31665 research outputs found
Sort by
Mutan Putatif Kecombrang (Etlingera elatior) Hasil Iradiasi Sinar Gamma Secara Intermittent. Dibimbing
Kecombrang (Etlingera elatior Jack. R.M Sm) merupakan salah satu spesies
dari famili Zingiberaceae yang bunga, buah serta bijinya dimanfaatkan sebagai
bahan sayuran. Kecombrang memiliki bunga yang berpotensi dikembangkan
menjadi bunga potong bernilai komersial. Kelemahan E. elatior sebagai bunga
potong adalah ukuran tanaman dan bunga yang terlalu besar dan berat sehingga sulit
bersaing di pasar ekspor. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan mutan putatif
yang memiliki perbedaan dengan tetuanya untuk meningkatkan keragaman dan
dapat dijadikan sebagai sumber bahan tanam untuk pemuliaan. Teknik iradiasi
dilakukan secara intermittent yaitu dosis iradiasi diberikan dua kali masing-masing
setengah dosis (split dose) dari LD20, LD35, dan LD50 dengan jarak 2 jam antar
iradiasi. Tunas mikro genotipe merah diradiasi dengan dosis 0 Gy; 3+3 Gy (LD20);
4+4 Gy (LD35) dan 5+5 Gy (LD50) sedangkan genotipe putih diradiasi dengan dosis
0 Gy; 2+2 Gy (LD20); 2,8+2,8 Gy (LD35) dan 3,7+3,7 Gy (LD50) yang bersumber
dari radioisotop 60Co. Laju dosis yang digunakan dalam gamma chamber adalah
288,55 Gy/jam.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis iradiasi yang
diberikan semakin rendah persentase hidup tanaman. Perlakuan iradiasi
menghasilkan mutan putatif pada generasi MV3 dengan tinggi planlet lebih pendek
dan jumlah tunas lebih banyak dibandingkan perlakuan kontrol. Iradiasi dengan
dosis 4 + 4 Gy dan 5 + 5 Gy menghasilkan 8 planlet dengan daun berwarna
keunguan, 4 planlet dengan batang berwarna keunguan dan 4 planlet dengan daun
berbentuk oval, sedangkan pada dosis 2.8 + 2.8 Gy dan 3.7 + 3.7 Gy menghasilkan
7 planlet dengan daun berbentuk oval. Aklimatisasi menghasilkan 8 mutan putatif
dari genotipe merah dan 7 mutan putatif dari genotipe putih. Tanaman mutan
tersebut diperoleh berdasarkan perubahan kualitatif berupa perubahan warna dan
bentuk daun dan secara kuantitatif terdapat beberapa mutan yang kerdil. Pendugaan
nilai parameter genetik dilakukan pada generasi MV3. Kriteria nilai heritabilitas
menyebar dari rendah sampai tinggi. Nilai heritabilitas yang tergolong tinggi secara
umum ditunjukkan pada karakter tinggi tanaman dan jumlah daun pada genotipe
merah, sedangkan pada genotipe putih pada karakter tinggi tanaman, panjang dan
lebar daun.
Identifikasi stomata menunjukkan bahwa anatomi stomata planlet kontrol
dan mutan putatif berbeda signifikan dan terdapat korelasi antara ukuran dan
kerapatan stomata. Mutan putatif memiliki kerapatan stomata tinggi dengan ukuran
stomata lebih kecil dibandingkan dengan planlet kontrol. Uji kromosom planlet
yang dihasilkan menunjukkan perubahan jumlah kromosom yang diduga akibat
iradiasi sinar gamma yang ditandai dengan perubahan morfologi dan anatomi
stomata
Evaluasi Curah Hujan NASA POWER dengan Curah Hujan PengamatanWilayah Jakarta-Bogor
merupakan sumber data prediksi yang dihasilkan dari satelit. NASA POWER memiliki beberapa jenis data, seperti data curah hujan, radiasi, dan data untuk keperluan agroklimatologi. Di Indonesia, penggunaan NASA POWER harus dinilai terlebih dahulu sebelum digunakan secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan NASA POWER di wilayah Jakarta-Bogor. Dalam penelitian ini, data NASA POWER dievaluasi dengan data curah hujan titik di wilayah Jakarta - Bogor. Di Jakarta, 3 stasiun dipilih yaitu Soekarno-Hatta, Kemayoran dan Tanjung Priok untuk mewakili ketinggian rendah, sedangkan dua stasiun di Bogor Citeko dan Bogor dapat mewakili lintang tinggi. Evaluasi didasarkan pada kriteria statistik yaitu Uji Kolasi, MAE, RMSE dan Mann-Whitney. Setiap hari, korelasi antara kedua curah hujan rendah (r = 0,19), tetapi korelasi yang lebih tinggi diharapkan untuk bulanan (r = 0,8894) dan tahunan ( r = 0,7921) dasar. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan POWER NASA harus diperbaiki terlebih dahulu untuk penggunaan sehari-hari
IPB (Bogor Agricultural University)
Intrauterine programming dengan metode stimulasi folikel menggunakan
eCG sebelum kawin telah banyak diterapkan pada ruminansia kecil untuk
mengoptimalkan kualitas anakannya. Penerapan pemberian equine chorionic
gonadotrophin (eCG) sebelum kawin pada sapi sebagai hewan monotokus dapat
menimbulkan masalah berupa risiko multiple calving. Penelitian ini bertujuan
untuk mempelajari pengaruh eCG dosis rendah (dosis non-superovulatori) pada
perolehan folikel dominan dan kualitas estrus serta perubahan makro dan
mikromorfologi ovarium dan uterus.
Penelitian tahap pertama bertujuan untuk mempelajari perkembangan folikel
dan pembentukan folikel dominan pre-ovulatori sehingga dapat diketahui dosis
yang dapat menekan risiko multiple calving. Sapi peranakan ongole (PO) dara
berjumlah 9 ekor dibagi ke dalam tiga kelompok dosis eCG, yaitu kontrol (NaCl 0.9%
sebagai placebo), dosis eCG 0.5, dan 1.0 IU/kg BB. Injeksi eCG dilakukan pada awal
gelombang folikel ke-2 berdasarkan perubahan dinamika ovari yang dikonfirmasi
menggunakan USG diikuti injeksi PGF2α 48 jam kemudian. Perkembangan folikel
sejak injeksi eCG hingga terbentuknya folikel dominan (Fd) diamati dan dipetakan
menggunakan USG. Jumlah Fd tertinggi terdapat pada dosis eCG 1.0 IU/kg BB
(4.67+1.67) secara signifikan (P<0.05), sedangkan Fd yang terbentuk pada dosis eCG
0.5 IU/kg BB berjumlah satu, sama dengan kelompok kontrol (P>0.05). Meskipun
jumlah Fd yang terbentuk berjumlah satu, namun diameter dan volume kelompok sapi
yang disuntik eCG dengan dosis 0.5 IU/kg BB lebih besar 16.13% dan 57.14% secara
berurutan dibandingkan kelompok kontrol, diikuti oleh dosis 1.0 IU/kg BB dengan
nilai tertinggi secara signifikan (P<0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui
bahwa jumlah Fd yang terbentuk pada dosis penyuntikan eCG 0.5 IU/kg BB dapat
terkontrol sehingga dapat digunakan sebagai metode pendekatan intrautering
programming pada hewan monotokus.
Penelitian tahap kedua merupakan lanjutan dari tahap kesatu yang bertujuan
untuk mempelajari kualitas estrus berdasarkan skoring pada perilaku estrus yang
tampak dan mempelajari perubahan makroanatomi traktus reproduksi. Sembilan
ekor sapi PO dara yang telah dewasa kelamin dibagi secara acak ke dalam tiga
kelompok dosis eCG, yaitu 0 (kontrol), 0.5, dan 1.0 IU/kg BB yang diinjeksi
secara intramuskuler pada awal gelombang folikel kedua. Dosis tunggal PGF2α
diinjeksi 48 jam kemudian diikuti pengamatan estrus 48-72 jam kemudian dan
koleksi traktus reproduksi yang dilakukan pada hari yang sama. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa semua sapi yang disuntik dengan eCG dosis 1.0 IU/kg BB
(100%) menunjukkan nilai performa estrus tertinggi (skor 3). Sementara itu, sapi
PO dara yang disuntik eCG dengan dosis 0.5 IU/kg BB hanya 33.33% yang
mencapai skor 3 dan 66.67% masih mencapai skor 2. Kelompok sapi PO dara
kontrol yang tidak disuntik eCG sebanyak 66.67% masih memiliki skor 1 dan
hanya 33.33% yang mencapai skor 2. Dimensi ovarium ditemukan meningkat
secara signifikan pada dosis eCG yg lebih tinggi (P<0.05), demikian pula
diameter cornua uteri, corpus uteri, dan cervix yang lebih tinggi pada dosis yang
meningkat secara signifikan (P<0.05). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa pemberian eCG dosis rendah dapat meningkatkan kualitas
estrus yang erat kaitannya dengan peningkatan dimensi traktus reproduksi oleh
sekresi lendir uterus dan cervix sehingga terindikasi kuat dapat meningkatkan
peluang keberhasilan konsepsi apabila dikawinkan.
Penelitian tahap ketiga difokuskan pada studi kuantitatif sel granulosa
folikel dominan pre-ovulatori dan kaitannya dengan sekresi estradiol serta respons
aktivitas kelenjar uterus berdasarkan pengamatan mikromorfologi endometrium.
Sembilan ekor sapi PO dara dibagi ke dalam tiga kelompok dosis eCG (dalam
IU/kg BB) masing-masing sebagai kontrol (0), dosis 0.5, dan 1.0 IU/kg BB.
Injeksi eCG dilakukan pada awal gelombang folikel kedua yang diikuti injeksi
PGF2α 48 jam kemudian. Kemudian pada fase estrus dilakukan koleksi sampel
darah untuk evaluasi konsentrasi estradiol plasma. Pada hari yang sama dilakukan
koleksi ovarium dan traktus reproduksi untuk pengamatan histologi jaringan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis eCG non-superovulatori pada
gelombang folikel kedua mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
sel granulosa (GC) secara signifikan yang menyebabkan peningkatan konsentrasi
estradiol plasma sebesar 39.47 dan 113.57% secara berurutan pada sapi yang
diinjeksi eCG dosis 0.5 dan 1.0 IU/kg BB. Peningkatan konsentrasi estradiol
plasma menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan kelenjar uterus secara
signifikan (P<0.05) yang dibuktikan dengan adanya peningkatan pada semua
parameter pengukuran kuantitatif histomorfologi kelenjar uterus. Administrasi
eCG dosis rendah pada gelombang folikel kedua mampu meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan sel granulosa Fd untuk memproduksi estradiol
dalam jumlah yang lebih tinggi sehingga meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan kelenjar uterus tanpa meningkatkan risiko multiple calving
Manajemen Produksi dan Pascapanen Paprika (Capsicum annuum) di Perusahaan Ammerlaan Tuinbouw, Maasland, Belanda Selatan
Kegiatan magang di Ammerlaan Tuinbouw B.V dilakukan pada bulan
Februari hingga Mei 2019. Tujuan umum dari kegiatan magang ini adalah
menambah pengalaman dan kemampuan teknis serta kemampuan manajerial
dalam pengelolaan perusahaan pertanian. Tujuan khusus magang adalah untuk
mempelajari proses pemanenan dan mengamati kualitas produksi paprika serta
efektivitas kerja karyawan. Perusahaan Ammerlaan memiliki reputasi kualitas
paprika terbaik yang terbukti bisa diekspor baik di negara Eropa maupun di luar,
seperti Amerika. Teknik budidaya hidroponik dalam rumah kaca sudah dilakukan
puluhan tahun yang lalu sehingga kuantitas dan kualitas paprika terus meningkat.
Penanganan pascapanen dan panen paprika sebagai strategi bersaingnya paprika di
pasar internasional. Kriteria kelas mutu dan pengkelasan paprika mampu
memenuhi keinginan konsumen. Manajemen kerja, manajemen perencanaan,
perkiraan hasil produksi adalah komponen penting untuk menghasilkan profit
tinggi di perusahaan. Karyawan lama memiliki efektivitas kerja yang lebih baik
dibandingkan dengan pekerja atau pelajar yang baru masuk. Adaptasi kerja
diperlukan oleh pekerja baru untuk mencapai standar kerja minimal yang
ditetapkan perusahaan
Estimasi dan Validasi Kandungan Energi dan Kecernaan Bahan Organik pada Leguminosa Melalui Data Analisis Proksimat dan Van Soest.
Tanaman legum memiliki kandungan protein serta kecernaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rumput. Penelitian bertujuan mengestimasi dan memvalidasi kandungan kecernaan bahan organik pada leguminosa berdasarkan data analisis proksimat dan Van Soest. Sebanyak 67 data analisis Proksimat dan analisis Van Soest legum diambil dari database feedipedia.org. Uji korelasi Pearson dilakukan dengan parameter protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), Neutral Detergent Fibe (NDF), dan Non Fiber Carbohydrate (NFC) dengan komponen energi (KcBO, Energi Tercerna (%), Energi Tercerna (MJ/kg DM), Energi Metabolis (EM) (MJ/kg DM)). Penelitian ini berfokus pada hubungan parameter analisis Proksimat dan analisis Van Soest terhadap KcBO. Nilai KcBO dapat diperoleh dari persamaan KcBO proksimat (%) = 1.368PK + 1.254LK + 0.053SK + 0.905BETN, KcBO Van Soest (%) = 1.425PK + 1.689LK + 0.349NDF + 0.912NFC dengan signifikansi dan regresi yang baik. Analisis Proksimat, Van Soest, dan KcBO dilakukan pada 9 jenis leguminosa yang berbeda. Berdasarkan parameter Proksimat dan Van Soest serta persamaan KcBO, didapatkan nilai validasi KcBO. Nilai validasi KcBO lebih rendah dengan nilai observasi KcBO. Nilai observasi cenderung lebih rendah dibandingkan nilai validasi. Nilai validasi KcBO dari dua persamaan tidak berbeda nyata
Pembuatan Film Tipis Barium Titanat (BaTiO3) Didadah Indium Oksida (In2O3) Menggunakan Metode Chemical Solution Deposition
Film tipis Barium Titanat (BaTiO3) telah berhasil dibuat di atas substrat Si
(100) tipe P dengan metode Chemical Solution Deposition (CSD) dengan larutan 1
M berbantuan spin coating dengan kecepatan putar sebesar 8000 rpm. Film ini
kemudian di annealing pada suhu 850 0C dengan waktu tahan selama 8 jam. Film
tipis barium titanat yang didadah dengan indium oksida dengan konsentrasi 0%,
2%, 4%, dan 6% dikarakterisasi dengan UV-Vis dan XRD sehingga menghasilkan
energi gap berturut-turut sebesar 3.45 eV, 3.1 eV, 3.5 eV, dan 2.7 eV. Diperoleh
kristal berbentuk tetragonal dengan parameter kisi a = b = 4.075003 Å dan c =
4.088857 Å ; a = b = 4.05802 Å dan c = 4.060536 Å ; a = b = 4.037801 Å dan c =
4.042604 Å ; a = b = 4.072917 Å dan c = 4.06868 Å
Keanekaragaman Jenis Burung di Komplekss Perumahan Sentul City, Bogor, Jawa Barat: Kajian Temporal Tahun 2012 dan 2017.
Laju pembangunan didorong oleh semakin meningkatnya pertumbuhan
penduduk di kawasan perkotaan.Dominasi lanskap dari kegiatan manusia,
khususnya di Perumahan, pada saat ini sangat besar dan akan mempengaruhi
kehidupan burung untuk bertahan hidup. Penelitian ini bertujuan
untukmengidentifikasi keanekaragaman burung di cluster yang berbeda dan jalan
utama, mendeskripsikan keenamkawasan cluster, mengidentifikasi pengaruh
keanekaragaman pohon terhadap keanekaragaman jenis burung.Penelitian serupa
sudah pernah dilakukan oleh Asmoro pada tahun 2012, sehingga penelitian ini
dimaksudkan untuk membandingkan komposisi burung tahun 2012 dan 2017.
Penelitian dilaksanakanpadabulan November hingga Desember 2017 dilima
cluster dan satu jalan utama di PerumahanSentul City dengan menggunakan
metode titik hitung atau point countdan melakukan pencatatan jenis-jenis burung
yang berada di luar plot penghitungan. Penelitian ini menemukan 38 jenis burung
dari 22 suku, sedangkan pada tahun 2012 ditemukan 42 jenis dari 24 suku. Nilai
indeks keanekaragaman (H’)berkisar antara 2.06 hingga 2.67.Terdapat korelasi
antara (H’) pohon dan burung (H’) dari jenis yang dijumpai. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 5 tahun (2012-2017)terjadi penurunan
jumlah jenis burung dan perubahan komposisi jenis pada masing-masing cluster
Potensi Air Hujan untuk Pengisian Embung di Kampus IPB Darmaga, Bogor
Pengembangan sumberdaya air merupakan usaha untuk menyediakan dan
memanfaatkan sumberdaya air untuk memenuhi serta menunjang kebutuhan
manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan peluang kejadian hujan
selama 10 tahun, menghitung kapasitas tampungan embung berdasarkan
ketersediaan air dan topografi, serta ketersediaan air dalam perencanaan embung.
Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Juli 2019 di Kebun Percobaan
Cikabayan dengan data primer berupa pengukuran topografi dan data sekunder
berupa data klimatologi 10 tahun terakhir. Berdasarkan hasil analisis, diketahui
curah hujan rencana (R24) periode ulang 5 tahun sebesar 151.44 mm dengan debit
banjir rencana sebesar 0.92 m3/detik. Kapasitas tampungan berdasarkan
ketersediaan air sebesar ±6887.54 m3 sedangkan kapasitas tampungan yang
digunakan dalam perencanaan embung ini berdasarkan topografi sebesar ±2089.33
m3. Neraca air pada lokasi perencanaan embung dihitung menggunakan metode
Mock. Surplus air terjadi setiap bulan sepanjang tahun. Neraca air dipengaruhi oleh
iklim, kondisi lahan, luasan area dan karateristik tanah
Profil Kolesterol dan Asam Lemak Daging Domba Ekor Tipis dengan Sistem Pemeliharaan dan Konsentrat Berbeda
Domba ekor tipis berpotensi dalam menghasilkan daging dengan kualitas
yang baik dan bermanfaat bagi kesehatan jika diberikan pakan berkualitas dengan
perlakuan yang benar. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan kolesterol
dan asam lemak pada daging domba yang dihasilkan dari sistem pemeliharaan
berbeda (semi intensif dan intensif) dan pemberian konsentrat berbeda (konsentrat
komersial dan Indigofeed). Domba yang digunakan adalah domba ekor tipis betina
berumur 18 bulan. Daging yang dianalisis adalah bagian paha belakang sebanyak
12 sampel masing-masing sejumlah 250 g. Peubah yang diamati adalah kolesterol
total dan komposisi asam lemak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan
analysis of variance (ANOVA). Domba yang diberi pakan konsentrat hijau
memiliki kadar kolesterol lebih rendah (68.29 mg 100 g-1) daripada yang diberi
pakan konsentrat komersial (95.98 mg 100 g-1). Sistem pemeliharaan yang
berbeda tidak menghasilkan kolesterol daging berbeda. Komposisi asam lemak
daging domba yang diberi perlakuan sistem pemeliharaan dan jenis konsentrat
berbeda tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata kecuali pada kandungan
asam miristat. Kadar asam miristat lebih tinggi pada sistem pemeliharaan semi
intensif (0.175%) daripada sistem pemeliharaan intensif (0.105%). Hasil dari
penelitian menunjukkan konsentrat hijau dapat menurunkan kadar kolesterol pada
daging domba
Efektivitas Rumpon Portabel dalam Menciptakan Daerah Penangkapan Ikan bagi Perikanan Pancing Ulur
Pancing ulur merupakan alat tangkap yang biasa digunakan oleh nelayan di perairan
Teluk Banten. Akan tetapi, hasil tangkapan yang didapatkan nelayan hanya sedikit.
Hal ini disebabkan karena nelayan pancing tidak memiliki informasi yang pasti
tentang lokasi daerah penangkapan ikan yang potensial. Salah satu cara untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi penangkapan ikan adalah
tersedianya informasi daerah penangkapan ikan. Penggunaan teknologi rumpon
portabel diharapkan dapat menciptakan daerah penangkapan ikan sehingga operasi
penangkapan ikan menjadi lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan komposisi dan produktivitas hasil tangkapan pancing ulur dengan
menggunakan rumpon portabel dan tanpa rumpon, serta menentukan efektivitas
rumpon portabel. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing
dengan banyak ulangan, yaitu 20 trip. Penelitian menunjukkan bahwa hasil
tangkapan dominan pancing ulur yang menggunakan rumpon portabel adalah
kuniran (35,1%), kurisi (16,7%), kerapu hitam (13,9%), selar (11,7%). Ikan
kuniran, kurisi, dan kerapu hitam didominasi oleh ukuran besar atau layak tangkap.
Jumlah total hasil tangkapan pancing ulur sebanyak 931 ekor dengan berat 45,66
kg. Komposisi hasil tangkapan yang menggunakan rumpon portabel yaitu 504 ekor
(54%) dan tanpa menggunakan rumpon portabel yaitu 427 ekor (46%).
Produktivitas pancing ulur di sekitar rumpon portabel sebesar 1,29 kg/trip, dengan
nilai rata-rata 0,06 kg/trip, sedangkan produktivitas pancing ulur tanpa rumpon 0,99
kg/trip, dengan nilai rata-rata 0,04 kg/trip. Penggunaan alat bantu rumpon portabel
saat operasi penangkapan lebih efektif dibandingkan dengan operasi penangkapan
tidak menggunakan alat bantu rumpon. Nilai efektivitas pada rumpon portabel
sebesar 54% (kategori cukup baik) dan nilai efektivitas tanpa rumpon sebesar 46%
(kategori rendah)