31665 research outputs found
Sort by
Analisis Daya Dukung Lingkungan di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.
Pertambahan jumlah penduduk di perkotaan akan selalu meningkatkan
kebutuhan lahan untuk pemukiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
daya dukung lingkungan di Kecamatan Ciawi. Penentuan daya dukung lingkungan
hidup dilakukan dengan cara menganalisis kapasitas lingkungan alam dan
sumberdaya untuk mendukung kegiatan dan kelangsungan hidup
manusia/penduduk. Penelitian ini dilaksanakan dari Maret hingga Agustus 2020 di
Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Penelitian analisis daya dukung lingkungan
ini mengacu pada peraturan yang berlaku. Daya dukung lingkungan berdasarkan
nilai kebutuhan dan ketersediaan air di Kecamatan Ciawi pada tahun 2019 berstatus
surplus, sedangkan berdasarkan nilai kebutuhan dan ketersediaan lahan di
Kecamatan Ciawi berstatus defisit/terlampaui. Prediksi status daya dukung
lingkungan berdasarkan nilai kebutuhan dan ketersediaan air di Kecamatan Ciawi
pada tahun 2036 berstatus surplus, sedangkan berdasarkan nilai kebutuhan dan
ketersediaan lahan berstatus defisit/terlampaui. Diperlukan beberapa skenario
untuk mengatasi permasalahan terkait ketersediaan dan kebutuhan lahan ini
Identifikasi Jenis dan Tahap Keekonomian Potensi Manfaat Ekosistem Hutan di UPTD Unit VI KPHL Solok
Hutan lindung dengan fungsi utama sebagai pengatur tata air akan lebih terjamin kelestariannya apabila memberi manfaat yang lebih luas kepada masyarakat sekitarnya. Pengaturan jenis-jenis pemanfaatan yang lebih luas namun tetap menjaga fungsi utamanya di tingkat tapak perlu dilakukan oleh suatu unit lembaga pengelolaan yang disebut KPHL. Penelitian ini bertujuan mengetahui seluruh jenis potensi dan kemajuan tahap keekonomian dari manfaat hasil hutan yang terdapat di wilayah kelola UPTD KPHL Solok. Data dan informasi diperoleh melalui wawancara dengan pihak KPH, Pimpinan daerah, pengusaha hasil hutan, dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa UPTD Unit VI KPHL Solok memiliki 119 jenis potensi manfaat hasil hutan yang terdiri dari 13 jenis hasil hutan kayu, 11 jenis HHBK, 5 jenis tanaman pertanian, 4 jenis hewan ternak, 14 jenis satwa liar, 15 jenis jasa lingkungan, 13 jenis tanaman perkebunan, 3 jenis tanaman hias, 32 jenis tanaman obat, 7 jenis buah-buahan, serta 2 jenis bahan tambang. Dari total 119 jenis potensi, baru 8 potensi yang menurut kemajuan tingkat lokal sudah berada di tahap keunggulan kompetitif atau siap diusahakan, sedangkan menurut kemajuan pada tingkat nasional diperkirakan terdapat 77 jenis yang dianggap sudah mencapai tahap tersebut. Keanekaragaman potensi manfaat tersebut diharapkan dapat menjadi bahan menyusun strategi keberhasilan pengelolaan KPHL Solok
Pembuatan Grontol Cepat Masak dari Jagung Lokal (Zea mays var. indurata).
Grontol jagung merupakan produk yang cukup digemari khususnya di wilayah Jawa, Madura, dan Sumatra. Namun, grontol masih diolah secara tradisional dan memerlukan waktu penyajian yang cukup lama. Pembuatan grontol cepat masak bertujuan mempersingkat waktu penyajian grontol dan diharapkan memiliki karakterisitik sensori yang mirip dengan grontol segar. Penelitian ini menggunakan jagung lokal jenis mutiara (Zea mays var. indurata) sebagai bahan baku. Pembuatan grontol cepat masak dilakukan dengan metode nikstamalisasi dengan merebus jagung pipil kering pada larutan 1% Ca(OH)2 selama 3 jam. Jagung hasil perebusan kemudian direndam dengan perlakuan lama waktu perendaman 0, 2, 4, dan 6 jam. Kemudian jagung dikukus selama 2 jam untuk selanjutnya dioven pada suhu 55°C selama 24 jam. Nikstamalisasi bertujuan untuk menghilangkan lapisan perikarp jagung dan memodifikasi sifat fisiko-kimia pati jagung sehingga diharapkan dapat matang dalam waktu yang singkat. Penelitian diawali dengan pembuatan grontol cepat masak dengan perlakuan lama waktu perendaman. Grontol cepat masak yang dihasilkan kemudian dianalisis kadar air, densitas kamba, dan waktu pemasakan. Perlakuan lama waktu perendaman terbaik ditentukan berdasarkan karakteristik sensori melalui uji Rate-All-That-Apply (RATA) dan uji Rating Hedonik. Kadar air semua perlakuan memenuhi standar SNI 01-3727-1995 tentang tepung jagung dimana kadar air maksimal adalah 10%. Waktu pemasakan grontol tanpa perendaman adalah 35 menit, lebih lama daripada grontol dengan perlakuan perendaman yaitu 25 menit. Namun penambahan waktu perendaman tidak menurunkan waktu pemasakan. Densitas kamba grontol cepat masak berada pada kisaran 0.4899 – 0.5323 tergantung kadar air awal produk. Melalui hasil uji RATA dapat disimpulkan perlakuan tanpa perendaman, 2, dan 4 jam perendaman memiliki karakteristik sensori paling mirip dengan grontol segar. Sedangkan melalui uji Rating Hedonik semua sampel memiliki tingkat kesukaan yang tidak berbeda nyata. Perlakuan tanpa perendaman dipilih sebagai perlakuan terbaik karena memiliki atribut sensori yang mirip dengan kontrol (grontol segar) dan perlakuan perendaman terbukti tidak secara nyata memperbaiki atribut sensori. Tahap verifikasi dilakukan untuk memperbaiki waktu pemasakan dan karakteristik sensori grontol jagung. Hasilnya, grontol hasil verifikasi memiliki kecerahan warna dan warna kuning yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Waktu pemasakan paling singkat yang dapat dihasilkan adalah 25 menit dengan tingkat kekerasan sedang yang masih dapat diterima konsumen. Penambahan parutan kelapa dan garam meningkatkan kesukaan konsumen terhadap produk
Kinerja sektor kesehatan masyarakat di provinsi Aceh (Indonesia).
Makalah ini menganalisis kinerja sektor kesehatan masyarakat di provinsi Aceh, dimana provinsi ini terdiri dari 17 kabupaten dan 5 kota. Indikator yang diukur dalam penelitian ini adalah yang terkait dengan efisiensi. Berdasarkan studi-studi terdahulu dalam pengukuran efisiensi, penelitian ini menggunakan metode non-parametrik yaitu Data Envelopment Analysis (DEA) untuk menjawab masalah-masalah di dalam penelitian ini. Walaupun metode yang diajukan dan digunakan dapat diaplikasikan untuk beberapa sektor selain kesehatan, namun riset ini hanya focus terhadap evaluasi efisiensi di sektor kesehatan di provinsi Aceh. Aceh dipilih dikarenakan penelitian pada ruang lingkup studi ini masih terlihat terbatas di Aceh. Provinsi ini juga spesial dikarenakan menerima dana otonomi khusus dari pemerintah Indonesia, namun berdasarkan data terbaru anak stunting tertinggi se-Indonesia terdapat di Aceh. Dengan mengukur kinerja sektor kesehatan di Aceh, penelitian ini dapat berkontribusi untuk kebijakan pada masing-masing daerah di Aceh untuk memperbaiki kinerja lebih baik. Ada dua tujuan dalam penelitian ini, yaitu: pertama, untuk menganalisis variabel input dan output yang digunakan dalam penelitian ini. Kedua, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis kinerja dalam hal efisiensi untuk semua kabupaten/ kota di provinsi Aceh.
Penelitian ini memiliki 2 temuan yang dapat diaplikasikan untuk pengambilan kebijakan. Pertama, penelitian ini menjelaskan pengukuran kinerja sektor kesehatan di Aceh yang menggunakan 2 macam output dan 3 jenis input variable. Diantara 23 kabupaten/ kota di Aceh, tingkat harapan hidup tertinggi adalah di Lhokseumawe dan Banda Aceh (71). Sebaliknya, nilai terendah sebesar 63 ada di kabupaten Subulussalam. Variable output lainnya adalah tingkat kehidupan balita, dimana nilai tertinggi adalah 999 dari 1000 balita yang hidup di Aceh Tenggara dan nilai teren per 1000 bayi di kabupaten Simelue. Selain dua poin tersebut, penelitian ini juga berguna untuk mengukur kinerja efisiensi. Dari pengukuran input menunjukkan bahwa dari seluruh provinsi Aceh, kurang dari 30 % dikategorikan efisien. Ada beberapa poin penting dari hasil ini. Pertama, Banda Aceh yang merupakan ibu kota provinsi merupakan kinerja terbaik dan kabupaten Pidie sebaliknya. Kedua, salah satu variable input yang digunakan adalah jumlah puskesmas namun varibel in ternyata tidak memberikan feel yang signifikna untuk menghasilkan kabupaten/ kota yang efisienyang mana dapat dilihat perbedaan Banda Aceh dan Pidie.
Untuk bagian pengambilan kebijakan, studi ini menjelaskan bagaimana mengontrol atau mengatur tiga jenis variable input agar mencapai tingkat efisiensi. Terdapat 6 kabupaten/ kota yang dikategorikan efisien (ditulis cetak tebal) yaitu: Aceh Tenggara, Aceh Barat, Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, dan Subulussalam. Untuk kasusu keenam daerah yang sudah mencapai tingkat efisien, tidak diperlukan lagi untuk mengurangi atau menambah variable input. Sebaliknya untuk 17 kabupaten/ kokta masih harus mengatur variable inputnya untuk mencapai
tingkat efisiensi. Contohnya, Langsa harus memperbaiki kinerjanya dengan mengurangi jumlah perawat sebanyak 221 orang dan jumlah dokter sebanyak 41 orang. Daerah lain yang agak berbeda dengan Langsa misalnya adalah Pidie dan Gayo Lues yang hanya harus mengurangi jumlah perawat sebyak 89 dan 48 orang, secara berurutan
Tingkat Fertilisasi in vitro Oosit Domba setelah Difertilisasi dalam Media dengan Penambahan Cysteamine
Keberhasilan fertilisasi in vitro ditandai dengan terbentuknya dua pronukleus hasil dari fertilisasi normal sehingga memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi embrio. Pembentukan pronukleus dapat dioptimalkan dengan cara meningkatkan konsentrasi glutathione (GSH). Glutathione memiliki sejumlah peran penting yaitu mereduksi radikal bebas, proteksi seluler dari stress oksidatif, sebagai reservoir dari cysteine dan membantu pembentukan pronukleus melalui mekanisme dekondensasi inti sel spermatozoa. Apabila konsentrasi GSH yang dicapai selama pematangan tidak optimal, maka akan menyebabkan akumulasi ROS yang berakibat terjadinya aging dan apoptosis. Salah satu komponen yang dapat meningkatkan kadar glutathione adalah cysteamine. Cysteamine dapat memecah ikatan disulfida cystine yang terdapat dalam media menjadi bentuk cysteine yang merupakan prekursor glutathione sehingga memicu uptake cysteine dan sintesis glutathione intraseluler. Cysteamine dengan dosis 100 μM dilaporkan dapat meningkatkan jumlah oosit yang terfertilisasi secara efektif pada hewan kambing, sapi, dan babi. Oleh karena itu, cysteamine dapat digunakan untuk membantu pembentukan pronukleus pada oosit domba. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkaji peningkatan kompetensi oosit domba setelah penambahan cysteamine pada media maturasi dan fertilisasi atau kombinasinya, terhadap pembentukan pronukleus setelah fertilisasi. Koleksi ovarium dilakukan dengan cara dibilas dengan media transprotasi dengan suhu 34 ̶ 36°C kemudian dibawa ke laboratorium dalam waktu kurang dari 3 jam setelah pemotongan. Oosit dikoleksi dengan teknik slicing, hanya oosit dengan minimum 3 lapis sel kumulus yang kompak dan sitoplasma yang homogen dipilih untuk proses maturasi. Maturasi oosit dilakukan di dalam mikrodroplet 100 μL media maturasi dan ditutup mineral oil kemudian diinkubasi dalam inkubator CO2 5% pada suhu 39 °C selama 24 jam. Fertilisasi oosit menggunakan semen beku domba yang di thawing kemudian diencerkan dengan media fertilisasi hingga mencapai konsentrasi 5×106 spermatozoa/mL. Oosit yang matang dicuci kemudian dipindahkan ke dalam mikrodroplet spermatozoa, ditutup mineral oil dan diinkubasi dengan suhu 39°C selama 12-14 jam. Perlakuan dalam penelitian ini terbagi menjadi empat berdasarkan suplementasi 100 μM cysteamine, kelompok P1 tanpa penambahan cysteamine, kelompok P2 dengan penambahan cysteamine pada media maturasi, kelompok P3 dengan penambahan cysteamine pada media fertilisasi, dan kelompok P4 dengan penambahan cysteamine pada media maturasi dan fertilisasi. Oosit yang telah difertilisasi didenudasi dan difiksasi di atas gelas objek selama 48 - 72 jam kemudian diwarnai dengan aseto-orsein 1% untuk diamati pembentukan pronukleusnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P>0.05) tingkat fertilisasi normal baik pada kelompok dengan penambahan cystemine di media maturasi (P2), media fertilisasi (P3), maupun
kombinasinya (P4) terhadap kelompok kontrol (P1). Dilaporkan sebelumnya bahwa peningkatan perkembangan oosit dan produksi GSH selama maturasi oosit domba secara signifikan baru dicapai pada cysteamine dosis 200μM. Diduga bahwa cysteamine dosis 100 μM tidak mampu meningkatkan sintesis glutathione baik di media maturasi maupun media fertilisasi sehingga glutathione yang ada terbentuk pada level basal atau diperoleh secara maternal seperti pada kelompok kontrol. Diketahui bahwa puncak proses pembentukan GSH oosit terjadi pada saat proses kematangan inti dan berangsur-angsur menurun pada awal proses fertilisasi hingga memasuki tahap awal perkembangan embrio. Oleh karena itu diduga bahwa pembentukan GSH hanya terjadi pada proses maturasi tidak pada proses fertilisasi. Cystine dan cysteine sebagai prekursor sintesis glutathione terdapat dalam media maturasi namun tidak ada di dalam media fertilisasi sehingga tidak terdapat perbedaan tingkat fertilisasi normal antara penambahan cysteamine pada media maturasi dan media fertilisasi. Disimpulkan bahwa penambahan cysteamine dengan dosis 100μM pada media maturasi, fertilisasi, maupun kombinasinya belum mampu secara efektif meningkatkan angka fertilisasi normal oosit domba secara in vitro. Oleh karena itu diperlukan penlitian lebih lanjut untuk menemukan dosis optimal penambahan cysteamine pada berbagai media untuk meningkatkan tingkat fertilisasi normal pada oosit domba
Analisis Keputusan Pembelian Konsumen pada Startup etanee Dalam Upaya Peningkatan Pemasaran Produk Pangan secara Online
Indonesia telah memasuki era industri 4.0 ditambah penggunaan internet yang meningkat tiap tahun sehingga terjadi peningkatan ekonomi digital. Salah satu upaya dengan cara memanfaatkan peluang ini yaitu menciptakan bisnis e-commerce terutama di bidang pertanian. Etanee merupakan salah satu startup yang menjual produk pangan secara online. Tujuan penelitian mengetahui karakteristik konsumen, proses keputusan pembelian produk pangan secara online, serta faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian produk pangan di etanee. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis faktor dengan bantuan perangkat lunak IBM SPSS Statistics for Windows Version 22. Hasil penelitian ini menghasilkan empat faktor baru yang memengaruhi keputusan pembelian produk pangan secara online di etanee yaitu faktor produk dan layanan, faktor keamanan dan kenyamanan, faktor kehandalan operasional, dan faktor situs informasi. Faktor utama yang paling memengaruhi adalah produk dan layanan dengan keragaman data sebesar 40.609 persen
berjudul Pelabelan Prima pada Graf Gurita (On) dengan Penambahan Simpul Duplikasi.
Setiap graf gurita adalah graf prima sedemikian sehingga pelabelan simpul
pada graf gurita merupakan pelabelan simpul pada graf prima. Suatu Graf
( ( ) ( )) dapat dikatakan memiliki pelabelan simpul pada graf prima
jika graf tersebut memenuhi fungsi bijektif ( ) { } dan untuk
setiap sisi ( ( ) ( )) . Dalam karya ilmiah ini, akan
ditunjukkan bahwa graf gurita memiliki pelabelan prima dan merumuskan graf
gurita duplikasi dengan penambahan simpul dari simpul graf kipas ( ) graf
gurita ( ), graf bintang ( ) graf gurita ( ), dan simpul utama pada graf
gurita ( ) adalah graf prima denga
Pengaruh Pemberian Rooton-F® terhadap Pertumbuhan Vegetatif Bibit Uwi (Dioscorea alata L.) dan Ganyong (Canna edulis Ker.).
Pertumbuhan tunas umbi dapat ditingkatkan dengan penambahan hormon
atau zat pengatur tumbuh (ZPT) seperti Rooton-F®. Penelitian ini bertujuan untuk
mempelajari pengaruh ZPT Rooton-F® terhadap pertumbuhan bibit uwi
(Dioscorea alata L.) dan ganyong (Canna edulis Ker.) dan mendapatkan
kombinasi perlakuan terbaik untuk pembibitan. Penelitian dilaksanakan pada
bulan Februari hingga April 2019 di lahan penelitian Kebun Percobaan
Leuwikopo, Institut Pertanian Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan
adalah rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan.
Percobaan pertama menggunakan tanaman Dioscorea alata. Percobaan kedua
menggunakan tanaman Canna edulis. Perlakuan pada kedua percobaan adalah
penggunaan Rooton-F® dengan empat taraf konsentrasi Rooton-F, terdiri dari
tanpa aplikasi Rooton-F®, 6.25 g L-1, 12.5 g L-1, dan 18.75 g L-1. Konsentrasi
anjuran adalah 12.5 g L-1 atau 1.25 %. Total satuan percobaan dalam setiap
perlakuan berjumlah 12 dan setiap satuan percobaan terdiri dari 10 individu
tanaman yang ditanam dalam dua baris, sehingga jumlah keseluruhan percobaan
uwi dan ganyong terdiri dari 240 individu tanaman. Hasil penelitian menunjukkan
penggunaan Rooton-F® sampai dengan konsentrasi 18.75 g L-1 belum dapat
meningkatkan persentase tumbuh bibit Dioscorea alata karena adanya hambatan
dormansi umbi. Perlakuan konsentrasi Rooton-F® 6.25 g L-1 pada bibit ganyong
berpengaruh nyata meningkatkan kecepatan tumbuh daun tetapi tidak berbeda
nyata dengan perlakuan kontrol. Persentase tumbuh Dioscorea alata dengan
sistem tanam langsung di lapang maksimum sebesar 44.4 % dan untuk Canna
edulis sebesar 87.5 %
Monitoring Risiko Fiskal Daerah di Kota Cirebon
Pengawasan resiko fiskal daerah diperlukan dalam rangka mengurangi risiko fiskal dan juga sebagai bentuk keterbukaan dan kesinambungan fiskal pemerintah daerah, yaitu untuk mengetahui dimana posisi fiskal pemerintah daerah, agar lebih menjamin terjaganya kesinambungan pendapatan, belanja, dan pembiayaan sehingga kesehatan fiskal daerah dapat terjaga serta untuk mencegah terjadinya darurat fiskal atau kehilangan kemampuan keuangan pada pemerintah daerah. Permasalahannya, pemerintah daerah seringkali kekurangan informasi mengenai posisi fiskalnya, termasuk bagaimana melihat dan memonitor kemungkinan risiko fiskal yang dihadapi dan bagaimana strategi penanganannya secara tepat dan reliabel. Kota Cirebon merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang juga seperti daerah lain di Indonesia, memiliki potensi risiko fiskal apabila tidak diawasi dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis indikator-indiktor penyusun risiko fiskal daerah dan merumuskan strategi sebagai upaya dalam mengurangi risiko fiskal di Kota Cirebon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan risiko fiskal daerah dengan menggunakan metode Carter dan Ajam didapatkan hasil bahwa status fiskal daerah Kota Cirebon untuk tahun 2013-2017 berada pada status tidak berisiko. Namun, apabila dikaji dari setiap indikator yang ada pada setiap aspek, terdapat beberapa indikator yang statusnya berada pada kondisi berisiko. Indikator-indikator yang berada pada kondisi berisiko ini berpotensi untuk menimbulkan masalah pada fiskal daerah Kota Cirebon. Hasil pengolahan data menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) didapatkan strategi untuk mengurangi risiko fiskal daerah di Kota Cirebon dengan prioritas pertama yaitu meningkatkan pengawasan pajak dan retribusi (0,275), memaksimalkan sektor-sektor pontensial yang mampu memberikan peningkatan bagi penerimaan daerah (0,267), meningkatkan jumlah lapangan kerja baru (0,248), dan efisiensi belanja pegawai dan barang/jasa untuk dialihkan pada belanja modal (0,210)
Analisis Daya Saing Minyak Atsiri Indonesia di Pasar Internasional
Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas subsektor perkebunan berperan
cukup besar dalam memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Indonesia
merupakan negara eksportir minyak atsiri peringkat sepuluh dunia dan pada tahun 2018
memiliki bagian terhadap nilai total ekspor dunia sebesar 3,20% (ITC 2019). Tren
sepuluh tahun terakhir menunjukkan nilai ekspor minyak atsiri Indonesia masih
berfluktuatif walaupun cenderung meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis daya saing minyak atsiri Indonesia di Pasar Internasional dan kemudian
dibandingkan dengan negara pesaing utama menggunakan metode Revealed
Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic (EPD). Analisis faktorfaktor
yang memengaruhi ekspor minyak atsiri Indonesia di Pasar Internasional
dilakukan dengan analisis data panel gravity model. Periode yang digunakan adalah
tahun 2009-2018. Hasil analisis menunjukkan bahwa minyak atsiri Indonesia berdaya
saing kuat di negara Amerika Serikat, Perancis, Spanyol, dan Singapura. Hasil
Perhitungan EPD menunjukkan bahwa posisi pasar minyak atsiri Indonesia berada di
posisi Rising Star di Amerika Serikat dan India, Falling Star di Perancis, Spanyol, dan
Singapura. Hasil estimasi Gravity Model didapatkan bahwa variabel harga ekspor
minyak atsiri Indonesia, nilai tukar rupiah riil terhadap mata uang negara tujuan ekspor,
dan jarak ekonomi Indonesia ke negara tujuan berpengaruh signifikan terhadap nilai
ekspor minyak atsiri Indonesia