31665 research outputs found
Sort by
Analisis Kelayakan Usaha Penggemukan Sapi Potong Kresna.
Peternak berskala kecil secara keseluruhan menjadi tulang punggung bangsa
Indonesia untuk menyediakan bahan pangan hewani khususnya daging sapi.
Konsumsi daging sapi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, seiring dengan
peningkatan populasi penduduk, perkembangan taraf ekonomi, peningkatan
kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi, dan perbaikan tingkat pendidikan.
Produk peternakan seperti daging umumnya mengalami kenaikan harga selama
hari raya keagamaan, misalnya Idul Adha. Hal tersebut dapat dimanfaatlan
sebagai peluang untuk membuka usaha penggemukan sapi potong seperti yang
dilakukan oleh pemilik usaha penggemukan sapi Bali “Kresna” di daerah Depok,
Jawa Barat. Usaha penggemukan sapi ini masih tergolong skala kecil dan masih
menggunakan teknologi yang sederhana sehingga perlu dilakukan analisis
kelayakan untuk menentukan prospek bisnis penggemukan sapi. Hasil dari
analisis memperlihatkan bahwa usaha penggemukan sapi “Kresna “ layak untuk
dijalankan. Adapun nilai NPV dari usaha ini yaitu Rp 2 171 243 160, nilai Net B/C
4.28, IRR 36% dengan umur usaha selama 10 tahun
Pengembangan Teknologi Akustik Tomografi Pantai untuk Pemantauan Suhu dan Arus Laut di Perairan Teluk Balikpapan Kalimantan Timur
Suhu dan arus laut merupakan faktor penting dalam oseanografi dan juga
salah satu faktor penting dari kualitas suatu perairan sehingga pemantauan secara
spasial dan temporal perlu dilakukan. Sebagian besar pendekatan pengukuran
parameter fisik perairan seperti halnya parameter suhu dan arus laut umumnya
didasarkan pada pengamatan baik secara langsung (insitu) maupun tidak langsung
(inderaja), dimana pengamatan secara langsung dengan memanfaatkan perangkat
conductivity temperature depth (CTD) untuk pengamatan suhu laut dan perangkat
acoustic doppler current profiler (ADCP) untuk pengamatan arus laut dirasa sulit
apabila diterapkan dengan jangka waktu yang lama (temporal) dan memiliki
keterbatasan dengan cakupan area yang terbatas. Salah satu teknologi yang
potensial efektif untuk dapat digunakan dalam melakukan pemantauan suhu dan
arus laut adalah dengan menggunakan teknologi akustik tomografi pantai coastal
acoustic tomography system (CATs). Akustik tomografi pantai merupakan suatu
metode pengukuran secara akustik dengan menggunakan gelombang suara yang
yang dipancarkan oleh transducer dari satu lokasi pada medium air laut dengan
prinsip resiprokal transmisi suara. Teknologi ini dapat menjangkau daerah yang
luas dan dapat melakukan pemetaan suhu dan arus laut perlapisan
kedalaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pengembangan sistem
pemantauan suhu dan arus laut serta diperolehnya peta spasial suhu dan arus laut
khususnya di wilayah kajian penelitian.
Penelitian dilakukan dengan menempatkan 4 stasiun akustik. Rekonstruksi
nilai Suhu dilakukan dengan menggunakan persamaan cepat rambat gelombang
suara yaitu menggunakan persamaan Mackenzie (1981). Sedangkan untuk
rekonstruksi Arus laut dilakukan dengan menggunakan metode inversi matrik
(invers problem). Model hidrodinamina juga dilakukan guna membandingkan
hasil rekonstruksi dari tomografi dengan hasil keluaran model. Validasi hasil
Suhu dari keluaran tomografi dibandingkan dengan data suhu hasil dari
pengukuran insitu dari perangkat CTD untuk setiap pasangan stasiun tomografi,
sedangkan validasi arus laut hasil keluaran tomografi dibandingkan dengan arus
keluaran model hidrodinamika dimana hasil dari model arus di keluarkan nilai
tinggi muka laut yang kemudian tinggi muka laut tersebut dibandingkan dengan
nilai tinggi muka laut dari pengukuran insitu dengan tide gauge (pasang surut)
hasil pengukuran lapangan selama 2 bulan.
Berdasarkan hasil penelitian, hasil rekonstruksi suhu laut rata-rata pada
lintasan Jejaring CATs berkisar 28oC – 30oC, dimana Stasiun P1P4 berkisar
28.6oC – 29.6oC, Stasiun P2P3 berkisar 28.3oC – 30.1oC, Stasiun P2P4 berkisar
28.5oC – 29.9oC, dan Stasiun P3P4 berkisar 28.3oC – 29.9oC. Uji validasi data
suhu laut hasil pengukuran dengan metode akustik tomografi pantai dengan alat
ukur CTD diperoleh akurasi antara nilai suhu laut hasil pengukuran dengan data
CTD mencapai lebih dari 98% dengan nilai koefisien korelasi sebesar R=0.79.
Sedangkan hasil rekonstruksi arus laut rata-rata pada lintasan Jejaring CATs
Stasiun P1P4 kecepatan arus berkisar -0.28 – 0.42 Stasiun P2P4-0.52 – 0.1
Stasiun P3P4 -0.81 – 0.2. Uji validasi data arus laut rata-rata hasil pengukuran
dengan model hidrodinamika dimana nilai koefisien korelasi antara nilai dari
tinggi muka laut luaran model dengan data tinggi muka laut hasil observasi
menunjukkan hasil koefisien korelasi sebesar R=0.85 dengan standar error
SE=0,28 validasi data arus laut rata-rata hasil pengukuran dengan model
hidrodinamika menunjukkan korelasi yang bagus untuk 12 jam pertama dan
menurun pada 12 jam berikutnya. Dari hasil vektor pola arus yang terbentuk
selama 24 jam dan overlay arus rata-rata pengukuran dengan data pasang surut
menunjukkan variasi temporal didominasi oleh pasang surut semi diurnal
Pemodelan Curah Hujan Bulanan dengan Teknik Statistical Downscaling melalui Pemodelan Dua Tahap
Perubahan iklim dan dampaknya terhadap ketersediaan air telah lama menjadi perhatian di bidang hidrologi. Pengelolaan dan perencanaan sumber daya air semakin dibutuhkan dengan menggabungkan pengaruh variasi iklim global dan ketersediaan air untuk memprediksi persediaan air di masa depan. Global circulation models (GCM) menyediakan data simulasi dari parameter iklim pada skala global, tetapi tidak dapat menghasilkan data parameter iklim skala lokal seperti pada pos hujan pengamatan klimatologi. Teknik statistical downscaling (SD) digunakan untuk memprediksi data parameter iklim berskala lokal menggunakan model statistik dengan memanfaatkan parameter-parameter iklim global yang diperoleh dari data luaran GCM, kemudian dihubungkan secara fungsional dengan parameter-parameter iklim lokal seperti curah hujan.
Provinsi Jawa Barat adalah salah satu wilayah di Indonesia dengan intensitas curah hujan yang tinggi dan sulit untuk diprediksi. Intensitas curah hujan akan berbeda-beda di setiap waktunya, pada saat musim hujan atau cuaca ekstrim intensitas curah hujan akan cenderung tinggi, begitu juga sebaliknya. Hal ini menandakan adanya kelompok intensitas curah hujan untuk daerah dan waktu tertentu, sehingga model yang dihasilkan untuk setiap kelompok bisa berbeda. penelitian ini melakukan pemodelan dua tahap untuk menduga curah hujan pada 4 pos hujan di Jawa Barat, yaitu Bogor, Bandung, Jatiwangi, dan Citeko. Tahap pemodelan pertama adalah pemodelan klasifikasi menggunakan regresi logistik ordinal untuk menduga kelompok curah hujan lokal berdasarkan kuartilnya yang dihubungkan dengan output GCM. Variabel yang digunakan dalam tahapan ini adalah nilai komponen utama data Climate Forecast System (CFS) dengan kelompok curah hujan lokal berdasarkan kuartilnya.Pemodelan tahap dua dilakukan untuk menduga curah hujan dari masing-masing kelompok curah hujan lokal menggunakan Regresi Komponen Utama (RKU) dan Regresi Kuadrat Terkecil Parsial (RKTP).
Pemodelan dua tahap menggunakan metode RKU dan RKTP memberikan nilai RMSEP lebih baik dibandingkan pendugaan menggunakan seluruh data untuk stasiun geofisika Bandung, Jatiwangi dan Citeko, sedangkan RMSEP yang dihasilkan untuk pos hujan Bogor lebih besar dibandingkan dengan penggunaan RKU dan RKTP tanpa pengelompokan, sehingga pemodelan 2 tahap menggunakan regresi logistik ordinal belum mampu untuk menduga curah hujan pada pos hujan Bogor
Pertumbuhan Total Mikroba Keju Ricotta yang Dibuat Menggunakan Jenis Asam yang Berbeda pada Penyimpanan Suhu Rendah
Keju ricotta merupakan keju lunak tanpa proses pemeraman yang berasal dari Italia. Keju ricotta dibuat dari koagulasi susu atau whey dengan asam. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis pertumbuhan total mikroba keju ricotta dengan perhitungan Total Plate Count, dan respon panelis terhadap keju ricotta yang disimpan pada suhu rendah dengan pemberian jenis asam yang berbeda. Analisis data dilakukan dengan metode rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan jenis asam dan 3 kelompok. Hasil yang berbeda nyata selanjutnya diuji dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan mikroba pada keju ricotta tidak berbeda antar perlakuan. Respon panelis menunjukkan panelis menyukai keju ricotta dengan rasa yang tidak masam, tidak beraroma susu, berwarna putih hingga putih kekuningan. Panelis menyukai keju ricotta dengan tekstur yang lembut maupun keras. Simpulan dari penelitian ini yaitu perbedaaan perlakuan jenis asam pada keju ricotta tidak memengaruhi pertumbuhan total mikroba serta jumlah koloni mikroba pada keju ricotta sudah memenuhi standar
Elastisitas Jasa Ekosistem Mangrove di Teluk Jor, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat
Ekosistem mangrove di Teluk Jor cukup luas yakni 73.5 ha. Ekosistem
mangrove tersebar hampir sepanjang pesisir Teluk Jor mulai dari ujung Desa
Paremas hingga Desa Jerowaru. Ekosistem tersebut memiliki peran sebagai
pemberi jasa ekosistem. Jasa ekosistem adalah manfaat yang diambil manusia dari
ekosistem. Konsep jasa ekosistem mengacu pada hubungan positif antara kualitas
ekosistem (dimensi ekologi) dan kesejahteraan manusia (dimensi sosial). Namun
hubungan ini rumit dan seringkali tidak berhubungan secara langsung. Konsep
elastisitas jasa ekosistem menggambarkan bagaimana respon dari perubahan satu
variabel terhadap variabel lain. Dengan demikian, hubungan antara kualitas
ekosistem dan kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat dievaluasi melalui
konsep elastisitas. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) mengevaluasi status dan
pemanfaatan ekosistem mangrove di Teluk Jor melalui pemetaan sistem sosialekologi;
(2) mengukur keterkaitan sistem sosial-ekologi mangrove di Teluk Jor;
(3) menghitung elastisitas jasa ekosistem mangrove di Teluk Jor; (4) menyusun
strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Teluk Jor.
Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2018. Lokasi penelitian meliputi
dua desa yang mencakup 7 dusun yaitu: Dusun Poton Bako, Telong Elong, Jor,
Tutuk, Permas-I, Permas-II, dan Keranji. Empat metode digunakan untuk
menjawab masing-masing tujuan. Pertama metode transek kuadrat digunakan
untuk menentukan status ekosistem mangrove. Kedua, Burkhard Model
digunakan untuk memetakan jasa ekosistem mangrove. Ketiga ES Elasticity Mode
untuk mengukur elastisitas jasa ekositem. Keempat, Analytic Network Process
mendapatkan input pengelolaan ekosistem mangrove.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kerapatan jenis
mangrove di Teluk Jor termasuk kategori baik (rapat) terutama pada tingkat pohon
dan pancang. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekosistem mangrove di Teluk
Jor masih tergolong baik dan dalam kondisi optimal. Masyarakat sekitar Teluk Jor
bergantung pada ekosistem mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun
perlindungan diri dari berbagai ancaman.
Hasil pemetaan jasa ekosistem menunjukkan nilai surplus pada seluruh jenis
jasa ekosistem. Hal ini ditandai dengan tidak adanya nilai minus pada hasil
perhitungan matriks ketersediaan. Beberapa jenis jasa ekosistem yang tidak
dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain: penghasil kayu bakar, penghasil buah,
penghasil larva, penyedia pewarna alat tangkap, perangkap sedimen, penahan
badai, dan rekreasi. Jenis jasa ekosistem yang tidak dimanfaatkan ditandai dengan
nilai ketersediaan yang tinggi atau hampir sama dengan nilai suplai. Di sisi lain,
beberapa jenis jasa ekosistem dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, baik
dimanfaatkan secara penuh maupun sebagian. Jenis jasa ekosistem yang
dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain penghasil rebon dan ikan, penghasil
kepiting, penghasil kerang, penahan arus dan gelombang, penyerap karbon,
penghasil oksigen, pencegah intrusi air laut, serta sebagai tempat berteduh. Jenis
jasa ekosistem ini selanjutnya akan dianalisis untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh ekosistem mangrove terhadap kesejahteraan masyarakat dengan
menggunakan analisis elastisitas.
Ekosistem mangrove di Teluk Jor diindikasikan memiliki elastisitas yang
rendah terhadap kesejahteraan nelayan jika dilihat dari perspektif jasa penyedia
dan jasa budaya, sedangkan dalam perspektif jasa pengaturan, peningkatan
mangrove diindikasikan memiliki elastisitas yang tinggi. Implikasi kebijakan dari
studi elastisitas dapat terjadi pada ekosistem yang elastisitasnya tinggi jika terjadi
penurunan ekosistem. Sehingga perlu upaya pengelolaan yang terintegrasi supaya
ekosistem tersebut tidak mengalami penurunan. Keuntungan terjadi pada situasi
elastisitas yang tinggi ketika peningkatan kualitas ekosistem masih
memungkinkan atau dimana intervensi dapat meningkatkan perubahan multiplier
terhadap kesejahteraan. Sehingga dalam kondisi ini perlu dipertahankan fungsi
mangrove sebagai pemberi jasa pengaturan (penahan arus dan gelombang,
penyerap karbon, penghasil oksigen, pencegah intrusi air laut), serta
meningkatkan kualitas dan kuantitas ekosistem mangrove, sehingga mampu
memberikan dampak yang lebih bisa dirasakan masyarakat, dalam perspektif jasa
penyedia dan jasa budaya. Oleh sebab itu diperlukan sebuah pengelolaan
ekosistem mangrove secara holistik yang melibatkan berbagai stakeholder.
Adanya model pengelolaan ekosistem yang melibatkan masyarakat lokal
tidak hanya bertujuan meningkatkan dan memelihara keberadaan mangrove,
namun juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan
khususnya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan keberadaan mangrove.
Dengan model pengelolaan ini, peran, tanggung jawab dan pemanfaatan dari tiap
pemangku kepentingan dapat diakomodir dengan tetap memperhatikan kelestarian
ekosistem mangrove. Pengelolaan Teluk Jor dapat dilakukan dengan melalui
pendekatan multicriteria analysis melalui penyelesaian masalah yang menjadi
prioritas yaitu masalah penurunan kualitas dan kuantitas ekosistem mangrove
serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap pengurus LPATJ. Solusi yang dapat
dilakukan adalah dengan memberikan pemahaman yang baik mengenai fungsi
ekosistem mangrove kepada masyarakat serta pentingnya sebuah lembaga yang
mengelola ekosistem di Teluk Jor
Ekstraksi Minyak Asal Sejumlah Serangga sebagai Pakan Suplemen Anti-Metanogenesis
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan ekstraksi lemak dari sejumlah serangga sebagai pakan suplemen untuk memitigasi emisi gas metan untuk ruminansia. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan 2 faktor ( 2 x 6 ) dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu jenis ransum (ransum perah dan ransum pedaging). Faktor kedua yakni suplementasi minyak dari beberapa serangga (maggot, kroto, ulat hongkong, ulat jerman, dan jangkrik). Data diuji menggunakan Analysis of Vaiance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara 2 faktor. Suplementasi minyak dapat menurunkan produksi metan akan tetapi dapat menurunkan kecernaan. Simpulan dari penelitian ini adalah suplementasi minyak dapat memitigasi emisi gas metan, kecernaan terbaik adalah dari ekstrak minyak maggot dibandingkan dengan kontrol
Model Kebijakan Aksesibilitas Angkutan Umum yang Berkelanjutan di Kota Sukabumi.
Studi tentang teknik, strategi, kebijakan, serta rencana aksi guna
pengembangan angkutan umum khususnya aksesibilitas angkutan umum telah
banyak dilakukan, namun hingga saat ini kondisi angkutan umum khususnya
angkutan perkotaan masih banyak menghadapi permasalahan yang sampai saat ini
belum terselesaikan. Kondisi pelayanan yang dapat dilihat dari karakteristik
operasional masih menunjukkan kinerja yang kurang baik. Tingkat operasi,
frekuensi, usia kendaraan, kecepatan masih dibawah standar minimal.
Pengembangan aksesibilitas angkutan umum tentunya harus mempertimbangkan
tingkat keberlanjutannya, bukan saja aspek ekonomi yang menjadi bahan
pertimbangan, namun aspek sosial, aspek lingkungan, dan aspek kelembagaan dan
hukum juga perlu dipertimbangkan. Pengembangan aksesibilitas angkutan umum
merupakan kepentingan yang dirasakan oleh berbagai pihak, seperti: masyarakat
sebagai pengguna, operator angkutan, dan pemerintah sebagai regulator, sehingga
diperlukan suatu model kebijakan aksesibilitas angkutan umum secara menyeluruh
dan dinamis dengan mempertimbangkan berbagai dimensi pembangunan
berkelanjutan.
Tujuan utama penelitian ini adalah merumuskan kebijakan aksesibilitas
angkutan umum yang berkelanjutan, dengan 4 (empat) tujuan khusus. Tujuan
pertama menganalisis status keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum dengan
menggunakan kriteria dan indikator aksesibilitas transportasi berkelanjutan, tujuan
kedua merumuskan aksi-aksi kegiatan prioritas aksesibilitas angkutan umum di
Kota Sukabumi, tujuan ketiga merancang model kebijakan aksesibilitas angkutan
umum dengan sistem dinamis dan tujuan keempat menyusun arahan kebijakan
peningkatan aksesibilitas angkutan umum yang berkelanjutan.
Penelitian ini mengambil studi kasus di Kota Sukabumi, yang merupakan
salah satu kota dengan pertumbuhan yang cukup pesat di Provinsi Jawa Barat.
Lingkup penelitian aksesibilitas angkutan umum yang diamati dibatasi pada
aksesibilitas angkutan umum. Penelitian dilaksanakan selama 30 bulan (September
2016 sampai dengan Maret 2019). Alat yang digunakan antara lain: komputer,
kuesioner, Microsoft Excel 2016, Expert Choice 2000, Super Decisions dan
Powersym Studio 2005.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
pendekatan kesisteman dengan menggunakan metode analisis Multi Dimensional
Scalling (MDS) yang terdiri dari aplikasi Rapfish (Rapid Apraisal for Fisheries)
dan Pairwise Comparison Analysis (PCA). Teknik pengambilan sampel
menggunakan metode expert survey dengan melakukan wawancara mendalam (indepth
interview) kepada 15 responden yang telah ditentukan secara sengaja
(purposive sampling). Focus Group Discussion (FGD) dilakukan di Kota Bekasi
dan Kota Sukabumi sebanyak 2 (dua) kali yaitu Bulan Januari 2017 dan Agustus
2017.
v
Hasil FGD menghasilkan 4 (empat) kriteria dan 19 indikator aksesibilitas
angkutan umum berkelanjutan. Indikator aksesibilitas tersebut digunakan untuk
mengukur status keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum Kota Sukabumi. Hasil
analisis status keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum di wilayah penelitian
dengan menggunakan MDS adalah termasuk kategori kurang berkelanjutan dengan
nilai indeks multikriteria sebesar 49,07. Nilai indeks multikriteria adalah rata-rata
dari 4 kriteria yaitu ekonomi (nilai indeks 46,14), sosial (nilai indeks 23,58),
lingkungan (nilai indeks 82,95), serta kelembagaan dan hukum (nilai indeks 43,61).
Kriteria sosial memiliki nilai indeks keberlanjutan yang paling rendah atau tidak
berkelanjutan, sedangkan kriteria lainnya yaitu kriteria ekonomi serta kelembagaan
dan hukum masuk kategori kurang berkelanjutan. Kriteria lingkungan termasuk
satu-satunya kriteria dengan status indeks keberlanjutan baik. Hasil analisis dengan
Rapfish mengidentifikasi 19 indikator kunci untuk pengembangan aksesibilitas
angkutan umum berkelanjutan berdasarkan penilaian stakeholders.
Identifikasi terhadap 19 indikator kunci keberlanjutan tersebut untuk masingmasing
kriteria kemudian dijabarkan dalam sub-sub kriteria dan masing-masing sub
kriteria diuraikan kedalam aksi kegiatan priorits guna meningkatkan indeks tingkat
keberlanjutan masing-masing kriteria. Analisis dengan menggunakan pairwise
comparison akan diketahui kegiatan-kegiatan yang wajib dilaksanakan
sebagaimana bobot masing-masing kegiatan.
Perancangan model dinamik pengembangan aksesibilitas angkutan umum
berkelanjutan kota menggunakan simulasi 20 tahun. Model dinamik pengembangan
aksesibilitas angkutan umum berkelanjutan terdiri dari 5 (lima) sub model yaitu:
sub model biaya operasi kendaraan, sub model tarif angkutan umum, sub model
jumlah penduduk orang dewasa, sub model tingkat penggunaan angkutan umum,
dan sub model konsumsi bahan bakar. Nilai indeks keberlanjutan tersebut dapat
ditingkatkan sejalan dengan program atau aksi yang akan pemerintah lakukan untuk
peningkatan keberlanjutan aksesibilitas angkutan umum. Peningkatan nilai indeks
keberlanjutan sejalan dengan simulasi model dilakukan untuk 4 (empat) skenario,
yaitu: skenario do nothing, pesimis, moderat, dan optimis. Beberapa parameter
model yang dintervensi adalah peningkatan persentase orang menggunakan
angkutan umum, faktor muat kendaraan, kapasitas angkut kendaraan, kecepatan
lalu lintas, dan frekuansi angkutan umum. Skenario terpilih adalah skenario optimis
dengan berbagai intervensi kebijakan yang sangat mungkin dilaksanakan.
Arah kebijakan prioritas pengembangan aksesibilitas angkutan umum
berkelanjutan adalah: kebijakan bidang ekonomi melalui optimalisasi biaya operasi
kendaraan melalui subsidi bahan bakar minyak untuk angkutan umum dan juga
subsidi suku cadang angkutan umum. Sedangkan kebijakan bidang sosial lebih
menitikberatkan peningkatan jumlah pengguna angkutan umum melalui
peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan angkutan umum dengan menerapkan
Standar Pelayanan Minimal pengelolaan angkutan umum
Modul Front-End Sistem Informasi Geospasial Untuk Visualisasi Data Patroli Terpadu Kebakaran Hutan Dan Lahan
Untuk mencegah dan menangani kasus karhutla, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengambil tindakan berupa membentuk tim patroli yang setiap harinya bertugas untuk mengamati langsung ke titik lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran dan melaporkan hasilnya. Media pelaporan yang digunakan selama ini adalah melalui WhatsApp Group. Cara tersebut mulai dinilai tidak efektif dari segi penyimpanan dan rekapitulasi data. Penelitian ini bertujuan membuat modul front-end untuk visualisasi hasil patroli dalam bentuk web sehingga tidak bergantung pada group chat dan mampu melakukan rekapitulasi data secara mandiri. Data yang digunakan adalah rekam kegiatan patroli pada tahun 2016 di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Tahapan pada penelitian ini adalah komunikasi, perancangan antarmuka pengguna, integrasi dengan API dari backend system, perancangan fungsionalitas sistem, uji coba sistem dan terakhir adalah rilis sistem. Aplikasi dibangun dengan basis HTML serta CSS sebagai antarmukanya, dan Javascript serta API dari modul back-end sebagai pengelola kontennya. Service dan library yang disediakan Google digunakan untuk mendukung fungsionalitas dari aplikasi. Hasil pengujian menggunakan metodeunit testing menunjukan sistem dapat bekerja baik dan sesuai dengan fungsionalitas yang dibutuhkan
Karakteristik Kimia dan Sensori Tempe Kacang Bogor (Vigna subterranea) Berdasarkan Lama Perebusan Selama Pengolahan.
Salah satu alternatif bahan baku pembuatan tempe adalah dengan
menggunakan kacang bogor. Secara fisik, ukuran kacang bogor lebih besar
dibanding kedelai, namun densitas bijinya lebih kecil. Tujuan penelitian ini adalah
melihat pengaruh proses pengolahan tempe kacang bogor terhadap karakteristik
kimia dan sensorinya. Waktu perebusan kacang dibedakan menjadi 5, 15 dan 25
menit, untuk menentukan lama perebusan yang paling optimal terhadap
karakteristik kimia dan sensori tempe yang dihasilkan. Analisis kimia yang meliputi
uji proksimat, serat kasar, dan aktivitas antioksidan, menunjukkan penurunan yang
signifikan dari kadar mineral dan protein tempe kacang bogor pada perebusan 25
menit. Kadar lemak, karbohidrat, dan serat kasar meningkat seiring waktu
perebusan yang lebih lama, namun tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Aktivitas antioksidan meningkat secara signifikan apabila perebusan lebih dari 15
menit. Penilaian sensori dengan uji rating hedonik, menunjukkan skor yang tidak
berbeda nyata pada parameter tekstur, kekompakan dan rasa. Penilaian panelis
menunjukkan tingkat kesukaan yang lebih tinggi terhadap warna tempe pada
perebusan 25 menit, namun tidak berbeda nyata terhadap sampel dengan perebusan
15 menit. Sedangkan parameter aroma dan overall menunjukkan tingkat kesukaan
yang lebih tinggi pada tempe dengan lama perebusan 15 menit. Keunggulan tempe
kacang bogor adalah peningkatan kadar protein dan lemak, serta aktivitas
antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tempe kedelai
Efektivitas Seduhan Kopi Robusta Lampung dalam Penurunan Risiko Diabetes pada Tikus Percobaan
Prevalensi diabetes selalu mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2000, World Health Organization (WHO) mencatat penderita diabetes melitus di dunia sebesar 171 juta jiwa, sedangkan tahun 2015 mencapai 415 juta jiwa. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan tingginya prevalensi diabetes, salah satunya dengan meningkatkan konsumsi sumber antioksidan. Konsumsi antioksidan ini dapat berasal dari makanan atau minuman yang biasa dikonsumsi rutin dan disukai oleh mayarakat, seperti air seduhan kopi. Kopi yang diseduh mengandung setidaknya empat komponen bioaktif, yaitu fenol, alkaloid, produk reaksi Maillard, dan terpenoid. Oleh karena itu, penelitian ini menguji kemampuan seduhan kopi dalam penurunan risiko diabetes dengan melakukan uji in vivo berdasarkan parameter berat badan, berat organ, kadar gula darah, dan kadar malonaldehida (MDA) plasma tikus. Sampel kopi yang digunakan adalah kopi Robusta Lampung dengan dua level penyangraian pada first crack dan second crack. Dua level penyangraian tersebut dipilih karena kopi yang dihasilkan pada keduanya memiliki komponen berbeda yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen menggunakan tikus Sprague Dawley sejumlah 31 ekor dengan waktu intervensi selama 28 hari. Kelompok diabetik disimulasi dengan cara diinduksi menggunakan streptozotosin (STZ) 50 mg/kg bb. Air seduhan kopi memperlihatkan efektivitas yang signifikan dalam menurunkan risiko diabetes pada tikus normal dengan parameter MDA plasma dan visceral adiposa (p0.05)