuhan Al, Fe tersedia, dan Mn tersedia. Penelitian dilakukan dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor, terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan, sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Perlakuan berupa dosis dolomit setara 0, 0.5, 1.0, 1.5, 2.0 dan 2.5 x Al-dd. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Oktober 2018 di Kebun Percobaan Cikabayan dan Laboratorium Kimia Kesuburan Tanah Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB. Perlakuan dolomit nyata meningkatkan pH tanah, Ca dan Mg dapat ditukar, dan KB. Pelakuan dolomit sebaliknya nyata menurunkan Al-dd dan kejenuhan Al. Perlakuan dolomit 2.5 x Al-dd mampu menurunkan nilai Al-dd menjadi 2.31 cmol(+)/kg dan kejenuhan Al 4.5%; sebaliknya meningkatkan pH menjadi 5.34, Ca dan Mg dapat ditukar masing-masing 22.95 cmol(+)/kg dan 16.69 cmol(+)/kg, serta Fe tersedia dan Mn tersedia masing-masing 24.0 ppm dan 24.6 ppm. Pola perubahan pada setiap variabel dengan waktu inkubasi menunjukkan nilai maksimum dan titik puncak yang berbeda-beda
Tanggap Tanaman Padi (Oryza sativa L.) terhadap Pupuk Hayati Jenis Bacillus
Aplikasi pupuk hayati Bacillus sp. yang dikombinasikan dengan kombinasi
pupuk anorganik dapat mendukung pertumbuhan tanaman dan produksi padi.
Pengunaan pupuk hayati juga bermanfaat dalam pengurangan pupuk anorganik,
pestisida dan dampak terhadap lingkungan. Strain yang efisien dari bakteri ini
memiliki kemampuan untuk meningkatkan status hara tanah, pertumbuhan
tanaman, perlindungan tanaman terhadap tekanan biotik, kemudian produksi padi.
Penelitian lapangan dilakukan dari Agustus hingga November 2018 di
stasiun percobaan Sawah Baru, IPB, Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui kemampuan Bacillus sp. dalam meningkatkan status hara tanah,
pertumbuhan, hasil, tanggap morfologis dan fisiologis dua varietas padi (Mekongga
dan IPB 3S). Percobaan pupuk hayati menggunakan rancangan petak terpisah (split
plot) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Kombinasi pupuk sebagai petak utama
dan varietas sebagai anak petak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk NPK dan
Urea pada tingkat 75% dan 100% dengan Bacillus sp. memiliki respon fisiologi
pertumbuhan tanaman dan hasil tertinggi. Hasil padi tertinggi pada varietas
Mekongga dan IPB 3S adalah 5.07 ton ha-1 serta 2.88 ton ha-1 yang diperoleh
melalui pemupukan 100% dari tingkat yang direkomendasikan (300 kg NPK ha-1
+ 150 kg Urea ha-1) + 4 L ha-1 biofertilizer (BF). Tanaman padi yang hanya
menggunakan pupuk anorganik (300 kg NPK ha-1 + 150 kg Urea ha-1)
menghasilkan 3.89 ton ha-1 dan lebih rendah dibandingkan dengan BF saja (4.56
ton ha-1). Tanaman yang tidak dipupuk (kontrol) memiliki hasil terendah yaitu 3.09
ton ha-1 pada varietas Mekongga dan 1.55 ton ha-1 pada IPB 3S.
Penambahan pupuk anorganik dan atau pupuk hayati Bacillus sp.
memperbaiki pertumbuhan tanaman, karakter fisiologi dan morfologi akar. Ada
pengaruh interaksi antara kombinasi pupuk anorganik dan varietas padi terhadap
hasil padi. Terhadap hasil padi, varietas Mekongga merespon pupuk hayati Bacillus
sp. lebih baik dibandingkan IPB 3S
Autentikasi dan Ketertelusuran Puffer Fish (Lagocephalus lunaris) pada Produk Olahan Ikan Berbasis Surimi
Produk olahan ikan berbasis surimi berpotensi tinggi dalam kesalahan pelabelan bahan baku, dan berpotensi menggunakan bahan tidak sesuai dan toksisitas tinggi. Penelitian bertujuan melakukan autentikasi untuk menentukan bahan baku digunakan pada produk olahan surimi menggunakan DNA barcode. Amplifikasi DNA dilakukan dengan primer target fish universal F1R1/F2R2, mini-barcode, serta primer spesies spesifik Lagocephalus lunaris. Amplifikasi optimum primer F1R1/F2R2 berada pada suhu 54 °C, sedangkan primer mini barcode pada suhu 62 °C dengan 35 siklus. Produk PCR di sekuensing, dan diketahui urutan basa nukleotida DNA sampel. Analisis menunjukkan sampel S1 adalah Coryphaena hippurus atau ikan mahi-mahi dengan homologi 96.32%, S2 dan S3 Nemipterus bathybius atau ikan kurisi dengan homologi 93.54% dan 94.77% dan CS adalah spesies Evynnis cardinalis atau Ikan kuro dengan homologi 97.80%. Amplifikasi sampel dengan primer spesies spesifik ikan buntal Lagocephalus lunaris dengan suhu 54 °C, 57 °C, dan 60 °C menunjukkan tidak terdapatnya pita DNA pada enam sampel yang dianalisis
Peptida Bioaktif dari Tempe: Telaah Bioinformatika dan Karakterisasi.
Dalam dekade terakhir ini, peptida yang memiliki peran sebagai pangan
fungsional menjadi sorotan menarik. Berbagai penelitian menyebutkan beberapa
peran fungsional peptida bioaktif di antaranya sebagai antihipertensi, antioksidan,
antimikroba, antitrombotik, antiadipogenik (antiobesitas), antikanker, aktifitas
opioid, antihiperkolesterol, immunomodulator dan antidiabet (kencing manis).
Sekuen asam amino yang memiliki peran fungsional dalam peptida bioaktif sudah
cukup banyak dilaporkan. Pola sekuen asam amino dalam fragmen peptida
tersebut diperkirakan terkait dengan mekanisme fungsional dari peptida-peptida
tersebut. Salah satu cara memproduksi peptida bioaktif adalah dengan proses
fermentasi. Produk fermentasi asli Indonesia yang sudah dikenal adalah tempe.
Penelitian ini bertujuan menelaah karakteristik in silico (bioinformatika) dan
in vitro peptida bioaktif yang mungkin terdapat di dalam tempe dari berbagai jenis
produsen serta memperkirakan pembuatan tempe yang menghasilkan peptida
bioaktif yang optimal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kehadiran suatu asam amino tidak cukup
dalam mencirikan suatu sifat fungsional pada peptida bioaktif, seperti kehadiran
residu asam amino gugus aromatik dan alifatik pada peptida yang memiliki sifat
antihipertensi dan antioksidan serta residu asam amino bergugus kation pada
peptida yang memiliki sifat antimikroba. Parameter yang dibangkitkan dari
peptida bioaktif meliputi panjang sekuens, berat molekul, titik isoelektrik, muatan
bersih dan hidrofobisitas secara simultan dapat digunakan untuk mencirikan sifat
fungsional peptida bioaktif. Hasil ini dapat menjadi pintu bagi pengungkapan sifat
fungsional peptida dengan menggunakan sifat fisik dan kimianya.
Proses fermentasi kedelai menjadi tempe dapat menjadi sumber peptida
bioaktif yang potensial. Penelitian ini mengungkap bahwa karakteristik dan proses
produksi yang berbeda dari produsen tempe mempengaruhi peptida bioaktif yang
dihasilkan. Peptida bioaktif kecil dengan berat molekul kurang dari 1.000 Da
ditemukan pada ketiga sampel tempe dari produsen dengan tingkat sanitasi
berbeda. Jumlah peptida bioaktif yang dihasilkan oleh produsen yang memiliki
tingkat sanitasi yang baik (sebesar 60%) lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah
peptida bioaktif yang dihasilkan produsen yang memiliki tingkat sanitasi yang
sedang dan kurang (masing-masing sebesar 43% dan 34%). Hal ini diduga terkait
dengan starter tempe yang lebih murni, peralatan yang bersih yang digunakan dan
blanching yang dilakukan sebelum inokulasi selama produksi tempe. Sebagian
besar peptida bioaktif yang dihasilkan oleh ketiga produsen adalah peptida dengan
sifat antihipertensi, antidiabetik, antioksidan dan antitumor.
Telaah in silico yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa
jumlah dan jenis peptida yang dihasilkan menggunakan aplikasi PeptideCutter
dipengaruhi oleh banyaknya enzim dan panjang residu asam amino yang dimiliki
oleh protein simpanan kedelai. Simulasi I menggunakan kompleks enzim protease
yang dihasilkan oleh Lactobacillus sp. dan Rhizopus oligosporus yaitu Asp N
Endopeptidase, Asp N Endopeptidase + N terminal Glu; Glutamyl endopeptidase,
Proline endopeptidase dan Tripsin. Adapun simulasi II menggunakan kompleks
enzim yang dihasilkan oleh Lactobacillus sp., Rhizopus oligosporus, dan
Klebsiella pneumonia yaitu Asp N Endopeptidase, Asp N Endopeptidase + N
terminal Glu, Glutamyl endopeptidase, Proline endopeptidase, Tripsin dan
Chymotripsin.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peptida bioaktif hasil pemotongan
dengan PeptideCutter sebagian besar memiliki peran fungsional sebagai
antihipertensi, antidiabetik, dan antioksidan, di samping beberapa sebagai
antitumor dan pengatur aliran ion. Jumlah peptida bioaktif hasil pemotongan
kompleks enzim simulasi II (58 peptida bioaktif) lebih banyak dibandingkan
kompleks enzim simulasi I (41 peptida bioaktif). Peptida hasil pemotongan
dengan PeptideCutter yang memiliki sifat fungsional hampir seluruhnya
berbentuk dipeptida, hanya ada tiga peptida yang berbentuk tripeptida yaitu
tripeptida LLF (Glycinin G1), VVF (Glycinin G5) dan RHK (-conglycinin rantai
).
Telaah in vitro dan in silico (bioinformatika) yang dilakukan pada penelitian
ini menunjukkan bahwa jumlah peptida yang dihasilkan dalam analisis in silico
lebih banyak dibandingkan secara in vitro (fermentasi). Prosen jumlah peptida
bioaktif yang teridentifikasi melalui in vitro lebih banyak dari pada secara in silico.
Variasi panjang sekuen peptida bioaktif yang dihasilkan secara in vitro juga lebih
besar dibandingkan secara in silico.
Oleh karena itu, bioinformatika dapat bermanfaat memberikan gambaran
umum peptida yang dapat dihasilkan dari proses hidrolisis secara in silico, dan
dapat memprediksi sifat fungsionalnya. Keterbatasan jumlah enzim yang tersedia
di dalam aplikasi secara in silico menyebabkan belum bisa menggambarkan
kondisi hidrolisis yang riil dalam fermentasi kedelai menjadi tempe