31665 research outputs found
Sort by
Aktivitas Ekstrak Temulawak terhadap Pertumbuhan Tumor Mammae Tikus Sprague Dawley yang Diinduksi DMBA
Kanker payudara merupakan jenis kanker yang mematikan nomor dua bagi perempuan setelah kanker serviks dengan prevalensi di Indonesia sebesar 0.5 per 1000 perempuan. Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb) diketahui memiliki banyak manfaat salah satunya potensi sebagai antikanker payudara. Komponen aktif yang berpotensi sebagai antikanker dalam rimpang temulawak adalah kurkuminoid dan xanthorrhizol. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas ekstrak temulawak yang diekstraksi menggunakan etanol 70% pada skala pengembangan terhadap pertumbuhan kanker payudara tikus yang diinduksi DMBA. Hasil penapisan fitokimia ekstrak etanol temulawak mengandung senyawa fenolik, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid yang berpotensi sebagai antikanker payudara. Kandungan total fenolik dan total flavonoid ekstrak etanol temulawak masing-masing sebesar 42.96 mg GAE/ g ektsrak dan 3.96 mg QE/ g ekstrak. Pengamatan tumor mammae dilakukan dengan melihat perubahan ukuran volume tumor pada setiap kelompok setiap minggu. Hasil analisis Mann Whitney menunjukkan seluruh kelompok yang diberi ekstrak temulawak memiliki perbedaan yang nyata dengan kontrol tumor (p<0.05). Delta volume tumor mammae dari kelima kelompok ekstrak menunjukkan nilai paling tinggi berada pada kelompok ketiga dengan dosis 140 mg/kg BB dengan nilai delta -1.019 cm3
Peran Lamun dalam Penyerapan Karbon sebagai Upaya Menjaga Keseimbangan Lingkungan di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu.
Lamun mampu mengurangi emisi gas karbon sebagai pemicu pemanasan global yang dikenal dengan istilah blue carbon. Penelitian ini bertujuan menghitung kandungan C-Organik pada beberapa spesies lamun di Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu sebagai peluang untuk dimanfaatkan dalam pengelolaan ekosistem lamun. Pengambilan sampel dan analisis data dilakukan pada November 2019 – Februari 2020. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Biomassa diukur dari berat basah lamun per satuan luas, kandungan karbon dihitung menggunakan metode Walkley and Black pada biomassa dan substrat. Ekosistem lamun di Pulau Kelapa Dua ditumbuhi oleh Cymodocea rotundata, Halophila ovalis, dan Thalassia hemprichii. Kandungan C-Organik lamun pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 memiliki nilai rata-rata tertinggi dari jenis H. ovalis dengan nilai 11.62% diikuti oleh C. rotundata (11.29%) dan T. hemprichii (11.27%). Analisis C-Organik pada Stasiun 3 hanya pada jenis T. hemprichii. Kandungan C-Organik T. hemprichii pada Stasiun 3 bernilai 10.81%. Kandungan C-Organik terbesar berada pada bagian utara pulau dan terendah pada selatan pulau
Uji Toksisitas Akut Infusa Biji Kemiri (Aleurites moluccana) pada Mencit (Mus musculus).
Kemiri (Aleurites moluccana) merupakan tanaman asli Indonesia yang dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit. Potensi biji kemiri sebagai bahan obat dan penyebab keracunan telah banyak diketahui, namun informasi spesifik mengenai tingkat toksisitas dan keamanan dari biji kemiri masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan tingkat toksisitas akut dari infusa biji kemiri pada mencit betina menggunakan uji Lethal Dose 50 (LD50). Sebanyak 20 ekor mencit dibagi menjadi 5 kelompok kemudian diberi infusa biji kemiri secara oral dengan dosis 0 (kontrol), 2, 4, 8, dan 16 g/kg BB setiap kelompok. Variabel penelitian adalah jumlah kematian dalam 14 hari, bobot badan pada hari 0, 7, dan 14, dan bobot organ (absolut dan relatif). Data dianalisis dengan menggunakan probit analysis, one way analysis of variance (ANOVA) dan uji lanjut Tukey. Nilai LD50 infusa biji kemiri yang diperoleh adalah 12.20±3.35 g/kg BB. Simpulan penelitian ini ialah infusa biji kemiri termasuk bahan toksik ringan
Aktivitas Antioksidan dan Antiglikasi Krim Malam dengan Penambahan Ekstrak Gracilaria sp. dan Kolagen Keong Bakau
Ekstrak Gracilaria sp. memiliki aktivitas antioksidan yang berasal dari
komponen aktif yang dimilikinya. Kolagen dapat mencegah penuaan dini karena
memiliki aktivitas antiglikasi. Penelitian ini bertujuan menentukan formula krim
malam terbaik dengan penambahan ekstrak Gracilaria sp. dan kolagen dari keong
bakau berdasarkan aktivitas antioksidan dan antiglikasi. Krim malam dengan
penambahan ekstrak etanol Gracilaria sp. dan kolagen ditentukan karakteristik
fisik, kimia, sensori, aktivitas antioksidan DPPH (1.1-difenil-2-pikrilhidrazil), dan
antiglikasinya. Ekstrak Gracilaria sp. mengandung senyawa alkaloid, flavonoid,
saponin, fenol hidrokuinon, steroid, dan triterpenoid. Hasil penelitian menunjukkan
krim malam terbaik yaitu pada perlakuan krim dengan penambahan ekstrak
Gracilaria sp. 1%. Krim malam tersebut memiliki viskositas 4 347 cP, daya sebar
7.7 cm, dan nilai pH 5.37. Nilai sensori tekstur, warna, dan aroma krim malam
tersebut yaitu agak disukai oleh panelis. Krim malam tersebut memiliki aktivitas
antioksidan dengan nilai IC50 307.57 ppm. Nilai IC50 aktivitas antiglikasi krim
malam 670.32 ppm
Evaluasi Penambahan Tepung Kayu Manis, Ekstrak Kayu Manis, dan Sinnamaldehid pada Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias gariepinus).
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan tepung kayu manis, ekstrak kayu manis, dan sinnamaldehid pada pakan terhadap pertumbuhan ikan lele. Penelitian menggunakan tiga bahan suplementasi yaitu 1% tepung kayu manis, 0,1% ekstrak kayu manis, dan 0,1% sinnamaldehid yang ditambahkan pada pakan komersil. Ikan lele ukuran 7,35 ± 0,38 g dipelihara dalam waring 2 x 1 x 1 m3 dan diletakkan di dalam kolam beton. Setiap waring diisi 100 ekor ikan dan diberi pakan tiga kali sehari secara ad satiation selama 49 hari. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pakan dengan suplementasi dapat memperbaiki kondisi fisiologis, menurunkan FCR, JKP, dan meningkatkan efisiensi protein pada ikan lele. Kesimpulan penelitian ini yaitu penambahan 1% tepung kayu manis, 0,1% ekstrak kayu manis, dan 0,1% sinnamaldehid pada pakan memiliki efek yang tidak berbeda nyata pada pertumbuhan ikan lele Clarias gariepinus
Ukuran Tubuh G3 Ayam Arabmerawang dan Merawangarab Hasil Persilangan Interse Umur 2 Sampai 12 Minggu
Persilangan antara 2 jenis ayam dilakukan guna menghasilkan keturunan ayam yang unggul jenis dwiguna untuk meningkatkan produksi daging maupun telur. Peubah yang diamati yaitu panjang shank, lingkar shank, panjang femur, panjang tibia, lingkar dada, panjang dada, dalam dada, lebar dada, panjang punggung, dan panjang sayap. Rataan lingkar shank, panjang shank, panjang tibia, panjang dada, dan panjang sayap ayam dengan kompisisi genetik merawang 50% dan 75% pada umur 2 dan 4 minggu berbeda nyata serta rataan panjang femur dan dalam dada berbeda nyata pada umur 2 minggu. Terdapat perbedaan yang nyata lingkar dada pada ayam dengan komposisi genetik merawang 50% dan 75% betina pada umur 10 minggu 21.13±2.33 cm dan 19.87±2.05 cm. Panjang punggung berbeda nyata terdapat pada ayam dengan komposisi genetik merawang 50% dan 75% betina umur 6 minggu 10.67±1.72 cm dan 10.12±1.19 cm. Laju pertumbuhan cukup tinggi pada umur 2–4 minggu yaitu berkisar antara 35%–56%. Laju pertumbuhan ayam dengan komposisi genetik merawang 75% lebih tinggi dibandingkan dengan komposisi genetik merawang 50%. Berdasarkan hasil pengukuran tubuh, ayam yang berpotensi sebagai ayam dwiguna yaitu ayam dengan komposisi genetik merawang 75%. Pola pertumbuhan kerangka ayam dengan komposisi genetik merawang 50% dan 75% berbeda, namun ukurannya sama pada umur 12 minggu
Pola Serangan Rayap Kayu Kering pada Kayu Bangunan Struktural
Di Indonesia evaluasi kondisi rumah tradisional atau bangunan masih jarang
menjadi perhatian utama. Serangan rayap kayu kering menyebabkan kerugian
ekonomi yang signifikan, terutama karena keberadaan rayap kayu kering di dalam
komponen bangunan sangat sulit dideteksi. Namun, informasi mengenai analisis
karakterisasi serangan rayap kayu kering menggunakan metode berbasis akustik
pada bangunan di Indonesia masih jarang ditemukan. Penelitian ini mencakup
karakteristik rambatan gelombang ultrasonik dari instrumen NDT pada komponen
kayu yang terserang rayap kayu kering. Karakteristik rambatan gelombang seperti
waktu tempuh (ToF), kecepatan, dan energi puncak gelombang pada tiga bidang
orthogonal kayu (aksial-z, transversal-y, dan transversal-x) akan diamati. Tingkat
serta pola serangan rayap kayu kering pada komponen kayu struktural juga ditelaah.
Komponen kayu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari rumah kayu
tradisional berusia sepuluh tahun di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Karakteristik anatomi makroskopik dasar dari komponen kayu tersebut diamati
seperti kerapatan, berat jenis, dan MOE dinamis. SylvatestDuo® digunakan untuk
mengevaluasi keadaan komponen kayu actual melalui pendekatan perambatan
gelombang ultrasonik. Fitur perambatan gelombang (ToF dan kecepatan) kemudian
digunakan untuk merekonstruksi kondisi komponen kayu aktual melalui model tiga
dimensi serta untuk mengevaluasi tingkat serangan rayap kayu kering pada balok
struktural yang diamati. Setelah itu, pola serangan rayap kayu kering diamati secara
visual dan luasan penampang yang terserang dihitung secara kualitatif perangkat
lunak ImageJ.
Penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi komponen kayu dari rumah
tradisional berusia sepuluh tahun dapat dilakukan berbasis pendekatan gelombang
ultrasonik. Gelombang ultrasonik pada balok kayu struktural terserang rayap kayu
kering dari rumah kayu tradisional berusia sepuluh tahun memiliki waktu tempuh
(ToF) dan kecepatan gelombang yang berbeda secara signifikan pada tiga arah
pengukuran, tetapi energi puncaknya serupa. ToF dan kecepatan rambat tertinggi
diperoleh dari arah pengukuran bidang aksial-z atau longitudinal. Kecepatan
gelombang ultrasonik berbanding terbalik dengan waktu tempuh; dengan demikian,
semakin cepat gelombang merambat, waktu transmisi akan semakin rendah.
Tingkat serangan rayap kayu kering diklasifikasi berdasarkan kecepatan
rambat gelombang ultrasonik. Tingkat serangan rayap kayu kering pada balok kayu
struktural dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu suara untuk balok yang tidak
terserang (Vus> 5500 m/s), balok dengan tingkat serangan rendah > 25% (2857 m/s
50% (1535 m/s < Vus <
2857 m/s), dan balok dengan tingkat serangan berat > 75% (Vus < 1535 m/s).
Tingkat serangan rayap kayu kering pada balok yang diamati dari rumah kayu
tradisional berumur sepuluh tahun bervariasi dari rendah hingga berat.
Pola serangan rayap kayu kering dari balok kayu yang diperiksa adalah
sebagai berikut: serangan terjadi secara longitudinal (ke-arah panjang) mengikuti
orientasi serat kayu, liang gerek berbentuk lingkaran yang terdiri dari bekas makan
memanjang dengan diameter berkisar antara (0,08 - 3,91) cm, tidak ditemukan
queen chamber, frass atau serbuk gerek rayap kayu kering ditemukan di
sepanjangliang gerek. Jumlah rayap kayu kering yang menempati balok kayu
berkisar antara 1800 - 2200 individu per 4050 cm3 - 19470 cm3. Setiap sentimeter
kuadrat diperkirakan ditempati oleh 0,6 hingga 1 individu rayap kayu kering jika
tersebar secara merata
Pengelolaan Tebu (Saccharum officinarum L.) di Wilayah Kerja PG Madukismo, PT Madubaru, Yogyakarta dengan Aspek Khusus Perbanyakan Bibit dengan Bibit Satu Mata
Produksi gula Indonesia masih rendah sehingga perlu di tingkatkan. Salah
satunya dengan penggunaan bibit bagal satu mata (SBP). Tujuan kajian adalah
mempelajari dan menganalisis perbanyakan bibit metode SBP melalui
perbandingan produktivitas, rendemen dan analisis usahatani tebu SBP dengan
bagal 2-3 mata (konvensional). Kegiatan magang dilaksanakan di PG Madukismo,
PT Madubaru, Yogyakarta dari 20 Januari hingga 11 April 2020. Hasil kajian
menunjukkan perbanyakan bibit metode SBP lebih baik dibandingkan dengan
metode bagal konvensional. Produktivitas dari metode SBP nyata lebih tinggi
dibandingkan bagal konvensional. Hasil analisis rendemen untuk perbanyakan bibit
metode SBP dan bagal konvensional tidak berbeda nyata namun nilai rendemen
dari metode SBP lebih besar dibandingkan dengan bagal konvensional. Nilai b/c
ratio dan r/c ratio untuk analisis usahatani dari metode SBP lebih tinggi
dibandingkan bagal konvensional. Kendala penerapan perbanyakan bibit
menggunakan metode SBP oleh petani adalah minimnya pengetahuan terkait
pembuatan SBP dan besarnya biaya diawal kegiatan budidaya
Karakteristik Rumput Laut Coklat Sargassum sp. Sebagai Sediaan Bahan Baku Pembuatan Garam Rumput Laut Fungsional
Rumput laut cokelat mengandung berbagai metabolit seperti karotenoid,
laminarin, alginat, fukoidan, manitol dan florotanin. Pemanfaatan rumput laut
coklat salah satunya yaitu sebagai bahan baku garam rumput laut. Rumput laut
memiliki mineral K yang dominan serta komponen senyawa polifeno (flavonoid)
dan antioksidan yang kuat sehingga dapat dijadikan sebagai bahan baku sediaan
garam rendah natrium beraktivitas antioksidan. Penelitian ini diberi perlakuan
berupa perbedaan suhu pengeringan (100, 125 dan 150 ºC) dan waktu pengeringan
(160, 175, dan 190 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa garam rumput laut
Sargassum sp dengan perlakuan suhu 125 oC dengan waktu selama 190 menit
menghasilkan rasio Na:K terbaik. Senyawa bioaktif yang terdapat pada garam
rumput laut adalah flavonoin, fenol hidrokuinon dan saponin. Aktivitas antioksidan
pada garam rumput laut tergolong lemahn dengan nilai IC50 berkisar dari 153.32-
182.92 mg/kg
Analisis Keberlanjutan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis di Kabupaten Bogor
Layanan keuangan mikro merupakan salah satu pendekatan yang
berpotensi besar untuk mengurangi kemiskinan dengan memberikan layanan
keuangan kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah. Lembaga Keuangan
Mikro Agribisnis (LKMA) merupakan lembaga yang memberikan pelayanan
pembiayaan kepada petani di perdesaan. Namun dalam perkembangannya, lembaga
keuangan mikro agribisnis ini mengalami masalah dalam keberlanjutan. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis keberlanjutan finansial LKMA dari sisi efisiensi
biaya, menganalisis keberlanjutan jangkauan LKMA, dan menganalisis faktorfaktor
yang mempengaruhi keberlanjutan LKMA.
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bogor. Teknik sampling yang
digunakan adalah purposive sampling, yakni LKMA yang memiliki laporan
keuangan selama 2 tahun (tahun 2016-2017). Hasil survei diperoleh sebanyak 15
LKMA. Metode penelitian untuk menganalisis keberlanjutan finansial dari sisi
efisiensi menggunakan pendekatan parametrik metode Stochastic Frontier Analysis
(SFA). Analisis jangkauan menggunakan analisis deskriptif. Analisis faktor-faktor
yang mempengaruhi keberlanjutan LKMA diidentifikasi dengan menggunakan
regresi panel.
Hasil penelitian menunjukkan nilai efisiensi LKMA di Kabupaten Bogor
hampir mendekati 100%, yang berarti kinerja keuangan LKMA di Kabupaten
Bogor sangat efisien. Sebagian besar total biaya adalah dari biaya tenaga kerja.
Terdapat beberapa LKMA yang mengalami penurunan volume pinjaman dan
terbatasnya jumlah modal yang dimiliki. Hal ini disebabkan karena rendahnya
tingkat pengembalian pinjaman, sehingga perguliran modal menjadi terhambat.
Selain itu insentif gaji tenaga kerja LKMA relatif kecil yang menyebabkan
pengurus tidak fokus untuk mengembangkan usaha LKMA.
Keberlanjutan jangkauan LKMA dilihat dari sisi jangkauan nasabah
menunjukkan sebagian besar LKMA mengalami peningkatan dalam jumlah
anggota LKMA. Peningkatan anggota terbanyak adalah LKMA Rukun Tani.
Sebagian besar peminjam aktif LKMA adalah petani. Masih banyaknya LKMA
yang belum memberikan layanan tabungan. Sebagian besar anggota LKMA hanya
menyimpan uang dalam bentuk simpanan pokok dan wajib saja.
Faktor total pinjaman, total modal dan umur LKMA berpengaruh positif
terhadap keberlanjutan LKMA. Hasil regresi panel dengan model interaksi pada
variabel total pinjaman terhadap wilayah menunjukkan ada pengaruh wilayah dalam
keberlanjutan sebesar 0,006 lebih besar di wilayah Bogor Tengah dibanding dengan
wilayah lainnya (taraf signifikansi 15 persen). Yang artinya total pinjaman di wilayah
Bogor Tengah berpengaruh lebih besar 0,006 kali terhadap keberlanjutan LKMA
dibandingkan wilayah lainnya