31665 research outputs found
Sort by
Diferensial Sel Darah Putih Ayam Broiler yang Diberi Jamu Kombinasi Molases, Garam, dan Ekstrak Daun Kemangi.
Pemberian antibiotik (Antibiotic Growth Promotor) atau AGP untuk ayam
broiler dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Dampak
negatif penggunaan AGP pada ayam adalah adanya residu antibiotik dalam
produk ayam yang bila dikonsumsi dapat menyebabkan resistensi bakteri terhadap
antibiotik. Jamu ternak yang terbuat dari herbal dan bahan-bahan lain dapat
digunakan sebagai pengganti AGP yang cukup ekonomis. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh pemberian jamu daun kemangi, garam, dan molases,
maupun kombinasinya terhadap diferensial sel darah putih pada ayam broiler.
Penelitian ini menggunakan 60 ekor ayam broiler strain Cobb yang dibagi secara
acak menjadi lima kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok yang diberi
molases, kelompok yang diberi garam, kelompok yang diberi ekstrak daun
kemangi, dan kelompok yang diberi kombinasi molases, garam, dan ekstrak daun
kemangi. Setiap kelompok terdiri dari 12 ekor. Konsentrasi pemberian kemangi,
molases, garam, dan jamu kombinasi sebesar 0.2% (0.2mL/100mL). Perlakuan
diberikan selama 17 hari, dimulai dari hari ke-15 sampai dengan hari ke-31.
Pengambilan sampel darah untuk diperiksa jumlah serta diferensial leukositnya
dilakukan melalui vena Axillaris pada hari ke-14 dan hari ke-32. Pemeriksaan
jumlah leukosit dilakukan dengan metode kamar hitung, sedangkan diferensial
leukosit diperoleh dengan metode ulas darah. Hasil pengamatan dianalisis
menggunakan analisis of varians (ANOVA). Pemberian molases, garam, ekstrak
daun kemangi dan kombinasi jamu mampu meningkatkan jumlah limfosit,
monosit, eosinofil serta dapat mempertahankan leukosit dan heterofil dalam
kisaran normal. Molases, garam, ekstrak daun kemangi dan kombinasi jamu juga
mampu mengurangi stres pada ayam broiler yang ditandai dengan penurunan rasio
H/L
Pengukuran Ketergantungan Nelayan Jaring Rampus Terhadap Kegiatan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Muara Angke Jakarta Utara.
Ketergantungan nelayan terhadap sumberdaya ikan merupakan salah satu
karakteristik upaya dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan yang bisa
meningkatkan kesejahteraan nelayan. Ketergantungan nelayan jaring rampus
terhadap sumberdaya ikan di Muara Angke sangat tinggi. Oleh sebab itu, perlu
perhatian pemerintah dan stakehoder lainnya dalam pemberdayaan nelayan jaring
rampus. Penelitian ini bertujuan 1) mendeskripsikan keragaan unit perikanan
jaring rampus, 2) mengukur ketergantungan nelayan jaring rampus terhadap
sumberdaya ikan di Muara Angke. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode survei dan wawancara secara langsung kepada nelayan. Penentuan sampel
menggunakan purposive sampling dengan sampel sebanyak 30 responden.
Analisis data yang digunakan adalah deskriptif dan skala Likert untuk mengukur
ketergantungan nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan jaring
rampus yang ada di Muara Angke Jakarta Utara masih memiliki unit perikanan
skala kecil dilihat dari armada penangkapan ikan rata-rata 3 GT dan ukuran mata
jaring rampus yang bervariasi, dimana ukuran yang didominasi digunakan oleh
nelayan adalah 1,75 inch dengan rata-rata panjang 14 piece. Ketergantungan
nelayan jaring rampus terhadap sumberdaya ikan dari keempat kriteria
diantaranya, biologi, ekonomi, sosial, dan teknologi maka dilihat dari nilai ratarata
skor total tertinggi yaitu pada kriteria biologi sebesar 4,71, sedangkan untuk
masing-masing kriteria lainnya berturut-turut sebesar ekonomi 3,87, sosial 4,13,
dan teknologi 1,85
Faktor-faktor yang Memengaruhi Penggunaan Agens Hayati oleh Petani.
Isu keamanan pangan menjadi perhatian dalam pengembangan produk
pertanian karena jika penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida, pupuk,
bahan pengawet lainnya di dalam proses produksi dan pascapanen tidak sesuai
aturan maka akan berdampak negatif pada manusia dan lingkungan. Sebagai
negara agraris, Indonesia harus mengikuti standar mutu dan standar keamanan
pangan yang diminta konsumen negara global, sehingga produk pertanian yang
kita ekspor dapat diterima di pasar global. Penggunaan agens hayati dalam usaha
tani diharapkan dapat mengatasi permasalahan organisme pengganggu tumbuhan
(OPT) yang terjadi di lapangan, sehingga produksi dan pendapatan petani
meningkat. Penggunaan agens hayati dalam bentuk biopestisida atau pestisida
biologi memberi banyak keuntungan untuk diterapkan petani karena mikroba
antagonis mudah untuk dikembangkan, mudah diaplikasikan, dan biayanya lebih
murah.
Penelitian bertujuan (1) untuk mengetahui status agens hayati di Indonesia,
(2) menganalisis faktor yang memengaruhi penggunaan agens hayati oleh petani,
dan (3) menganalisis hambatan teknis dan hambatan kebijakan yang dialami
peneliti dan produsen agens hayati di berbagai level dalam memproduksi agens
hayati.
Penelitian dilakukan bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2018 di
Kabupaten Tegal dan Kabupaten Nganjuk pada komoditas bawang merah, cabai,
dan padi. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei. Pengumpulan data
primer diperoleh dari petani dengan purposive sampling melalui wawancara
menggunakan kuesioner terstruktur kepada 60 petani responden, wawancara
mendalam dengan narasumber dari peneliti, produsen agens hayati skala besar dan
kecil sebanyak 20 orang responden. Data sekunder meliputi monografi kabupaten,
data yang berkenaan dengan agens hayati. Analisis data dilakukan secara
deskriptif dan menguraikan informasi yang diperoleh dari para responden dan
narasumber. Data hasil kuesioner ditabulasikan dengan Microsoft Excel 2010 dan
diolah menggunakan SPSS versi 22.0. Untuk melihat hubungan antara variabel
terikat dengan variabel bebas dilakukan analisis Chi square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan agens hayati oleh petani
dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan pelatihan pembuatan agens hayati. Jenis
agens hayati yang banyak digunakan petani reponden yaitu Trichoderma spp.
yang berasal dari Pos Pelayanan Agens Hayati setempat. Beberapa kendala dalam
diseminasi pengembangan agens hayati berbahan dasar mikroba di Indonesia
antara lain berasal dari petani, peneliti di lembaga penelitian dan perguruan tinggi,
perusahaan produsen, Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit Tanaman
Pangan dan Hortikultura, dan Pos Pelayanan Agens Hayati
Motivasi Bergabung dengan Sekolah Peternak Rakyat Tunas Barokah Bojonegoro.
Usaha peternakan sapi potong di Indonesia mayoritas merupakan kepemilikan rakyat. Populasi sapi potong di Kabupaten Bojonegoro mengalami pertumbuhan sebesar 8.10%per tahun sejak tahun 2014 hingga tahun 2017. Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) Tunas Barokah bertujuan meningkatkan kinerja dan pengetahuan peternak dengan kesejahteraan yang lebih baik. Upaya meningkatkan kinerja perlu didorong dengan adanya motivasi dari peternak. Oleh karena itu, perlu diidentifikasi motivasi peternak bergabung sebagai anggota SPR berdasarkan karakteristik peternak di Desa Soko. Penelitian ini menggunakan metode observasi langsung dan wawancara yang melibatkan responden sebanyak 30 anggota peternak SPR. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis secara deskriptif dan dilihat hubungannya dengan menggunakan analisis statistik korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 3 motivasi peternak bergabung dengan SPR diantaranya adalah berdasarkan kebutuhan dasar, hubungan sosial, dan etos kerja. Etos kerja memiliki nilai tertinggi diantara faktor motivasi lainnya disebabkan rasa kepercayaan diri untuk meningkatkan kinerja peternak sangat tinggi. Faktor karakteristik peternak juga dapat mempengaruhi motivasi peternak. Faktor tersebut diantaranya umur, pendidikan, pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga, dan lama bergabung SPR. Terdapat pengaruh yang nyata antara tingkat pendidikan dengan hubungan sosial peternak. Pendidikan membuka wawasan setiap peternak dalam menjalin komunikasi dan interaksi yang aktif dengan banyak peternak lainnya
Efek Ekstrak Daun Torbangun (Coleus amboinicus Lour) terhadap Ekspresi Gen Pengatur Homeostasis Glukosa pada Tikus Hiperglikemia.
Salah satu jenis gangguan metabolisme banyak dijumpai adalah diabetes mellitus (DM). Gangguan ini merupakan kondisi hiperglikemia kronis yang disebabkan oleh berkurangnya produksi atau kerja insulin. Gejala yang umum terjadi abnormalitas dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat adanya gangguan pada sekresi insulin, sensitivitas terhadap insulin, atau keduanya. Torbangun (Coleus amboinicus Lour) telah dilaporkan mampu menurunkan kadar glukosa darah pada tikus percobaan namun mekanismenya secara molekuler belum diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek ekstrak daun Torbangun terhadap ekspresi gen pengatur homeostasis glukosa pada tikus hiperglikemia.
Tahapan penelitian meliputi penanaman Torbangun, pemanenan, dan pengeringan daun Torbangun. Tahap berikutnya adalah analisis kadar air simplisia, analisis kandungan total flavonoid ekstrak daun Torbangun, pengukuran aktivitas antioksidan ekstrak daun Torbangun, dan uji pada hewan untuk menganalisis efek pemberian ekstrak terhadap kadar glukosa darah, kadar insulin serum, antioksidan enzimatis, sel- pankreas, kadar glikogen hati dan otot, serta analisis efek ekstrak daun Torbangun terhadap ekspresi gen homeostasis glukosa.
Rancangan percobaan pada hewan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Tikus yang dipilih adalah tikus normal dewasa Sprague Dawley berumur delapan minggu sebanyak 25 ekor. Tujuh ekor tikus dipisahkan sebagai kelompok normal (N) dan tikus lainnya diinjeksi streptozotocin (STZ). Konfirmasi hiperglikemia terjadi pada hari ke tiga pasca induksi, ditandai dengan glukosa darah puasa (GDP) >126 mg/dl. Tikus hiperglikemia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu H-IM (kontrol obat metformin hidroklorida dosis 62.5 mg/kg BB), H-IT (ekstrak daun Torbangun dosis 620 mm/kg BB), dan kelompok NG (kontrol negatif). Tikus coba diberikan intervensi selama 14 hari dan sediaan diberikan melalui oral. Pengukuran kadar glukosa darah dan penimbangan dilakukan pada hari ke- 0, 1, 4, 7, 10, 14 pasca induksi STZ. Nekropsi dilaksanakan pada hari ke-15 untuk selanjutnya dilakukan pengukuran serum insulin, aktivitas antioksidan enzimatis (SOD, CAT, dan GPx), histopatologi pankreas, glikogen hati, glikogen otot, dan ekspresi gen PEPCK, G6Pase, dan GLUT4. Data hasil pengukuran parameter yang diperoleh dianalisis dengan uji beda-t untuk melihat perbedaan antara sebelum dan sesudah perlakuan, serta sidik ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 99% untuk melihat ada tidaknya pengaruh perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan rendemen simplisia daun Torbangun pada penelitian ini adalah sebesar 7.99±0.55%. Ekstraksi daun Torbangun menghasilkan rendemen sebesar 4.69% dengan kandungan total flavonoid 3.91±0.00%, dan memiliki aktivitas antioksidan 306.28±0.087 ppm/1ppm vitamin C. Uji pada hewan membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun Torbangun sebanyak 620 mg/kgBB pada kelompok H-IT secara signifikan mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus dari 155.83±96 ke 105.17±5.043 (p=0.005, =0.01) dan
meningkatkan deposit glikogen hati (p=0.001, =0.01) serta secara nyata (p=0.000, =0.01) menstimulasi peningkatan produksi insulin hampir sama efektifnya dengan metformin dengan dosis 62.5 mg/kgBB. Pemberian ekstrak daun Torbangun pada kelompok H-IT tidak signifikan mempengaruhi penurunan pada sel-α, tetapi menunjukkan adanya perbaikan sel-β. Terjadi peningkatan aktivitas antioksidan enzimatis SOD dan GPx, namun terjadi penurunan pada aktivitas CAT pada kelompok yang dilakukan pemberian ekstrak daun Torbangun. Hasil analisis ekspresi gen menunjukkan bahwa kelompok H-IT menunjukkan penurunan ekspresi gen PEPCK sebesar 0.80 kali dan G6Pase sebesar 0.65 kali dibanding kelompok NG. Di sisi lain, terjadi peningkatan ekspresi gen GLUT4 sebesar 1.58 kali dibandingkankan kelompok NG.
Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun Torbangun mampu memberi efek pada peningkatan aktivitas antioksidan enzimatis SOD dan GPx; penurunan antioksidan CAT; peningkatan produksi insulin; peningkatan deposit glikogen; perbaikan sel-β pankreas; penurunan kadar glukosa darah; serta terlibat dalam mekanisme penghambatan ekspresi gen PEPCK dan G6Pase; dan peningkatan ekspresi gen GLUT4.
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengonfirmasi manfaat ekstrak daun Torbangun dalam peningkatan efisiensi kerja insulin penderita DM. Selain itu, perlu juga dilakukan analisis protein yang dihasilkan untuk mengonfirmasi data ekspresi gen pada tingkat transkripsi yang telah dilakukan pada penelitian ini. Selanjutnya, dapat dilakukan riset lebih jauh untuk menguji manfaat Torbangun sebagai pencegahan dan pengendalian DM dengan studi klinis pemberian daun Torbangun dalam bentuk produk pangan fungsional kepada pasien DM
Kualitas Daging Sapi Bali Asal Kupang Selama Distribusi dari Rumah Potong Hewan Sampai ke Konsumen
Daging sapi merupakan salah satu hasil ternak sumber protein hewani yang
tinggi. Daging memiliki kandungan protein, kadar air dan pH yang cukup tinggi
sehingga mudah diserang oleh mikroba dan menyebabkan kerusakan pada daging.
Kualitas dan keamanan daging dapat ditentukan dari pelaksanaan distribusi daging
mulai dari rumah potong hewan hingga sampai di terima konsumen. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis kualitas fisikokimia dan mikrobiologi serta
organoleptik daging sapi bali selama rantai distribusi daging dari rumah
pemotongan hewan sampai ke konsumen.
Penelitian ini menggunakan sebanyak enam ekor sapi bali asal Kupang,
Nusa Tenggara Timur yang diangkut dengan kapal ternak Camara Nusaantra dari
Kupang menuju Tanjung Priok kemudian dipotong di RPH Jatimulya Bekasi.
Pemotangan sapi bali dilakukan sebanyak tiga kali dengan waktu pemotongan
yang berbeda yaitu pemotongan ke-1, ke-2 dan ke-3. Perlakuan pada penelitian ini
adalah mendistribusikan daging sapi pada tiga titik distribusi: (1) RPH (Daging
dikemas untuk dianalisis); (2) Pasar (Daging di pasar tradisional dikemas dan
dianalisis); dan (3) Konsumen (daging yang dibeli oleh konsumen kemudian
disimpan selama 3 hari dalam freezer). Uji organoleptik daging sapi selama
distribusi melibatkan 42 panelis untuk menilai mutu hedonik dan hedonik daging
sapi dengan parameter warna, aroma, keeampukan dan tekstur. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan. Data hasil
fisikokimia, mikrobiologi dan organoleptik dianalisis dengan analisis sidik ragam
untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan. Apabila terdapat perbedaan antar
perlakuan dilakukan uji Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas fisikokima daging sapi selama
proses distribusi memiliki nilai pH daging sapi dalam kisaran normal 5.43-5.57,
warna daging merah sangat cerah sampai merah cerah, daya mengikat air
37.1%-38.9%, dan keempukan 6.2-8.8 kg cm-2 serta susut masak daging 46.76%-
49.82%. Kualitas mikrobilogi daging sapi selama distribusi menunjukkan jumlah
bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella sp, dan total plate
count tidak sesuai standar nasional Indonesia. Hasil analisis organoleptik daging
dari uji hedonik dan mutu hedonik daging sapi dapat diterima panelis dari segi
warna, aroma, keempukan dan tekstur. Kesimpulan dari penelitian ini
menunjukkan kualitas fisikokimia dan organoleptik daging sapi selama distribusi
berada dalam kisaran normal namun kualitas mikrobiologi daging sapi selama
proses distribusi tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia mengenai mutu
karkas dan daging sapi. (SNI 3932:2008)
Analisis Pengaruh Pembiayaan Perbankan Sektor Ekonomi Produktif terhadap Tingkat Kemiskinan di Indonesia
Tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami perlambatann laju penurunan
dalam beberapa tahun terakhir, sedangkan penyaluran dana (kredit atau
pembiayaan) dari perbankan meningkat signifikan. Hal ini tidak sesuai dengan yang
diharapkan dalam teori bahwa pembiayaan atau kredit sektor ekonomi produktif
mampu berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis pengaruh dari variabel pembiayaan atau kredit produktif
perbankan dan variabel makroekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia.
Data yang digunakan adalah data sekunder time series bulanan dari Juni 2006
hingga Desember 2018 dengan analisis VECM. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan.
Sedangkan variabel inflasi dan nilai tukar berpengaruh positif terhadap kemiskinan
Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Green Kosmetik Innisfree di Jakarta.
Innisfree merupakan merek kosmetik dari Korea Selatan yang memiliki
konsep produk yang natural dan mengambil manfaat dari alam. Produk Innisfree
merupakan produk yang peduli terhadap lingkungan, diambil dari bahan dasar
alami. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik
konsumen, mengidentifikasi proses keputusan pembelian konsumen, dan
menganalisis tingkat kepuasan konsumen. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis deskriptif, IPA dan CSI.
Berdasarkan penelitian mayoritas konsumen Innisfree adalah perempuan,
berusia 17-25 tahun, berpendidikan terakhir perguruan tinggi, pekerjaan sebagai
pegawai swasta, pendapatan lebih dari Rp 5 000 000 per bulan. Berdasarkan
analisis CSI, kepuasan konsumen 85.45 persen yang artinya konsumen “sangat
puas‟, sedangkan berdasarkan analisis IPA atribut yang memiliki prioritas
perbaikan tertinggi “Manfaat” bagi konsumen
Pengembangan Modul Interaktif dalam Menanggulangi Penyebaran Berita Hoaks pada Digital Natives
Penyebaran berita hoaks di Indonesia sangat tinggi hingga 800 ribu konten
pertahun. Hal ini sangat berbahaya bagi para digital natives yang belum memiliki
kepiawaian dalam membedakan antara berita hoaks dan berita asli. Para digital
natives dapat menjadi korban maupun pelaku dari penyebaran berita hoaks, karena
para digital natives menganggap menyebaran berita hoaks merupakan salah satu
cara untuk mengekspresikan diri dan bersosialisasi. Selain itu digital natives dapat
menjadi pelaku pembuatan berita hoaks untuk menghasil uang dari berita yang
dibuat. Berita hoaks dapat menimbulkan efek samping terhadap para korbannya
yaitu orang yang sering terpapar berita hoaks merasakan tingkat kepercayaan yang
tinggi terhadap konten berita hoaks. Kepercayaan terhadap berita hoaks akan
semakin meningkat ketika orang tersebut mendapatkan koreksi yang benar
meskipun digital natives tahu berita tersebut palsu. Tujuan dari penelitan ini yaitu
mengembangkan modul interaktif yang berisikan informasi mengenai berita hoaks
untuk memberikan edukasi kepada digital natives.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Model ADDIE yang tediri
dari Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evalution. Pada tahap
analysis peneliti menganalisis berbagai framework yang digunakan seperti
Chalenging Learning Fake News Lesson Plan sebagai standar kompetensi, BC’s
Digital Literacy Framework dan Fake News Curriculum California State
University sebagai kompetensi dasar dan megumpulkan berbagai literatur yang
bertemakan hoaks. Pada tahap design peneliti membuat rancangan modul
interaktif yaitu Garis Besar Isi Media (GBIM), peta materi dan storyboard.
Selanjutnya masuk kedalam tahap development yang merupakan tahap pembuatan
dari modul interaktif. Setelah itu masuk kedalam tahap implementation yang
merupakan tahap uji coba dari modul interaktif yang telah dikembangkan. Pada
tahap ini juga dilakukan pre test dan post test untuk megetahui tingkat perubahan
pengetahuan siswa sebelum dan sesudah diberi pemaparan modul interaktif.
Terakhir yaitu tahap evaluation pada tahap ini semua data yang didapat seperti data
pre test dan post test dan uji kelayakan dianalisis untuk mengetahui kelayakan
modul interaktif dan tingkat pengetahuan siswa.
Hasil penelitian mengenai karakteristik penggunaan Information and
Communications Technology (ICT) digital natives menunjukan bahwa smartphone
merupakan salah satu media yang paling efektif dalam memberikan edukasi berita
hoaks karena semua siswa memiliki smartphone. Hampir setengah dari siswa
menggunakan perangkat teknologi selama 1 sampai 5 jam/hari, meskipun terdapat
beberapa siswa yang menggunakannya selama 5 sampai 10 jam/hari dan lebih dari
10 jam/hari. Kegiatan yang paling sering siswa lakukan pada saat membuka internet
jika diurutkan dari yang memiliki persentase terbesar hingga terkecil yaitu chating,
mencari sumber informasi, mengakses media sosial, menonton online,
upload/download, belajar, bermain game online, belanja online , dan mengirim
email.
Hasil dari penilaian pengguna terhadap modul interaktif bertemakan berita
hoaks yang dikembangkan menggunakan Model ADDIE yang diujicobakan
terhadap terhadap 31 orang siswa kelas X IPS 2 SMAN 4 Tasikmalaya
mendapatkan rata-rata skor penilaian sebesar 3.3 dengan kategori baik. Dapat
disimpulkan modul interaktif layak untuk dipublikasikan kepada khalayak umum
dan digunakan sebagai sumber belajar untuk meningkatkan literasi digital kepada
generasi digital natives khususnya siswa dalam mengatasi penyebaran berita hoaks.
Modul interaktif memberikan informasi seputar definisi dari berita hoaks, jenisjenis
berita hoaks, media yang digunakan untuk penyebaran berita hoaks, dampak
dari penyebaran berita hoaks, manfaat penyebaran berita asli, hukuman bagi
penyebar berita hoaks, cara membedakan berita hoaks, dan berbagai aplikasi yang
dapat digunakan untuk mengecek kebenaran dari berita hoaks.
Materi yang dimasukan ke dalam modul interaktif diambil dari draf modul
yang berjudul Mari Mengenali Berita Hoaks. Materi yang dimasukan pada modul
interaktif merupakan poin-poin penting dari modul cetak karena keterbatasan waktu
dari modul interaktif yang tidak lebih dari 6 menit, karena dalam pembuatan video
konten Youtube maupun internet semakin pendek durasi video maka semakin baik.
Pada saat pembelajaran digital natives dapat menggunakan modul interaktif
bersamaan modul cetak sebagai media tambahan untuk mendapatkan materi yang
lebih lengkap. Selain itu, media pendukung lainnya seperti ppt berita hoaks dan
poster dapat digunakan oleh para digital natives untuk lebih mudah dan cepat dalam
memahami informasi yang diberikan mengenai berita hoaks.
Hasil pre test dan post test yang dilakukan terhadap siswa diperoleh nilai
signifikansi 0.000 < 0.05 maka terdapat peningkatan pengetahuan setelah siswa
diberikan pemaparan menggunakan modul interaktif. Modul Interaktif dapat
meningkatkan rata-rata nilai siswa dibandingkan dengan modul konvensional yang
hanya berupa dalam bentuk tulisan karena modul interaktif dapat meningkatkan
rasa senang dan ketertarikan siswa terhadap materi yang diberikan
Stimulasi Pematangan Gonad Ikan Belanak (Mugil dussumieri) Menggunakan Hormon MT, E2, HCG dan Ovaprim.
Ikan belanak (Mugil dussumieri) dari famili Mugilidae mempunyai prospek untuk dibudidayakan terutama di daerah tropis. Ikan ini belanak memiliki penyebaran geografis yang sangat luas dan bersifat katadromous serta memiliki kemampuan beradaptasi dalam berbagai salinitas dan suhu, selain itu dapat menyesuaikan terhadap berbagai makanan di berbagai macam habitat dan memiliki pertumbuhan yang cepat serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Ikan belanak memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap berbagai lingkungan sehingga sesuai untuk domestikasi spesies ke air tawar, air payau dan air asin dalam budidaya.
Ikan belanak merupakan detritus feeder yang secara efisien memperoleh makanan pada detritus dan bahan organik. Ikan belanak berperan penting dalam mengurangi kandungan bahan organik dari air dan sedimen kolam serta memperbaiki parameter kualitas air. Kebiasaan makan ikan belanak tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi kelimpahan parasit oportunistik yang bergantung pada limbah organik seperti parasit eksternal udang yaitu Zoothamnium sp. dan Epistylis sp..
Budidaya di Indonesia didominasi oleh ikan karnivora (udang dan ikan kerapu) dan omnivora (ikan nila dan mas). Saat ini belum ada budidaya ikan detritivora untuk memanfaatkan sisa-sisa pakan dan buangan dari budidaya ikan karnivora dan omnivora. Ikan belanak merupakan salah satu jenis ikan detritivora yang berpotensi untuk dibudidayakan namun belum dilakukan domestikasi sehingga benihnya belum tersedia di pembenihan. Ikan belanak dapat digunakan sebagai pembersih lingkungan dan sumber protein, sehingga sudah selayaknya digali potensinya agar menjadi komoditas baru bagi budidaya perairan.
Penelitian merupakan rintisan untuk menghasilkan benih ikan belanak dalam wadah budidaya. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pematangan gonad ikan belanak (Mugil dussumieri) menggunakan hormon. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan dan tiga kali ulangan individu. Terdapat dua percobaan dengan perlakuan berbeda dan dilakukan secara terpisah. Percobaan pertama menggunakan ikan berukuran 9-14.7 cm dengan hormon 17α-metiltestosteron (MT) 4 mg kg-1, estradiol-17β (E2) 0.07 mg kg-1 dan kontrol larutan fisiologis 0.9 % 0.5 ml kg-1. Percobaan kedua menggunakan ikan berukuran 10-31 cm dengan Human Chorionic Gonadotropin (HCG) 750 IU kg-1, ovaprim 0.5 ml kg-1 dan kontrol larutan fisiologis 0.9 % 0.5 ml kg-1.
Wadah yang digunakan yaitu tambak air payau 1000 m2 yang dilengkapi hapa berukuran 2 x 1 meter sebanyak tiga unit untuk masing-masing percobaan dengan kedalaman 110-120 cm. Masing-masing wadah berisi 13 ekor yang telah diaklimatisasi selama sepuluh hari. Pakan yang diberikan berupa pakan tenggelam dengan formulasi kandungan protein 32 %, Persentase pemberian pakan harian 1 % dari berat tubuh ikan dengan frekuensi pemberian dua kali per hari yaitu pada pukul 11.00 dan 17.00. Ikan belanak dipelihara selama 60 hari.
3
Percobaan pertama nilai Gonado Somatic Index (GSI) pada hari ke-60 menunjukkan bahwa pemberian estradiol-17β (1.31 ± 0.94 %) lebih tinggi dibandingkan 17α-metiltestosteron (1.00 ± 0.51 %) dan kontrol (0.54 ± 0.20 %). Hasil percobaan kedua pada hari ke-60 nilai GSI menunjukkan bahwa pemberian HCG (7.18 ± 0.59 %) lebih tinggi dibandingkan ovaprim (3.29 ± 2.66 %) dan kontrol (6.72 ± 0.32 %). Nilai Hepato Somatic Index (HSI) percobaan pertama pada hari ke-30 dan 60 tidak berbeda nyata, tetapi pada hari ke-0 lebih tinggi dibandingkan hari ke-30 dan 60. Hasil percobaan kedua menunjukkan nilai HSI pada hari ke-0, 30 dan 60 tidak berbeda nyata, tetapi pada hari ke-30 menurun dan pada hari ke-60 meningkat lagi. Sebaran frekuensi diameter telur untuk 17α-metiltestosteron menunjukkan kisaran 16-240 μm lebih tinggi dibandingkan estradiol-17β dengan kisaran 9-209 μm dan kontrol 16-80 μm pada hari ke-60. Sebaran frekuensi diameter telur pada percobaan kedua untuk kontrol hari ke-30 menunjukkan kisaran 9-144 μm, HCG 9-441 μm sedangkan ovaprim hanya 9-111 μm. Ukuran diameter telur pada HCG lebih tinggi dibandingkan ovaprim dan kontrol.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi hormon 17α-metiltestosteron dan estradiol-17β pada ikan belanak ukuran 9-14.7 cm dapat meningkatkan kematangan gonad TKG I sampai TKG II sedangkan induksi hormon HCG pada ikan belanak ukuran 10-31 cm dapat meningkatkan kematangan gonad TKG I sampai TKG III