31665 research outputs found
Sort by
Respon Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata) terhadap Pupuk NPK Granul dengan Filler Blotong
Salah satu pemanfaatan limbah blotong agar tidak menimbulkan
pencemaran lingkungan adalah dengan memanfaatkan limbah tersebut menjadi
pupuk ataupun bahan pupuk majemuk. Penelitian ini bertujuan untuk menguji
efektivitas pupuk NPK dengan filler blotong pada parameter pertumbuhan, serapan
hara, dan produksi tanaman serta mengkaji Efektivitas Agronomik Relatifnya
(RAE) dibandingkan dengan pupuk NPK yang dijual di pasaran. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan faktor persentase filler
blotong dengan persentase filler blotong 0%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 99%. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pada 4 MST, tinggi tanaman tertinggi terdapat
pada perlakuan standar dengan tinggi tanaman rata – rata 65.24 cm sedangkan rata
– rata pertumbuhan terendah yaitu perlakuan kontrol dengan 43.22 cm. Pada 8 MST,
rata – rata pertumbuhan tanaman tertinggi adalah perlakuan standar dengan rata –
rata tinggi yaitu 140 cm diikuti oleh perlakuan K1B2 dan K1B5 dengan rata – rata
tinggi yang sama yaitu 137 cm. Dari kandungan persen kadar hara, tanaman pada
percobaan terindikasi mengalamai defisiensi K. Pada hasil produksi, perlakuan
dengan hasil produksi total tongkol dengan kelobot tertinggi terdapat pada
perlakuan standar. Hasil perhitungan nilai RAE terhadap pupuk uji yang diberikan
tidak ada yang melebihi atau sama dengan 100%, maka dapat dikatakan bahwa
seluruh pupuk yang diuji tidak lebih baik dari pupuk standar
Evaluasi Penggunaan dan Penerimaan Bagan Dinding dan Rapor Pertumbuhan Anak Usia Sekolah Dasar di Kota Bogor
Metode yang digunakan untuk menentukan status gizi adalah perhitungan menurut metode standar WHO dengan menggunakan statistik z score yang cenderung sulit dilakukan oleh orang awam karena memiliki langkah perhitungan yang kompleks. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi penggunaan dan tingkat penerimaan bagan dinding dan rapor pertumbuhan siswa sekolah dasar sebagai media pemantauan pertumbuhan anak usia sekolah dasar di Kota Bogor. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional study dengan melibatkan 126 siswa, 126 ibu, dan 8 guru. Hasil uji nilai Kappa menunjukkan bahwa bagan PAS TB/U memiliki akurasi sebesar 95.2% (nilai kappa=0.82) dan bagan PAS BB/U memiliki akurasi sebesar 89.6% (nilai kappa=0.67). Nilai Kappa pada bagan PAS TB/U dan BB/U menunjukkan bahwa masing-masing bagan dinding memiliki kekuatan kesepakatan “sangat baik” dan “baik”. Secara keseluruhan, baik siswa, ibu, maupun guru tertarik dan dapat menerima bagan PAS dan rapor PAS dari segi penggunaan media, pemahaman materi, tulisan, gambar, dan komposisi warna
Analisis Faktor-faktor Yang Memengaruhi Ekspor Udang Indonesia Ke Negara Tujuan Utama
Udang merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia dalam sektor
perikanan. Nilai kontribusi volume ekspor komoditas udang tidak mencapai 20%
namun memiliki sumbangan nilai yang mencapai 41.87% dari total keseluruhan
ekspor perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktorfaktor
yang memengaruhi volume ekspor udang Indonesia ke negara tujuan utama.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis
kuantitatif menggunakan regresi data panel dengan model fixed effect dan dibantu
alat bantu Microsoft Excel dan E-Views 9. Komoditas yang menjadi objek pada
penelitian ini adalah udang beku dengan kode HS 6 digit yaitu 030613. Data yang
digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari BPS, Kementerian Kelautan dan
Perikanan, Kementerian Perdagangan, UNCOMTRADE, dan World Bank. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pendapatan per kapita Indonesia, nilai tukar rupiah
terhadap mata uang negara tujuan, dan populasi negara tujuan pengaruh secara
signifikan terhadap volume ekspor udang, sedangkan harga ekspor, pendapatan per
kapita negara tujuan, dan tarif impor tidak berpengaruh signifikan
Hubungan antara Aktivitas Fisik, PHBS, Kualitas Tidur, dan Asupan Gizi dengan Status Gizi Santri MA Al-Hamidiyah Depok
Asupan gizi pada usia remaja perlu diperhatikan sebab pada masa remaja terjadi pertumbuhan fisik yang pesat. Asupan gizi berpengaruh terhadap status gizi remaja. Tinggi atau rendahnya kecukupan gizi mempengaruhi produktivitas remaja. Aktivitas fisik dapat mempengaruhi kualitas tidur remaja. Remaja yang menetap di asrama perlu menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan menerapkan kegiatan phbs. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara aktivitas fisik, phbs, kualitas tidur, dan asupan gizi dengan status gizi santri Madrasah Aliyah Al-Hamidiyah Depok. Penelitian dilaksanakan pada Februari 2019. Desain penelitian menggunakan cross-sectional study dengan subjek sebanyak 44 siswa menggunakan metode purposive sampling. Data aktivitas fisik diperoleh melalui pengisian kuesioner aktivitas fisik 2x24 jam yang ditetapkan dengan skor Physical Activity Rate (PAR), data phbs diperoleh dengan menggunakan kuesioner terkait perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan di pondok pesantren, data kualitas tidur diperoleh melalui pengisian kuesioner The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), data asupan gizi diperoleh melalui food recall 2x24 jam, serta data status gizi diperoleh dengan melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar subjek tergolong status gizi normal (65.9%), tergolong dalam aktivitas fisik ringan (95.5%), memiliki nilai phbs tinggi (54.5%), termasuk dalam kategori kualitas tidur buruk (91%), dan memiliki asupan zat gizi tergolong defisit tingkat berat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik (r=0.413, p=0.005), tingkat kecukupan energi (r=-0.493, p=0.001), tingkat kecukupan protein (r=-0.467, p=0.001), dan tingkat kecukupan karbohidrat (r=-0,185, p=0.002) dengan status gizi (IMT/U). Hubungan antara kualitas tidur (r=0.087, p=0.576), tingkat kecukupan lemak (r=0.005, p=0.974), dan phbs (r=-0.137, p=0.376) dengan status gizi (IMT/U) menunjukkan hasil yang tidak signifikan (p>0.05)
Desain Lanskap Rekreasi Pantai Batu Mandi Kecamatan Padang Cermin Lampung Selatan
Pantai Batu Mandi merupakan salah satu pantai yang indah di Indonesia. Pantai ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan rekreasi yang menarik wisatawan karena pantainya yang masih alami dan terjaga. Pasir putih dan air yang bersih menjadi potensi dari pantai ini, tetapi terdapat permasalahan yang ada pada pantai ini yang membuat pantai ini belum dikunjungi banyak wisatawan. Permasalahannya adalah perencanaan yang kurang baik pada pantai ini, banyaknya pedagang mendirikan kios dengan sembarangan, dan tidak memperhatikan lingkungan. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perencanaan lanskap pesisir perlu dilaksanakan dengan tujuan (1) mengidentifikasi aspek fisik dan biofisik pada kawasan pantai Batu Mandi, (2) menganalisis potensi dan kendala yang terdapat di kawasan pantai Batu Mandi (3) mendesain lanskap rekreasi pantai Batu Mandi. Metode Gold (1980) digunakan dalam proses perencanaan dengan tahapan; persiapan, pengumpulan data, analisis, sintesis, dan perencanaan. Analisis spasial dan deskriptif digunakan dalam menganalisis semua data. Hasil dari penelitian ini berupa siteplan yang dilengkapi dengan ilustrasi, tampak potongan, dan detil desainnya. Penelitian ini diharapkan bisa menjadi rekomendasi perancangan pengembangan kawasan pantai Batu Mandi agar dapat memaksimalkan potensi wisatanya dan dapat menarik banyak wisatawan
Evaluasi Ruang Terbuka Kompleks Masjid Raya Mujahidin Kalimantan Barat, Menurut Konsep Taman Islam
Masjid adalah tempat yang digunakan oleh umat Islam untuk beribadah. Fungsi masjid tidak hanya menjadi tempat untuk beribadah, tetapi memiliki fungsi lainnya yang berhubungan dengan aktivitas umat Islam dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Saat ini, masjid berkembang dengan berbagai fungsi seperti tempat kajian dan dakwah, pengkaderisasian, pembinaan hingga perekonomian umat. Ruang terbuka masjid menjadi sangat penting untuk mendukung kegiatan yang ada di dalam dan di luar masjid sehingga dapat mendekatkan dan menunjukkan kebesaran Allah Swt. Konsep taman islam merupakan konsep yang merepresentasikan sebagian kecil dari gambaran surga yang ada di dalam Alquran. Konsep ini memiliki beragam fungsi yang bertujuan untuk mendukung kegiatan yang berada di dalam masjid dan menunjukkan kebesaran Allah Swt. Data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah aspek elemen dan karakter, ruang dan aktivitas, dan aspek sosial. Analisis data yang digunakan adalah metode KPI, analisis deskriptif, dan statistik sederhana. Kriteria yang digunakan dalam menganalisis dan mengevaluasi data adalah kriteria konsep taman Islam. Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk mengevaluasi ruang terbuka Masjid Raya Mujahidin berdasarkan konsep taman Islam yang telah disesuaikan dengan Alquran dan hadis. Hasil evaluasi tersebut adalah nilai KPI sebesar 0,59 yang berarti bahwa Kompleks Masjid Raya Mujahidin pada aspek elemen dan karakter ruang tidak sesuai dengan konsep taman Islam karena nilai KPI < 0,67. Nilai KPI pada aspek elemen taman sebesar 0,39 yang berarti tidak sesuai standar dan karakter taman sebesar 0,79 berarti sesuai standar. Data ruang dan aktivitas menunjukkan adanya beberapa aktivitas pengunjung, yaitu bersantai, rekreasi, berkumpul dan yang dilarang dalam agama Islam serta menyalahi norma sosial yang berlaku. Pengunjung sudah merasa senang dan nyaman berada di lokasi tersebut. Dengan hasil analisis dan evaluasi yang tidak sesuai, diajukan rekomendasi perbaikan ruang dan aktivitas, tanaman, dan fasilitas
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kinerja Usaha pada Industri Gula Merah Skala Mikro Kecil di Indonesia
Gula merah telah menjadi komoditas yang sangat potensial untuk diekspor karena permintaannya tinggi. Permasalahannya adalah para pengusaha gula merah di Indonesia masih belum bisa memenuhi potensi tersebut karena kinerja perusahaannya masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kinerja usaha pada industri gula merah skala mikro-kecil di Indonesia. Data yang digunakan adalah hasil survey Industri Mikro dan Kecil (IMK) dari kelompok Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 10722 tahun 2015. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan, jam kerja, jumlah tenaga kerja, bahan baku, dan sumber modal berpengaruh terhadap pendapatan
Induksi Mutasi untuk Perakitan Kultivar Rumput Benggala (Panicum maximum cv Purple Guinea) Ke Arah Produksi Tinggi pada Lahan Masam dan Optimal
Rumput benggala (Panicum maximum) merupakan salah satu tanaman pakan ternak yang dikenal oleh peternak di Indonesia. Produktivitasnya yang menjanjikan, menjadikannya sebagai alternatif pilihan selain rumput gajah yang selama ini banyak digunakan peternak di Indonesia. Kendala pengembangan tanaman pakan, termasuk rumput benggala adalah pengembangannya yang selalu diarahkan pada lahan sub optimal. Penelitian mengenai teknologi budidaya tanaman pakan pada lahan sub optimal sudah banyak dilakukan, namun penelitian pemuliaan untuk membentuk varietas toleran pada lahan sub optimal, di Indonesia belum banyak dilakukan. Oleh karena itu dilakukan penelitian pemuliaan untuk membentuk varietas rumput benggala, toleran pada lahan sub optimal, khususnya pada lahan masam.
Penelitian pada tahap pertama adalah menentukan radiosensitivitas pada rumput benggala. Penentuan radiosensitivitas dilakukan dengan cara meradiasi biji rumput benggala dengan dosis 0-1000 Gy. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nilai LD20 rumput benggala cv purple guinea adalah 176.83 Gy, sedangkan nilai LD50 rumput benggala adalah 358.23 Gy. Hasil analisis curv-fit, menunjukkan bahwa nilai LD50 ini mengikuti model. Y= 44.22 + 45.91 X Cos (0.0042x -0.07. Nilai LD50 yang diperoleh dapat dijadikan sebagai acuan dosis perlakuan untuk memperoleh keragaman pada rumput benggala menggunakan biji.
Tahap kedua pada penelitian ini adalah mengamati karakter morfologi rumput benggala pada generasi M1, M1V1 dan M1V2, yang ditanam pada lahan masam dan optimal. Penelitian dilakukan menggunakan RAK dengan 3 ulangan. Dosis radiasi yang digunakan adalah dosis diantara LD20-LD50 yang dihasilkan pada penelitian tahap pertama, yaitu: 200 Gy, 250 Gy, 300 Gy, 350 Gy dan 100 x 2 Gy, 125 x 2 Gy, 150 x 2 Gy, 175 x 2 Gy dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induksi sinar gamma dapat mempengaruhi karakter morfologi maupun keragaman genetik pada setiap generasi. Pada tahap ini (M1V2) diperoleh populasi perlakuan yang memiliki karakter morfologi dan produksi hijauan yang lebih baik jika dibandingkan kontrol baik di lahan optimal maupun lahan masam. Iradiasi 175 x 2 Gy pada lahan masam dapat meningkatkan rata-rata produksi hijauan sekitar 30% dibandingkan tanaman kontrol, sedangkan dosis iradiasi 100 x 2 Gy dan 125 x 2 Gy pada lahan optimal dapat memperbaiki produksi hijauannya menjadi 30%-40% lebih baik dibandingkan kontrol. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa populasi pada dosis iradiasi terbagi menghasilkan tanaman yang lebih baik dibandingkan kontrol maupun dosis iradiasi acute. Nilai heritabilitas dan koefisien keragaman genetik pada penelitian ini menunjukkan bahwa karakter bobot segar, bobot kering dan jumlah anakan memiliki nilai yang tinggi, sehingga dapat dilakukan seleksi pada karakter tersebut sesuai tujuan penelitian.
Penelitian pada tahap ke tiga memfokuskan penelitian pada karakter morfologi pada setiap nomor tanaman yang telah diseleksi di generasi M1V3 serta melihat kandungan nutrisi hijauannya dan umur potong untuk melihat karakter morfologinya. Penelitian dilakukan menggunakan RAK 5 ulangan, rumput benggala yang digunakan adalah hasil seleksi dari M1V2. Jumlah tanaman hasil seleski M1V2 di lahan masam sebanyak 40 genotipe dan di lahan optimal sebanyak 29 genotipe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa nomor tanaman yang berpotensi menjadi calon mutan putatif pada lahan masam maupun optimal, karena memiliki produksi yang lebih baik jika dibandingkan kontrol. Terdapat 3 nomor tanaman di lahan masam maupun optimal yang dapat dijadikan sebagai kandidat untuk dikembangkan pada masing-masing kondisi lahan. Kualitas nutrisi juga menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma menghasilkan tanaman-tanaman yang meningkat kualitasnya. Peningkatan dapat dilihat dari menurunnya serat kasar di lahan masam, serta peningkatan protein kasar, penurunan serat kasar dan peningkatan kecernaan di lahan optimal. Hal ini menjadi harapan untuk selanjutnya dapat dilakukan seleksi kualitas hijauan dengan menseleksi pada karakter serat kasar atau protein kasar serta kandungan nutrisi lainnya.
Pengamatan selanjutnya adalah kromosom dan penggunaan marka SSR, untuk melihat keragaman genetik rumput benggala yang terseleksi. Analisis kromosom menggunakan metode pra perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman-tanaman yang terseleksi di generasi M1V3 memiliki kromosom 2n=32, berbeda dengan kontrolnya yang memiliki jumlah kromosom 2n=16. Hasil analisis marka menggunakan SSR menghasilkan 7 marka yang dapat digunakan untuk mendeteksi keragaan genetik rumput benggala. Hasil filogenetik juga menunjukkan bahwa rumput benggala terbagi dalam 2 kelompok besar dengan persamaan genetik sebesar 65%. Kelompok pertama terdiri dari kontrol dan sebagian besar tanaman terseleksi yang ditanam di lahan optimal, sedangkan kelompok kedua terdiri dari tanaman terseleksi yang ditanam di lahan masam. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman-tanaman yang terseleksi di lahan masam dapat dijadikan sebagai calon mutan putatif yang toleran pada lahan masam
Pemurnian selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) secara biologi dan kimiawi untuk pembuatan Na-CMC
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) merupakan limbah lignoselulosa
yang belum dimanfaatkan secara optimal yang berasal dari Tandan Buah Segar
(TBS) yang memiliki kadar selulosa 32.57%, hemiselulosa 27.70%, dan lignin
26.49%. Kandungan selulosa TKKS yang cukup tinggi dapat dimanfaatkan
sebagai produk turunan selulosa yang memiliki nilai ekonomi seperti
karboksimetil selulosa. Carboxymethyl Cellulose (CMC) merupakan zat aditif
nabati yang banyak diaplikasikan dalam bidang industri kosmetik, tekstil, farmasi,
detergen, pengeboran (minyak dan gas) dan industri pangan sebagai pengental,
pengikat dan bahan penstabil emulsi. Pemurnian selulosa dilakukan melalui tiga
metode yaitu pertama, menggunakan jamur pelapuk putih dimana TKKS sebagai
baglog yang dilanjutkan pemurnian TKKS sisa baglog dengan NaOH; kedua,
pemurnian TKKS dengan NaOH dan ketiga pemurniaan TKKS dengan NaOH dan
dilanjutkan penambahnan asam asetat dan NaCl. Selanjutnya, sintesis natrium
karboksimetil selulosa (Na-CMC) melalui dua tahap yaitu alkalisasi dan
karboksimetilasi, menentukan kadar selulosa TKKS dan karakteristik Na-CMC
TKKS.
Pengujian α-selulosa dan karakterisasi Na-CMC TKKS dilakukan di Balai
Besar Pulp dan Kertas. Hasil uji menunjukkan kadar α-selulosa TKKS dari ketiga
metode sebagai berikut : Metode I sebesar 96.98%, metode II sebesar 98.14% dan
metode III sebesar 98.08%. Kadar α-selulosa TKKS tertinggi pada metode II
yang menggunakan pretreatment kimiawi meliputi tahap bleaching dengan
NaOCl dan pemurnian selulosa dengan NaOH 17.5%. Hasil analisis FTIR
menunjukkan terdapat sembilan bilangan gelombang dan memiliki pola
kemiripan yang sama dengan spektrum FTIR α-selulosa komersial.
Karakterisasi CMC meliputi derajat susbtitusi, viskositas, kemurnian dan
gugus fungsi. Hasil analisis menunjukkan derajat susbtitusi Na-CMC TKKS pada
ketiga metode dihasilkan memenuhi SNI CMC mutu I secara berturut-turut yaitu
0.82, 1.04 dan 1.03. Hasil viskositas diperoleh yang memenuhi SNI mutu I yaitu
pada metode II dan metode III sebesar 43.6 dan 59 cP, sedangkan metode I
memiliki viskositas yang memenuhi SNI CMC mutu II sebesar 17.8 cP.
Sementara itu, kemurnian yang diperoleh dari ketiga metode memenuhi SNI CMC
mutu II secara berturut-turut yaitu sebesar 84.44, 92.37 dan 86.26%. Kemurnian
tertinggi terdapat pada metode II yang dapat diaplikasikan dalam industri detergen,
pengeboran minyak dan gas, serta pertambangan. Hasil analisis FTIR
menunjukkan enam bilangan gelombang yang memiliki pola yang mirip dengan
Na-CMC komersial. Terdapat adanya kontituen karboksimetil yaitu pada 1601
dan 1418 cm-1 dengan gugus fungsional –C=O dan CH2
Perubahan Tutupan/Penggunaan Lahan dan Keselarasannya dengan Pola Ruang dan Kemampuan Lahan di Kecamatan Ciater, Subang
Berdasarkan Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten
Subang 2011-2031, Kecamatan Ciater termasuk wilayah Kabupaten Subang bagian
selatan yang memiliki topografi pegunungan dengan ketinggian antara 500-1500 m
dpl. Daerah Subang bagian selatan merupakan kaki Gunung Tangkuban Perahu
yang memiliki sumber daya alam yang potensial, pemandangan khas pegunungan
yang indah dan sejuk, sehingga perlu dikendalikan pemanfaatannya secara tepat
dan berkelanjutan. Perlu diperhatikan bahwa pengelolaan sumberdaya alam untuk
kepentingan ekonomi terkadang mengabaikan faktor lingkungan. Oleh karena itu,
perlu adanya kesinambungan antara penggunaan lahan dengan pola ruang dan daya
dukung lahan (kemampuan lahan), agar tidak terjadi kerusakan atau bencana di
wilayah tersebut. Agar hal-hal negatif tersebut tidak terjadi, maka analisis
keselarasan antara penggunaan lahan, pola ruang dan kemampuan lahan sangat
penting untuk diperhatikan dan dikaji. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenisjenis
tutupan/penggunaan lahan tahun 2006, 2012 dan 2019 serta perubahan
tutupan/penggunaan lahan tahun 2006-2012-2019, mengevaluasi keselarasan
penggunaan lahan 2019 dengan pola ruang RTRW Kabupaten Subang 2011-2031,
mengevaluasi keselarasan penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan
bervegetasi dengan kelas kemampuan lahan dan menyusun arahan pemanfaatan
ruang di Kecamatan Ciater. Hasil penelitian menunjukkan tutupan/penggunaan
lahan terluas di masing-masing tahun adalah hutan sekunder kerapatan sedang
dengan persentase 22,72% (tahun 2006), 21,81% (tahun 2012) dan 18,85% (tahun
2019). Pola perubahan yang paling luas adalah dari hutan sekunder kerapatan
sedang pada tahun 2006 dan 2012 berubah menjadi kebun campuran pada tahun
2019 dengan luas 173,35 ha (25,25%). Sebanyak 64,27% penggunaan lahan di
Kecamatan Ciater selaras dengan pola ruang, penggunaan lahan yang transisi
sebanyak 27,54% dan penggunaan lahan yang tidak selaras sebanyak 8,18%. Kelas
kemampuan lahan II, III dan IV di Kecamatan Ciater seluas 5.312,43 ha (79,89%),
sedangkan kelas kemampuan lahan VI seluas 1.337,11 ha (20,11%). Sebanyak
96,57% penggunaan lahan pertanian dan bervegetasi merupakan penggunaan lahan
yang selaras dengan kemampuan lahan sedangkan 3,43% merupakan penggunaan
lahan yang tidak selaras dengan kemampuan lahan. Arahan pemanfaatan ruang tiga
terluas adalah kawasan perkebunan (24,70%), kawasan hutan produksi tetap
(23,46%) dan kawasan hutan lindung (17,24%). Kecamatan Ciater memiliki
hamparan perkebunan teh sangat luas yang dikelola oleh PTPN VIII Ciater.
Kecamatan Ciater masih banyak lahan hutan sebagai daerah resapan air dan
kawasan lindung bagi daerah di bawahnya. Kelestarian hutan harus dijaga agar
tidak terjadi alih fungsi lahan terhadap kawasan hutan. Penggunaan lahan harus
sesuai dengan pola ruang dan potensi lahan yang ada