31665 research outputs found
Sort by
Reproduksi Kemiskinan Nelayan Kecil dan Buruh Nelayan di Aceh Barat.
Kemiskinan merupakan ketidak mampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada tiga faktor kemiskinan yaitu faktor struktural, budaya dan sumber daya manusia (human capital). Penelitian ini membahas tentang reproduksi kemiskinan nelayan kecil dan buruh nelayan. Tujuannya adalah untuk mengetahui penyebab kemiskinan, potret dan reproduksi kemiskinan, langkah untuk memutuskan proses reproduksi kemiskinan pada nelayan kecil dan buruh nelayan.
Metodologi yang digunakan yaitu mixed metthods dengan menggunakan paradigma post positivistik dan pengambilan sampel dengan teknik stratified accidental sampling. Hasil penelitian ini menjelaskan penyebab kemiskinan, potret dan reproduksi kemiskinan, dan langkah alternatif untuk memutuskan proses reproduksi kemiskinan pada nelayan kecil dan buruh nelayan, karena dipengaruhi oleh faktor struktural, budaya, dan sumber daya manusia (human capital).
Bagian dari dimensi struktural yaitu tidak tersedianya akses modal, tidak ada akses alat produksi, hubungan patron-klien dan akses pasar, dan akses kebijakan. Bagian dari dimensi budaya yaitu gagal dalam memanagemen keuangan dan terlalu fanatik pada ritual adat-istiadat, pola perilaku, dan etos kerja. Bagian dari dimensi sumber daya manusia yaitu pendidikan, dan keahlian.
Langkah untuk memutuskan proses terjadinya reproduksi kemiskinan yaitu dilakukan dengan menanggulangi kemiskinan melalui faktor struktural, budaya dan faktor sumber daya manusia (human capital). Melalui faktor struktural yaitu dilakukan oleh pemerintah dan LSM dalam bentuk pemberdayaan masyarakat, Menanggulangi kemiskinan melalui faktor budaya dilakukan oleh individu dari nelayan miskin sendiri untuk bisa keluar dari kemiskinan dan melalui faktor sumber daya manusia yaitu inisiatif dari anak-anak nelayan kecil dan buruh nelayan untuk sekolah sampai keperguruan tinggi dan mengikuti pelatihan-pelatihan yang dianggap penting
Studi Karakter Seleksi Kakao Mulia (Theobroma cacao L) Penghasil Produk Java Fine Flavor Cocoa di Indonesia
Dalam perdagangan internasional dikenal kakao mulia sebagai produk
spesialti dan kakao lindak yang merupakan kakao pada umumnya. Indonesia
memiliki kakao mulia Java fine flavor cocoa berbiji putih yang terkenal selama
hampir satu abad. Karakter agronomis kakao ini cenderung lemah sehingga perlu
dilakukan pemuliaan untuk menghasilkan kakao mulia Java fine flavor cocoa
berkualitas tinggi dengan karakter agronomis lebih baik. Sebagai tanaman tahunan,
pencapaian target pemuliaan kakao mulia Java fine flavor cocoa memerlukan
waktu lama yaitu sekitar 15-20 tahun sehinggaperlu dilakukan pengembangan
program pemuliaan yang mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam
proses seleksi. Saat ini kriteria seleksi kakao mulia Java fine flavor cocoa
adalah persentase biji putih/buah ≥ 80%, tetapi kriteria ini baru dapat dicapai pada
fase reproduktif sehingga perlu dicari marka seleksi dini pada fase pembibitan
yang mampu menggambarkan karakter tersebut.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter
morfologi, biokimia dan genomik pembeda kakao mulia Java fine flavor cocoa
dan lindak Indonesia serta mengembangkan metode seleksi spesifik kakao mulia
Java fine flavor cocoa dalam upaya meningkatkan efisiensi dan akurasi pemuliaan
kakao mulia penghasil Java fine flavor cocoa sebagai produk kakao spesialti
bercita rasa khas kebanggaan bangsa. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk:
(1) mengidentifikasi karakteristik sensori spesifik yang dapat membedakan
produk kakao mulia Java fine flavor cocoa dan produk kakao lindak, (2)
mengidentifikasi profil biokimia penciri kakao mulia Java fine flavor cocoa, (3)
mengidentifikasi keragaman genetik, karakteristik, dan pengembangan marka
fenotipik penciri kakao mulia Java fine flavor cocoa dan (4) mengembangkan
marka molekuler penciri kakao mulia Java fine flavor cocoa berbasis gen MYB.
Materi genetik koleksi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
(Puslitkoka) yang digunakan adalah 8 klon kakao mulia Java fine flavor cocoa
(DR2, DRC16, DR38, PNT16, PNT17, PNT33B, ICCRI 01 dan ICCRI 02) dan 11
klon kakao lindak (MCC01, MCC02, Sulawesi 01, KW733, KW617, PA191,
ICCRI 03, ICCRI 04, KW516, KEE2 dan Scavina 6). Dari 19 klon kakao tersebut
yang digunakan pada kajian sensori, biokimia dan morfologi adalah 4 klon kakao
mulia (DR2, DRC16, PNT16, PNT17) dan 5 klon kakao lindak (KW516, KW617,
MCC02, Sulawesi 01, PA191). Pada kajian sensori digunakan juga referensi klon
kakao lindak Ghana.
Hasil kajian sensori menunjukkan kakao mulia cenderung kuat pada atribut
floral, sedangkan kakao lindak pada atribut cocoa. Kakao mulia DR2 dan DRC16
memiliki ciri khas floral dan spicy, sedangkan kakao mulia PNT16 memiliki ciri
khas browned fruit (fruity). Kakao mulia PNT17 memiliki kemiripan cita rasa
dengan kakao lindak namun memiliki nilai atribut floral lebih tinggi daripada
seluruh kakao lindak yang diujikan. Terdapat kakao lindak dengan cita rasa khas
yaitu KW617.
Kajian biokimia untargeted metabolomics menggunakan Gas
Chromatography-Mass Spectrometry telah mengidentifikasi 23 metabolit putatif.
Principal component analysis mampu menerangkan 82.5% keragaman yang ada
antara kedua tipe kakao. Kakao lindak memiliki kadar asam lemak tinggi (asam
palmitat, asam stearat, asam oleat) dan kakao mulia memiliki kadar kafein tinggi.
Kajian biokimia metabolit primer menunjukkan hanya peubah kadar lemak total
yang mampu membedakan kedua tipe kakao tersebut. Berdasarkan kajian sensori
dan biokimia dapat disimpulkan bahwa kakao mulia cenderung memiliki cita rasa
khas disebabkan oleh kandungan senyawa metabolit sekunder penyusun aroma
dan rasa yang lebih tinggi daripada kakao lindak.
Kajian morfologi menunjukkan pemisahan pengelompokan klon kakao
mulia Java fine flavor cocoa dan lindak berdasarkan deskriptor kakao Puslitkoka.
Kriteria seleksi persentase biji putih/buah sebagai marka morfologi kakao mulia
Java fine flavor cocoa dapat diduga melalui warna flush dan kadar antosianin
flush pada fase bibit. Warna flush kakao mulia Java fine flavor cocoa cenderung
pucat, berwarna kekuningan sedangkan kakao lindak cenderung cerah, berwarna
kemerahan. Kadar antosianin flush kakao mulia Java fine flavor cocoa lebih
rendah daripada kakao lindak dan dipengaruhi oleh musim. Pada musim kemarau
seleksi dilakukan untuk kadar antosianin flush kurang dari 155 ppm sedangkan
pada musim hujan untuk kadar kurang dari 117 ppm. Pendugaan cepat (rapid
detection) terhadap kadar antosianin pada musim kemarau dapat dilakukan
melalui nilai b* (warna kuning) di atas 16.
Marka molekuler mampu mempertajam marka morfologi dan sifatnya tidak
dipengaruhi lingkungan sehingga dilakukan pengembangan marka menggunakan
transcription factor TcMYB113 yang mampu membedakan kakao berdasarkan
warna kulit buah. Hasil pengkajian molekuler menunjukkan kakao mulia Java
fine flavor cocoa dan kakao lindak dapat dibedakan berdasarkan 21 situs
insertions/deletions dan 1 situs single nucleotide polymorphism dengan marka
P7MT yang didesain dari primer yang mengamplifikasi segmen pada
transcription factor TcMYB113. Marka kakao mulia Java fine flavor cocoa
memiliki panjang fragmen 170 bp.
Berdasarkan kajian marka morfologi dan molekuler telah disusun metode
seleksi kakao mulia Java fine flavor cocoa pada fase pembibitan yang meliputi
seleksi terhadap karakter warna flush menggunakan color chart pada 4 Bulan
Setelah Semai (BSS) dilanjutkan dengan pengukuran kadar antosianin flush pada
5 BSS dan seleksi dengan marka molekuler menggunakan primer P7MT pada 6
BSS. Seleksi yang dilakukan pada fase pembibitan ini akan mampu: (1)
memperpendek periode seleksi, (2) mengurangi kebutuhan luasan area seleksi jika
dibandingkan dengan seleksi yang dilakukan pada saat tanaman sudah memasuki
fase dewasa, (3) mengurangi dampak penyebaran organisme pengganggu tanaman
(OPT) secara luas jika dibandingkan dengan uji ketahanan terhadap OPT di
lapangan, (4) meningkatkan akurasi karena digunakannya marka molekuler
berbasis DNA dan (5) mampu mengurangi biaya dalam proses pemuliaan
Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa Wisata
Pengembangan pariwisata di Indonesia dapat menjadi salah satu usaha untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Salah satu keberhasilan pengembangan desa wisata adalah partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan desa wisata agar pembangunan tersebut memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat, faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa wisata, serta dampaknya di bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif melalui wawancara mendalam dan studi literatur. Lokasi penelitian ini berada di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendapatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi dan tingkat partisipasi berpengaruh signifikan terhadap dampak ekonomi, sosial, dan budaya
Keanekaragaman Kupu-Kupu dan Tumbuhan Pakannya di Kebun Raya Bogor.
Pengelompokan jenis tumbuhan pakan larva dan kupu-kupu untuk pelaksanaan pengelolaan habitat kupu-kupu di Kebun Raya Bogor belum tersedia sehingga dilakukan penelitian kupu-kupu dan tumbuhan pakan larva dan kupu-kupu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret hingga Mei dan September hingga Oktober tahun 2019. Metode yang digunakan di 10 Taman Koleksi yaitu Pollard transect untuk inventarisasi kupu-kupu. Data yang diambil pada penelitian ini berupa jenis kupu-kupu, jumlah jenis, jumlah individu, jenis tumbuhan pakan bagi larva dan kupu-kupu, serta karakteristik lokasi pengamatan. Analisis data menggunakan indeks keanekaragaman, indeks kekayaan, indeks kemerataan, dan indeks kesamaan komunitas. Hasil menunjukkan bahwa ditemukan 78 jenis kupu-kupu yang terbagi dalam 5 famili yaitu Pieridae (11 jenis), Papilionidae (11 jenis), Nymphalidae (34 jenis), Lycaenidae (11 jenis), dan Hesperiidae (11 jenis). Tumbuhan pakan ditemukan sebanyak 378 jenis (341 jenis pakan larva dan 107 jenis pakan kupu-kupu). Indeks kekayaan tertinggi pada Taman Tanaman Buah, indeks keanekaragaman tertinggi pada Taman Tanaman Buah, indeks kemerataan tertinggi pada Taman Mexico, dan indeks kesamaan komunitas tertinggi pada Taman Bostin dengan Taman Garuda dan Taman Teijsmann dengan Taman Bostin
Karakteristik Papan Laminasi Batang Kelapa Sawit dengan Perlakuan Pendahuluan Termomekanis.
Pembuatan papan laminasi batang kelapa sawit merupakan teknologi rekayasa kayu untuk mengatasi kelangkaan kayu dengan menggunakan bahan baku limbah batang kelapa sawit yang sangat berpotensi. Lamina batang sawit diberi perlakuan termomekanis menggunakan kempa panas dengan suhu 1300C, waktu 10 menit, dan tekanan 5 kg/cm2. Lamina kemudian disusun menjadi papan dengan variasi jumlah lapisan (3, 5 dan 7 lapis) dan jenis perekat (Urea Formaldehida dan Melamin Formaldehida). Hasil penelitian menunjukkan jenis perekat cenderung mempengaruhi sifat fisis yang didapat. Perekat Melamin Formaldehida menghasilkan sifat fisis papan laminasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan papan laminasi dengan Urea Formaldehida, khususnya sifat pengembangan tebal, daya serap air, dan delaminasi yang mampu memenuhi standar yang digunakan (JAS 234: 2003 dan JIS A 5908: 2003). Sementara faktor jumlah lapisan mempengaruhi sifat mekanis papan laminasi, semakin banyak jumlah lapisan akan meningkatkan sifat mekanis dari papan laminasi. Perlakuan termomekanis pada lamina secara umum diketahui meningkatkan kualitas papan laminasi batang kelapa sawit
Bioplastik Berbasis Poliasam Laktat dengan Nanokristal Selulosa Termodifikasi Surfaktan Setil Trimetil Amonium Klorida (CTAC).
Konsumsi plastik yang kian meningkat menyebabkan penumpukan sampah yang tidak terkendali karena umumnya plastik yang digunakan merupakan plastik berbasis minyak bumi dan turunannya yang sifatnya nonbiodegradabel. Bahan plastik tersebut membutuhkan waktu hingga ratusan tahun agar dapat terurai. Untuk mengurangi penumpukan limbah tersebut, alternatif yang dapat dilakukan adalah menggunakan bahan plastik lain yang sifatnya biodegradabel, salah satunya adalah poliasam laktat.
Poliasam laktat (PLA) merupakan bahan plastik yang dapat disintesis baik dari minyak bumi maupun biomassa. Namun, kelemahan dari PLA ini adalah sifatnya yang rapuh sehingga membutuhkan agen penguat untuk memperbaiki sifat mekaniknya. Material penguat yang paling banyak digunakan adalah kristal selulosa karena kelimpahannya yang banyak di alam, sifatnya yang biodegradabel, serta biokompatibel. Sifat yang berbeda antara nanokristal selulosa dengan matriks PLA menyebabkan kompatibilitasnya kurang baik, sehingga permukaan nanokristal selulosa harus dimodifikasi terlebih dahulu.
Salah satu sumber selulosa adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang merupakan limbah industri kelapa sawit. Pemanfaatan TKKS secara optimal masih sangat rendah padahal kandungan selulosanya mencapai 30–40%. Selulosa dengan persentase yang tinggi ini dapat dijadikan sebagai bahan penguat dengan memperkecil ukurannya menjadi skala nano sehingga dapat terdispersi dengan baik dalam matriks polimer. Selulosa dari TKKS diisolasi melalui beberapa tahap, yaitu delignifikasi, pulping, dan bleaching untuk memperoleh α-selulosa. α-selulosa tersebut dihidrolisis untuk mendapatkan kristalin tunggal dan diultrasonikasi untuk memperkecil ukuran partikelnya. Hidrolisis menggunakan asam dan ultrasonikasi selama 60 menit menghasilkan nanokristal selulosa dengan persentase kristalin sebesar 84% dan ukuran rerata partikel sebesar 7.97 nm. Nanokristal selulosa yang dihasilkan dimodifikasi menggunakan surfaktan untuk mengubah hidrofilisitasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat bioplastik berbasis polipaduan poliasam laktat dengan penambahan agen penguat berupa nanokristal selulosa yang dimodifikasi oleh surfaktan CTAC.
Modifikasi nanokristal selulosa dengan penambahan surfaktan adalah cara yang paling mudah dan efektif. Interaksi antara nanokristal selulosa dengan CTAC dapat dilihat melalui spektrum FTIR. Berdasarkan hasil FTIR, keberadaan CTAC ditandai dengan adanya serapan pada bilangan gelombang 2850 cm-1 dan 2960 cm-1 menandakan adanya regangan CH2 simetris dan asimetris dan bilangan gelombang 1400 cm-1 menandakan adanya gugus C-N. Nanokristal selulosa yang menunjukkan interaksi dengan CTAC, dikompositkan dengan PLA untuk mengurangi kerapuhan PLA tersebut. Plastik yang dihasilkan dari polipaduan PLA dan nanokristal selulosa termodifikasi 0.2 mol CTAC dengan rasio 90:10 memiliki nilai kekuatan tarik lebih tinggi dan laju transmisi uap air lebh rendah dibandingkan PLA murni dengan nilai kekuatan tarik dan perpanjangan putus
masing-masing sebesar 26.40 MPa dan 68.18%. Sedangkan nanokristal selulosa dalam jumlah lebih banyak menyebabkan penurunan nilai kekuatan tarik
Pembuatan Tepung Berbahan Dasar Lidah Buaya Utuh (Aloe vera L.) sebagai Bahan Pembuatan Coating Produk Pertanian
Lidah buaya dalam bentuk gel telah banyak diteliti sebagai bahan coating
produk pertanian segar. Selain dalam bentuk gel, lidah buaya dapat diolah dalam
bentuk tepung yang mempunyai kelebihan dibanding dalam bentuk gel. Penelitian
ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu pengeringan terhadap mutu
tepung lidah buaya dan menganalisis karakteristik larutan serta film yang
terbentuk. Metode pengeringan yang digunakan adalah hot rotary dryer dengan
suhu 50°C, 60°C, dan 70°C. Pemilihan suhu pengeringan terbaik bedasarkan
karakteristik tepung yang dihasilkan. Pemilihan konsentrasi larutan tepung
sebagai bahan pembuat film didasarkan pada karakteristik larutan tepung lidah
buaya dan film yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan nilai rendemen
tepung 2.215-2.701%, ukuran partikel tepung seragam (150 μm), kandungan
karbohidrat 61.100-64.007%. Karakteristik larutan yang dihasilkan pada
konsentrasi 2% dan 3% berturut-turut: viskositas 5.599 mPa.s dan 14.354 mPa.s,
persen endapan yang terbentuk sebesar 15.505% setelah 6 jam dan 28.093%
setelah 4 jam, pH 5.009 dan 4.972, ketebalan film 0.163 mm dan 0.171 mm, nilai
L pada warna film 58.130 dan 53.806, kadar air film 13.582% dan 11.588%,
WVTR 8.818 gram/jam.m2 dan 7.898 gram/jam.m2, kelarutan film 43.709% dan
65.879%. Bedasarkan pembobotan, tepung terbaik sebagai bahan coating
dihasilkan dari pengeringan suhu 50°C dan konsentrasi tepung 3% dipilih sebagai
larutan bahan pembentukan film terbaik
Produktivitas dan Analisis Pendapatan Unit Usaha Perikanan Pancing Tonda di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu
Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu memiliki wilayah perairan yang potensial bagi usaha perikanan tangkap, khususnya komoditas tuna. Salah satu unit usaha perikanan tangkap dengan tuna sebagai salah satu hasil tangkapannya adalah pancing tonda. Penurunan jumlah kapal pancing tonda yang beroperasi pada tahun 2014-2018 mengakibatkan hasil tangkapan tuna menurun. Perlunya informasi mengenai kondisi terkini dan sebab terjadinya penurunan jumlah kapal pancing tonda di PPN Palabuhanratu menjadi dasar dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil tangkapan, mengetahui perubahan trend produktivitas, dan menentukan pendapatan usaha pancing tonda berdasarkan parameter keuntungan. Penelitian ini dilaksanakan di PPN Palabuhanratu pada bulan Maret hingga April 2019. Produktivitas pancing tonda dianalisis menggunakan metode CPUE yang disajikan pada setiap bulannya dari tahun 2014-2018. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perubahan pola musim penangkapan pada 5 tahun terakhir. Informasi mengenai deskripsi hasil tangkapan dan analisis pendapatan usaha diketahui melalui proses wawancara dengan pelaku usaha pancing tonda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan data tahun 2014-2018 hasil tangkapan utama pancing tonda terdiri dari tuna madidihang (Thunnus albacores), tuna mata besar (Thunnus obesus) dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Jumlah hasil tangkapan utama pada tahun 2014-2016 didominasi ikan tuna dengan persentase rata-rata 53,17%, sementara tahun 2017-2018 didominasi ikan cakalang dengan persentase rata-rata 57,35%. Produktivitas pancing tonda menunjukkan hasil yang berfluktuatif cenderung meningkat. Analisis pendapatan yang dilakukan menunjukkan rata-rata pendapatan tahunan pelaku usaha pancing tonda seperti pemilik kapal, nahkoda, dan ABK masing-masing sebesar Rp382.214.098, Rp114.664.229, dan Rp66.887.467 pertahun/orang. Rata-rata pendapatan bulanan pelaku usaha pancing tonda lebih besar dari upah minimum regional Kabupaten Sukabumi
Karakterisasi Film Hasil Kombinasi Tepung Lidah Buaya dengan Tepung Gelatin dan Karagenan sebagai Bahan Coating
Lidah buaya telah banyak diteliti dan diaplikasikan sebagai bahan baku film
atau coating produk pertanian. Larutan lidah buaya saja tidak dapat membentuk
film dengan baik, sehingga perlu penambahan bahan untuk memperbaiki film yang
dihasilkan seperti gelatin dan karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
kombinasi terbaik antara tepung lidah buaya dengan bahan tambahan gelatin dan
karagenan. Konsentrasi yang menjadi perlakuan adalah tepung lidah buaya 1% dan
2% dicampurkan dengan gelatin 0.2% dan karagenan 0.01% yang dilarutkan dalam
aquadest. Pelarutan dilakukan dengan menggunakan stirrer kecepatan 1000 rpm
selama 1 jam pada suhu 40 °C. Film dibuat dengan menuangkan 15 g larutan pada
cawan petri berdiameter 8.5 cm. Karakteristik larutan film yang diukur adalah
viskositas, stabilitas dan pH, sedangkan karakteristik film yang diukur adalah
ketebalan, kadar air, warna, laju transmisi uap air, kelarutan film, kekuatan tarik,
dan elongasi. Larutan film terbaik memiliki nilai viskositas dan pH yang rendah,
serta stabilitas yang tinggi. Sedangkan film yang terbaik memiliki nilai ketebalan
dan kadar air yang rendah, warna yang cerah, uji transmisi uap air dan kelarutan
yang rendah, serta kekuatan tarik dan elongasi yang tinggi. Penentuan kombinasi
terbaik dilakukan dengan metode pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan
kombinasi terbaik berdasarkan karakteristik larutan dan film yang dihasilkan adalah
tepung lidah buaya 2% dengan tepung karagenan 0.01%
Analisis Kepuasan Pelanggan Restoran Taman Koleksi
Taman Koleksi merupakan salah satu usaha yang bersaing di industri
restoran. Perkembangan restoran di Kota Bogor yang semakin meningkat
mengakibatkan tingkat persaingan yang semakin tinggi antar restoran. Cara yang
dapat dilakukan restoran Taman Koleksi untuk dapat mempertahankan
pelanggannya yaitu dengan memberikan produk dan pelayanan terbaik kepada
pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik
pelanggan, menganalisis proses keputusan pembelian pelanggan, dan menganalisis
tingkat kepuasan pelanggan restoran Taman Koleksi Bogor. Jumlah responden
dalam penelitian ini adalah 100 responden. Metode pengolahan data dalam
penelitian ini menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) dan Importance
Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil analisis CSI, tingkat kepuasan
pelanggan terhadap atribut restoran Taman Koleksi adalah sebesar 73.87 persen.
Sedangkan hasil dari analisis IPA menunjukkan bahwa atribut cita rasa makanan,
kesigapan pramusaji, dan kecepatan penyajian merupakan prioritas utama dalam
perbaikan kinerja atribut untuk meningkatkan kepuasan pelanggan