31665 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Makroavertebrata Air pada Empat Habitat Berbeda di Teluk Madong, Pulau Bintan
Teluk Madong berlokasi di Pulau Bintan yang faunanya tergolong kelompok asiatis karena berada pada wilayah Wallace. Keanekaragaman makroavertebrata air di Teluk Madong menghadapi resiko dari kegiatan pemanfaatan perairan. Penelitian dilakukan untuk membandingkan keanekaragaman makroavertebrata air, menguji pengaruh lama penyimpanan dan lokasi penempatan substrat buatan terhadap kepadatan makroavertebrata air. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2018 hingga Desember 2018 di keramba jaring apung, hutan mangrove, bagan tancap, dan padang lamun di Teluk Madong, Pulau Bintan. Data yang digunakan adalah data primer yang berupa kepadatan jenis makroavertebrata air, dan data sekunder yang berupa gelombang pasang surut. Analisis data yang digunakan yaitu indeks diversitas, uji statistik analisis ragam digunakan untuk uji hipotesis, dan klasterisasi stasiun. Sebanyak 56 spesies dari lima filum ditemukan selama penelitian. Keramba jaring apung dan bagan tancap memiliki indeks diversitas yang rendah dibandingkan hutan mangrove dan padang lamun. Lama penyimpanan dan lokasi penempatan substrat tidak berpengaruh nyata terhadap kepadatan makroavertebrata air
Analisis Karakteristik dan Pendapatan Usahatani Pala (Studi Kasus: Desa Sukajaya Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor)
Pala merupakan salah satu komoditas perkebunan ekspor Indonesia. Kabupaten Bogor adalah daerah penghasil pala terbesar di Jawa Barat yang luas areal perkebunannya mengalami fluktuasi. Hal ini dapat memengaruhi produksi dan pendapatan usahatani pala di Kabupaten Bogor. Desa Sukajaya sebagai daerah penghasil pala terbesar di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, berpotensi meningkatkan produksi pala di Kabupaten Bogor, namun posisi tawar pemilik tanaman pala di Desa Sukajaya masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik usahatani pala menggunakan analisis deskriptif; (2) mengestimasi pendapatan usahatani pala; dan (3) menganalisis daya dukung usahatani pala menggunakan metode Porter’s Diamond. Hasil analisis menunjukkan bahwa dosis pupuk dan pestisida yang diberikan pemilik kurang dari 30 tanaman lebih tinggi dibandingkan dosis yang diberikan pemilik lebih dari sama dengan 30 tanaman. Hal ini menunjukkan pemeliharaan tanaman pala yang dilakukan pemilik kurang dari 30 tanaman lebih intensif dibandingkan pemilik lebih dari sama dengan 30 tanaman. Pemilik tanaman pala secara keseluruhan memilih menjual produksinya dalam bentuk biji basah karena proses pengolahan buah utuh menjadi biji basah lebih cepat dan mudah dibandingkan proses pengolahan buah utuh menjadi biji kering dan harga jual biji basah lebih tinggi dibandingkan buah utuh. Berdasarkan analisis pendapatan, usahatani pala yang dilakukan pemilik kurang dari 30 tanaman dan pemilik lebih dari sama dengan 30 tanaman menguntungkan dan layak dilakukan. Analisis menggunakan metode Porter’s Diamond menunjukkan faktor kondisi permintaan dan faktor peran kesempatan mendukung kegiatan usahatani pala di Desa Sukajaya
Peramalan Harga Indeks Saham Menggunakan Model ARMA-GARCH.
perlunya suatu metode dalam sebuah perencanaan investasi saham,
guna memprediksi kondisi di masa yang akan datang. Peramalan merupakan
penghitungan objektif yang bertujuan untuk memanfaatkan data masa lalu dalam
menentukan suatu kejadian di masa mendatang. Saham yang digunakan dalam
penelitian ini adalah indeks harga saham Jakarta Islamic Index (JII) periode 30
Juli 2013 hingga 29 April 2016. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan harga
indeks saham JII dan meramalkan harga indeks saham JII untuk beberapa periode
mendatang. Model yang dapat digunakan dalam memodelkan harga saham di
antaranya adalah Autoregressive (AR), Moving Average (MA) dan Autoregressive
Moving Average (ARMA). Model tersebut dapat digunakan pada data dengan
salah satu asumsi stasioneritas terhadap varian (homoskedastisitas). Oleh karena
itu, diperlukan suatu model tambahan yang dapat memodelkan data dengan
kondisi heteroskedastisitas, yaitu model Generalized Autoregressive Conditional
Heteroscedastisity (GARCH). Model yang diperoleh dalam penelitian ini adalah
ARMA(2,1)-GARCH(1,1) dengan data peramalan yang telah mendekati data
aktual
Kajian Risiko Probabilistik Paparan Akrilamida dalam Roti Manis pada Populasi Mahasiswa IPB
Akrilamida merupakan suatu kontaminan pangan bersifat karsinogenik
yang dapat terbentuk melalui reaksi antara gugus amina dengan gugus karboksil
dengan proses pengolahan suhu tinggi (diatas 120˚C). Asam amino asparagin
diduga berpotensi sebagai prekursor pembentukan akrilamida pada roti manis.
Proses terbentuknya akrilamida dalam roti manis terjadi melalui reaksi maillard
pada pemanasan suhu tinggi seperti proses pemanggangan. Senyawa akrilamida
dikategorikan ke dalam golongan senyawa karsinogenik tipe 2A (berpotensi
karsinogenik pada manusia). Potensi terbentuknya akrilamida dalam roti manis
dikhawatirkan dapat meningkatkan paparan terhadap akrilamida. Oleh karena itu,
penelitian ini dilakukandengan kajian risikosecara probabilistik dengan
pendekatan simulasi monte carlo menggunakan data survei konsumsi mahasiswa
sarjana S1 IPB.Pendekatan monte carlo dapat memperkirakan jumlah paparan
yang dapat mempengaruhi terhadap efek merugikan bagi kesehatan. Kajian
paparan menghasilkan nilai estimated daily intake (EDI) yang digunakan untuk
menentukan signifikasi risiko akrilamida pada roti manis.
Kajian risiko dilakukan melalui empat tahapan yaitu identifikasi bahaya,
karakterisasi bahaya, kajian paparan, dan karakterisasi risiko. Kajian paparan
menggunakan parameter berat badan responden, konsumsi roti manis, dan faktorfaktor
yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan akrilamida pada roti manis.
Hasil kajian paparan berdasarkan data survei konsumsi mahasiswa IPB
menunjukkan bahwa estimasi paparan akrilamida dari konsumsi rata-rata roti
manis tertinggi terjadi pada kelompok populasi total yaitu 0.14 ug/kg berat
badan/hari (roti manis komersial/sekunder) dan 0.51 ug/kg berat badan/hari (roti
manis permodelan) dengan rata-rata konsumsi roti manis sebesar 119.98 ± 88.42
gram/hari. Nilai estimasi paparan akrilamida dari konsumsi tinggi (persentile ke-
95) roti manisterjadi pada kelompok populasi total mahasiswa (sebesar 0.46 ug/kg
berat badan/hari (roti manis komersial/sekunder) dan 1.23 ug/kg berat badan/hari
(roti manis permodelan) dengan rata-rata konsumsi roti manis sebesar 119.98 ±
88.42 gram/hari. Hasil sensivisitas analisis menunjukkan bahwa paparan
akrilamida dari roti manis dipengaruhi oleh konsumsi roti manis, berat badan,
jenis gula, dan proses pemanggangan. Berdasarkan hasil karakteriasi risiko, secara
keseluruhan nilai estimasi paparan akrilamida pada konsumsi rata-rata roti
manistidak melebihi nilai acceptable daily intake (ADI). Nilai EDI pada tingkat
konsumsi tinggi (persentil ke-95) melebihi nilai ADI sehingga berpotensi adanya
risiko terhadap kesehatan. Menurut JECFA (2005) menetapkan nilai acceptable
daily intake (ADI) akrilamida sebesar 1 ug/kg berat badan/hari dan nilai intake
tertinggi sebesar 4 ug/kg berat badan/hari. Sehingga nilai probabilitas risiko
paparan akrilamida melalui roti manis pada populasi mahasiswa sarjana S1 IPB
tidak signifinikan, karena nilai asupan akrilamida tidak melebihi nilai ADI
Etnobotani dan Potensi Bioprospeksi Sagu (Metroxylon rumphii) pada Masyarakat Suku Anak Rawa Kampung Penyengat Kabupaten Siak, Riau
Masyarakat Suku Anak Rawa sudah memafaatkan sagu dalam kehidupan
sehari-hari. Namun, karena belum adanya data, informasi dan dokumentasi
sehingga diperlukan penelitian terhadap pemanfaatan sagu oleh masyarakat Suku
Anak Rawa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pemanfaatan sagu oleh
masyarakat Suku Anak Rawa dengan pendekatan etnobotani, mengidentifikasi
spesies sagu, kondisi populasi sagu dan potensi produksi pati sagu. Penelitian
dilakukan pada Bulan Maret sampai April 2018, dengan metode wawancara,
eksplorasi, dan analisis vegetasi. Masyarakat Suku Anak Rawa terutama
memanfaatkan sagu menjadi pati, atap rumah, kapal-kapalan (acara tradisi adat
belah kampung) dan kayu bakar. Sagu yang teridentifikasi termasuk jenis sagu
hepaxanthic. Hasil analisis vegetasi habitat sagu ditemukan 2 jenis sagu, 22 spesies
tumbuhan lain dari 17 famili dan potensi produksi pati oleh masyarakat Suku Anak
Rawa sebesar 95.47 kg batang-1
Peran Penerimaan Remitansi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Penurunan Kemiskinan di Indonesia
Jumlah populasi di Indonesia terus tumbuh hingga pada tahun 2018
mencapai 265 juta jiwa. Pertumbuhan tersebut dapat menimbulkan permasalahan
terhadap pembangunan ekonomi, salah satunya adalah kemiskinan akibat
pengangguran yang disebabkan oleh keterbatasan kesempatan keja untuk
menampung pertumbuhan angkatan kerja. Salah satu upaya pemerintah untuk
mengatasi permasalahan tersebut adalah dibukanya kesempatan bagi tenaga kerja
Indonesia untuk bekerja di luar negeri. Penerimaan remitansi sebagai hasil dari
kegiatan migrasi tenaga kerja menjadi sumber keuangan yang besar dan potensial
khususnya bagi negara berkembang. Penelitian mengenai pengaruh penerimaan
remitansi terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan perlu dilakukan karena
perkembangan penerimaan remitansi beberapa tahun terakhir diikuti dengan
pertumbuhan ekonomi dan penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia, namun
penerimaan remitansi tersebut masih tumbuh relatif lambat dibanding
pertumbuhan jumlah penduduk. Penelitan ini menggunakan metode panel data
dengan periode tahun 2011-2017 dari 20 provinsi di Indonesia yang bertujuan
untuk melihat apakah remitansi berperan dalam peningkatan pertumbuhan
ekonomi dan penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia. Hasil menunjukkan
bahwa penerimaan remitansi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi
dan bepengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia secara
signifikan
Pengaruh Kepercayaan Diri dan Persepsi Nilai Komplain terhadap Niat Komplain Konsumen Lansia pada Pelayanan Kesehatan
Niat merupakan cara yang efektif untuk memprediksi suatu perilaku. Niat komplain merupakan kecenderungan subjektif konsumen untuk melakukan komplain apabila merasa tidak puas pada penyedia jasa atau perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepercayaan diri dan persepsi nilai komplain terhadap niat komplain konsumen lansia pada pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan metode wawancara terstruktur dan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu pengumpulan data. Lokasi penelitian dilakukan di wilayah Kota Bogor. Pengambilan data dilakukan selama bulan April 2019. Contoh pada penelitian ini dipilih secara purposive dengan kriteria konsumen yang berusia 60 tahun keatas, pengguna layanan kesehatan, setidaknya berkunjung ke pelayanan kesehatan satu tahun sekali, dan masih dapat berkomunikasi dengan baik. Contoh dalam penelitian ini berjumlah 200 orang. Analisis data menggunakan metode SEM melalui program Analysis of Moment Structures (AMOS). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel kepercayaan diri dan persepsi nilai komplain berpengaruh signifikan terhadap niat komplain konsumen lansia
Iktiodiversitas di Perairan Padang Lamun Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu.
Padang lamun memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan
populasi ikan di daerah pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap
iktiodiversitas di perairan padang lamun Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu.
Pengambilan data dilakukan dari bulan Februari hingga Agustus 2018 yang
mewakili musim penghujan dan peralihan. Pukat tarik dioperasikan di tiga lokasi
berbeda yaitu sebelah utara, timur, dan selatan Pulau Semak Daun untuk
mendapatkan contoh ikan. Selama penelitian didapatkan 15633 individu ikan,
terdiri atas 8 ordo, 32 famili, dan 64 spesies. Komposisi kumpulan ikan berbeda
secara spasial (stasiun), namun tidak berbeda secara temporal (musim). Analisis
Korespondens Kanonikal memperlihatkan kumpulan ikan di Pulau Semak Daun
berkorelasi positif dengan parameter kedalaman perairan, oksigen terlarut, dan suhu
perairan
Kekuatan Pasar dan Dampak Pelemahan Permintaan, Tarif Impor, Investasi Terhadap Perdagangan Karet Alam dan Produk Karet Indonesia.
Karet alam bagi Indonesia telah menjadi andalan ekspor penghasil devisa, menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan petani di tujuh provinsi produsen karet, serta bahan baku industri produk karet domestik. Kemampuan produksi dan ekspor ditopang oleh luas lahan. Ekspor karet alam Indonesia karena adanya permintaan turunan yang berasal dari pasar dunia. Industri produk karet di berbagai negara mendorong arus perdagangan karet alam sebagai bahan baku. Indonesia menempati posisi penting dalam perdagangan karet alam dunia. Pangsa ekspor karet alam Indonesia mencapai 85 hingga 86 persen dan sisanya diserap oleh industri domestik. Sebaliknya daya serap karet alam domestik begitu lambat mengingat lebih dari seperempat abad Indonesia mengembangkan industri karet hanya 1/7 yang mampu diolah menjadi produk akhir. Secara rinci tujuan penelitian adalah (1) membandingkan market power industri ban negara pengekspor ban (HS4011) di negara pengimpor ban utama dikaitkan denga pangsa ekspor; (2) menganalisis dampak dari pelemahan permintaan negara pengimpor, penurunan tarif impor, peningkatan investasi dan relokasi industri ban ke Indonesia terhadap perdagangan karet alam dan ban Indonesia, dan (3) menganalisis dampak peningkatan investasi pada industri produk karet domestik, perubahan tarif impor produk karet Indonesia, dan perubahan tarif impor produk karet negara pengimpor terhadap perdagangan produk karet Indonesia.
Analisis menggunakan model perdagangan karet alam dan produk karet dalam bentuk sistem persamaan simultan untuk masing-masing negara. Untuk menilai market power ban menggunakan model sistem persamaan simultan untuk pasar negara pengimpor Amerika Serikat, Australia, Jepang, Malaysia dan Filipina. Analisis dampak pelemahan permintaan, tarif impor, investasi dan relokasi industri ban ke Indonesia menggunakan model sistem persamaan simultan yang menggabungkan karet alam dan ban. Analisis dampak investasi industri produk karet domestik (kode HS4013 hingga 4016), perubahan tarif impor produk karet Indonesia, dan perubahan tarif impor produk karet negara pengimpor menggunakan model sistem persamaan simultan. Semua model diestimasi menggunakan metode Two Stage Least Squares (2SLS).
Kemampuan Indonesia menentukan harga melebihi biaya marjinal (mark-up) dalam ekspor ban relatif sama dibandingkan negara pengekspor lainnya di pasar Amerika Serikat, Jepang, Australia, Malaysia dan Filipina. Kemampuan mark-up Indonesia lebih tinggi dibandingkan industri sejenis di negara pengimpor Australia dan Filipina. Kesulitan peningkatan pangsa ekspor ban Indonesia di negara pengimpor terkait dengan rendahnya komposisi jenis ban yang diekspor dibandingkan pengekspor Cina.
Dampak pelemahan permintaan di negara pengimpor karet alam dan ban adalah terjadi penurunan produksi karet alam dan ekspor karet SIR Indonesia ke pasar dunia.
Pelemahan permintaan berdampak menurunkan permintaan karet TSNR dunia dan juga harganya di pasar dunia serta harga tingkat petani domestik. Pelemahan permintaan juga memberikan dampak defisit terhadap neraca perdagangan karet alam dan ban Indonesia dengan negara lainnya.
Penurunan tarif impor karet alam dan ban di negara pengimpor memberikan dampak lemah terhadap peningkatan produksi karet alam Indonesia. Ekspor karet SIR Indonesia ke pasar dunia mengalami penurunan, sebaliknya terjadi peningkatan ekspor karet STR Thailand dan karet SMR Malaysia. Penurunan tarif impor tidak berdampak terhadap kenaikan harga ekspor karet SIR Indonesia, karet STR Thailand dan karet SMR Malaysia. Penurunan tarif impor berdampak lemah terhadap peningkatan produksi dan ekspor ban domestik, konsumsi karet alam domestik, sebaliknya impor ban semakin tinggi dan neraca perdagangan karet alam dan ban Indonesia mengalami defisit.
Peningkatan investasi dan relokasi industri ban ke domestik memberikan dampak terhadap peningkatan produksi karet alam dan ekspor karet SIR Indonesia serta terjadi penurunan ekspor karet STR Thailand dan karet SMR Malaysia ke pasar dunia. Peningkatan investasi dan relokasi industri ban ke domestik memberikan dampak peningkatan harga karet tingkat petani domestik, produksi dan ekspor ban Indonesia serta neraca perdagangan karet alam dan ban Indonesia mengalami surplus.
Peningkatan investasi pada industri produk karet domestik yang disertai penurunan tarif impor produk karet Indonesia memberikan dampak peningkatan produksi, ekspor dan impor produk karet khususnya kode HS4013 hingga 4016. Peningkatan impor lebih besar bila dibandingkan dengan peningkatan ekspor produk karet. Bila peningkatan investasi pada industri produk karet domestik yang disertai peningkatan tarif impor produk karet Indonesia memberikan dampak peningkatan produksi dan ekspor sebaliknya terjadi penurunan impor produk karet oleh Indonesia khususnya HS4013 hingga 4016.
Peningkatan investasi pada industri produk karet domestik yang disertai dengan penurunan tarif impor produk karet oleh Indonesia memberikan dampak menurunkan surplus neraca perdagangan produk karet Indonesia dengan berbagai negara. Sebaliknya jika disertai dengan peningkatan tarif impor produk karet oleh Indonesia memberikan dampak meningkatkan surplus neraca perdagangan produk karet Indonesia dengan berbagai negara
Optimasi Model Penjadwalan Pemeliharaan Pencegahan Cheddar Filler Menggunakan Evolusi Algoritma Multi-Tujuan
Peningkatan frekuensi kegagalan dan kerusakan mesin menyebabkan gangguan operasi. Kondisi ini secara langsung menurunkan keandalan setiap fungsionalitas mesin. Untuk meningkatkan keandalan, perlu adanya aktivitas pemeliharaan mesin yaitu pemeliharaan pencegahaan. Dalam melakukan penjadwalan pemeliharaan pencegahan tersebut, dibutuhkan persyaratan yaitu formulasi optimisasi yang akan digunakan. Dalam penelitian ini, model kuantitatif dikembangkan untuk mengoptimalkan permasalahan tersebut dengan evolusi algoritma multi-tujuan yang disebut sebagai pendekatan non-dominated sorting genetic algorithm-II (NSGA-II). Model yang diusulkan mampu mengoptimalkan masalah dalam dua tujuan parallel, yaitu meminimalkan total biaya pemeliharaan dan memaksimalkan keandalan. Model optimasi ditafsirkan dalam bentuk jadwal
pemeliharaan pencegahan. Selain itu, model optimasi dibuat dalam tiga skenario, masing-masing skenario merepresentasikan data yang diambil dalam selang waktu yang telah ditetapkan dalam skenario. Model pada skenario pertama memberikan nilai biaya total sebesar Rp 1 603 534 437 dan nilai keandalan sebesar 67,60 %, skenario kedua memberikan nilai biaya total sebesar Rp 1 598 456 975 dan nilai keandalan sebesar 68,56 %, dan skenario ketiga memberikan nilai biaya total sebesar Rp 1 422 455 957 dan nilai keandalan sebesar 67,56 %. Penggunaan dataset menyiratkan bahwa hasil optimasi juga dibandingkan dengan model penjadwalan yang sudah ada. Model yang diusulkan dapat meningkatkan performa dari mesin. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa model ini mampu mengoptimalkan solusi dan memenuhi semua kendala