Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University Repository
Not a member yet
    31665 research outputs found

    Pengaruh Ukuran Partikel Bubuk Lada Putih Terhadap Rendemen dan Mutu Oleoresin Hasil Ekstraksi Menggunakan Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE)

    No full text
    Lada putih (Piper nigrum L.) adalah produk rempah bernilai ekonomi yang cukup tinggi. Salah satu kelebihan rempah ini adalah rasa dan aroma pedas yang khas. Saat ini lada di Indonesia masih dipasarkan dalam bentuk konvensional, yaitu dalam bentuk bubuk. Salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah lada adalah dengan membuat oleoresin lada. Proses ekstraksi oleoresin biasa dilakukan dengan cara maserasi yang membutuhkan waktu yang lama dan jumlah pelarut yang banyak. Dalam dekade terakhir beberapa teknik ekstraksi alternatif dilakukan untuk mengatasi keterbatasan ini, termasuk ekstraksi berbantuan ultrasonik (UAE). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh ukuran partikel bubuk lada putih terhadap hasil dan kualitas oleoresin yang diproduksi menggunakan UAE. Penelitian ini menggunakan lada putih (umur panen 8 bulan setelah pembungaan) yang berasal dari Bangka Belitung dan Sulawesi Selatan. Lada putih dikeringan dengan mesin cabinet dryer hingga kadar air kurang dari 10 %. Setelah dikeringkan, lada putih digiling dengan mesin disk mill untuk menghasilkan bubuk lada putih, kemudian diayak menggunakan ayakan dengan ukuran 30, 60 dan 100 mesh. Kadar piperin dan lemak bubuk lada putih diukur pada ukuran partikel 100 mesh. Bubuk lada putih ditimbang sebanyak 200 gram dan dimasukkan ke dalam gelas beker yang berisi pelarut etanol 96 % sebanyak 800 mL kemudian dilakukan ekstraksi UAE (75 menit dan amplitudo 90 %) dan ekstraksi maserasi (7 jam). Rendemen dan mutu (piperin dan warna) oleoresin lada putih yang dihasilkan kemudian diukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel berpengaruh signifikan terhadap rendemen dan mutu (piperin) oleoresin. Hasil pengujian hipotesis perbedaan nilai tengah (rataan) rendemen antara ultrasonik dan maserasi menunjukkan bahwa nilai rendemen ekstraksi ultrasonik dan maserasi tidak berbeda nyata pada selang kepercayaan 95 % namun waktu yang digunakan ekstraksi ultrasonik lebih singkat (75 menit) dibandingkan ekstraksi maserasi (7 jam). Hasil pengujian hipotesis perbedaan nilai tengah (rataan) piperin antara ultrasonik dan maserasi menunjukkan bahwa nilai piperin ekstraksi ultrasonik dan maserasi berbeda nyata pada selang kepercayaan 95%. Nilai rataan piperin yang dihasilkan oleh ekstraksi ultrasonik lebih besar (9.71 %) dibandingkan dengan ekstraksi maserasi (5.55 %). Warna oleoresin lada putih yang dihasilkan dari ekstraksi ultrasonik dan maserasi dari dua asal bahan baku yang berbeda adalah sama, yaitu merahkekuningan dengan bentuk pasta cair

    Karakteristik Kayu Jati Cepat Tumbuh Termodifikasi Termal

    No full text
    Pasokan kayu jati rotasi panjang terus menurun dari tahun ke tahun. Jati cepat tumbuh merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan pasokan kayu jati rotasi panjang. Jati cepat tumbuh memiliki keunggulan yaitu memiliki siklus tebang yang pendek, sedikit cabang, serta memiliki batang yang lurus dan silindris. Akan tetapi, kayu jati cepat tumbuh ini memiliki banyak kelemahan yaitu memiliki kerapatan dan keawetan yang rendah, serta proporsi kayu juvenil yang tinggi. Tingginya proporsi kayu juvenil ini akan memberikan dampak yang negatif bagi produksi, sifat kayu, dan nilai produk. Salah satu teknologi untuk meningkatkan kualitas kayu jati cepat tumbuh adalah modifikasi kayu berupa modifikasi termal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh perlakuan modifikasi termal (suhu 180, 200, dan 220 ℃) terhadap komponen kimia, sifat fisis, mekanis, keawetan, dan karakteristik permukaan kayu jati cepat tumbuh berumur 8 tahun. Kayu diberi perlakuan termal pada suhu 180, 200, dan 220 ℃ selama 2 jam. Parameter yang diteliti adalah komponen kimia (holoselulosa, hemiselulosa, ���������-selulosa, dan lignin klason), kandungan ekstraktif, kadar air, kerapatan, kehilangan berat, anti swelling efficiency, water uptake, perubahan warna, modulus of elasticity (MOE), modulus of rupture (MOR), kekerasan, keawetan, kekasaran permukaan, surface free energy (SFE), keterbasahan, dan daya lekat cat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan termal pada kayu jati cepat tumbuh mengakibatkan terjadinya degradasi hemiselulosa, peningkatan kadar ���������-selulosa, dan lignin klason sehingga dapat mempengaruhi sifat-sifat kayu jati termodifikasi termal. Perlakuan termal berpengaruh terhadap perubahan komponen ekstraktif dan turunnya nilai kadar air. Namun perlakuan ini, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai kerapatan. Kehilangan berat meningkat seiring dengan meningkatnya suhu pemanasan. Perlakuan termal dapat meningkatkan stabilitas dimensi kayu jati cepat tumbuh dan merubah warna kayu jati cepat tumbuh menjadi semakin gelap. Perlakuan termal dapat pula menurunkan sifat mekanis kayu. Modifikasi termal lebih dapat meningkatkan ketahanan terhadap serangan jamur dibandingkan dengan serangan rayap. Modifikasi termal berpengaruh terhadap karakteristik permukaan. Nilai kekasaran permukaan dan SFE semakin menurun seiring bertambahnya suhu pemanasan, sehingga menyebabkan menurunnya nilai keterbasahan. Nilai keterbasahan cat alkid lebih tinggi dibandingkan dengan cat akrilik. Semakin tinggi suhu pemanasan, maka dapat menurunkan kualitas daya lekat cat. Daya lekat cat alkid memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan daya lekat cat akrilik. Jati cepat tumbuh termodifikasi termal dapat dipertimbangkan untuk penggunaan eksterior

    Pemodelan Kalibrasi Alat Non-Invasive Glukosa dalam Darah dengan Pendekatan Regresi Spline

    No full text
    Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang dianggap serius belakangan ini. Penyakit ini disebabkan karena gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang dihasilkan dari ketidaknormalan sekresi insulin. Penderita diabetes perlu melakukan pengendalian kadar glukosa darah. Salah satu bentuk pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan mengukur kadar glukosa darah secara rutin. Pengecekan kadar glukosa dalam darah biasanya dilakukan dengan glukometer, yaitu alat pengukur kadar glukosa darah yang dapat melukai tubuh yang dikenal dengan alat invasive. Penggunaan alat invasive akan sangat membahayakan pasien, sehingga diperlukan solusi alat pengukur kadar glukosa darah yang aman bagi tubuh dan tanpa melukai tubuh, yaitu alat pengukur kadar glukosa darah non–invasive. Alat pengukur kadar glukosa darah non-invasive memiliki keluaran berupa spektrum nilai residu intensitas. Pada pemodelan spektrum residu intensitas diperlukan suatu metode yang dapat digunakan untuk memodelkan keluaran nilai residu intensitas. Bentuk pola data yang tidak beraturan mengakibatkan pemilihan metode parametrik tidak tepat untuk digunakan sehingga dilakukan dengan metode nonparametrik. Regresi Spline merupakan salah satu metode nonparametrik dengan proses kerja melakukan pengepasan kurva regresi berdasarkan data yang ada sehingga model akan memberikan fleksibilitas yang lebih tinggi. Model yang terbaik akan dilihat dari nilai Generalized Cross Validation (GCV) dan Root Mean Square Error Prediction (RMSEP) terkecil. Tujuan dari penelitian ini adalah memodelkan hubungan antara keluaran alat non-invasive dengan alat invasive dengan Regresi Spline Linier, Regresi Spline Kuadratik, dan Regresi Spline Kubik untuk menemukan model terbaik dalam pendugaan kadar glukosa dalam darah pada alat non-invasive. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dari data Pengembangan dan Uji Klinis Purwarupa Alat Pemantauan Kadar Glukosa Darah non-invasive. Data ini dikumpulkan dari 118 responden yang merupakan mahasiswa Institut Pertanian Bogor. Prapemrosesan data dilakukan sebelum data dianalisis. Data yang digunakan merupakan data nilai residu intensitas pada saat lampu dan sensor hidup secara bersamaan pada lima periode yang telah ditentukan. Setelah pemilihan data pada kondisi tersebut, selanjutnya data diringkas, yaitu mengambil data yang merupakan data kedua awal, data tengah, dan data kedua akhir pada setiap modulasi. Peringkasan dilakukan karena jumlah data antar modulasi tidak sama. Setelah data diringkas, selanjutnya dilakukan pemilihan modulasi terbaik. Modulasi akan menggambarkan tingkat pencahayaan pada lampu. Modulasi terbaik dalam penelitian ini adalah modulasi 50%. Hal ini dikarenakan modulasi 50% memiliki nilai rata-rata dan standar deviasi terkecil dibanding dengan modulasi lainnya, selanjutnya dengan menggunakan data modulasi 50%, data dilanjutkan ke tahap analisis. Data dianalisis dengan menggunakan metode Regresi Spline Linier, Regresi Spline Kuadratik, dan Regresi Spline Kubik. Regresi Spline Linier merupakan metode terbaik dibandingkan metode Spline lainnya. Hal ini karena Regresi Spline Linier memiliki nilai Generalized Cross Validation (GCV) dan Root Mean Square of Prediction (RMSEP) terkecil. Tiga metode Regresi spline diterapkan pada tiga jenis data yang berbeda, yaitu dengan penggunaan seluruh data, penggunaan 117 data (menghapus satu data pencilan), serta penggunaan 106 data (menghapus 12 data pencilan). Penerapan metode Regresi Spline Linear pada 106 data merupakan perlakuan yang terbaik

    Keasaman dan Kapasitas Penyangga Enam Jenis Bambu

    No full text
    Bambu memiliki prospek yang baik digunakan untuk bahan baku komposit seperti papan partikel, kayu lapis, dan Oriented Strand Board (OSB). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keasaman kayu berpengaruh terhadap proses perekatan kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur nilai pH dan kapasitas penyangga bambu jenis andong (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steudel) Widjaja), betung (Dendrocalamus asper), hitam (Gigantochloa nigrocillata Kurz.), ampel (Bambusa vulgaris(var. Striata)),kuning (Bambusa vulgaris (Schrad.)), dan bambu tali (G. apus (Bl.ex Schult.f.)) berdasarkan berbagai posisi dalam batang. Penentuan nilai kapasitas penyangga ini mengacu pada metode yang dilakukan oleh Adamopoulus et al (2005). Hasil penelitian menunjukkan pH kayu termasuk dalam kategori asam (<7) dan. Bambu di bagian pangkal memiliki derajat keasaman lebih tinggi dibandingkan dengan bagian tengah dan ujung. Peningkatan nilai kapasitas asam dan peningkatan nilai pH dapat berpengaruh terhadap proses perekatan pada pembuatan produk papan komposit

    Analisis Risiko Produksi Ayam Broiler pada Peternakan Bapak Nanang di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.

    No full text
    Suatu usaha dapat dikatakan menghadapi risiko produksi apabila mengalami fluktuasi produksi. Peternakan Bapak Nanang merupakan salah satu peternakan ayam broiler yang mengalami fluktuasi produksi dan hal tersebut mengindikasikan adanya risiko produksi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sumber-sumber risiko produksi ayam broiler, mengetahui probabilitas dari masing-masing sumber risiko produksi dengan metode z-score, menganalisis dampak yang ditimbulkan dari masing-masing sumber risiko produksi dengan metode Value at Risk (VaR) dan merumuskan alternatif strategi sumber-sumber risiko produksi pada peternakan ayam broiler milik Bapak Nanang. Sumber risiko yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah penyakit, hama predator, kondisi cuaca, dan kepadatan ruang. Hasil pemetaan risiko menunjukkan bahwa terdapat dua jenis strategi manajemen risiko yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Sumber risiko yang sebaiknya diutamakan dalam melakukan manajemen risiko adalah sumber risiko penyakit, karena penyakit memiliki kemungkinan dam dampak yang paling tinggi diantara sumber-sumber risiko yang lain

    Gambaran Mikroskopis Ovarium Hamster Campbell (Phodopus campbelli) Pasca Stimulasi Hormon pada Siklus Estrus yang Berbeda

    No full text
    Pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan human chorionic gonadotropin (hCG) merupakan hormon yang biasa digunakan untuk program stimulasi. Hormon ini dapat digunakan untuk menstimulasi perkembangan folikel ovarium agar jumlah oosit yang diovulasikan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui siklus estrus dan melihat gambaran mikroskopis ovarium hamster campbell pasca stimulasi hormon pada siklus estrus yang berbeda berdasarkan perhitungan jumlah folikel dan corpus luteum. Pemeriksaan panjang fase siklus estrus dilakukan selama 7 hari setiap 6 jam dengan metode ulas vagina dan bilas vagina kemudian dilakukan pewarnaan menggunakan giemsa dan diamati dibawah mikroskop. Evaluasi jaringan ovarium dilakukan pada tiga kelompok hamster yang diberi perlakuan stimulasi hormon, yaitu hamster kelompok metestrus, hamster kelompok diestrus, dan hamster kelompok proestrus. Sampel jaringan ovarium selanjutnya diproses dengan teknik histologi dan pewarnaan hematoksilin eosin (HE) kemudian diamati di bawah mikroskop untuk dihitung jumlah folikel primer, sekunder, tersier, de Graff, dan corpus luteum. Hasil penelitian menunjukkan panjang fase siklus estrus yang diperiksa dengan metode ulas vagina dan bilas vagina tidak menunjukkan perbedaan hasil, selain itu fase diestrus memiliki durasi paling lama dibandingkan fase lainnya. Hasil perhitungan terhadap jumlah folikel dan corpus luteum menunjukkan ratarata paling tinggi adalah hamster kelompok proestrus, sedangkan kelompok metestrus dan diestrus hasilnya relatif sama. Hal tersebut menunjukkan bahwa program stimulasi hormon PMSG dan hCG paling baik dilakukan pada hamster kelompok proestrus

    Analisis Ekonomi dan Jasa Lingkungan Ekowisata DAS Ciliwung (Studi Kasus: Komunitas Ciliwung Depok, Pancoran Mas, Depok).

    No full text
    Sungai Ciliwung merupakan salah satu sumber daya air yang kondisinya tercemar berat dengan estimasi beban pencemar per hari sebesar 182.128,42 kg (BPS 2018). Daerah sempadan sungai sering kali dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah serta bangunan ilegal. Komunitas Ciliwung Depok (KCD) melakukan inisasi penataan sempadan Sungai Ciliwung dan menjadikannya sebagai sarana wisata edukasi, konservasi dan rekreasi air. Keberadaan KCD belum memiliki profesionalitas seperti wisata pada umumnya, tidak ada tarif tiket masuk, pengelolaan yang bersifat relawan, dan penetapan tarif wahana air yang rendah. Hal ini dapat menjadi ancaman keberlanjutan dari ekowisata KCD. Tujuan dari penelitian adalah: (1) mengidentifikasi persepsi pengunjung terhadap keberadaan ekowisata KCD; (2) mengestimasi kelayakan ekonomi ekowisata KCD; (3) merekomendasikan strategi pengelolaan ekowisata KCD. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan Convinience Sampling dan Purposive Sampling. Metode analisis data diantaranya: Skala Likert, Contingen Valuation Method, Analisis Biaya dan Manfaat, dan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa responden pengunjung setuju bahwa ekowisata KCD memiliki aspek-aspek pengembangan wisata dilihat dari potensi pasar, sarana prasarana, aksesibilitas dan daya tarik. Hasil analisis biaya dan manfaat menyatakan bahwa ekowisata KCD layak secara ekonomi untuk dijalankan berdasarkan kriteria NPV, Net B/C, dan IRR. Rekomendasi strategi pengelolaan yang menjadi prioritas yaitu konservasi SDAL dengan alternatif pemberdayaan masyarakat

    Pengaruh Penjarangan dan Lokasi terhadap Pertumbuhan Tegakan Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb.) di PT. Lestari Mahaputra Buana Padalarang, Kabupaten Bandung Barat

    No full text
    Jabon (Anthocephalus cadamba) merupakan jenis alternatif pengganti jelutung dan pulai yang ketersediaannya semakin berkurang sebagai bahan baku dalam pembuatan pensil. Tujuan penelitian adalah pengaruh penjarangan dan lokasi terhadap petumbuhan tegakan jabon diberbagai lokasi di PT. Lestari Mahaputra Buana Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Lokasi penelitian berada di ketinggian 347 – 405 mdpl dan suhu rata-rata 31.35 oC. Hasil pengamatan tentang sifat fisik tanah adalah struktur tanahnya berbentuk gumpal bersudut, tekstur tanahnya lempung liat berdebu (silty clay loam), bulk density berkisar 1.18 – 1.28 g/cc, kadar air tanah berkisar 24.62 – 28.94, dan permeabilitas tanah berkisar 0.64 – 0.82 cm/jam. Perlakuan penjarangan berpengaruh nyata (taraf 95%) pada peubah diameter setelah 2 bulan (0.58 cm) dan setelah 4 bulan (0.66 cm). Faktor lokasi dan interaksi (perlakuan dan lokasi) tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tegakan jabon disemua peubah (tinggi total, tinggi bebas cabang dan diameter)

    Aktivitas Harian Troides helena dan Pemanfaatannya sebagai Objek Wisata di Alian Butterfly Park Kebumen

    No full text
    Alian Butterfly Park adalah taman kupu-kupu yang berada di Kebumen, Jawa Tengah, yang diresmikan pada Juli 2015. Taman Kupu-kupu telah berhasil membudidayakan berbagai jenis kupu-kupu, salah satunya yaitu Troides helena. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji aktivitas harian Troides helena, pemanfaatan souvenir kupu-kupu, serta karakteristik dan persepsi pengunjung di Alian Butterfly Park sebagai objek wisata. Manfaat penelitian ini untuk mengembangkan penangkaran kupu-kupu di Indonesia. Aktivitas harian Troides helena terdiri dari: hinggap (87%), terbang (11%), interaksi (2%), dan nectaring (1%). Aktivitas nectaring dan hinggap menunjukkan perbedaan waktu nyata antara jantan dan betina. Produk souvenir kupu-kupu yang dijual di Alian Butterfly Park terdiri dari gantungan kunci, pigura dan diorama. Jumlah dan model souvenir yang ada berdasarkan ketersediaan bahan baku. Motivasi kunjungan utama pengunjung yang datang karena tujuan rekreasi (47%). Media informasi yang dipandang paling efektif oleh mayoritas pengunjung yang datang adalah kategori keluarga/teman/saudara (31%). Saran penulis kepada pengelola adalah membuat media interpretasi, membuat program pariwisata, dan memfasilitasi media online

    Peran dan Sinergi POPT-PHP dalam Keberhasilan Penerapan PHT di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan.

    No full text
    Implementasi PHT (Pengendalian Hama Terpadu) di lapangan telah menyimpang dari undang-undang karena kurangnya pendidikan bagi petani. POPTPHP berpotensi menjadi aktor penggerak penerapan PHT dengan melakukan inisiatif di luar tugas pokok dan bersinergi dengan para pemangku kepentingan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati penerapan PHT, mengamati peran dan inisiatif POPT-PHP dalam mewujudkan implementasi PHT, dan mengidentifikasi dan menganalisis tokoh kunci dalam keberhasilan penerapan PHT. Penelitian dilakukan di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan dengan metode praktik kerja POPT-PHP, analisis pemangku kepentingan, dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa POPT-PHP mengambil inisiatif dalam bentuk menyediakan hubungan dengan desa dalam mengembangkan pertanian, mendorong pasokan makanan sehat, membawa program pertanian yang sesuai dengan IPM, dan memprakarsai PPAH. POPT-PHP memiliki peran penting dalam penyuluhan pertanian. Pemerintah Desa dan POPTPHP menjadi tokoh kunci dalam keberhasilan penerapan PHT di Desa Besur. Stakeholder dalam keberhasilan implementasi PHT memiliki pengaruh sesuai dengan porsi masing-masing sehingga mereka dapat mencapai tujuan bersama

    6,252

    full texts

    31,665

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Bogor Agricultural University Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇