Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Overview of Broiler Chicken Slaughtering Result Sold at Tradisional Markets in Jombang.

    No full text
    This study was aimed to determine the misslaughter of the broiler chicken slaughtering process sold at traditional market of Jombang, East Java. 450 samples were obtained from 90 traders; consisting of 44 traders in market 1, 22 traders in market 2 and 24 traders in market 3. The samples fixated with 10% formalin solution and prepared using a minor surgical instruments kit to identify the trachea, esophagus, and two internal carotid artery. This study showed that 168 samples (37.3%) did not meet the requirements for halal slaughter according to SNI N0.99002 2016 about halal slaughtering in poultry. Misslaughter were found on 81 samples (36.8%) from market 1, 24 samples (20%) from market 2, and 63 samples (57.3%) from market 3. Misslaughtered samples shows unfinished cut of the left internal carotid artery, right internal carotid artery, left and right internal carotid artery, and trachea and left internal carotid artery. Most case of misslaughter found was the unfinished cut of the left internal carotid artery by 94 samples (20.9%). The results of sample observations and questionnaire data collection showed that the high imperfections of slaughter results were found on the market applying method 1, namely the method of left hand holding wings and head, right hand slaughtering. In addition, the size of the chicken and the training of the slaughterer also affect the high imperfection of slaughter results. So it can be concluded that the imperfection of the chicken slaughter process in Jombang Regency is influenced by the slaughter method used, the size of the chicken and the training of the slaughterer

    Karakterisasi Fasa dan Sifat Listrik Fluorhidroksiapatit: Pengaruh Variasi Molaritas dan Iradiasi Gelombang Mikro

    No full text
    Peningkatan karies dalam beberapa decade terakhir terjadi pada anak-anak dan orang dewasa, baik pada gigi primer maupun sekunder. WHO memperkirakan DMFT (Decayed, Missing and Filled Teeth) secara global terjadi anak berusia 12 tahun di 209 negara yang termasuk dalam database mereka. Fluorhidroksiapatit merupakan fasa yang stabil dari kalsium fosfat yang dapat digunakan untuk memperbaiki gigi. Substitusi fluor kedalam material hidroksiapatit akan meningkatkan stabilitas dan mencegah karies kedua dengan cara inhibisi metabolisme bakteri. Adanya fluor juga meningkatkan mineralisasi dan kristalisasi kalsium fosfat dalam proses pembentukan gigi dan tulang dan memengaruhi penambahan sel, proliferasi, diferensiasi dan morfologi sel osteoblas. Penelitian yang dilakukan adalah sintesis fluorhidroksiapatit berbasis cangkang telur ayam menggunakan metode presipitasi berbantukan iradiasi gelombang mikro (microwave), dengan melakukan variasi rasio molaritas [P]/[F] dan iradiasi gelombang mikro. Penggunaan gelombang mikro dalam sintesis fluorhidroksiapatit dapat meningkatkan efisiensi, sehingga mengurangi biaya dan metode ini efektif karena iradiasi dan waktu penahanan dapat bervariasi sehingga memengaruhi kecepatan reaksi dan dapat mengurangi pemakaian. Pengaruh dari variasi molaritas dan iradiasi gelombang mikro dianalisis melalui pola difraksi sinar-X, spektra FTIR. Selain itu juga dilakukan penelitian mengenai sifat listrik dari flurhidroksiapatit khususnya nilai konduktifitas listrik karena dari penelitian sebelumnya, material kalsium fosfat memiliki keterkaitan antara nilai konduktivitas dan proses proliferasi sel dan penyembuhan tulang. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa fluorhidroksiapatit telah terbentuk pada semua sampel yang ditunjukkan dengan munculnya gugus fungsi OH...F pada bilangan gelombang 3539-3550 cm-1. Penggunaan iradiasi gelombang mikro yang tinggi (100P) mampu mempercepat reaksi sehingga menghasilkan fluorhidroksiapatit yang lebih murni dan pengotor yang lebih sedikit. Pada penelitian ini juga dilakukan eksperimen dengan jumlah CaO yang lebih banyak dan hasilnya menunjukkan masih terdapat pengotor berupa CaO dan Ca(OH)2. Iradiasi gelombang mikro dan rasio molaritas [P]/[F] menunjukkan tidak adanya hubungan dengan nilai konduktivitas fluorhidroksiapatit, namun dengan adanya pengotor berupa CaO membuat konduktivitas fluorhidroksiapatit meningkat

    Pengaruh persepsi dan kelompok acuan terhadap penyelenggaraan adat “meugang” di Aceh.

    No full text
    Adat meugang di Aceh merupakan adat yang diselenggarakan berdasarkan kepercayaan lokal dan agama untuk menyambut bulan suci Ramadhan serta hari raya Idul Adha, dengan daging sapi atau kerbau sebagai produk yang dipercaya berkaitan dengan adat tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan, hubungan dan pengaruh karakteristik, persepsi, dan kelompok acuan terhadap penyelenggaraan adat meugang di Aceh. Teori perilaku kosumen khususnya pada tahap pembelian oleh konsumen digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini. Desain penelitian ini adalah studi cross sectional menggunakan wawancara dengan alat bantu instrumen berupa kuesioner yang diukur dengan skala Likert. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 230 keluarga, teknik penarikan sampel berupa qouta sampling di Kota Lhokseumawe dengan karakteristik sampel berupa keluarga muslim yang pernah melakukan adat meugang. Penelitian menunjukkan terdapat perbedaan karakteristik keluarga di kota dan di desa dalam segi lama pendidikan suami dan istri, serta pendapatan keluarga. Persepsi dan kelompok acuan berhubungan dengan penyelenggaraan meugang di Aceh. Secara keseluruhan, lama pendidikan suami, persepsi, dan kelompok acuan (teman dan media massa) berpengaruh signifikan terhadap penyelenggaraan meugang di Aceh. Berdasarkan domisilinya, lama pendidikan suami, persepsi, dan teman sebagai kelompok acuan berpengaruh signifikan terhadap meugang di kota, sementara media massa sebagai kelompok acuan berpengaruh signifikan terhadap adat tersebut di desa

    Karakteristik Papan Partikel Campuran Bambu Sembilang Tanpa Kulit dengan Batang Jagung Menggunakan Perekat Asam Sitrat

    No full text
    Papan partikel adalah panel kayu dari partikel kayu yang direkatkan dengan perekat sintetis atau perekat lain dengan menggunakan metode pengempaan. Perekat asam sitrat merupakan salah satu perekat alami yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kadar perekat dan berbagai komposisi bahan baku terhadap sifat fisis dan mekanis papan partikel dari campuran bambu sembilang dan batang jagung. Papan partikel dibuat dari campuran bambu sembilang dan batang jagung dengan komposisi 0:100, 25:75, 50:50, 75:25, dan 100:0 menggunakan perekat asam sitrat dengan kadar perekat 15%, 20% dan 25% berdasarkan berat kering papan partikel. Papan dikempa panas selama 10 menit pada suhu 200ºC dengan tekanan spesifik 66.67 kgf/cm2. Papan diuji sifat fisis dan mekanis sesuai dengan standar JIS A 5908:2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air 3,13-6,54%, pengembangan tebal 3.78-8.41%, daya serap air 17.47-30.79%, MOE 2730.84-5553.78 N/mm2, MOR 13.85-25.62 N/mm2, keteguhan rekat internal 0.11-1.29 N/mm2, dan kuat pegang sekrup 120.32-385.43 N. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, sifat fisis dan mekanis papan partikel yang dihasilkan dipengaruhi oleh komposisi bahan baku dan kadar perekat. Papan partikel dengan sifat fisis dan mekanis yang paling baik ada pada komposisi 100% bambu sembilang dengan perekat asam sitrat 20%

    Analisis Kesenjangan Kompetensi Karyawan pada iNews

    No full text
    Televisi menjadi salah satu barang yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Program siaran di televisi yang terus mempertahankan kualitasnya adalah berita. iNews adalah sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia yang tidak hanya memproduksi berita untuk stasiun televisinya sendiri, tetapi juga untuk stasiun televisi lainnya yang terintegrasi dengan MNC Group. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi aktual karyawan iNews, menganalisis kompetensi karyawan yang dibutuhkan iNews, menganalisis kesenjangan kompetensi aktual karyawan dengan kompetensi karyawan yang dibutuhkan pada iNews, dan menganalisis pemetaan kompetensi yang dibutuhkan pada iNews. Metode yang digunakan adalah analisis gap atau kesenjangan kompetensi dan Importance Performance Analysis (IPA). Analisis gap atau kesenjangan menunjukkan bahwa variabel kompetensi skill, knowledge, selfconcept, traits dan motives secara keseluruhan belum kompeten. Indikator kompetensi yang menjadi kompetensi kunci untuk dapat memiliki karyawan yang kompeten dan memiliki kinerja tinggi adalah memilih berita yang menarik bagi penonton, mengutarakan pendapat dengan baik dalam berkomunikasi, mendapatkan kejelasan atas liputan, tidak melakukan kesalahan dalam bekerja, percaya diri akan hasil kerja, melaporkan perkembangan situasi liputan kepada koordinator, serta tidak menerima suap dari narasumber

    Pengaruh Praktik Pengasuhan Ibu, Temperamen, dan Konsep Diri terhadap Daya Lenting Anak Usia 5-6 Tahun

    No full text
    Daya lenting anak adalah kemampuan anak dalam mengatasi tantangan keseharian dan perkembangannya. Daya lenting anak usia prasekolah merupakan pondasi penting dalam menentukan kualitas perkembangan individu secara berkesinambungan sejak anak hingga dewasa. Lemahnya daya lenting anak cenderung membentuk remaja dengan kepribadian yang cenderung sulit mengikuti peraturan, tidak stabil secara emosi dan lemah dalam sisi akademik serta spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik anak dan keluarga, dan menganalisis hubungan serta pengaruh praktik pengasuhan ibu, temperamen, dan konsep diri, terhadap daya lenting anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kota Depok, Kecamatan Beji, dengan pengambilan data dilakukan pada Mei 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia lima hingga enam tahun dari enam TK terpilih di lokasi penelitian. Teknik penarikan contoh yang digunakan adalah metode purposive dan diperoleh 100 orang anak beserta ibunya. Lebih dari separuh anak (57.0%) dalam penelitian ini memiliki daya lenting tinggi dan tidak ada yang terkategori rendah. Hal ini menunjukkan anak sudah cukup memiliki kemampuan dalam menghadapi tantangan keseharian dan perkembangannya. Dimensi daya lenting yang masih memiliki sebaran rendah cukup besar adalah dimensi relasi dengan pengasuh. Pada praktik pengasuhan ibu delapan persen telah terkategori tinggi dan 82 persen telah terkategori sedang. Hal ini menunjukkan kualitas praktik pengasuhan ibu masih perlu ditingkatkan. Pada temperamen anak hampir seluruh anak (94.0%) dan (99.0%) memliki emosionalitas dan perasaan malu yang rendah dan hampir separuh anak (44.0%) terkategori tinggi pada sosiabilitas serta lebih dari separuh anak (53.0%) terkategori tinggi dalam aktivitas. Pada konsep diri 39 persen anak terkategori tinggi dan 61 persen telah terkategori sedang. Dimensi konsep diri dengan sebaran cukup tinggi pada kategori rendah ada pada dimensi verbal, logika serta fisik. Hal ini menunjukkan anak belum menilai dirinya sangat mampu pada ketiga dimensi tersebut. Praktik pengasuhan ibu, temperamen, dan konsep diri memiliki hubungan positif signifikan terhadap daya lenting anak. Praktik pengasuhan ibu, temperamen, dan konsep diri memiliki pengaruh langsung positif signifikan terhadap daya lenting anak. Praktik pengasuhan ibu juga memiliki pengaruh tidak langsung positif signifikan terhadap daya lenting melalui temperamen dan konsep diri. Pengaruh langsung terkuat adalah dari konsep diri terhadap daya lenting anak. Pengaruh tidak langsung terkuat adalah dari praktik pengasuhan ibu melalui konsep diri terhadap daya lenting anak. Sebagai saran daya lenting anak dapat ditingkatkan melalui peningkatan kulitas praktik pengasuhan ibu, mengarahkan temperamen anak ke arah yang positif dan meningkatkan konsep diri anak

    Dampak Wisata Danau Sentani Terhadap Ekonomi Lokal dan Tingkat Perkembangan Wilayah Di Kabupaten Jayapura

    No full text
    Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi penting dalam pembangunan nasional karena dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, serta merangsang pertumbuhan ekonomi regional. Salah satu bentuk wilayah yang memiliki potensi wisata adalah wilayah Kabupaten. Kabupaten Jayapura merupakan bentuk wilayah yang memiliki potensi wisata yang sangat beragam dan memiliki prospek yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sektor unggulan dalam pengembangan ekonomi wilayahnya. Salah satu jenis wisata alam yang terdapat di Kabupaten Jayapura yaitu berupa wisata Danau Sentani. Keberadaan wisata tersebut di wilayah Danau Sentani dapat menghasilkan dampak ekonomi wilayah, mengerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Kawasan Wisata Danau Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai dan dampak ekonomi yang dihasilkan oleh kegiatan wisata Danau Sentani, tingkat perkembangan wilayahnya, serta merumuskan arahan strategi yang efektif dalam pengembangan wisata tesebut kedepannya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pengembangan wisata Danau Sentani serta memberikan perumusan alternatif kebijakan yang perlu dilakukan dalam mengelola wisata tersebut sehingga dampak dan kontribusi wisata bagi masyarakat dapat ditingkatkan. Nilai ekonomi wisata Danau Sentani diperoleh dari pendugaan pengeluaran wisatawan. Dari pendekatan ini diperoleh nilai ekonomi total dari kegiatan wisata tersebut sebesar 1,50 milyar rupiah pertahun, rata-rata pengeluaran wisatawan untuk satu kali kunjungan sebesar 233.326 rupiah per orang. Sekitar 93.031 rupiah (39,8%) dari pengeluaran wisata tersebut terjadi di luar kawasan Danau. Pengeluaran wisatawan memberikan dampak langsung, tidak langsung, dan lanjutan bagi masyarakat lokal sekitar kawasan. Dampak tersebut diestimasi menggunakan Keynesian Multiplier. Hasil tersebut menunjukkan nilai local Income Multiplier di Danau Sentani adalah 0,93, nilai Ratio Income Multiplier Tipe I sebesar 1,32 dan nilai Ratio Income Multiplier Tipe II sebesar 1,37. Dengan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan dari wisata Danau Sentani mampu memberikan dampak ekonomi meskipun masih relatif kecil bagi masyarakat lokal sekitar kawasan. Desa-desa yang terdapat disekitar Danau Sentani merupakan desa dengan tingkat perkembangan wilayah yang rendah. Hal tersebut ditunjukkan dengan minimnya fasilitas pelayanan publik yang terdapat didesa tersebut. Hasil analisis skalogram menunjukkan bahwa 7 desa (24,13%) merupakan desa dengan tingkat pertumbuhan Hirarki I. Desa yang masuk kedalam Hirarki II sebanyak 4 (13,79%) dan Hirarki III sebanyak 18 (62,06%) dari keseluruhan desa yang ada disekitar Danau Sentani. Dua dari tujuh desa yang masuk dalam Hirarki I adalah desa yang terkait secara langsung dengan aktivitas wisata sekaligus merupakan desa yang menjadi pintu masuk utama lokasi wisata. Dua desa tersebut yaitu Desa Nolokla dan Desa Nendali. Kegiatan wisata yang tinggi memberikan dampak bagi perkembangan wilayah berupa peningkatan sarana pelayanan publik terutama pada fasilitas pelayanan jasa berupa restoran dan rumah makan. Dalam pelaksanaannya, pengembangan wisata Danau Sentani memerlukan kerjasama dari seluruh pihak terkait. Pengelolaan kedepannya memerlukan peranan yang lebih besar dari pemerintah daerah. Selain itu kegiatan wisata ini dikembangkan ke bentuk ekowisata dengan memprioritaskan penanganan pada aspek ekologi khususnya pengendalian kerusakan ekosistem kawasan

    Rantai Pasok dan Nilai Tambah Rumput Laut Olahan di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan

    No full text
    Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang potensial untuk dikembangkan karena didukung oleh kondisi alam Indonesia yang cocok untuk budidaya rumput laut. Volume ekspor rumput laut Indonesia tahun 2016 mencapai 188 298 ton dengan nilai sebesar US$ 161 801 974 (KKP 2016). Kabupaten Takalar merupakan salah satu daerah pengembangan komoditas rumput laut. Selama periode 2012-2016 terjadi peningkatan produksi setiap tahunnya di Kabupaten Takalar. Pengembangan daerah sentra komoditas sebaiknya tidak hanya fokus pada subsistem hulu yaitu peningkatan produksi tetapi sebaiknya ditunjang dengan suatu sistem rantai pasok yang efisien dan aktivitas yang dapat meningkatkan nilai tambah komoditi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai pasok dan nilai tambah rumput laut di Kabupaten Takalar. Kajian meliputi gambaran mengenai kondisi rantai pasok rumput laut di Kabupaten Takalar melalui pendekatan Food Supply Chain Network (FSCN) untuk mengetahui sejauh mana optimalisasi rantai pasok rumput laut Kabupaten Takalar dan upaya perbaikan yang dapat dilakukan. Kerangka Food Supply Chain Network (FSCN) menguraikan secara deskriptif aspek-aspek dalam FSCN rumput laut diantaranya adalah sasaran pemasaran, anggota yang terlibat dalam pemasaran, proses bisnis, manajemen, sumberdaya, dan terakhir mengukur kinerja pemasaran sehingga mampu memenuhi kepuasan konsumen dan seluruh anggota yang berperan dalam pemasaran rumput laut. Kinerja pemasaran diukur dengan pendekatan efisiensi pemasaran operasional yang diukur dengan marjin pemasaran, farmer’s share, dan rasio keuntungan dan biaya. Pada aspek nilai tambah dianalisis menggunakan metode Hayami. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Mei 2018 menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner secara langsung dengan responden sebanyak 100 orang nelayan rumput laut yang dipilih secara purposive sampling serta pedagang rumput laut sebanyak 43 orang dengan metode snowbal sampling. Hasil penelitian menggunakan kerangka FSCN menunjukkan bahwa secara umum rantai pasok rumput laut di Kabupaten Takalar sudah memiliki sasaran pasar dengan target yang jelas namun terdapat permasalahan dalam sasaran pengembangannya yaitu nelayan tidak ditunjang dengan pengetahuan mengenai kualitas rumput laut yang baik sehingga masih perlu adanya pengembangan peningkatan kualitas serta kuantitas rumput laut. Struktur hubungan antar lembaga pemasaran terdiri dari nelayan, pedagang pengumpul, pedang besar, eksportir, dan industri pengolahan. Hubungan antar pelaku pemasaran sudah terstruktur, namun belum terkelola dengan baik ditinjau dari proses bisnis yang belum terintegrasi jangka panjang. Penerapan manajemen pemasaran yang ditetapkan pada dasarmya telah berjalan dengan baik namun belum optimal, terlihat dari kesepakatan kontraktual antara lembaga pemasaran masih dalam bentuk informal yaitu hanya melalui lisan dan belum dalam kontrak tertulis. Sedangkan pada sumberdaya rantai pasok masih ditemukan kendala, tertama pada sumberdaya modal dan sumberdaya fisik. Kendala modal hampir dirasakan oleh semua nelayan rumput laut sehingga harus tergantung pada pedagang pengumpul desa. Selain itu, kendala fisik masih dihadapi beberapa nelayan yaitu tidak memiliki perahu dan juga tempat penjemuran yang berakibat pada kualitas hasil rumput lautnya. Pemasaran rumput laut di Kabupaten Takalar terdiri dari lima saluran. Jika dilihat dari marjin pemasaran, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya, maka saluran 4 relatif lebih efisien dibandingkan saluran lainnya dengan perolehan margin terendah dan farmer’s share tertinggi masing-masing sebesar 29.31 peren dan 70.69 persen dengan rasio keuntungan terhadap biaya tersebar merata yaitu total rasio keuntungan sebesar 5.50 persen. Hasil nilai tambah olahan rumput laut menunjukkan bahwa tepung karagenan memiliki rasio nilai tambah dan tingkat keuntungan lebih besar dibandingkan rumput laut kering yaitu sebesar Rp 13 335.22 dengan rasio yang tergolong tinggi sebesar 44 persen. Rekomendasi saran sebagai bahan pertimbangan dari hasil penelitian ini yaitu diperlukan adanya perbaikan pada rantai pasok rumput laut dengan cara pembentukan kelembagaan di tingkat pasca panen seperti koperasi yang dibentuk dari insiatif nelayan. Kelembagaan dapat berperan dalam melakukan pemantauan terhadap nilai dan standar mutu rumput laut, membantu dalam akses permodalan, melakukan koordinasi antar seluruh lembaga pada rantai dan menyampaikan informasi secara terbuka mengenai hal-hal yang terkait dengan pengembangan rumput laut. Selain itu, dalam rangka meningkatkan nilai tambah rumput laut, perlu upaya pemerintah untuk mengembangkan industri pengolahan rumput laut khususnya industri karagenan

    Pengelolaan Terpadu Ekowisata Mangrove di Kawasan Lindung Muara Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

    No full text
    Ekosistem mangrove kawasan lindung Muara Kubu memiliki fungsi yang sangat penting baik dari aspek ekologi maupun sosio-ekonomi. Keberadaan perkampungan masyarakat di dalam kawasan lindung dengan permasalahan kemiskinan dan masifnya pembukaan areal perkebunan kelapa sawit di sekitar kawasan lindung akan mengancam kelestarian ekosistem mangrove. Kemiskinan masyarakat akan mendorong pemanfaatan sumberdaya mangrove yang tidak terkendali dan cenderung merusak. Pengembangan ekowisata mangrove dapat menjadi strategi konservasi yang diharapkan dapat memberikan kemanfaatan sosial ekonomi bagi masyarakat, sekaligus dapat menjaga kelestarian ekosistem mangrove tersebut. Pengembangan dan pengelolaan ekowisata mangrove di kawasan lindung Muara tidak cukup hanya memetakan potensi dan menawarkan obyek daya tarik ekowisata yang ada, diperlukan sinergi antar lembaga yang terkait, dan model pengelolaan yang tepat. Metode yang telah digunakan dalam penelitian ini meliputi: penilaian kondisi dan potensi ekosistem mangrove; analisa kesesuaian lahan dan daya dukung ekowisata mangrove; rancangan pengembangan dan pengelolaan ekowisata dengan pendekatan model dinamik; dan analisa Interpretative Structural Modelling (ISM) kelembagaan. Sebaran tutupan vegetasi mangrove di kawasan studi seluas ± 2 869 ha dan sekurang-kurangnya terdapat 21 jenis mangrove sejati. Tipe hutan mangrove di kawasan studi berdasarkan kondisi hydro-geomorphology dikategorikan dalam tipe mangrove riverine yang berada di sepanjang sungai-sungai; dan tipe mangrove fringe yang berada di sepanjang pantai. Mangrove famili Rhizophoraceae seperti Rhizophora apiculata, R. mucronata dan Bruguiera gymnorrhiza dapat hidup dengan baik pada zona riverine maupun fringe. Species spesifik pada tipe riverine, di antaranya Excoecaria agallocha, Xylocarpus granatum dan X. moluccensis. Sedangkan spesies spesifik pada tipe fringe didominasi oleh kelompok mangrove perintis dengan sistem akar nafas pneumatophore, di antaranya Avicennia alba, Sonneratia alba, dan S. caseolaris. Hasil analisa kesesuaian lahan ekowisata mangrove, terdapat 1 332.98 ha kriteria sangat sesuai (S1), 2 284.99 ha kriteria sesuai (S2), dan 730.85 ha kriteria tidak sesuai (N). Adapun hasil perhitungan daya dukung kawasan ekowisata mangrove adalah 2 036 orang per hari untuk atraksi tracking mangrove, dan 1,019 orang per hari untuk atraksi cruising mangrove. Rancangan pengembangan dan pengelolaan ekowisata mangrove dibangun dengan mengunakan pendekatan model dinamik. Berdasarkan hasil simulasi model dinamik, kegiatan pengelolaan ekowisata (baik pada skenario pesimis, moderat dan optimis) memberikan dampak yang positif terhadap aspek ekologi (tutupan mangrove), aspek ekonomi (pendapatan masyarakat, pengelola dan pemerintah), dan aspek sosial (kunjungan wisatawan dan serapan tenaga kerja) jika dibandingkan dengan skenario aktual tanpa ekowisata. Skenario optimis merupakan skenario yang paling besar memberikan manfaat terhadap aspek ekologi, aspek ekonomi, dan aspek sosial yang selanjutnya secara berturut-turut diikuti skenario moderat dan pesimis. Skenario aktual tanpa ekowisata merupakan skenario yang paling tidak memberikan manfaat terhadap aspek ekologi, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Berdasarkan analisa ISM, maka terbangun model kelembagaan pengelolaan ekowisata mangrove. Lembaga/institusi kunci (key player) terdiri dari: KPH-KKR, Dinas Kehutanan Kalbar, Dinas Pariwisata KKR/Kalbar dan Pemerintah Desa Dabong. Institusi kunci ini berperan sebagai pengerak utama, yaitu mengerakkan institusi pelaksana teknis dan institusi pendukung dalam pengembangan dan pengelolaan ekowisata mangrove. Institusi pelaksana teknis merupakan pelaku bisnis ekowisata, terdiri dari: BUMDES Dabong yang berperan sebagai pengelola utama bisnis ekowisata di lokasi studi yang bekerjasama dengan masyarakat desa sebagai penyedia jasa atraksi wisata di lokasi, Asosiasi wisata sebagai penyedia paket perjalanan wisata, dan LPHD Dabong sebagai pengelola ekosistem mangrove di lokasi. Institusi Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Perhubungan, BPSPL, BKSDA, KLHK, Perguruan Tinggi, LSM dan Kepolisisan berperan sebagai institusi pendukung, baik untuk mendukung institusi key player maupun institusi pelaksana teknis

    Profil Stok Karbon di Area Ekosistem Mangrove Pulau Sangiang, Banten

    No full text
    Ekosistem mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) yang dapat membantu penurunan karbon dioksida antropogenik diudara yang dapat menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan mengkaji stok karbon organik pada sedimen dan biomassa mangrove di Pulau Sangiang, Banten. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 area yaitu area dekat darat dan area dekat laut yang keduanya masih termasuk mangrove alami serta area restorasi. Metode yang digunakan yaitu perhitungan alometrik spesifik di biomassa dan pengukuran karbon organik di sedimen. Hasil menunjukkan presentase biomassa di Below Ground Biomass (BGB) lebih besar (69.58%) dibandingkan dengan di Above Ground Biomass (AGB) (30.42%). Stok karbon organik yang terbesar berada di sedimen dengan presentasi sebesar 58.13 % dari total stok karbon secara keseluruhan, diikuti stok biomassa pada BGB sebesar 29.11 % dan terendah pada AGB sebesar 12.76%. Total stok karbon berkisar antara 4679.32-11389.6 MgC ha-1 dengan rata-rata sebesar 8222.35 MgC ha-1

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇