31665 research outputs found
Sort by
Batas Kritis Fosfor di Tanah untuk Cabai Merah Besar (Capsicum annum L.) di Pulau Jawa
Fosfor (P) merupakan hara makro yang dibutuhkan oleh cabai merah besar
dalam jumlah besar. Pemupukan P secara umum di kalangan petani kurang
memperhatikan status dan kebutuhan hara, sehingga pemberian pupuk P cenderung
berlebihan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar pemupukan P sesuai
dengan kebutuhan cabai merah besar ialah dengan melakukan uji tanah serta
menentukan batas kritis P di tanah. Penentuan batas kritis P di tanah dilakukan
dengan mengekstrak P tanah dari 19 lokasi yang tersebar di Pulau Jawa. Analisis
P tanah sebelum tanam dilakukan menggunakan 3 metode ekstraksi, yaitu: Bray I,
Olsen, dan Mehlich III. Setelah itu tanah ditimbang sebanyak 500 g berat kering
mutlak dan dimasukkan ke dalam polibag lalu ditanami cabai merah besar.
Pemupukan P dilakukan dengan pemberian larutan KH2PO4 sebanyak 0, ½ X, X,
dan 2X dimana X adalah dosis pupuk P anjuran dalam bentuk P2O5 sebanyak 110
kg/ha. Sebagai pupuk dasar juga diberikan pupuk Urea (46 % N), dan KCl (60 %
K2O) dengan dosis masing-masing 110 kg/ha dan 180 kg/ha. Pemupukan dilakukan
lima hari sebelum tanam. Untuk urea diberikan setengah dosis pada saat lima hari
sebelum tanam dan setengah dosis tiga minggu setelah tanam. Tanaman dipanen
biomasanya setelah berumur empat minggu setelah tanam. Selama masa
pertumbuhan, kadar air tanah dipertahankan dalam kondisi kapasitas lapang.
Pengaruh pupuk P terhadap parameter pertumbuhan dievaluasi menggunakan sidik
ragam dan batas kritis P tanah ditetapkan menggunakan metode Cate dan Nelson.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan P nyata secara statistik
meningkatkan tinggi tanaman, bobot basah tanaman, bobot kering tanaman dan
serapan P dibandingkan dengan tanpa pemupukan P. Koefisien korelasi antara
kandungan hara P tanah yang diekstrak menggunakan metode Bray 1, Olsen dan
Mehlich III dengan bobot kering tanaman berturut-turut adalah 0,639, 0,655, dan
0,646. Dari ketiga metode pengekstrak tersebut metode Olsen mempunyai korelasi
dengan bobot kering tanaman paling tinggi. Batas kritis kandungan P tanah untuk
mencapai 60% produksi relatif cabai merah besar di Pulau Jawa tersebut
berdasarkan metode Bray I, Olsen dan Mehlich III berturut-turut adalah 15 ppm, 40
ppm, dan 50 ppm
Faktor-faktor Makroekonomi yang Memengaruhi Non Performing Financing Sektor Industri Pengolahan pada Perbankan Syariah
Sektor industri pengolahan memiliki peran dalam mendorong perekonomian
di Indonesia. Dalam mengoptimalkan kinerja sektor industri pengolahan
dibutuhkan dukungan struktur modal dari perbankan syariah melalui pembiayaan.
Pembiayaan yang disalurkan rentan terhadap pembiayaan bermasalah yang
berpotensi mengguncang sektor keuangan khususnya perbankan, sehingga penting
untuk menganalisis resiko pembiayaan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis
faktor-faktor makroekonomi yang memengaruhi pembiayaan bermasalah yaitu
diproxikan dengan Non Performing Financing sektor industri pengolahan pada
perbankan syariah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Vector
Error Correction Model (VECM) dengan data bulanan Januari 2011 hingga
Desember 2018. Hasil analisis menunjukkan bahwa guncangan nilai tukar dollar,
BI Rate, dan imbal hasil SBIS berpengaruh positif dan permanen terhadap NPF
sektor industri pengolahan. Sedangkan guncangan tingkat margin sektor industri
pengolahan, inflasi, dan IPI berpengaruh negatif dan permanen terhadap NPF sektor
industri pengolahan
Konektivitas Ekonomi DAS Ciliwung terhadap Sumberdaya Perikanan Tangkap Teluk Jakarta
Konektivitas ekonomi DAS Ciliwung terhadap sumberdaya perikanan
tangkap Teluk Jakarta bertujuan untuk (1) Memetakan aktivitas ekonomi DAS
Ciliwung; (2) Menganalisis nilai ekonomi DAS Ciliwung; (3) Mengkaji nilai
ekonomi sumberdaya perikanan di Teluk Jakarta sebagai akibat dari aktivitas
ekonomi di DAS Ciliwung dan (4) Merumuskan konektivitas model ekonomi
DAS Ciliwung yang berimplikasi terhadap sumberdaya perikanan tangkap Teluk
Jakarta.
Metode yang digunakan adalah metode survei. Pendekatan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kuantitatif. Metode
pengambilan sampel menggunakan metode Multi-Stage Sampling. Jenis data
yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder.
Sumber data primer didapat dari stakeholder yang terkait dengan DAS Ciliwung
dan perairan Teluk Jakarta, baik secara individual maupun institusi. Metode
pengumpulan data primer dilakukan melalui pengamatan lapangan, wawancara,
diskusi dan kuesioner. Sumber data sekunder diperoleh dengan melakukan kajian
literatur dan studi pustaka yang relevan mengenai DAS Ciliwung dan sumberdaya
perikanan tangkap Teluk Jakarta.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis penggunaan
lahan, analisis valuasi ekonomi sumberdaya DAS, bioekonomi sumberdaya
perikanan tangkap dan analisis sistem dinamik. Analisis nilai ekonomi DAS
Ciliwung menggunakan Use Value dan Non Use Value. Pendekatan use value
menggunakan pendekatan nilai tambah produksi yaitu PDRB. Sedangkan Non-
Use Value keberadaan DAS Ciliwung menggunakan pendekatan CVM dengan
cara menghitung nilai WTP. Analisis bioekonomi perikanan tangkap Teluk
Jakarta menggunakan pendekatan bioekonomi. Analisis pemodelan ekonomi
spasial DAS Ciliwung terhadap sumberdaya perikanan tangkap Teluk Jakarta
menggunakan sistem dinamik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak
(software) ITHINK ® Ver. 6.01 dari High Performance System (2000).
Aktivitas perekonomian di DAS Ciliwung Hulu, Tengah dan Hilir
didominasi oleh sektor tersier. Aktivitas perekonomian di DAS Ciliwung
mencakup pertanian, penambangan pasar kali, industri pengolahan, listrik, gas, air
bersih dan konstruksi. Total nilai ekonomi DAS Ciliwung Hulu per tahun adalah
Rp13.119.812,00; Tengah Rp5.545.528,00 dan Hilir Rp1.118.310.546,00 .
Rerata depresiasi sumberdaya perikanan demersal per tahun di Teluk Jakarta
adalah Rp50.090.218,00 atau terjadi peningkatan kerusakan sebesar 98,3%.
Hasil analisis sistem dinamik menunjukkan bahwa konektivitas antar sub
sistem lingkungan, sosial dan ekonomi yang tergambar dalam pendapatan per
kapita penduduk di DAS Ciliwung Hulu pada tahun penelitian adalah
Rp23.000.000,00 per tahun, meningkat 113% pada tahun ke 30, DAS Ciliwung
Tengah Rp21.000.000,00 per tahun, meningkat 105%, DAS Ciliwung Hilir
Rp188.000.000,00 per tahun; meningkat 104%. Secara dinamik hasil tersebut
menunjukkan peningkatan pendapatan per kapita tertinggi pada DAS Ciliwung
Hulu. Artinya dengan kondisi lingkungan yang tidak tercemar dan petumbuhan
4
penduduk yang rendah, pendapatan perkapita sebagai salah satu indikator
kesejahteraan akan semakin baik. Pendapatan per kapita nelayan perikanan
demersal di Teluk Jakarta meningkat secara hiperbola, pada tahun penelitian
Rp17.000.000,00 per tahun, meningkat sampai tahun ke 9 dan 10 yaitu
Rp73.000.000,00, kemudian menurun hingga Rp31.000.000,00 pada tahun ke-30.
Konektivitas peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah Hulu, Tengah dan Hilir
berpengaruh terhadap keberlanjutan sumberdaya perikanan tangkap dan
pendapatan nelayan di Teluk Jakarta. Dengan demikian apabila kondisi
lingkungan dan sosial, DAS-Teluk Jakarta tetap terjaga seperti simulasi pada
tahun 9 dan 10, maka kondisi sumberdaya perikanan tangkap dan pendapatan
nelayan dalam kondisi yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian ini, agar aktivitas dan konektivitas ekonomi
regional DAS Ciliwung optimal, serta memberikan dampak negatif minimal
terhadap sustainabilitas sumberdaya perikanan tangkap Teluk Jakarta, maka
kebijakan pengelolaan angka pertumbuhan penduduk di Hulu, Tengah, Hilir perlu
dikendalikan dan konversi tutupan hutan primer di Hulu tidak lebih 30 %
Evaluasi Keragaan Agronomi dan Keragaman Genetik M2 Kacang Hijau Genotipe VR 10 Hasil Induksi Mutasi
Keragaman genetik yang luas mendukung kegiatan seleksi yang efektif
karena akan memberikan keleluasaan dalam proses pemilihan suatu
genotipe. Mutasi fisik berupa iradiasi sinar gamma untuk meningkatkan
keragaman genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan
karakter agronomi, keragaman, heritabilitas dan menyeleksi generasi M2
VR10. Penanaman dilakukan di Kebun Percobaan IPB Leuwikopo serta
pengamatan pasca panen di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Departemen
Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Areal penelitian
bertopografi datar dengan ketinggian 234 m dpl. Penelitian dilaksanakan
pada bulan Februari sampai Agustus 2018. Bahan tanam yang digunakan
adalah genotipe VR 10 generasi M2 hasil iradiasi sinar gama 880 Gy
sebanyak 480 benih dan M0 sebanyak 120 benih. Populasi M2 VR10
memiliki keragaan karakter tinggi tanaman berbunga, tinggi tanaman saat
panen polong pertama, tinggi tanaman saat panen terakhir, jumlah cabang
produktif, umur berbunga, umur panen polong pertama, lama hari panen,
bobot biji per polong, bobot biji total tanaman, bobot per polong, bobot
polong total tanaman, jumlah biji per polong, jumlah polong per tanaman
dan panjang polong yang berbeda sangat nyata dengan populasi tetuanya
(M0). Terdapat keragaman fenotipe karakter kualitatif populasi M2
terhadap semua karakter yang diamati kecuali warna bunga sebelum mekar,
kedudukan tandan bunga, dan warna polong sebelum masak yang tidak
berbeda dengan M0. Semua karakter rata-rata memiliki nilai heritabilitas
tergolong tinggi dengan nilai lebih dari 50%, kecuali karakter jumlah buku
batang utama, jumlah cabang produktif dan bobot biji total tanaman
Evaluasi Cita Rasa Seduhan Kopi Berbasis Near Infrared Spectroscopy (NIRS) sebagai Alternatif Cupping Test
Kopi sebagai salah satu komoditas unggulan di Indonesia telah banyak dikembangkan dengan berbagai tujuan dan cara penyajian yang meningkatkan nilai tambahnya. Penilaian kualitas kopi pada umumnya dilakukan melalui metode cupping dan pengujian kandungan kimia di laboratorium. Penggunaan Near Infrared Spectroscopy (NIRS) untuk memprediksi kandungan kimia kopi telah banyak dikembangkan sehingga NIRS dapat menjadi alternatif pada proses cupping karena nilai cupping kopi dipengaruhi oleh komposisi kimianya. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model regresi untuk memprediksi atribut skor cupping menggunakan NIRS. Penelitian ini menggunakan 8 sampel kopi bubuk roasted dari berbagai daerah di Indonesia yang diuji menggunakan NIR spectrometer portabel SCiO dan instrumen NIRFlex, lalu dinilai cita rasanya melalui cupping test dengan mengikuti standar protokol dari Specialty Coffee Association of America (SCAA). Analisis data spektrum dilakukan dengan metode Principal Component Analysis (PCA) dan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan model regresi yang didapatkan dengan SCiO tergolong model prediksi kasar (RPD ≥ 1.50), sedangkan pada NIRFlex tergolong sebagai model yang sangat baik (RPD ≥ 3.00)
Komunitas burung pada beberapa ketinggian di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak
Burung merupakan satwa yang memiliki peran untuk menjaga kesehatan
lingkungan dengan melakukan pengendalian hama, penyebaran biji dan
penyerbukan tanaman. Kumpulan individu dari berbagai jenis burung yang berada
di suatu habitat dalam waktu dan ruang yang sama disebut dengan komunitas
burung. Pola komunitas burung dapat berbeda pada setiap habitat karena adanya
faktor lingkungan pada masing-masing habitat. Perubahan lingkungan juga
mempengaruhi kesehatan dan kondisi tubuh burung. Gradien ketinggian berupa
wilayah pegunungan merupakan habitat yang memiliki perubahan lingkungan
dengan rentang jarak yang minim. Taman Nasional Gunung Halimun Salak
(TNGHS) merupakan kawasan konservasi yang memiliki topografi pegunungan.
Penelitian ini bertujuan menganalisis komunitas burung meliputi keanekaragaman
jenis, kekayaan jenis, kesamaan jenis dan guild pada tujuh ketinggian,
membandingkan bobot tubuh burung dan keberadaan salah lintang pada burung
pada ketinggian 900 m dpl dan 1700 m dpl di TNGHS, serta mengidentifikasi
hubungan antara jumlah jenis burung pada berbagai ketinggian dengan jumlah jenis
tumbuhan, tutupan tajuk (LAI), suhu, dan intensitas cahaya.
Penelitian ini dilaksanakan di Resort Gunung Koneng, Cimantaja, Gunung
Kencana dan Cikaniki, TNGHS pada bulan September-Oktober 2017 dan Februari
2018. Pengambilan data dilakukan dengan titik hitung (21 titik hitung pada tujuh
ketinggian) dan metode jala kabut (total 5728.53 jam jala). Data burung dianalisis
menggunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener, uji-t
keanekaragaman, indeks kekayaan jenis Margalef, dan indeks kesamaan komunitas
Bray-Curtis. Jenis burung yang teramati dan tertangkap kemudian dikelompokkan
kedalam guild berdasarkan jenis pakan utama yaitu karnivora, frugivora, omnivora,
granivora, insektivora terestrial/arboreal dan insektivora aerial. Jenis burung yang
tertangkap dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney. Data habitat dianalisis
menggunakan perhitungan dominansi jenis dan profil vegetasi. Data burung dan
faktor lingkungan selanjutnya dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman.
Penelitian mendapatkan 90 jenis burung dari 31 suku yang teramati dan
tertangkap. Keanekaragaman jenis burung bervariasi di setiap ketinggian
(2.22<H’<3.05). Keanekaragaman dan kekayaan jenis burung tertinggi berada pada
ketinggian 1100 m dpl (H’=3.05, DMg=6.62). Keanekaragaman dan kekayaan jenis
burung yang tinggi pada ketinggian 1100 m.dpl mengindikasikan bahwa habitat
pada ketinggian tersebut memiliki ketersediaan sumberdaya yang melimpah untuk
mendukung kehidupan burung. Keanekaragaman dan kekayaan jenis burung lebih
rendah pada ketinggian yang rendah. Hal ini karena adanya gangguan habitat pada
ketinggian yang lebih rendah. Uji-t keanekaragaman menunjukkan adanya
perbedaan keanekaragaman antar 13 pasang ketinggian (t>1.96, P<0.05). Hal ini
membuktikan bahwa kondisi habitat berbeda pada 13 pasang ketinggian tersebut.
Kesamaan komunitas burung tertinggi yakni antara ketinggian 500 m dan 700 m
dpl (IS=52%).
Enam tipe guild ditemukan pada tujuh ketinggian. Guild yang dominan yaitu
insektivora terestrial/arboreal. Tipe guild insektivora terestrial/arboreal yang
dominan menunjukkan bahwa kondisi habitat pada setiap ketinggian memiliki
sumberdaya pakan berupa serangga yang melimpah. Uji Mann-Whitney mendapati
bahwa tidak ada perbedaan antara bobot tubuh burung (z=-1.74, P>0.05) dan
jumlah salah lintang (z=-1.62, P>0.05) antara ketinggian 900 m dan 700 m dpl.
Namun demikian, bobot tubuh burung pada kelompok burung sangat kecil lebih
besar dan jumlah salah lintang lebih sedikit pada ketinggian 900 m dpl. Pada
ketinggian 1700 m dpl rata-rata bobot tubuh lebih kecil dan jumlah salah lintang
lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi kesehatan tubuh burung lebih
baik pada ketinggian 900 m dpl. Uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa hanya
suhu yang berkorelasi terhadap jumlah jenis burung, sedangkan jumlah jenis
tumbuhan, tutupan tajuk (LAI), suhu dan intensitas cahaya tidak. Jumlah jenis
burung memiliki korelasi negatif yang bermakna jumlah jenis burung akan
meningkat seiring dengan menurunnya suhu.
Hasil penelitian mendapatkan adanya indikasi perubahan tren yakni jumlah
jenis burung meningkat seiring dengan bertambahnya ketinggian. Oleh karena itu
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan adanya indikasi
perubahan tren tersebut. Selain itu, perlu dilakukan pengamanan yang lebih intensif
pada habitat hutan di ketinggian yang lebih rendah. Hal ini karena habitat hutan di
ketinggian yang lebih rendah memiliki gangguan habitat yang lebih intensi
Inokulasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Pupuk Rock Phosphate pada Sengon Merah (Albizia chinensis (Osbeck) Merr.) di Media Tanah Pascatambang
Penambangan dengan cara terbuka (open mining) di PT Holcim Indonesia Tbk. dapat mengakibatkan berkurangnya kesuburan tanah, pH tanah rendah, kerusakan struktur tanah dan paparan logam berat seperti Fe, Al, dan Mn yang dapat membatasi pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas FMA dan pupuk rock phosphate untuk meningkatkan pertumbuhan A. chinensis pada media tanah pascatambang dan menganalisis dosis yang sesuai untuk meningkatkan pertumbuhan bibit A. chinensis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan petak terbagi (split plot design) yang terdiri atas dua faktor perlakuan yaitu FMA dan pupuk rock phosphate. Petak utama yaitu FMA terdiri dari tiga taraf yaitu tanpa FMA, FMA dari perkebunan karet pada lanskap Hutan Harapan dan FMA dari perkebunan karet pada lanskap Bukit Dua Belas, Jambi. Pemberian pupuk rock phosphate (anak petak) terdiri dari 3 taraf (0 g; 2 g; dan 5 g). Interaksi FMA dan pupuk rock phosphate pada A. chinensis hanya berpengaruh nyata pada kolonisasi akar. Efektivitas FMA indigenous pada lanskap Hutan Harapan dan Bukit Dua Belas, Jambi tidak memiliki perbedaan yang nyata dalam meningkatkan pertumbuhan A. chinensis
Mutu Minyak Daun Cengkeh dan Minyak Sereh Wangi sebagai Bioaditif Bahan Bakar Solar
Bioaditif bahan bakar solar berbasis minyak atsiri merupakan bahan yang ditambahkan pada bahan bakar agar terbakar sempurna. Komponen oksigen yang terkandung di dalam struktur kimia minyak atsiri serta sifat minyak atsiri yang dapat larut dalam bahan bakar solar diharapkan dapat menyempurnakan sistem pembakaran di dalam mesin yang bertujuan untuk menghemat penggunaan bahan bakar. Indonesia merupakan salah satu negara penghasil utama beberapa jenis minyak atsiri. Minyak atsiri yang digunakan pada penelitian ini adalah minyak daun cengkeh dan minyak sereh wangi, serta eugenol, kariofilen, sitronellal dan rhodinol yang diisolasi dari kedua minyak atsiri tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji komposisi senyawa yang dikandung minyak atsiri daun cengkeh dan sereh wangi dan mengkaji peranan dari komposisi minyak atsiri tersebut dalam menurunkan laju konsumsi bahan bakar solar dan emisi yang dihasilkan.
Metode penelitian terdiri dari persiapan bahan baku bioaditif, pencampuran minyak atsiri ke bahan bakar solar, dan pengujian ke mesin diesel. Berdasarkan pengukuran densitas solar ditambahkan bioaditif yaitu densitas 844-856 kg/m3, pengukuran viskositas menghasilkan viskositas sampel uji 2.44-2.66 mm2/s. Hasil dari pengujian nilai kalor menunjukkan bahwa penggunaan eugenol sebagai bioaditif bahan bakar solar meningkatkan nilai kalor 10% dan Sitronellal meningkatkan nilai kalor solar sebanyak 17%. Hasil terbaik yang diperoleh dari pengujian konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) yaitu penambahann eugenol pada bahan bakar solar menurunkan konsumsi 29% dan penambahan sitronellal menurunkan konsumsi sebesar 36%. Uji emisi gas buang memberikan hasil yang baik, yaitu dengan berkurangnya konsentrasi gas CO, NO, SO dan total partikulat pada gas buang hasil pembakaran bahan bakar solar pada kisaran 20-38%
Fortifikasi Beras dengan Gac Aril (Momordica conchinchinensis) menggunakan Teknik Vakum Impregnasi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan sifat fungsional beras
dengan fortifikasi gac aril menggunakan vacuum impregnation (VI) dengan
melihat pengaruh dari varietas padi dan metode preparasi beras serta kondisi VI
pada kualitas beras yang difortifikasi dengan gac aril. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kedua varietas beras yang tidak disosoh memiliki tingkat
kekerasan yang lebih tinggi dan warna yang lebih gelap (nilai L* lebih rendah)
dibandingkan sampel yang disosoh. Unpolished Sao Hai (SH) yang diimpregnasi
dengan gac aril menunjukkan kadar β-karoten (22,10 mg/g), likopen (8,38 μg/g),
dan TPC (0,24 mg GAE/g) tertinggi, sementara aktivitas antioksidan semua
sampel yang diimpregnasi gac aril tidak berbeda nyata (p>0,05) (nilai DPPH
berkisar 1,39-1,72 mmol TE/g) dan lebih tinggi dari kontrol. Namun, evaluasi
sensori menunjukkan bahwa Khaw Dok Mali 105 (KDML 105) yang
diimpregnasi dengan gac aril memiliki skor tertinggi dari penerimaan keseluruhan.
Berdasarkan karakteristik secara keseluruhan, unpolished KDML 105 dipilih
untuk mempelajari kondisi VI yang sesuai pada langkah selanjutnya. Unpolished
KDML 105 direndam dalam larutan gac aril 30% di bawah tekanan vakum (0, 300
dan 500 mmHg) dan teknik tekanan (single pressure dan pulse pressure) yang
berbeda. Berdasarkan analisis sampel kering, tekanan vakum pada 500 mmHg
dengan pulse pressure memberikan kadar β-karoten (41,41 mg/g), likopen (25,07
μg/g), TPC (0,21 mg GAE/g) dan nilai DPPH (2,91 mmol TE/g) tertinggi,
sedangkan hasil analisis physical, texture dan sensory menunjukkan hasil yang
tidak berbeda nyata (p>95%). Selain itu, indeks glikemik (GI) beras setelah proses
VI menurun dari 84,24 menjadi 72,04. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan nonpolishing,
high vacuum pressure, dan pulse pressure merupakan kondisi yang
paling sesuai untuk mempersiapkan beras dengan fortifikasi gac aril. Manfaat
kesehatan dari beras ditingkatkan dengan aktivitas antioksidan yang tinggi dan GI
yang lebih rendah
Evaluasi Pertumbuhan dan Daya Hasil Sepuluh Calon Varietas Tanaman Iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume).
Iles-iles adalah tanaman asli Indonesia yang sudah mulai dikembangkan. Iles-iles terdapat kandungan glukomanan pada umbinya. Kandungan glukomanan inilah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi pada tanaman ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan daya hasil dari beberapa aksesi tanaman iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) sehingga diperoleh minimal satu aksesi yang terbaik yang nantinya dijadikan sebagai calon klon unggul. Penelitian dilaksanakan bulan Juni 2018 sampai Mei 2019 di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat dan di Laboratorium Ekofisiologi Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dengan faktor tunggal yaitu 10 aksesi tanaman iles-iles. Aksesi yang digunakan diantaramya adalah aksesi BKP, CF, CR, LSP, SB, SBM, SG-BKK, SGH, SR, dan STS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter vegetatif pada semua aksesi berbeda nyata, kecuali peubah jumlah bulbil. Karakter generatif pada semua aksesi menunjukkan tidak berbeda nyata, kecuali peubah diameter cone, diameter zona jantan, dan diameter zona betina. Karakter hasil pada semua aksesi juga menunjukkan berbeda nyata, kecuali peubah diameter umbi, rasio diameter umbi, dan persentase bobot kering. Aksesi CR, SBM, STS, SGH, dan LSP memiliki potensi hasil paling tinggi yaitu 77 ton ha1, 65 ton ha1, 53 ton ha1, 48 ton ha1, dan 47 ton ha1. Dengan demikian, aksesi CR, SBM, STS, SGH, dan LSP yang diuji dapat diuji lebih lanjut untuk dilepas sebagai genetik baru iles-iles