31665 research outputs found
Sort by
Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Sawit Mentah Indonesia di Negara Tujuan Utama (Studi Kasus Ekspor ke Negara Belanda)
Indonesia merupakan produsen dan eksportir terbesar minyak sawit mentah
di dunia periode tahun 2008-2017, disusul oleh Malaysia sebagai eksportir terbesar
kedua minyak sawit mentah sebagai pesaing Indonesia dalam ekspor minyak sawit
mentah. Negara tujuan utama kedua ekspor minyak sawit mentah adalah Belanda
yang nilai ekspor mengalami fluktuasi cenderung menurun dalam sepuluh tahun
terakhir. Penelitian ini menganalisis daya saing dan faktor-faktor yang
memengaruhi ekspor minyak sawit mentah Indonesia ke Belanda. Penelitian
menggunakan data sekunder, rentang waktu 2008-2017. Metode yang digunakan
adalah constant market share analysis (CMSA) dan regresi linier berganda dengan
program SPSS 20. Hasil CMSA menunjukkan Indonesia memiliki daya saing
ekspor dipengaruhi oleh efek komposisi. Hasil analisis regresi linier berganda
menunjukkan daya saing ekspor minyak sawit mentah Indonesia ke Belanda
dipengaruhi faktor nilai tukar riil efektif dan harga minyak kedelai dunia. Harga
minyak bunga matahari dunia, harga minyak sawit mentah dunia, PDB riil Belanda,
produksi domestik minyak sawit mentah Indonesia tidak berpengaruh signifikan
terhadap daya saing
Algorithm of pattern recognition for real time rice crops monitoring using sentinel images
Indonesia merupakan salah satu produsen beras terbesar di dunia. Oleh seba
itu tanaman padi merupakan komoditas krusial bagi masyarakat Indonesia.
Sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan
pokok. Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, maka
permintaan terhadap beras juga meningkat. Monitoring tanaman padi sangat
dibutuhkan dalam menjamin ketersediaan pangan nasional.
Teknologi remote sensing merupakan salah satu pendekatan yang dapat
digunakan dalam memantau fase pertumbuhan tanaman padi. Salah satu satelit yang
dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi tentang pase pertumbuhan
tersebut adalah Sentinel 2A. Beberapa keunggulan Satelit Sentinel 2A adalah
mempunyai resolusi sepasial yang cukup tinggi yaitu 10 x 10 m serta memiliki
resolusi temporal yang cukup rapat. Selain itu citra Sentinel 2A dapat diperoleh
secara gratis.
Parameter kehijauan tanaman padi atau indeks vegetasi yang diperoleh
melalui analisis citra satelit dapat digunakan untuk memperkirakan pase
pertumbuhan atau umur tanaman padi. Index vegetasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Enhanced
Vegetation Index (EVI), dan Soil Adjusted Vegetation Index (SAVI). Tanaman padi
memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan mereka dari tanaman lain. Pada
awal pertumbuhan, sawah akan tergenang sehingga indeks vegetasi yang dihasilkan
cenderung rendah dan bahkan minus, hal ini disebabkan oleh sawah yang
mengandung air dominan. Seiring dengan pertumbuhan padi, sawah akan
didominasi oleh daun padi, sehingga indeks vegetasi akan mulai meningkat karena
kandungan klorofil yang tinggi. Setelah tanaman padi mulai terisi hingga matang,
tingkat kehijauan akan berkurang karena sawah akan didominasi oleh padi yang
menguning. Fase pertumbuhan akan berakhir dengan panen dan lahan akan
dibiarkan kosong untuk jangka waktu tertentu. Fenomena ini akan menghasilkan
pola yang tetap untuk setiap musim.
Penelitian ini bertujuan untuk membangun algoritma untuk pengenalan pola
index vegetasi yang dihasilkan dari citra satelit Sentinel 2A, sehingga diharapkan
dari algoritma tersebut mampu memprediksi pase pertumbuhan tanaman padi.
Algoritma yang diperolah digunakan untuk memprediksi citra real time pada bulan
Januari 2019.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga September 2017. Data primer
diambil pada bulan Juni 2017 dalam bentuk gambar drone dan titik sampel dari 31
titik serta wawancara dengan petani di Desa Sukamekar, Kabupaten Karawang,
Jawa Barat. Data series citra Sentinel 2A dari Mei hingga September 2017 dijadikan
data untuk membangun model. Pra-pemrosesan dan pemrosesan gambar dilakukan
untuk mendapatkan indeks vegetasi, kemudian dilakukan analisis regresi dilakukan
di laboratorium GIS MIT Biotrop.
Metode yang digunakan dalam menentukan algoritma dimulai dari penentuan
index vegetasi pada tiap petak sawah. Dalam penentuan index vegetasi tiap petak
sawah menggunakan dua metode, (1) metode pertama dengan menghitung nilai
rata-rata index vegetasi pada tiap pixel yang ada di petak sawah, (2) metode kedua
dengan menghilangkan pixel yang bersentuhan dengan batas tiap petak sawah, lalu
hitung rata-rata nilai index vegetasi pada setiap pixel di petak sawah tersebut.
Kedua metode tersebut diterapkan pada pada enam series data citra Sentinel 2A.
Enam seri data citra Sentinel 2A dari bulan Mei hingga September 2019.
Seteleh dilakukan pra-pemprosesan dan pemprosesan gambar, diambil 186 data
sampel yang terbagi menjadi 31 titik sample untuk setiap seri. Data sampel
digunakan untuk membangun model.
Index vegetasi dari enam seri data sampel dianalisis dengan menggunakan
regresi polynomial ordo 2 dan ordo 3. Dari kedua model regresi ini dipilih model
regresi terbaik berdasarkan nilai kooefisien determinasi (R2) tertinggi. Persamaan
terbaik yang dihasilkan dari proses analisis regresi digunakan untuk membangun
rule base guna mendapatkan kelas fase tumbuh padi. Kelas fase tumbuh padi
berdasarkan nilai index vegetasi NDVI, EVI, dan SAVI diterapkan pada citra yang
mendekati real-time bulan Januari 2019.
Hasil prediksi pada citra yang mendekati real time menunjukkan fase
pertumbuhan padi pada bulan Januari 2019 dapat dibagi empat kelas: anakan,
puncak, panen dan bera. Sedangkan berdasarkan NDVI metode kedua, fase
pertumbuhan dibagi menjadi 3 kelas: anakan, puncak, dan bera. Berdasarkan EVI
dengan kedua metode menghasilkan fase pertumbuhan yang sama: anakan dan bera.
Sedangkan berdasarkan SAVI metode pertama, fase pertumbuhan bisa dibagi
menjadi tiga: anakan, puncak dan bera. Metode kedua pada SAVI, fase
pertumbuhan dibagi menjadi dua: anakan dan bera.
Hasil prediksi dari model divalidasi untuk memperoleh tingkat akurasi.
Validasi dilakukan pada bulan Februari 2019. Validasi dilakukan dengan cara turun
ke lapangan dan diambil sampel sebanyak 24 titik secara acak di lokasi penelitian
untuk melihat kesesuaian fase pertumbuhan padi. Hasil validasi menunjukkan
bahwa prediksi menggunakan NDVI metode pertama menghasilkan tingkat akurasi
sebesar 70% dan metode kedua 75%. Sedangkan dengan menggunakan EVI metode
pertama menghasilkan tingkat akurasi 50% dan metode kedua 55%. Berdasarkan
SAVI metode pertama menghasilkan tingkat akurasi 45% dan kedua 50%. Hasil
validasi dan tingkat akurasi menunjukkan model terbaik adalah dengan
menggunakan index vegetasi NDVI dengan menggunakan metode kedua
Struktur Biaya dan Pendapatan Usahatani Brokoli Monokultur dan Brokoli Tumpangsari Pakcoy (Studi Kasus Desa Sukatani Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur).
Tanaman sayuran merupakan subsektor hortikultura Indonesia yang
memiliki potensi untuk dikembangkan. Tercatat sebanyak tujuh belas jenis
sayuran semusim telah diekspor oleh Indonesia pada tahun 2017 sebesar
14 480 000 Dollar Amerika. Tanaman brokoli dan pakcoy banyak diusahakan di
Desa Sukatani Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur. Usahatani dijalankan dengan
pola monokultur dan tumpangsari. Permasalahan umum yang dihadapi dalam
usahatani yang dijalankan adalah penggunaan input usahatani, adanya pilihan
komoditas yang ditanam, pola penanaman, ketidakpastian cuaca dan skala usaha
yang kecil. Hal ini mempengaruhi pendapatan petani. Tujuan penelitian ini adalah
(1) mendeskripsikan pelaksanaan budidaya usahatani tanaman sayuran (2)
menganalisis pendapatan usahatani brokoli monokultur, pakcoy monokultur, dan
brokoli tumpangsari pakcoy (3) mengindentifikasi keuntungan usahatani pola
monokultur dan pola tumpangsari. Metode yang digunakan adalah analisis
deskriptif, analisis struktur biaya dan analisis pendapatan. Hasil dari penelitian
menunjukkan bahwa teknik budidaya memiliki perbedaan pada pemeliharaan.
Biaya penggunaan faktor produksi pada usahatani brokoli tumpangsari pakcoy
lebih besar dibandingkan dengan usahatani lainnya yaitu sebesar Rp 2 674 998.
Pendapatan usahatani tumpangsari lebih besar dibandingkan usahatani
monokultur. Keuntungan yang didapat dari usahatani tumpangsari sebesar
Rp 2 082 657. Rasio R/C usahatani tumpangsari yaitu sebesar 1.78
Pengeringan Gabah Tipe Bak pada Berbagai Suhu dan Kelembaban Udara
Tujuan penelitian ini adalah mempelajari karakteristik pengeringan gabah
tipe bak yang mencakup perubahan kadar air, perubahan suhu, kelembaban udara,
dan total konsumsi energi selama proses pengeringan pada beberapa variasi suhu
dan kelembaban udara. Pengeringan gabah dilakukan dalam tumpukan dengan tebal
40 cm pada laju aliran udara per luasan penampang 0.3 m3/s-m2 dengan 4 perlakuan
yaitu pada dua tingkat suhu udara (35 oC dan 45 oC) serta dua tingkat kelembaban
mutlak udara pengering (rata-rata hasil pengukuran 0.0099-0.0105 kg air/kg u.k dan
0.0192-0.0193 kg air/kg u.k). Kadar air awal gabah yang digunakan berkisar antara
24.53% bb sampai 25.41% bb. Hasil menunjukkan bahwa pada tingkat kelembaban
mutlak yang lebih rendah waktu pengeringan yang dibutuhkan untuk mencapai
14% bb adalah 12 jam dan 10 jam untuk suhu 35 oC dan 45 oC sedangkan untuk
kelembaban mutlak yang tinggi masing-masing adalah 13 jam dan 10 jam. Secara
keseluruhan laju pengeringan rata-rata berkisar antara 0.78% bk/jam sampai 1.13%
bk/jam. Pada awal pengeringan, beda suhu antara lapisan tumpukan lebih besar
pada pengeringan dengan kelembaban mutlak udara yang lebih rendah baik untuk
suhu 35 oC maupun 45 oC. Konsumsi energi spesifik dengan asumsi suhu udara
lingkungan 30 oC sangat dipengaruhi oleh suhu pengeringan yang digunakan,
dimana untuk suhu 35 oC pada kelembaban mutlak rendah dan tinggi masingmasing
adalah 3335.16 dan 4100.36 kJ/kgair yang diuapkan sedangkan untuk suhu 45
oC masing-masing adalah 6925.32 dan 7940.48 kJ/kgair yang diuapkan
Induksi Proliferasi Tunas Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr) melalui Organogenesis dengan Perlakuan Indole Acetic Acid dan Benzyl Amino Purine .
Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) merupakan tumbuhan khas
Kalimantan Tengah yang digunakan sebagai obat tradisional oleh suku Dayak.
Teknologi kultur jaringan dapat digunakan untuk keperluan budidaya Bawang
Dayak dalam menghasilkan kualitas benih yang baik dan ketersediaan benih yang
berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mempelajari respon eksplan mata tunas
vegetatif dari umbi Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) terhadap
perlakuan IAA, BAP dan GA3 untuk menginduksi proliferasi tunas serta
perkecambahan biji dan pembentukan planlet secara in vitro. Penelitian ini
dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan II, Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Oktober
2018 sampai Juni 2019. Penelitian ini terdiri dari 2 percobaan terpisah yang
masing-masing menggunakan jenis eksplan dan perlakuan berbeda setiap
percobaan. Percobaan I, induksi proliferasi tunas dengan perlakuan IAA dan BAP.
Percobaan II, induksi tunas pada umbi dari perbanyakan in vivo. Percobaan I dan
II.a disusun menggunakan rancangan perlakuan faktorial disusun dalam
Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT), terdiri dari 2 faktor, yaitu IAA
(0.0, 0.5, 1.0, 1.5 mgL-1) dan BAP (0.0, 1.0, 2.0, 3.0 mgL-1). Percobaan II.b terdiri
atas 3 faktor, yaitu IAA (0.0, 0.5, 1.0, 1.5 mgL-1), BAP (0.0, 1.0, 2.0, 3.0 mgL-1),
dan GA3 (0.0, 1.0, 2.0, 3.0, 4.0 mg L-1). Media perlakuan IAA 1.0 mgL-1 dengan
media perlakuan BAP 3.0 mgL-1 berpengaruh sangat nyata dalam pembentukan
tunas sebesar 6.5 tunas per eksplan. Subkultur kedua, media perlakuan IAA 1.5
mgL-1 berpengaruh sangat nyata dalam pembentukan tunas sebesar 3.3 tunas per
eksplan. Media perlakuan IAA 1.5 mg L-1 + BAP 3.0 mg L-1 berpengaruh sangat
nyata dalam pembentukan daun sebesar 5.7 daun per eksplan dibandingkan
dengan media perlakuan yang lain. Jumlah tunas tertinggi bawang dayak setelah 4
kali subkultur tertinggi pada perlakuan IAA 1.5 mg L-1 dengan BAP 3 mg L-1
sebanyak 60.3 tunas
Dampak Hambatan Non Tarif terhadap Ekspor Teh Hitam Indonesia ke Negara Tujuan Utama
Adanya pembatasan tarif impor, justru menyebabkan banyak negara memberlakukan kebijakan hambatan non tarif. Salah satu komoditas yang terkena hambatan non tarif yaitu teh hitam yang merupakan salah satu komoditas potensial dan memiliki peran strategis dalam perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak hambatan non tarif terhadap ekspor teh hitam di sembilan negara tujuan utama periode 2013-2017. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif menggunakan pendekatan inventory (frequency index dan coverage ratio) dan gravity model. Hasil pendekatan inventory menunjukkan Amerika Serikat sebagai negara yang memberlakukan hambatan non tarif terbanyak. Hasil estimasi menunjukkan variabel GDP riil negara tujuan utama, nilai tukar riil negara tujuan utama, jarak ekonomi, coverage ratio SPS dan coverage ratio TBT berpengaruh nyata terhadap nilai ekspor teh hitam Indonesia. Variabel SPS menunjukkan nilai koefisien negatif, sementara variabel TBT menunjukkan nilai koefisien positif
Pemodelan Regresi Spasial Autoregresif dengan Gangguan Heteroskedastik Menggunakan Generalized Method of Moments
Pemodelan spasial dapat dilakukan berdasarkan jenis efek spasial yang terjadi pada data yang akan diteliti. Efek spasial terdiri dari ketergantungan spasial dan heteroskedastik spasial. Model regresi spasial autoregresif (spatial autoregressive regression/SAR) hanya memperhatikan ketergantungan pada peubah respon. Metode pendugaan pada SAR bersifat valid bila asumsi galat dipenuhi. Pendugaan parameter SAR yang mengandung heteroskedastik menggunakan metode kemungkinan maksimum (maximum likelihood estimation/MLE) bersifat tidak konsisten. Metode alternatif yang digunakan adalah metode momen terampat (generalized method of moments/GMM).
Kondisi heteroskedastik pada SAR dilakukan dengan membuat spatial lag yaitu menambahkan matriks bobot pada peubah dependen yang merupakan suatu fungsi non stokastik dan stokastik. Selanjutnya spatial lag akan berkorelasi dengan errornya. Pendugaan parameter GMM pada kondisi heteroskedastik dilakukan dengan menambahkan matriks bobot yang merupakan kombinasi dari fungsi momen linear dan kuadratik. Metode GMM menghasilkan penduga yang efisien dan komputasinya lebih mudah dibandingkan MLE. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi model SAR yang mengandung heteroskedastik dengan nilai bias dugaan parameter menggunakan metode GMM pada data simulasi dan menerapkan metode GMM pada data PDRB Jawa tahun 2017.
Pada penelitian ini, nilai bias penduga GMM dibandingkan dengan penduga MLE pada data simulasi. Simulasi data dilakukan dengan jumlah amatan yaitu n=30, n=90 dan n=900 dengan 1000 kali ulangan, serta terdiri dua matriks bobot spasial yaitu circular world matrix dan small group interaction matrix. Pemilihan tiga jumlah data menggambarkan jumlah amatan (sampel) kecil, sedang dan besar. Hasil simulasi disajikan dalam bentuk evaluasi nilai bias pendugaan parameter pada interaksi spasial (ρ), dan koefisien regresi (β1,β2) untuk melihat keragaman hasil dugaan parameter dari GMM dan MLE.
Penerapan metode GMM dilakukan pada data produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten/kota Jawa tahun 2017 yang berasal dari Badan Pusat Statistika (BPS). Peubah yang digunakan adalah PDRB Jawa tahun 2017 atas dasar harga konstan tahun dasar 2010 sebagai peubah respon dan empat peubah penjelas yaitu jumlah tenaga kerja (X1), upah minimum kabupaten (X2), pendapatan asli daerah (X3) dan indeks pembangunan manusia (X4). Matriks bobot spasial yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga yaitu k-nearest neighbor, eksponential distance weights, dan contiguity. Selanjutnya dilakukan perbandingan pada nilai ragam minimum dan pseudo R2 yang dihasilkan dari ketiga matriks pembobot. Tujuan membandingkan nilai ragam minimum dan pseudo R2 adalah mendapatkan matriks pembobot yang tepat untuk digunakan pada data PDRB.
Berdasarkan hasil data simulasi bahwa GMM dan MLE memberikan nilai bias dugaan parameter semakin kecil dengan bertambahnya jumlah amatan. Jika dilakukan perbandingan antara GMM dan MLE, secara keseluruhan GMM memberikan nilai bias lebih kecil dari MLE. Kondisi heteroskedastik pada unit-unit
spasial maupun dalam bentuk interaksi grup unit spasial memberikan hasil penduga yang konsisten. Perbedaan jenis interaksi spasial tidak mempengaruhi nilai bias dugaan parameter.
Berdasarkan hasil eksplorasi PDRB setiap kabupaten/kota di Jawa menunjukkan adanya hubungan spasial antar daerah serta penyebaran PDRB yang beragam, mengindikasikan adanya permasalahan heteroskedastik. Hal ini diperkuat dengan pengujian dua efek spasial yang nyata sehingga metode ML tidak valid digunakan. Pemilihan matriks pembobot yang tepat pada data PDRB adalah eksponential distance weights dengan nilai ragam paling minimum yaitu 48.41 dan pseudo R2 paling besar yaitu 77.3%. Secara keseluruhan, besarnya nilai PDRB di suatu kabupaten/kota di Jawa dipengaruhi faktor upah minimum kabupaten dan pendapatan asli daerah pada taraf nyata 5%, sehingga untuk mengambil kebijakan yang tepat yang berhubungan dengan nilai PDRB di suatu kabupaten/kota di Jawa, dua peubah ini layak untuk lebih dipertimbangkan
Rancang Bangun Sistem Penilaian Keberlanjutan Bioenergi Sawit Indonesia Menggunakan Metode Fuzzy Inference System (FIS).
Keberlanjutan dari suatu industri merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjaga kestabilan industri itu sendiri dengan menyeimbangkan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Ketiga aspek keberlanjutan pada industi bioenergi kelapa sawit menjadi perhatian khusus dunia untuk menuju keseimbangan, tetapi penilaian keberlanjutan masih menjadi perdebatan dan tidak ada kepastian dalam pengukurannya. Oleh karena itu penilaian keberlanjutan bioenergi kelapa sawit Indonesia dengan menggunakan metode FIS mampu melakukan agregasi terhadap ketidakpastian dalam mengambil keputusan untuk melakukan klasifikasi sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam strategi peningkatan keberlanjutan bioenergi kelapa sawit Indonesia. Pengembangan sistem adalah salah satu alternatif pendukung keputusan untuk menentukan kebijakan dan strategi peningkatan keberlanjutan dari sebuah indsutri bioenergi kelapa sawit.
Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pemodelan untuk menilai tingkat keberlanjutan bioenergi kelapa sawit Indonesia dengan mengaplikasikan sistem yang dirancang dengan tahapan mengidentifikasi persyaratan keberlanjutan bioenergi kelapa sawit di Indonesia, merancang sistem penilaian keberlanjutan bioenergi kelapa sawit dan menganalisis tingkat keberlanjutan bioenergi kelapa sawit dengan model sistem penilaian bioenergi kelapa sawit di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukan model yang dirancang mampu menilai kondisi keberlanjutan bioenergi kelapa sawit dengan kumpulan data dari setiap indikator keberlanjutan bioenergi kelapa sawit berbasis penalaran. Tahapan identifikasi dari setiap indikator diperoleh dari literatur yaitu Indonesian Bioenergy Sustainability Indicator yang terdiri dari tiga aspek yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Aspek lingkungan terdiri dari empat indikator dengan dua belas parameter pengukuran. Aspek sosial terdiri dari tiga indikator dengan tiga parameter pengukuran. Aspek ekonomi terdiri dari lima indikator dengan lima parameter pengukuran. Pengujian yang dilakukan pada data pengujian tahun 2017, model berhasil memberikan nilai untuk keberlanjutan bioenergi kelapa sawit Indonesia dengan skor 61,7 yang masuk kedalam kategori cukup bekelanjutan dengan tingkat 76,6% dan tidak berkelanjutan dengan tingkat kepercayaan 22,4%.
Pengujian yang dilakukan pada data pengujian, model berhasil memetakan aturan penilaian keberlanjutan bioenergi kelapa sawit dengan baik, dimana hasil model yang telah dievaluasi dengan metode MAPE mendapatkan nilai eror sebesar 5,05%. Hasil penelitian ini dapat dijadikan cara alternatif baru untuk sistem penilaian keberlanjutan bioenergi kelapa sawit
Peningkatan Kinerja Traktor Tangan Pada Lintasan Lereng Sawah Terasering
Sebagian lahan sawah di Indonesia terletak pada daerah dataran tinggi yaitu
daerah perbukitan atau pegunungan, kecuraman berkisar antara 10%-100%.
Petakan-petakan sawah di daerah ini umumnya berukuran sempit dengan bentuk
petakan yang tidak beraturan. Selain itu terdapat lereng pematang yang cukup
curam di antara petakan. Kegiatan mekanisasi dengan menggunaan traktor tangan
untuk mengolah lahan sawah terasering ini masih mengalami kendala, terutama
sulitnya mobilisasi traktor tangan pada saat kegiatan pengolahan sawah. Traktor
tangan yang umumnya didesain secara global untuk lahan datar masih mengalami
kendala pengoperasiannya terutama pada saat berpindah dari satu petakan di
bawah ke bagian petakan lain di atasnya biasanya. Kegiatan ini dibutuhkan paling
sedikit 3 orang operator.
Peningkatkan mobilitas traktor tangan khususnya kinerja perpindahan
traktor tangan melintasi lereng dari petakan ke petakan, memerlukan traktor
tangan dan roda besi bersirip yang didesain khusus sesuai dengan kondisi lintasan
lereng. Oleh karena itu, tujuan umum penelitian ini adalah meningkatkan kinerja
traktor tangan untuk melintasi lereng sawah terasering. Tujuan spesifiknya adalah:
(1) mengukur kemampuan kerja traktor tangan dengan roda besi bersirip existing
dalam melintasi lereng, (2) mendapatkan sudut sirip yang optimum roda besi
bersirip untuk mendaki lereng, (3) mendesain mekanisme roda besi bersirip
dengan sudut sirip yang dapat diatur, (4) mengetahui kinerja traktor tangan
menggunakan roda besi bersirip adjusteble lug angle untuk melintasi lereng dan
(5) mendesain dan menguji kinerja stang kemudi fleksibel untuk kemudahan
melintasi lereng.
Pencapaian tujuan penelitian tersebut, maka tahapan penelitian yang telah
dilakukan adalah: (1) pengukuran kondisi kemiringan lereng pematang sawah
terasering, (2) pengukuran kinerja traktor tangan dengan roda bersirip
konvensional pada lintasan lereng, (3) Menentukan sudut sirip optimal dengan
pengujian pada soil bin, (4) desain dan pembuatan roda besi bersirip dengan
mekanisme adjustable lug angle, (5) desain dan pabrikasi stang kemudi traktor
tangan dengan sudut yang dapat diatur (6) pengujian kinerja traktor tangan dengan
roda besi bersirip adjustable lug angle dan stang kemudi dengan sudut stang
fleksibel pada lintasan berlereng.
Pengukuran kondisi kemiringan lereng pematang dilakukan pada sawah
terasering di daerah Bogor, Sukabumi Jawa Barat dan Bener Meriah Aceh,
berdasarkan hasil survey ditentukan variasi sudut kemiringan trek pengujian.
Pengukuran kemampuan traktor existing dengan roda besi bersirip konvensional
dilakukan pada lintasan tanah dengan sudut kemiringan 15o (34%), 30o (66%) dan
45o (100%). Parameter kinerja diukur menggunakan micro-controller antara lain
adalah: 1) kecepatan maju, 2) torsi poros roda, 3) kecepatan putar roda, dan 4)
sinkage roda. Pengukuran gaya reaksi penekanan tanah dilakukan terhadap model
v
plat sirip tunggal yang dioperasikan pada tanah miring dalam bak tanah. Peralatan
uji terdiri dari bak tanah, model plat sirip, sistem penggerak dan micro-controller.
Bak tanah berukuran 1350 mm panjang × 550 mm lebar × 250 mm tinggi. Sistem
penggerak sirip tersebut dipasang pada rangka (troli) yang dilengkapi dengan roda
sehingga dapat bergerak di atas sepasang rel yang dibuat pada pinggiran atau bibir
bak tanah. Parameter yang diukur pada tahapan ini yaitu, gaya normal, gaya
tangensial, torsi pada poros, sudut putar batang sirip dan slip. Tahap selanjutnya
sebuah roda bersirip adjustable lug angle didesain menggunakan mekanisme
penggerak khusus sedemikian rupa sehingga sirip-sirip roda dapat diset sudut
siripnya dengan mudah. Roda besi bersirip adjustable lug angle diukur
kemampuan kinerjanya melintasi trek pengujian dengan variasi kemiringan lereng
15o, 30o dan 45o menggunakan micro-controller. Stang kemudi yang dapat diatur
sudutnya juga didesain untuk meningkatkan kinerja traktor tangan khususnya saat
melintasi lereng. Prototipe stang kemudi fleksibel tersebut dibuat dan dipasangkan
pada traktor tangan, lalu diuji pada lintasan tanah berlereng.
Traktor tangan eksisting mampu melintasi lereng 15o dan 30o dengan nilai
slip rerata 33.53% dan 47.45% sedangkan pada lereng dengan sudut kemiringan
45o terjadi slip 100%. Hasil pengujian pada soil bin menunjukkan sudut sirip kecil
yaitu -15o dan 0o pada sinkage 7.5 cm menghasilkan gaya dorong atau gaya sejajar
lereng yang paling besar dan gaya vertikal atau tegak lurus lereng yang lebih kecil
dan torsi yang yang lebih kecil. Desain roda besi bersirip dengan sudut sirip yang
dapat disesuaikan (adjustable lug angle) dengan mekanisme yang telah ditentukan
dapat berfungsi dengan baik. Kinerja traktor tangan dengan roda besi bersirip
adjustable lug angle bersudut -15o, 0o dan 15o menunjukkan kinerja yang baik
dalam mendaki lereng. Stang kemudi fleksibel hasil modifikasi dapat
mempermudah operator pada saat melintasi lereng
Analisis Lokus MAT dan Kandungan DNA Fusarium oxysporum f. sp. cubense.
Indonesia dikenal sebagai daerah endemik untuk Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc), agen penyebab penyakit layu Panama pada pisang. Pada tahun 2009, populasi Foc di Indonesia dilaporkan membawa tipe kawin MAT-1 atau MAT-2 yang memberikan peluang terbentuknya rekombinan melalui reproduksi paraseksual dan seksual. Oleh karena itu, memperbaharui informasi tentang keberadaan lokus MAT dan kandungan DNA dalam populasi Foc menjadi penting. Dalam penelitian ini, status MAT, jumlah inti sel mikrokonidia dan kandungan DNA dari tujuh strain Foc asal pulau Jawa dipelajari. Lokus MAT dianalisis menggunakan PCR dengan primer spesifik MAT (Falpha1/2 dan Gfmat2c/ff). Inti sel mikrokonidia diwarnai dengan propidium iodide dan diamati menggunakan mikroskop fluoresensi. Kandungan DNA dianalisis dengan flowsitometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enam dari tujuh strain Foc yang diteliti membawa MAT-1/MAT-2 dalam satu individu, sedangkan satu strain lainnya hanya memiliki MAT-1. Pengamatan di bawah mikroskop menegaskan bahwa mikrokonidia memiliki inti tunggal. Ukuran genom dari semua strain Foc berdasarkan konversi dari ukuran genom standar Saccharomyces cerevisiae bervariasi antara 40.50 – 58.82 Mb, sebanding dengan ukuran genom Foc haploid yang berasal dari bagian lain dunia