31665 research outputs found
Sort by
Komunitas Burung pada Ruang Terbuka Hijau di Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah.
Peningkatan urbanisasi dan pengembangan wilayah perkotaan menimbulkan tekanan terhadap areal-areal bervegetasi pepohonan atau ruang hijau. Ruang tidak terbangun yang bervegetasi tumbuhan asli yang masih tersisa dapat berfungsi untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem. Ruang terbuka hijau (RTH) yang ada di Kota Palu memiliki struktur vegetasi dan luas area yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan perbedaan keanekaragaman jenis burung yang menempatinya sebagai habitat.
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi struktur dan komposisi jenis burung, mengukur tingkat keanekaragaman, membandingkan komunitas burung pada beberapa lokasi RTH, mendeskripsikan pemanfaatan habitat oleh burung, serta menduga faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi komunitas burung di RTH. Pengumpulan data dilakukan pada lima lokasi RTH di Kota Palu, yakni: Hutan Kota Palu, Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah, Taman Kota Palu Barat, Taman Kota Palu Timur, dan Taman Kota Palu Selatan; selama bulan Juni 2018 hingga Agustus 2018. Pengumpulan data keanekaragaman burung dilakukan pada periode waktu antara pukul 05:30–10:00 WITA dan antara pukul 15:00–18:00 WITA menggunakan metode titik hitung (point count). Titik dengan radius 25 m. Pada setiap tipe RTH ditempatkan masing-masing sebanyak empat titik hitung dengan jarak antar titik hitung 100 m. Pengumpulan data dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Selain data keanekaragaman burung juga dilakukan pengumpulan data vegetasi di setiap titik hitung dan pengukuran beberapa peubah lingkungan fisik. Pengumpulan data vegetasi dilakukan menggunakan metode petak tunggal berukuran 20 m x 20 m yang ditempatkan pada setiap titik hitung. Pengukuran lingkungan fisik meliputi suhu rata-rata harian, kelembaban udara relatif, ketinggian tempat di atas permukaan laut, tingkat kebisingan, dan jarak tegak lurus terdekat antara titik hitung dengan jalan raya.
Jumlah jenis burung yang berhasil dijumpai dari seluruh RTH yang diamati adalah sebanyak 58 jenis dari 31 famili, terdiri atas 44 jenis burung penetap dan 4 jenis burung migran. Di antara 58 jenis tersebut terdapat 10 jenis burung yang merupakan jenis endemik Sulawesi dan Walacea. Columbidae merupakan famili yang mendominansi RTH dengan anggota terbanyak yakni sebanyak 9 jenis (15.5%), diikuti famili Ardeidae dan Cuculidae masing-masing sebanyak empat jenis (6.9%). Sebanyak 4 jenis burung telah termasuk dalam kategori dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 dan tercantum Lampiran Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018, yakni: Haliastur indus, Milvus migrans, Ardea sumatrana, dan Loriculus stigmatus. Di seluruh RTH yang diamati tidak ditemukan jenis-jenis burung yang terancam punah menurut IUCN, namun terdapat 2 jenis burung yang tercantum dalam Appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yakni Haliastur indus dan Milvus migrans.
Berdasarkan indeks Margalef (DMg) maka Tahura Sulawesi Tengah merupakan RTH yang memiliki kekayaan jenis burung tertinggi (DMg=9.93) dan
jumlah jenis sebanyak 34 jenis burung; sedangkan terendah adalah Taman Kota Palu Timur (DMg=4.59) dan jumlah jenis sebanyak 19 jenis burung. Indeks keanekaragaman jenis burung tertinggi ditemukan di Tahura Sulawesi Tengah (H'=2.62) sedangkan terendah adalah Taman Kota Palu Selatan (H'=1.97). Indeks kemerataan jenis burung di seluruh RTH berkisar antara E=0.60 hingga E=0.79. Indeks kemerataan jenis tertinggi ditemukan pada Hutan Kota, sedangkan terendah ditemukan pada Taman Kota Palu Selatan. Indeks keanekaragaman (H') jenis burung di Tahura Sulawesi Tengah tidak berbeda nyata dengan di Taman Kota Palu Timur (th= –1.306; df=40, =0.05) dan Hutan Kota Palu (th= –0.492; df=44, =0.05); tetapi berbeda nyata dengan di Taman Kota Palu Barat (th= –1.953; df=40, =0.05) dan Taman Kota Palu Selatan (th= –2.139; df=38, =0.05). Indeks keanekaragaman (H') jenis burung di Taman Kota Palu Barat tidak berbeda nyata dengan di Taman Kota Palu Selatan (th=0.292; df=257, =0.05).
Indeks kemerataan jenis burung tertinggi ditemukan di Hutan Kota (E=0.79) sedangkan terendah ditemukan di Taman Kota Palu Selatan (E=0.60). Indeks kemerataan jenis yang tinggi, yang mendekati 1, menunjukkan bahwa kelimpahan individu setiap jenis yang ditemukan hampir merata, sehingga tidak terjadi dominansi suatu jenis. Jenis burung yang mendominansi hampir seluruh tipe RTH yang diamati adalah walet polos Aerodramus vanikorensis, burung-gereja erasia Passer montanus, kacamata laut Zosterops chloris, dan dederuk merah Streptopelia tranquebarica. Keempat jenis ini hampir selalu dapat ditemukan di RTH yang ada di Palu. Berdasarkan indeks Morisita-Horn maka kesamaan komunitas burung tertinggi ditemukan antara Taman Kota Palu Barat dengan Taman Kota Palu Selatan (M=0.90) sedangkan terendah ditemukan antara taman hutan raya (Tahura) Sulawesi Tengah dengan Taman Kota Palu Barat (M=0.06). Kesamaan komunitas burung yang cukup tinggi ditemukan antara Hutan Kota Palu dengan Taman Kota Palu Timur (M=0.72). Kesamaan komunitas burung antar tipe habitat yang lain memiliki indeks yang kurang dari 0.5 atau menunjukkan komunitas burung yang berbeda.
Jenis-jenis burung ditemukan di RTH Kota Palu menggunakan lima stratum tajuk, dari stratum A (tajuk tertinggi) hingga stratum E (permukaan tanah atau lantai hutan). Stratum vegetasi yang paling banyak digunakan oleh komunitas burung adalah stratum tajuk B, yakni sebanyak 40.74–75.00% jenis burung; sedangkan stratum terendah adalah stratum tajuk D yang digunakan oleh 0.00–12.50% jenis burung. Kehadiran burung pada suatu tipe ruang terbuka hijau di Kota Palu dipengaruhi oleh ketinggian tempat di atas permukaan laut. Hubungan jumlah jenis burung dengan ketinggian tempat RTH membentuk persamaan sebagai berikut Y = 21.71 + 0.32(X), dengan nilai R2=0.91 dan Sig.=0.033 serta Y=jumlah jenis burung dan X=ketinggian tempat
Analisis Risiko Operasional pada Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB
ATP IPB merupakan institusi yang dibawahi oleh Sub Direktorat Teaching
Farm Direktorat Pengembangan Bisnis dan Kewirausahaan IPB. Proses
operasional ATP dapat menimbulkan risiko. Penelitian ini bertujuan: (1)
mengidentifikasi risiko operasional ATP, (2) mengukur risiko berdasarkan
kemungkinan dan dampak, (3) menganalisis penyebab dasar risiko operasional
ATP, dan (4) memberikan alternatif solusi penyebab dasar risiko operasional ATP.
Penelitian dilaksanakan di bulan Januari hingga April 2019. Metode yang
digunakan adalah peta tingkat risiko, peta risiko, dan diagram sebab-akibat. Hasil
penelitian menunjukan tiga risiko yaitu (R1) hasil produksi petani mitra tidak
mencapai target, (R2) hasil produksi petani mitra melebihi target, dan (R3) hasil
produksi petani tidak mencapai standar. R2 termasuk kedalam tingkat risiko rendah
dan R1 serta R3 termasuk kedalam tingkat risiko ekstrim. Penyebab dasar dari
ketiga risiko yaitu hukuman tidak efektif, tidak ada prioritas untuk screenhouse,
tidak ada prioritas penambahan tenaga kerja, dan hubungan pendamping dan petani
mitra yang masih transaksional. Alternatif solusi berupa pendampingan partisipatif,
peninjauan ulang kontrak, penerapan screenhouse, dan kelompok tani
Pengaruh Strategi Knowledge Management dan Inovasi terhadap Kinerja Organisasi PT. KCJ (Kereta Commuter Jabodetabek).
Manajemen Pengetahuan merupakan suatu cara dalam mengelola
pengetahuan agar dapat didistribusikan kepada organisasi dan dapat dipelajari
oleh organisasi agar dapat mencapai tujuan dari organisasi dalam hal menciptakan
sebuah proses produk yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi. Pentingnya
peran SDM dalam mengelola pengetahuan adalah untuk dapat memberikan solusi
baru dalam berkreasi dengan cara memodifikasi dan menciptakan produk baru
yang ditawarkan kepada pelanggan dalam menghadapi permasalahan yang
dirasakan oleh pengguna dalam menggunakan jasa layanan di PT. KCJ (Kereta
Commuter Jabodetabek), sehingga dapat meningkatkan kinerja pada PT. KCJ
(Kereta Commuter Jabodetabek).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh strategi knowledge
management terhadap inovasi dan kinerja organisasi pada, serta mengidentifikasi
faktor jenis kelamin dan usia yang berpengaruh dalam melakukan inovasi dan
kinerja organisasi. Jenis data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh
secara langsung dari responden yang dilakukan di PT. KCJ (Kereta Commuter
Jabodetabek) dan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka data yang
terkait dalam penelitian ini. Sampel penelitian ini terdiri dari tiga direktorat yaitu
direktorat keuangan dan administrasi, direktorat teknik dan direktorat operasi dan
pemasaran, sampel yang diperoleh sebanyak 84 responden dengan prosedur
pengambilan sampel didasarkan pada non – Probability sampling dengan jenis
sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Pemilihan sampel ini
didasarkan pada pertimbangan tertentu sesuai dengan tujuan atau masalah
tertentu. Metode pengolahan dan analisis data pada penelitian ini menggunakan
analisis deskriptif dengan menggunakan Structural Equation Modelling – Partial
Least Square (SEM-PLS).
Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa strategi manajemen pengetahuan
mempunyai pengaruh terhadap inovasi dimana penerapan manajemen
pengetahuan dapat meningkatkan kreatifitas karyawan dalam hal untuk lebih
berinovasi untuk menciptakan sebuah prosses, produk inovasi yang lebih baik.
Terdapat pengaruh tidak langsung yang signifikan strategi manajemen
pengetahuan terhadap kinerja organisasi melalui inovasi, akan tetapi inovasi
memberikan pengaruh terhadap kinerja organisasi. Usia memoderasi pengaruh
inovasi terhadap kinerja organisasi secara signifikan terutama usia tua, maka
untuk itu perlunya saling bekerja sama, berbagi pengalaman, dan bertukar ilmu
pengetahuan antar karyawan usia tua dan usia muda dalam hal untuk melakukan
proses produksi dan juga menciptakan produk– produk baru
Pemurnian Heme Oksigenase dari Serratia marcescens dan Aplikasinya sebagai Biosensor Pengukur Kadar Hemoglobin Darah.
Salah satu gangguan medis terkait darah manusia khususnya kadar hemoglobin adalah anemia. Kondisi ini menyebabkan perlunya metode pengukuran kadar hemoglobin darah yang efektif dan efisien. Salah satu alternatif pengukuran kadar hemoglobin yang dapat digunakan adalah dengan sensor berbasis heme oksigenase dari Serratia marcescens. Penelitian ini bertujuan melakukan pemurnian enzim heme oksigenase dari bakteri Serratia marcescens untuk aplikasinya sebagai biosensor pengukur kadar hemoglobin darah. Tahapan yang dilalui pada penelitian ini adalah perbanyakan isolat Serratia marcescens, isolasi heme oksigenase, pemurnian parsial enzim dengan amounium sulfat 45-65% dan 65-85%, uji kadar protein dan aktivitas enzim, karakterisasi suhu dan pH optimum enzim, amobilisasi enzim, dan uji kinetika biosensor. Aktivitas spesifik enzim pada fraksi 45-65% sebesar 0.0158 U/mg dan pada fraksi 65-85% sebesar 0.0069 U/mg. Suhu optimum enzim bebas adalah 25oC dan pH optimum enzim adalah 6.5. Uji kinetika biosensor menghasilkan sensitivitas sebesar 0.57 mA.dL/g, Km 0.2400 g/dL, Vmaks 0.2455 mA. Kadar hemoglobin dengan uji biosensor pada sampel darah A, B, C, D, dan E berturut-turut sebesar 12.0, 13.8, 14.3, 12.5, dan 11.3 g/dL, sedangkan hasil pengukuran dengan uji laboratorium standar berturut-turut sebesar 13.2, 13.4, 14.2, 12.5, dan 11.1 g/dL. Tingkat akurasi yang didapatkan dari pengukuran kadar hemoglobin dengan menggunakan biosensor adalah 97.42% dan presisi sebesar 0.75 g/dL
Transformasi Massa Air dari Laut Maluku sampai Laut Banda dari Data Conductivity, Temperature, Depth (CTD) Argo Float
Arus Lintas Indonesia (Arlindo) memiliki dua jalur masuk yang membawa massa air dari Samudera Pasifik ke Indonesia, yaitu jalur Barat dan Jalur Timur. Massa air yang mengalir melalui Arlindo dari kedua jalur tersebut mengalami transformasi karena adanya percampuran vertical di sepanjang perlintasannya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik dan stratifikasi massa air Arlindo di lintasan timur, dari selatan Laut Maluku – Laut Seram – Laut Banda, serta menghitung transformasi massa air dan persentase kontribusi dengan analisis Optimum Multi-Parameter (OMP). Data CTD Argo float di sepanjang trajektori Maluku-Seram-Banda digunakan di dalam studi ini. Stratifikasi massa air dengan membuat sebaran melintang dan identifikasi struktur massa air berdasarkan T-S diagram. Ketebalan dan kedalaman lapisan permukaan, termoklin, dan homogen masing-masing laut berbeda. Laut Banda memiliki ketebalan lapisan permukaan paling tebal, sedangkan Laut Maluku memiliki ketebalan lapisan termoklin dan lapisan dalam paling tebal. North Pacific Subtropical Water (NPSW) salinitas maksimum di lapisan termoklin, North Pacific Intermediate Water (NPIW) salinitas minimum di lapisan intermediate dan South Pacific Subtropical Lower Thermocline Water (SPSLTW) salinitas maksimum di bawah lapisan termoklin merupakan jenis massa air yang ditemukan di wilayah kajian. Terjadi transformasi massa air sepanjang Laut Maluku hingga Laut Banda, berupa perubahan suhu dan salinitas. Adanya perubahan komposisi massa air NPSW dari 86% di Laut Maluku menjadi 90% di Laut Banda, massa air NPIW dari 74% di Laut Maluku menjadi 93% di Laut Banda, dan massa air SPSLTW dari 79% di Laut Maluku menjadi 24% di Laut Banda. Analisis OMP dapat menghitung persentase kontribusi dari percampuran tiga sumber massa air di perairan Laut Maluku-Laut Seram-Laut Banda
Respon Pertumbuhan dan Produksi Enam Genotipe Kedelai (Glycine max (Linn.) Merrill) terhadap Pemberian Pupuk Kalium
Produksi kedelai nasional belum mampu memenuhi kebutuhan kedelai dalam
negeri sehingga dibutuhkan upaya peningkatan produksi. Salah satu usaha yang
dapat dilakukan yaitu dengan perbaikan teknik budidaya melalui pengaturan dosis
pupuk kalium. Kalium diketahui dapat meningkatkan kandungan pati pada biji yang
berguna untuk meningkatkan hasil. Penelitian bertujuan mempelajari respon enam
genotipe kedelai dari wilayah tropis (Tanggamus, SC-1-8, dan SJ4) dan wilayah
subtropis (HT-2, Manshuu Masshokutou dan Fukuyutaka) terhadap dosis
pemberian pupuk kalium. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru
dan Laboraturium Pasca Panen Institut Pertanian Bogor pada bulan Maret hingga
Agustus 2018. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak
(RKLT) dengan dua faktor percobaan, yaitu genotipe dan dosis pemupukan kalium
(0 kg ha-1 dan 150 kg ha-1). Hasil penelitian menunjukkan genotipe kedelai dari
daerah subtropis memiliki umur lebih singkat dibandingkan genotipe kedelai dari
daerah tropis. Genotipe SJ4 memberikan respon pertumbuhan dan hasil paling baik
berdasarkan karakter umur tanaman, tinggi tanaman, nilai kehijauan daun, ukuran
biji, bobot biji, persentase biji normal dan indeks panen. Dosis pemupukan kalium
mempengaruhi umur pengisian biji hingga panen, bobot dan ukuran biji, serta
indeks panen
Pengembangan Sistem Kendali Robot Beroda dengan Metode Self-Organizing Map (SOM).
Self-organizing map (SOM) adalah salah satu teknik unsupervised learning yang dapat digunakan sebagai alternatif sistem kendali robot beroda yang biasanya menggunakan teknik supervised learning seperti backpropagation neural network (BPNN). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kinerja SOM dengan kinerja BPNN dan membuat suatu mekanisme robot yang dapat memperbaiki kekurangan pada penelitian sebelumnya. Kontrol sistem yang digunakan adalah direct inverse control (DIC) yang bekerja dengan cara membangkitkan sinyal kendali berdasarkan lintasan (trajectory) yang telah ditentukan melalui proses inverse. Agar SOM dapat diterapkan pada sistem DIC dengan pemetaan input-output dinamis, maka diperlukan sedikit modifikasi pada algoritme asli SOM. Modifikasi tersebut menggunakan teknik vector-quantized temporal associative memory (VQTAM). Algoritme SOM menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan algoritme BPNN karena menghasilkan eror yang lebih rendah dan hanya membutuhkan epoch sebesar 131 pada setiap jenis mapping neuron
Karakteristik Karkas dan Non Karkas serta Sifat Fisik Daging Ayam Broiler Jenis Kelamin Berbeda
Populasi ayam pedaging di Indonesia semakin meningkat seiring dengan
tingginya tingkat konsumsi daging unggas masyarakat Indonesia. Perbedaan bobot
potong ayam broiler pada waktu panen yang diakibatkan oleh perbedaan jenis
kelamin memungkinkan adanya perbedaan persentase karkas dan non karkas serta
kualitas sifat fisik daging ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
ayam broiler umur 30 hari dengan jenis kelamin berbeda terhadap karakteristik
karkas dan non karkas serta mengukur indikator sifat fisik (pH, persentase mg H2O,
susut masak, dan keempukan) daging. Penelitian ini menggunakan uji t (t-Test)
dengan 20 ekor ayam broiler yang dibagi menjadi 2 perlakuan jenis kelamin
berbeda. Data dianalisis menggunakan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bobot
potong, proporsi karkas, dan proporsi non karkas berpengaruh nyata (P<0.05)
terhadap jenis kelamin berbeda. Ayam broiler betina menghasilkan persentase
tulang yang lebih kecil dan persentase karkas yang lebih tinggi, namun ayam betina
menghasilkan daging dengan sifat fisik yang sama dengan ayam jantan kecuali
susut masak yaitu ayam betina lebih tinggi dibandingkan ayam jantan
Kapasitas Adaptif Petani Kakao dalam Menghadapi Fenomena Perubahan Iklim di Kabupaten Luwu dan Luwu Utara.
Perubahan iklim ditandai dengan perubahan pola curah hujan dengan
hujan sepanjang tahun ataupun musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu
menyebabkan tingkat serangan hama dan penyakit semakin meningkat sehingga
diperlukan upaya pengendalian hama dan penyakit. Kondisi ini menyebabkan
penurunan produksi sebesar 10-50 persen dalam tiga tahun terakhir (Sakiroh et al.
2015; Kementerian Pertanian 2017). Permasalahan ini terjadi di Kabupaten Luwu
dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra pertanaman kakao
yang mencapai 61.4 persen dari luas areal kakao nasional dan mengalami
penurunan produksi seiring dengan penurunan curah hujan (BPS 2016; 2017 dan
Kementerian Pertanian 2017).
Dampak perubahan iklim ini menyebabkan petani semakin kesulitan dalam
menentukan pola usaha taninya dengan pendapatan yang diterima semakin
berkurang sehingga diperlukan upaya adaptif dalam mengatasi permasalahan
tersebut (Dewi dan Noponen 2016; Swisscontact 2017). Suatu upaya adaptif yang
diperlukan dalam peningkatan kemampuan petani berupa kapasitas adaptif dalam
bentuk ketahanan dan kemampuan individu petani dengan meminimalkan
kerentanan dalam mengatur usaha taninya dan menemukan cara baru berdasarkan
kondisi perubahan iklim yang tidak menentu secara teknis, manajerial dan sosial
budaya menuju usaha tani yang berkelanjutan (Nicholls et al. 1999; Gallopin
2006; Fatchiya 2010; UNISDR 2012; FAO, 2014). Penelitian ini bertujuan untuk:
(1) mendeskripsikan kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena
perubahan iklim dari dua kabupaten; (2) menganalisis faktor-faktor yang
memengaruhi kapasitas adaptif petani kakao dalam menghadapi fenomena
perubahan iklim; dan (3) merumuskan strategi kapasitas adaptif petani dalam
menghadapi fenomena perubahan iklim untuk usaha tani kakao yang
berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan jumlah populasi 960
petani. Jumlah sampel penelitian ditentukan dengan menggunakan rumus slovin
sebanyak 282 petani yang tersebar di delapan desa, empat kecamatan dan dua
kabupaten. Penentuan sampel pada setiap desa menggunakan proportional
sampling dan pengambilan sampel dari delapan desa dengan cara stratified
sampling pada kelompok tani terpilih. Pengambilan sampel pada kelompok tani
terpilih tersebut secara simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan
pada bulan Juni sampai Agustus 2018. Selain survei, dilakukan pula wawancara
mendalam (indepth interview) terhadap lima informan terkait seperti penyuluh,
koordinator kemitraan swasta (Mars Symbiocience Indonesia), petugas iklim
(BMKG), tokoh masyarakat dan pejabat terkait di instansi Dinas Pertanian dan
instansi lainnya sebagai pendukung analisis kualitatif. Kuesioner yang digunakan
telah diujicobakan validitas dan realibilitasnya pada 30 orang anggota kelompok
tani kakao Siwata di Kelurahan Noling. Data yang terkumpul ditabulasi dan
dianalisis mencakup: (1) analisis deskriptif berupa distribusi frekuensi, nilai rerata
ii
skor Skala Likert menggunakan program excel dan uji beda Mann-Whitney
dengan bantuan program SPSS versi 24; (2) analisis inferensial dengan Structural
Equation Models (SEM) menggunakan PLS 2; dan (3) penentuan model strategi
dengan menggunakan Logic Model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kapasitas adaptif petani kakao
dari dua kabupaten adalah kemampuan teknis yang terdiri atas: (a) penerapan
teknik GAP kakao, (b) penerapan teknologi hemat air, pengelolaan dan
pemanfaatannya, (c) pelaksanaan Sekolah Lapang Iklim (SLI), Sekolah Lapang -
Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT), dan Sekolah Lapang - Pengendalia
Hama Terpadu (SL-PHT), (d) penerapan demplot/kebun percontohan dan (e)
peremajaan tanaman dengan melakukan diversifikasi tanaman (tumpang sari), (f)
penerapan kalender budi daya kakao adaptasi iklim; dan kemampuan manajerial
terdiri atas: (a) perencanaan modal usaha tani, (b) pelatihan pengolahan hasil
(kewirausahaan), dan (c) akses pelayanan informasi iklim yang masih rendah,
sedangkan kemampuan sosial budaya dalam meningkatkan kerjasama bagi petani
kakao dengan pihak stakeholder terkait (peneliti, Perguruan Tinggi (PT),
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perusahaan dan lain-lain) masih pelu
ditingkatkan lagi; (2) kapasitas adaptif petani kakao dipengaruhi oleh; (a)
karakteristik petani dalam pendidikan non formal yang terdiri atas: pelatihan,
sekolah lapang (SLI, SL-PTT dan SL-PHT), dan lama berusaha tani yang
berpengaruh pada pengambilan keputusan yang dilakukan oleh petani kakao, (b)
dukungan penyuluhan (pemerintah, swasta dan swadaya) dalam meningkatkan
kemampuan dan penguasaan materi adaptif iklim bagi penyuluh, dan (c)
dukungan pemerintah dalam pelayanan informasi iklim dan ketersediaan modal
usaha tani bagi petani kakao untuk mewujudkan usaha tani kakao yang
berkelanjutan; dan (3) Strategi kapasitas adaptif petani kakao terdiri atas: (a)
memastikan terselenggaranya penyuluhan berbasis kebutuhan petani kakao; (b)
keaktifan kelembagaan kelompok tani kakao sebagai wahana pembelajaran; dan
(c) dukungan pemerintah dalam aspek sarana dan prasarana usaha tani kakao
Aktivitas Antioksidan dan Total Fenolik Minuman Fungsional Berbasis Ekstrak Sirih Merah
Pengembangan minuman fungsional dari ekstrak sirih merah yang
ditambahkan dengan beberapa ekstrak rempah telah dilakukan sebelumnya. Akan
tetapi, hasil uji sensori masih tergolong rendah karena masih terdapat rasa pahit
pada minuman fungsional tersebut. Penelitian ini bertujuan mengembangkan
minuman fungsional berbasis ekstrak daun sirih merah dengan teknologi
nanoenkapsulasi dan mengevaluasi total fenolik, aktivitas antioksidan, serta mutu
sensori yang dibandingkan dengan minuman ready to drink (RTD). Pembuatan
minuman fungsional nanoenkapsulasi menggunakan wall materials berupa gum
arab dan maltodekstrin (1:3; 1:1; 3:1), sedangkan core materialsnya berupa
campuran ekstrak daun sirih merah dan rempah-rempah (kayu manis, jahe merah,
jeruk nipis). Aktivitas antioksidan menggunakan metode CUPRAC. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa minuman ready to drink memiliki nilai total fenol
(786.23 ± 1.52 mg GAE/g) dan aktivitas antioksidan (1583.97 ± 85.52 μM
troloks/g ekstrak) lebih baik dibandingkan dengan minuman fungsional
nanoenkapsulasi. Akan tetapi, minuman fungsional nanoenkapsulasi memberikan
mutu sensori yang lebih disukai dibandingkan dengan minuman ready to drink