31665 research outputs found
Sort by
Daya Saing, Ekuivalen Tarif Impor, dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan Ekspor Minyak Sawit Indonesia di Negara OKI (Organisasi Kerjasama Islam).
Indonesia merupakan negara pengekspor minyak sawit terbesar di dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, minyak sawit Indonesia dihadapi oleh beberapa hambatan. Oleh karena itu, Indonesia diharapkan mampu melakukan diversifikasi pasar, salah satunya dengan menjadikan negara anggota OKI sebagai negara tujuan ekspornya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana daya saing, besarnya ekuivalen tarif impor,dan faktor-faktor yang memengaruhi permintaan ekspor minyak sawit Indonesia di 28 negara OKI. Metode yang digunakan adalah Export Products Dynamics (EPD) dan regresi data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak sawit Indonesia memiliki daya saing yang cukup kuat pada 15 negara OKI. Hasil estimasi menggunakan metode regresi data panel menunjukkan bahwa PDB per kapita negara importir, jarak ekonomi, harga ekspor, populasi, dan nilai tukar riil berpengaruh signifikan terhadap permintaan ekspor minyak sawit Indonesia ke negara OKI. Penelitian ini juga menemukan bahwa negara OKI memberlakukan hambatan non tarif terhadap minyak sawit Indonesia walaupun besarannya relatif rendah
Seleksi Kelompok Metabolit Kandungan Temu Ireng (Curcuma aeruginosa) Terkait Bioaktivitas Menggunakan Regresi Group Lasso
Zingiberaceae adalah famili tumbuhan yang menjadi salah satu sumber bahan obat herbal atau jamu. Salah satu tumbuhan dari famili tersebut adalah temu ireng (Curcuma aeruginosa). Temu ireng telah digunakan sebagai bahan campuran obat untuk beberapa penyakit seperti gangguan pada pernapasan dan penyakit kulit. Identifikasi kandungan senyawa aktif kimia atau metabolit sekunder penyusunnya menjadi penting dilakukan untuk pemanfaatan temu ireng lebih lanjut. Metabolit sekunder pada tumbuhan digunakan sebagai bahan obat dan makanan. Informasi kandungan metabolitnya sangat membantu untuk mengidentifikasi karekteristik bioaktivitas atau aktivitas biologisnya. Contoh dari bioaktivitas adalah aktivitas antioksidan dan toksisitas yang menjadi bagian dari pertimbangan keamanan sebuah sampel untuk dimanfaatkan sebagai campuran obat atau makanan.
Teknik kimia liquid chromatography (LC) yang dikombinasikan dengan mass spectrometry (MS) telah digunakan secara luas untuk mengidentifikasi kandungan metabolit suatu sampel. Metabolit hasil identifikasi LC-MS diekspresikan dalam bentuk rasio massa terhadap muatan (m/z). Metabolit dari suatu m/z belum dapat dijustifikasi secara langsung karena beberapa metabolit memiliki massa molekul yang sama. Individu m/z dengan dugaan metabolit yang sama dapat dipandang sebagai sebuah kelompok metabolit. Struktur data keluaran LC-MS dapat tersusun dari m/z dalam kuantitas yang banyaknya jauh melebihi kuantitas sampel yang digunakan. Kuantitas peubah prediktor yang jauh melebihi sampel yang digunakan (p >> n) dikenal dengan data dimensi tinggi. Kondisi ini menghasilkan matriks X⸆X yang singular karena matriks prediktor X tidak berpangkat penuh. Matriks X yang tidak berpangkat penuh juga dapat terjadi karena kolom-kolom yang tidak saling bebas linear. Hal ini terjadi jika terdapat collinearity, yaitu sebuah peubah prediktor merupakan fungsi dari peubah prediktor lainnya sehingga memiliki korelasi yang sempurna. Kondisi ini dikenal dengan istilah ill-conditioned. Akibat dari hal tersebut adalah hasil pendugaan parameter metode kuadrat terkecil (MKT) menjadi tidak unik. Metode analisis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pengaruh kelompok prediktor dengan kondisi data dimensi tinggi adalah regresi group lasso.
Regresi group lasso meninjau peubah penyusun model regresi dalam bentuk kelompok peubah prediktor. Penambahan penalti intermediate pada fungsi tujuan MKT mengakibatkan beberapa koefisien regresi disusutkan tepat menjadi nol sehingga seleksi kelompok peubah terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menduga kelompok metabolit kandungan temu ireng (Curmuma aeruginosa) yang berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan dan toksisitas menggunakan regresi group lasso dan membandingkannya dengan hasil dugaan partial least square regression (PLSR) sebagaimana yang telah dilakukan oleh Septaningsih pada tahun 2015.
Data yang digunakan adalah data hasil uji antioksidan dan toksisitas serta hasil percobaan spektrometri dari sampel rimpang temu ireng yang berasal dari 3 (tiga) wilayah penghasil temu ireng di pulau Jawa yaitu Cikabayan, Nagrak dan
Tawangmangu. Peubah respon terdiri dari hasil uji aktivitas antioksidan dan toksisitas. Peubah prediktor yang digunakan adalah keluaran LC-MS Water Xevo G2-S QTOF.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, kelompok metabolit yang berpengaruh terhadap aktivitas antioksidan dan toksisitas didominasi oleh kelompok metabolit sekunder terpenoids. Hasil pendugaan kelompok metabolit menggunakan regresi group lasso memiliki kesamaan dengan hasil PLSR, baik terkait aktivitas antioksidan maupun aktivitas toksisitas. Regresi group lasso memberikan nilai root mean square error yang lebih kecil dibandingkan PLSR. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa regresi group lasso memiliki hasil dugaan yang lebih baik dibandingkan PLSR pada data hasil percobaan spektrometri
Biologi Reproduksi Ikan Gerot-gerot (Pomadasys argyreus Valenciennes, 1833) di Perairan Teluk Palabuhanratu, Jawa Barat.
Ikan gerot-gerot (Pomadasys argyreus) merupakan salah satu ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis penting. Informasi mengenai aspek biologi reproduksi ikan gerot-gerot masih sangat terbatas. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2017 ini bertujuan untuk mengkaji beberapa aspek biologi reproduksi ikan gerot-gerot di Teluk Palabuhanratu. Ikan contoh yang diamati berjumlah 806 ekor. Hasil analisis menunjukkan bahwa nisbah kelamin ikan gerot-gerot jantan dan betina adalah 1:0,90. Ukuran pertama kali matang gonad ikan gerot-gerot jantan dan betina masing-masing adalah 140,12 mm dan 135,01 mm. Nilai fekunditas ikan gerot-gerot setiap bulannya berkisar antara 10 405-43 182 butir dengan tipe pemijahan partial spawner. Musim pemijahan ikan gerot-gerot terjadi pada bulan Mei sampai September dengan puncak musim pemijahan pada bulan Juni dan September
Profil Leukosit Anjing Pelacak Narkoba dan Anjing Pelacak Umum di Direktorat Polisi Satwa Polri Kelapa Dua Depok
Tujuan dari Studi ini adalah untuk mengetahui profil leukosit pada anjing
pelacak narkoba dan anjing pelacak umum di Direktorat Polisi Satwa Polri Kelapa
Dua Depok. Data leukosit yang diperoleh dari enam ekor anjing pelacak narkoba
dan 10 ekor anjing pelacak umum digunakan dalam Studi ini. Data leukosit diambil
dari arsip data Direktorat Polisi Satwa Polri Kelapa Dua periode 2012-2017. Data
yang diperoleh menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata pada jumlah total
leukosit, limfosit, monosit, neutrofil, eosinofil, dan basofil antara kelompok anjing
pelacak narkoba dan anjing pelacak umum (p>0,05). Dapat disimpulkan, tidak ada
perbedaan profil leukosit antara kelompok anjing pelacak narkoba dan pelacak
umum. Jenis anjing pelacak tidak memengaruhi profil leukosit
Model Prediksi Perubahan Tutupan Lahan pada Area Kebakaran Lahan Menggunakan Model Cellular Automata Markov
Selama tahun 2016 Provinsi Riau mengalami kebakaran hutan dan lahan
(karhutla) seluas 10,676 hektar lahan terbakar, dimana Kabupaten Rokan Hilir
merupakan wilayah kebakaran hutan dan lahan terluas yaitu sekitar 3,416 hektar.
Luasan lahan gambut di Indonesia saat ini mengalami degradasi, salah satunya
karena banyaknya kebakaran hutan yang terjadi sehingga mengakibatkan
penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan dan kehutanan atau yang dikenal
dengan land-use, land-use changes and forestry.
Penelitian ini bertujuan membuat model prediksi perubahan tutupan lahan di
area kebakaran lahan menggunakan model Cellular Automata Markov. Model
Cellular Automata Markov digunakan untuk memprediksi perubahan tutupan
lahan karena model tersebut sangat cocok diterapkan untuk fenomena spasial pada
tingkat kedetilan yang tinggi.
Model prediksi dibangun dengan menggunakan data tutupan lahan 3
periode, yaitu tahun 2000-2003, 2006-2009, dan 2014-2016, dimana tahun 2000,
2006, dan 2014 untuk melihat lahan sebelum terjadinya kebakaran dan tahun
2003, 2009, dan 2016 untuk melihat lahan setelah terjadinya kebakaran.
Sedangkan untuk data kebakaran yang digunakan adalah data citra MCD64A1
pada bulan Maret tahun 2002, bulan Juli tahun 2007, dan bulan Juni tahun 2015.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada periode 2000-2003 hutan
rawa sekunder mengalami penurunan luas wilayah sebesar 1.78% dan belukar
rawa mengalami peningkatan luas wilayah sebesar 0.92%. Untuk periode 2006-
2009 hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan rawa sekunder mengalami
penurunan luas wilayah sebesar 17.61% dan pertanian lahan kering campur
mengalami peningkatan luas wilayah sebesar 18.07%. Sedangkan untuk periode
2014-2016 hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hutan tanaman mengalami
penurunan luas wilayah sebesar 17.44% dan tanah terbuka mengalami
peningkatan luas wilayah sebesar 24%.
Periode tahun 2000-2003 yang memprediksi perubahan tutupan lahan tahun
2006 berdasarkan karhutla pada Maret 2002 menunjukkan bahwa perkebunan
mengalami perubahan sebesar 25.36% dengan nilai Kappa sebesar 95.74%.
Periode 2006-2009 yang memprediksi perubahan tutupan lahan tahun 2012
berdasarkan kejadian karhutla pada bulan Juli 2007 menunjukkan bahwa belukar
rawa mengalami perubahan sebesar 74.94% dengan nilai Kappa sebesar 93.22%.
Sedangkan untuk periode 2014-2016 yang memprediksi perubahan tutupan lahan
tahun 2018 akibat adanya karhutla pada bulan Juni 2015 menunjukkan bahwa
kelas tutupan lahan belukar rawa mengalami perubahan sebesar 55.07% dengan
nilai Kappa sebesar 68.59%. Hasil prediksi dari ketiga periode menunjukkan hasil
yang baik dan dapat diterima, akan tetapi luasan tutupan lahan hasil prediksi untuk
setiap kelas cukup berbeda dari luasan tutupan lahan aktual
Pemenuhan Standar dan Persyaratan Ekspor Ikan Tuna ke Uni Eropa
Uni Eropa merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang memiliki standar yang
ketat untuk ikan yang dibelinya. Hal tersebut menyebabkan banyak produk ikan
olahan dari unit pengolahan ikan Indonesia mengalami penolakan. Produk ikan
tuna Indonesia ditolak oleh Uni Eropa dengan alasan mutu, administrasi, higienis,
kontaminasi mikroba dan logam berat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan
prosedur dan persyaratan ekspor ikan tuna ke Uni Eropa, membandingkan
kesenjangan kualitas produk tuna yang diekspor Indonesia dengan standar Uni
Eropa, mengidentifikasi penyebab penolakan ikan tuna Indonesia di pasar Uni
Eropa, memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan nilai ekspor tuna ke
Uni Eropa pada unit pengolahan ikan tuna. Analisis yang digunakan yaitu analisis
deskripsi untuk tujuan satu, skoring analysis untuk tujuan dua, analisis fishbone
untuk tujuan tiga dan analisis SWOT untuk tujuan empat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kesenjangan persyaratan Indonesia memperoleh skor 19 atau
tingkat keketatan sedang, sementara skor Uni Eropa adalah 23 atau keketatan
tinggi. Penyebab utama penurunan mutu produk tuna di PT X yaitu disebabkan
oleh faktor manusia, mesin, metode, pengujian, lingkungan dan material. Strategi
yang direkomendasikan adalah pengawasan dilakukan menyeluruh pada setiap
alur proses pengolahan hingga transportasi ke tempat tujuan ekspor, penerapan
traceability pada rantai suplai bahan baku, optimalisasi penerapan HACCP dan
penanganan ikan pada proses penerimaan, serta pengujian organoleptik dan uji
laboratorium dengan sampel yang sesuai dengan kondisi aslinya
Karakteristik Papan Partikel dari Bambu Sembilang (Dendrocalamus giganteus Munro) dengan Perekat Asam Sitrat dan Isosianat.
Bambu sembilang (Dendrocalamus giganteus Munro) merupakan salah satu jenis bambu yang memiliki biomassa yang besar dan berlignoselulosa sehingga dapat dijadikan papan partikel. Bambu memiliki kulit yang keras dan memiliki kandungan silika yang tinggi. Bagian dalam bambu lebih permeable dibandingkan kulitnya sehingga kulit bambu dapat menurunkan penetrasi perekat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisis dan mekanis papan partikel dari bambu sembilang dengan kulit dan tanpa kulit menggunakan asam sitrat (konsentrasi 15%, 20%, 25%) dan isosianat (konsentrasi 6%, 8%, 10%). Pengujian sifat fisis dan mekanis mengacu pada standar JIS A 5908:2003. Hasil penelitian menunjukkan bambu sembilang dengan kulit bersifat lebih hidrofobik dibandingkan bambu tanpa kulit dilihat dari keterbasahannya serta memiliki kadar silika secara berturut-turut sebesar 1.07% dan 0.93%. Papan partikel yang dihasilkan dalam penelitian ini nilai memiliki kerapatan 0.70-0.94 g/cm3, kadar air 6.21-9.02%, daya serap air 19.38-51.66%, pengembangan tebal 5.18-24.45%, keteguhan lentur 18,396.94-40,057.23 kgf/cm2, keteguhan patah 125.61-327.27 kgf/cm2, kekuatan rekat internal 2.96-9.86 kgf/cm2 dan kuat pegang sekrup 29.76-70.71 kgf. Secara umum papan partikel dengan perekat asam sitrat sebagian besar telah memenuhi standar JIS, sedangkan pada papan partikel dengan perekat isosianat sebagian papan tidak memenuhi standar JIS pada pengembangan tebal. Hasil skoring menunjukkan papan partikel terbaik terdapat pada papan partikel dari bambu sembilang tanpa kulit dengan perekat asam sitrat dan isosianat secara berturut-turut dengan konsentrasi 20% dan 10%
Perubahan Sikap dan Perilaku Masyarakat Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Jawa Barat
Perubahan fungsi kawasan hutan Gunung Ciremai dari kawasan hutan
produksi yang dikelola oleh Perhutani menjadi kawasan hutan konservasi yang
dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) menyebabkan
akses masyarakat terhadap kawasan hutan menjadi terbatas. Pengelolaan taman
nasional tidak terlepas dari sikap dan perilaku masyarakatnya. Penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan perubahan sikap dan perilaku (ekonomi, sosial
dan ekologis) masyarakat desa penyangga TNGC sehubungan dengan terjadinnya
perubahan kebijakan pengelolaan kawasan hutan Gunung Ciremai termasuk
kebijakan pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) oleh
Kepala Balai TNGC. Penelitian ini dilakukan di dua desa penyangga TNGC, yaitu
Desa Cisantana dan Desa Singkup dengan menggunakan metode wawancara,
studi pustaka, dan observasi lapang. Pemilihan responden dilakukan dengan
menggunakan purposive sampling yaitu anggota masyarakat di kedua desa yang
berusia di atas 40 tahun, terdiri atas pemegang dan bukan pemegang IUPJWA.
Metode pemilihan responden pemegang IUPJWA dilakukan dengan metode
sensus, sedangkan metode pemilihan responden bukan pemegang IUPJWA
dilakukan dengan metode accidental sampling. Masyarakat desa penyangga
TNGC mayoritas adalah laki-laki (77%), berumur 40-50 tahun (52%), mempunyai
tanggungan keluarga < 4 orang (93%), berpendidikan < 9 tahun (83%), dan
penduduk asli (96%). Peluang usaha dan kesempatan kerja pada periode Perhutani
tergolong tinggi, periode TN 2005-2014 tergolong sedang, dan periode TN > 2014
tergolong rendah. Partisipasi masyarakat pada periode Perhutani dan TN 2005-
2014 tergolong sedang dan pada periode TN > 2014 tergolong tinggi. Untuk
Kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pada periode Perhutani dan TN
2005-2014 tergolong sedang dan pada periode TN > 2014 tergolong tinggi.
Terdapat perbedaan sikap dan perilaku (ekonomi, sosial, dan ekologi) antara
masyarakat pemegang dan bukan pemegang IUPJWA. Dalam hal korelasi, tidak
terdapat hubungan antara karakteristik dengan sikap dan perilaku masyarakat
Penyakit Kerdil pada Kentang di Jawa Tengah: Identifikasi dan Taksasi Kehilangan Hasilnya.
Kentang merupakan salah satu tanaman yang penting secara ekonomi di
Indonesia. Produksi kentang berfluktuasi dipengaruhi oleh berbagai faktor
diantaranya masalah penyakit. Dua tipe gejala kerdil pada sentra produksi kentang
di Jawa Tengah (Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara) baru-baru ini telah
ditemukan dengan insidensi penyakit berkisar 5-40%. Gejala penyakit ini diduga
disebabkan oleh virus dan atau fitoplasma. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeteksi dan mengidentifikasi penyebab gejala kerdil serta menaksir (taksasi)
kehilangan hasil akibat penyakit tersebut. Manfaat dari penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi mengenai penyebab penyakit kerdil pada kentang di
Jawa Tengah dan taksasi kehilangan hasilnya sehingga dapat dijadikan acuan
untuk melakukan langkah pengelolaan penyakit yang tepat sasaran.
Karakterisasi biologi patogen dilakukan dengan menularkan secara mekanis
dan melalui penyambungan. Gejala kerdil pada kentang dideteksi secara serologi
dengan metode Dot immunobinding assay (DIBA) menggunakan antiserum
Potato virus Y (PVY), Potato virus X (PVX), Potato virus S (PVS), Potato
leafroll virus (PLRV) dan Cucumber mosaic virus (CMV). Identifikasi patogen
dilakukan dengan teknik RT-PCR menggunakan primer universal Potyvirus dan
Potexvirus serta primer spesifik CMV; sedangkan deteksi fitoplasma dilakukan
dengan teknik nested-PCR menggunakan primer universal fitoplasma. DNA virus
dan fitoplasma selanjutnya dirunut dan dianalisis. Kehilangan hasil akibat
penyakit ditentukan berdasarkan pengamatan intensitas penyakit dan hasil panen
kentang pada lahan yang terinfeksi. Interaksi antara keparahan penyakit, Area
under disease progress curve (AUDPC) dengan hasil panen, tinggi tanaman,
jumlah umbi dan ukuran umbi dianalisis dengan uji chi-square, analisis korelasi
dan regresi.
Terdapat dua tipe gejala yang ditemukan di lapangan, yaitu pertama berupa
kerdil dengan daun keriting, klorosis dan malformasi daun; dan gejala kedua
adalah kerdil dengan rugosa, perubahan warna dan malformasi daun. Penularan
secara mekanis daun tanaman bergejala pada tanaman kentang sehat menunjukkan
gejala yang berbeda dengan gejala yang ditemukan di lapangan. Penularan melalui
penyambungan menggunakan inokulum tanaman bergejala tipe 1 menghasilkan
gejala klorosis, mosaik dan keriting; sedangkan penyambungan menggunakan
inokulum tanaman bergejala kerdil tipe 2 menghasilkan gejala rugosa.
Hasil DIBA terhadap 120 sampel tanaman bergejala kerdil tipe 1 dan 2
bereaksi positif terhadap antiserum Potato virus Y dengan frekuensi 86.25% dan
70%, Potato virus X sebesar 43.75% dan 0% dan Cucumber mosaic virus sebesar
56.25% dan 45%. Reaksi serologi positif CMV dengan intensitas warna ungu
lemah diduga karena adanya reaksi non spesifik antiserum. Pada sampel tanaman
sakit juga terdeteksi adanya PVY dan PVX dengan RT-PCR, serta Sweet potato
little leaf phytoplasma (SPLL) terdeteksi dengan nested PCR berturut-turut
menggunakan pasangan primer P1/P7 dan fU5/rU5. Analisis nukleotida dengan
menggunakan primer universal virus berhasil mengonfirmasi bahwa penyakit
kerdil tipe 1 berasosiasi dengan infeksi ganda PVY strain O dan PVX.
Amplifikasi dan analisis nukleotida dengan menggunakan primer universal 16S
rRNA fitoplasma dapat mengidentifikasi SPLL pada gejala kerdil 2; sedangkan
CMV tidak teramplifikasi dengan primer spesifik. Hal ini menunjukkan bahwa
penyakit kerdil tipe 1 pada kentang berasosiasi dengan infeksi ganda antara PVY
dan PVX; sedangkan penyakit kerdil tipe 2 berasosiasi dengan infeksi ganda
PVY dan SPLL.
Kehilangan hasil panen kentang akibat penyakit kerdil di lapangan per
individu tanaman mencapai 64.42%. Penyakit ini juga menurunkan kualitas umbi.
Umbi yang berasal dari tanaman bergejala kerdil memperlihatkan perubahan
ukuran, bentuk dan warna. Kehilangan hasil tanaman kentang per petak
pengamatan di lapangan pada tingkat intensitas penyakit yang berbeda berkisar
antara 10.35-26.43%. Konversi kehilangan hasil ke nilai rupiah per ha berkisar
antara Rp 692 000 hingga Rp 4 870 400. Analisis regresi antara tingkat AUDPC
berdasarkan keparahan penyakit dan tingkat kehilangan hasil menunjukkan nilai R
square yang tinggi yaitu 88.6% dan menunjukkan korelasi sebesar 94.14%. Hal ini
mengindikasikan bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara keparahan penyakit
kerdil dan kehilangan hasil
Penetapan Rekomendasi Pemupukan P dan K melalui Uji Tanah pada Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) di Tanah Ultisol.
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas
hortikultura yang banyak dikonsumsi masyarakat sebagai bahan campuran bumbu
masak setelah cabai. Meskipun bukan merupakan kebutuhan pokok, tetapi
penggunaan bawang merah di tingkat rumah tangga tidak bersubstitusi karena
hampir semua masakan membutuhkan bawang merah. Oleh karena itu kebutuhan
bawang merah akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.
Proyeksi kebutuhan bawang merah hingga tahun 2019 akan terjadi peningkatan
yang menyebabkan penurunan surplus bawang merah, oleh karena itu harus tetap
diupayakan untuk meningkatkan produksi maupun produktivitas bawang merah
sebagai komoditi utama sub sektor hortikultura untuk memenuhi permintaan
bawang merah dalam negeri tanpa harus bergantung terhadap impor dari negara
lain.
Lahan-lahan yang ada di sentra bawang merah umumnya mempunyai jenis
tanah Inceptisol dan Vertisol. Di Indonesia, sebaran tanah Inceptisol mencapai
70.52 juta ha, namun sudah banyak dipergunakan untuk usaha budidaya tanaman.
Vertisol relatif sedikit berkisar 2.1 juta ha dan dalam penggunaannya harus
bersaing dengan komoditas lain. Selain itu saat ini kondisi lahan yang ada di
sentra bawang merah umumnya telah banyak mengalami degradasi lahan. Kondisi
ini akan mengakibatkan adanya ancaman penurunan luas panen bawang merah
dalam jangka panjang, sehingga kondisi ini memerlukan adanya perluasan areal
tanam dengan membuat sentra-sentra bawang merah yang baru. Di lain pihak
terdapat potensi lahan-lahan suboptimal yang belum banyak digunakan untuk
pertanian, diantaranya adalah Ultisol. Ultisol merupakan salah satu jenis tanah
mineral masam yang berpotensi sebagai perluasan dan peningkatan produksi
pertanian di Indonesia, karena merupakan bagian terluas dari lahan kering di
Indonesia yang belum banyak dipergunakan untuk pertanian (45.8 juta ha).
Namun tanah Ultisol umumnya mempunyai tingkat kesuburan yang rendah
bahkan sangat rendah, oleh karena itu diperlukan dukungan teknologi untuk
memperbaiki tingkat kesuburannya, salah satunya melalui pemupukan.
Tujuan penelitian menentukan rekomendasi pupuk P dan K bawang merah
di tanah Ultisol melalui uji tanah. Penelitian dilaksanakan ditanah Ultisol
kampung Kentrong, Desa Malangsari, Kecamatan Cipanas, Lebak, Provinsi
Banten dengan letak koordinat 6o 32’ 4.46396” Lintang Selatan, 106o 20’
44.30994” Bujur Timur dan ketinggian tempat 187 m di atas permukaan laut.
Penelitian dilakukan pada bulan November 2014 – Mei 2016 melalui pendekatan
lokasi tunggal (single location). Tahapan penelitian: 1) pembuatan status hara P
dan K tanah, 2) uji korelasi P dan K di rumah kaca, 3) uji kalibrasi P dan K di
lapangan, 4) penetapan rekomendasi pupuk P dan K.
Penelitian tahap 1, pembuatan status hara P dan K tanah menggunakan
Rancangan Acak Kelompok dengan jumlah ulangan 5. Pembuatan status hara P
menggunakan asam fosfat (H3PO4) dengan lima level P, yaitu: 0X, 1/4X, 1/2X,
3/4X, dan X. Nilai X sebesar 1033.3 kg P ha-1, setara dengan 2266.7 L H3PO4 ha-1.
Aplikasi P dari masing-masing level yaitu 0, 258.3, 516.65, 775, dan 1033.3 kg P
ha-1. Selanjutnya pupuk P diinkubasi selama tiga bulan. Pembuatan status hara K
tanah dengan pemberian pupuk KCl, dengan taraf : 0 X,1/4 X, 1/2X, 3/4X, dan X.
Nilai X sebesar 405.6 kg K ha-1
. Dosis masing-masing level 0, 101.4, 202.8,
304.2, dan 405.6 kg K ha-1. Analisis P tanah menggunakan metode ekstraksi Bray
I (0.025 N HCl + NH4F 0.03 N), Bray II (NH4F 0.03 N + HCl 0.10 N), Mechlich I
(0.0125 M H2SO4 + 0.05 M HCl), Morgan Wolf NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4.8), dan
Truog (0.02 N H2SO4 + (NH4) 2SO4). Untuk analisis K tanah menggunakan
metode ekstraksi Bray I (larutan 0.025 N HCl + NH4F 0.03 N), Bray II (NH4F
0.03 N + HCl 0.10 N), Mechlich I (0.0125 M H2SO4 + 0.05 M HCl), HCl 25% dan
Olsen (NaHCO3 0.5 M, pH 8.5). Berdasarkan hasil analisis tanah, kadar P dan K
tanah meningkat setelah pupuk diinkubasi selama tiga bulan.
Penelitian tahap 2, uji korelasi P dan K di rumah kaca. Percobaan uji
korelasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan jumlah ulangan
lima. Media tanam diambil dari sepuluh titik sampel tanah pada setiap petakan
tanah yang sudah diinkubasi hara P maupun K. Pengambilan sampel tanah
dilakukan secara acak. Metode ekstraksi terbaik untuk hara P adalah Truog (r =
0.84) dan K adalah Mechlich I (r = 0.77).
Penelitian tahap 3, uji kalibrasi P dan K di lapangan. Percoban uji kalibrasi
menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design) dengan jumlah
ulangan lima. Uji kalibrasi P, petak utama (main plot) status hara P tanah yang
didapatkan dari aplikasi asam fosfat (H3PO4) pada percobaan tahap 1. Anak petak
(sub plot) adalah perlakuan dosis pemupukan P dengan lima taraf yaitu 0X, 1/4X,
1/2X, 3/4X dan X. Pemupukan P pada anak petak menggunakan SP-36, dosis
pupuk P untuk anak petak adalah 0, 591.6, 1183.3, 1774.9, dan 2366.6 kg P2O5
ha-1. Jumlah kombinasi perlakuan sebanyak 25 dan jumlah satuan unit percobaan
sebanyak 125. Uji kalibrasi K, petak utama (main plot) adalah status hara K dari
sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi (percobaan tahap 1).
Sebagai anak petak (sub plot) adalah dosis K menggunakan KCl dari sangat
rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi yaitu 0, 127.4, 255, 382.2, dan
509.6 kg K2O ha-1. Jumlah kombinasi perlakuan sebanyak 125 petak satuan
percobaan. Hasil percobaan uji kalibrasi diperoleh kelas ketersediaan hara P tanah
Ultisol untuk tanaman bawang merah adalah sangat rendah jika (< 1), rendah (1-
<9), sedang (9-<28.), tinggi dan sangat tinggi (≥ 28) ppm P. Kelas ketersediaan
hara K tanah Ultisol untuk tanaman bawang merah adalah sangat rendah jika
(<126), rendah (126-<225), sedang (225-<463), tinggi dan sangat tinggi (≥ 463)
ppm K.
Penelitian tahap 4, penetapan kebutuhan pupuk P dan K. Kebutuhan pupuk
P untuk mencapai hasil maksimum pada kelas ketersediaan hara rendah dan
sedang, masing-masing 1850 dan 1310 kg P2O5 ha-1. Kebutuhan pupuk P untuk
mencapai hasil optimum pada kelas ketersediaan hara rendah dan sedang adalah
1315 dan 765 kg P2O5 ha-1. Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil maksimum
pada kelas ketersediaan hara rendah 390.4 dan 317.3 kg K2O ha-1. Kebutuhan
pupuk K untuk mencapai hasil optimum pada kelas ketersediaan hara rendah dan
sedang adalah 304 dan 231 kg K2O ha-