31665 research outputs found
Sort by
Identifikasi dan Karakterisasi Bakteri Rumen yang Memiliki Aktivitas Enzim Selulase
Bakteri rumen memiliki banyak potensi untuk dikembangkan sebagai probiotik
dan sumber enzim. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh isolat bakteri yang
memiliki enzim selulase dengan aktivitas selulolitik tinggi. Isolat bakteri diisolasi
menggunakan metode hungate pada rumen sapi PO Bioteknologi LIPI Cibinong.
Hasil identifikasi berdasarkan sekuen gen 16S rRNA menunjukkan bahwa isolat
yang memiliki aktivitas selulolitik tertinggi dengan indeks selulolitik 3.39 adalah
Lactobacillus sp. Perlakuan pada pengujian karakter aktivitas enzim ialah suhu 40,
50, 60 0C dan pH 5, 6, 7, 8. Hasil uji aktivitas enzim menunjukan bahwa suhu dan
pH optimum aktivitas enzim kasar pada supernatan adalah 50 oC dan pH 8 dengan
aktivitas masing-masing sebesar 0.0233 U/ml dan 0.0290 U/ml
Variasi Karakter Morfometrik Lamun Cymodocea rotundata di Perairan Desa Teluk Bakau Pulau Bintan.
Lamun mendapatkan makanan dengan cara menyerap nutrien di lingkungan
terutama di sedimen melalui sistem akar. Tingginya kandungan nutrien di sedimen
bergantung pada tipe substrat dan kedalaman sehingga mempengaruhi
pertumbuhan lamun. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara karakter
morfometrik lamun Cymodocea rotundata dan karakteristik fisika kimiawi
sedimen. Pengumpulan data lamun dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat
50 cm x 50 cm. Pengambilan sampel sedimen menggunakan sediment core yang
terbuat dari pipa PCV berdiameter 5 cm dan panjang 25 cm, kemudian sampel
dianalisis di laboratorium untuk mengetahui konsentrasi karbon, nitrat, fosfat, dan
ukuran sedimen. Analisis karakter morfometrik lamun Cymodocea rotundata
terhadap fisika kimia sedimen menggunakan analisis komponen utama (Principal
Component Analysis, PCA). Terdapat 8 jenis lamun yang ditemukan di perairan
Desa Teluk Bakau yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Syringodium
isoetifolium, Halophila minor, Halophila ovalis, Halodule uninervis, Enhalus
acoroides, dan Thalassia hemprichii. Kerapatan lamun tertinggi ditemukan pada
Stasiun tiga yaitu 409 Ind/m2. Hasil pengukuran karbon sedimen di stasiun
pengamatan berkisar 0,35 – 1,541 %, kandungan nitrat berkisar 100 – 400 mg/L,
dan kandungan fosfat berkisar 32,81 – 59 mg/L. Hasil fraksinasi sedimen
didapatkan bahwa sedimen di perairan Desa Teluk Bakau memiliki ukuran butir
yang bervariasi sehingga banyak ditemui jenis lamun yang berbeda. Terdapat
kedekatan yang tinggi antara karakteristik fisika kimia sedimen terhadap karakter
morfometrik lamun Cymodocea rotundata dengan ragam total sebesar 78,62 %.
Hasil ini menerangkan bahwa morfometrik lamun Cymodocea rotundata
dipengaruhi oleh kondisi fisika dan kimia sedimen. Kandungan nutrien yang tinggi
dapat mempengaruhi panjang daun, lebar daun, dan panjang akar
Perlakuan Uap Panas dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Buah Melon (Cucumis melo L.) Selama Penyimpanan
Melon sangat terkenal di masyarakat Indonesia karena rasanya yang manis serta
kaya akan zat gizi dan juga berpotensi sebagai komoditas ekspor. Ekspor buah
termasuk melon perlu menerapkan perlakuan karantina yang benar untuk disinfestasi
hama / penyakit. Hama / penyakit yang biasa menyerang buah melon adalah lalat buah
jenis Bactrocera dorsalis (oriental fruitfly) dan Bactrocera cucurbitae (melon fly) serta
penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan. Salah satu jenis teknik karantina
yang tepat diterapkan pada buah melon adalah perlakuan uap panas (vapor heat
treatment / VHT). Dalam penerapan teknik VHT ini, suhu bagian dalam buah melon
harus mencapai suhu yang dibutuhkan untuk membunuh telur lalat buah yang
terinfestasi di dalam buah. Namun, mengukur suhu daging tanpa merusak buah melon
itu sendiri sangat sulit dilakukan sehingga diperlukan suatu persamaan matematis yang
dapat menggambarkan penyebaran suhu didalam buah selama proses VHT, salah
satunya ialah dengan menggunakan metode finite difference. Suatu perlakuan yang
diberikan kepada suatu komoditas terkadang dapat menyebabkan penurunan mutu yang
tidak dapat diketahui secara langsung setelah komoditas itu diberi perlakuan, sehingga
diperlukan pengamatan mutu secara berkala terhadap komoditas tersebut selama
penyimpanan.
Penelitian ini dilakukan dengan 2 tahapan penelitian. Tahap pertama ialah
melakukan simulasi program penyebaran panas di dalam buah melon menggunakan
program Visual Basic 6.0 berdasarkan sifat-sifat termofisik sampel buah melon sebagai
nilai masukan (input). Hasil simulasi tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil
pengukuran langsung menggunakan termokopel yang ditempatkan pada 3 titik
pengamatan yaitu permukaan buah, setengah tebal daging buah, dan daging buah paling
dalam. Setelah dibandingkan, dilakukan verifikasi model dengan melihat nilai
koefisien determinasi (R2) dan Root Mean Square Error (RMSE) dari data tersebut.
Tahapan kedua ialah pengamatan mutu melon yang telah diberikan VHT setiap 4 hari
selama 24 hari. Terdapat 4 taraf percobaan yaitu VHT selama 10 menit, 20 menit, 30
menit pada suhu 46.5oC, dan kontrol. Pengamatan yang dilakukan meliputi laju
respirasi, susut bobot, kekerasan, total padatan terlarut (TPT) dan warna buah meliputi
nilai L, a* dan b*.
Hasil verifikasi menunjukkan bahwa model cukup akurat dalam menduga suhu
buah dengan nilai R2 sebesar 0.9903 dan nilai RMSE sebesar 1.4054 oC. Dengan
demikian, program simulasi dengan menggunakan metode finite difference ini dapat
diterapkan untuk mensimulasikan penyebaran panas serta menduga suhu buah melon
selama proses VHT. Hasil pengamatan mutu selama 24 hari menunjukkan bahwa tidak
ada perbedaan nyata antara mutu buah melon yang diberikan perlakuan VHT dengan
kontrol dan setelah dibandingkan dengan mutu fisik melon SNI 7738:2013, seluruh
syarat mutu fisiknya terpenuhi. Perlakuan VHT selama 30 menit pada suhu 46.5oC
dianggap sebagai perlakuan terbaik karena dapat memberikan tingkat mortalitas 100%
pada lalat buah Bactrocera dorsalis dan dapat mempertahankan mutu buah
Identifikasi stingless bee (Hymenoptera: Apidae) asal Sulawesi berdasarkan karakteristik morfologi, sarang, dan DNA barcoding
Stingless bee memiliki tingkat keragaman yang tinggi dan wilayah distribusi yang luas di dunia. Indonesia sebagai bagian dari wilayah persebaran Indo-Malaya dan Australasia memiliki potensi tinggi sebagai habitat stingless bee karena iklim tropisnya. Keanekaragaman stingless bee di Indonesia telah tercatat di dalam Catalog Indo-Malayan dan Australasian stingless bee, namun masih terbatas di pulau-pulau yang termasuk ke dalam wilayah Sundaland. Eksplorasi stingless bee di Indonesia khususnya di wilayah Wallacea belum dilakukan secara menyeluruh.
Sebagai salah satu pulau yang berada di wilayah Wallacea, Sulawesi memiliki banyak hewan endemik termasuk stingless bee. Terdapat tujuh spesies stingless bee yang telah dilaporkan di Sulawesi yaitu Wallacetrigona incisa (Engel dan Rasmussen), Lepidotrigona terminata (Smith), Tetragonula fuscobalteata (Cameron), T. laeviceps (Smith), T. biroi (Friese), T. pagdeni (Schwarz), dan T. sapiens (Cockerell), namun ciri dari ketujuh spesies tersebut belum terdokumentasi secara lengkap sehingga sering ditemukan kesulitan pada saat proses identifikasi spesies. Identifikasi stingless bee dapat dilakukan dengan melihat ciri morfologi, arsitektur sarang, dan melalui pendekatan molekuler DNA barcoding. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keanekaragaman spesies stingless bee di Sulawesi melalui identifikasi morfologi, arsitektur sarang, dan DNA barcoding.
Koleksi sampel stingless bee dilakukan di tujuh lokasi yang terleteak di empat kabupaten di Sulawesi Selatan (Maros, Soppeng, Wajo, dan Luwu Utara) dan satu kabupaten di Sulawesi Barat (Polewali). Identifikasi morfologi dilakukan dengan mengamati karakter utama dari stingless bee yaitu warna tubuh, mesonotum, scutellum, propodeum, warna sayap, jumlah hammuli, hind tibia, dan hind basitarsus. Selain itu dilakukan pula pengukuran dari tujuh bagian tubuh stingless bee untuk analisis morfometrik menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Pengamatan arsitektur sarang dilakukan pada bagian lubang sarang dan susunan sel pengeraman. Tahap identifikasi melalui DNA barcoding meliputi Ekstraksi DNA, amplifikasi gen cytochrome c oxidase I (COI), dan sequencing DNA. Tahap analisis bioinformatik meliputi Basic Local Alignment Search Tool-Nucleotide (BLAST-N) di NCBI (www.ncbi.nml.nih.gov), translasi asam amino, analisis jarak genetik, konstruksi pohon filogenetik, dan analisis laju substitusi kodon.
Berdasarkan karakteristik morfologi, sampel stingless bee yang dikoleksi dari 44 koloni terdiri dari tiga spesies stingless bee berukuran kecil (= 4 mm) yaitu W. incisa dan L. terminata. Karakteristik morfologi yang teramati berhasil disusun menjadi kunci identifikasi stingless bee khusus untuk wilayah Sulawesi. Hasil analisis morfometrik juga menunjukkan adanya pengelompokan berdasarkan ukuran tubuh. Nilai total PC1 dan PC2 pada analisis morfometrik yaitu 88.75% dengan Eigen value tertinggi pada PC1 0.958 pada karakter panjang tubuh dan PC2 0.546 pada karakter lebar mata. Hal tersebut
menunjukkan bahwa karakter panjang tubuh dan lebar mata merupakan karakter yang berperan penting dalam pemisahan spesies pada analisis PCA.
Selain ciri morfologi, penelitian ini juga berhasil mengkarakterisasi tipe lubang sarang dan susunan sel pengeraman. Tipe lubang sarang stingless bee endemik W. incisa untuk pertama kalinya didokumentasikan dan dikarakterisasi pada penelitian ini, yaitu tipe celah longitudinal yang sempit dengan pelebaran gumpalan resin yang tebal dan keras. Tetragonula sapiens dan T. fuscobalteata memiliki tipe lubang sarang yang sama yaitu corong pendek dengan bentuk lubang elips, sedangkan T. aff. biroi memiliki tipe lubang sarang yang bervariasi yaitu corong pendek dengan ornamentasi tidak beraturan, corong memanjang dengan lubang yang lebar, dan warna resin berbeda-beda dan tipe corong silindris memanjang seperti pada L. terminata.
Selanjutnya penelitian ini berhasil mendapatkan sekuen gen COI dengan ukuran 759 – 846 bp dari empat spesies stingless bee yaitu T. sapiens, T. fuscobalteata, T. aff. biroi dan L. terminata. Analisis konstruksi pohon filogenetik pada ke-empat sekuen stingless bee penelitian ini dilakukan bersama dengan tiga sekuen gen COI Tetragonula dari GenBank (T. iridipennis, T. carbonaria, dan T. hockingsi). Hasil rekosntruksi pohon filogenetik juga menunjukkan adanya pengelompokan stingless bee berdasarkan ukuran tubuh. Kelompok stingless bee berukuran kecil terbagi menjadi dua cluster yaitu Indo-Malayan (T. fuscobalteata, T. aff. biroi, dan T. iridipennis) dan Australian Tetragonula (T. sapiens, T. hockingsi, dan T. carbonaria). Cluster yang terbentuk didukung oleh data persebaran stingless bee yang sesuai dengan wilayah persebaran Indo-Malaya dan Australasia. Hal tersebut menunjukkan bahwa gen COI dapat digunakan untuk menganalisis hubungan evolusi dan kekerabatan antara stingless bee di wilayah Indo-Malaya dan Australasia.
Karakter lubang masuk sarang yang teramati tidak menunjukkan adanya pola yang berkaitan dengan pengelompokan spesies berdasarkan sekuen gen COI. Tetragonula sapiens dan T. fuscobalteata memiliki persamaan karakter lubang sarang, namun pada pohon filogenetik kedua spesies tersebut terletak pada cluster yang berbeda. Tetragonula fuscobalteata dan T. aff. biroi dengan tipe lubang sarang yang berbeda terletak pada cluster yang sama. Tipe susunan sel pengeraman semi-cluster pada T. sapiens mengelompok dengan tipe susunan sel pengeraman spiral comb (T. carbonaria) dan semi-comb (T. hockingsi), sedangkan tipe susunan sel pengeraman semi-comb pada T. aff. biroi mengelompok dengan tipe cluster T. fuscobalteata. Kondisi lingkungan (adanya predator, hujan, dan angin) dan material (sumber resin) yang tersedia dapat menyebabkan spesies yang berbeda memiliki tipe lubang masuk sarang yang sama atau spesies yang sama dapat memiliki tipe lubang masuk sarang yang berbeda.
Hasil eksplorasi dan data lokasi persebaran stingless bee pada penelitian ini diharapkan dapat membantu memperbaharui data keanekaragaman stingless bee di Indonesia khususnya di Sulawesi. Selain itu data morfologi, arsitektur sarang, dan sekuen gen COI pada masing-masing spesies diharapkan dapat membantu proses identifikasi spesies pada eksplorasi dan studi stingless bee selanjutnya
Profil Triasilgliserol pada Susu Formula di Indonesia.
Kandungan lemak air susu Ibu (ASI) menyumbang 45 – 50% energi bagi
bayi. Daya cerna lemak ASI lebih baik dibanding lemak susu hewan ruminansia
atau minyak nabati pada susu formula sehingga ASI sering dijadikan standar susu
formula. Studi mengenai lemak susu formula masih terbatas. Penelitian ini
bertujuan untuk karakterisasi profil triasilgliserol (TAG) dan mengidentifikasi
campuran minyak nabati pada susu formula di Indonesia. Penelitian dimulai
dengan identifikasi produk susu formula yang terdaftar di BPOM dan sampling
produk di pasar dengan teknik stratified random sampling, ekstraksi lemak (Folch
et al. 1957), analisis TAG (AOCS Ce 5b-89 2005 modifikasi), identifikasi jenis
minyak nabati menggunakan marker TAG berdasarkan literatur dan profil peak
TAG, analisis data menggunakan ANOVA (Duncan) untuk melihat perbedaan
antar kategori susu formula dan principle component analysis (PCA) untuk
melihat pola campuran minyak nabati. Sebanyak 50 sampel susu formula
diklasifikasikan berdasarkan kategori pangan 13.1 dan kelompok umur bayi yaitu
formula bayi (FB, n=11, 21%), formula lanjutan (FL, n=16, 32%), formula
pertumbuhan (FP, n=15, 30%), dan formula untuk keperluan medis khusus (FK,
n=8, 17%). Secara umum, kategori susu formula tidak memberikan perbedaan
nyata terhadap komposisi TAG (p≥0.05). TAG dominan yang ditemukan adalah
OOO, POO, POP, LLL, OLL, OLO, PLO, PLP, LaLaM, dan LaLaP/LaMM. FK
memiliki komposisi POO dan POP lebih rendah dari kategori lain (p<0.05). Hasil
identifikasi campuran minyak nabati pada susu formula berdasarkan marker dan
profil peak TAG menemukan 9 pola campuran minyak nabati yang tersusun dari
olein sawit, bunga matahari tinggi oleat, kedelai, kelapa, kanola dan MCT
(medium chain trigliseride). Namun, MCT hanya ditemukan pada FK. Sebanyak
14 sampel yang mencantumkan jenis minyak nabati secara rinci pada label sesuai
dengan hasil identifikasi. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan dalam
formulasi lemak susu formula untuk tujuan klinis bagi bayi di masa yang akan
datang
Analisis Implementasi Kebijakan padaPengelolaan Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, DKI Jakarta
Hutan kota adalah suatu hamparan yang tumbuhannya berupa pohon-pohon
yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara
maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat berwenang.
Pengelolaan hutan kota oleh pengelola harus sesuai dengan Permenhut Nomor
P.71/Menhut-II/2009 tentang Pedoman Penyelenggaran Hutan Kota. Tujuan
penelitian ini adalah mengevaluasi implementasi kebijakan yang dilakukan oleh
Dinas Kehutanan DKI Jakarta sesuai dengan Permenhut terhadap pengelolaan
Hutan Kota Srengseng, Kota Jakarta Barat. Analisis implementasi kebijakan
dilakukan dengan metode purposive sampling untuk mencari kelompok responden
dan key informan, sedangkan metode snowball sampling dilakukan untuk mencari
responden dan informan. Hasil Analisis implementasi kebijakan pada pengelolaan
hutan kota Srengseng seluruhnya temasuk dalam kategori baik seperti kegiatan
pemeliharaan dan pemantauan terkategori dengan masing-masing nilai rata-rata
3.96. Secara keseluruhan implementasi kebijakan pada pengelolaan Hutan Kota
Srengseng tergolong baik dengan nilai rata-rata 3.92 dan mengacu pada
Permenhut tersebut di atas
Karakterisasi Molekuler Sekuen Parsial DNA Polimerase Hyposidra talaca Nucleopolyhedrovirus (HytaNPV)
Hyposidra talaca (Walker) adalah hama penting pada tanaman teh. Larva H. talaca adalah hama yang dapat menyebabkan kerugian antara 40-100% di musim kemarau jika kontrol yang tepat tidak dilakukan. H. talaca memiliki musuh alami seperti predator, parasitoid, dan patogen. Salah satu entomopatogen H. talaca adalah NPV. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh karakteristik molekuler melalui sekuens nukleotida isolat NPV yang berasal dari H. talaca yang dikumpulkan dari Kebun Teh Gunung Mas, PTPN 8, Bogor dengan teknik molekuler. Spesies yang sama dari lokasi yang berbeda dapat memiliki variabilitas genetik, oleh karena itu karakterisasi molekuler dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada sekuen DNA polimerase adalah salah satu cara untuk mempelajari genetik HytaNPV. NPV diisolasi dari larva H. talaca terinfeksi yang dikumpulkan dari lapangan. Isolat DNA digunakan sebagai cetakan untuk PCR untuk amplifikasi gen DNA polimerase dengan target amplikon ±1 000 pb. DNA hasil PCR disekuens untuk memperoleh data urutan nukleotida. Hasil sekuensing DNA polimerase HytaNPV disejajarkan dengan data BLAST Genbank untuk memberikan informasi tentang hubungan HytaNPV dengan NPV yang diisolasi dari daerah lain. Berdasarkan analisis urutan DNA polimerase, HytaNPV Bogor memiliki tingkat homologi 93.9% dengan HytaNPV yang diisolasi dari India. HytaNPV Bogor memiliki hubungan genetik dengan NPV yang menginfeksi Buzura suppressaria dari Cina dan Australia. HytaNPV Bogor sangat mirip dengan NPV yang menginfeksi H. talaca dari India
Analisis Spasial Kerusakan Padi Sawah Kelompok Tani Silih Asih 1 Desa Bojongpicung Kabupaten Cianjur
Padi merupakan bahan makanan pokok dari 90% penduduk Indonesia.
Namun hingga saat ini produksi padi sering mengalami penurunan. Salah satu
faktor penurunan produksi padi adalah adanya kerusakan padi yang disebabkan
oleh penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB). Analisis spasial dan teknologi
penginderaan jauh dapat dimanfaatkan secara langsung untuk memonitor
perkembangan kerusakan padi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sebaran
spasial kerusakan padi di lokasi penelitian berbasis pengukuran manual, nilai
reflektan, dan citra multispektral, menganalisis pola reflektan kerusakan padi pada
spektroradiometer dan citra multispektral, serta menganalisis hubungan kerusakan
padi dan faktor yang mempengaruhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara
spasial kerusakan padi pada perhitungan secara manual dan dan perhitungan nilai
reflektan menunjukkan pola mengelompok dan memiliki akurasi validasi rendah.
Peta kerusakan padi pada citra multispektral berdasarkan klasifikasi maximum
likelihood menunjukkan pola spasial yang lebih beragam dan detil dengan overall
accuracy 81.15% dan memiliki akurasi validasi tergolong tinggi. Nilai reflektan
pada band NIR spektroradiometer memiliki rentang nilai pada kerusakan padi 30-
40% (0.24879), kerusakan padi 40-50% (0.224443), dan kelas kerusakan padi
<50% (0.19848). Nilai reflektan band NIR citra multispektral memiliki rentang
nilai kerusakan padi 30-40% (0.29496), kerusakan padi 40-50% (0.28583), dan
kelas kerusakan padi <50% (<0.26915). Semakin tinggi kerusakan padi, nilai
reflektan yang terbentuk semakin rendah. Faktor varietas, pengembalian jerami,
jumlah pupuk N, jarak tanam dan umur tanaman secara serempak berpengaruh
signifikan terhadap kerusakan padi dengan nilai R2 sebesar 0.915. Secara parsial
faktor yang berpengaruh nyata terhadap kerusakan padi adalah jarak tanam
Status Resistensi Bakteri Salmonella sp. asal Peternakan Ayam Broiler di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi terhadap beberapa Antibiotika
Resistensi bakteri terhadap antibiotika merupakan ancaman bagi kesehatan
baik hewan maupun manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan
mengidentifikasi bakteri Salmonella sp. asal ayam broiler di Kabupaten Cianjur
dan Sukabumi dan melakukan uji resistensi terhadap tujuh antibiotika yaitu
doksisiklin, ampisilin, tetrasiklin, siprofloksasin, asam nalidiksat, oksitetrasiklin
dan eritromisin. Pengujian keberadaan bakteri dilakukan dengan menggunakan
metode konvensional yaitu melakukan isolasi dan identifikasi bakteri Salmonella
sp. dengan menginokulasikan sampel pada media selektif pre-enrichment,
enrichment, Salmonella-Shigella Agar (SSA) dan uji biokimia. Isolat bakteri
Salmonella sp. yang telah ditemukan kemudian dilakukan uji resistensi terhadap
beberapa antibiotik dengan menggunakan metode Kirby Bauer. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa isolat Salmonella sp. resisten terhadap lima jenis antibiotika,
yaitu tetrasiklin 100%, doksisiklin 100%, oksitetrasiklin 100%, eritromisin 100%,
dan asam nalidiksat 100%. Sebesar 63.6% isolat Salmonella sp. bersifat
intermediet terhadap siprofloksasin dan sebesar 81.8% menunjukkan hasil sensitif
terhadap ampisilin-sulbaktam
Karakteristik Serat Agel dan Rami Berkitosan sebagai Bahan Alat Penangkapan Ikan
Masalah lingkungan yang timbul dari alat penangkapan ikan yang terbuat dari bahan sintetis adalah menjadi sampah karena sulit terdegradasi. Jaring sintetis yang dioperasikan di dasar perairan akan terakumulasi dan sulit ditemukan jika hilang. Selanjutnya, kondisi ini akan berpeluang menyebabkan peristiwa ghost fishing. Ghost fishing adalah peristiwa hilangnya jaring di perairan dan masih terus melakukan operasi penangkapan ikan tanpa kontrol dari nelayan. Penangkapan terus berlangsung hingga alat penangkapan ikan ini rusak (Al-Masroori et al. 2004; NOAA 2015). Beberapa alat penangkapan ikan yang terbuat dari bahan sintetis dan banyak menyebabkan ghost fishing diantaranya adalah gillnet, trammel net, dan bubu (Takagi et al. 2007; Marco et al. 2015). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di PPI Gebang Mekar Cirebon, nelayan jaring kejer biasanya kehilangan jaring rata-rata sebanyak 1-2 kali dalam setahun. Nelayan PPI Gebang Mekar menggunakan jaring kejer sepanjang 900-1.000 m. Menurut laporan dari FAO, sekitar 640.000 ton alat penangkapan ikan hilang pada setiap tahunnya (APEC 2004).
Maka sangat penting untuk dilakukan penelitian mengenai material alat penangkapan ikan ramah lingkungan yang memiliki karakteristik, yaitu sifat fisik dan mekanik yang optimal untuk digunakan sebagai bahan alat penangkapan ikan, namun mudah terurai ketika hilang atau sudah tidak digunakan nelayan. Bahan alami yang digunakan pada penelitian ini adalah tali rami dan agel. Kajian mengenai karakteristik kedua jenis tali tersebut sangat penting, agar dapat disesuaikan peruntukannya ketika digunakan pada saat merancang alat penangkapan ikan. Untuk meningkatkan kekuatan tali tersebut, digunakan kitosan sebagai bahan untuk melapisinya. Kitosan dipilih karena memiliki kelebihan yaitu memiliki sifat yang tidak larut dalam air, memiliki ketahan kimia yang baik, dan dapat terdegradasi (Kumar et al. 2011). Pelapisan kitosan pada tali dimaksudkan agar dapat menghambat laju degradasi tali akibat pembusukan yang dilakukan oleh bakteri pembusuk pemakan selulosa.
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menentukan karakteristik tali berbahan serat agel dan rami yang dilapisi kitosan; 2) menentukan pengaruh perendaman dalam media air laut dan air tawar terhadap kekuatan putus tali berbahan serat agel dan rami; dan 3) menentukan potensi penggunaan tali agel dan rami yang dilapisi kitosan pada alat penangkapan ikan.
Penelitian bertempat di Laboratorium Teknologi Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; Laboratorium Terpadu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; dan Laboratirium Rekayasa dan Desain Bangunan Kayu, Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, IPB Universiy. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2016-Desember 2017. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tali agel (± ᴓ 3 mm), rami (± ᴓ 3 mm), larutan kitosan 1%, air tawar dan air laut sebagai media perendaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tali agel tanpa kitosan memiliki warna cokelat terang, bertekstur kasar dan kaku. Tali agel berkitosan berwarna cokelat tua, permukaan tali sedikit mengkilat, tekstur permukaan tali lebih halus dan tidak terlalu kaku. Perendaman tali agel menggunakan kitosan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap berat dan diameter. Tali agel berkitosan memliki berat yang lebih besar dibandingkan tali agel tanpa kitosan. Rata-rata berat sampel tali agel berkitosan sebesar 1,03 g, sedangkan tanpa kitosan sebesar 0,95 g. Rata-rata diameter tali agel berkitosan sebesar 3,09 mm, sedangkan tanpa kitosan sebesar 2,61 mm.
Kekuatan putus dan kemuluran tali agel tanpa kitosan dan tali agel berkitosan berbeda nyata. Kekuatan putus rata-rata tali agel berkitosan sebesar 24,54 kgf, sedangkan tanpa kitosan sebesar 15,06 kgf. Rata-rata kemuluran tali agel berkitosan sebesar 45,09 mm, sedangkan tanpa kitosan hanya memiliki kemuluran 26,41 mm. Tali agel berkitosan memiliki peningkatan kekuatan putus hingga 62,94% dibanding tali agel tanpa kitosan. Hal ini karena kitosan dapat mengisi pori-pori tali dan terjadi ikatan antara kitosan dan serat tali. Ikatan antara kitosan dan serat tali terjadi karena kitosan memiliki struktur kimia yang mirip dengan serat selulosa yang ada pada tumbuhan (Yadaf dan Bhise 2004 diacu dalam Hardjito 2006). Selanjutnya Katili et al. (2013) dan Selpiana et al. (2016) menyatakan bahwa ikatan hidrogen pada kitosan memberikan kekuatan terhadap uji tarik. Kemuluran tali agel berkitosan juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar 70,74% dibandingkan dengan tali agel tanpa kitosan.
Lama perendaman mempengaruhi kekuatan putus tali agel. Kekuatan putus tali agel berkitosan yang telah direndam selama 28 hari pada air laut berkurang sebesar 51,85%, sedangkan yang direndam pada air tawar berkurang sebesar 56,49%. Berdasarkan persamaan regresi (y=-2,38x+64,59) yang diperoleh, kekuatan putus tali agel yang direndam pada air laut akan hilang kekuatan putusnya setelah direndam selama 64,59 hari. Adapun tali agel yang direndam pada air tawar menghasilkan persamaan regresi (y=-3,28x+52,81), sehingga kekuatan putusnya akan mencapai titik nol setelah direndam selama 52,81 hari.
Tali rami yang tidak dilapisi kitosan berwarna putih kekuningan, teksturnya kasar dan kaku. Tali rami berkitosan berwarna krem, tekstur permukaannya halus dan tidak terlalu kaku. Menurut Kusumawati dan Tania (2012), membran kitosan memiliki pori yang sangat kecil, sehingga permukaannya halus dan mengkilat. Tali rami yang berkitosan memiliki warna lebih gelap dibandingkan dengan tali rami tanpa kitosan. Hal ini disebabkan kitosan yang digunakan untuk melapisi tali berwarna kekuningan. Mima et al. (1983) menyatakan bahwa warna kitosan berwarna putih kekuningan.
Berat dan diameter tali rami yang dilapisi kitosan lebih tinggi dibandingkan yang tidak dilapisi kitosan. Berat rata-rata tali rami yang dilapisi kitosan sebesar 1 g, dengan diameter rata-rata 3,1 mm, sedangkan yang tidak dilapisi kitosan sebesar 0,8 g, dengan diameter rata-rata 3 mm. Penambahan berat dan diameter tali rami berkitosan disebabkan meresap dan menempelnya kitosan pada serat tali, lalu kemudian mengering.
Kekuatan putus tali rami berkitosan dan tanpa kitosan secara statistik berbeda nyata. Tali rami berkitosan memiliki kekuatan putus rata-rata lebih besar dibandingkan tali rami tanpa kitosan. Tali rami berkitosan memiliki kekuatan putus rata-rata sebesar 37,03 kgf atau 0,011 kgf/tex, sedangkan tanpa kitosan memiliki
rata-rata kekuatan putus sebesar 30,08 kgf atau 0,013 kgf/tex. Pelapisan kitosan pada tali rami, dapat meningkatkan kekuatan putus tali tersebut sebesar 23,09%.
Kemuluran tali rami yang berkitosan dan tanpa kitosan secara statistik tidak berbeda nyata. Hal ini disebabkan karakterisktik tali rami yang kaku akibat sel-sel penyusunnya sangat rapat, sehingga tali rami memiliki daya regang yang kecil. Kemuluran tali rami tanpa kitosan sebesar 7,09%, sedangkan berkitosan sebesar 7,17%. Menurut Noerati et al. (2013), kemuluran serat rami berkisar antara 2-10%.
Kekuatan putus tali rami berkitosan yang direndam pada air laut selama 42 hari berkurang sebesar 43,88%, sedangkan yang direndam pada air tawar berkurang sebesar 41,99%. Berdasarkan persamaan regresi (y=-1,79x+99,79) yang diperoleh, tali rami yang direndam pada air laut akan kehilangan kekuatan putusnya setelah direndam selama 99,79 hari. Adapun tali rami yang direndam pada air tawar menghasilkan persamaan regresi (y=-1,89x+103,23), sehingga tali rami tersebut akan kehilangan kekuatan putus setelah perendaman selama 102,23 hari
Tali rami memiliki sifat fisik yang mendukung untuk digunakan sebagai bahan alat penangkapan ikan. Permukaan yang halus dan cenderung kaku, sangat mirip dengan karakteristik tali sintetis seperti polyethilene (PE), yang saat ini banyak dipakai nelayan. Jenis serat yang berupa serabut pendek juga menjadikan permukaan tali tidak licin ketika digunakan. Elastisitas tali rami juga rendah, sehingga tali tidak mudah kendur ketika digunakan sebagai pengikat pada alat penangkapan ikan.
Tali agel dan rami dapat diaplikasikan pada beberapa alat penangkapan ikan. Pada alat tangkap gillnet, tali rami dapat digunakan sebagai tali ris, tali pemberat, dan tali pelampung. Tali agel dapat diaplikasikan sebagai pengikat antara tali ris bawah dengan tali pemberat. Tali rami dapat digunakan sebagai tali ris pada jenis gillnet yang memiliki umur teknis yang pendek, seperti pada gillnet rajungan. Menurut hasil wawancara dengan nelayan jaring rajungan di Karangantu, umur teknis gillnet rajungan yang digunakan berkisar antar 2-4 minggu dan rusak secara keseluruhan. Selain itu tali rami juga dapat digunakan sebagai pengikat antara tali ris bawah dengan tali pemberat pada berbagai macam jenis gillnet. Pada alat tangkap lain, tali agel dan rami dapat diaplikasikan dan disisipkan agar menjadi bagian tercepat yang akan rusak ketika alat tangkap tersebut hilang, sehingga fishing power alat enangkapan ikan tersebut dapat menurun