Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Ekstraksi dan Karakterisasi Partikel Silikon Dioksida (SiO2) dari Jerami Padi.

    No full text
    Jerami padi adalah hasil samping produksi padi yang berupa bagian batang dan tangkai tanaman padi setelah dipanen butir buahnya. Kandungan utama jerami padi adalah selulosa (32–47%), hemiselulosa (19–27%), lignin (5–24%) dan abu (13–20%). Abu jerami padi memiliki kandungan komponen silikon dioksida (SiO2) yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu dan konsentrasi HCl pada proses ekstraksi silikon dioksida dari jerami padi, kemudian untuk mengetahui karakteristik morfologi, komposisi, karakteristik struktur dan sifat listrik silikon dioksida dari jerami padi yang diperoleh. Tahapan dalam memperoleh partikel silikon dioksida pada penelitian ini menggunakan metode pencucian HCl sebelum pembakaran. Pertama jerami padi direndam dengan larutan HCl 3%. Kemudian sampel dipanaskan dan diaduk selama 2 jam. Hasil pencucian tersebut dibersihkan dengan akuades hingga pH 6.5 – 7. Setelah mencapai pH tersebut, sampel dikeringkan dengan bantuan sinar matahari selama 24 jam (sampai kering). Selanjutya, jerami padi dari tersebut dibakar di ruangan terbuka tanpa penambahan bahan bakar dan menghasilkan arang. Arang tersebut diabukan menggunakan tanur pada suhu awal 400 dan ditahan selama 2 jam. Selajutnya suhu pengabuan dinaikkan menjadi 800 oC, 850 oC dan 900 oC. Hasil abu dikarakterisasi dan diperoleh pengaruh perlakuan suhu terbaik. Hasil tersebut dijadikan sebagai acuan untuk melakukan perlakuan pencucian HCl. Berdasarkan hasil dan analisis yang dilakukan disimpulkan bahwa ekstraksi silikon dioksida (SiO2) dari jerami padi telah berhasil dilakukan dan diperoleh kemurnian yang bervariasi antara 76.20% sampai 89.31%. Silikon dioksida dengan kemurnian tertinggi sebesar 89.31% diperoleh pada perlakuan pengaruh konsentrasi HCl 5% dan suhu pengabuan 800 oC. Karakteristik morfologi permukaan dan bentuk butir dari sampel adalah tidak homogen. Komposisi dari masing-masing perlakuan adalah masih terdapat unsur pengotor pada perlakuan HCl 3% yaitu karbon, kalsium, dan potassium. Sedangkan pada perlakuan HCl 5% dan 7% sudah tidak ditemukan unsur pengotor. Karaktristik struktur yang diperoleh adalah sampel berada pada fasa mikrokristal. Karakteristik sifat listrik sampel adalah semikonduktor pada frekuensi tinggi dan memiliki nilai konstanta dielektrik yang tinggi pada frekuensi rendah

    Kelimpahan Populasi Kepik Predator (Reduviidae) pada Pertanaman Brokoli, Padi dan Wortel di Cipanas, Kabupaten Cianjur.

    No full text
    Keberadaan kepik predator sebagai musuh alami dalam suatu habitat dapat mencerminkan bahwa tingkat adaptasi dan persaingan yang tinggi. Kepik predator dapat bermanfaat secara tidak langsung untuk membantu petani dalam mengendalikan populasi hama umumnya pada berbagai jenis pertanaman. Namun, informasi mengenai kelimpahan populasi dari kepik tersebut perlu ditinjau kembali mengingat banyaknya faktor yang dapat memengaruhi jumlah populasi. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat penghisap debu yang telah dimodifikasi. Sebelum dilakukannya pengambilan sampel, tanaman disungkup terlebih dahulu. Pengambilan sampel dilakukan terhadap 3 petak untuk satu jenis pertanman dan masing-masing 10 contoh tanaman pada pertanaman yang diamati yaitu pertanaman brokoli, padi, dan wortel. Sampel dihitung dan diidentifikasi hingga tingkat genus dalam famili Reduviidae. Ketinggian tanaman pada pertanaman brokoli dan wortel yaitu 1257 mdpl sedangkan pada pertanaman padi yaitu 821 mdpl. Berdasarkan hasil pengamatan, hanya pada komoditas padi kepik predator Reduviidae Sycanus annulicornis, Rhynocoris sp.and Coranus sp. dapat ditemukan. Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi jumlah populasi kepik tersebut yaitu ketinggian tanaman yang berbeda, bentuk vegetasi tanaman yang tidak sesuai, ketinggian tempat, suhu dan intensitas penggunaan pestisida yang tinggi

    Analisis Keragaman Morfometrik Ikan Kembung (Rastrelliger kanagurta Cuvier, 1816) di Perairan Utara Jawa sebagai Dasar Pengelolaan

    No full text
    Pengelolaan. Dibimbing oleh ZAIRION dan MOHAMMAD MUKHLIS KAMAL. Ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) tergolong kelompok ikan pelagis kecil yang sangat potensial diWilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 712. Adapun demikian informasi tentang unit stok nya masih minim, semetara itu pengetahuan tentang unit stok penting sebagai dasar pengelolaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keragaman morfometrik dan menduga unit stok ikan kembung (Rastrelliger kanagurta), yang dilakukan pada tiga lokasi di perairan utara Jawa yang meliputi perairan Laut Lampung Timur, Rembang, serta selatan Madura menggunakan metode morfometrik baku dan truss network analysis. Analisis hubungan panjang bobot yang dilakukan menunjukkan bahwa ikan kembung lelaki memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif. Hasil analisis kluster membagi ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) di perairan utara Jawa mejadi dua populasi yang terpisah menggunakan metode Truss Network Analysis. Adapun analisis diskriminan menunjukkan adanya populasi yang tumpang tindih di Perairan Rembang dan Perairan Selat Madura. Adanya perbedaan karakter morfometrik dari masing masing lokasi sehingga diduga terdapat potensi adanya lebih dari satu unit stok ikan kembung lelaki

    Analisis Head Pasang Surut Terhadap Besar Debit Aliran Untuk Suplai Air Tambak Garam

    No full text
    Produksi garam pada tambak garam dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Ketinggian pasang surut dan kualitas air laut perlu diperhatikan dalam produksi garam agar kualitasnya baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara head pasang surut di intake dengan diameter pipa dan debit aliran yang dihasilkan, serta mengetahui persamaan antara debit aliran dengan ketinggian air berdasarkan hasil simulasi. Data pasang surut yang digunakan adalah data dari perairan di Kalianget tahun 2015-2016 yang diperoleh dari Pusat Hidro- Oseanografi TNI AL. Penelitian ini dilakukan dengan mensimulasi ketinggian pasang surut dalam tanki air di laboratorium. Pipa yang digunakan memiliki diameter ½", ¾" dan 1" dengan panjang 12 m. Hasil analisis menunjukkan besarnya debit aliran berbanding lurus dengan ketinggian air dan diameter pipa yang digunakan. Debit aliran terendah didapat pada pipa berdiameter ½" dan ketinggian air 10 cm, yaitu 0.053 liter/detik. Debit maksimum didapat pada pipa berdiameter 1" dan ketinggian air 70 cm, yaitu sebesar 0.402 liter/detik. Besarnya koefisien debit (Cd) berbanding terbalik dengan penambahan diameter pipa

    Lalat Frugivor pada Berbagai Jenis Buah-Buahan di Bogor dan Sekitarnya

    No full text
    Tanaman buah-buahan banyak dibudidayakan di Indonesia dan memiliki potensi dan peluang dalam perekonomian negara. Masalah utama produksi buahbuahan adalah hama serangga yang menyerang buah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan inventarisasi lalat frugivor yang berasosiasi dengan tanaman buah-buahan tertentu. Buah-buahan yang diduga diserang lalat buah dikumpulkan dari lahan pertanaman di Bogor dan sekitarnya, dibawa dan dipelihara di laboratorium sampai imago muncul. Hasil menunjukkan Bactrocera dorsalis Drew & Hancock (Diptera: Tephritidae) muncul dari buah jambu biji, belimbing, rambutan, dan sirsak; sedangkan Bactrocera carambolae Drew & Hancock dari jambu biji, jambu air, belimbing, jeruk bali, dan loa; dan Bactrocera albistrigata de Meijere hanya dari jambu air. Silba capsicarum McAlpine (Diptera: Lonchaeidae) muncul dari belimbing dan jambu biji. Zaprionus bogoriensis Mainx (Diptera: Drosophilidae) sebagian besar muncul dari rambutan, sedangkan Scaptodrosophila lurida Walker kebanyakan muncul dari jeruk bali. Parasitoid yang berasosiasi dengan buah yang terinfeksi oleh Bactrocera adalah Fopius arisanus Sonan dan Diachasmimorpha longicaudata Ashmead (Hymenoptera: Braconidae)

    Kajian Risiko Probabilistik Paparan Akrilamida dalam Roti Manis pada Populasi Mahasiswa IPB

    No full text
    Akrilamida merupakan suatu kontaminan pangan bersifat karsinogenik yang dapat terbentuk melalui reaksi antara gugus amina dengan gugus karboksil dengan proses pengolahan suhu tinggi (diatas 120˚C). Asam amino asparagin diduga berpotensi sebagai prekursor pembentukan akrilamida pada roti manis. Proses terbentuknya akrilamida dalam roti manis terjadi melalui reaksi maillard pada pemanasan suhu tinggi seperti proses pemanggangan. Senyawa akrilamida dikategorikan ke dalam golongan senyawa karsinogenik tipe 2A (berpotensi karsinogenik pada manusia). Potensi terbentuknya akrilamida dalam roti manis dikhawatirkan dapat meningkatkan paparan terhadap akrilamida. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukandengan kajian risikosecara probabilistik dengan pendekatan simulasi monte carlo menggunakan data survei konsumsi mahasiswa sarjana S1 IPB.Pendekatan monte carlo dapat memperkirakan jumlah paparan yang dapat mempengaruhi terhadap efek merugikan bagi kesehatan. Kajian paparan menghasilkan nilai estimated daily intake (EDI) yang digunakan untuk menentukan signifikasi risiko akrilamida pada roti manis. Kajian risiko dilakukan melalui empat tahapan yaitu identifikasi bahaya, karakterisasi bahaya, kajian paparan, dan karakterisasi risiko. Kajian paparan menggunakan parameter berat badan responden, konsumsi roti manis, dan faktorfaktor yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan akrilamida pada roti manis. Hasil kajian paparan berdasarkan data survei konsumsi mahasiswa IPB menunjukkan bahwa estimasi paparan akrilamida dari konsumsi rata-rata roti manis tertinggi terjadi pada kelompok populasi total yaitu 0.14 ug/kg berat badan/hari (roti manis komersial/sekunder) dan 0.51 ug/kg berat badan/hari (roti manis permodelan) dengan rata-rata konsumsi roti manis sebesar 119.98 ± 88.42 gram/hari. Nilai estimasi paparan akrilamida dari konsumsi tinggi (persentile ke- 95) roti manisterjadi pada kelompok populasi total mahasiswa (sebesar 0.46 ug/kg berat badan/hari (roti manis komersial/sekunder) dan 1.23 ug/kg berat badan/hari (roti manis permodelan) dengan rata-rata konsumsi roti manis sebesar 119.98 ± 88.42 gram/hari. Hasil sensivisitas analisis menunjukkan bahwa paparan akrilamida dari roti manis dipengaruhi oleh konsumsi roti manis, berat badan, jenis gula, dan proses pemanggangan. Berdasarkan hasil karakteriasi risiko, secara keseluruhan nilai estimasi paparan akrilamida pada konsumsi rata-rata roti manistidak melebihi nilai acceptable daily intake (ADI). Nilai EDI pada tingkat konsumsi tinggi (persentil ke-95) melebihi nilai ADI sehingga berpotensi adanya risiko terhadap kesehatan. Menurut JECFA (2005) menetapkan nilai acceptable daily intake (ADI) akrilamida sebesar 1 ug/kg berat badan/hari dan nilai intake tertinggi sebesar 4 ug/kg berat badan/hari. Sehingga nilai probabilitas risiko paparan akrilamida melalui roti manis pada populasi mahasiswa sarjana S1 IPB tidak signifinikan, karena nilai asupan akrilamida tidak melebihi nilai ADI

    Optimasi Campuran Ekstrak Air Teh Putih, Hitam, dan Hijau (Camellia sinensis L.) sebagai Antiproliferasi Sel Kanker Payudara MCF-7.

    No full text
    Teh (Camellia sinensis L.) merupakan salah satu tanaman tradisional yang berpotensi sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antiproliferasi ekstrak air teh putih, teh hitam dan teh hijau serta campurannya terhadap sel kanker payudara MCF-7 secara in vitro. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi ekstraksi daun teh, pengukuran kadar air simplisia daun teh, penentuan komponen kimia ekstrak teh, pengujian toksisitas ekstrak teh, serta aktivitas antiproliferasi ekstrak teh terhadap sel kanker payudara MCF-7. Analisis campuran ekstrak teh terhadap aktivitas antiproliferasi sel kanker MCF-7 dilakukan dengan metode simplex-centroid design. Penapisan fitokimia menunjukkan ekstrak teh mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Toksisitas ekstrak teh hijau, teh hitam dan teh putih ditunjukkan dengan nilai LC50 berturut-turut sebesar 1463.24 μg/mL, 1835.78 μg/mL dan 1243.38 μg/mL. Ekstrak teh putih, teh hitam, teh hijau dan campurannya secara nyata (p˂0.05) mampu menurunkan pertumbuhan sel kanker MCF-7. Hasil analisis menunjukkan model linier yang tidak signifikan terhadap aktivitas penghambatan sel kanker

    Analisis Anatomi, Struktur Sekretori dan Uji Histokimia Kantong Nepenthes gracilis Korth

    No full text
    Kantong semar merupakan salah satu tanaman karnivora yang memiliki organ khusus berupa kantong. Nepenthes memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat karena mengandung senyawa metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai obat. Penelitian ini bertujuan mempelajari anatomi, dan struktur sekretori pada kantong Nepenthes gracilis, serta mengetahui akumulasi senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalamnya. Pengamatan anatomi, struktur sekretori dan uji histokimia menggunakan tanaman yang diperoleh dari koleksi Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya-LIPI. Bagianbagian kantong yang diamati meliputi tutup, peristom, zona lilin, dan zona pencerna. Pengamatan anatomi dan struktur sekretori dilakukan dengan membuat sediaan mikroskopis sayatan paradermal dan transversal. Metode uji histokimia diperlukan untuk mengetahui lokasi akumulasi senyawa metabolit sekunder di dalam jaringan. Uji histokimia yang dilakukan meliputi uji fenol, lipofilik, terpenoid, flavonoid dan alkaloid. Jaringan penyusun dinding kantong N. gracilis terdiri atas epidermis luar dan dalam yang dilapisi oleh kutikula, mesofil dan berkas pembuluh. Kantong N. gracilis memiliki kristal bertipe druse yang dapat ditemukan pada jaringan mesofil. Struktur sekretori yang ditemukan pada tumbuhan ini berupa kelenjar nektar dan pencerna. Uji histokimia menunjukkan senyawa metabolit sekunder yang terakumulasi pada kelenjar nektar dan kelenjar pencerna pada kantong N. gracilis terdiri atas fenol, terpenoid, lipofilik, dan flavonoid

    Profil Hematologi Mencit (Mus musculus) Pasca Pemberian Vaksin Oral Hepatitis B Core Antigen dan Interferon α-2b

    No full text
    Hepatitis merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Vaksin pencegahan menggunakan hepatitis B core antigen (HBcAg) dan interferon (IFN) α-2b diharapkan mampu meningkatkan sistem imun. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil hematologi sebagai indikator dinamika kekebalan tubuh pada mencit yang diberikan vaksin oral hepatitis B core antigen (HBcAg) dan interferon (IFN) α-2b melalui pengamatan diferensial leukosit dan uji hematologi. Penelitian ini menggunakan lima belas mencit (Mus musculus) yang terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol (kultur L. lactis NZ3900 (Inang)), kelompok P1 (kultur L. lactis rekombinan pNZ8148-interferon (IFN) α-2b), dan kelompok P2 (kultur L. lactis rekombinan hepatitis B core antigen (HBcAg) dan pNZ8148-interferon (IFN) α-2b). Imunisasi hewan dilakukan sebanyak tiga kali dan pengambilan sampel darah di lakukan pada hari terakhir yaitu hari ke 51. Sampel darah mencit diambil dari medial canthus sinus orbitalis untuk pengamatan diferensial leukosit dan uji hematologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan persentase leukosit dan eritrosit. Penelitian ini menunjukkan bahwa vaksin oral hepatitis B core antigen (HBcAg) dan interferon (IFN) α-2b efektif meningkatkan kekebalan tubuh. Dari hasil penelitian ini, vaksin oral hepatitis B core antigen (HBcAg) dan interferon (IFN) α-2b memiliki potensi sebagai vaksin oral untuk pecegahan Hepatitis B

    Pemodelan Spasial Bahaya Longsor di DAS Ciliwung Hulu Kabupaten Bogor.

    No full text
    Longsor merupakan fenomena alam dimana alam mencari keseimbangan baru akibat adanya gangguan atau adanya faktor yang mempengaruhinya sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan gerakan tanah. Provinsi Jawa Barat termasuk salah satu daerah yang memiliki potensi tinggi untuk terjadinya bencana longsor, contohnya adalah di Kabupaten Bogor. Kabupaten Bogor dikategorikan ke dalam zona gerakan tanah pada tingkat menengah sampai tinggi oleh BNPB, dimana DAS Cilwung Hulu merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bogor yang sering mengalami longsor. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model spasial bahaya longsor dan merumuskan rekomendasi mitigasi berdasarkan pada bahaya longsor penggunaan lahan eksisting dan bentuklahan di DAS Ciliwung Hulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh parameter yang dapat digunakan dalam pemodelan spasial bahaya longsor, yaitu bentuklahan, penggunaan lahan, kemiringan lereng, curah hujan, kelurusan, jenis tanah, dan litologi. Berdasarkan analisis pembobotan didapatkan bahwa bobot masing-masing parameter secara berurutan adalah 0,347; 0,223; 0,200; 0,100; 0,071; 0,049; dan 0,010. Bahaya longsor hasil analisis dikelaskan menjadi 3 kelas yaitu rendah, sedang, dan tinggi dengan luasan masing-masing 4651,53 ha (31%), 6637,72 ha (43%), dan 3941,41 ha (26%). Adapun akurasi keseluruhan yang diperoleh adalah 57,8. Rekomendasi bentuk-bentuk mitigasi bencana longsor untuk daerah penelitian yang tepat antara lain adalah pembuatan bronjong dan tu terutama untuk daerah-daerah dengan kelas bahaya longsor tinggi (secara teknik sipil) seperti yang telap diterapkan di beberapa titik di daerah penelitian. Adapun secara vegetatif, bentuk mitigasi yang direkomendasikan adalah agroforestry terutama di daerah perkebunan dan permukiman, sementara itu secara sosial, bentuk mitigasi masih diperlukan adalah berupa pemahaman atau pendidikan tentang bencana longsor dan peringatan dini di setiap musim hujan

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇