31665 research outputs found
Sort by
Analisis Konjoin untuk Menentukan Preferensi Konsumen dalam Memilih Marketplace (Studi Kasus: Mahasiswa S1 Institut Pertanian Bogor, Dramaga).
Jumlah marketplace di Indonesia terus mengalami peningkatan pada era saat
ini. Hal ini menyebabkan konsumen menjadi lebih selektif dalam memilih
marketplace untuk berbelanja. Pihak marketplace juga semakin bersaing dalam
mengembangkan marketplace-nya agar menjadi marketplace yang paling diminati
konsumen. Analisis konjoin adalah analisis yang tepat dan dapat digunakan untuk
mengetahui preferensi dalam memilih marketplace. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kombinasi taraf-taraf atribut yang paling disukai konsumen dalam
memilih marketplace sebagai tempat berbelanja dengan menggunakan analisis
konjoin. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data hasil survei terhadap
mahasiswa S1 IPB Dramaga mengenai preferensi mahasiswa dalam memilih
marketplace. Hasil analisis konjoin menunjukkan bahwa promo gratis biaya
pengiriman dengan jumlah pembelian tertentu, cara pembayaran melalui transfer
ATM / internet banking / mobile banking, menggunakan jasa pengiriman JNE/
J&T/ TIKI/ POS, menyediakan testimoni customer, serta tampilan aplikasi yang
bagus dan menarik cenderung diminati konsumen. Nilai Relatif Penting (NRP)
menunjukkan bahwa atribut metode pembayaran merupakan atribut yang sangat
diutamakan oleh konsumen dalam memilih marketplace sebagai tempat berbelanja
Pemodelan Clusterwise Regression pada Statistical Downscaling untuk Pendugaan Curah Hujan Bulanan
El Nino dan La Nina adalah fenomena iklim yang dapat menyebabkan
masalah bagi masyarakat. El Nino adalah penurunan curah hujan yang
mengakibatkan kekeringan dan La Nina adalah peningkatan curah hujan yang
mengakibatkan kebanjiran. Oleh karena itu pendugaan curah hujan sangat penting
untuk dilakukan dalam mengantisipasi peningkatan dan penurunan curah hujan
yang ekstrem.
Regresi gerombol adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk
pendugaan curah hujan. Regresi gerombol menyatukan analisis gerombol ke dalam
kerangka regresi sehingga parameter dapat diduga secara bersama-sama. Gerombol
diperoleh berdasarkan parameter regresi dari subpopulasi heterogen. Model regresi
gerombol memungkinkan koefisien regresi bervariasi dengan amatan-amatan dari
berbagai gerombol.
Data penelitian adalah data luaran general circulation model dari climate
forecast system. Peubah yang digunakan adalah intensitas curah hujan bulanan
sebagai peubah kovariat (X) mulai dari Januari 2011 sampai Desember 2017. Data
ini terletak pada 4° LS sampai dengan 9° LS dan 105° BT sampai dengan 110° BT
dengan ukuran grid 0.5°×0.5°. Domain yang digunakan yaitu 9×9 grid untuk stasiun
Bandung, 8×8 grid untuk stasiun Citeko dan 6×6 grid untuk stasiun Bogor dan
stasiun Jatiwangi. Data peubah respon (y) adalah data curah hujan bulanan dari
stasiun Bandung (83 data curah hujan), Bogor (83 data curah hujan), Citeko (82
data curah hujan) dan Jatiwangi (82 data curah hujan) dari Januari 2011 sampai
dengan Desember 2017 dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.
Berdasarkan nilai Root Mean Square Error Prediction (RMSEP) dan korelasi
regresi gerombol menghasilkan pendugaan curah hujan yang terbaik dibandingkan
regresi komponen utama dan regresi kuadrat terkecil parsial. Gerombol yang
digunakan pada stasiun Bandung sebanyak 4 gerombol dengan nilai RMSEP yang
dihasilkan sebesar 71.83 dan korelasi sebesar 0.89. Gerombol yang digunakan
untuk stasiun Bogor adalah 4 gerombol dengan nilai RMSEP yang dihasilkan
sebesar 109.25 dan korelasi sebesar 0.85. Gerombol yang digunakan untuk stasiun
Citeko sebanyak 3 gerombol dengan nilai RMSEP yang dihasilkan sebesar 109.73
dan korelasi sebesar 0.86. Gerombol yang digunakan pada stasiun Jatiwangi
sebanyak 4 gerombol dengan nilai RMSEP yang dihasilkan sebesar 86.47 dan
korelasi sebesar 0.93
Pengembangan Beras Analog Instan Siap Seduh Berbasis Tepung Jagung dengan Penambahan Karagenan dan Konjak
Beras analog instan merupakan salah satu bentuk pengembangan produk
dari beras analog yang siap dikonsumsi setelah diseduh dalam air mendidih
selama 3‒5 menit. Seperti beras instan dari padi, pengembangan beras analog
menjadi produk instan ditujukan bagi masyarakat di perkotaan yang sibuk, yang
tinggal jauh dari tempat tersedianya beras yang cukup, atau yang sedang
mengalami bencana alam. Tantangan yang dihadapi dalam pengembangan beras
analog instan adalah untuk menurunkan waktu rehidrasi dengan tetap menjaga
tekstur dan keutuhan bentuk nasi setelah direhidrasi. Penambahan hidrokoloid
berupa karagenan dan konjak yang banyak memiliki gugus hidrofilik ke dalam
formula beras analog ditujukan untuk meningkatkan kemampuan penyerapan air
produk, sehingga akan mempersingkat waktu rehidrasi saat penyeduhan.
Penambahan karagenan dan konjak juga diharapkan meningkatkan kualitas tekstur
dari produk akhir.
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengevaluasi potensi pembuatan beras
analog instan dari bahan tepung jagung, dengan penambahan hidrokoloid
(karagenan dan konjak), serta menentukan jenis dan konsentrasi hidrokoloid
tersebut yang sesuai untuk memperbaiki sifat fungsional dan fisik nasi analog
instan yang dihasilkan. Tepung jagung dan pati sagu dicampur dengan
perbandingan 90:10, lalu ditambahkan 2% GMS dan hidrokoloid. Hidrokoloid
yang ditambahkan berupa karagenan dan konjak, secara tunggal dan kombinasi
(1:1) dengan konsentrasi 1.0, 5.0, dan 10.0% dari berat total bahan baku. Beras
analog tanpa penambahan hidrokoloid digunakan sebagai kontrol.
Penambahan karagenan dan konjak secara kombinasi pada konsentrasi
masing-masing 5.0% (KK10) menghasilkan beras analog instan dengan kualitas
yang lebih baik dibandingkan kontrol (Ko) atau kombinasi lainnya. Beras analog
yang dihasilkan lebih kokoh pada saat sebelum dan setelah direhidrasi
berdasarkan pengukuran keutuhan beras, degree of breakage, kekerasan nasi, dan
pengamatan mikrostruktur beras analog dengan scanning electron microscope
(SEM). Beras analog instan tersebut juga memiliki kemampuan penyerapan air
dan waktu rehidrasi yang lebih baik dibandingkan kontrol
Perencanaan Pembangunan Desa Pertanian Berkelanjutan Berbasis Citra Drone (Studi Kasus Desa Sukadamai Kabupaten Bogor).
Salah satu tujuan pembangunan desa adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan hasil sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Perencanaan pembangunan desa membutuhkan sebuah inovasi dan sumber pengetahuan bagi masyarakat mengenai ruang yang akan dibangunnya. Data spasial desa dapat memberikan informasi tersebut. Salah satu inovasi dalam bidang pemetaan adalah memanfaatkan interpretasi citra pesawat tanpa awak atau lebih dikenal dengan drone.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan lahan aktual, daya dukung lahan pertanian, jenis-jenis komoditas pertanian unggulan, dan menyusun arahan perencanaan pembangunan pertanian berkelanjutan di desa objek kajian. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan data spasial berupa citra desa yang dihasilkan menggunakan drone. Analisis penggunaan lahan aktual menggunakan perangkat lunak Arcgis melalui proses digitasi partisipatif. Analisis daya dukung lahan menggunakan pendekatan ketersediaan lahan dan kebutuhan lahan. Analisis komoditas unggulan menggunakan pendekatan Location Quontient (LQ). Hasil analisis tersebut menjadi rujukan untuk menyusun arahan perencanaan pembangunan desa pertanian berkelanjutan. Analisis prioritas alternatif program menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di Desa Sukadamai terdiri dari permukiman dan bangunan lainnya 51.461 ha (19.452 %); daerah pertanian 112.942 ha (42.693 %); kebun campuran 88.881 ha (33.598 %); peternakan 0.668 ha (0.252 %); kolam perikanan 1.764 ha (0.667 %); sungai 2.274 ha (0.859 %); jalan kabupaten 1.939 ha (0.733 %); jalan lokal 2.713 ha (1.026 %); jembatan 0.013 ha (0.005 %); saluran irigasi 0.391 ha (0.148 %); tanah kosong 0.867 ha (0.328 %); dan pemakaman 0.635 ha (0.240 %). Daya dukung lahan di Desa Sukadamai dalam keadaan defisit dengan rasio perbandingan ketersediaan lahan (SL) terhadap kebutuhan lahan (DL) sebesar 0.22. Komoditas pertanian unggulan di Desa Sukadamai adalah ubi jalar (LQ = 1.52) dan jagung (LQ = 1.04). Alternatif prioritas pertama pada analisis menggunakan AHP adalah penerapan inovasi intensifikasi lahan yang efektif dan efisien (0.215). Kriteria prioritas adalah adil secara sosial (0.384). Aktor prioritas dalam mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan di Desa Sukadamai adalah pemerintah (0.431)
Perubahan Penggunaan Lahan dan Keselarasan Penggunaan Lahan dengan Pola Ruang di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat
Kabupaten Dharmasraya merupakan kabupaten yang terus mengalami penambahan luas lahan perkebunan yang cukup signifikan dan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Sumatera Barat. Tingginya peningkatan jumlah penduduk berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk tempat tinggal, kegiatan pertanian dan untuk kegiatan usaha lainnya. Namun di sisi lain luas lahan tidak bertambah dan sasaran yang paling mudah untuk dikonversi adalah lahan hutan di kawasan hutan yang ada. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Dharmasraya, menganalisis perubahan penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Dharmasraya, mengevaluasi keselarasan penggunaan lahan dengan pola ruang RTRW Kabupaten Dharmasraya, dan menyusun arahan penyempurnaan pola ruang RTRW Kabupaten Dharmasraya. Metode yang digunakan adalah digitasi on screen untuk menginterpretasi jenis penggunaan lahan, tumpang tindih untuk melihat perubahan penggunaan lahan tahun 2007 hingga tahun 2019, query untuk mengelompokkan keselarasan penggunaan lahan, dan analisis decision rules untuk menyusun arahan penyempurnaan pola ruang RTRW Kabupaten Dharmasraya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2019 terdapat 8 jenis penggunaan lahan di Kabupaten Dharmasraya yaitu hutan primer lahan kering, hutan sekunder lahan kering/bekas tebangan, ladang, perkebunan campuran, permukiman/lahan terbangun, pertambangan, sawah, dan sungai. Penggunaan lahan eksisting terluas adalah perkebunan campuran dengan luas 227.093,9 ha (75,16%) sedangkan penggunaan lahan eksisting terkecil adalah ladang dengan luas 230,5 ha (0,08%). Pada periode tahun 2007 dan tahun 2019 di Kabupaten Dharmasraya terdapat 56 kombinasi perubahan penggunaan lahan. Tingkat keselarasan penggunaan lahan di Kabupaten Dharmasraya menunjukkan penggunaan lahan yang selaras seluas 213.687,9 ha (71,0%), tidak selaras seluas 61.011,6 ha (20,3%), dan transisi seluas 26.342,2 ha (8,8%). Penggunaan lahan yang selaras disarankan untuk dipertahankan. Penggunaan lahan yang bersifat transisi disarankan agar penggunaannya diarahkan sesuai dengan pola ruang. Penggunaan lahan yang tidak selaras disarankan untuk dihentikan perluasannya. Arahan penyempurnaan pola ruang disusun dengan decision rules berdasarkan jenis-jenis ketidakselarasan penggunaan lahan dengan arahan pola ruang RTRW, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pemanfaatan ruang di Kabupaten Dharmasraya
Analisis Kelayakan Peremajaan Tanaman Kakao di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat
Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Mamuju
dengan mayoritas pengusahaannya dilakukan oleh petani perkebunan rakyat.
Produktivitas kakao di Kabupaten Mamuju dari tahun 2012 hingga tahun 2017
mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi cenderung menurun, dan diduga hal
tersebut dipengaruhi oleh umur tanaman yang sudah tua serta pengaruh iklim dan
hama penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan
dari kegiatan peremajaan tanaman kakao yang dilakukan oleh petani di
Kecamatan Kalukku. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis
aspek non finansial dan aspek finansial. Hasil analisis berdasarkan aspek non
finansial menunjukkan bahwa kegiatan peremajaan tanaman kakao yang telah
dilakukan oleh petani layak untuk dilanjutkan. Lalu berdasarkan aspek finansial
diperoleh NPV sebesar Rp. 109 756 751, Net B/C sebesar 7.41, IRR sebesar 32
persen, dan Payback Period selama 5 tahun 10 bulan. Sementara berdasarkan
analisis sensitivitas kegiatan peremajaan kakao yang dilakukan peka terhadap
kedua perubahan yang terjadi, namun penurunan hasil produksi memiliki tingat
kepekaan yang lebih tinggi dibanding penurunan harga output
Strategi Pengelolaan Limbah Cair Sentra Usaha Tapioka di Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor
Usaha tapioka merupakan salah satu agroindustri yang cukup banyak tersebar di Indonesia dan salah satunya di Kota Bogor. Usaha tapioka di Kota Bogor terpusat di Kecamatan Bogor Utara khususnya Kelurahan Ciluar dengan jumlah sekitar lebih dari 25 usaha yang tersebar di 3 dusun yaitu Dusun Rambay, Tarikolot dan Bubulak dan 19 diantaranya berada di sepanjang anak Sungai Ciluar. Usaha tapioka tersebut menghasilkan 2 jenis limbah yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat dalam bentuk onggok sudah banyak digunakan sebagai bahan baku industri, sedangkan limbah cair belum diolah dan dimanfaatkan oleh pelaku usaha pembuatan tapioka. Limbah cair tersebut dibuang langsung ke lingkungan tanpa melalui proses pengolahan. Beban pencemaran yang ditimbulkan dari buangan limbah cair tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan kualitas air Sungai Ciliwung. Para pemilik usaha tersebut sampai saat ini belum memahami bahwa limbah cair merupakan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai tambah ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi karakteristik limbah cair yang dihasilkan usaha tapioka di Kecamatan Bogor Utara (2) merumuskan strategi pengelolaan limbah cair usaha tapioka di Kecamatan Bogor Utara (3) menentukan prioritas teknologi pengolahan limbah cair tapioka yang paling tepat berdasarkan kriteria teknis, lingkungan, ekonomi dan sosial.
Baku mutu limbah cair tapioka telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Baku Mutu tersebut menjadi acuan dalam mengidentifikasi karakteristik limbah cair usaha tapioka di Kecamatan Bogor Utara yang dibuang ke badan air. Selanjutnya, perlu dilakukan upaya untuk menangani pencemaran air akibat buangan limbah tersebut dengan menyusun strategi pengelolaan limbah. Penyusunan strategi dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT dengan melihat kelemahan, kelebihan, peluang dan ancaman yang terdapat di lingkungan usaha. Strategi tersebut juga dapat menggambarkan kriteria teknologi yang sesuai untuk diterapkan. Prioritas teknologi pengolahan limbah ditentukan dari beberapa teknologi yang mungkin diterapkan yaitu biogas dan gula cair. Kriteria teknis, lingkungan, sosial dan ekonomi dari biogas dan gula cair diidentifikasi terlebih dahulu. Kemudian, kriteria tersebut digunakan dalam penilaian penentuan prioritas teknologi pengolahan limbah menggunakan metode MPE (Metode Perbandingan Eksponensial).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik limbah cair usaha tapioka Kecamatan Bogor Utara meliputi berwarna putih kekuningan, memiliki TSS, BOD, dan COD yang tinggi, pH asam, sedikit kandungan sianida, serta debit rendah. Seluruh parameter sudah melebihi baku mutu baik pada pengukuran Bulan Januari maupun Bulan April kecuali parameter sianida dan debit. Analisis SWOT menunjukkan pengelolaan limbah cair tapioka memiliki potensi yang kuat dan berpeluang untuk dikembangkan. Terdapat 8 strategi pengelolaan limbah, dengan strategi yang utama adalah (1) pengolahan limbah cair diarahkan pada
v
pengolahan yang menghasilkan produk yang bernilai ekonomi, (2) bersifat mandiri atau kelompok bukan kawasan, serta (3) pemberian bantuan untuk membangun fasilitas pengolahan limbah serta pembentukan kelembagaan antar USK oleh pemerintah. Prioritas teknologi pengolahan yang dipilih berdasarkan kriteria teknis, lingkungan, sosial dan ekonomi adalah pengolahan limbah cair menjadi gula cair
Distribusi Mesoscale Convective Complex di Pulau Sumatera.
Benua Maritim Indonesia (BMI) merupakan salah satu wilayah terjadinya Mesoscale Convective Complex (MCC). Kejadian MCC terbesar di BMI terjadi di Samudera Hindia bagian Timur. Pulau Sumatera yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia bagian Timur memperoleh dampak langsung dari adanya kejadian MCC yang muncul di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan analisis lebih lanjut mengenai kemunculan MCC di Pulau Sumatera dan sekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian selama 6 tahun (2012 – 2017), terdapat 228 kejadian MCC di Pulau Sumatera dan sekitarnya. Kejadian paling banyak terjadi di Samudera Hindia, sebanyak 161 kejadian. Puncak kejadian MCC terjadi selama musim DJF, sebanyak 65 kejadian. Rata-rata durasi kejadian MCC di Pulau Sumatera dan sekitarnya terjadi selama 9.6 jam. Sebagian besar kejadian MCC terjadi pada malam hari dan mencapai fase maksimum pada pagi hari. Kejadian MCC pada penelitian ini memiliki luas rata-rata selimut awan sebesar 263393 km2. Salah satu kejadian MCC di Pulau Sumatera dan sekitarnya terjadi pada tanggal 15 November 2016 di Provinsi Jambi (dekat Provinsi Riau). Kejadian tersebut terjadi selama 7 jam, mulai dari pukul 12:00 – 18:00 UTC. MCC mulai teridentifikasi di Provinsi Jambi kemudian bergerak ke arah Barat Laut hingga mencapai fase maksimum. Saat fase maksimum, titik pusat sistem awan berada di 0.59oS dan 101.82oE dengan luas selimut awan sekitar 221150 km2. Eksentrisitas sistem awan saat fase maksimum bernilai 0.9. Saat kejadian MCC terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi di Provinsi Jambi dan sekitarnya, terutama pada pukul 15:00 UTC (fase maksimum MCC). Saat pukul 15:00 UTC, intensitas curah hujan di Stasiun Japura dan Stasiun Sultan Taha mencapai 61 mm 3h-1 dan 31 mm 3h-1. Hasil identifikasi ini menunjukkan bahwa MCC tidak hanya mempengaruhi curah hujan di wilayah terjadinya MCC, tetapi juga di wilayah sekitar kejadian
Analisis Strategi Pemasaran pada Perusahaan Jasa Transportasi Borneo Trans di Kota Tasikmalaya
Borneo Trans merupakan perusahaan transportasi mikro bus yang bergerak
dalam bidang pelayanan jasa transportasi penumpang antar kota di Jawa Barat.
Penelitian ini bertujuan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
bagi perusahaan serta strategi pemasaran yang tepat untuk diimplementasikan
dalam persaingan usaha jasa transportasi. Metode yang digunakan dalam penarikan
contoh adalah nonprobability sampling, yaitu purposive sampling dengan tiga
narasumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kuantitatif
seperti Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE),
Internal External (IE), Strengths Weaknesses Opportunities Threats (SWOT) dan
Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Data hasil penelitian diolah dan
dianalisis secara kuantatif dengan aplikasi Microsoft Excel. Berdasarkan analisis
matriks IFE, EFE, IE, SWOT dan QSP prioritas strategi pemasaran yang ideal untuk
Borneo Trans adalah Product Development Strategy dengan nilai TAS 5.8367.
Product Development Strategy diimplementasikan dengan menawarkan paket
perjalanan pulang pergi dengan tarif yang lebih hemat
Pemetaan Topografi Calon Lokasi Embung di Kampus IPB Darmaga, Bogor
Sebelum merencanakan dan merancang embung, perlu dilakukan pemetaan
topografi lahan dan analisis pola aliran air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi tata guna lahan, daerah tangkapan air, pola aliran air, dan
menganalisis kondisi topografi lahan, serta menghasilkan peta topografi dan
menghitung volume genangan pada lokasi embung di Kampus IPB Darmaga.
Penelitian ini dilakukan pada bulan April – Juli 2019. Tata guna lahan di sekitar
lokasi embung terdiri dari hutan, jalan, padang rumput, lahan kosong, pemukiman,
dan pertanian. DTA pada lokasi embung dibagi menjadi empat, dengan luas
masing-masing sebesar 2881.0 m2, 4531.0 m2, 2790.0 m2, dan 10917.3 m2. Elevasi
tertinggi dan terendah berdasarkan pengukuran lahan di lokasi embung masingmasing
adalah 199.71 mdpl dan 187.23 mdpl. Peta topografi dibuat menggunakan
perangkat lunak Surfer 13 dengan metode interpolasi yang paling sesuai adalah
natural neighbor. Pola aliran air yang terjadi relatif seragam serta mengarah menuju
Utara dan Selatan lahan. Potensi volume genangan minimum dan maksimum yang
diperoleh masing-masing adalah sebesar 1.5 m3 dan 13752.8 m3, serta volume
genangan optimum adalah sebesar 2824.8 m3